Sensasi Langit Jakarta Dari Pencakar Langit Lantai 49

Sensasi Langit Jakarta di Cloud

Sensasi Langit Jakarta bisa dinikmati dari mana saja, sesungguhnya. Tapi tak ada salahnya sekali-kali memandang langit ibukota dari lantai 49 sebuah gedung pencakar langit. Cloud menawarkan sensasi menikmati senja dan pemandangan kota malam hari.

Sensasi Langit Jakarta

Matahari yang condong ke ufuk barat mulai membentuk lembayung senja. Cahayanya mengubah cakrawala menjadi merah jingga. Sebuah momen yang mungkin jarang ditemui di sudut langit Jakarta. Sebuah momen indah yang memperlihatkan betapa masih cantiknya Ibu Kota.

Tanpa ada yang mengomandoi, puluhan pengunjung Cloud Lounge & Dining Room langsung mengabadikan momen tersebut. Suasana yang tadinya relatif cukup senyap, mendadak riuh. Kesempatan ber-selfie dengan latar belakang lembayung senja itu tak dilewatkan oleh pengunjungnya begitu saja.

Bertempat di Lantai 49 Gedung The Plaza Office Tower di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, lounge yang berada di luar ruangan itu memang menawarkan sensasi pemandangan langit Jakarta dari sudut berbeda. Kita dapat menikmatinya saat matahari tenggelam. Setelah fajar menyingsing, yang tersisa hanyalah hamparan langit pekat dan lampu-lampu gedung perkantoran yang mulai berpendar. Lampu-lampu rumah dan kendaraan yang berlalu-lalang di bawahnya tampak seperti kunang-kunang.

Pemandangan indah Kota Jakarta, dipadu dengan interior yang elegan, membuat nyaman para pengunjungnya dan jauh dari hiruk pikuk kemacetan Ibu Kota. Kebanyakan meja di lounge luar ruangan ini didominasi oleh sofa-sofa memanjang. Namun ada pula pilihan untuk duduk-duduk di dekat flaming bar. Setiap sore menjelang malam, ada api yang berkobar pada bagian atap bar.

Cloud juga menawarkan pengalaman berbeda untuk pengunjungnya. Di salah satu sudut lounge luar ruangan terdapat sebuah vodka room. “Ruangan ini memiliki suhu minus 2 derajat Celcius,” ujar General Manager Cloud Lounge & Dining Room.

Di ruangan ini pengunjung dapat menikmati pengalaman berbeda saat menikmati Grey Goose Vodka, salah satu vodka terbaik di dunia. Untuk memasuki ruangan ini, pihak manajemen menyediakan jaket penahan dingin.

Selain di luar ruangan, Cloud menyediakan lounge dalam ruangan. Desain interior pun terkesan elegan. Langit-langitnya menggunakan unsur kayu. Sedangkan ornamen dinding ruangan yang disapu warna keemasan menimbulkan kesan mewah. Sama seperti lounge di luar, di dalam pun terdapat sebuah bar. Di sudut ruangan terdapat sebuah dining room. “Ruangan ini memang sengaja kami hadirkan untuk pengunjung yang ingin menikmati makan malam,” katanya.

Setelah cukup lama menghabiskan waktu berkeliling dan mengagumi keseluruhan tempat, saya memutuskan duduk di luar ruangan dan memulai petualangan kuliner. Chocolate Lava Cake hadir pertama menyapa. Hidangan ini berupa kue cokelat dengan taburan gula halus di atasnya dan es krim cokelat. Saat kue dipotong, lelehan cokelat panas mengalir seperti lava yang mencair.

Saat dicicipi, rasa cokelatnya benar-benar menggoda. Es krim yang menggunakan cokelat asal Belgia pun tak kalah menggiurkan. Hidangan seharga Rp 55 ribu ini memberi sensasi panas-dingin dalam waktu bersamaan. Sebagai saran, sebaiknya Chocolate Lava Cake langsung disantap ketika dihidangkan.

Sensasi langit Jakarta sambil menikmati Steak di Cloud

Setelah dibuat terkesan oleh hidangan pertama, saya lantas mencicipi Beef Tataky with Vegetables and Achimichurri Sauce. Sajian dengan nama yang cukup rumit ini terbagi atas berbagai jenis sayuran, seperti asparagus, tomat ceri, jamur, kentang kecil, dan diapit potongan daging sapi sirloin yang sudah teriris. Tumpukan potongan kentang goreng tersaji di sudut piring. Mereka tertata rapi.

Pada gigitan pertama, daging sapi dengan tingkat kematangan yang tepat terasa amat empuk dan kaya rempah. Tak ada rasa yang mengecewakan memang untuk hidangan seharga Rp 260 ribu ini. Achimichurri Sauce asal Argentina itu benar-benar melengkapi kesempurnaan Tataky with Vegetables and Achimichurri Sauce.

Kegiatan makan tersebut memang belum lengkap tanpa hadirnya minuman. Saatnya untuk menuntaskan hari yang penat bersama racikan signature para bartender Cloud. Saya berkesempatan untuk menyeruput jejeran cocktail andalan mereka di antaranya Purple Widow dan Tiramisu. Purple Widow berupa perpaduan antara vodka, blueberry syrup, cranberry juice, dengan pecahan es batu. Daun basil di bibir gelas menjadi penghias pelengkap minuman seharga Rp 150 ribu ini. Minuman dingin ini memang menyegarkan. Perpaduan rasa ketiganya bercampur harmonis.

Minuman yanghadir belakangan, Tiramisu, terlihat mempesona. Penyajian minuman seharga Rp 130 ribu ini unik. Potongan es batu tidak dicampur ke dalam minuman, tapi diletakkan terpisah dalam gelas yang berada di bawahnya. Bubuk cokelat dan krim mengambang di atas campuran rum, Irish liquer, coffee liquer, dan noisette syrup.

Tak terasa, malam terus merangkak naik. Alunan musik genre house music masih tetap mengalun. Momen melepas penat sembari ditemani pemandangan malam yang indah dari ketinggian terasa sempurna sudah. Cloud sukses memberi pengalaman lengkap dalam rupa lounge dengan sensasi tersendiri.

Cloud Lounge & Dining Room

The Plaza Office Tower Lantai 49

Jalan M.H Thamrin Kav 28-30, Jakarta Pusat

Andry T./Frann/Doc. TL

Rujak Cingur, 1 Sedap Pedas Dari Surabaya

Rujak cingur berbeda dengan bayangan rujak yang umum dikenal masyarakat. Kuliner tradisional dari Surabaya ini memiliki ciri khas yang membuatnya spesial dari rujak kebanyakan.

Rujak Cingur

Secara umum, rujak merupakan kudapan populer yang agak mirip salad. Biasanya ia terdiri dari beberapa jenis buah dan sayuran seperti mangga, nanas, bengkuang, taoge, timun dan lainnya yang disajikan dengan bumbu campuran kacang tanah, gula merah dan cabe. Sebuah kombinasi rasa manis, segar sekaligus sensasi pedas yang telah menempel di lidah banyak orang Indonesia dari generasi ke generasi.

Pada hakikatnya, rujak cingur tak terlalu jauh berbeda dari rujak kebanyakan, utamanya rujak ulek. Tetapi, rujak ini memiliki beberapa keunikan, utamanya tambahan potongan moncong sapi yang direbus. Kata ‘cingur’ sendiri dalam bahasa Jawa berarti mulut. Hidangan tersebut juga dilengkapi dengan lontong, kacang panjang, kangkung, tahu, tempe, dan bumbu rujak yang diolah menggunakan petis.

Rujak cingur konon aslinya berasal dari Madura yang dibawa sujumlah orang ke Surabaya.
Warna hitam yang mendominasi berasal dari petis. Foto: shutterstock

Asal-usul terciptanya resep masakan ini belum diketahui pasti. Namun ada cerita yang mengatakan bahwa pada 1930-an beberapa orang Madura yang mengadu nasib ke Surabaya membawa resep tersebut untuk dijajakan di kota Pahlawan tersebut.

Karena Surabaya saat itu sudah mulai ramai sebagai kota pusat perdagangan yang disinggahi dan ditinggali banyak orang, makanan ini pun mampu meraih pelanggan dan ketenaran. Sampai akhirnya makanan ini justru menjadi lebih lekat sebagai makanan khas Surabaya.

Pada perkembangannya, rujak ini juga dibedakan atas beberapa versi. Yang pertama adalah versi campur yang isiannya lengkap seperti biasa. Versi lainnya adalah ‘matengan’ yang tidak memakai buah-buahan.

Di Surabaya, pelancong bisa menemukan beberapa kedai-kedai penjual kuliner ini yang terbilang populer, baik di kalangan warga lokal dan wisatawan. Beberapa bahkan sudah bisa dikatakan legendaris lantaran sudah berjualan sejak puluhan tahun lalu.

Rujak cingur ada yang versi matengan yang artinya tidak memakai buah-buahan,
Menu lengkap menggunakan buah-buahan. Foto: dok. shutterstock

Salah satunya adalah Rujak Cingur Achmad Jais, yang terletak di jalan Achmad Jais. Kedai satu ini boleh jadi salah satu yang paling populer. Kendati harganya cukup mahal dibanding kedai lain, nyatanya animo pengunjung tak pernah surut.

Kedai ini sudah berdiri sejak 1970. Sang pendiri, Lim Sian Neo, adalah ibu rumah tangga yang kerap membantu pedagang cingur keliling yang tunanetra dengan membeli dagangannya. Dari situ, ia terinspirasi untuk mengolah cingur tersebut menjadi rujak cingur dan menjualnya.

Ia kemudian membuka kedai di rumahnya, menjajakan rujak cingur dengan dibantu oleh anaknya, Ng Giok Cu. Hingga kini, kedai tersebut masih bertahan dan usaha dijalankan oleh sang cucu, Sioe Sin.

Seperti disebutkan di atas, harganya tergolong premium, berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 80 ribu. Tetapi anda juga mendapatkan porsi yang besar, begitu pula dengan bumbunya yang unik karena tidak dibuat dengan kacang tanah, melainkan kacang mede. Petisnya pun berkualitas tinggi, sehingga bertekstur halus di lidah.

Rujak cingur buatan kedai yang buka dari jam 11.00 hingga 17.00 itu juga disebut lebih awet dan tahan lama, diklaim dapat tahan setidaknya enam jam dalam suhu ruangan. Dengan segala keunikan dan kelebihan tersebut, tak heran banyak yang meminati Rujak Cingur Ahmad Jais, termasuk mantan presiden (alm.) KH Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri.

Kedai rujak cingur lainnya yang tak kalah legendaris adalah Rujak Cingur Genteng Durasim. Berlokasi di jalan Genteng Durasim, ia berada cukup dekat dengan pusat oleh-oleh pasar Genteng.

Yang menarik, kedai ini bahkan sudah ada sejak 1936. Adalah Maryam dan ibunya yang akrab dipanggil mbah Woro yang mendirikan usaha kedai ini. Banyak yang menyebut kedai ini adalah kedai rujak cingur tertua di Surabaya.

Salah satu saksi sejarah yang terdapat di kedai ini adalah cobek yang digunakan untuk meramu bumbunya. Dulu, cobek ini dibuat oleh seorang teman Maryam dari Magelang pada 1942.

Cobek lalu diantarkan jauh-jauh menggunakan sepeda. Nilai sejarah itulah alasan cobek tersebut terus dipertahankan. wisatawan bahkan bisa melihat langsung cobek tersebut yang sudah kelihatan mencekung karena usia pakai.

Pada perjalanannya, bisnis sempat melesu pada 1980-an karena jumlah pengunjung mulai menurun. Selepas meninggalnya Maryam, bisnis dilanjutkan oleh Hendri Soedikto, sang anak.

Untuk menaikkan kembali animo pengunjung, ia berinovasi dengan memperkenalkan menu sop buntut racikannya sendiri. Selain itu, ia berusaha meningkatkan kualitas rujak cingur buatannya dengan menggunakan petis yang lebih bagus.

Usahanya membuahkan hasil dan kini Rujak Cingur Genteng Durasim masih terus eksis. Tersedia menu biasa yang dihargai Rp 25 ribu, tapi kalau ingin merasakan menu dengan petis ekstra maka harus memesan yang spesial yang harganya Rp 45 ribu. Adapun sop buntut seharga Rp 40 ribu.

Harga yang tidak terlalu mahal, tapi mungkin tidak juga dibilang murah. Tetap saja, nyatanya kedai yang buka dari jam 11.00 hingga 17.30 tersebut masih terus ramai pengunjung. Bahkan salah satu pelanggannya adalah Wakil Presiden ke enam Indonesia, Try Sutrisno.

Selain kedai-kedai tersebut masih ada banyak pilihan lainnya yang menarik untuk anda coba, seperti misalnya Kedai Delta yang viral karena menyajikan rujak cingur dengan tambahan mi kuning.

Ada juga Kedai Joko Dolog yang kondang dengan porsi ekstra besarnya dengan harga hanya Rp 25 ribu. Atau Kedai Sedati Bu Nur Aini yang tak kalah unik dengan racikan bumbunya yang menggunakan pilihan tujuh jenis petis yang berbeda.

Cari rujak cingur porsi besar seukuran tampah untuk acara khusus? Bisa merujuk ke Rujak Cingur Cak No TVRI. Atau cari kedai yang bisa order buah dan sayurannya mentah, direbus atau keduanya? Rujak Cingur BBM pilihannya. Apapun itu, rujak cingur sudah jadi kuliner khas Surabaya yang pantang untuk dilewatkan.

Kedai-kedai Rujak Cingur Surabaya

Achmad Jais; Jl. Achmad Jais Nomor 40, Genteng, Surabaya

Genteng Durasim; Jl. Genteng Durasim Nomor 29, Genteng, Surabaya

Delta; Jl. Kayon Nomor 46D, Genteng, Surabaya

Sedati Bu Nur Aini; Jl. Raya Sedati Gede Nomor 66, Sedati, Sidoarjo

Cak No TVRI; Jl. Raya Dukuh Kupang Nomor 214, Dukuh Pakis, Surabaya

Rujak Cingur BBM; Jl. Tenggilis Timur VII Nomor 1, Mejoyo, Surabaya

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Suguhan Fusion 3 Bangsa di Ebisu Restaurant

Ebisu Mercure Surabaya RK

Suguhan fusion 3 bangsa di Ebisu Restaurant Grand Mecure Mirama Surabaya menyuguhkan hidangan Jepang dengan bumbu Korea dan Cina plus interior hangat khas Negeri Sakura. Ini merupakan alternatif kuliner saat ingin menikmati hidangan internasional selagi berada di Surabaya, Jawa Timur. Berada di dalam hotel berbintang, namun bisa dinikmati tanpa harus menginap.

Suguhan Fusion 3 Bangsa

Senja baru tenggelam. Di luar, Jalan Raya Darmo, Tegalsari, Surabaya, masih dipadati kendaraan. Menepi sejenak ke Mercure Grand Miramar—hotel bintang empat yang memiliki empat restoran—bisa menjadi pilihan untuk mengusir keroncongan perut. Apalagi ada gerai yang tergolong baru dengan sajian olahan dari Negeri Sakura. Doyan akan kehangatan udon, atau ngemil sushi, yang sekali suap ke mulut rasanya tak perlu dipikir panjang.

Berada di bagian perluasan hotel, saya langsung menangkap kehangatan khas Jepang. Tetamu akan dengan mudah mengenali resto ini karena di bagian depan dipasang mon atau gapura khas Jepang yang kerap ditemukan di sejumlah kuil. Dua tiang bulat yang menjadi penyangga dipulas dengan warna merah menyala sehingga begitu kentara. Di tengah gapura ada tulisan Ebisu yang dibikin kaligrafi mirip huruf Kanji.

Sebelum gerbang, ada pula meja bagi staf resto. Uniknya, meja dilapisi kertas dekorasi berupa koran Jepang, demikian juga dinding di dekatnya. Sementara di dinding tengah resto terpampang gambar lebar Dewa Ikan. Ternyata, Ebisu memang nama Dewa Ikan. Tak mengherankan bila di menu bertebaran nama-nama penghuni laut, meski tetap ada olahan dari daging sapi dan ayam.

Warna merah lain muncul di bagian atas dengan hiasan lampu-lampu model lampion. Selebihnya, kehangatan muncul karena penggunaan kayu-kayu dengan warna alami. Tempat duduk dibagi dalam tiga baris. Di bagian pinggir, diisi sofa warna hijau dipadu dengan kursi tunggal di depannya, sementara di bagian tengah tertata meja dan kursi panjang berbahan kayu.

Suguhan fusion 3 bangsa di Ebisu Mercure Surabaya

Belum menikmati kelezatan suguhannya, saya sudah merasakan sambutan hangat dari interiornya. Langkah saya kali ini menuju bagian ujung ruangan. Menuju meja tempat para juru masak beraksi. Ada seorang koki yang menunjukkan kepiawaian membuat sushiCalifornia maki. Aksi menggulung pun terjadi dan hasilnya terlihat begitu menggoda. Di bagian dalam antara lain ada alpukat dan kepiting, sedangkan di bagian luar bertaburan tobiko—telur ikan terbang—yang membuat tampilan sushi seharga Rp 68 ribu itu terlihat kinclong. Selain menyajikan California maki, masih ada pilihan gulungan sushi lain. Semisal ebi tempura maki yang berisi udang goreng tempura, shake maki dengan irisan ikan salem segar, dan lain-lain.

Ingin menambah kehangatan dengan menyantap hidangan berkuah panas? Pilihan bisa berupa udon atau ramen. Ada beragam udon, di antaranya seafood udon senilai Rp 158 ribu. Mi khas Jepang itu dipadu dengan beragam ikan laut, yakni udang, salem, kakap, dan kepiting. Jika ingin yang berasa daging sapi, ada niku udon dan niku sobai. Untuk ramen, pilihannya berupa shoyu ramen. Saat saya datang, ada suguhan spesial di bulan tersebut berupa cheese ramen yang gurih karena rasa keju yang kental. Dipatok seharga Rp 78 ribu, memang suguhan satu itu berbeda dari yang lain.

Masih ada menu khas Jepang lain, seperti yakiniku, tepanyaki set menu, teishoku set, dan yakimono atau hidangan panggang. Ada pula curry rice, bento, dan sejumlah hidangan kuah panas—nabemono. Namun jangan kaget bila dalam daftar menu ada yang beraroma Korea, seperti beef kimchi itame yang tak lain merupakan beef kimchie set. Ebisu Restaurant memang memilih menyuguhkan olahan fusion. Hidangan Jepang pun dipadu dengan bumbu dari Korea dan Cina.

Dewa Ikan Ebisu tanpanya memang tak mau tanggung-tanggung, segala suguhan bisa disajikan di ruang makan yang lokasinya tak jauh dari lobi hotel ini. Dari yang digoreng, kuah panas, dipanggang, sampai yang dingin. Di tengah kehangatan, sushi, ramen, dan tempura pun membuat perut penuh terisi. Jalan sedikit mulai lenggang, saatnya untuk beranjak. Peraduan sudah menunggu, terbayang tidur lelap dengan perut terisi penuh.

Ebisu Japanese Restaurant, Mercure Grand Miramar Surabaya

Rita N./R. Kesuma/Dok. TL

Resto J Sparrows, 1 untuk Penghuni Samudra

Resto J. Sparrows untuk hidangan seafood

Resto J Sparrows memunculkan aneka menu berbahan ikan laut. Mulai dari makanan pembuka hingga utama hingga main course.

Resto J Sparrows

Biasanya matahari berada tepat di atas kepala kala jarum panjang-pendek yang terpampang di jam tangan bertubrukan. Namun kali ini tidak. Langit bulan kesepuluh di Ibu Kota ibarat padang guram yang hanya menyimpan mega serta halimun. Sekali ditegur angin, titik-titik air tumpah membasahi tanah.

Di luar gedung-gedung gergasi kawasan Mega Kuningan, orang-orang kantoran bergegas mencari tempat berteduh. Padahal baru beberapa langkah menjamah jalanan. Cuaca demikian membuat pekerja gamang bepergian, apalagi sekadar untuk makan siang. Saya pun begitu. Malas basah-basahan, restoran terdekat dari tempat berjejak lantas menjadi incaran—kala itu saya sedang berada di gedung Noble House.

Kebetulan ada restoran anyar yang belum genap sebulan buka. Dari dekat, nama restoran terpampang jelas: J Sparrow’s. Sekilas mirip-mirip dengan nama tokoh bajak laut dalam film trilogi Pirates of the Caribbean. Namun, alih-alih menemukan properti para perompak kapal, yang saya temukan deretan botol wine tertata apik.

Ruangan berkapasitas lebih dari 100 orang itu tak jua terlihat seperti kapal yang dijarah. Malahan terpandang rapi, klasik, nyaman, dan asri. Kursi-kursi kayu ditata acak di tengah ruangan. Di bagian pinggir, terdapat bar membujur lurus ke counter rum—minuman beralkohol hasil fermentasi dan distilasi molase. Sedangkan di bagian pojok, sejumlah sofa abu-abu disusun berhadapan. Warna cokelat akrab menyapa sejauh mata memandang.

Saya kemudian memilih duduk di sofa agar bisa menikmati pemandangan luar. Namun tak jarang kepala menuruti hasrat untuk tur visual: menengok ke belakang, kanan-kiri, dan atas-bawah. Bila dicermati, bagian atapnya mirip bentuk langit-langit Kapel Sistina karya Michelangelo. Bedanya, tak terdapat lukisan di sini.

“Desainer interiornya Martha dan Andrew, yang juga mendesain Bluegrass Bar and Grill di Bakrie Tower Rasuna Said. Kebetulan Bluegrass dan J Sparrow’s satu manajemen,” tutur staf public relations untuk manajemen tersebut, yang kebetulan mendampingi kala itu. J Sparrow’s memang dibangun dengan konsep Eropa klasik.

Tak lama duduk di salah satu sudut restoran, bau olahan dari penghuni laut menggoda penciuman. Wanginya khas dan memantik hasrat untuk segera memesan makanan. Staf resto begitu tanggap, dan buku menu pun lantas dengan cepat mendarat di hadapan. Ternyata sajian andalan di restoran ini memang berbahan ikan laut. Ada yang berbahan dasar kepiting, cumi-cumi, udang, hingga lobster.
 

Untuk pembuka pilihan saya jatuhkan pada Tuna Tartare. Hadir dalam cetakan bulat. Dari luar tampak seperti puzzle daging tuna berwarna pink segar bercampur mangga kecil-kecil. Di lidah, rasanya amat segar. Perpaduan asam dan manis mendominasi. Bikin selera makan langsung melonjak.

Selanjutnya, giliran Frutti di Mare yang ada di depan mata. Sepintas seperti carbonara, hanya rasanya lebih datar. Pasta yang digunakan dibuat sendiri—disebut pasta signature—rasanya lebih empuk dan tidak terlalu kenyal. Tambah nikmat ketika disantap dengan daging udang yang segar.

Sajian selanjutnya yang mendarat di meja saya adalah Killpatrick. Bahan utamanya kerang dengan cangkang berkapur. Kerang itu dimasak menggunakan saus worcestershire dibubuhi daun peterseli. Yang satu ini, ada yang ditambah bacon atau daging babi asap, ada juga tanpa potongan daging yang satu itu.

Hidangan andalan cukup berlimpah. Satu lagi adalah New York Shower, yang wujudnya seperti menara tiga tingkat. Ada udang segar di atas tumpukan bongkahan-bongkahan es bercampur potongan lemon. Yang satu ini, khusus bagi penyuka hidangan laut mentah.

Setelah itu, datang Cajun Mud Crab. Menelusup daging kepiting yang bersembunyi di balik cangkang jadi kenikmatan sendiri. Asyiknya disantap beramai-ramai jadi seru. Kepiting berukuran jumbo itu dilengkapi dengan sosis ayam dan sapi. Satu lagi yang tak kalah menggoda adalah The Lobster. Daging lobster dibiarkan merekah di balik cangkang yang dibiarkan terbuka. Warnanya keemasan, sedangkan cangkangnya berona merah matang. Harumnya merayu minta segera disantap. Saya mengiris daging itu dengan pisau. Ternyata, daging di bagian dalam berwarna putih bersih. Bumbu yang pas tidak merusak rasa aslinya. Juga teksturnya.

Beragam menu yang mengenyangkan ini enaknya ditutup dengan yang manis. Royal Bermuda Yacht Club jadi pilihan yang tepat, konsepnya seperti kapal karam. Bongkahan cokelat lokal yang manis berbentuk kapal akan cair kala disiram white spicy chocolate sauce. Rasanya nano-nano, manis dan mint bercampur jadi satu. Petualangan kuliner saya kali ini pun diakhiri dengan sajian cocktail yang segar. Rum yang menjadi andalan mengalir dalam kerongkongan, menghangatkan badan dan menyelimuti dari udara yang dingin siang itu. l

J Sparrow’s

Noble House Building, Lantai Dasar

Jalan Mega Kuningan Barat, Kuningan, Jakarta

F. Rosana/Dhemas RA/Dok TL

Bakmi Jawa Pak Rebo, 1 Yang Otentik

Bakmi Jawa Pak Rebo adalah salah saru kuliner bakmi otentik khas Yogyakarta.

Bakmi Jawa Pak Rebo layak jadi pilihan pecinta kuliner yang sedang mencari santapan khas Yogyakarta. Cita rasa dan otentisitasnya tak perlu diragukan lagi, lantaran sudah teruji dan disukai warga kota pelajar tersebut sejak masa pra kemerdekaan.

Bakmi Jawa Pak Rebo

Kalau berbicara soal kuliner khas Yogyakarta, maka sudah pasti salah satu yang disebut adalah gudeg atau bakmi Jawa. Kuliner yang terakhir ini umumnya muncul di kala sore menuju malam hari dan menyajikan masakan mie dan nasi dengan kearifan lokal dan selera khas lidah orang Jawa.

Jenis masakannya pun cukup beragam. Ada mie goreng, mie godog atau rebus, mie nyemek, nasi goreng, serta magelangan, alias masakan mie dan nasi yang dicampur dan digoreng bersamaan. Dalam masakannya terdapat pelengkap seperti ayam kampung, telur bebek, dan sebagainya.

Bakmi Jawa Pak Rebo adlah pilihan ketika akan menikmati bakmi Jawa yang otentik.
Warung Bakmi Pak Rebo di Yogyakarta. Foto: istimewa

Cara memasaknya pun kebanyakan masih menggunakan anglo tua dan arang, ketimbang kompor modern. Alasannya, suhu yang digunakan untuk memasak lebih pas, serta memberikan aroma khas tersendiri setelah masakan jadi dan dihidangkan.

Yang unik, karena metode memasak itu pula, kerap kali setiap pesanan dimasak satu per satu karena wajan yang digunakan pun tidak besar. Maka terkadang menunggu pesanan tiba bisa sedikit lama, tetapi di sisi lain pengunjung bisa memesan detail pesanan secara personal.

Hal itu tak pernah menyurutkan animo warga Yogyakarta pada kuliner yang disinyalir sudah ada sejak masa pra kemerdekaan ini. Bahkan, tak jarang wisatawan yang mampir ke kota gudeg ini hanya untuk sekedar mencicipi dan menyantap sepiring hangat bakmi Jawa.

Tak sulit pula untuk mencari pedagang bakmi Jawa di kota ini, dengan segala resep dan keunikannya masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan sudah berjualan sejak sekian dekade lamanya, seperti halnya bakmi Jawa pak Rebo.

Diceritakan bahwa pak Rebo sudah berjualan bakmi Jawa sejak tahun 1940-an. Ia menjajakan dagangannya sambil memikul alat masaknya dan berkeliling kota, khususnya di sekitar jalan Brigjen Katamso, tempat warung bakmi Jawa pak Rebo sekarang berada.

Warung itu sendiri berdiri pada tahun 1960-an. Hingga kini, wujudnya tak banyak berubah. Dari luar terlihat kecil, bahkan hingga tertutupi oleh gerobak masaknya, sehingga mudah untuk terlewatkan kalau tidak hapal atau tidak melihat spanduknya.

Di spanduknya, tertuliskan “Bakmi Jawa Pak Rebo Kintelan”, karena di belakang warung tersebut merupakan sebuah kampung yang bernama Kintelan. Penanda lainnya yang memudahkan, adalah warung ini berdekatan dengan area wisata Purawisata/Mandira Baruga.

bakmi Jawa Sedang dimasak saru per satu.

Tak hanya itu, sejak dulu hingga kini mereka hanya melayani pengunjung dengan dua anglo untuk memasak, itu pun setiap pesanannya dimasak satu per satu. Sehingga jangan heran kalau sejak warung buka pukul 16.00, sudah banyak pengunjung yang mengantri menunggu pesanan.

Kendati begitu, tetap saja pengunjung silih berganti ramai berdatangan, bahkan kadang-kadang dagangan sudah terjual ludes sebelum jam tutup. Salah satu menu andalan mereka yang paling banyak dicari adalah mie nyemek.

Sejatinya, mie nyemek merupakan varian masakan bakmi Jawa yang berwujud seperti perpaduan antara mie goreng dan mie rebus. Nyemek sendiri dalam istilah bahasa Jawa kurang lebih berarti ‘agak basah’, atau tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering.

Mie nyemek dimasak sedemikian rupa sehingga hanya menyisakan sedikit kuah kental di bawahnya, sehingga mie di atasnya cenderung lebih kering. Sebuah kompromi bagi mereka yang ingin mie goreng dengan sedikit kuah, atau yang ingin mie rebus dengan kuah dikurangi.

Satu hal yang cukup unik di bakmi Jawa pak Rebo adalah beragam opsi yang bisa dipilih mengenai bagaimana mie dimasak. Opsi pertama yang bisa dipilih adalah untuk menggunakan atau tidak menggunakan kecap.

Umumnya, bakmi Jawa dimasak menggunakan kecap untuk memadukan rasa manis dengan rasa gurih racikan bumbunya. Tetapi, di warung ini ada opsi mie yang dimasak tanpa kecap dan hanya mengandalkan rasa gurih dari kaldu dan telur bebeknya.

Ini sedikit berbeda dari kebanyakan bakmi Jawa yang lebih umum dengan lidah warga Yogyakarta yang menyenangi penganan bercita rasa manis. Tetapi, keunikan ini justru membuatnya punya banyak pelanggan tersendiri.

Bakmi Jawa Goreng shutterstock
Bakmi Jawa Goreng. Foto: shutterstock

Cita rasa gurih tersebut berpadu apik dengan pelengkap seperti suwiran ayam kampung, sayur sawi dan bawang goreng. Pengunjung juga dapat menambahkan ekstra bawang goreng dan acar untuk menambah sedap rasa.

Opsi lainnya yang bisa diambil adalah memesan mie goreng, rebus atau nyemek spesial. Di pilihan ini, pengunjung dapat memilih tambahan suwiran ayam yang akan ditambahkan ke dalam masakan, seperti paha, dada, sayap, kepala, ati, ampela, brutu dan uritan.

Sepiring porsi bakmi Jawa pak Rebo dihargai Rp 22 ribu, sedangkan untuk yang spesial dengan tambahan potongan ayam dibandrol Rp 29 ribu. Sebagai catatan, pengunjung juga bisa memilih ingin menggunakan mie atau bihun dengan harga yang sama.

Beberapa pilihan minuman di sini juga cukup menarik. Selain teh, jeruk, tape dan secang panas atau dingin seharga Rp 4 ribu hingga Rp 6 ribu, tersedia beragam wedang hangat seperti wedang sere, wedang jahe, dan wedang uwuh dengan kisaran harga Rp 6 ribu sampai 8 ribu.

Bakmi Jawa pak Rebo buka setiap hari dari jam 16.00 hingga jam 22.00. Namun seperti disebutkan di atas, karena warung hampir selalu ramai oleh pengunjung, maka untuk menghindari kehabisan sebaiknya datang lebih awal dari jam makan malam.

Bakmi Jawa Pak Rebo

Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta

agedandaIndonesia/audha alief praditra

*****

Resto Da Maria, 1 Sentuhan Naples di Seminyak

Resto Da Maria andi prasetyo

Resto Da Maria menawarkan sejumlah menu Italia. Kesan Osteria menonjol pada ruangan dan menu diolah dengan cara tradisional Italia.

Resto Da Maria

Pesan pendek Joseph Oliver mendarat di ponsel ketika mobil kami terjebak di antrean kemacetan Jalan Raya Seminyak, Bali. “Sudah sampai mana?” tuturnya dalam pesan itu. “Tak usah dibalas dulu, kita sebentar lagi sampai. Lokasi restorannya cuma di muka jalan ini,” ujar Priyo, pria Jawa tulen yang kini berdomisili di Bali, kala mengantar kami menuju Da Maria.

Sekitar 15 menit seusai pesan Joseph terbaca, mobil berpelat DK itu memasuki halaman kecil sebuah gedung bergaya minimalis. Tembok pagarnya dipenuhi tumbuhan merambat. Di ujung kanan dan kiri gedung, terdapat ayunan besi, mirip yang umumnya ditemukan di resor mewah.

Sejurus kemudian, pramusaji membawa kami ke bagian dalam restoran yang sangat luas, bisa menampung lebih dari 200 orang. Kesan Osteria langsung menyapa pandangan. Reinterpretasi kontemporer keramahan Italia klasik menjadi kekuatan yang ditonjolkan. Interior bergaya Eropa modern, mulai besi autentik di kursi, meja yang memberi sentuhan klasik-elegan, hingga penataan sendok-garpu-piring-pisau yang mengesankan konsep formal dinning, dikonsep begitu rapi dalam komposisi dan tatanan yang pas.

Ruangan ini dibagi menjadi dua bagian, yakni dalam dan luar. Di bagian dalam, restoran menyajikan kesan cukup formal—tempat orang-orang bersantap dengan momen yang cukup serius. Sedangkan di luar, orang bisa mengobrol lebih santai. Kursi dan mejanya dibuat berbentuk seperti ayunan.

Di tengah ruang—tempat yang membelah bar, sisi luar dan dalam, ditempatkan air mancur mini. Bila diingat, tatanannya mirip dengan konsep ruang dansa di kastil milik Pangeran Irakus dalam kartun Cinderella. Air mancur ini sederhana, namun klasik. Inspirasinya datang dari biara Santa Chiara di Naples. Tujuannya memberikan ketenangan kala orang tengah bersantap. Di samping air mancur bergaya Romawi itu, Joseph Olive duduk menunggu. Tangannya melambai.

“Naik mobil di Bali memang kurang asyik sekarang. Pasti kena macet di jalanan,” tutur public relations itu membuka perbincangan. Tak banyak basa-basi, pria oriental ini lantas menyodorkan buku menu. Tak hanya bangunan yang bergaya Italia, menu pun begitu. Maurice Terzini dan Adrian Reed, si pemilik Da Maria, juga pesohor di bidang kuliner internasional, terinspirasi gaya restoran Maurice Terzini yang berlokasi di Australia ketika membangun usaha kulinernya di Bali. Karena itu, menu utamanya adalah pizza.

Berlainan dengan pizza Amerika, yang punya daging tebal, pizza di sini dimasak lebih tipis. Cara memanggangnya masih tradisional, menggunakan oven kuno. Tak cuma itu, resepnya khusus memakai komplemen tradisional yang kerap digunakan masyarakat yang tinggal di jantung Laut Mediterania tersebut.

Selain itu, secara alami, pizza difermentasi selama 24 jam. Cara ini terinspirasi gaya memasak Neapolitan yang memanfaatkan oven lava lokal. Ada macam-macam pizza dengan taburan yang berbeda. Semisal, Antica Margherita, berisi fior di latte, basil, dan parmesan. Ada pula Marinara berisi black olive, white anchovy, oregano, juga garlic. Selanjutnya, Capricciosa berisi fior di latte, mushroom, artichoke, dan olive. Yang paling spesial, yakni Gamberetto berisi prawn, zucchini, fior di latte, juga chilli; Salami berisi salami, fior di latte, dan artichoke; serta Da Maria berisi goats cheese, roasted peppers, fior di latte, juga pinenuts. Pizza dibanderol antara Rp 90-150 ribu.

Ada pizza, tentu ada pula pasta. Kala itu, yang direkomendasikan Joseph adalah primi  ber-topping tonnarelli al nero, clams, spicy sausage, dan parsley. Pasta berbentuk spageti ini dimasak dengan gaya aglio olio. Kental dengan kekhasan Italia, spageti diolah dengan bumbu sederhana yang mengandalkan bawang putih dan minyak. Rasanya plain, ringan, juga pedas lantaran dibubuhi cabai kering. Cita rasa semacam ini cocok buat lidah orang Eropa. Primi dibanderol mulai Rp 100-160 ribu per porsi. Ukurannya tak terlalu besar. Hanya bisa disantap satu sampai dua orang. Berbeda dengan pizza yang bisa dikudap empat hingga enam orang.

Tak cukup dengan olahan gandum, pramusaji mendaratkan sepiring la panarda. Orang Indonesia menyebutnya sate. Daging yang digunakan adalah daging domba muda yang masih empuk, segar, dan merah. Orang-orang Italia menyajikan makanan ini umumnya saat menggelar upacara tradisional. Mereka menamainya dengan perayaan mengudap makanan terpanjang sedunia.

Domba itu dipanggang sampai masak, namun tetap tak menghilangkan tekstur dagingnya. Aroma amisnya hilang lantaran dibubuhi rosemary salt dan lemon segar. Sepiring la panarda berisi 10 tusuk daging. Cukup disantap dua hingga tiga orang.

Sembari memburu makanan bergaya Eropa, mata disegarkan dengan desain klasik arsitek Romawi—Lazarini Pickering—yang menyoroti keragaman makanan, anggur, musik, mode, dan seni yang padu. Gemerencing bunyi gelas sparkling wine dengan bowl tinggi dan ramping, bertubrukan dengan botol anggur, turut menjadi pelengkap yang membawa pengunjung serasa bersantap di daratan Eropa. Tawa renyah mayoritas tamu berkulit putih dan bermata biru membuat kami lupa kalau siang itu tengah berada di jantung Dewata, bukan di pesisir Amalfi, Italia. l

Da Maria

Jalan Petitenget Nomor 170, Kerobokan Kelod, Kuta Utara

Denpasar, Bali

Operasional

Buka pukul 12.00–02.00

F. Rosana/Andi P./Dok. TL

Gerai Teguk 1 Di New York City Dibuka

Gerai Teguk 1 di New York City resmi dibuka. Foto: Dok Teguk.

Gerai Teguk 1 resmi dibuka di New York City, Amerika Serikat, Sabtu 17 September 2022. Informasi soal gerai pertama di Amerika Serikat ini sudah pernah disampaikan CEO Teguk Indonesia Maulana Hakim pertengahan Agustus lalu di Jakarta. Kini rencana itu terealisasikan.

Gerai Teguk

Teguk, perusahaan minuman kekinian dengan, membuka gerai di New York, Amerika Serikat. Sebagai bagian dari ide “Teguk akan goes to New York”. “Gerainya sudah ada, di sentral kota New York, tidak jauh dari Time Square,” kata Maulana secara virtual sebagaimana dikutip Kompas.com, Kamis 18 Agustus 2022.

Gerai Teguk pertama di New York City sekaligus di Amerika Serikat ini berada di Mott Street di seputaran kawasan Manhattan. Sebuah jalan yang tak terlalu besar namun sangat sibuk. Masyarakat New York sering menyebutnya “jalan utama” Chinatown kota tersebut.

Gerai Teguk 1 di New York City memberikan pengalaman kuliner ala anak muda Indonesia di dunia.
Layanan Konsumen di Gerai Teguk New York. Foto: Dok. Teguk Indonesia

Saat pembukaan, Gerai Teguk pertama ini melakukan promo dengan free trial atau cicip gratis minuman boba kreasi mereka. Dari video yang diperoleh, terlihat anak-anak muda New York yang cukup surprise dengan tawaran cicip gratis ini. Mereka terlihat menikmatinya. Saat pembukaan, gerai Teguk ini juga mendapat kunjungan Amanda dan Sandi, staf desk ekonomi Konsulat Jendral Republik Indonesia di New York.
Soal Teguk, Maulana mengatakan, upaya dan kerja keras yang dilakukan timnya dari awal mula bisnis minuman Teguk pada 2018. Hingga kini akhirnya Teguk bisa mulai ekspansi ke luar negeri.

Gerai Teguk pertama di New York City, Amerika Serikut, membuka jalan produk ini go internasional.
Kunjungan Staf Deks Ekonomi KJRI New York. Foto: Dok. Teguk Indonesia

Ia menceritakan, awalnya Teguk merupakan gerai penjual thai tea. Ia mengatakan dasar pendirian produknya berawal dari perilaku masyarakat yang terbiasa membeli minuman dalam kemasan. Dia bilang banyak orang pada saat itu juga sudah membeli minuman dalam kemasan cup untuk dibawa ke rapat, belajar, dan berbagai acara lainnya. Namun kala itu, kebanyakan produk minuman kemasan cup berharga mahal
Adalah Najib Wahab Mauluddin, seorang pengusaha muda di banyak sektor bisnis, mulai dari Energy, Infrastruktur, Logistik, alat berat, hingga F&B. Ia kemudian bersama-sama Maulana Hakim, yang kemudian bertindak selaku CEO Teguk Indonesia, merancang bisnis minuman kekinian tersebut.

Ke dua sosok inilah yang menjadi pelopor dan membuat Teguk menjadi besar. Bisnisnya sendiri berawal saat merebaknya fenomena minuman boba kekinian di Indonesia. Terutama bagi kalangan muda, mulai dari millennial hingga generasi Z. Dari masyarakat kelas bawah hingga kelas atas.

“Ini berawal dari keinginan saya agar masyarakat di kelas bawah juga bisa merasakan minuman mewah tetapi tidak perlu mahal. Dari situ saya ciptakan Teguk,” kata Najib dalam siaran persnya di Jakarta, 23 Agustus lalu.

Dengan tren tersebut, Teguk hadir dengan membidik masyarakat menengah ke bawah. Di sisi lain, tingkat belanja konsumen menengah ke bawah saat itu juga sedang tinggi, sehingga membuka kesempatan bagi Teguk mengoptimalkan potensi pasar.

Saat itu, pasar didominasi dengan tren minuman cup dari luar negeri dengan harga yang cukup tinggi, baik kopi maupun non kopi. Di sisi lain, untuk usia 18-25 sudah memiliki kemampuan yang konsumtif, dan itu menjadi dasar Teguk berkembang. “Teguk saat itu mengeluarkan produk teh yang terjangkau dengan value yang lebih tinggi,” ujar dia.

Gerai Teguk awalnya hadir dengan produk Thai Tea seharga Rp 5 ribu dengan konsep open kitchen sehingga pembeli bisa melihat bahan baku pembuatan produk. Mulai dari produk teh impor dan diramu dengan bahan-bahan lainnya.
Pertumbuhan penjualan yang terus meningkat mendorong Maulana untuk melakukan inovasi. Ia mulai mencoba menjual minuman jenis kopi dan coklat. Tak hanya itu, ia juga menambahkan makanan seperti roti untuk turut dijual di gerai Teguk.

“Keberhasilan itu merambat ke kategori lain, ada kopi, coklat dan lain-lain. Konsepnya, bahan baku kita tidak kalah dengan yang premium, tapi dengan harga yang terjangkau. Kita juga menjual makanan yang unik dan khas, seperti odading misalnya,” kata dia.

Sepanjang setahun mengembangkan bisnis, Teguk masih menggunakan sistem pemasaran konvensional. Dia percaya, jika pelanggan menikmati dan suka dengan produknya, akan secara langsung akan membuat kostumer kembali lagi untuk membeli
Namun di tengah era digital yang tumbuh pesat, penjualan secara online juga tidak kalah diminati oleh pelanggan mereka. Pada 2019, mereka melebarkan kanal penjualan online.

Awalnya konsumen Teguk hanya sekitar 25 ribu orang, sehingga dirasakan untuk berkembang perlu adanya transformasi. Maulana mengakui, mereka termasuk yang agak telat masuk ke kategori online atau gofood ini.

Pada 2019 mereka coba-coba dengan penjualan online dan hasilnya cukup mengejutkan. “Basis penjualan kami naik signifikan. Ternyata online ini bisa membeli lebih banyak dari rumah,” ungkapnya sambal bercerita Teguk yang semakin membesar.

Angkanya lebih dari 200 persen dibanding penjualan 2019 lalu.

“Penjualan kita di online cukup bagus dan kontribusinya cukup besar, sehingga kami merasa langkah selanjutnya adalah go international,” kata Maulana.

agenda Indonesia

*****

Nasi Gandul Pati, Ada Yang Sejak 1955

Nasi Gandul Pati adalah makanan khas Pati.

Nasi gandul Pati mungkin tak sepopular sejumlah masakan berkuah di sepanjang pantai utara Jawa Tengah seperti soto, nasi pindang atau garang asem. Padahal dari segi rasa, masakan ini tak kalah kelezatannya.

Nasi Gandul Pati

Pati sendiri merupakan salah satu kabupaten di jalur pantai utara pulau Jawa di wilayah Jawa Tengah. Ada banyak kuliner khas Pati yang layak untuk dicicipi, salah satunya nasi gandul. Makanan satu ini berupa nasi dengan empal daging berkuah, kemudian disajikan beralaskan daun pisang. Enak banget disantap saat masih hangat.

Nasi gandul Pati menjadi salah satu makanan khas Jawa Tengah. Makanan ini terdiri dari nasi yang dimasak dengan cara yang khas dan disajikan dengan kuah yang gurih dan beraroma khas.

Disajikan dengan menggunakan daun pisang supaya nasi tetap hangat dan lezat. Ciri khas lainnya yaitu penjual yang tetap meletakkan dagangannya di pikulan. Sebab, dahulu para penjual nasi gandul menjajakan dagangan dengan berkeliling dan menggunakan pikulan.

Nasi Gandul Pati disajikan dengan kuah dan daging.
Nasi Gandul juga ada yang menggunakan jerohan. Foto: Dok. jatenggov.go.id

Sejarah dari nasi gandul Pati tidak terdokumentasikan secara resmi, tetapi diperkirakan makanan ini telah ada sejak zaman kerajaan di Jawa Tengah. Nama “gandul” berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang berarti “menggantung” atau “tidak menapak”.

Dari cerita mulut ke mulut, istilah gandul tersebut mengacu pada dua pengertian. Pertama pada tekstur nasi yang sedikit kering dan diletakkan pada daun bukan langsung di piring. Sementara pengertian ke dua mengacu kepada istilah “gandul” yang dalam bahasa Jawa berarti “menggantung”.

Tapi bukan nasinya yang disajikan menggantung, melainkan cara berjualannya. Jadi, konon dulu penjual nasi gandul Pati menjajakan dagangannya dengan digantung pada pikulan. Dari situlah kemudian muncul nama “nasi gandul”.

Nasi gandul Pati terbuat dari beras yang dicuci bersih dan dimasak dengan air yang diberi sedikit minyak goreng dan garam. Setelah nasi matang, nasi diaduk secara perlahan hingga terlihat kering dan terpisah satu sama lain.

Kuah gandul yang khas terbuat dari daging sapi atau ayam yang dimasak dengan rempah-rempah seperti jahe, lengkuas, dan kacang merah. Setelah matang, kuah ini dihaluskan dan dicampur dengan santan, kemudian disajikan dengan nasi dan ditambahkan irisan daun bawang dan kerupuk udang.

Beberapa istimewa dari nasi gandul Pati antara lain tekstur nasi yang kering dan tidak lengket membuat nasi gandul ini berbeda dengan nasi pada umumnya. Kuah gandul yang khas memiliki rasa yang gurih dan kaya rempah. Sajian ini biasanya disajikan dengan kerupuk udang yang renyah, menambahkan rasa dan tekstur yang berbeda.

Nasi gandul Pati sering dianggap sebagai makanan yang sarat nutrisi karena mengandung banyak protein dari daging dan kacang merah serta karbohidrat dari nasi.

Nasi Gandul Pak Meled Kemendikbud
Nasi Gandul Pak Meled. Foto: Dok kemendikbud.go.id


Di Pati terdapat beberapa restoran dan warung yang terkenal dengan nasi gandulnya, di antaranya:

Nasi Gandul Pak Meled – terletak di Jalan Krajan Gajah Mati, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini menjadi salah satu yang paling terkenal di Pati dan sudah berjualan sejak 1955. Harganya cukup terjangkau dan rasanya dijamin enak.

Nasi Gandul Romantis – terletak di Jalan Panunggulan, Krajan Gajah Mati, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini juga dikenal sebagai tempat yang menyajikan nasi gandul yang lezat dengan harga yang terjangkau.

Nasi Gandul Khas Pati – terletak di Jalan Kiai Saleh, Kaborongan, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini menyajikan nasi gandul dengan bumbu yang kaya rempah dan daging sapi yang empuk.

Nasi Gandul Warsimin – terletak di Jalan Roro Mendut, Semampir, Kecamatan Pati, Pati. Warung ini terkenal dengan nasi gandulnya yang nikmat dan disajikan dengan sambal khas.

Setiap warung memiliki ciri khas dan rasa yang berbeda-beda, sehingga Anda bisa mencoba beberapa warung untuk mencari nasi gandul yang paling Anda sukai.

Di Indonesia, terdapat beberapa masakan yang memiliki kemiripan dengan nasi gandul dari Pati, Jawa Tengah. Sepintas jika diperhatikan nasi rawon, nasi gandul, dan nasi pindang memiliki kesamaan.

Rawon Surabaya terkenal dengan sebutan black soup. Foto: dok. liputa6

Ke tiga kuliner tanah Jawa ini berkuah kehitaman dengan rasa rempah yang gurih. Baik rawon khas Surabaya, nasi pindang khas Kudus, dan nasi gandul khas Pati sama-sama memiliki kuah hitam encer akibat kluwak, dengan potongan daging sapi dan penyajiannya disatukan dengan nasi.
Namun jika diteliti lebih dalam, ke tiganya memiliki ciri khas dari daerahnya masing-masing. Seperti nasi pindang Kudus yang menggunakan daun melinjo muda sebagai pendamping kuahnya. Sedangkan rawon menggunakan sayur tauge untuk pendamping kuahnya. Beda nasi pindang, nasi gandul sama rawon itu di santan sama daun melinjonya.


Meskipun memiliki kemiripan dalam bahan dan cara penyajian, tetapi setiap masakan khas daerah memiliki ciri khas dan bumbu yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan rasa dan aroma yang berbeda pula.

agendaIndonesia

*****

Sate Ponorogo Tukri Sobikun, Manis 70 Tahun

Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun salah satu kuliner khas Ponorogo.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun disinyalir merupakan salah satu pelopor kepopuleran kuliner sate ayam di kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ini. Lewat resep yang sudah diramu sejak sekitar 70 tahun lalu, mereka telah menahun jadi standar cita rasa sate ayam khas kota reog itu.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun

Bagi yang mengaku penggemar kuliner sate, tentu sudah pernah mendengar tentang nikmatnya sate Ponorogo. Maklum, sate ayam Ponorogo punya beberapa karakteristik yang membuatnya punya cita rasa unik dibanding sate-sate di segala penjuru nusantara lainnya.Salah satu keunikan sate ayam khas Ponorogo dapat dilihat dari cara penyajiannya.

Kalau sate kebanyakan dibuat dengan memotong daging ayam pada bentuk dan ukuran yang padat dan tebal, sate Ponorogo dibuat dengan mengiris daging ayam hingga cenderung berbentuk pipih.Dari penggunaan teknik ini, kemudian didapatkan irisan daging ayam yang lebih bebas dari lemak.

Sate Ponorogo Tukri Sobikun adalah salah satu ikon kulner kota Ponorogo.
Tumpukan sate ayam Ponorogo Tukri Sobikun sedang dibakar. Foto: IG

Sebelum dibakar, irisan daging ini direndam terlebih dulu ke dalam bumbu, agar rasa dari bumbu tersebut dapat meresap lebih baik ke dalam daging.Bumbu ini, yang biasa disebut sebagai bumbu bacem, terbuat dari rempah-rempah seperti ketumbar, merica, laos, kunyit, kemiri, jahe, dan gula Jawa. Rempah-rempah tersebut diolah menjadi bumbu dengan cara diulek dan direbus, hingga berwujud bumbu cair.

Setelah itu, barulah irisan daging tersebut dipasangkan dengan masing-masing tusuknya dan kemudian dapat mulai dibakar, selama sekitar tiga sampai lima menit. Selama proses pembakaran, sate kembali diolesi dengan bumbu untuk menambah kuat rasa.Keunikan lainnya ada ketika sate telah disajikan. Umumnya, sate ayam Ponorogo bisa dimakan dengan tambahan bumbu kacang tanah yang kental, namun sejatinya bila sate dimakan tanpa bumbu pun dagingnya sudah terasa nikmat berkat bumbunya yang meresap.

Ketika dipadu dengan bumbu kacangnya, maka sensasi rasa manis dan pedas dari bumbu plus gurih dan empuknya daging sate membuatnya begitu mengundang selera. Keunikan tersebut membuatnya menjadi varian sate di Indonesia yang punya banyak penggemar.

Di Ponorogo sendiri, kehadiran resep sate ayam tersebut konon sudah muncul sejak era abad ke-15. Sate ini disebut menjadi salah satu penganan favorit para warok, alias tokoh-tokoh figur publik yang terkait dengan politik, sosial, seni dan budaya pada tatanan masyarakat kala itu.

Bertahun dan berabad setelahnya, resep sate ini terus dilestarikan dan menjadi salah satu penganan yang lazim dijajakan untuk masyarakat umum. Mayoritas pedagang sate saat itu banyak yang berjualan sambil berkeliling memikul sate dagangannya, beserta alat memasaknya.Salah satu pedagang sate keliling tersebut adalah H. Tukri Sobikun, yang sudah merintis usahanya sejak sekitar tahun 1950-an. Seiring berjalan waktu, sate racikannya mulai meraih reputasi sebagai salah satu sate ayam terenak di Ponorogo.

Warung Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun IG
Kedai Sate Ayam Ponorogo H. Tukri Sobikun. Foto: IG

Setelah meraih cukup banyak pelanggan, ia lantas menetap di area trotoar jalan Ahmad Yani pada 1970-an. Dari situ, popularitas sate buatannya terus meningkat, tak hanya dari kalangan warga Ponorogo tetapi juga pelancong dari luar kota.

Maka pada tahun 1995 ia membuka kedai kecil berukuran empat meter persegi di area garasi rumahnya sendiri di jalan Lawu. Pada lokasi inilah kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun hingga kini berjualan, dengan usaha saat ini sudah dijalankan oleh generasi ketiga.

Yang unik, area jalan Lawu ini sekarang juga kerap dikenal sebagai “gang sate”, lantaran di area tersebut juga terdapat berbagai kedai sate ayam Ponorogo lainnya. Bahkan ada yang menyebut bahwa gang ini merupakan salah satu sentra penjual sate terbesar di Indonesia.Usut punya usut, banyak warga di sekitar jalan tersebut juga sudah lama menyambung hidup dengan berjualan sate. Seperti halnya H. Tukri Sobikun, beberapa di antaranya juga pernah menjajakan satenya sambil berjalan keliling kota.

Sejak kemunculan kedai sate Ponorogo H. Tukri Sobikun di area tersebut, beberapa pedagang sate mulai ikut-ikutan mendirikan kedai sate serupa. Sehingga area jalan tersebut mulai akrab dengan sebutan “gang sate”.

Namun, bisa dikatakan kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun merupakan salah satu yang tertua, serta yang paling populer dan turut menaikkan pamor sate ayam Ponorogo. Sate buatan mereka juga disebut-sebut punya keunggulan tersendiri dibanding sate ayam Ponorogo lainnya.

Cara mereka meracik sate memang cukup spesifik dan terus dijaga hingga saat ini, demi menjaga cita rasa asli. Semisal dari bagaimana daging yang sudah dibumbui kemudian diasapi terlebih dulu sebelum bisa dibakar, agar kadar lemak di dalam daging dapat ternetralisir.

Mereka juga masih menggunakan tungku pemanggang dari semen yang sama sejak dulu. Ketika ada bagian yang rusak pun, pasti akan sebisa mungkin diperbaiki. Mereka percaya bahwa penggunaan tungku ini turut memberikan cita rasa tersendiri pada sate.

Bahkan arang yang digunakan spesifik menggunakan arang dari pohon asam. Arang dari pohon asam disebut memiliki daya panas yang lebih tahan lama. Ini dipadu dengan penggunaan tungku tersebut, agar cita rasa gurih yang diinginkan tercapai dan tidak menjadi terlalu asin.

Selain itu, cara pembakarannya pun sedikit rumit, karena sate dibakar berulang kali sambil diolesi bumbu, dengan tingkat kematangan yang terukur. Ini dilakukan agar rasa bumbu dapat betul-betul meresap, sekaligus menghilangkan aroma amis dari daging.

Mungkin karena tingkat kesulitan itu pula, harga jualnya mencapai Rp 37 ribu per porsi, dengan pasangan nasi atau lontong. Tidak terlalu murah, terlebih harga naik saat hari libur. Tetapi menimbang rasa yang unik dan nikmat, tak mengherankan bila kedai ini terus ramai dikunjungi.

Sate Ponorogo H. Tukri Sobikun untuk Oleh oleh IG
Sate Ayam Ponorogo H. Tukri Sobikun menyediakan paket untuk oleh-oleh. Foto: IG

Dari yang dulu awalnya hanya menghabiskan sekitar lima sampai sepuluh potong ayam, kini kedai sate Ponorogo Tukri Sobikun bisa menghabiskan seratus potong ayam untuk memenuhi permintaan sehari-hari. Angka ini bisa meningkat kala akhir pekan atau hari libur.

Pelanggannya pun tak sembarangan. Tercatat, presiden Joko Widodo dan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi sosok figur publik yang turut menggemari sate mereka. Konon, sate buatan mereka pernah beberapa kali dipesan untuk Istana Negara.

Yang cukup unik, mereka kini juga melayani penjualan sate untuk dibungkus dalam besek sebagai oleh-oleh, dengan bumbu mentahan layaknya bumbu lekas jadi untuk gado-gado dan sejenisnya. Sate yang sudah dibakar dan matang diklaim mampu bertahan hingga satu pekan.

Dan satu hal yang menarik pula, sate Ponorogo Tukri Sobikun sehari-harinya buka dari jam 06.00 sampai jam 20.00. Ternyata, mereka sudah bersiap-siap untuk berjualan sejak subuh dan buka dari jam 06.00, lantaran banyak pelanggan yang datang sejak pagi untuk sarapan sate. 

Sate Ponorogo Tukri Sobikun

Jl. Lawu no. 43K, Gang Sate, Ponorogo

Instagram: sateayamtukrisobikun 

agendaIndonesia/audha alief praditra 

*****

Café Two Stories Bogor , 1 Dinding Mengabadikan Cerita

Cafe Two Stories Bogor Menu

Café Two Stories Bogor belum lama hadir di kota hujan ini. Baru sekitar dua tahun. Namun ia layak dijadikan pilihan menuliskan kisah Anda.

Cafe Two Stories Bogor

Sore menuju petang di kota hujan, Bogor, lampu-lampu mulai berpendar. Jalanan tak ubahnya sebuah etalase manusia yang lalu-lalang dengan kendarannya. Deru klakson tak henti menghantam kuping, membuat pendengaran kebal kebisingan.

Kala itu, awal tahun ini, Bogor tampak padat aktivitas. Setelah hampir menyerah menyusuri Jalan Raya Pajajaran, kendaraan saya membelok ke sebuah gang besar menuju suatu kompleks. Suasananya ramai, tapi tak padat. Belum jauh berkendara, di tepi kanan, tampak sebuah bangunan asimetris yang unik.

Gedung itu penuh unsur kotak-kotak, seperti lego raksasa yang ditumpuk tak beraturan. Di temboknya terpampang susunan batako yang rapi. Di tengahnya ada lingkaran kecil bertuliskan Two Stories Café & Lounge. Tampaknya bangunan ini adalah kedai kekinian, tempat muda-mudi nongkrong.

Saya memarkir kendaraan di lahan yang cukup luas, lantas memasuki bangunan kafe yang lebih mirip fine dining restaurant. Ada dua bagian lantai di dalamnya. Lantai pertama yang saya singgahi mula-mula menawarkan konsep lawas.

Ada kesan rustic dan industrial yang berbaur menjadi satu. Di hampir semua sisi, tampak meja dan kursi yang terbuat dari kayu. Cat warna cokelat natural dipoleskan pada interior. Rona ini langsung memunculkan kesan natural.

Adapun temboknya dibiarkan polos tanpa cat dan dihiasi macam-macam karikatur karakter kelinci. Tampak seperti lukisan tinta hitam yang digambar oleh anak-anak, kemudian dialihwahanakan dari kertas menuju dinding. Lantainya tak kalah artistik. Tampak tegel kunci tempo dulu yang sarat motif bunga-bunga. Tegel ini seperti yang pernah saya jumpai di rumah-rumah milik bangsawan di keraton.

Di beberapa bagian, terlihat rak-rak tua dibiarkan menyekat meja demi meja, menciptakan kesan pemisah. Pada rak tersebut dipajang sejumlah hiasan botol-botol kaca atau tanaman rambat. Bagi yang awam desain interior, penataan ini tampak sangat estetis.

Lantai satu banyak dipilih tamu yang membawa serta keluarganya untuk makan malam. Penampakan ini tentunya meruntuhkan hipotesis awal saya yang menyebut bahwa Two Stories Café & Lounge adalah tempat nongkrongnya muda-mudi.

Saya lantas beranjak ke lantai dua. Bangunan di lantai dua jauh berbeda dengan ruangan yang saya masuki sebelumnya. Ada kesan lebih muda. Tatanannya eye catching. Kursi-kursinya pun beragam, ada yang berbentuk rotan, ada pula kursi kayu yang dicat warna-warni.

Ruangan lantai dua terpisah atas dua bagian, yakni dalam dan luar ruangan. Di bagian dalam, ruangan bak terbungkus dinding-dinding kaca. Namun tamu di dalamnya bisa melihat suasana luar.

Cafe Two Stories


Sementara di bagian luar, tertampil sebuah lanskap lokasi nongkrong yang seru, fancy, dan asyik. Apalagi ada tulisan yang sangat ikonis, yakni “TELL YOUR STORY”. Tulisan itu terdapat di tembok yang terbuat dari batu bata. Dinding ini konon menjadi lokasi favorit para pengunjung untuk berfoto lantaran sangat Instagenic.

Lukisan TELL YOUR STORY seakan mengajak pengunjung untuk mengungkapkan apa saja yang ingin diceritakannya kepada kawan-kawan nongkrongnya. Dinding ini membingkai suasana menjadi hangat dan akrab.

Usut punya usut, kafe ini dirancang oleh Robert Wanasida dari Gagareska Urban Arsitektura. Ia menerapkan dua gaya desain yang berbeda di tiap lantainya. Lantai bawah yang non-smoking tentu berbeda dengan lantai atas.Peruntukannya pun berlainan. Lantai bawah untuk keluarga, sedangkan lantai atas untuk muda-mudi.

Soal menu, kafe ini menyediakan pilihan yang cukup beragam. Mulai makanan ala western sampai Asia. Sebagai menu pembuka, misalnya, tersedia pilihan salad dan sup. Ada salad sayur dan buah yang harganya berkisar Rp 25 ribu per porsi. Ada pula sup ayam dan jamur yang dibanderol Rp 20-30 ribuan.

Untuk makanan utama, jika datang beramai-ramai, memilih pizza rasanya tepat. Terdapat pilihan pepperoni pizza sampai pizza khusus vegetarian dengan harga Rp 40-80 ribuan. Sedangkan untuk menu Asian, Anda dapat memilih berbagai macam masakan udon dan nasi goreng ala Jepang yang dibanderol Rp 40 ribuan.

Kalau emoh bergelut dengan menu-menu luar, Anda bisa memilih makanan Nusantara. Terdapat pilihan sop iga hingga nasi goreng kampung yang berkisar Rp 40-80 ribuan. Sementara itu untuk minuman, Anda bisa memilih beragam olahan teh, kopi, cokelat, atau bir.Harganya pun masuk di kantong, tak lebih dari Rp 50 ribu.

Two Stories Café and Lounge; Jalan Pajajaran Indah 5 Nomor 7, Bogor Timur, Bogor

Buka setiap hari pukul 10.00-23.00