Café Dangdut New York, 1 Citra Indonesia

cafe dagdut new york memperkenalkan kuliner dan budaya Indonesia di New York. Foto: KJRI New York

Café Dangdut New York, nama ini rasanya langsung ‘menonjok’ rasa ingin tahu yang mendengarnya. Apa yang dijual di sini: kopi atau musik dangdut?

Cafe Dangdut New York

Nama Café Dangdut terdengar sangat Indonesia. Itulah alasan Fitri Carlina, seorang penyanyi yang besar melalui musik dangdut di Indonesia, bersama dua rekannya, Dina Fatimah dan Romy Sembiring, mendirikan Café Dangdut di Long Island City, New York, Amerika Serikat. Bersama Dina, atau yang dikenal dengan panggilan Eski, Fitri melihat bahwa budaya Indonesia sangat layak dan potensial untuk diperkenalkan di Amerika Serikat.

“Ide mendirikan Café Dangdut New York muncul sekitar awal Maret 2021. Saat itu, kebetulan saya juga tampil di acara Super Bowl Week,” kata Fitri. Menurutnya, istilah ‘dangdut’ mulai dikenal di negeri Abang Sam itu. 

Cafe Daangdut New York tidak saja memperkenalkan kulinari Indonesia, tapi juga budaya pop melalui musik dangdut.
Kopi adalah salah satu budaya masyarakat Amerika. Foto: Dok. shutterstock

Lalu, terpikir untuk membuat coffee shop bernuansa dangdut di New York bersama Eski yang juga terlibat dalam acara Super Bowl Week. Dalam waktu sebulan, mereka memikirkan ide, logo, dan menyiapkan coffee truck. Akhirnya pada September 2021, Café Dangdut soft launching. “Saat itu kami masih menggunakan coffee truck dan booth,” kata Fitri.

Kebetulan pula ketika itu ada acara Indopop Movement, sebuah organisasi atau yayasan yang bertujuan untuk membantu dan mendukung potensi Indonesia, baik kuliner, fesyen, budaya, di Amerika, khususnya New York. Momentum ini dimanfaatkan oleh Fitri dan Eski untuk mempromosikan Café Dangdut di depan Time Square.

Akhirnya, setelah berjalan beberapa bulan dengan mengikuti bazar dan festival di sana-sini, ke duanya memutuskan untuk membuka Café Dangdut secara permanen di Long Island City. Sambutannya cukup bagus. Bahkan antrean orang yang ingin mencoba kopi di Café Dangdut sangat panjang.

“Mas Menteri Sandiaga Uno juga sudah datang ke Café Dangdut. Rasanya tidak menyangka bisa seperti ini,” kata Eski.

Cafe Dangdur NewYork
Menteri Pariwisata Sandiaga Uno berkesempatan mampir ke Cafe Dangdut New York. Foto: Cafe Dangdut.

Meski sudah memiliki gerai permanen, Fitri dan Eski memutuskan untuk terus melakukan mempromosikan Café Dangdut New York dengan coffee truck selama setahun. Tujuannya, kata Fitri, untuk menarik lebih banyak orang dan membuat penasaran warga sekitar.

“Sampai saat ini, Café Dangdut masih menggunakan coffee truck dalam rangka promosi kopi. Kami membagikan kopi secara gratis kepada customer yang datang,” lanjut Eski.

Sambil promosi, proses pengurusan izin dan inovasi menu terus dilakukan. Pelan-pelan, Fitri dan Eski mencari barista dari Diaspora karena ingin memperlihatkan kepada warga sekitar tentang hospitality yang ramah khas Indonesia. Sempat menemukan beberapa kendala, tapi ke duanya bisa menyelesaikannya dengan baik.

“Beruntung Diaspora di sini sangat suportif. Banyak pengusaha swasta dan owner kafe Indonesia lainnya juga yang mendukung kehadiran Café Dangdut. Kami mendirikan Café Dangdut New York bukan untuk menjadi saingan, tapi justru untuk menambah khasanah kuliner Indonesia di Amerika,” ujar Fitri.

Diakui juga oleh ke duanya, mendirikan tempat makan di New York harus siap menerima syarat dan izin yang cukup ketat dari pemerintah setempat. Café Dangdut New York berkomitmen untuk menjaga kualitas bahan baku. Namun, masalah distribusi dan logistik harus dihadapi oleh Fitri dan Eski dan cukup berpengaruh pada harga makanan dan minuman serta ketersediaan supply di Café Dangdut.

Mereka mengaku sudah banyak melakukan audiensi ke berbagai pihak, mulai dari pemerintah setempat di Chicago dan lembaga Indonesia terkait mengenai kendala logistik. Karena masalahnya bahan baku dan sangat penting. Jika biasanya bahan baku bisa tiba dua bulan, kini harus menunggu bahkan sampai empat bulan. “Akhirnya ada beberapa bahan baku yang kami hand carry agar bisa stabil antara supply dan demand-nya,” ucap Eski.

Meskipun banyak kendala yang menghampiri, Fitri dan Eski mengaku puas dengan apa yang sudah mereka capai bersama Café Dangdut New York. Hampir 70 persen pembeli atau pelanggan mereka adalah warga lokal, ini sesuai target mereka. Lokasi Café nya pun cukup strategis dan mudah ditemukan.

Cafe Dangdut berada di lingkungan anak-anak muda dan hipster elit, dekat dengan stasiun, kampus, serta tempat nongkrong anak-anak muda dan komunitas warga Indonesia. 

Biji Kopi Arabica shutterstock
Aneka biji kopi arabica. Foto: dok. shutterstock

Menurut Eski, rata-rata pelanggannya suka dengan cita rasa kopi Indonesia yang manis, khususnya kopi Gayo. “Kami juga menjual kopi lainnya, seperti kopi luwak, kopi dari Papua dan daerah lainya. Warga lokal sini penasaran dengan jenis-jenis kopi dari Indonesia,” imbuh Fitri.

Dengan adanya Café Dangdut di New York, Fitri dan Eski berharap bisa memperkenalkan Indonesia. Tidak hanya dengan kopi dan hidangan saja, tetapi juga dengan budaya dan lifestyle Indonesia.

Selain kopi dan beberapa kudapan khas Indonesia, Café Dangdut memperkenalkan musik dangdut dan fesyen Indonesia melalui brand Plus 62. Fitri dan Eski ingin hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia menjadi mainstream dengan langkah awal memperkenalkannya melalui Café Dangdut.

“Meskipun namanya dangdut, Café Dangdut kami tampilkan dengan konsep kontemporer. Bisa membawa nama dangdut hingga ke New York, seperti hal yang mustahil, tapi ternyata bisa kami lakukan,” ujar Fitri.

Melalui serangkaian pencapaian ini, Fitri dan Eski berharap Café Dangdut bisa bertahan di New York. Saat ini, Fitri dan Eski tengah berkomunikasi dengan beberapa investor. Jika tidak ada kendala, Café Dangdut juga akan hadir di New Jersey dan negara lain seperti Singapura serta Filipina.

“Kami ingin menjalankan bisnis ini untuk waktu yang lama, bukan hanya lima tahun, tapi jangka panjang. Tentunya untuk mempertahankan bisnis, hal-hal seperti masalah logistik dan lainnya bisa segera ditemukan solusinya. Dan, kami berharap pemerintah Indonesia bisa terus mendukung pelaku bisnis di luar negeri yang membawa misi memperkenalkan budaya, kuliner, dan apapun yang berkaitan dengan potensi Indonesia,” ucap Eski.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

4 Satai Leker Khas Lombok

Sate Rembiga di Lombok

4 satai leker khas Lombok ini adakah yang sudah mencobanya? Lombok di Nusa Tenggara Barat mungkin lebih dikenal dengan kuliner ayam Taliwang-nya. Ternyata kuliner di pulau ini tak cuma itu. Mereka juga menyimpan masakan khas berupa sate.

Ada berbagai macam jenis satai. Ada yang dari daging sapi, ayam, satai jerohan, bahkan dari ikan. Mereka jenis kuliner Lombok yang pantas dipertimbangkan untuk dicoba saat berada di Lombok.

4 Satai Leker Khas Lombok

Pedas Manis Satai Sapi

Asap memenuhi Warung Sate Rembiga yang berada di pusat Kota Mataram ini. Daging sapi yang sudah dibumbui bertemu dengan bara api, menyebar wangi yang membangkitkan selera. Ketika satai beralas daun dan piring bambu tersaji pun tidak perlu aba-aba lagi, langsung tandas meski rasa pedas tak tertahan. Beruntung berbaur rasa manis. Paduannya adalah lontong. Bila ditambah plecing kangkung, lidah benar-benar bakal terbakar.

Rembiga merupakan daerah di mana sejumlah penduduknya membuka usaha warung satai. Salah satunya Warung Rembiga milik Ibu Sinaseh yang memulai usahanya 28 tahun lalu. Sebenarnya bumbunya sederhana, yaitu cabai rawit, terasi, bawang putih, garam dan gula, selain bahan utama daging sapi yang dipotong-potong. Ramuan yang pas dan bumbu yang meresap ke dalam daging, itulah yang membikin nikmat. Per tusuk Rp 2.000. Selain satai dan plecing kangkung, ada pula urap dan sop balungan.

Warung Sate Rembiga Utama

Jalan Wahadin Sudirohusodo Nomor 5, Mataram

Buka pukul 09.00-23.00

Bumbu Kacang Plus Santan

Di Taman Udaya, Mataram, yang menjadi tempat nongkrong di malam hari, bisa ditemukan sajian satai lain, yakni satai bulayak. Makannya pun lesehan di bawah pepohonan. Satai ini sesungguhnya khas Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Bahannya berupa ayam atau sapi, terkadang diberi jeroan, yang ditusuk dengan lidi pohon aren.

Yang berbeda dibanding satai dari daerah lain adalah bumbu kacangnya. Kacang tanah yang sudah disangrai, ditumbuk, lalu direbus dengan santan dan bumbu dapur lain sehingga aromanya sedap. Bumbunya antara lain cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, dan garam. Sapi atau ayam pun sebelum dibakar diberi bumbu seperti ini. Satai pun jadi terasa gurih dan pedas. Paduannya adalah lontong yang dibalut melingkar dengan daun aren. Nah, lontong inilah yang disebut bulayak. Satu porsi Rp 20 ribu, untuk 10 tusuk satai, termasuk bulayak.

Sate Bulayak

Taman Udayana

Jalan Udaya Nomor 4 Mataram

Buka pukul 18.00-24.00

Lembutnya Satai Ikan

Di Kabupaten Lombok Utara, tepatnya Kecamatan Tanjung, ada lagi satai yang khas. Dikenal sebagai satai tanjung, yang tak lain berarti satai ikan. Sebagai daerah pesisir, beragam ikan dengan mudah didapat dalam kondisi segar. Pedagang berjajar di dekat terminal atau pasar. Ada satu wadah tempat potongan ikan yang sudah dibumbui hampir semalaman. “Kadang tidak hanya satu jenis ikan, tapi dua ikan yang dicampur,” kata salah satu pedagang. Umumnya cakalang, tapi bisa juga jenis ikan lain.

Campuran ikan tersebut berwarna kuning, karena ikan yang telah diambil dagingnya itu dicampur dengan santan, merica, bawang putih, dan rempah-rempah lain. Ketika dibakar, aroma sedap langsung menyebar. Satai ikan ini terasa lembut dengan gurih. Harga per tusuk Rp 1.000. Para pedagang berjualan mulai pukul 16.00, dan kadang pukul 18.00 sudah habis terjual. Namun ada pula yang bertahan hingga pukul 21.00. l

Sate Tanjung

Sekitar Pasar Tanjung atau Terminal Tanjung

Jalan Raya Tanjung

Lombok Utara

Buka pukul 16.00-19.00

Satai Campuran Kelapa Muda

Seperti kebanyakan satai di Lombok yang menggunakan bumbu berlimpah. Jenis satai ini bisa ditemukan di rumah makan atau restoran yang menyajikan makanan khas Lombok. Bahannya bisa daging sapi atau ikan laut, semisal ikan tenggiri. Bila menggunakan daging, diolah dengan cara diiris tipis, kemudian direndam bumbu. Sedangkan ikan harus dihaluskan terlebih dulu.

Kemudian, ikan diberi campuran bumbu utama, seperti parutan kelapa muda dan merica, ketumbar, cabai merah, gula, garam, terasi, juga kemiri. Karena sudah kaya dengan bumbu, satai disajikan tanpa bumbu kacang atau sejenisnya.

RM Suranadi

Jalan Taman Wisata Nomor 7

Kecamatan Narmada

Lombok Barat

Buka pukul 11.00-21.00

Rita N./Zulkarnain/Dok. TL

Medan Baru, Legenda Kuliner Sejak 1971

Medan Baru, rumah makan yang legendaris di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Medan Baru, ini nama rumah makan yang pasti bisa menjadi pilihan bagi yang sedang ingin bersantap masakan-masakan tradisional sedap khas Sumatra. Kelezatannya sudah terbilang melegenda, bahkan Presiden Joko Widodo pun mampir dan makan siang di restoran ini.

Medan Baru

Meskipun restoran ini dinamakan Medan Baru, namun secara mendasar makanan-makanan yang tersedia di sini tidak semata berasal dari Sumatra Utara saja. Resep-resep tradisional khas Aceh dan Minang pun juga dapat ditemukan di restoran ini.

Semua bermula dari Ibrahim Abdullah, seorang pria kelahiran Kutaraja yang merantau ke ibu kota untuk mengadu nasib. Sebelumnya, ia sudah pernah bekerja sebagai koki sebuah restoran masakan Padang di Medan, Sumatera Utara.

Saat itu, ia menyadari bahwa di Jakarta belum banyak restoran yang menyediakan masakan otentik dari tanah kelahirannya. Maka pada tahun 1971, ia mendirikan sebuah kedai makan yang kemudian menjadi cikal bakal restoran ini.

Medan Baru adalah restoran yang menunya perpaduan masakan Aceh, Medan, dan Minang.
Tampak depan rumah makan ini seperti restoran Padang, padahal berbeda. Foto: google strees view-kompas

Oleh karena itu, sebagai putra daerah asli Aceh, ia berkeinginan untuk mengenalkan dan mempopulerkan perpaduan masakan Aceh, Minang dan Sumatra Utara yang mungkin belum banyak dikenal khalayak luas. Ternyata, banyak orang yang suka dan bisnis pun berkembang.

Kedainya yang didirikan di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, mulai dibanjiri pengunjung baru dan pelanggan setia. Kini tempat itu telah menjadi restoran yang cukup luas, bahkan memiliki ruang tersendiri kala tamu spesial seperti Presiden Jokowi mampir.

Yang unik, cara pelayanan restoran ini sangat mirip dengan restoran masakan Padang pada umumnya. Makanan-makanan ditampilkan pada etalase di kaca depan restoran, serta pengunjung tinggal masuk dan duduk, sambil menunggu pramusaji membawakan makanannya.

Namun alih-alih makanan ala Padang pada umumnya, yang disajikan adalah beberapa resep khas yang jarang ditemui di restoran lainnya. Salah satu yang menjadi primadona dan paling dicari pelanggan adalah gulai kepala kakap.

Kalau biasanya di restoran lain bagian kepala ikan bukanlah menjadi sajian utama dari sebuah masakan, maka kali ini kepala ikan justru menjadi masakan utamanya. Ikan yang digunakan adalah kakap putih yang dipasok langsung dari Lampung.

Gulai Kepala Kakap shutterstock
Salah saru keistimewaan Medan Baru adalah menu Gulai Kepala Kakap. Foto: DOk. shutterstock

Yang cukup mengejutkan, ternyata kepala ikan merupakan bagian yang begitu sedap untuk disantap. Utamanya adalah bagian pipi serta bibirnya, yang begitu lembut dan kenyal. Bahkan tak perlu dikunyah, bagian tersebut dengan mudah akan lumer di mulut.

Kepala kakap khas Medan Baru tersebut disajikan dengan bumbu gulai dengan paduan warna kuning dan oranye. Untuk membuat makanan ini, bumbunya diracik terlebih dulu dengan bahan baku seperti santan, asam sunti, belimbing wuluh dan cabe.

Setelah bumbu sudah diracik dan matang, barulah kepala ikan dimasukkan dan didiamkan selama kurang lebih setengah jam. Setelahnya, kepala ikan dikeluarkan dan baru akan dicelupkan lagi sebelum dihidangkan, agar tidak menjadi hancur dan lebur dengan bumbu.

Uniknya, menu gulai kepala kakap di Rumah Makan Medan Baru ini terbagi berdasarkan ukurannya, yakni kecil, sedang dan besar. Semakin besar ukuran kepalanya, semakin lama pula proses memasaknya. Biasanya, ukuran kecil dan sedang adalah yang paling laku dan cepat habis.

Selain itu, masakan otentik yang terkenal dari restoran Medan Baru ini adalah burung punai gorengnya. Sejatinya, burung punai merupakan salah satu spesies burung merpati yang habitatnya banyak ditemukan di Sumatra Barat.

Yang menarik, meskipun berukuran kecil tetapi daging burung punai ini sangat lezat dan mirip seperti daging ayam. Tekstur dan serat dagingnya yang lembut membuatnya terasa empuk di mulut, dan setelah matang dimasak ada sensasi rasa gurih yang unik di lidah.

Rumah Makan Medan Baru Burung Punai
Menu andalan lain rumah makan ini adalah burung Punai goreng.

Cara memasaknya hampir mirip seperti memasak ayam, yaitu dengan diungkep bersama bumbu racikan yang terbuat dari rempah seperti kunyit, cengkeh dan pala. Setelah diungkep selama sekitar satu jam, burung baru digoreng jika akan disajikan.

Sebagai catatan, menu-menu seperti gulai kepala kakap dan burung punai goreng baru akan keluar setelah dipesan. Menyantap makanan-makanan tersebut memang dianjurkan saat masih hangat, sehingga lebih terasa nikmat.

Sebagai teman makan, restoran ini juga menyediakan menu pelengkap lain seperti sayur daun pepaya, sambal merah, sambal asam udang, dan lain lainnya. Menu minuman seperti es timun dan jus terong belanda juga tergolong unik.

Restoran ini bahkan juga menyediakan sop buntut yang cukup berbeda dari masakan sejenis yang ditawarkan restoran lain. Kuah yang terbuat dari tomat yang direbus hingga lebur terasa kental dengan rasa asam dan gurih yang sedap, ditambah daging buntutnya yang empuk membuatnya menarik untuk dicoba.

Untuk urusan harga, bisa dibilang harganya tidak terlalu mahal dan cukup komparatif dibanding restoran masakan Padang atau sejenisnya. Burung punai goreng misalnya, satu porsinya dibandrol seharga Rp 25 ribu. Atau sop buntut yang harganya Rp 75 ribu.

Adapun harga gulai kepala kakap disesuaikan berdasarkan ukurannya. Untuk ukuran kecil dihargai Rp 150 ribu, ukuran sedang Rp 250 ribu, dan ukuran besar Rp 360 ribu. Sedangkan menu minuman seperti es timun dihargai Rp 21 ribu, serta jus terong belanda Rp 31 ribu.

Berkat kesuksesan usahanya, sejak 1996 Ibrahim mampu membuka cabang-cabang lainnya. Saat ini terdapat dua cabang Medan Baru lainnya, yang terletak di kawasan Sunter dan Puri Kembangan.

Masing-masing cabang kini merupakan restoran yang cukup besar yang mampu menampung ratusan pengunjung. Tiap bangunan berformat serupa ruko yang memiliki dua hingga tiga lantai, dengan ruangan-ruangan yang dibagi untuk yang merokok dan tidak merokok.

Sehari-harinya, restoran ini mampu menjual sekitar 1.000 ekor burung punai dan 300 kepala kakap. Tak hanya ludes disantap pengunjung yang ramai berdatangan, pesanan-pesanan dari luar restoran pun kerap deras berdatangan.

Maka dari itu, bagi yang tertarik untuk mampir disarankan untuk datang saat waktu makan siang. Salah satu kebijakan restoran ini adalah hanya memasak sekali untuk sehari, sehingga saat malam hari kadang-kadang beberapa menu sudah habis.

Rumah Makan Medan Baru buka setiap hari dari jam 09.00 sampai jam 21.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (021) 3844273 untuk cabang Pasar Baru, (021) 6404105 untuk cabang Sunter, dan (021) 5806207/5806208 untuk cabang Puri Kembangan.

Rumah Makan Medan Baru

Jl. Raya Krekot Bunder no. 65, Jakarta Pusat

Jl. Griya Agung no. 62, Komplek Griya Inti Sentosa Blok N3/18, Jakarta Utara

Jl. Pesanggrahan no. 168 D-E, Jakarta Barat

agendIndonesia/Audha Alief P.

*****

3 Warung Legendaris Bandung yang Tetap Digandrungi

Mie Koclok Bandung

3 warung legendaris Bandung ini mungkin bisa menjadi pilihan saat mencari sarapan atau bahkan makan malam di ibukota Jawa Barat ini. Ada yang punya sejarah sangat panjang.

3 Warung Legendaris Bandung

Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum. Kira-kira begitulah kalimat gambaran kalimat untuk kemolekan tanah yang melingkupi Kota Bandung ini di mata sang budayawan kawakan, Martinus Antonius Weselinus Brouwer. Kalimat tersebut menyiratkan limpahan kekayaan alam yang tak ada habisnya dan dapat dinikmati secara komplet: melalui amatan dan pengecapan. Karena itu, urusan soal cecap-mencecap kuliner Bandung, tak perlu khawatir. Ada banyak penganan legendaris yang bisa dijajal dari pagi sampai malam. Di antaranya, tiga warung yang namanya cukup naik daun.

Kentang Ongklok Bu Eha andi prasetyo
Menu kuliner Bandung berupa kentang ongklok di Warung Nyonya Veteran, Bandung. Dok. TL

Sarapan di Warung Nyonya Veteran

Potret Soekarno berbingkai usang terlihat menyoroti gerik Nyonya Eha yang lincah menghitung harga lauk yang kudu dibayar pelanggannya. Di samping bingkai foto itu, terpajang sejumlah artikel koran harian yang memuat cerita tentang warung yang berlokasi di tengah Pasar Cihapit, kompleks Jalan Riau, ini. Salah satunya menyebut kalau si pemilik warung merupakan keluarga veteran. Mereka lantas bersahabat baik dengan istri kedua mantan Presiden RI—Soekarno—Inggit Garnasih. “Mertua saya dulu memang dekat sekali dengan Bu Inggit. Beliau dan anak-anaknya pak Karno, seperti Guruh dan Guntur, sering makan di sini,” tutur perempuan berusia 70-an itu, meyakinkan.

Dulu warung yang buka di kompleks perumahan Belanda itu jadi favorit para penggede pada masanya. “Warung ini buka sejak 1948 dan sempat vakum setahun karena keadaan politik yang genting,” tutur perempuan berkerudung itu. Menu utamanya ialah empal gepuk, perkedel, dan ati limpa yang dipertahankan sampai kini. Ada juga beberapa menu yang sudah dihilangkan, di antaranya kentang ongklok dan kastrol kacang merah. Hal ini disebabkan juru masaknya, yakni mertua Eha, tutup usia. Kini, menu makin bervariasi, tapi tetap menonjolkan ciri masakan Sunda, salah satunya pepes oncom. Warung yang buka sedari subuh ini bakal diserbu antara pukul 07.00 hingga 09.00. Selepas itu, menu sudah tak lengkap.

Warung Bu Eha

Alamat: Pasar Cihapit, Jalan Cihapit No. 8A, Cihapit, Bandung Wetan, Cihapit, Bandung Wetan

Harga mulai Rp 5.000 hingga Rp 40 ribu

Menikmati Siang di Lembang

Menjelang siang, mencicipi dinginnya Lembang sembari mengisi perut adalah harmonisasi yang hampir sempurna. Nasi timbel menjadi salah satu menu khas Sunda yang enak disantap di dataran tinggi ini.  Restoran yang menyediakan menu tersebut adalah Warung Hejo. Lokasinya kira-kira 300 meter dari De Ranch—peternakan kuda yang terbuka untuk umum. Sesuai dengan namanya, restoran ini mengangkat konsep budaya lokal. Hanya, bangunannya dipadukan dengan gaya Jawa. Di lahan yang tak lebih dari 200 meter persegi itu, berdiri rumah joglo dengan koleksi benda-benda kuno. Ada sepeda ontel, radio, dan motor klasik model Prancis. Sementara itu, di halamannya ada taman yang bisa digunakan untuk bersantap lesehan a la piknik keluarga.

Soal menu, Warung Hejo menyediakan berbagai olahan Sunda yang dikolaborasikan dengan sentuhan Jawa. Nasi timbel, misalnya. Paket nasi dibungkus daun pisang lengkap dengan komplemennya, yakni teri, tempe, tahu, ayam, dan lalapan, ini disandingkan dengan sayur asam berbumbu manis, seperti yang umum dimasak orang Jawa Tengah. Meski sentuhan khas Sunda masih dominan, utamanya dengan penambahan sambal cabai hijau. Ada juga menu lain, seperti ikan mas goreng, cimplung, karedok, dan pepes peda.

Warung Hejo

Jalan Kayu Ambon, Nomor 102, Kayu Ambon, Lembang, Bandung Barat

Harga mulai Rp 5.000 hingga Rp 50 ribu

Seduhan Malam Mi Kocok Bandung

Orang-orang bergantian keluar-masuk warung sederhana yang letaknya tak jauh dari perempatan Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan, Lengkong, itu. Kendaraan berjajar rapat, hampir menutupi pintu masuk. Kursi di dalam bangunan bergaya konvensional itu selalu penuh. Semua pengunjung sama-sama menunggu sang idola, yakni mi kocok. Ketika ditiriskan, asapnya mengepul, membumbungkan wangi yang membikin perut melintir lapar. Daun bawang, kikil, dan tauge berturut-turut dimasukkan ke mangkuk, menjadi teman mi. Begitu mendarat di meja, mi dengan kuah segar itu langsung habis dilahap.

Gaung Mi Kocok Mang Dadeng sudah terdengar sejak 1967. Dulu, orang tua Dadeng—yang kini namanya dipakai untuk warung itu—menjual mi kocok dengan gerobak yang dipikul. Ia berjualan keliling, dari rumah ke rumah. Hingga lama-lama, karena cita rasanya, mi itu kesohor. Mi kocok kemudian diteruskan kakak-kakak Dadeng, dan selanjutnya Dadeng, hingga 1990. Kini, warung itu sudah melewati generasi ketiga.

Mi Kocok Bandung Mang Dadeng

Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan Nomor 67, Turangga, Lengkong, Bandung

Harga mulai Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu

F. Rosana/A. Prasetyo/Dok. TL

Asem-asem Koh Liem, 1 Legendaris Semarang

Asem asem Daging Koh Liem

Asem-asem Koh Liem Semarang punya banyak penggemar meski belum sepopular loenpia atau bandeng. Juga mungkin masih kalah terkenal dibandingkan dengan Restoran Oen di Jalan Pemuda, Semarang. Tapi, percayalah, warung makan ini punya penggemar yang fanatik: setiap kali ke Semarang belum mantap jika tak menyeruput kuah asam-manis-pedasnya.

Asem-asem Koh Liem

Lokasi restoran atau warung makan Asem-asem Koh Liem sesungguhnya ada di pusat ibu kota Jawa Tengah itu. Begitu dekat dengan Jalan Gajah Mada, salah satu jalan utama di sana. Namun, karena posisinya di jalan satu arah, orang harus sedikit memutar untuk mencapainya.

Warung makan atau restorannya tak terlalu besar. Menempati satu bangunan bertingkat dari sebuah deret ruko di Jalan Karang Anyar, Semarang. Tempat makannya menempati lantai dasar. Ruangnya terbuka, hanya dibatasi satu partisi kecil yang tertulis namanya yang memisahkan dengan area parkir. Jangan berpikir ada ruang parkir besar, hanya cukup dua mobil dan sejumlah motor.

Dulu, warung tersebut sangat sederhana, cerita yang empunya warung. Bangunannya hanya gubuk tua di pinggir jalan. Didirikan oleh suami-istri Pik Swie Lie alias Koh Liem, yang meninggal pada 2019 lalu. Suarti (53 tahun), ini adalah menantu Koh Liem yang meneruskan mengelola tempat makan ini, mengenang, warungnya menjadi saksi perkembangan kuliner dari masa ke masa. Di tengah era yang semakin modern, mertuanya tetap berkukuh menyajikan kuliner tradisional.

Jika penikmat asem-asem daging mampir ke warung makan ini, aroma dari panci berisi sayur asem-asem Koh Liem langsung menyengat hidung. Aromanya tercium sampai muka warung, mengundang orang untuk bergegas masuk dan memesan. Asap mengepul saban hari, mulai pagi sampai sore. Menu utamanya ya memang asem-asem daging. Meskipun masih banyak menu lainnya

Asem asem Daging Koh Liem

Warung  ini bolehlah disebut salah satu legenda yang banyak dikenal warga sebagai salah satu warung makan tertua di Semarang. Tertulis tahun pertama rumah makan itu berdiri pada salah satu sudut bangunan, yakni pada 1978. Pengaturan duduknya juga tak banyak berubah: ada satu ‘bar’ tempat penerima pesanan yang dikelilingi meja dengan kursi-kursi.

Memang, warung Koh Liem seperti warteg. Pemasaknya di tengah, sedangkan tempat duduk pelanggannya mengitari dapur mini. Di situ, tak cuma asem-asem disediakan. Namun juga berbagai lauk. Ada 50 menu totalnya. Beberapa di antaranya adalah capcay, sayur tahu, udang goreng, sayur bening, sayur lodeh, dan sayur rumahan lainnya.

Begitu kita duduk dan memesan, kuah bening kecoklatan dituang cepat oleh para pelayan warung. Dengan posisi duduk seperti itu, pengunjung bisa menyaksikan secara langsung kuah asem-asem berpindah dari panci perebusan ke mangkuk klasik bergambar ayam jago.

“Yang terkenal memang asem-asemnya karena resepnya dari Oma (istri Koh Liem),” ujar Suarti saat ditemui di warungnya.

Koh Liem  lalu menurunkan resepnya ke anak mantu. Menurut Suarti, rahasia menu andalannya terletak pada campuran tiga bumbu dapur yang membuat sayur tersebut segar, yakni asem Jawa, belimbing wuluh, dan tomat muda. Juga pada daging dan urat yang menjadi komplemen utama pada sayur tersebut.

Sayur asem-asem Koh Liem memang benar-benar segar. Meski isinya sederhana, yakni hanya daging sapi bagian sendoro alias daging dalam, urat, daging usus alias kisi, urat, dan potongan cabai Jepang, semangkuk sayur itu memiliki rasa yang amat kaya. Rasa asam dari asam Jawa-nya tak terlalu mencolok. Sebab, diseimbangkan dengan dua sayuran pencipta rasa asam lainnya, yakni tomat muda dan belimbing wuluh.

Bau dagingnya pun tidak beraroma menyengat alias prengus dalam bahasa Jawa. Teksturnya empuk dan lembut lantaran direbus sampai dua jam. Sedangkan kuahnya terasa manis khas masakan Jawa Tengah. Manisnya lain lantaran menggunakan kecap asli Semarang, yakni kecap Mirama.

Tiap-tiap sendok yang masuk mulut rasanya meningkatkan gairah selera makan. Pengunjung tampak tak rela menuntaskan semangkuk asem-asem itu. Mereka rata-rata menyeruput sampai tetes kuah terakhir. Cukup dinikmati dengan nasi putih saja. Jika mau lebih nikmat nasi putihnya bisa langsung disiram asem-asem daging sapi, alias asem-asem campur. Sebab, bisa juga dipesan nasi putihnya terpisah.

Saat ditanya lebih lanjut seputar bumbu, Suarti enggan menerangkan. Menurut dia, campuran racikan lainnya ialah rahasia dapur. “Rahasianya Oma yang diturunkan sekarang ke anak-anaknya,” ujarnya. Perempuan asli Semarang itu mengatakan telah menerima resep warisan yang sampai sekarang kudu dijaga konsistensinya.

Salah satu cara untuk menjaga konsistensi rasa adalah tak membuka cabang. “Kalau mau makan asem-asem Koh Liem ya harus ke sini,” kata Suarti. Warung ini adalah bangunan ketiga yang ditempati keluarga mereka untuk menjajakan asem-asem. Dua bangunan sebelumnya berlokasi tak jauh dari alamat warung yang sekarang.

Bila ingin menjajal asam-asam Koh Liem, Anda bisa berkunjung ke warungnya mulai pukul 07.00 sampai 17.00. Harga seporsi asem-asem dibanderol Rp 35 ribu.

F. ROSANA-TL

Abhayagiri Resto, 1 Senja di Timur Yogya

Abhayagiri Resto

Abhayagiri Resto, ini sebuah jamuan lengkap di senja hari di Yogyakarta. Menu istimewanya, lanskap segaris antara Abhayagiri, Candi Prambanan, dan Gunung Merapi.

Abhayagiri Resto, Menikmati Sunset

 Di pelataran restoran Abhayagiri, Yogyakarta, turis dari beragam latar belakang saling berjumpa. Mereka berganti-gantian memincing spot foto. Meja-meja makan yang berantakan ditinggalkan begitu saja tatkala burit mulai muncul. Maklum, di seberang utara, pemandangan Gunung Merapi disapu langit oranye dibelah atap-atap rumah warga menjadi primadona. Tak ketinggalan Candi Prambanan yang bertengger gagah tepat di muka “ancala”, menyempurnakan amatan.

Setengah bagian Yogyakarta, beserta ikon-ikonnya, sore itu sukses dibingkai dengan gangsar dari atas bukit. Ya, Abhayagiri memang bernaung di salah satu babakan tertinggi di “nagari kesultanan”, sebaris dengan Bukit Boko. Sesuai dengan namanya, abhaya berarti tidak ada bahaya atau aman, sedangkan giri artinya bukit atau gunung. Jadi Abhayagiri merupakan tempat di atas bukit yang tenang, jauh dari kerawanan.

Untuk menjangkaunya, perlu berkendara lebih-kurang 40 menit dari pusat kota melewati jalan menanjak dan berkelok, searah dengan tujuan Candi Boko dan Candi Ijo. Tak mengherankan, kalau banyak pengunjung, sengaja ingin menepi di tempat ini untuk sekadar menikmati kudapan, menjangkau ketenangan, lalu berswafoto dengan latar belakang panorama yang apik.

Di salah satu sudut yang menghadap ke barat daya, sebuah beranda petak beralas kayu dikelilingi lampu taman dengan penerangan temaram menjadi titik yang paling banyak diincar, khususnya untuk memotret. Sebab, di sana, tamu akan menghadapi jamuan pandang yang langka, yakni lanskap segaris antara Abhayagiri, Candi Prambanan, dan Gunung Merapi.

Dari titik itu pula, kawasan restoran yang lapang membentang dan terbagi atas beberapa paruhan tampak gamblang. Di sisi kanan, ada rumah joglo beralas rumput sintetis, juga kolam renang. Pengunjung, yang umumnya keluarga, mengobrol asyik sembari berseloroh di bawah bangunan persegi panjang dengan dominasi elemen kayu.

Di bagian rusuk atau tengah, segaris dengan beranda pandang, terhampar halaman dengan kursi serta meja yang ditata rapi mengitari sebuah batu besar. Batu itu tak pernah disingkirkan oleh pihak restoran, mulai proses pembangunan hingga Abhayagiri berdiri pada 2012—tentu sampai sekarang. Justru keberadaannya memperdalam kesan natural.

Di titik ini, pasangan-pasangan muda mengobrol intim. Suasana romantis terbangun dari pemandangan lampu-lampu kota yang mengitari, hawa dingin yang langsung menerpa kulit, serta tumbuhnya ilalang yang mendramatisasi keadaan.

Sementara itu, di bibir kiri, terhampar sebuah panggung alam, tempat pentasnya pergelaran seni Ramayana yang dihelat pada waktu-waktu tertentu. Panggung ini terbuat dari bebatuan. Letaknya menghadap tepat ke candi. Bangunan kuno tersebut sungguhan, bukan rekaan. Namanya serupa dengan lokasi bernaungnya restoran: Sumberwatu. Dalam papan keterangan tertulis, benda sejarah yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9 oleh para penganut agama Buddha tersebut telah dikonservasi lembaga warisan budaya setempat pada 2013.

Keberadaannya membangkitkan sangkaan magis, sekaligus menguatkan kesan kejawen.

Petang tiba. Cokekan, musik tradisional asli Jawa Tengah—jenis kesenian yang kini nyaris punah—mengiramakan malam. Larasnya berpadu dengan bunyi tonggeret atau garengpung—atau nama ilmiahnya Cicada.Karena itu, griya tempat berkudap sekalian berkongko yang dibangun di atas lahan 3 hektare ini seketika jadi riuh. Bukan hanya karena musiknya yang membubung, melainkan juga makin sesaknya pengunjung.

“Biasanya tak seramai sekarang. Hari ini, semua bangku sudah ludes direservasi. Mungkin karena bertepatan dengan hari libur atau juga karena kami sedang menggelar promo menu buffet,” tutur Dewi, perempuan berparas njawani yang menjadi pramusaji itu.

Memang, di momen-momen tertentu, seperti akhir tahun, restoran yang dilengkapi fasilitas vila dan hotel ini memasang menu khusus. Kala Travelounge bertandang pun, Abhayagiri sedang menawarkan promosi all-you-can-eat seharga Rp 150 ribu per orang dengan waktu kunjungan maksimal 120 menit. Dengan demikian, kudapan bergaya lokal dan western yang kesohor, semisal Chicken Steak Teriyaki, Abhayagiri Duck Speciale, Pan Roasted Salmon, Apple Crumble, Nasi Campur, Archila Churros, dan Beef Black Pepper, tak tersaji.

Sementara itu, hidangan yang bebas dilahap tamu adalah menu-menu yang umumnya disajikan kala masyarakat Jawa Tengah punya hajat, semisal soto ayam, rawis (juga dikenal dengan sebutan karedok), bakmi Jawa, dan dori goreng tepung untuk menu utama. Tersedia pula hidangan cuci mulut, seperti brownies, mini pie,dan cake green tea kukus yang menyandang predikat jawara.

Umumnya, rasa masakan yang tersaji kurang menggelitik lidah. Semisal bakmi Jawa, kuah yang dihidangkan terlalu asin. Hidangan lain, seperti soto ayam, pun tak terlalu berkarakter. Namun hal itu tak diambil hati oleh para pengunjung karena umumnya mereka datang dengan tujuan utama menikmati pemandangan, bukan buat berselancar lidah. l

Abhayagiri Restaurant

Sumberwatu Heritage Resort, Sumberwatu RT 02 RW 01

Sambirejo, Prambanan,

Sleman, DI Yogyakarta

Operasional

Setiap hari pukul 11.00-22.00

Menu

Abhayagiri Chicken Steak

Beef Black Pepper

Bakmi Jawa

Soto Ayam

Harga

Antara Rp 35 ribu hingga Rp 200 ribu.

F. Rosana/Hindra/Dok-TL

Kopi Merapi, 1 Peninggalan Kolonial Belanda

Kopi Merapi di Cangkringan, Yogyakarta

Kopi Merapi adalah satu peninggalan kolonial Belanda. Mungkin di sekitar tahun 1930-an ia mulai ditanam, tapi baru belakangan setelah erupsi gunung Merapi pada 2010 tempat ini menjadi omongan dan belakangan jadi tujuan wisata.

Kopi Merapi, Peninggalan Kolonial

Kopi yang ditanam di lereng Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta ini bukan cuma mengharumkan nama kopi Nusantara, namun juga menjadi catatan bangkitnya perekonomian penduduk lokal dari erupsi besar-besaran yang terjadi 10 tahun lalu.

Kini saat liburan ke kawasan Kaliurang dan sekitarnya, ada satu warung kopi yang tak boleh dilewatkan. Kopi Merapi, begitu namanya, terletak di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman. Di warung ini pengunjung dapat menikmati seduhan biji kopi yang ditanam langsung di tanah vulkanik lereng Merapi, baik jenis arabika maupun robusta.

Sebelum erupsi, warga yang terhimpun dalam Koperasi Merapi memiliki lahan seluas 800 hektare. Namun, sewaktu fenomena alam itu terjadi, lahan tersebut tertutup abu hingga lahan yang tersisa tinggal 50 hektare. “Warga mulai menanam kembali kopi dan kini sudah sekitar 500 hektare lahan bisa dimanfaatkan kembali,” kata Ketua Koperasi Merapi Sumijo di Kaliurang, Yogyakarta.

Kopi Merapi pun mulai diproduksi dan dikirim ke luar daerah, seperti Jakarta, Bandung, Bogor, dan Tangerang. Saatmengunjungi koperasi tersebut dan menyaksikan berkarung-karung biji kopi siang sangrai ditumpuk di gudang. “Ini pesanan,” kata Juwanto, pegawai koperasi Kopi Merapi yang ditemui di tempat yang sama.

Pada zaman dulu, cerita Sumijo, kopi hasil perkebunan di sekitar Merapi dikenal dengan sebutan kopi meneer. Disebut demikian sebab awalnya tanaman kopi di lereng Merapi itu diperkenalkan pada masa kolonial Belanda. Orang-orang Belanda yang tinggal di Jawa Tengah dan sekitar Yogyakarta melihat lereng Merapi yang sejuk cocok untuk ditanami kopi.

Selain kopi meneer atau menir, kopi Merapi pernah pula disebut sebagai kopi Turgo. Ini merujuk pada lokasi perkebunannya di dekat wilayah Desa Turgo. Namun, tentu saja,  nama Turgo jarang orang yang tahu. Kecuali saat terjadi erupsi Merapi yang lalu. Akhirnya, mereka kemudian menyebut nama komoditas mereka sebagai kopi Merapi.

Begitupun, perjalanan kopi merapi sebagai komoditas tidaklah meroket. Bahkan nyaris jarang diketahui orang. Bahkan bagi masyarakat Yogyakarta, yang posisinya di kaki gunung Merapi, keberadaan kopi Merapi tak banyak dikenal.

Baru beberapa tahun belakangan ini, masyarakat mengenal adanya Kopi Merapi. Ini bisa dipahami, sebab meski sudah mulai diperkenalkan sebagai tanaman sejak zaman kolonial, warga sekitar lereng Merapi mulai menanam secara intensif pada sekitar 1984-an. Kopi yang ditanam berjenis Robusta. Sedangkan kopi Arabika mulai dikembangkan di sini sejak 1990-an awal.

Selain itu, kopi hasil panen kebun-kebun kopi di sekitar Merapi, yang kawasannya tak terlalu besar itu, oleh para petaninya lebih banyak dijual dalam bentuk mentah atau biji basah. Hal ini membuat penghasilan dari menanam kopi menjadi tak maksimal.

Baru pada 2004, menurut Sumijo, dirinya mencoba membuat rintisan Koperasi Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama Kebun Makmur. KUB didirikan untuk menyiasati agar harga kopi yang dijual para petani harganya stabil dan tak dimainkan para tengkulak.

Berbagai inovasi pernah mereka lakukan supaya harga kopinya bisa mengalami peningkatan ekonomi. Setelah sekian “percobaan’,  akhirnya koperasi membuat kopi kemasan atau siap saji. Mereka kemudian juga mencoba menjual biji kopi kering maupun kopi serbuk dalam bungkus kiloan dan sachet.

Selain membuat berbagai olahan produk kopi, Sumijo juga membuat sebuah warung Kopi Merapi di daerah Cangkringan. Pada 17 November 2012, Sumijo dan Sukirah istrinya, secara resmi membuka warung kopi Merapi di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Sumijo menjelaskan konsep yang diusung di warung Kopi Merapi miliknya adalah tradisional. Artinya cara pengolahan biji kopi semua dengan cara tradisional nenek moyang zaman dulu.

Kopi Merapi memiliki jenis arabika dan robusta. Keduanya ditanam di ketinggian 700-1.200 mdpl. Kopi ini hidup di kawasan Kaliadem, tepat di kaki gunung.

Menjelang Mei, petani setempat bersiap menyambut panen raya kopi. Biji-biji yang telah dipanen lalu akan diproses di Koperasi Merapi, yakni di Jalan Kaliuran KM 20, Sleman. Wisatawan yang datang pun dapat melihat proses lengkapnya. Mulai penjemuran kopi, sangrai, hingga penggilingan.

Pada saat-saat panen, pengunjung bisa menyaksikan kopi yang baru mulai dipanen itu diproses di koperasi. Lantas, berkesempatan pula untuk menjajal rasa asli kopi arabica. Kopi Merapi memiliki keistimewaan after taste atau rasa yang tertinggal dengan karakter fruitty alias buah-buahan yang kuat.  Sebab, kopi ini ditanam di dekat tanaman cokelat, mangga, kelapa, dan buah-buahan lainnya.

Bila diminum tanpa gula, seteguk kopi Merapi pun akan terasa lembut. “Bodinya ringan,” kata Sumijo.

Wisatawan bisa membawa pulang kopi Merapi sebagai buah tangan. Per 250 gram arabica, kopi Merapi dijual RP 50 ribu, sedangkan robusta Rp 30 ribu. Selain bisa menikmati kopi, pelancong yang datang ke koperasi dapat bermain-main di kebun kopi. Letaknya tepat di belakang gedung koperasi.

F. Rosana

Kopi Toko Djawa, Dari Jalan Braga Nomor 81

Kopi Toko Djawa Bandung cabang Jalan Teuku Umar.

Kopi Toko Djawa saat ini menjadi salah satu romantisme menikmati kota Bandung. Kopi dan masa lalu yang asyik.

Kopi Toko Djawa

Sebagai kedai kopi, sesungguhnya tempat ini bukanlah tempat yang sudah memiliki rekam jejak yang panjang. Praktis ia baru berdiri pada 2017. Namun tempat awal berdirinya menjadi pertanda yang unik bagi kota dan orang Bandung.

Nama tempat ngopi ini, Kopi Toko Djawa, bagi orang Bandung asli pasti sudah tahu kalau sebelumnya adalah Toko Buku Djawa. Toko buku ini berada di Jalan Braga Nomor 81 ini adalah toko buku legendaris yang sudah ada sejak 1955.

Kopi Toko Djawa berada di pusat kenangan orang tentang Bandung.

Perubahan zaman dan disrupsi teknologi menyebabkan toko buku terdesak dan mulai ditinggalkan pembeli buku yang beralih ke e-book. Melalui sejumlah pertimbangan, toko buku ini beralih menjadi kedai kopi. Mungkin pilihan bisnis yang tepat, bisa pula momentum waktunya pas, kedai kopi ini menjadi hit.

Orang Indonesia, juga orang Bandung, bagaimana pun menyimpan romantisme yang bagus. Dan bagi orang Bandung, Jalan Braga adalah pusat masa lalu yang penuh kenangan. Tempat orang selalu ingin kembali. Tempatnya, gedung-gedungnya.

Setiap tempat pasti memiliki kenangan tersendiri, entah itu karena peninggalan sejarah, atau pun karena ikatan emosional yang dimiliki para pengunjung atas tempat tersebut.

Maka berdirilah kedai Kopi Toko Djawa di sini. Ia tampak begitu asyik karena berada di gedung kolonial yang penuh pesona dengan gaya art deco-nya. Pemiliknya tak perlu melakukan renovasi habis-habisan karena gedungnya sendiri sudah indah.

Toko Kopi Djawa IG TKD

Hal itulah yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan seorang Alvin Januardi, sebagai pemilik Kopi Toko Djawa. Ia menggubah Toko Buku Djawa yang menyimpan banyak kenangan di masa kejayaannya dulu menjadi sebuah kedai kopi.

Usaha kopi, kedai maupun biji kopinya, memang menjamur dalam beberapa tahun terakhir di banyak kota di Indonesia. Namun, situasi itu tak menggoyahkan niat Alvin membangun kedainya sendiri.

Setelah mengurus berbagai urusan tetek bengek usaha, Alvin dan dua partnernya yang pernah tinggal di Australia membuka kedai ini pertama kali pada 2017. Mereka memutuskan untuk tetap mempertahankan nama “Djawa” untuk kedai kopi itu, pertimbangannya agar orang teringat kenangan mereka.

Apa yang ditawarkan oleh Kopi Toko Djawa dapat memberikan pengalaman berbeda dalam menikmati kopi dan berbagai hidangan lainnya.

Pada saat itu, kedai ini masih kecil. Tempat pertama di Jalan Braga itu paling bisa memuat 10-15 orang. Itu pun tak langsung hit. Baru setelah 1-2 bulan berjalan mulailah mereka mendapat respon yang lumayan.

Kopi Toko Djawa Bandung IG TKD

Dengan respon pasar yang membaik, dan ada ruang di bagian belakang ruang kedainya, tempat ngopi itu diperluas ke belakang. Waktu berjalan dan usaha pun semakin berkembang. Sampai saat ini Kopi Toko Djawa telah memiliki delapan gerai.

Di Bandung ada di Jalan Braga, Jalan Riau, Ciumbuleuit, Critical 11, Teuku Umar, dan di Buah Batu. Tak berhenti di Bandung, kedi kopi ini juga memperluas usahanya kei Jakarta dengan dua gerai. Di Menteng dan Pondok Indah.

Selain keunikan bangunan gerai pertama mereka, ada beberapa hal yang menjadi kekuatan Kopi Toko Djawa ini.

Selain berbagai menu yang ditawarkan, mereka berusha menonjolkan nilai-nilai kebudayaan Indonesia untuk jadi daya tarik tersendiri, terlihat dari interior kedainya yang dibalut dengan kain-kain Sumba dan banyak berkolaborasi dengan perajin lokal untuk menciptakan lingkungan.

Selain itu, yang unik di sini adalah tidak adanya fasilitas wifi. Tak seperti kebanyakan warung kopi kekininan yang berlomba memberi fasilitas sambungan internet ke pelanggannya, kedai ini justru menghindarinya.

Jadi jangan berpikir bawa laptop dan bekerja di sini sambil menyeruput kopi.  Tempat ini di mana pengunjung datang untuk ngobrol bareng teman dan menikmati kopi.

Sama seperti toko-toko kopi lainnya, Kopi Toko Djawa pun memiliki berbagai menu signature. Betul, variasi menu di kedai ini tak jauh berbeda dari kedai kopi lainnya, namun sekali-kali datang dan cobalah Es Kopi Awan, ini bukan sekadar es kopi biasa. Ini kopi dengan gula aren dan foam susu yang tebal.

Atau coba jugalah es kopi dengan gula jawa. Ini adalah specialty lain mereka dan semua orang sepertinya sangat suka es kopi ini.

Hal lain yang bisa dilakukan pengunjung jika datang ke gerai di Braga, adalah mencari pernik-pernik kecil di lantai dua. Mulai dari kartu pos, tote bag, produk organik dan banyak lagi.

Ruang duduk di lantai dua juga bisa untuk ngopi, ini terbagi dua ruangan. Di ruang agak tertutup dan ruang agak terbuka karena terkena sinar matahari berkat jendelanya yang besar. Tapi semuanya enak buat ngopi.

Kopi Toko Djawa

Jalan Braga Nomor 81, Bandung

Jalan RE Martadinata (Riau) Nomor 205, Bandung

Jalan Ciumbeleuit Nomor 73, Bandung

Jalan Buah Batu Nomor 163, Bandung

agendaIndonesia

*****

3 Menu Minahasa Nan Pedas dan Berempah

Cakalang Fufu di Minahasa

3 menu Minahasa nan pedas dan berempah ini layak untuk diburu saat kita pergi ke Manado dan sekitarnya.

3 Menu Minahasa Aroma laut

Melancong ke Sulawesi Utara memang tak lengkap rasanya kalau tidak menjajal olahan hasil baharinya. Di tanah yang kondang dengan sebutan Celebes itu, beragam jenis ikan bisa ditemui. Sebut saja ikan cakalang, roa, dan nike. Bila diolah dengan bumbu-bumbu lokal yang khas—pedas dan berempah—nikmatnya bakal menggoyang lidah. Berikut 3 pilihannya.

Cakalang Fufu Ahmad Yani

Bila melintas di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Sario—kurang lebih 2,7 kilometer dari Zero Point—mata akan disegarkan dengan deretan penjual yang menjajakan cakalang fufu. Mereka membuka lapaknya di pinggir-pinggir jalan. Dagangannya dibiarkan terpajang di atas meja. Orang lewat akan tergoda melihat olahan ikan yang dibumbui garam dan bubuk soda, diasap, dan dijepit kerangka bambu itu. Tampilan yang cokelat keemasan dan aroma anyir laut yang merebak tak mampu ditampik.

Di sana, cakalang fufu ditawarkan dalam aneka ukuran, mulai 500 gram hingga 2 kilogram. Harganya pun dibanderol mulai Rp 50 ribu untuk ikan yang paling kecil hingga Rp 200 ribu untuk yang paling besar. Meski bisa dimakan langsung, menjadi makanan pendamping nasi, atau diolah lagi. Misalnya dimasak woku, dengan komplemen bumbu khas Minahasa. Enak juga dipotong kecil-kecil dan dimakan dengan nasi hangat. Tentu plus sambal roa atau dabu-dabu.

Cakalang fufu bisa dijadikan alternatif oleh-oleh untuk kerabat di luar kota. Sebab, teksturnya kering dan tidak berair. Bila disimpan di tempat sejuk, bisa tahan sampai satu pekan. Tak cuma bisa menemui cakalang fufu, di sepanjang Jalan Ahmad Yani, pelancong bisa berbelanja sambal roa dan terasi ikan, yang diproduksi langsung dari Buton.

Oleh-oleh Cakalang Fufu

Jalan Ahmad Yani, Sario, Manado, Sulawesi Utara

Buka pukul 09.00-21.00 Wita

Perkedel Nike Raja Oci

Olahan nike, ikan yang hanya hidup di Danau Tondano Tomohon—dan Sungai Bone Gorontalo—menjadi makanan yang dicari para pelancong tatkala mereka bertandang ke Manado. Salah satu restoran yang menyajikan masakan ikan mungil berwarna transparan ini adalah Raja Oci, yang beralamat di Jalan Sudirman. Orang beramai-ramai datang ke kedai makan yang telah buka sejak 1994 tersebut.

Fajar Anggun Putra, si pemilik restoran, berhasil mengenalkan perkedel nike yang membuat pengunjung ketagihan. Rasanya unik. Sedikit amis, tapi tidak membuat eneg. Teksturnya lebih keras daripada perkedel perkedel kentang atau perkedel daging. Namun rasanya jauh lebih gurih. Ada aroma ikan yang khas, yang tidak bisa ditemui di olahan perkedel pada umumnya. Bentuknya pun tak bundar, namun gepeng layaknya bakwan jagung.

Perkedel nike cocok dinikmati bersama pakis tumis pepaya, goropa atau kerapu woku, dan oci atau ikan gembung bakar. Tentu makin lezat bila dicocol sambal dabu-dabu yang pedas menggugah selera, plus nasi putih hangat. Harga seporsi perkedel, isi lima, Rp 30 ribu.

Raja Oci

Jalan Jendral Sudirman Nomor 85, Pinaesaan, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara

Buka pukul 11.00-22.00 Wita

Mujair Woku Si Neleyan

Masakan woku memang tak bisa dilepaskan dari budaya makan masyarakat Minahasa. Sajian berkuah kuning kental ini selalu berhasil menggoda penikmat kuliner untuk menjajalnya sewaktu berkunjung ke Sulawesi Utara. Salah satu yang patut dicoba adalah masakan woku di restoran milik Wali Kota Tomohon Jimmy Eman. Lokasinya di Tomohon, satu jam waktu perjalanan dari Zero Point Manado.

Bila biasanya bahan utama woku adalah ikan laut, di restoran berkapasitas 200 orang ini, woku disajikan menggunakan air tawar. Ikannya menggunakan mujair yang segar lantaran langsung dijaring dari kolam yang berlokasi di samping warung tersebut. Mujair diolah matang, namun tak terlalu masak. Tekstur ikannya tidak rusak. Bagian-bagian tubuhnya pun masih utuh, tak ada yang meluruh atau larut dengan bumbu. Ikan seberat 500 gram itu lantas disiram dengan kuah kuning. Warna kuning berasal dari kunyit.

Kala dihirup, aromanya kental dengan rempah-rempah. Yang paling menyengat adalah daun woka– daun lontar yang umum dipakai untuk membungkus nasi. Aroma lain, yang berasal dari daun jeruk, daun pandan, dan jahe, melengkapi dan menyeimbangkan, menghasilkan wewangian yang khas, lagi harmonis. Tak ada yang terlalu tajam dan membikin eneg.

Mujair woku ini dibanderol dengan harga Rp 60 ribu, bisa dinikmati bersama dua orang lainnya. Makannya disandingkan dengan kangkung bunga pepaya untuk menyamarkan bau amis dan perkedel jagung untuk memberikan sensasi kriuk. Tak lupa disantap dengan nasi putih hangat.

Si Neleyan

Jalan Raya Tomohon, Talete 1, Tomohon, Sulawesi Utara

Buka pukul 09.00-21.00 Wita

F. Rosana/A. Prasetyo

3 Suguhan Warisan Kuliner Bagansiapiapi

Soto Bagan di Bagansiapiapi

3 suguhan warisan kuliner Bagansiapiapi menjadi pelengkap saat mengunjungi kota di Provinsi Riau ini. Kota ini mungkin nyaris tak terdengar, hingga beberapa tahun lalu ketika tradisi Bakar tongkangmenjadi  sebuah tradisi yang makin dilirik sebagai atraksi pariwisata Indonesia.

3 Suguhan Warisan Kuliner Bagansiapiapi

Awalnya tradisi ini hanya menjadi atraksi masyarakat Bagansiapi-api, Provinsi Riau. Namun, beberepa tahun terakhir ia menjadi wisata bakar tongkang yang makin banyak diminati untuk disaksikan. Bahkan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia, juga wisatawan manca negara.

Kota ini tak ubahnya sebuah muara pertemuan budaya antara Tionghoa dan Melayu. Beragam peninggalan masa lampau bersisa. Kuliner adalah salah satunya. Jenis makanan, cara masak, dan kaidah menyajikan menjadi warisan yang turun-temurun dapat dinikmati penduduk asli, juga pelancong yang sengaja bertandang.

Sepiring Kenikmatan Kwetiau Melayu

“Saya Chinese dan suami saya Bugis. Warung ini dimiliki oleh keluarga dengan latar belakang kultur yang sangat berbeda.” Indrawati meracik kwetiau sambil berkisah. “Sedangkan kami tinggal di tanah Melayu. Makanya punya masakan dengan cita rasa campuran,” tuturnya, membuka obrolan. “Sreeng….” Bau wangi merebak. Muasalnya dari bumbu, kaldu udang, telur, dan potongan mi khas Tionghoa.

Di kota kecil Bagansiapiapi, yang dihuni mayoritas warga keturunan Fujian, Cina Selatan, memang gampang ditemukan warung kwetiau semacam ini. Maklum, masakan tersebutlah yang sejatinya paling mula diperkenalkan orang Hokkian dan Tio Ciu di kota itu. Meski banyak saingan, warung Indrawati dan suami, yang diberi nama warung Wira—Wira adalah nama anaknya—termasuk yang paling ramai lantaran punya cita rasa khas, lagi halal. Orang-orang menyebutnya warung kwetiau Melayu. “Yang makan pun kebanyakan orang Melayu,” katanya.

Sudah 14 tahun Indrawati rutin meladeni pesanan mi tebal berbahan tepung beras itu. Jadi, meski sambil mengobrol, konsentrasinya tak bakal buyar. Satu per satu bumbu dapur—bawang, merica, dan komplemen lain—tak terlewat masuk wajan. Masakannya yang terkenal nikmat dan kepiawaiannya menjamu tamu menjadi modal utama untuk mengundang pelanggan. “Rahasianya hanya bawang putih. Asal bisa memperkuat rasa bawang putihnya, tanpa berlebihan, masakan akan jadi enak. Plus harus ramah,” ucapnya sembari berseloroh.

Tentu, kenikmatannya memuncak dengan campuran udang khas Bagan yang punya cita rasa gurih. Tak perlu menambah daging sapi atau ayam buat membikin rasa menjadi kaya. “Ya, kekuatannya memang juga berasal dari udang Bagan, tak perlu lain-lain lagi,” tuturnya. Kalau sedang musim pasang mati, mereka akan menyimpan udang sebanyak-banyaknya supaya tak kehabisan stok.

Sepiring kwetiau racikan Indrawati dihargai Rp 13 ribu. Murah dan lezat. Plus, ditambah dengan kopi Bagan, keasyikan menikmati kota tua itu makin komplet. Tak heran kalau nama perempuan separuh baya berkulit putih dan bermata sipit ini belakangan kerap mejeng di halaman berita lokal.

Warung Kwetiau Wira

Buka pukul 06.00-12.00 (cabang Wira II buka sampai malam)

Alamat: Jalan Pahlawan, Bagansiapiapi, Riau

Sate kerang bagansiapiapi
Sate kerang Bagansiapiapi. Dok. A. Prasetyo-TL

Wangi Asap Pembakaran Kerang

Olahan kerang memang umum ditemui di pesisir, tak terkecuali Bagansiapiapi. Kerang bisa dimasak segala rupa. Namun salah satu yang paling kesohor dan populer di kalangan wisatawan yang mengunjungi Bagan, juga masyarakat sekitarnya, ialah olahan sate. Sebetulnya, secara spesifik, yang terkenal adalah sate kerang di warung sederhana milik Ismini. Perempuan keturunan Melayu itu namanya selalu disebut-sebut oleh pelancong kalau mereka menyambangi gerbang sisi barat Provinsi Riau ini.

Gerobak Ismini memang bukan gerobak yang masih berusia hijau muda. Sudah 17 tahun keberadaannya nangkring di Jalan Perdagangan, di sebuah ruko di persimpangan. Di sana, ia berbagi tempat bersama sejumlah penjaja makanan lain.

Warung Ismini mulai hidup sore hingga malam. Sejak pukul 16.00 hingga 23.00, asap dari pembakaran selalu mengepul. Aromanya merebak. Bebauan wangi laut bercampur arang menjadi ucapan selamat datang buat pengunjung. Kala rombongan kami berkunjung, Ismini sedang asyik menyiramkan kuah kacang ke piring berisi sepuluh tusuk sate kerang. Saya memesan satu porsi dan sejurus kemudian sudah mendarat di meja.

Tampilannya tak berlainan dengan sate ayam. Hanya, dagingnya lebih hitam sehingga terkesan gosong. Tatkala masuk mulut, kerang bercampur bumbu kacang itu seakan pecah. Krispy, namun tetap juicy. Bau amis sudah hilang, tersaru bumbu kacang yang digiling tak terlalu halus. Yang membikin enak adalah lontongnya. Lontong berpotongan dadu ini punya tekstur kenyal, mirip dengan gendar atau puli, tak umum seperti yang biasanya dibikin penjaja sate. Sepiring kenikmatan sate kerang bisa dibayar hanya dengan Rp 12 ribu.

Sate Kerang Ismini

Alamat: Jalan Perdagangan, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 16.00-23.00

Bihun Goreng dalam Semangkuk Soto Bagan

Dalam semangkuk soto, yang umum dijumpai adalah bihun rebus bersama daging ayam atau sapi, kol, dan tauge. Namun tak demikian dengan soto yang ditemui di Bagansiapapi. Kasman, pegiat budaya asal Pekanbaru, yang mengatarkan kami berkeliling di kota kecil itu, mengharuskan saya mencicipi soto autentik yang berlokasi di Jalan Perdagangan.

Sekilas, kala masuk ke warung sederhana bergaya ruko kuno ini, atmosfernya sama seperti kedai-kedai lain. Saat menengok gerobak di tempat itu, racikan dan bumbu-bumbu yang terpampang pun selayaknya gerobak soto di berbagai tempat. Namun, saat Subardi—ipar si empunya warung—meraup bihun, saya cukup tercengang. “Nah, di sini khasnya memang soto dengan isi bihun goreng,” kata Kasman. Bihun itu ditaburkan ke mangkuk hingga penuh, bahkan menutupi komplemen lain. Setelahnya, kuah santan kental bercampur bumbu soto, seperti bawang merah, bawang putih, dan ketumbar, disiramkan ke dalam mangkuk.

Sejurus kemudian, asap langsung mengepul. Bihun goreng yang semula chrispy berubah menjadi lembek dan berbuih. Di sinilah sensasi menikmati soto Bagan mencapai puncaknya. Dalam keadaan hangat hampir panas, bihun goreng yang sudah lembek masih menyisakan tekstur garing kala dikunyah. Gurihnya gorengan bercampur santan memunculkan rasa yang harmonis. Bila dirasa-rasa, kuahnya cukup mirip dengan soto Medan. Hanya, lebih kuat aroma kunyitnya.

Tak heran, sejak dibuka pukul 06.00, warung yang sudah berdiri 12 tahun ini selalu ramai. Orang-orang gemar menyantap keunikan rasa, juga harga yang murah. Seporsi soto Bagan dihargai Rp 15 ribu, plus nasi.

Soto Bagan

Jalan Peradagangan, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 06.00-23.00

F. Rosana/A. Prasetyo/Dok. TL