Wihara Gunung Timur Medan Berusia Hampir 1 Abad

Wihara Gunung Timur Medan merupakan kelenteng Tao atau Tionghoa yang usianya hampir 100 tahun. Tempat peribadatan ini bermula dari rumah berukuran petak, kini kelenteng ini berada di atas lahan satu hektare.

Wihara Gunung Timur Medan

Seorang teman menyarankan saya mampir ke Wihara Gunung Timur, di Jalan Hang Tuah 16, Medan.  “Kalau sudah ke bangunan tua dan bersejarah lain, jangan lewatkan kelenteng ini,” ujarnya.

Kelenteng Tao tersebut merupakan kelenteng yang terbesar di Medan, bahkan konon di seluruh Sumatera, dan sudah berdiri sekitar 90 tahunan. Wihara dengan nama Mandarin Tong Yuk Kuang ini hadir dengan arsitetural bangunan yang khas. Bangunannya yang luas di atas lahan satu hektare dapat menampung banyak pengunjung. Tidak saja bagi meeka yang hendak beribadah, namun juga yang memang tertarik untuk mengetahui kisah dan sejarah tempat ibadah ini.

Di bagian atas wihara, terdapat patung naga yang saling berhadapan, dan menjadi corak tradisional Tionghoa yang autentik. Selain itu, terdapat beragam arca yang melambangkan agama Buddha di wihara ini. Seperti altar Buddha, Buddha Maitreya, dan Dewi Kwan Im. Sedangkan di sisi kanan kelenteng, terdapat altar Toa Pek Kong (Da Bo Gong) dan Thay Suei. Ada pula arca Thien Kou (Anjing Langit) dan Pek Ho Kong (Harimau Putih) yang mengawal Tho Te Kong (Dewa Tanah).

Dengan latar belakang seperti itu, siang itu saya pun menyempatkan singgah ke Wihara Gunung Timur. Semula yang terlihat hanya bangunan abu-abu berbentuk kotak yang kaku, saya pun terheran-heran dan mencari wujud kelentengnya. Di bagian belakang ada sebuah bangunan merah yang tertangkap mata.

Wihara itu menghadap ke Sungai Babura, sehingga dinilai mempunyai fengsui yang baik. Sungai tersebut, menurut kepercayaan para penganut taoisme, memberikan kekuatan positif dalam komposisi alam semesta. Siang yang sepi dan hanya ada para pengurus kelenteng di bagian belakang. Saya berdiri di halaman yang luas dan mencoba mencermati tempat ibadah ini.

Dua singa hitam dan dua singa putih yang berada di bagian depan bangunan menjadi pasukan penjaga. Lampion merah dengan tali kuning berbaris bergantung di bagian depan atap. Di puncak atap, berhadapan dua naga panjang yang dipulas warna hijau-merah. Pilar-pilar besar yang beberapa di antaranya berhiaskan kepala naga menjadikan bangunan tersebut benar-benar unik.  Ada pula patung Dewa Kang Jian Jun yang berdiri tegak di sisi kanan pintu masuk.

Setelah sepi beberapa saat, akhirnya datang juga orang beribadah. Aroma dupa semakin kencang tercium. Tak jauh dari patung singa, yang merupakan penangkal hal negatif, ditempatkan juga dua wadah model tempayan untuk menaruh hio atau kemenyan. Saya pun melangkah lebih dekat dan mengintip bagian dalam. Nuansa merah terasa kian kental. Selain itu, ada warna kuning keemasan pada beberapa bagian—dua warna itu merupakan simbol keberuntungan.

Patung menghiasi beberapa titik kelenteng. Di antaranya patung Dewa Jing Shen Ru Shen Zai dan Dewa Zhu Sen Da Di. Altarnya tak hanya satu. Sebab, ada juga altar Buddha Sidarta Gautama yang didampingi patung Buddha Meitreya dan Dewi Kwan Im. Kemudian, ada juga altar yang diisi beberapa dewa dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa, yakni Toa Pek Kong, Thay Suei, dan patung lainnya. Spanduk kecil yang berisikan huruf-huruf Cina digantung di beberapa titik. Ternyata rangkaian huruf itu menyebutkan nama-nama dewa. Altar pun berhiaskan dupa dan lilin. Ada pula sebuah beduk yang biasanya digunakan dalam atraksi barongsai yang digelar pada perayaan hari-hari tertentu.

Wihara Gunung Timur Medan atau Wihara Tao merupakan kelenteng terbesar di Medan bahkan di pulau Sumatera.
Wihara Gunung Timur Medan di bagian dalamnya. Foto: Dhemas/Dok. TL

Bangunan kotak yang saya temui di sebelahnya ternyata merupakan tempat  penyimpanan logistik wihara. Sedangkan saya bertemu dengan beberapa petugas di bagian belakang yang  menyimpan perlengkapan sembahyang. Seorang petugas menyebutkan yang sembahyang di wihara ini tak hanya penganut Tao, melainkan juga agama Tri Dharma, yakni campuran agama Buddha, Khong Hu Chu, dan Tao.

Sang penjaga menyebutkan bahwa wihara ramai saat ada perayaan. Namun setiap hari pasti ada yang datang untuk sembahyang dan kelompok turis yang datang sekadar untuk berkunjung. Wihara didirikan bersama-sama sekelompok etnis Tionghoa. Pembangunan tidak terhenti pada satu masa, tapi berlanjut terus hingga kelenteng yang hanya seukuran rumah petak ini sekarang memiliki halaman luas dan mempunyai bangunan lainnya. Luas totalnya sekarang mencapai satu hektare.

agendaIndonesia/Rita N./Dhemas RA/TL

*****

Kampoeng Kopi Banaran, Ngopi Dari 1911

Kampoeng Kopi Banaran menawarkan liburan lengkap. Foto: Dok KKB

Kampoeng Kopi Banaran tak selamanya cuma berarti tempat minum kopi. Saat ini boleh dibilang ini adalah salah satu destinasi agrowisata yang masih diminati banyak wisatawan, terutama bagi para pecinta kopi. Sebuah tempat yang awalnya berupa kebun kopi yang disulap menjadi tempat penginapan dan rekreasi unik.

Kampoeng Kopi Banaran

Dulunya, tempat ini adalah sebuah kebun kopi bernama Kebun Kopi Getas Afdeling Assinan, yang telah eksis sejak 1911. Perkebunan ini merupakan penghasil jenis kopi robusta yang lazim dikenal sebagai kopi Banaran.

Kopi tersebut dinamai demikian karena dulu biji kopi hasil perkebunan tersebut diolah di pabrik yang terletak di salah satu dusun di kawasan Semarang, bernama dusun Banaran. Dari situ, kenikmatan kopi ini semakin mengemuka, baik di dalam maupun luar negeri.

Ini disebabkan kopi Banaran disebut-sebut memiliki cita rasa yang khas dibanding kopi-kopi lain. Campuran unik antara rasa pahit, asam dan legit khas mocha membuatnya diburu banyak orang. Tak heran, kopi ini kerap dijuluki ‘Java Mocha’.

Kampoeng Kopi Banaran awalnya adalah perkebunan Kopi Getas Afdeling Assinan.
Taman Buah sebagai bagian dari Kampoeng Kopi Banaran. Foto: KKB

Salah satu faktor penyebabnya adalah lokasi perkebunan kopi yang tergolong ideal. Kebun kopi ini berada di ketinggian sekitar 480-600 mdpl, dengan suhu udara berkisar dari 23 hingga 27 derajat Celsius, sehingga sangat cocok untuk membudidayakan kopi dengan kualitas tinggi.

Merawat pohon-pohon kopi di sini juga diperhatikan secara seksama, dengan pemilihan pupuk yang digunakan secara spesifik. Saat panen pun, tenaga kerja setempat yang didominasi oleh kaum Hawa sudah terbiasa memilihkan biji kopi dengan kualitas terbaik.

Mayoritas dari hasil perkebunan seluas 400 hektare tersebut menjadi komoditi ekspor ke beberapa negara, seperti Italia, Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok. Panen dilakukan setiap setahun sekali, dengan hasil kurang lebih mencapai 2.000 ton biji kopi.

Karena hasil panen yang cukup melimpah itu, tercetus keinginan PT Perkebunan Nusantara IX selaku pengelola perkebunan pada saat itu untuk menggenjot penjualan dalam negeri. Caranya dengan membangun area agrowisata di sekitar perkebunan.

Pengunjung diharapkan dapat menikmati pemandangan perkebunan kopi berlatarkan gunung Telomoyo dan Rawa Pening yang indah dan asri, sambil menikmati kopi hasil perkebunan. Atau pengunjung juga bisa membeli produk kopi yang sudah dikemas sebagai oleh-oleh.

Dari ide tersebut, Kampoeng Kopi Banaran pun didirikan pada 2002. Setelah sebelumnya dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX, kini tampuk pengelolaan diambil alih oleh PT. Dyandra Banaran Nusantara yang merupakan anak perusahaan grup Kompas Gramedia.

Kampoeng Kopi Banaran sejak awal kemunculannya telah memfokuskan diri sebagai objek agrowisata yang menawarkan one stop tourism. Artinya, ada banyak cara untuk menikmati tempat ini, baik secara rekreasi, culinary maupun edukasi.

Salah satu daya tarik utama tempat ini tentu adalah fasilitas rekreasinya. Banyak kegiatan outdoor yang bisa dilakukan di sini, misalnya berkeliling sekitar kebun kopi dengan menggunakan sepeda, all terrain vehicle (ATV), berkuda atau sambil jogging.

Selain disediakan jogging track, pengunjung juga dapat menyewa sepeda, ATV atau kuda untuk menjelajahi tempat ini. Harga sewanya berkisar Rp 30 ribu untuk ATV, Rp 35 ribu untuk sepeda, dan Rp 50 ribu untuk kuda.

Coffee Camp di Banaran Kampoeng Kopi Banaran
Coffee Camp di Kampoeng Kopi Banaran. Foto: KKB

Kemudian terdapat pula area outbond dengan pilihan permainan seperti flying fox, panahan, trampolin, paint ball dan lain sebagainya. Kolam renang dengan area bermainnya juga dapat ditemukan di sini, dengan harga tiket masuk Rp 15 ribu.

Serta beberapa fasilitas lainnya seperti area peternakan kelinci, taman buah yang menjadi tempat pelestarian beberapa jenis buah yang langka, atau lapangan tenis yang disewakan. Harga sewa lapangan tenis per jamnya adalah Rp 40 ribu.

Lalu, daya tarik lainnya dari Kampoeng Kopi Banaran adalah hidangan kopinya, beserta ragam pilihan kuliner yang tersedia. Saat ini terdapat dua restoran utama, Banaran 9 Resto dan Banaran Sky View.

Banaran 9 Resto mengusung konsep arsitektur ala rumah Jawa tradisional dengan saung-saung kecil di area outdoor. Sajian menu seperti tempe mendoan dan wedang uwuh menjadi teman bersantai sambil menikmati suasana sejuk di tempat ini.

Adapun Banaran Sky View menawarkan pengalaman santap siang atau malam ditemani pemandangan alam ke arah gunung Telomoyo dan Rawa Pening. Terlebih dengan pendaran lampu-lampu di malam hari yang menambah hangat suasana.

Tak kalah menariknya adalah wisata edukasi yang ditawarkan tempat ini. Pengunjung bisa berkeliling kebun kopi menggunakan golf cart atau menyewa kereta wisata seharga Rp 85 ribu, sambil melihat pohon-pohon kopi dan bagaimana biji kopi dipanen.

Pengunjung kemudian akan dibawa menuju ke pabrik tempat biji kopi kemudian diolah dan dikemas menjadi produk kopi. Terdapat juga museum yang menjelaskan sejarah kebun kopi ini, beserta sejarah dan hal-hal terkait kopi secara umum.

Di akhir tur, biasanya pengunjung bisa langsung membeli produk kopi dalam kemasan sebagai oleh-oleh. Dalam isi kemasan berisi sekitar 100 gram itu, harga per kemasannya mulai dari Rp 15 ribu.

Coffee Camp
Suasana dalam Coffee Camp Kampoeng Kopi Banaran. Foto: Dok. KKB

Sesuai dengan semangatnya sebagai one stop tourism, Kampoeng Kopi Banaran tentunya juga menyediakan fasilitas menginap bagi yang ingin staycation di sini. Ada beberapa opsi bagi yang ingin menginap, mulai dari hotel, villa hingga fasilitas untuk glamour camping alias glamping.

Untuk hotel, satu kamar dapat mengakomodasi dua orang dengan pilihan kamar Deluxe dan Grand Deluxe. Tarif kamar Deluxe seharga Rp 550 ribu per malam, sedangkan kamar Grand Deluxe Rp 700 ribu per malam.

Tersedia pula villa yang dapat menampung empat orang, dengan fasilitas dua lantai, dua kamar tidur, ruang tamu dan teras depan yang cukup luas. Untuk harga sewa per malamnya dihargai Rp 1,25 juta.

Dan bagi yang ingin merasakan sensasi glamping, disediakan area dan fasilitas glamping Coffee Camp. Dengan panorama alam rawa Pening, tenda terbagi untuk isi dua orang atau empat orang, dengan tarif sewa berkisar dari Rp 700 ribu hingga Rp 850 ribu.

Akses untuk menuju ke lokasi tergolong mudah karena berada di tepi jalan raya Semarang-Solo, bagi yang melalui tol pun hanya berjarak 200 meter dari pintu tol Bawen. Untuk masuk ke dalam dikenakan tiket masuk Rp 5 ribu per orang, namun untuk parkir kendaraan gratis.

Jam operasional wahana dan tur wisata mulai dari jam 09.00 hingga jam 18.00, walaupun untuk ticketing biasanya sudah tutup dari jam 16.30. Sementara jam buka restoran mulai dari jam 10.00 hingga jam 21.00.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 08112721771, atau via email info@kampoengkopibanaran.id, serta mengunjungi situs resmi kampoengkopibanaran.id dan akun resmi Instagram @kampoengkopibanaran.id.

Kampoeng Kopi Banaran

Jl. Raya Semarang-Solo Km. 35, Bawen

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Semarang Kota Soto, Ini 5 Soto Yang Maknyus

Liburan di musim hujan saat nya menikmati kuliner khas yang lenih nikmat disanpat saat hujan turun.

Semarang Kota Soto rasanya tidak ada yang akan protes. Penjual soto bertebaran di segala penjuru ibukota Jawa Tengah ini. Semua enak dan semua mempunyai pelanggan yang fanatik.

Semarang Kota Soto

Soto termasuk jenis makanan yang mudah ditemukan di Semarang. Pedagang soto bertebaran. Anda tinggal pilih. Sepertinya tak berlebihan jika Semarang kita juluki sebagai Kota Soto, selain Kota Lumpia.

Mayoritas penjajanya menggunakan tambahan embel-embel nama penjualnya, seperti Soto Pak Man, Soto Pak No, Soto Mbak Lin, Soto Bangkong, dan sebagainya. Ciri lain dari soto di Semarang ialah dalam satu mangkuknya sudah tercampur nasi dan daging ayam sebagai bahan baku utamanya. Harganya yang relatif murah menjadikan soto sebagai pilihan untuk sarapan, makan siang, atau makan malam. Pada Ramadan ini cocok juga untuk berbuka puasa karena menghangatkan sekaligus mengenyangkan.

Soto Tanpa Santan

Soto Pak Man tampaknya paling ramai dikunjungi para pembeli di Semarang. Bahkan mulai pukul 10.00 hampir semua kursi sudah penuh terisi. Entahlah, mereka makan pagi atau makan siang. Tak penting juga bukan, yang penting makan soto. Soto disajikan dalam sebuah mangkuk yang berisi potongan daging ayam, soun, seledri, daun bawang, taoge, dan bawang goreng. Tak ketinggalan nasi  di dalamnya.

Harga per porsi ialah Rp 15 ribu. Sebagai temannya bisa pilih tempe goreng, perkedel, berbagai jenis sate, dari harga Rp 2.000 per buah. Ciri khas soto Pak Man ini tidak menggunakan santan dalam kuahnya.

Soto Pak Man; Jalan Pamularsih No. 32; Semarang

Soto Legendaris

Rumah makan soto ini memang didominasi warna hijau tua. Namun bukan karena catnya yang menyebabkan rumah makan ini dinamakan “soto idjo”. Atau bukan pula karena sotonya yang berwarna hijau. Menurut Purwadi, sang pemilik, rumah makan miliknya itu mengalami masa kejayaan pada era 1980-an dan banyak pembeli yang berasal dari kalangan tentara. Karena itulah, banyak yang menjulukinya sebagai soto idjo.

Rasa sotonya juga tak kalah enak dengan soto-soto yang lain. Isinya juga masih sama. Ada potongan daging ayam, soun, seledri, daun bawang, taoge, dan bawang goreng. Bahkan soto idjo menyediakan peyek udang, selain tahu goreng, tempe goreng, perkedel, dan satai. Harga per porsinya juga relatif murah.

Soto Idjo; Jalan Dr. Cipto No. 102; Semarang

Soto Buka 24 Jam

Saat berkeliling di Kota Semarang, beberapa kali saya menemukan rumah makan soto yang menggunakan nama dagang “Soto Pak No”. Beruntung, sopir yang mengantar saya selama di Semarang tahu keberadaan Soto Pak No yang asli. Pak Fauzi, nama sang pengemudi, memang sudah lama tinggal di Semarang. Dia tahu seluk-beluk soal kota ini. Setibanya di rumah makan yang dituju, terpampang spanduk yang bertuliskan Soto Ayam Asli RM Pak No.

Menurut seorang pelayan, kata RM bisa berarti rumah makan atau bisa juga inisial dari nama anak Pak No, yaitu Rokhmat dan Maryamah. Soto yang disajikan dalam mangkuk mungil ini juga tak berbeda dengan soto yang lain. Ada taoge, soun, daging ayam, seledri, bawang goreng, dan nasi putih. Harga per porsi terbilang murah. Yang membedakan dari rumah makan ini, yakni jam bukanya hingga 24 jam.

Soto Pak No; Jalan M.H. Thamrin No 28; Semarang

Semarang kota Soto ditandai dengan banyaknya warung soto yang legendaris di kota ini. Semuanya enak dan punya pelanggan yang fanatik.
Rumah makan Soto Mbak Lin di Jalan Kimangun Sarkoro, Semarang. Foto: Nita D./TL

Soto Rasa Kudus

Jika penjual soto yang lain di Semarang mayoritas kaum pria, lain halnya dengan rumah makan soto yang satu ini. Penjual soto ini justru pemiliknya perempuan. Tengok saja namanya, Soto Mbak Lin. Yang juga tak kalah laris dan punya pelanggan tersendiri.

Meski berjualan di Semarang, Soto Mbak Lin ini justru berasal dari Kudus. Seperti soto khas Kudus lain, kaldu kuahnya terasa lebih kental dan gurih. Soal isi tak jauh berbeda. Ada taoge, soun, daging ayam, seledri, bawang goreng, dan nasi putih. Harga per porsinya mirip dengan tempat lain. Sate kerang seharga Rp 3.500 per tusuk boleh dicoba.

Soto Mbak Lin; Jalan Kimangun Sarkoro; Semarang

Semarang kota soto karena kota ini memiliki begitu banyak warung soto legendaris dengan masakan yang enak.
Soto Bangkong, salah satu legenda soto di Semarang. Foto: shutterstock

Soto Bersantan

Soto yang terletak di ujung Jalan Brigjen Katamso, Semarang, ini porsinya tak berbeda dengan soto-soto lain. Mulai soun, taoge, seledri, bawang goreng, daging ayam, dan nasi putih tercampur dalam setiap mangkuknya. Bedanya hanya kuah santannya.

Selain itu, perbedaannya lagi, gorengan seperti tempe dan perkedel disajikan dengan cara ditusuk. Walhasil, dinamakan satai tempe dan satai perkedel. Satai kerang dan satai telur juga tak luput disajikan. Harganya mulai Rp 1.500 per tusuk. Harga soto di tempat ini relatif lebih tinggi dibanding yang lain, yakni Rp 15 ribu per porsi. Soal rasa tak jauh berbeda dengan yang lain.

Soto Bangkong; Jalan Brigjen Katamso No I; Semarang

agendaIndonesia/Andry T./Nita D./TL/shutterstock

*****

Sekolah Hijau Bali, 1 Cara Belajar Hidup

Sekolah hijau Bali membangun jembatan dari bahan bambu yang lebih ramah lingkungan.

Sekolah Hijau Bali, atau Green School Bali, bukanlah sekolah lingkungan biasa. Ini sebuah sekolah yang mengajarkan hal “lebih” tentang kehidupan.

Sekolah Hijau Bali

Suara-suara ceria dan musik upbeat langsung tertangkap telinga, ehmm… bikin penasaran saja. Kedua kaki saya menjejaki jalan berkerikil menuju sumber suara itu. Begitu tiba di sebuah aula bambu besar terlihat sejumlah orang menari-nari, melompat, dan bernyanyi gembira. Mereka benar-benar menikmati suasana.

Saya bukan berada dalam sebuah festival siang itu, melainkan berada di tengah sebuah sekolah di Jalan Raya Sibang Kaja di wilayah Badung, Bali. Tepatnya di Green School Bali. Bukan sembarangan sekolah memang.

Didirikan oleh John dan Cynthia Hardy yang berdarah Amerika dan Kanada. Mereka dulu adalah pencinta perhiasan. Keduanya telah menjadi penduduk Bali lebih dari 30 tahun. Green School dibangun tujuh tahun lalu dengan harapan mereka bisa membawa para murid keluar dari batas-batas struktural, konseptual, dan fisik yang ditemukan di berbagai sekolah konvensional.

Sekolah ini tidak hanya menyediakan ilmu mengenai green living, namun juga mempersiapkan kehidupan anak-anak mereka. “Karena kami tidak mempersiapkan murid-murid kami (untuk masuk ke sekolah Ivy League). Kami mempersiapkan lebih dari itu untuk mereka,” kata Francis, pemandu wisata hari itu, yang juga guru di sekolah tersebut.

Sekolah pun terus berusaha agar bisa semandiri mungkin. Dihadapkan dengan kondisi sumber daya air di Bali yang semakin berkurang, sekolah membangun penampungan air sendiri. Kemudian, mendaur ulang melalui osmosis terbalik untuk memproduksi air bersih yang aman. Air tersebut digunakan di sekolah dan diambil dari penampungan air serta sungai.

“Kemandirian sekolah tidak berhenti hanya di air. Sekolah ini telah membangun sebuah pusaran air, di mana pembangunannya sudah memasuki tahap akhir untuk menghasilkan listriknya sendiri. Hingga saat ini, proyek yang berumur tujuh tahun ini merupakan satu-satunya turbin air vertikal di Bali,” kata Francis menjelaskan.

Selain itu, sekolah ini mendaur ulang limbah, termasuk kamar mandinya. Juga menyediakan botol air yang terbuat dari besi untuk murid-muridnya, membuat mobil listrik bambu sebagai kendaraan ramah lingkungan, dan menggunakan bambu untuk semua struktur di dalam wilayah Green School.

sekolah hijau Bali tidak sekedar mengajarkan tentang lingkungan, tapi juga kehidupan.
Sekolah Hijau Bali dengan ruang kelasnya yang tidak konvensional. Foto: Shutterstock

Lebih jauh, Francis mengungkapkan, bambu merupakan salah satu material yang memiliki kemampuan untuk menyimpan karbon. Selain itu, bambu dapat didaur ulang. Namun, jika tidak di daur ulang, maka akan kembali pada alam. Bahkan jembatan sekolah, yang dapat menahan hingga 200 orang dewasa, seluruhnya terbuat dari bambu. Jembatan ini berdiri anggun di atas Sungai Ayung dan menjadi jembatan bambu teranggun dan terkokoh yang pernah saya lihat.

Francis memimpin kami menuju salah satu ruang kelas. Sebagai orang yang hidup di perkotaan, saya harus mengakui berjalan di seputar Green School bukanlah hal yang mudah. Tidak ada jalan di sekolah ini yang terbuat dari semen. Semakin jauh saya berjalan, semakin besar usaha yang saya lakukan. Jalan di sekolah masih pada bentuk awalnya: terbuat dari batuan vulkanik.

Francis menyebutkan kondisi jalan tersebut sebenarnya ada tujuannya. Diharapkan, anak-anak akan berjuang dan ketika mereka terjatuh jadi paham rasa sakitnya. Tapi mereka tentu akan bangun dan melanjutkan perjalanan. “Begitu juga dengan menjalani hidup,” ucapnya.

Yang lebih menarik dari jalanan vulkanik adalah lubang lumpur. Terletak di sebelah salah satu kelas dan studio yoga, lubang lumpur merupakan bagian dari berbagai aktivitas sekolah. Terinspirasi dari mepantigan—sebuah bentuk pergulatan dan ilmu bela diri dari Bali—anak-anak dianjurkan untuk ikut serta dalam “pertarungan” seru di dalam lumpur. Dengan aktivitas ini, sekolah memperkenalkan kepada anak-anak tentang latar belakang dari kultur lokal. Selain itu, kegiatan itu bertujuan mengajarkan bahwa tanah tidaklah kotor.

Sama seperti sekolah lain, jiwa dari Green School ini terletak pada kurikulum yang ditawarkannya. Green School merupakan sekolah yang berpusat pada anak-anak dan mereka dianjurkan dapat berkembang dalam kecepatan masing-masing.

Francis menyebutkan sistem penilaian konvensional sudah tidak memiliki tempat di sini meski ada beberapa pengecualian, antara lain, sekolah tetap mempersiapkan murid-murid senior untuk ujian masuk perguruan tinggi.

Di sisi lain, dengan belajar di dalam kelas dan mengikuti suatu sistem yang dinamakan thematics oleh sekolah, para murid dapat melihat subyek yang mereka pelajari dari berbagai perspektif yang berbeda. Di sekolah, para murid juga belajar dengan praktek. Anak Francis rupanya juga bersekolah di sini. “Anak saya terlibat dalam pembangunan sebuah generator. Saat ini, sekolah ini memang sedang membangun bendungan di sungai, bendungan sungguhan,” kata dia.

Green School juga mengajarkan murid-murid mereka agar tidak hanya menghargai bumi ini, tapi juga orang-orang dan budaya di sekeliling. Contohnya, murid sekolah dasar diwajibkan untuk belajar bahasa Indonesia. Sementara itu, untuk murid yang tidak dapat hadir di sekolah selama satu tahun penuh ataupun  orang dewasa yang ingin merasakan pengalaman green living di Bali telah disediakan Green Camp. Di area ini, peserta belajar soal kepemimpinan melalui pengalaman belajar di luar ruang.

Francis pun menyimpulkan secara sederhana: “Sekolah ini bukan hanya tentang kepalanya, ini juga tentang tangan dan hatinya. Di sini kami ingin murid-murid juga mengetahui bahwa mereka dapat membuat perubahan.”

agendaIndonesia/ F. Ramdhani/TL

*****

5 Tempat Gembok Cinta di Asia

5 tempat gembok cinta di asia, salah satunya di Ancol Jakarta

5 tempat gembok cinta di Asia, termasuk yang ada di Indonesia, ini tentu bukan yang pertama dan asli. Tapi latar belakang tempat itu muncul tetap sama: ada pasangan-pasangan yang tengah kasmaran yang ingin mengabadikan kisah kasih mereka dan syukur-syukur cinta mereka bisa terikat selamanya.

5 Tempat Gembok Cinta di Asia

Tahukan Anda, aslinya tempat pertama munculnya gembok cinta adalah di kota Vranjcka Banja, sebuah kota kecil di Serbia. Negeri di kawasan Semenanjung Balkan bekas negeri Yugoslavia. Gembok Cinta itu tepatnya ada di Jembatan Most Ljubavi. Ini tentang kisah cinta sepasang anak muda yang akhirnya kandas dengan latar belakang perang Austria dan Serbia pada saat Perang Dunia II. Si pemuda rupanya jatuh cinta dengan perempuan lain di wilayah di mana ia bertugas. Patah hati, si kekasih meninggal karena kesedihan hatinya.

Anak-anak muda Serbia yang ikut sedih atas kisah cinta mereka, lalu pergi ke jembatan itu dan membawa gembok yang bertuliskan nama mereka dan pasangan masing-masing. Mereka mengaitkan gembok itu di jembatan seraya berharap cinta mereka tak lekang oleh waktu.

Kisah terbentuknya gembok cinta ini kemudian menyebar ke perbagai kawasan. Munculah tempat-tempat dengan gembok cinta di sejumlah negara. Tidak saja di beberapa negara Eropa, di Asia pun juga punya tempat untuk memasang gembok cinta. Termasuk di Indonesia. Mau tahu di mana saja? Berikut 5 tempat gembok cinta yang mungkin akan membuatmu mengaitkan gembok cinta kalian saat hari Valentine.

Dermaga Hati Jakarta

Di Indonesia, ada Dermaga Hati di Beach Pool, Taman Impian Jaya Ancol. Papan kayu yang berbentuk simbol cinta itu dilengkapi rantai sepanjang dermaga. Di rantai inilah biasanya para kekasih menggantungkan gembok cinta mereka. Sejak dibuka pada Februari 2011, Dermaga Hati menjadi salah satu tempat favorit muda-mudi Jakarta dan sekitarnya untuk berpacaran.

5 tempat gembok cinta di Asia, di antaranya di Jakarta dan di Bandung. Di ibukota Jawa barat ini bahkan ada 4 lokasi.
Gembok Cinta di kompleks Balaikota Bandung, jawa Barat. Foto: Dok. rajatourbandung.com

Taman Balai Kota Bandung

Kompleks Balai Kota Bandung di Jalan Wastukencana, Bandung, Jawa Barat, juga punya menara cinta. Terbuat dari besi dan kawat ram dengan bentuk prisma berukuran 2,5 meter persegi dan tinggi dua meter. Di atasnya terdapat huruf “love” berwarna merah. Gembok cinta di Bandung ini berhiaskan lampu warna-warni pada malam hari.

Di monumen cinta ini, pasangan setelah menulis namanya di gembok akan  mengunci dan memasangnya, lalu membuang kuncinya ke kolam Patung Badak di depannya. Gembok cinta yang terpasang pada monumen yang diresmikan pada September 2014 ini memang belum banyak. Salah satunya adalah milik Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan istri. Selain di tempat ini, Bandung juga punya gembok cinta lain, yakni di Farmhouse Susu Lembang, Rabbit Town di Ciubuleuit; dan Dago Dream Park.

North Seoul Tower

North Seoul Tower di Korea Selatan atau  disebut juga dengan nama Seoul Tower atau Namsan Tower sudah dikenal sebagai tempat yang dianggap cocok untuk menggantungkan gembok cinta. Para pasangan kekasih yang merasa bosan dengan suasana perkotaan pergi ke tempat ini untuk menikmati suasana romantis. Di tempat ini biasanya pula mereka memasang gembok cinta sebagai sumpah tidak akan pernah berpisah. Saking popularnya, dibuat sebuah tanda yang bertuliskan: ”Sebuah Janji untuk Cinta Tiada Akhir”. Diperkirakan jumlahnya mencapai ribuan gembok cinta.

Huangshan

Salah satu tempat terkenal untuk menggantungkan gembok cinta adalah di Gunung Huang atau Huangshan, Anhui, Tiongkok. Tempat ini terkenal sebagai gunung paling romantis di Tiongkok karena pemandangannya nan indah. Nah, jembatan yang terdapat di gunung itulah yang menjadi sasarannya.

Suasana romantis tersebut didukung oleh  legenda lokal. Tentang  seorang wanita cantik yang jatuh cinta dengan pria miskin. Ayahnya tidak menyetujui keinginannya dan menjodohkan si wanita dengan pria kaya. Namun pada hari pernikahannya, si wanita cantik itu justru kabur bersama pria miskin ke Huangshan. Keduanya melompat dari gunung tersebut dengan harapan dapat hidup bersama selamanya.

Enoshima

Enoshima adalah pulau kecil di Jepang dan memang terkenal sebagai salah satu tempat romantis di negeri ini. Di puncak bukit Pulau Enoshima  ada menara observasi dan di dekatnya ada sebuah laut yang disebut lover cove atau Teluk Kekasih. Di sini ada sebuah bel bagi para kekasih yang dapat dibunyikan sebagai tanda keabadian cinta mereka. Di samping bel itu, terpasang pula sekumpulan gembok cinta yang bertuliskan nama-nama pasangan.

agendaIndonesia

*****

Roti Bagelen, Manis dan Kering 1 Tangkup

Roti bagelen adalah warmbollen yang dipanggang menjadi kering. Foto: shutterstock

Roti bagelen atau roti bundar yang biasa disebut bun seperti dipergunakan pada burger yang disajikan dalam kondisi kering. Rasanya manis dengan sedikit gurih karena di tengahnya tadinya ada olesan buttercream.

Roti Bagelen

Jenis penganan yang juga sering dijadikan oleh-oleh ini tersebar dari Solo hingga Bandung. Banyak toko makanan dan oleh-oleh yang membuatnya. Biasanya toko-toko ini juga menjual roti bundar dengan olesan buttercream yang bun-nya masih lembut, alias belum dipanggang. Orang menyebut penganan seperti itu sebagai roti semir.

Banyak yang menyukainya. Sebut saja jika wisatawan pergi ke Solo, Jawa Tengah, dan mampir ke toko Orion di Jalan Urip Sumiharjo, salah satu yang diburu adalah roti semir ini. Di Bandung yang terkenal dan melegenda adalah roti Abadi di Jalan Purnawarman di kawasan Tamansari.

Masih banyak nama lain yang menjajakan roti bagelen sebagai jajanan untuk oleh-oleh, namun ternyata istilah roti bagelen punya sejarah lain. Meski belum ada catatan sejarah yang resmi, orang mengenal roti bagelen dari daerah dengan nama sama, dari Bagelen.

Roti Bagelen omigayocom
Ciri khasnya adalah dikeringkan dengan dipanggang. Foto milik Omigayo.com

Bagelen adalah nama sebuah daerah atau wilayah yang berada dalam seputaran Purworejo, Jawa Tengah. Roti bagelen paling terkenal dari distrik tersebut datang dari sebuah toko roti bernama Begelen yang beroperasi di Kutoarjo. Kota kecil ini hanya berjarak sekitar 12 kilometer.

Dari bungkus roti yang dijual toko tersebut, disebutkan mereka sudah menghasilkan roti bagelen yang termasyhur sejak 1906. Mengingat tulisan di bungkusnya yang bertitel “Begelen Biscuit” dan gambar nyonyah berbusana ala barat lengkap dengan apron, bisa dipastikan bahwa makanan ini punya pengaruh Eropa yang cukup kuat.

Sejatinya, sebelum toko roti Bagelen menjual produk roti warmbollen keringnya di Kutoarjo, konon ada sebuah toko lain di Garut, Jawa Barat, yang berjualan makanan sejenis, yakni pabrik dan toko roti Kho Pek Goan. Ia disebut telah berjualan roti jenis ini pada 1885.

Berdasar catatan yang ada, bungkus roti milik Kho Pek Goan tampil lebih klasik dibandingkan yang asal Kutoarjo. Gambar perempuan cantik berkonde yang sedang tersenyum terpampang di situ. Begitupun, roti produk Kho Pek Goan tidak menampilkan kata bagelen.

Sayangnya tidak ada catatan yang menghubungkannya dengan roti bagelen di Purworejo atau Kutoarjo itu. Begitupun toko roti milik Kho Pek Goan juga tidak terlihat memiliki hubungan dengan produsen lain asal Jawa Barat, almarhum Ateng Adiwidjaja, pembuat bagelen dengan merek Abadi.

Menurut website resminya, bagelen Abadi sampai ke publik pertama kali pada 1947, dari pabriknya di Garut, Jawa Barat. Baru pada 1967, Abadi memindahkan operasinya ke Bandung. Dan baru pada 1969 berjualan di tokonya yang ada saat ini.

Rori Warmbollen Abadi Abadibagelen
Warmbollen produksi Abadi. Foto: Dok. Abadibagelen.com

Tak bisa dipungkiri bahwa bangsa Indonesia memang memiliki banyak sekali resep kuliner atau makanan yang merupakan pengaruh dari resep kuliner Belanda. Pada masa penjajahan, masyarakat Indonesia mulai mengenal roti warmbollen yang merupakan salah satu roti manis Belanda. Warmbollen ini merupakan roti basah yang memiliki isian buttercream.

Roti bagelen sejatinya memang dibuat dari roti manis yang diberi olesan buttercream, persis dengan roti semir, kemudian dikeringkan dengan cara dipanggang. Inilah cikal bakal terlahirnya bagelen, roti yang mirip warmbollen dengan olesan buttercream atau mentega, hanya saja teksturnya lebih garing.

Ada pula jenis roti bagelen yang diberi olesan margarin, yang ini biasanya menghasilkan rasa yang asin gurih serta lapisan rotinya akan terlihat lebih kuning. Sedangkan yang diolesi buttercream akan menghasilkan aroma yang lebih wangi dengan tekstur yang renyah.

Sejarah roti ini bisa dirunut ke produk ‘warmbollen’ yang kemudian “dikeringkan” dengan cara dipanggang kembali untuk mencegah jamuran. Semula, roti bagelen adalah cara masyarakat setempat mencegah roti agar tak terbuang akibat berjamur.

Betul, pada awalnya, salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mensiasati roti manis atau roti tawar yang akan berjamur adalah dengan cara mengubahnya menjadi roti kering atau sekarang disebut bagelen. Dan istilah ini seakan menjadi sebutan untuk roti kering.

Siapapun yang pertama membuat roti ini, yang pasti makanan ini sudah akrab dengan masyarakat. Dan unik. Wisatawan yang bepergian dari Jawa Tengah membawa roti bagelen, ketika dari Bandung juga membawa makanan sejenis.

agendaIndonesia

*****

Asam Gurih Khas Sipirok, 5 Kuliner Enak

Asam gurih khas Sipirok menjadi agenda saya ketika mengunjungi Medan, Sumatera Utara. Ini soal kulinari. Ada berbagai macam masakan khas daerah ini yang terkenal enak. Berbahan daging dan tulang kerbau atau ikan dengan rempah-rempah asli setempat.

Asam Gurih Khas Sipirok

Sebagian masyarakat Medan, Sumatera Utara, tentu sepakat jika hidangan Sipirok memiliki cita rasa yang jempolan. Terbukti, sebuah rumah makan Sipirok di Medan menjadi salah satu tempat sajian kuliner favorit warga kota tersebut dan bahkan diburu para turis. Menu dari tulang kerbau membuat pecinta sajian kuliner selalu ingin kembali. Beruntung saya berkesempatan menikmati langsung sajian tersebut langsung di daerah asalnya di Sipirok, Tapanuli Selatan. Di kota yang tahun lalu menggelar Festival Kopi ini, bukan hanya sumsum tulang kerbau pilihannya, tapi ada juga daging bakar dan hidangan dari ikan.

Daging Bakar Sambal Asam

Selintas menu ini mirip dendeng balado yang biasa disajikan di rumah makan Padang. Tapi daging bakar khas Sipirok ini memiliki potongan daging yang lebih mungil. Potongan-potongan kecil daging bakar berupa kerbau atau sapi ini disajikan dengan saus sambal asam dengan rajangan bawang  merah.

Rasa asam muncul dari perasan jeruk nipis. Sedangkan sambalnya yang sangat pedas menggunakan cabai rawit asal daerah tersebut. Dalam proses pengolahannya, daging sapi atau kerbau dibakar lalu dikukus. Agar menjadi lembut, hanya digunakan daging bagian dalam yang ada di antara pinggul dan paha. Satu porsinya Rp 20 ribu.

RM Siang Malam; Jalan Merdeka No 37; Sipirok, Tapanuli Selatan

Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, di antaranya  ikan mas Sinyarnyar.
Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, menjadi cita rasa kuliner yang dirindukan. Foto: Andri/dok. TL

Ikan dengan Sinyarnyar

Menu ikan bakar ini berbeda dengan sajian ikan bakar lain. Ada tambahan khusus berupa bumbu sinyarnyar atau yang disebut andaliman. Salah satu jenis makanan khas dari Sipirok itu terlihat berminyak dengan bintik-bintik hitam sinyarnyar. Ikan mas digunakan sebagai bahan baku utamanya.

Begitu mencicipi, rasa sedikit pedas langsung menyengat. Selanjutnya, lidah akan tersengat getah sinyarnyar yang menjadi bumbu utama ikan bakar tersebut. Anehnya, ”sengatan” itu justru memancing suapan berikutnya. Rajangan bawang merah dan perasan jeruk nipis kian menambah nafsu makan. Harga per porsinya hanya Rp 25 ribu.

RM Ikan Bakar; Jalan Tarutung; Sipirok, Tapanuli Selatan

Kikil Kaki Kerbau

Di sekitar alun-alun Pasar Sipirok, ada sebuah warung makan yang relatif cukup ramai didatangi pengunjung saat makan siang tiba. Hampir sebagian besar pengunjung rupanya memesan sup kikil kaki kerbau yang memang menjadi andalan warung makan tersebut.

Jika dilihat tampilannya memang kurang terlalu meyakinkan. Namun jangan salah. Silakan coba dulu. Kuah supnya yang hangat begitu terasa rempah-rempahnya. Belum lagi kikilnya yang lunak. Menurut sang pemilik, proses perebusan butuh waktu sekitar 3 jam agar membuat kikil empuk. Kemudian, dimasukkan rempah-rempah, seperti lengkuas, cengkeh, bawang putih, tomat, dan lain-lain. Harga per porsinya hanya Rp 25 ribu—sudah termasuk nasi.

RM Sibualbuali; Jalan Tengah; Sipirok, Tapanuli Selatan

Kesegaran Terong Belanda

Saat melanjuti perjalanan dari Sibolga menuju Sipirok, saya sempat mampir di sebuah warung untuk melepaskan dahaga. Mata saya tertumbuk pada satu susunan buah berbentuk bulat telur di lemari etalase yang disebut terong Belanda. Isinya yang berwarna oranye kekuningan inilah yang diambil dan kemudian diblender atau dihancurkan.

Dengan tambahan es batu, jus terong Belanda ini terasa menyegarkan dan menjadi manis dengan penambahan gula dan susu. Memang ini bukan minuman khas Sipirok, tapi terkenal di Sumatera Utara. Harganya yang Rp 8.000 sudah mampu melepaskan dahaga. Ehm, benar-benar menyegarkan.

Rumah Bu Nengsih; Jalan Padang Sidimpuan; Sibolga, Tapanuli Tengah

Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, yang tercermin pada kulinarinya yang serba enak.
Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, di antaranya sumsum kerbau. Foto: Andri/Dok TL

Sup Sumsum Kerbau

Saat pertama kali mendatangi rumah makan ini, saya terpaksa harus menggigit jari. Pasalnya, sup sumsum kerbau khas Sipirok yang tersohor itu sudah habis terjual. Mau tidak mau, keesokan harinya saya harus kembali datang untuk mencoba sup yang terkenal hingga ke Medan itu. Dan beruntung, kali itu masih ada.

Pesanan sup sumsum kerbau pun datang dan disajikan dalam sebuah piring besar. Tulang kerbau kira-kira berukuran 25 sentimeter dibiarkan terbaring di atas piring dan lengkap dengan kuahnya. Selain pisau, disediakan pula sedotan untuk menyeruput sumsum yang ada di dalam tulang. Rasa sumsumnya mirip dengan sumsum sapi, tapi ini lebih kental. Harganya Rp 70 ribu per porsi. Sajian ini sebaiknya segera disantap saat panas.

RM Siang Malam; Jalan Merdeka No 37; Sipirok, Tapanuli Selatan

agendaIndonesia/Andry T./TL

Jalinan 3000 Ketak Nyurbaya Menyapa Jepang

Jalinan ketak kerajinan khas Lombok Barat

Jalinan 3000 ketak Nyurbaya, Lombok Barat, setiap tiga bulan dikirim ke negeri matahari terbit. Ketak adalah sejenis tanaman paku-pakuan yang lebih halus dari rotan. Di tangan-tangan trampil warga Nyurbaya hasilnya adalah produk-produk kerajinan yang modis.

Jalinan 3000 Ketak Nyurbaya

Sudah siang sebenarnya, tapi saya merasa masih menikmati suasana khas pagi. Maklum dalam perjalanan dari Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat, ke Lombok Barat terus-terusan diiringi rintik hujan. Saat memasuki daerah perbukitan, mata dibikin segar oleh pepohonan tinggi dan kehijauan di mana-mana.

Perjalanan tidak terlalu lama. Sekitar 30 menit sudah melewati Pura Lingsar dan 10 menit kemudian sudah tiba di Dusun Nyurbaya Gawah, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Saya tidak disambut oleh deretan toko-toko berisi hasil kerajinan ketak—sejenis tanaman paku-pakuan—yang menjadi ciri khas dusun ini. Tanaman ini dikenal dengan nama paku hata atau Lygodium circinnatum. Mirip dengan rotan, tapi ukurannya lebih kecil, sehingga lebih halus.

Yang ada malahan keranjang-keranjang bambu berisi rambutan dan manggis di pinggir jalan. Tampilannya masih segar karena baru dipetik dari pohon. Berada di lingkungan yang asri, dusun ini tak hanya memiliki penduduk dengan jari-jari yang menyulap ketak menjadi hiasan rumah, perabot, atau aksesori. Tapi juga sebagian warganya bekerja sebagai petani dan hasilnya berupa buah-buah yang menggoda selera seperti yang saya temukan.

Namun, buah-buahan bukan tujuan utama saya mengunjungi dusun ini. Kendaraan terus melaju hingga rodanya berhenti tepat di sebuah toko yang dipenuhi beragam produk dari ketak. Sebuah papan nama bertuliskan Mawar Art Shop di bagian depannya. Saya langsung bisa mengintip aneka wadah, tempat tisu, tatakan gelas, nampan, hingga aneka tas yang cantik. Dalam warna cokelat muda maupun cokelat tua. Ada yang murni berbahan ketak. Ada pula yang sudah dipadu dengan material lain seperti kayu dan kain. Hari itu Mawa—sang pemilik—tengah mengikuti pameran di luar negeri. Saya menemukan Suhartono—sang suami—yang menjadi mitra usahanya.

Tokonya lebih besar dibanding toko sebelahnya. Rupanya memang jumlah toko kerajinan ketak sudah menurun. Tinggal dua toko, yakni milik Mawar dan suaminya, serta di sebelahnya ada toko yang tak lain dari kakaknya Mawar. Suhartono menyebutkan sang istri memang benar-benar menangani masalah pemasaran dan produksi. Tak mengherankan bermunculan permintaan dari luar negeri. “Terutama Jepang, produknya biasanya tas-tas perempuan,” ujarnya. Pengiriman ke Negeri Sakura ini rutin dilakukan dengan total 3.000 buah per tiga bulan sekali. Beberapa kali memang Mawar, menurut Suhartono, mengikuti pameran di Jepang selain di Korea Selatan.  

Suhartono dan istrinya memang tidak mengerjakan sendiri produknya. Mereka menampung hasil karya dari para perajin yang ada di sekitar toko. Siang itu, saya hanya menemukan satu perajin setelah menyusuri perkampungan. Rupanya, saya datang tepat acara Mauludan digelar di rumah-rumah, sehingga sebagian warga bepergian untuk memenuhi undangan acara yang umumnya di daerah ini dilakukan di rumah-rumah.

Jalinan 3000 ketak Nyurbaya sebagai produk kerajinan dari Lombok telah mampu menembus pasa ekspor di Jepang.
Jalinan ketak, kerajinan dari Nyurbaya, Lombok Barat. Foto: Dok. shutterstock

Sang perajin mengatakan bahwa dirinya membuat produk tergantung pada jumlah ketak yang dimiliki. Ia memang membeli bahan mentah ketak dan kemudian menjalinnya. Kalau hanya bisa membeli dalam jumlah kecil, ia pun hanya membuat produk mini seperti tatakan gelas saja—tempat perhiasan mini. Bila membuat produk besar, ia pun bisa membuat nampan atau wadah lainnya. Harga jual pun beragam atau tergantung pada ukurannya. Yang termurah ialah tatakan gelas yang dibuat bulat atau segi empat berdiameter 10 sentimeter umumnya per buah Rp 6 ribu. Ukuran 30×40 sentimeter yang biasanya digunakan untuk alas piring dipatok pada kisaran Rp 50 ribu.

Dusun Nyurbaya bukan satu-satunya kampung perajin ketak di Pulau Lombok. Anda bisa juga menemukannya para perajin anyaman ketak di Desa Beleka, Praya, Lombok Tengah. Dari Mataram jaraknya sekitar 57 km. Hanya, para perajin di desa tersebut juga mengerjakan kerajinan rotan. Baik ketak maupun rotan memang menggunakan teknik yang sama, yakni anyaman. Produknya juga beragam, dari aneka wadah untuk kebutuhan rumah tangga hingga hiasan dan tas untuk kaum hawa.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Jember Jawa Timur, Kota 1.000 Oleh-oleh

Jember Jawa Timur, kota 1000 oleh-oleh di antaranya opak gulung

Jember Jawa Timur tidak cuma identik dengan suwar-suwir. ,Kota ini juga punya sederet alternatif buah tangan lain yang menarik untuk dibawa pulang.

Jember Jawa Timur

Jember menyandang segudang julukan. Mulai dari yang agak bercanda karena banyaknya polisi tidur di jalanan sehingga ada yang memberi nama Kota 1.000 Polisi Tidur, Kota Tapal Kuda, Kota 1.000 Bukit, Kota Tembakau, Kota Karnaval, hingga Kota Suwar-Suwir. Julukan itu amat mungkin berangkat dari sudut pandang si pemberi julukan.

Namun, jika saja si pemberi sebutan tersebut mengambil dari sudut pandang oleh-oleh, mungkin dia akan menjuluki kota di Jawa Timur ini sebagai Kota 1.000 Oleh-oleh. Ya, bisa saja begitu. Karena Jember punya beragam buah tangan yang bisa dibawa pulang para pelancong. Apa saja itu?

Suwar-suwir

Rasanya kurang afdal jika tidak memasukkan penganan ini sebagai oleh-oleh khas Jember. Namun bagi orang awam yang belum pernah makan penganan khas Jember ini pasti akan bertanya-tanya jenis makanan apa ini? Bentuknya kotak-kotak kecil memanjang menyerupai kotak balok mini. Warna pun beraneka ragam, dari hijau, cokelat, putih, hingga merah.

Oleh-oleh khas Jember ini sekilas mirip dodol, tapi strukturnya lebih padat. Hanya, saat digigit begitu lembut dan lumer di lidah. Rasanya legit, manis, dan bercampur kecut. Selintas seperti sedang mencicipi tape. Oleh-oleh ini dibuat dari bahan tape, gula, dan tepung. Kemudian, dijemur matahari supaya kering dan tahan lama. Penganan ini cocok dijadikan teman camilan minum teh. Harganya ialah Rp 15 -20 ribu per kotak.

Prima Rasa; Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember

Opak Gulung

Banyak nama yang diberikan untuk jajanan ringan tradisional Indonesia ini. Ada yang menamakannya opak gambir, kue semprong, atau opak gulung. Kendati berbeda, semuanya memiliki karakteristik yang sama, yaitu renyah saat dikunyah. Camilan ini dibuat dari tepung tapioka, gula, telur, wijen, dan santan. Semua bahan dibuat adonan, kemudian dipanggang di atas api.

Bentuk umum yang sering dijumpai di pasaran adalah digulung atau dilipat menjadi empat dan ada juga yang berbentuk kipas. Di Jember, pelengkap sajian yang biasanya hadir pada saat Lebaran itu akrab dinamai opak gulung. Per bungkus dikenai harga Rp 27 ribu.

Depot Jawa Timur; Jalan Gatot Subroto No 8; Jember

Tas Batik

Batik Jember mungkin tak setenar batik Solo atau batik Yogyakarta. Meski begitu, batik kota ini tak kalah menarik. Dikenal memiliki corak yang khas, yakni motif daun tembakau. Dipilih corak tersebut karena Jember merupakan salah satu kota penghasil tembakau terbesar di Indonesia.

Selain dijual dalam bentuk lembaran kain, batik Jember sudah banyak yang dijadikan tas atau kemeja pria. Kain batik Jember dipasarkan mulai Rp 135 ribu sampai Rp 1 juta. Sedangkan untuk kemeja pria dijual seharga Rp 187 ribu. Lain halnya dengan tas batik yang dijual dari harga Rp 85 ribu.

Toko Primadona; Jalan Trunojo No 137; Jember

Terasi Udang

Rasanya kurang lengkap jika kita mengunjungi Jember, tapi tidak membeli terasi. Maklum saja, kota ini memang dikenal sebagai salah satu kota penghasil terasi. Jenis penyedap masakan ini diolah di Puger—daerah penghasil udang terbaik di kota ini. Terasi dari daerah ini terkenal berkualitas tinggi dan beraroma harum. Bahkan konon sudah terkenal hingga ke Belanda.

Saking banyaknya merek dan ukuran yang dijual terkadang membuat kita justru bingung memilihnya. Apalagi semua produknya mengklaim berasal dari Puger. Karena itu, jangan segan bertanya kepada penjual atau meminta rekomendasi kepada teman yang sudah pernah mencicipinya. Namun yang pasti harganya mulai dari Rp 10 ribu.

Prima Rasa

Jalan H.O.S. Cokroaminoto No 6; Jember

Jember Jawa Timur menyandang berbagai julukan, mungkin salah satunya adalah kota 1000 oleh-oleh karena banyaknya buah tangan yang bisa dibawa dari kota ini.
Proll tape, cake tradisional di Jember, Jawa Timur, yang berbahan baku dari tape singkong. Foto: dok. shutterstock

Proll Tape

Pelancong yang ingin membawa oleh-oleh khas Jember mungkin bisa memilih proll tape sebagai alternatif. Kue yang terbuat dari tepung terigu, tape singkong, susu, mentega, dan telur ini rasanya hampir seperti cake, tapi aroma rasa tapenya sangat terasa. Dibubuhi tambahan yang  beragam, dari keju, kismis, hingga cokelat.

Proll tape dapat dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh yang berada di sepanjang Jalan Gajah Mada dan Jalan Trunojoyo. Biasanya dikemas dalam kardus dari berbagai merek, antara lain, Purnama Jati dan Anis. Harganya adalah Rp 19 ribu untuk ukuran kecil dan Rp 23 ribu untuk ukuran besar.

Sumber Madu; Jalan Gajah Mada No 103; Jember

agendaIndonesia/Andry T./Aditya H/TL

*****

Taman Bunga Nusantara, Agrowisata di 8 Zona

Taman Bunga Nusantara di kawasan Puncak CIanjur menjadi destinasi agrowisata. Foto:antaranews

Taman Bunga Nusantara mungkin belum bisa menjadi wisata kembang-kembang khas Indonesia, seperti layaknya menikmati bunga tulip di Keukeunhof, Belanda. Namun ini merupakan salah satu objek wisata yang telah bertahun-tahun menjadi pilihan destinasi berlibur di kawasan Puncak, Cianjur. Asri dan indahnya pemandangan di sekeliling taman ini adalah salah satu alasan utamanya.

Taman Bunga Nusantara

Sesuai namanya, taman ini berisikan beragam jenis bunga dan tanaman hias yang dibagi menjadi beberapa zona. Dibangun sejak 1992 dan diresmikan pada 1995, tempat ini bisa dikatakan sebagai taman bunga pertama yang eksis di Indonesia.

Berada di area dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 750 mdpl, membuat suhu di sekitar taman ini pun cenderung sejuk, berkisar dari 20 hingga 26 derajat Celsius. Tingkat curah hujannya pun terhitung cukup tinggi.

Taman Bunga Nsantara memiliki lahan seluas 35 hektare. Dari area tersebut, 23 hektare di antaranya diisi oleh beragam bunga, pohon serta tanaman hias. Kemudian tersedia area wahana permainan seluas 7 hektare, dan 3 hektare lainnya untuk area restoran dan ruang pertemuan.

Kemudian 2 hektare sisanya digunakan khusus sebagai lahan pembibitan dan percobaan. Ini merupakan wujud kontribusi Taman Bunga Nusantara dalam riset dan penelitian di bidang flora, khususnya bunga dan tanaman hias di Indonesia.

Taman Bunga Nusantara juga diperuntukkan sebagai lapangan kerja bagi warga sekitar.
Taman Bunga Nusantara didirikan untuk meningkatkan minat agrowisata. Foto: DOk Taman Bunga Nusantara

Taman Bunga Nusantara sendiri memang didirikan untuk meningkatkan minat agrowisata di tanah air, menjadi sarana edukasi dan penelitian, serta pelestarian bermacam-macam varietas bunga dan tanaman hias, khususnya yang langka dan dilindungi.

Serta taman ini juga diperuntukkan sebagai lapangan kerja bagi warga sekitar, terutama yang menggeluti bidang pertanian. Dengan demikian, taman ini pun diharapkan mampu turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Taman Bunga Nusantara sendiri memiliki konsep ‘museum kehidupan’. Dalam artian, di taman ini kita dapat melihat siklus kehidupan dari tunas yang kemudian tumbuh dan mekar menjadi bunga, hingga gugur dan berganti tunas yang baru.

Seperti disebutkan di atas, taman ini dibagi menjadi beberapa zona. Setidaknya ada delapan zona utama yang dibedakan berdasarkan tata ruang dan varietas bunga dan tanaman hias yang terdapat di zona tersebut.

Misalnya di Taman Bali, pengunjung langsung disambut dengan gapura dan patung bergaya khas Bali. Di zona ini, terdapat beberapa jenis bunga dan tanaman hias lokal seperti bunga sepatu, bunga kamboja, heliconia dan sebagainya.

Lalu, di Taman Mediterania terdapat beragam jenis kaktus yang tumbuh di area yang kering dan didominasi oleh pasir serta batu seperti di sekitar perairan Mediterania.  Beberapa di antaranya dikembangkan di dalam rumah beratap kaca dan lahan berpasir putih.

Selanjutnya adalah Taman Mawar yang merupakan salah satu zona yang cukup populer di sini. Sesuai namanya, taman ini berisikan beragam bunga yang kerap disebut flos florum alias bunga dari segala bunga.

Yang menarik, bunga mawar secara umum adalah bunga yang tumbuh dan berkembang di wilayah empat musim. Hal ini dikarenakan siklus mereka yang ‘beristirahat’ dan meluruhkan dedaunannya di musim dingin, agar dapat mekar dengan indah kembali di musim panas.

Taman Bunga Nusantara tak hanya soal bunga tapi juga tanaman lain seperti aneka palem.
Ada 8 zona di dalam taman bunga ini. Foto: Dok. Taman Bunga Nusantara

Karena Indonesia adalah negara beriklim tropis yang hanya mengenal dua musim, maka perlu perlakuan khusus dalam merawat bunga mawar ini, sebab tidak adanya masa istirahat seperti saat musim dingin.

Maka dari cara penyiraman dan penyiangan bunga mawar di taman ini telah diukur dan ditata secara seksama. Pupuk yang digunakan pun dikhususkan agar bunga tersebut dapat tumbuh kuat dan mekar dengan indah.

Taman Palem juga tak kalah menarik. Di zona ini terdapat lebih dari 100-an varietas tumbuhan palem dari berbagai belahan dunia, dari Meksiko, Kuba, Madagaskar hingga Australia. Tumbuhan palem sendiri umumnya tumbuh di daerah beriklim tropis yang hangat.

Zona yang juga sayang untuk dilewatkan adalah Taman Prancis. Zona ini lebih mengedepankan penataan desain taman yang terinspirasi dari era renaissance di abad ke-17. Untuk dapat menikmati pemandangan secara keseluruhan, disarankan untuk melihat dari menara pandang.

Menara pandang ini memiliki tiga lantai dengan ketinggian kurang lebih sekitar 29 meter. Tak hanya Taman Prancis saja, pengunjung bahkan juga dapat melihat zona-zona taman lainnya lewat menara ini.

Begitu pula Taman Jepang yang desainnya terinspirasi dari penataan taman tradisional di Jepang. Banyak elemen kayu dan batu yang ditata secara sederhana, ditambah dengan kolam yang memberikan nuansa damai dan rileks.

Sedangkan Taman Air diperuntukan bagi jenis-jenis bunga dan tanaman yang hidup di atas air. Contohnya seperti bunga seroja, bunga teratai, serta papyrus yang lazim dikenal sebagai bahan baku pembuatan kertas papir.

Dan terakhir yang mungkin paling unik dari semuanya adalah Taman Rahasia, atau Taman Labyrinth. Zona ini berupa taman yang didesain dan dipangkas dengan rapi menjadi wahana labirin untuk anda bermain mencari jalan keluarnya.

Zona ini terinspirasi dari konsep arsitektur di zaman renaissance pada abad ke-16, di mana labirin dibentuk sebagai jalan masuk menuju istana atau tempat-tempat penting lainnya. Taman kemudian dibuat berkelok-kelok dan panjang seakan tiada ujungnya.

Taman Bunga Nusantara 03
Pengunjung bisa duduk-duduk di taman dan menikmati keindahannya. Foto: Taman Bunga Nusantara

Untuk bermain di wahana ini, pengunjung dapat langsung masuk dan mencoba mencari jalan sendiri, atau membeli peta seharga Rp 2 ribu yang berisi petunjuk menuju jalan keluar. Di akhir labirin, terdapat area taman yang didesain spesial sebagai tanda pengunjung telah berhasil keluar.

Di luar zona tersebut, terdapat pula beberapa area khusus lainnya. Misalnya area rumah kaca seluas 2.000 m2 yang dibuat dari sekitar 3.000 panel kaca. Area ini diperuntukkan bagi jenis bunga dan tanaman yang sulit untuk hidup di iklim tropis.

Sehingga area rumah kaca ini dibuat sedemikian rupa untuk dapat mengatur hal-hal seperti suhu, kelembaban udara dan intensitas cahaya agar bisa mengakomodir bunga dan tanaman tersebut. Untuk dapat masuk ke dalam rumah kaca, pengunjung dikenakan biaya Rp 5 ribu.

Namun tak hanya keindahan flora saja yang dapat disaksikan di sini. Di taman ini juga terdapat danau angsa yang menjadi habitat beberapa jenis angsa seperti angsa putih dari Eropa, dan angsa hitam dari Australia. Di danau tersebut juga terdapat beragam jenis ikan.

Selain taman-tamannya yang menjadi daya tarik wisatawan, Taman Bunga Nusantara juga menjadi tempat yang menarik bagi pengunjung untuk sekedar piknik menikmati nuansa alam. Oleh karenanya, disediakanlah beberapa area untuk piknik, beserta saung-saungnya.

Tak kurang sekitar delapan ruang umum untuk piknik yang tersedia, berikut dengan 18 saung yang tersebar di area tersebut. Terdapat pula camping ground yang menyediakan sekitar 10 tenda dengan fasilitas memadai bagi yang ingin menginap, dengan tarif Rp 325 ribu per malam.

Ini menjadikan Taman Bunga Nusantara sebagai tempat yang sesuai untuk mengadakan acara seperti karya wisata sekolah, outbond dan gathering. Selain itu, acara resepsi pernikahan outdoor juga bisa dilangsungkan di sini.

Tak hanya itu, kini Taman Bunga Nusantara juga menyediakan area bursa bunga dan tanaman. Berada di dekat area parkir, pengunjung dapat melihat-lihat beragam jenis bunga dan tanaman hias yang dijual dan membelinya untuk dibawa pulang.

Untuk masuk ke area taman, pengunjung dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 50 ribu. Namun itu belum termasuk biaya parkir bagi yang membawa kendaraan pribadi. Untuk motor tarifnya sebesar Rp 10 ribu, sedangkan mobil Rp 15 ribu.

Satu hal yang perlu dicatat, karena luasnya area taman ini, maka pengelola taman juga menyediakan fasilitas mobil dan trem bagi yang ingin berkeliling wilayah taman secara menyeluruh namun dengan waktu lebih singkat.

Untuk fasilitas mobil dapat mengangkut sekitar 14 orang dengan biaya sewa Rp 20 ribu. Sedangkan trem memiliki kapasitas 16 hingga 20 orang, dengan jadwal keberangkatan kurang lebih setiap 30 menit. Untuk menaikinya, perlu membayar tiket seharga Rp 60 ribu.

Taman Bunga Nusantara buka setiap hari dari jam 08.00 sampai jam 17.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0263) 581617/581618, via email di tamanbunganusantara@yahoo.co.id atau kunjungi situs resmi tamanbunganusantara.com serta akun resmi Instagram @tamanbunganusantara.

Taman Bunga Nusantara

Jl. Mariwati Km. 7, Cianjur

agendaIndonesia/Audha Alief P

*****