Kota Solo, Peninggalan Mataram Dari Abad 17

Kraton Solo Hadiningrat

Kota Solo di Jawa Tengah adalah salah satu kota yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Jawa Tengah. Berdasar Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, Solo seperti kembaran Yogyakarta.

Kota Solo

Solo di akhir pekan biasanya lebih ramai dari biasanya. Jangan tanya saat libur Idul Fitri, mirip dengan Yogyakarta, kota di jantung pulau Jawa ini bisa macet. Hotel-hotel dan penginapan habis dipesan wisatawan. Untuk makan di restoran-restoran klangenan orang bisa berjam-jam.

AgendaIndonesia mengunjungi Solo saat low season. Jauh dari libur lebaran atau akhir tahun, dan bukan di akhir pekan. Dan suasana Solo jauh lebih menyenangkan. Kami sedang liputan untuk sebuah buku pariwisata, dan Solo jadi wajib untuk ditulis.

Pilihan pertama tentu saja ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Posisinya tentu saja ada di pusat kota. Dari Jalan Slamet Siyadi, di daerah yang oleh orang Solo disebut dengan Gladak dan ditandai dengan adanya patung Slamet Riyadi, wisatawan bisa belok ke kanan dan langsung bertemu dengan Alun-alun Utara Solo. Untuk mengunjungi Kraton Solo, kita memutari seperempat alun-alun dan berbelok ke timur.

Selain bisa melihat kraton Surakarta yang masih ditinggali keluarga raja Surakarta, di sini wisatawan bisa menikmati Museum Keraton Surakarta.

Museum Keraton Surakarta biasanya dibuka pukul 9 pagi. Namun kadang pada saat-saat peak season, pengelola akan mempercepat waktu buka 30 menit lebih awal. Pemandangannya tentu sama dengan tempat wisata lainnya: rombongan keluarga tampak bergantian mengabadikan keberadaan mereka di sudut-sudut tertentu: di depan patung Pakubuwana X, di halaman luar dekat papan silsilah raja-raja, di sebelah kereta-kereta lama, bahkan berdampingan dengan  patung penggawa yang berada di bagian dalam.

Bangunan Keraton Surakarta Hadiningrat yang ada saat ini adalah yang didirikan Pakubuwana II pada 1744. Ini merupakan pengganti bangunan sebelumnya, yang hancur akibat tragedi Geger Pacinan pada 1740-1743.

Setelah berputar di museum, pengunjung bisa masuk sebentar ke halaman keraton untuk menyaksikan Panggung Sangga Buwana, yang hingga saat ini masih digunakan raja, atau sunan dalam terminologi Keraton Solo, untuk bermeditasi.

Puas berkeliling keraton Solo, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi lain: Pasar Klewer. Ini adalah tempat belanja paling legendaris di Solo. Lokasinya berada di barat keraton Solo, atau tepat di akses keluar Alun-alun Utara sebelah barat.  Boleh dikata bangunan pasar ini bersebelahan dengan alun-alun.

Pasar Klewer dua tahun terakhir menempati bangunan baru setelah terbakar pada 2014 lalu. Buat para pecinta batik, inilah surga perburuan batik. Selain menjual eceran, di sini banyak juragan batik yang menjual untuk kulakan. Tak heran jika suasana pasar ini begitu padat, karena pembeli satuan bersaing dengan pedagang yang mau beli dalam jumlah besar.

Jika tak ingin berdesakan di pasar, peminat batik bisa melanjutkan perjalanan ke arah barat. Kali ini perjalanan harus dilakukan dengan kendaraan bermotor karena lokasinya sekitar 3-4 kilometer dari alun-alun. Tujuannya adalah Laweyan. Ini adalah kampung batik.

Namun, tunggu dulu, jika setelah berkeliling Klewer waktunya pas dengan jam makan siang, ada satu pilihan kuliner legendaris di seputar pasar ini yang patut dicoba: Tengkleng Ibu Edi. Ini makanan seperti gulai kambing namun biasanya tanpa santan. Jikapun memakai, umumnya sangat tipis. Hampir tanpa memakai daging, tapi tulangan kambing dengan lemak yang mak nyuss. Bagi yang tak menyukai kambing, di pasar klewen terdapat satu lantai yang berisi jualan makanan.

Awalnya Tengkleng Bu Edi, yang mulai ada di Klewer sejak 1971, kiosnya berada di bawah Gapura Klewer. Tapi, sjak ada peraturan pedagang tidak boleh berjualan di bawah gapura Klewer, akhirnya Tengkleng Bu Edi pindah di Pendopo Taman arkir Pasar Klewer.

Dari Klewer, perjalanan berlanjut ke Laweyan. Lokasinya masih berada di seputaran Jalan Dr. Rajiman, ini adalah jalan terusan dari depan Pasar Klewer. Lurus ke arah barat.

Ada sejumlah outlet batik yang cukup besar di sepanjang Laweyan. Namun, jika punya cukup waktu, di belakang jalan besar ini terdapat sentra-sentra produksi batik. Rumah-rumah juragan sekaligus tempat produksinya. Jika ingin memesan dalam jumlah besar, kita bisa langsung ke sini.

Dari Laweyan, hari itu kami masih meneruskan perburuan batik dan sejarah Solo. Kami menuju Jalan Slamet Riyadi, tepatnya ke kawasan Sriwedari. Ini kawasan kebon binatang lama Solo. Sekarang sudah tidak lagi. Yang masih dipertahankan adalah gedung pertunjukan wayang orang Sriwedari pada malam hari

Tapi AgendaIndonesia tidak sedang mau bersantai nonton wayang. Siang itu, ada dua tujuan:  Museum benda-benda kuno peninggalan Kraton Surakarta dan Museum batik Danarhadi.

Sebagian benda-benda peninggalan Kraton Solo memang disimpan di Museum Radyapustaka, yang berada di Jalan Slamet Riyadi, tak jauh dari Taman Sriwedari. Jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari Keraton Surakarta. Tak cuma peninggalan kraton, di sini juga dikoleksi barang-barang arkeologi terkait kota Solo. Menarik sesungguhnya, sayangnya kurang terawat dengan baik. Namun lumayan untuk menambah pengetahuan.

Destinasi terakhir adalah Museum Batik Danarhadi. Tempatnya bisa dicapai dengan jalan kaki sekitar 5 menit dari Radyapustaka. Menjadi satu dengan butik milik merek batik terkenal itu. Tak harus membeli batik di sini untuk bisa menikmati perjalanan batik dari waktu ke waktu. Cukup membeli tiket masuk di meja kasir.

Sebuah pengalaman menarik, karena di sini kita bisa mempelajari beragam batik berikut motifnya. Pada masa lampau, penggunaan motif tertentu di kalangan bangsawan kraton. Bahkan ada motif batik yang hanya dipergunakan jika seorang bangsawan pria mendekati perempuan yang ditaksirnya. “Tanpa harus nembak, si perempuan tahu tamunya naksir dia,” kata pemandu di Museum Danarhadi.

Ia lantas juga bercerita ada berbedaan motif antara Solo dan Yogyakara, meskipun namanya mirip. Termasuk kepentingan dalam upacara tradisional. Di akhir tur, kita akan mendapat atraksi membatik. Baik tulis maupun batik cap.

Seharian AgendaIndonesia menikmati sejarah Solo dan batik. Kapan Anda mengagendakan main ke Solo?

*****

Hujan Locale di Sriwedari Nomor 7 Ubud

Hujan Locale di Ubud, Bali

Hujan Locale, ya nama restoran di kawasan Ubud, Gianyar, Bali ini memang demikian. Entahlah, adakah nama itu terinspirasi dari hujan yang cukup sering turun di kawasan Ubud, ataukah itu makna kiasan yang terdengar unik saja. Namun, ini bisa jadi pilihan untuk nongkrong di Ubud.

Hujan Locale di Ubud

Di tengah keramaian tak jauh dari Pasar Ubud,Bali, saya menemukan juga Jalan Sri Wedari. Tidak terlalu lebar, ukuran dua mobil. Yang saya cari ternyata tidak jauh dari mulut jalan. Berada di sisi kiri, saya pun melihat rumah lawas bertingkat dengan jendela yang terbuka. Ada tulisan jelas “hujan” yang begitu jelas di dindingnya dalam warna putih, kemudian di bagian bawah baru ada tulisan ‘Locale”, yang tidak terlalu tampak karena warna tulisannya cokelat, serupa dengan dinding.

Hujan Locale Ubud, suasana restonya

Hujan Locale, nama yang unik untuk sebuah restoran. Saya pun menerka menu yang akan disajikan. Ubud siang itu terbilang panas hawanya. Meski masih terhitung di musim penghujan. Staf resto yang ramah yang pertama memberi kesegaran, kemudian buah- buahan tropis yang menghiasi dinding dalam warna hitam-putih, interior yang klasik, juga tentu jendela-jendela yang lebar dan terbuka membuat saya segera melupakan udara panas yang menyergap.

Siang itu, tentu saya datang untuk makan siang. Bertemu dengan Dinar dari Sarong Group. Ia telah menunggu di lantai dua, ruangan terbuka dengan lampu-lampu klasik dan kursi rotan di bagian ujung berupa bar. Kehangatan khas lokal pun terasa.

Hujan Locale memang masih kreasi dari Chef Will Meyrick, juru masak yang gandrung berkeliling Asia, sudah tentunya di Indonesia, untuk mencari tahu hidangan asli setempat. Ia lantas mengolah hidangan orisinal dari berbagai daerah ini untuk menu spesial di restorannya. Hujan Locale salah satunya, dan yang satu ini ternyata benar-benar merupakan buah tangannya berkeliling Indonesia. Sebab, menunya mayoritas khas Nusantara.

Dipilih nama “hujan” karena kata ini bermakna pada kemakmuran, masa panen, keberuntungan. “Hujan Locale sebuah apresiasi terhadap para petani yang telah mendukung resto di bawah Sarong Group selama ini. Konsepnya Indonesia sekali,” ujar Dinar.

Pilihan menunya sangat lokal. Anda bisa mencicipi bakso dan bebek Madura, seperti yang saya nikmati siang itu. Bebek yang empuk dengan sambal hijau yang menambah nafsu makan. Diberi label Madura crispy duck with sambal mango sambal hijau ikan asin manis and lemon basil, sajian yang dipatok seharga Rp 150 ribu ini memang terasa segar karena paduan lengkap tersebut.

Masih banyak kreasi lain tentunya di restoran yang dibuka pada akhir 2014 ini. Doyan olahan dari Aceh? Silakan pilih ayam tangkap, ayam dalam balutan daun pandan. Tak hanya itu, ada pula olahan kari khas Aceh, seperti Acehnese curry of sea bass with tomato okra belimbing wuluh asam kandis and curry leaf, selain udang dengan kuah kari. Penggemar daging kambing, bisa mencicipi tengkleng cingcang ala Yogya. Sedangkan penyuka dapur Minang, di sini ada pilihan berupa rendang.

Untuk yang gemar sayuran, ada olahan hijau dengan nama stir fried Asian green alias kumpulan sayuran hijau yang ditumis. Diberi tempat berupa wajan hitam membuat sajian sederhana ini menjadi menarik. Olahan dari Bali tentunya juga tak ketinggalan, seperti Karangasem sambal udang yang lagi- lagi ditata berbeda karena disajikan dalam piring kaleng yang sudah somplak bagian pinggirnya.

Anda datang sekadar untuk ngobrol sambil ngemil? Jagung bakar yang telah dipipil dan disajikan dalam piring kaleng bisa jadi teman yang asik. Bila ingin yang rasa lokal dan dingin, coba kreasi minuman bersantan dari Chef Will Meyrick.

 Diberi label coco lychee crush, minuman seharga Rp 35 ribu ini tergolong unik karena merupakan perpaduan buah leci, lemon, dan santan. Pilihan lain yang berasal dari kelapa adalah mojito coconut, yang merupakan perpaduan rum, air kelapa, lemon, dan dua daun mint. Kelapa memang banyak memberi inspirasi sang juru masak.

Untuk penutup pun Chef Will tak ingin melepaskan ciri khas lokal. Lihat saja kreasinya berupa durian panacota with white sticky rice and vanila ice cream. Idenya kemungkinan dari Sumatera, 
di mana masyarakatnya terbiasa memadukan durian dengan ketan uli. Ehmm… ditambah es krim, tentu rasanya menjadi lebih segar. 


HUJAN LOCALE; Jalan Sri Wedari No 7, Ubud Gianyar, Bali

Operasional : Pukul 12.00-23.00

Rita N./Dok. TL

Tumpeng Menoreh, 24 Jam Menikmati 4 Gunung

Tumpeng Menoreh di Kulonprogo, Yogyakarta, jadi atraksi baru wisatawan. Nongkrong sambil menikmati 4 gunung. Foto-Dok. Tumpeng Menoreh

Tumpeng Menoreh di kawasan wisata Bukit Menoreh, Yogyakarta, adalah tempat menikmati setidaknya empat gunung dari satu tempat. Spot wisata ini merupakan kafe dan restoran yang menawarkan pemandangan perbukitan yang indah dengan latar belakang gunung-gunung di kawasan perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, seperti Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing.

Tumpeng Menoreh

Bukit Menoreh sendiri memang menjadi titik perbatasan antara Yogyakarta, tepatnya Kabupaten Kulonprogo, dan Jawa Tengah, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Purworejo. Selain dikenal dengan pemandangan indahnya, tempat ini juga menjadi saksi sejarah Perang Jawa melawan Belanda pada tahun 1825-1830 yang dipimpin Pangeran Diponegoro.

Tumpeng Menoreh di Kulonprogo, Yogyakarta, adalah tempat yang bisa menikmati setidaknya empat gunung di Yogya dan Jawa Tengah.
Puncak Tumpeng Menoreh untuk memandang ke 360 derajad. Foto: Dok. Tumpeng Menoreh

Salah satu titik terbaik untuk menikmati panorama Bukit Menoreh adalah Tumpeng Menoreh. Disebut demikian karena tempat ini dibangun heksagonal, bertumpuk dan mengerucut sampai ke puncaknya, mirip seperti nasi tumpeng. Setiap lantai terdapat gardu pandang dan di bagian atapnya terbuka, mirip seperti helipad.

Lokasi Tumpeng Menoreh berada cukup tinggi, di sekitar 950 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ditambah dengan sudut pandang penuh 360 derajat, sejauh mata memandang Anda dapat melihat hamparan hijau Bukit Menoreh berselimutkan awan, serta kebun teh Nglinggo di bawahnya.

Tempat ini dibuka pada Mei 2021, dengan diprakarsai oleh Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) Argo Inten Desa Ngargoretno, komunitas pemuda dan masyarakat Gelangprojo (Magelang-Kulonprogo-Purworejo), dan musisi Erix Soekamti, personel grup band asal Yogyakart Endank Soekamti.

Menurut Erix, filosofi di balik bangunan Tumpeng Menoreh terinspirasi dari fungsi nasi tumpeng dalam budaya Jawa, sebagai simbol rasa bersyukur dan doa mengharapkan kebaikan. Selain itu, adanya Tumpeng Menoreh merupakan wujud misinya untuk dapat membantu pemberdayaan pemuda dan masyarakat Gelangprojo, khususnya di sekitar Bukit Menoreh.

Atraksi utama Tumpeng Menoreh tentunya adalah sebagai kafe tempat berkumpul, berfoto dan bersantai sambil menikmati pemandangan asri, terlebih di saat sunrise dan sunset. Bangunannya pun terlihat apik dan menarik, terutama saat malam ketika lampu-lampu kecil menyala di sekelilingnya.

Namun, Tumpeng Menoreh juga dapat menjadi tempat bersantap pagi, siang atau malam yang unik. Dengan pilihan menu makanan seperti nasi gudeg, nasi rawon, nasi pecel, bakso, mi ayam dan lain lainnya, pengunjung bisa menikmati pengalaman breakfast, lunch maupun dinner sambil ditemani latar belakang panorama pegunungan beserta iklim sejuknya.

Tumpeng Menoreh dibangun untuk memberdayakan pemuda di sekitar kawasan itu.
Sajian kuliner di Tumpeng Menoreh. Foto: Dok. Tumpeng Menoreh

Tak hanya itu, sekitar 100 meter di bawah area tersebut, kini juga terdapat Tumpeng Ayu yang merupakan bagian dari area Tumpeng Menoreh dengan konsep indoor, berupa ruang lesehan. Untuk mengaksesnya disediakan semacam lift yang akan mengantar wisatawan naik dan turun.

Jika Anda berminat mampir, disarankan untuk lewat rute dari Yogyakarta, dikarenakan medan yang dilalui terbilang lebih mudah dan bersahabat. Dari arah Ringroad Barat, jalan menuju ke arah Godean sampai perempatan RSPKU Muhammadiyah, lalu belok kanan hingga perempatan Pasar Dekso.

Dari sana kemudian belok kiri dan ikuti jalan utama berkelok hingga bertemu gapura menuju kebun teh Nglinggo, di area dekat Pasar Plono. Dari situ, belok kanan dan ikuti jalan menanjak, sampai bertemu jalan masuk menuju Tumpeng Menoreh yang ada di sisi kiri jalan.

Jalan masuknya tergolong jalan setapak yang kecil, untuk mobil hanya cukup satu arah. Oleh karenanya akan ada petugas yang mengatur arus keluar masuk kendaraan. Jarak tempuh dari Yogyakarta total kira-kira sekitar 35 km, dengan estimasi waktu perjalanan kurang lebih satu jam.

Untuk bisa masuk, Anda akan dikenakan tarif tiket seharga Rp 50 ribu. Tarif ini termasuk Rp 25 ribu untuk tiket masuk sekaligus tambahan Rp 25 ribu berupa voucher makan yang bisa ditukarkan jika ingin menikmati hidangan makanan. Makanan apapun yang Anda ambil, tinggal menukarkan voucher ini. Kalau kurang tentu harus menambah.

Bila ingin turun ke area Tumpeng Ayu, pengunjung juga akan dikenakan Rp 50 ribu lagi. Ini juga sudah termasuk tiket terusan plus voucher makan. Secara umum, tarif masuknya tergolong worthed dan cukup masuk akal.

Sebelum ke sana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya, dengan posisinya di di area perbukitan yang tinggi, biasanya hawanya akan cukup dingin. Sehingga disarankan bagi pengunjung untuk menggunakan pakaian hangat. Pengunjung juga diharapkan selalu berhati-hati karena posisi bangunannya yang berada di tepi bukit yang cukup curam.

Selain itu, disarankan untuk datang pada musim kemarau, tepatnya sekitar bulan Juli-Oktober. Ini dikarenakan intensitas hujan yang lebih berkurang dan matahari lebih bersinar cerah. Disarankan pula untuk datang pada hari biasa, mengingat tempat ini tengah naik daun dan jumlah pengunjung biasanya melonjak pada akhir pekan dan hari libur.

Tumpeng Menoreh buka setiap hari selama 24 jam. Untuk info lebih lanjut, dapat menghubungi 081904221889, atau mengunjungi laman Instagram @tumpengmenoreh.

Tumpeng Menoreh

Jl. Kebun Teh Nglinggo, Kabupaten Kulonprogo

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Tauto Pekalongan, Ini 5 Warung Topnya

Tauto Pekalongan adalah masakan soto khas kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Tauto Pekalongan adalah kuliner soto versi kota batik di Jawa Tengah ini. Ia adalah kembangan dari masakan berkuah dari Tiongkok yang dibawa warganya yang berimigrasi ke Indonesia.

Tauto Pekalongan

Masakan tauto Pekalongan memang berasal dari nama makanan Tiongkok yang bernama Caudo. Makanan berkuah ini pertama kali dipopulerkan di wilayah Semarang, ibukota Jawa Tengah. Lambat laun orang Jawa menyebut caudo menjadi Soto yang berasal dari homofon tjaudo atau caudo.

Di Indonesia masakan ini berkembangan dan beradaptasi dengan lidah masyarakat setempat. Namanya pun kemudian mengalami penyesuaian sesuai lidah masyarakat setempat. Di Makassar masakan ini disebut coto, di Banyumas namanya sroto, sedangkan di Pekalongan disebut tauto.

Awalnya makanan ini memang hanya dikonsumsi oleh kalangan peranakan Tionghoa, tetapi seiring  waktu, warga lokal pun menjadikan makanan ini sebagai bagian dari kuliner mereka. Tak terkecuali masyarakat Pekalongan yang menikmati dan menyesuaikan olahan caudo ini dengan bumbu-bumbu khusus agar pas dengan lidah mereka.

Kota Pekalongan
Salah satu landmark kota Pekalongan. Foto; Dok DPMTPST

Dulunya, tauto Pekalongan dijajakan dengan dibopong atau dipikul para pedagang Tionghoa keluar-masuk kampung. Pesebaran soto di Nusantara memang tak lepas dari pengaruh para pedagang Tionghoa. Bukti antropologis menyebutkan bahwa soto sebagai sajian berkuah yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa ke Jawa Tengah sekitar pertengahan abad ke-18 Masehi.

Masakan ini mulai menyebar ketika orang-orang Jawa yang pada saat itu menjadi para pembantu bagi penjual caudo ikut keliling memikul dagangan. Seiring berkembangnya zaman karena tidak ada generasi keturunan Tionghoa yang mau meneruskan usaha ini, akhirnya warga pribumi berinisiatif untuk meneruskan usaha kuliner yang khas ini.

Kekhasan tauto yang diracik masyarakat lokal  Pekalongan adalah dengan menggunakan mie putih atau soun. Ini kemudian ditambah bumbu sambal goreng (tauco) yang berbahan dasar kedelai serta menggunakan bahan daging kerbau, bukan daging sapi

Tauco Fermentasi Kedelai shutterstock
Taudo adalah fermentasi dari kedelai. Foto: shutterstock

Tauto Pekalongan hadir di setiap sudut wilayah kota dan kabupaten yang dikenal sebagai salah satu sentra batik ini. Wisatwan dapat menemukannya di warung-warung pinggiran jalan pantura, pusat kota, ataupun pedagang keliling dari kampung ke kampung yang menjajakan soto yang unik dan khas ini.

Hampir semua lidah masyarakat Pekalongan, baik dari kalangan elit pejabat, artis maupun masyarakat non-elite, baik etnis Jawa, Arab, maupun Tionghoa yang tinggal di wilayah Pekalongan sangat menerima dan menyukai soto yang diramu dengan bumbu khasnya yakni tauco.
Bila mudik lewat Pekalongan, Jawa Tengah, tak salah jika mampir sebentar untuk mencicipi soto tauto Pekalongan sebagai pilihan untuk berwisata kuliner. Soto dengan pilihan daging kerbau, sapi atau ayam ini diberi bumbu khas yaitu penggunaan tauco. Berikut lima warung tauto Pekalongan yang bisa menjadi pertimbangan.
Tauto Klego Haji Kunawi

Warung H. Kunawi adalah pilihan yang mantap jika pelancong mencari Tauto Pekalongan. Bumbu tauco pada kuah begitu terasa dan kental. Apalagi saat wisatawan menikmatinya dengan irisan tempe goreng.

Pengunjung biasanya akan mendapatkan satu mangkuk tauto ditambah dengan sepiring nasi. Segera nikmati selagi masih hangat. Soal tempat memang tidak terlalu luas, namun cukup bersih dan nyaman.

Tauto Klego Haji Kunawi;  Klego Gang 5, Pekalongan Timur, Kota Pekalongan
Warung Tauto Pak Tjarlam

Di sekitaran Pasar Senggol Pekalongan ada warung tauto yang legendaris. Pemiliknya mengaku jika tempat jualannya itu telah buka sejak tahun 60-an. Pengunjung bisa menyebutnya sebagai Warung Pak Tjarlam.

Sebelumnya warung ini ada di salah satu sudut Alun-Alun Pekalongan, namun saat ini pindah ke dekat Pasar Senggol. Kepemilikan diwariskan pada generasi ke dua, yaitu anaknya yang bernama Amat. Kalau soal rasa sudah jelas enak.Terbukti Tauto ini masih tetap eksis hingga sekarang.

Warung Tauto Pak Tjarlam, Kios Pasar Senggol Sugih Waras, Jalan Dr Cipto, Kelurahan Kauman, Kota Pekalongan

Sambal Tauco shuterstock
Sambal tauco. Foto: shutterstock


Warung Tauto Bang Dul

Yang juga ada di urutan pertama untuk dipilih untuk menikmati tauto Pekalongan adalah Bang Dul. Ini memang menjadi salah satu kuliner legendaris di Kabupaten Pekalongan, dan menjadi tempat tauto paling favorit di Kabupaten Pekalongan. Di warung Tauto Bang Dul pengunjung bisa memilih ingin menggunakan campuran daging sapi, daging ayam, ataupun jeroan. Untuk rasa memang Soto Tauto Bang Dul sangat lezat, gurih, dan manis menjadi perpaduan yang sempurna saat disantap.

Warung Tauto Bang Dul; Jalan Doktor Sutomo, Gamer, Kabupaten Pekalongan.

Kedai Tauto Rochmani

Tauto Rochmani yang berada di kawasan Mataram, Pekalongan, ini memang ada di lokasi strategis, dan berada dipinggir jalan. Tempatnya juga luas, cocok untuk yang lagi cari tempat makan bersama teman-teman, ataupun keluarga. Warung Rochmani ini memang menyajikan tauto yang memiliki rasa gurih, manis, dan dagingnya lembut. Harga yang ditawarkanpun bersahabat, cocok untuk yang cari kuliner enak namun harganya bersahabat di Kabupaten Pekalongan.

Kedai Tauto Rochmani; Jalan Kurinci No.40, Bendan, Kabupaten Pekalongan.

Tauto PPIP Bu Bawon

Masakan tauto PPIP Bu Bawon yang terdiri dari daging ayam yang lembut, kuah kaldu gurih dengan campuran tauco, memang sangat khas. Rasanya agak berbeda dengan tauto lainnya di Kabupaten Pekalongan. Karena Tauto PPIP Bu Bawon memiliki rasa yang gurih dan sangat lezat dinikmati dengan nasi atau lontong.

Warung Tauto PPIP Bu Bawon ini bolehlah menjadi pilihan untuk dicicipi saat berada di Kabupaten Pekalongan. Kedai Bu Bawon ini selalu ramai dengan pengunjung setiap harinya.

Warung Tauto PPIP Bu Bawon; Jalan Dokter Wahidin Nomor 83, Noyontaan, Pekalongan

agendaIndonesia

*****

Sembalun Di Kaki Rinjani, Di 1156 Meter

Sembalun di Kaki Rinjani sempat menjadi lokasi film Leher Angsa. Foto; Dok Alenia Pictures

Sembalun di kaki Rinjani rasanya tidaklah asing bagi para pendaki gunung, tapi ungkin mmasih baru buat wisatawan biasa. Padahal desa Sembalun pernah muncul beberapa saat dalam sebuah scene film Leher Angsa produksi Alenia Picture sekitar 8 tahun lalu.

Sembalun di Kaki Rinjani

Papan yang mencantumkan keterangan nama Desa Sembalun, di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, muncul beberapa saat setelah layar film Leher Angsa dibuka. Sebuah pemandanagan yang indah, tak salah Alenia Picture memilih desa di kaki Gunung Rinjani tersebut untuk lokasi film mereka. Oya, bagi yang belum menyaksikan film tersebut, ia bercerita tentang anak sekolah dasar bernama Aswin dan tiga sahabatnya. Kisah Aswin di rumah dan di sekolah dikaitkan dengan kebiasaan penduduk membuang hajat di kali atau sungai serta jamban leher angsa, yang hanya dimiliki sang kepala desa.

Film Leher Angsa dikemas sebagai tayangan liburan yang segar dan informatif. Soal jamban, yang bagi orang-orang di perkotaan bukan masalah besar, menjadi hal pelik untuk penduduk desa tersebut. Selain itu, film ini mengisahkan kehidupan orang tua Aswin, tokoh utama film tersebut.

Seperti film-film lain yang diproduksi Alenia Pictures, karya ke tujuh ini pun menyuguhkan keindahan alam Indonesia. Seringnya Indonesai Bagian Timur. Dari desa yang asri, ladang di atas bukit, deretan perbukitan, hingga tentu saja sungai yang biasa menjadi tempat warga buang hajat. Pemandangan serba hijau itu berada pada ketinggian 1.156 meter di atas permukaan laut. Desa berhawa sejuk ini juga dikelilingi tebing-tebing batu.

Sembalun di kaki Rinjani merupakan salah satu jalur menuju puncak gunung Rinjani.
Desa Sembalun sering menjadi rute pilihan para pendaki gunung Rinjani. Foto: Dok. Alenia Pictures

Bagi para pendaki gunung, Desa Sembalun tidak asing lagi. Apalagi bagi mereka yang memang pernah atau berencana mendaki Gunung Rinjani, yang puncaknya terletak pada ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut. Sembalun terbagi atas dua desa, yakni Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung.

Nah, yang menjadi pintu pendakian biasanya adalah Sembalun Lawang. Berada di timur Gunung Rinjani, desa ini merupakan lokasi favorit para pendaki untuk memulai perjalanan menuju puncak gunung tertinggi kedua di Indonesia itu ataupun perjalanan ke Danau Segara Anak. Selain Sembalun Lawang, para pendaki mempunyai alternatif lain untuk gerbang pendakian, yakni Desa Senaru, yang lebih populer untuk wisatawan yang ingin menikmati beragam obyek wisata di sekitar kaki Gunung Rinjani. Desa ini sekaligus menjadi pintu masuk menuju Danau Segara Anak.

Menunjukkan keindahan alam pegunungan, Leher Angsa berbeda denganfilm 5 Cm,yang bercerita tentang pendakian Gunung Semeru. Tidak ada detail tentang Gunung Rinjani dalam milik Alenia ini, sehingga tidak membikin orang langsung terpancing minatnya untuk menjelajahi gunung itu. Tak seperti yang terjadi dengan Gunung Semeru beberapa saat setelah pemutaran film 5 Cm.

Namun setidaknya film ini menambah wawasan pelancong, bahwa Lombok tidak hanya memiliki pantai dan gili atau pulau kecil yang selama ini banyak diburu turis lokal dan asing. Ada pilihan lain, yakni kawasan berudara sejuk dengan hutan, kebun, serta tradisi yang masih terjaga. Baik di Sembalun maupun Senaru, terdapat beberapa homestay yang bisa menjadi pilihan para pelancong dan pendaki.

Para turis bisa menjajal trekking di sekitar Sembalun atau Senaru. Trekking di Sembalun bisa dimulai dari Senggigi, kawasan wisata paling populer di Pulau Lombok. Di kawasan ini juga paling mudah ditemukan hotel berbintang. Dari Senggigi, butuh waktu sekitar tiga jam untuk mencapai Sembalun, dengan melintasi berbagai desa. Di Sembalun sendiri hanya perlu waktu dua jam untuk mengelilingi ladang serta menonton para petani memanen kol, kentang, bawang putih, dan jenis tanaman lain.

Selama perjalanan, tentu Anda bisa menghirup udara segar dan menikmati keindahan Gunung Rinjani jika tidak sedang tertutup awan, selain bukit-bukit di sekitarnya. Dari kejauhan, Anda bisa melihat hamparan laut. Jika mau, Anda pun boleh mampir ke desa adat yang masih dipenuhi rumah-rumah tradisional dan mempertahankan tradisi.

Di Senaru, tersedia pilihan obyek wisata yang lebih beragam. Bagi yang ingin sekadar berwisata, lebih asyik singgah di Senaru. Anda bisa menikmati suasana desa adat dan Masjid Wetu Telu di Desa Bayan, sebelum menginjak Senaru.

Selain keindahan alam, ada dua air terjun yang menggoda di Senaru, yakni Sendang Gile dan Tiu Kelep. Bila berbicara dengan penduduk Desa Senaru, terutama soal air terjun ini, mereka pasti akan berkisah tentang pengambilan gambar saat pembuatan video clip tembang Hipnotis,yang dibawakan penyanyi Indah Dewi Pertiwi. Tampaknya, warga cukup terkesima dengan kerepotan para kru dalam pembuatan video klip tersebut. Sayang, air terjun di Lombok Utara ini, serta deretan pantai di Lombok Barat, hanya muncul sekilas di awal video tersebut.

Rita N./TL/alenia pictures/agendaIndonesia

*****

Kuliner di Pantai Seger, 40 Kilo dari Mataram

Kuliner di Pantai Seger di Spice Market Novotel

Kuliner di pantai Seger di kawasan Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, bisa menjadi pilihan segar selama jalan-jalan di Lombok. Meskipun berada di dalam hotel dengan posisi di pinggir pantai tak menghalangi pengunjung non-tamu bersantap sambil menikmati pantai.

Kuliner di Pantai Seger

Bangunan tradisional khas Lombok yang terbuka itu terasa hangat me- nyambut. Beratap ilalang kering dengan dominasi kayu dalam interiornya, termasuk lantainya. Setelah menikmati nuansa cokelat di sekeliling, bukan sajian yang pertama saya lirik. Melainkan pasir putih di depan restoran dan debur ombak yang nyaring terdengar. Pantai Putri Nyale atau Seger memang ada di depan mata. Pantai ini berada tepat di sebelah Pantai Kuta, Lombok Tengah.

Kala pagi, kehangatan terasa. Ketika bergeser ke siang, panas agak terasa menyengat, khas hawai pantai. Namun sepoi-sepoi angin membuat duduk di kursi-kursi kayu tetap terasa nyaman. Teguklah Fruit Punch atau Virgin Mochito nan segar untuk membuat tubuh adem.

Malam hari tentunya akan terasa lebih romantis. Menikmati sajian dengan iringan debur ombak. Pilihan atmosfer yang berbeda-beda memang bisa dirasakan di restoran di Novotel Lombok Resort & Villas, yang berada di Mandalika Resort Pantai Putri Nyale, Kuta, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ini. Tak perlu menjadi tamu hotel untuk menikmati sajian mereka.

Berada tak jauh dari bibir pantai,resto ini mempunyai suguhan istimewa yang alami. Khas daerah pesisir pulau ini; pasir putih yang lembut, dengan perbukitan di sekelilingnya. Untuk sajian di meja makannya, tak kalah beragam. Sajian lokal, tentunya mendapat tempat khusus. Authentic Ayam Taliwang, salah satunya. Paduan ayam panggang dengan nasi dan sayuran ini dipatok Rp 140 ribu. Tak ada gambar cabai yang menjadi simbol pedas dalam menu. Saat dicicipi, memang tak ada rasa menyengat. Rupanya, soal pedas tergantung permintaan. Maklum, sebagian besar tamu datang dari mancanegara. Namun bumbu khas Lombok melekat kental pada ayam tersebut.

Dengan mengusung nama Spice Market, beragam suguhan Indonesia yang kaya rempah pun menjadi pilihan. Hidangan juara dunia dari Sumatera Barat pun bisa dicicipi di sini. Padang’s Beef Rendang yang dihargai Rp 155 ribu itu cukup mengenyangkan karena mengandung 540 kalori. Rasa rendang aslinya tetap terasa kuat. Di tepi laut, sering kali yang dicari orang adalah menu berbahan ikan laut. Doyan ikan bakar? Ada pilihan Grilled Mahi Mahi dengan sambal matah atau Grilled Baby Fish dengan sambal dabu-dabu yang terasa segar.

kuliner di pantai Seger Lombok Tengah, Spice Market Lombok

Sate yang menjadi hidangan khas Indonesia pun masuk daftar menu. Sate kambing, ayam, dan sapi dipadu dalam sebuah wadah dengan kuah kacangnya plus asinan. Penggemar bebek bisa mencicipi Bebek Betutu yang menjadi khas pulau di seberang Lombok. Semua sajian lokal dipadu dengan nasi. Ikan tawar pun ada dalam daftar menu, di antaranya Ikan Nila Goreng Lalapan, yang dibanderol Rp 95 ribu.

Untuk yang gemar sayuran, ada plecing kangkung, gado-gado Lombok, Seafood Nyale Beach Salad, serta salad lain, seperti Thai Chicken Noodle Salad, Papaya Salad, Green Garden Salad, dan lain-lain. Sebagian tamu yang da- tang adalah keluarga. Suguhan pun ada yang dibuat untuk kelompok anak-anak. Ada pilihan sandwich dan burger, dengan isi beragam, mulai ikan, daging sapi, ayam, hingga kambing. Selain itu, ada pizza dengan berbagai topping.


Di malam hari, ingin yang berkuah dan hangat, bisa mencicipi Lombok Oxtail Soup, Soto Ayam, Thai Tom Yam Goong yang terasa pedasnya, Wonton Soup, atau Cream of Mushroom Soup. Selain itu, tersedia beragam steak. Terlihat memang ada beberapa tamu yang berpasangan. Berada di pulau yang menjadi destinasi halal ini, menurut seorang sales & marketing hotel bintang empat ini, hidangan yang tersedia merupakan sajian halal.

Lantas, untuk tamu yang tinggal dalam jangka panjang pun, tak bakal dibikin bosan dengan pilihan hidang- annya. “Setiap hari dibuat tema khusus untuk buffet di malam hari. Juga ada hiburan spesial,” katanya. Seperti pada hari Minggu, ditawarkan Seafood Beach Barbeque dengan Romantic Beach Bonfire. Pada Rabu, disajikan Italian Buffet dengan hiburan Novotel Band, sedangkan Selasa, prasmanan berupa Unlimited BBQ dengan suguhan budaya tari sasak Lombok.

Bahkan, ia menyebutkan, untuk membuat kemeriahan di restoran, karyawan hotel dan restoran pun kadang dilibatkan. Misalnya, pada Jumat, selain disajikan hidangan prasmanan berupa All American Buffet, dihadirkan hiburan dari para karyawan yang dikemas sebuah acara pencarian bakat. Dibikin meriah sehingga tamu dan karyawan sama-sama merasakan kegembiraan.

Spice Market Restaurant

Novotel Lombok Resort & Villas Mandalika Resort Pantai Putri Nyale Kuta, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat

Operasional

Sarapan: pukul 07.00-10.30; Makan Siang: pukul 12.00-17.00; Makan Malam: pukul 18.30-20.30

Kapasitas

120 orang

Rita N./Frann/Dok. TL

Gedong Songo, 9 Candi di Gunung Ungaran

Gedong Songo, kompleks 9 candi Hindu di Gunung Ungaran

Gedong Songo, kompleks 9 candi bersembunyi dalam kesejukan dan kehijauan di Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Terletak di ketinggian pegunungan, kompleks candi ini merupakan candi-candi dari agama Hindu.

Gedong Songo

 Menuju ke kompleks Candi Gedong Songo di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, biasanya dicapai dari kota Semarang. Selalau disarankan untuk berangkat pagi-pagi, bahkan sebisa mungkin sesudah subuh. Atau setidaknya sesudah sarapan. Ini dilakukan untuk menghindari kemacetan yang mengular, terutama di musim liburan. Sesungguhnya jarak dari pusat Kota Semarang menuju candi ini hanya sekitar 40 kilometer, tak sampai satu jam berkendara. Terlebih saat ini sudah ada jalan tol ke arah Solo, dan kita bisa exit di Ungaran,

 Candi Gedong Songo terletak di lereng Gunung Ungaran, sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Kebun-kebun sayur bertebaran di kanan-kiri jalan. Bunga-bunga hias pun tumbuh subur. Selama perjalanan, beberapa kali terlihat petani sayur yang siap menjajakan hasil panen. Sawi, bawang daun, dan tomat tampak segar di dalam karung-karung. Meskipun letaknya tak terlalu tinggi, suhu pada pagi hari umumnya tercatat sekitar 17-18 derajat Celsius. Dingin dan sejuk.

Gedong Songo merupakan candi Hindu yang awalnya terditi dari sembilan kompleks candi.
Kompleks candi Gedong Songo di kawasan Gunung Unharan, Kabupaten Semarang. Foto: Dok. shutterstock

 Dalam bahasa Jawa, Gedong Songo berarti Sembilan Gedung. Dinamakan demikian arena candi-candi Hindu di sini dahulu terpisah-pisah dalam sembilan kompleks. Saat ini pengunjung hanya bisa menikmati lima kompleks candi, karena empat lainnya hanya tinggal puing.

 Dari segi ukuran, candi-candi di sini tak terlalu besar dan lebih mirip dengan Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo. Karena kesamaan ukuran dan topografi alam, banyak orang menyebut Candi Gedong Songo “bersaudara” dengan Candi Arjuna. Dibangun pada masa Dinasti Sanjaya, sekitar abad ke-8, relief dewa-dewi di dinding batu candi ini sudah tak terlalu kelihatan akibat dimakan usia. Meskipun demikian, Candi Gedong Songo masih memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan, terutama mereka yang jenuh tersengat terik mentari di Semarang dan sekitarnya.

 Dari kompleks Candi Gedong pertama hingga kelima, pengunjung bisa melangkah di jalan setapak yang telah disediakan dengan rapi oleh pengelola. Candi Gedong pertama tercatat berdiri pada ketinggian 1.208 meter di atas permukaan laut. Semakin lama memang semakin menanjak dan menguras tenaga, tapi wisatawan dapat beristirahat di warung-warung yang ada di tengah rimbunnya hutan pinus. Kita bisa menghangatkan diri dengan segelas teh panas dan sepiring mi rebus, sembari menikmati pemandangan kebun lombok, kubis, dan sawi yang berada di sekitar candi.

 Candi Gedong kelima berada di area tertinggi, yaitu 1.300 meter di atas permukaan laut. Dari atas sini, pengunjung bisa melihat Candi Gedong ketiga, yang tampak cantik berlatar belakang hutan pinus penuh kabut. Masing-masing kompleks candi memiliki jumlah candi berbeda-beda, walaupun hanya satu hingga tiga candi yang masih berdiri dan sisanya berupa puing-puing. Candi Gedong keempat, misalnya, seharusnya terdiri atas sembilan candi. Bisa dibayangkan ramainya Candi Hindu di lereng Gunung Ungaran ini belasan abad lalu. Apabila dijumlahkan, mungkin saja terdapat puluhan candi di kompleks Gedong Songo ini.

 Tak banyak kompleks Candi di Jawa yang lengkap dengan suguhan pemandangan alam dataran tinggi ditambah embusan angin sejuk seperti di Gedong Songo. Di antara kompleks Candi Gedong ketiga dan keempat, pengunjung akan melewati sumber air panas belerang yang dikelola menjadi pemandian mini. Konon, airnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit, seperti jerawat dan gatal-gatal karena jamur.

Gedong Songo merupakan kompleks candi agama Hindu. Awalnya ada 9 kompleks candi, kini tinggal 5 yang masih utuh.
Naik kuda salah satu opsi untuk berkeliling ke semua kompleks candi Gedong Songo. Foto: Dok. shutterstock

 Bagi yang tak kuat berjalan jauh dan menanjak, ada opsi menggunakan jasa naik kuda. Tarifnya sekitar Rp 100 ribu untuk rute Candi Gedong pertama hingga terakhir, lantas kembali ke pintu masuk. Pengelolaan sumber daya manusia dan sumber daya alam di Candi Gedong Songo lumayan bagus. Taman-taman di kompleks candi sangat terawat, begitu pula area warung makan dan penjaja suvenir. Untuk kuliner yang populer di sini, pengunjung bisa menyantap sate kelinci. Hidangan ini bisa ditemukan pada hampir semua warung di Gedong Songo.

 Setelah puas menikmati kompleks Candi ke lima, pengunjung bisa kembali turun atau menikmati makan siang di area kompleks. Warung yang mana sesuai selera.

Waktu kunjung pada pagi hari juga membawa keunikan tersendiri. Perjalanan dari candi ke candi kadang akan diltemani kabut tebal, ini malah menambah efek mistis cagar budaya tua tersebut. Selain itu, di akhir pekan, semakin siang pengunjung yang datang semakin membeludak. Beberapa keluarga menyewa tikar dan asyik piknik di taman-taman candi. Untuk sekadar memarkir mobil pun pengunjung harus sabar menunggu ada tempat kosong setelah mobil lain meninggalkan area. Karena itu, datang sepagi mungkin adalah tips terbaik menunjungi Gedong Songo.

TL/agendaIndonesia

*****

Toko Oen Semarang, Nostalgia 90 Tahun

Toko Oen Semarang adalah kulinari peninggalan zaman Belanda.

Toko Oen Semarang hingga kini masih menjadi salah satu tempat klangenan bagi warga Semarang dan para pelancong yang datang berlibur. Hingga kini di usianya yang sekitar 90 tahun. Usaha keluarga turun temurun ini pun masih menawarkan hidangan otentik dengan nuansa kolonial yang kental.

Toko Oen Semarang

Sejatinya, meski bernama Toko Oen, tempat ini merupakan kedai makan yang awalnya menjajakan aneka kudapan seperti es krim, roti-rotian dan kue kering. Seiring berjalan waktu, kini mereka juga menawarkan ragam masakan Indonesia, Belanda dan Tiongkok.

Yang unik lagi, meski kini identik sebagai spot kuliner Semarang, namun toko ini justru muncul pertama kali di Yogyakarta pada 1910. Usaha ini diprakarsai oleh sepasang suami istri, Oen Tjoen Hok dan Liem Gien Nio.

Mulanya, mereka berjualan kudapan seperti es krim, kue kering dan aneka olahan roti yang saat itu disukai oleh orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia. Nama ‘Oen’ sendiri berasal dari panggilan mereka sehari-hari, opa dan oma Oen, dari istilah Belanda untuk yang ditetuakan.

Gerai Kue kue Kering IG Toko Oen
Toko Oen Semarang dengan gerai kue-kue keringnya. Foto: IG Toko Oen

Karena semakin banyak pelanggan dan bisnis semakin maju, belakangan mereka juga menjajakan beragam makanan besar ala Indonesia, Belanda dan Tiongkok. Tak hanya itu, mereka kemudian membuka beberapa cabang di kota-kota lain.

Cabang pertama mereka dibuka di Jakarta pada 1934, dan kemudian di Malang sekitar dua tahun setelahnya. Tak lama, mereka juga membuka cabang di Semarang setelah membeli gedung restoran milik seorang pengusaha asal Inggris, yang terletak di jalan Pemuda.

Toko terakhir itulah yang kemudian terus menjadi usaha keluarga dan sudah dikelola oleh generasi ke tiga hingga kini. Bahkan, Toko Oen Semarang bisa dikatakan sebagai salah satu usaha kuliner milik keluarga pribadi yang tertua di Indonesia.

Pun demikian, usaha ini bukannya tanpa pasang surut. Toko di Yogyakarta sudah tutup sejak 1937 agar berfokus pada tiga cabang baru, sementara pada 1973 cabang di Jakarta akhirnya dijual untuk dijadikan gedung perkantoran bank ABN (Algemene Bank Nederlands).

Toko cabang di Malang kemudian turut dijual pada 1990. Rencana pembangunan ulang dilarang oleh pemerintah kota Malang, dengan alasan gedung tersebut dianggap sebagai salah satu cagar budaya penting di kota apel itu.

Belakangan gedung tersebut justru digunakan kembali sebagai kedai makanan seperti semula, dan juga menggunakan nama ‘Oen’. Namun yang perlu diingat, toko ini sudah tidak lagi menjadi bagian dari usaha keluarga toko Oen yang asli.

Kendati begitu, lewat Oen Foundation yang merupakan lembaga pelestarian cagar budaya era kolonial di Indonesia, sekaligus perwakilan toko Oen yang asli, kemudian membolehkan usaha tersebut berjalan. Syaratnya, gedung beserta detail arsitekturnya tetap dipertahankan.

Bisa dibilang, otentisitas toko Oen Semarang lantas menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjungnya. Pelanggannya pun beragam, mulai dari warga lokal Semarang, hingga wisatawan lokal, mancanegara, serta mereka yang pulang kampung dan ingin bernostalgia.

Toko oen poffertjes
Poffertjes atau apem Belanda yang khas di resto ini. Foto: IG Toko Oen

Secara umum, menu yang ditawarkan masih sama sejak dulu dan terus dipertahankan. Menu makanan ringan seperti poffertjes, bitterballen, kroket, risoles dan lumpia masih jadi pilihan favorit bagi pengunjung yang sekedar ingin kudapan ringan sambil menikmati suasana.

Untuk yang ingin makan besar, tersedia menu utama dari dalam dan luar negeri, utamanya masakan otentik Belanda dan Tiongkok. Semisal chicken cream soup, kekian goreng, kit lian hai (udang goreng saus tomat), huzarensla (salad daging ala Belanda), aneka bistik, dan lainnya.

Ragam jenis es krimnya juga sayang untuk dilewatkan. Beberapa menu es krim yang cukup populer di sini misalnya napolitaine, chipolata, tutti frutti, mocca dan nutella nougatine, vruchten sorbet, tiramisu, rum raisin, kopyor, dan lain sebagainya.

Yang cukup unik, es krim di toko Oen Semarang hingga kini masih dibuat menggunakan mesin pembuat es krim dari Italia, yang konon sudah ada sejak 1920-an. Serta sebagai catatan, beberapa varian seperti rum raisin juga mengandung alkohol.

Toko Oen Semarang Ice Cream IG Toko Oen
Ice Cream Toko Oen masih dibuat dengan mesin Italia. Foto: IG Toko Oen

Selain itu, pengunjung juga bisa memesan es krim dalam ukuran satu liter dengan berbagai pilihan rasa untuk disantap beramai-ramai. Dan ada pula opsi untuk memesan es krim yang dipadu dengan poffertjes atau pannekoek.

Last but not least, mereka juga masih menawarkan aneka kue kering yang juga cocok sebagai oleh-oleh. Strawberry sprits, chocolate sprits, vanilla sprits, soes kering, kaasstengel, lidah kucing, ananas dan boterkrantjes merupakan beberapa kue kering favorit.

Setiap kue kering tersebut kemudian ditampilkan dalam jejeran toples dari kaca yang berukuran cukup besar. Pengunjung dapat melihat-lihat sambil mencicipi berbagai jenis kue kering yang beberapa di antaranya sudah mulai jarang dijual dan sulit untuk dicari.

Untuk ukuran restoran otentik, harga menunya pun terbilang cukup reasonable. Menu makanan ringan seperti poffertjes, bitterballen, risoles, kroket dan lumpia harganya berkisar dari Rp 17 ribu hingga Rp 35 ribu.

Kemudian untuk menu-menu seperti sup, salad, serta masakan Indonesia dan Tiongkok rata-rata berada di kisaran Rp 30 ribu-an sampai Rp 60 ribu-an. Sedangkan aneka ragam bistik dan bebakaran barbecue harganya di atas Rp 100 ribu.

Adapun untuk harga es krim berkisar dari Rp 20 ribu hingga Rp 45 ribu. Kalau ingin memesan es krim dengan poffertjes atau pannekoek harganya Rp 40 ribu. Sementara untuk es krim ukuran satu liter dijual mulai dari Rp 300 sampai 375 ribu, tergantung dari pilihan rasanya.

Selain dari beragam pilihan makanan otentik tersebut, daya tarik terbesar toko Oen Semarang tentulah nuansa kolonialnya yang kuat. Selain karena bangunannya yang lawas masih dipertahankan, dekorasi serta ornamen yang digunakan di dalam juga semakin menguatkan vibe tersebut.

Terdapat beragam barang-barang antik, foto-foto lama serta furnitur dari kayu dan rotan yang menampilkan kearifan lokal tempo dulu. Cocok bagi mereka yang ingin klangenan bersama keluarga dan teman, atau mereka yang ingin sekedar merasakan suasana ala masa kolonial.

Toko Oen Semarang biasa buka setiap hari dari jam 10.00 hingga jam 22.00. Yang menarik, umumnya saat ini toko Oen lebih ramai dikunjungi saat jam makan siang, ketimbang pada jam makan malam. Kala sore pun terkadang cukup ramai, utamanya mereka yang hanya ingin bersantai sambil ngemil.

Toko Oen Semarang

Jl. Pemuda no. 52, Semarang

Telp. (024) 3541683

Instagram: tokooen

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Wisata Ngopi, Ini Dia 5 Kampung Kopinya

Wisata ngopi bisa dipilih untuk yang menikmati liburan sambil mendapat pengetahuan. Foto: shutterstock

Wisata ngopi atau jalan-jalan dengan tujuan menikmati sajian kopi yang dihasilkan di suatu daerah semakin popular di kalangan wisatawan Indonesia. Orang menyebutnya wisata tematik.  

Wisata Ngopi

Tak hanya kopi sesungguhnya, wisata dengan tema-tema tertentu ini sudah cukup lama menjadi tren yang terus berkembang di banyak negara. Indonesia termasuk salah satu negara yang akan menerapkan wisata tematik sebagai strategi untuk mengenalkan dan mengembangkan produk-produk wisata di daerah. Salah satunya produk kopi.

Jika melihat potensi wisata yang ada di kampung-kampung dan perkebunan di Indonesia, wisata tematik adalah pilihan yang menarik untuk menikmati liburan akhir pekan. Salah satu yang bisa dipilih adalah wisata ngopi.

Wisata ngopi bisa belajar mulsai dari memilih kopi yang sudah matang dan memetiknya.
Memetik biji kopi langsung di perkebunan. Foto: shutterstock

Wisata ngopi dan wisata tematik lain, bisa teh atau batik, atau belajar bermain gamelan, bisa menjadi trademark wisata Indonesia. Wisatawan tidak hanya menikmati kopi dari tempat asalnya saja, melainkan sambil menikmati suasana pegunungan, coffee plantation, aktivitas panen, bean roasting, hingga mempelajari sejarah dan budaya daerah tersebut.

Pada akhirnya wisata tematik kopi diharapkan dapat memberikan pengalaman baru bagi wisatawan saat menikmati kopi khas Indonesia. Negeri dengan daerah-daerah yang telah menerapkan dan mengembangkan komoditasnya sebagai tema wisata. Untuk wisata ngopi ini ada beberapa di desa atau kampung yang bisa dipilih untuk menghabiskan liburannya.

Desa Catur Bali

Desa Catur yang juga desa wisata merupakan salah satu daerah yang telah mengembangkan wisata ngopi. Berlokasi di Kintamani, Desa Catur memiliki keindahan alam pedesaan yang sangat asri.

Menjadi salah satu sentra perkebunan kopi arabika, tentu tidak heran jika kopi menjadi salah satu produk unggulan dari Desa Catur. Tidak main-main, bahkan desa wisata satu ini dikenal sebagai salah satu desa penghasil kopi Kintamani terbaik.

Selain menikmati kopi, di sini pengunjung juga bisa menikmati keindahan alam khas Kintamani yang masih sangat asri. Sekaligus wisata edukasi, seperti cara membudidayakan tanaman kopi hingga ke proses panennya.

Bali Pulina

Selain Kintamani, Bali juga punya wisata ngopi lain yang bisa dikunjungi, yaitu Bali Pulina. Tempat ini menawarkan wisata kopi khususnya Kopi Luwak. Bali Pulina terletak kurang lebih tujuh kilometer sebelah utara Ubud, lebih tepatnya di Desa Pujung Kelod, Tegallalang, Kabupaten Gianyar.

Ngopi luwak di Tegallalang Bali
Kopi luwak di Tegallalang, Bali. Foto: TL

Di Bali Pulina wisatawan akan memasuki perkebunan kopi dan belajar mengenal proses pembuatan Kopi Luwak secara tradisional hingga menghasilkan cita rasa kopi yang aromatik. Berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (mdpl), jangan heran jika suhu rata-rata di sana bisa mencapai 24 derajat celcius.

Jelas hal ini menjadi perpaduan yang pas, cuaca sejuk dan kopi hangat jadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ditambah lagi pemandangan area persawahan terasering yang menyejukkan mata.

Desa Mesastila Magelang di Jawa Tengah

Selain Bali, wisatawan bisa berkunjung ke Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Magelang. Siapa mengira, ternyata Magelang memiliki coffee plantation yang tentunya wajib dikunjungi bagi para penikmat kopi.

Salah satunya adalah Mesastila Magelang. Di mana sekitar 90 persen lahan kopi di daerah tersebut dipenuhi oleh biji kopi robusta. Tidak hanya melihat kebun kopi saja, kita juga bisa mengenali pengolahan kopi hingga siap dikonsumsi.

Lokasinya yang dikelilingi gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Telomoyo memberikan suasana minum kopi yang berbeda dengan lainnya. Kadang sampil nyruput kopi, pengunjung bisa melihat ada kereta api jadul lewat. Mereka wisatawan pengunjung Museum Kereta di Ambarawa.

Doesoen Kopi Sirap, Jawa Tengah

“Ngopi di Tengah Kebun Kopi”, itulah tema yang diangkat oleh Doesoen Kopi Sirap. Berlokasi di Dusun Sirap, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Doesoen Kopi Sirap memberikan pengalaman wisata tematik kopi yang berbeda.

Di sini wisatwan tidak hanya sekadar minum kopi tapi dapat sekaligus menikmati pemandangan langsung Gunung Kelir. Udara sejuk ditambah suasana perkebunan kopi yang menenangkan, jadi wisata yang akan sulit terlupakan.

Tidak kalah menarik, kita juga bisa mengikuti wisata edukasi kopi dan melihat langsung proses pengolahan biji kopi sejak dipetik hingga siap minum. Ada dua jenis kopi unggulan yang ditawarkan Doesoen Kopi Sirap, yaitu arabika dan robusta.

PARIWISATA DESTINASI shutterstock 582329227 amenic181 a2b1d37e0a
Biji kopi Indonesia. Foto: shutterstock

Kebun Kopi Malabar di Jawa Barat

Dari Jawa Tengah wisatawan bisa melanjutkan wisata tematik kopi ke Jawa Barat, tepatnya di Kebun Kopi Malabar. Berada di ketinggian 1.400-1.800 mdpl dengan suhu 15-21 derajat celcius, kebun kopi satu ini sangat cocok untuk ditanam kopi jenis arabika.

Kopi Arabika Malabar Java Preanger diproses dengan sangat spesial. Karena seluruh proses sortasi buah kopi, pengupasan, pencucian, hingga pengeringan menggunakan Standar Operasional Baku Industri, tentunya dengan pengawasan tenaga ahli profesional.

Selain itu Kopi Arabika Malabar memiliki karakteristik yang unik, yaitu rasanya yang kental dengan dominan rasa cokelat berpadu rasa rempah di akhir seruputan. Selain minum kopi, wisatawan bisa keliling perkebunan kopi sambil melihat langsung proses memetik kopi khas dari Malabar.

Jadi mau jalan-jalan sambil mempelajari pernak-pernik produksi kopi dan tak lupa nyruput kopi enak? Agendakan liburanmu ke sentra-sentra kopi.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Bir Pletok Betawi, 1 Minuman “Wine” Lokal

Bir pletok Betawi sebuah minuman khas Indonesia

Bir pletok Betawi tidak diketahui kapan persisnya ditemukan atau dibuat, namun minuman ini punya standardisasi proses pembuatannya. Banyak yang menyebut bahwa minuman lokal ini muncul sebagai ‘perlawanan’ terhadap tradisi minum wine di zaman kolonial Belanda.

Bir Pletok Betawi

Minuman bir pletok menurut ceritanya diciptakan masyarakat Betawi sebagai substitusi atau pengganti dari anggur merah (wine) yang dibawa orang-orang Belanda dari Eropa. Pengganti, karena masyarakat Betawi umumnya memeluk agama Islam yang tidak mengkonsumsi alkohol.

Meskipun diberi nama bir, bir pletok Betawi sama sekali tidak mengandung alkohol. Minuman ini memang bisa berfungsi sebagai penghangat badan, tapi halal. Pada masanya, ia juga dihidangkan dalam pesta-pesta masyarakat Belanda untuk menghormati warga muslim.

Penamaan minuman ini punya cerita sendiri. Dikutip dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, bir pletok muncul sejak era kolonial Belanda. Orang Eropa yang menetap di Jakarta sering meminum bir dan wine di waktu senggang untuk menghangatkan badan. Tak mau kalah, masyarakat betawi pun menciptakan minuman mereka sendiri yang fungsinya hampir sama. Hanya saja tak mengandung alkohol.

Bir Pletok Warisan Budaya shutterstock
Kini bir pletok Betawi bisa diminum dingin menyegarkan. Foto: shutterstock

Penggunaan kata ‘bir’ tidak merujuk pada minuman beralkohol, melainkan ‘sumber mata air’ yang disadur dari bahasa Arab birun atau abyar. Sementara kata ‘pletok’-nya memiliki beberapa pemahaman.

Pertama, minuman ini dulu dikemas dalam tabung bambu sebelum diminum. Ada beberapa asumsi dan pendapat mengenai nama ‘pletok’ dalam sajian minuman tradisional ini. Pertama karena bunyi pletok yang keluar saat orang Belanda membuka botol wine. Agar melengkapi istilah bir-nya, kata pletok pun disematkan untuk melengkapi.

Pengertian ke dua karena yang menyebut karena akibat bunyi pletok yang berasal dari kulit secang yang merupakan salah satu bahan minuman ini. Sementara itu ada pula yang menyebut pletok adalah bunyi yang keluar dari tabung bambu dari es batu dalam bumbung atau selongsong bambu ketika mencampur minuman. Akhirnya, jadilah bir pletok.

Sebagai minuman tradisional, bir pletok tentu diolah dari bahan pokok yang ada di sekitar masyarakat. Rempah-rempah yang digunakan untuk membuat minuman ini adalah jahe, kapulaga, pandan wangi, dan serai. Beberapa bir pletok juga ditambahkan dengan kayu secang untuk membuat warnanya menjadi merah alami seperti wine.

Kombinasi rempah-rempah ini menghasilkan cita rasa yang unik: sedikit pedas, manis, dan hangat. Selain itu, penggunaan pandan wangi juga menyumbang aroma yang harum. Tak ayal, penikmat bir pletok begitu mencintai minuman khas dan berkhasiat ini.

Bir Pletok Betawi shuttrstock

Pada masa kolonial, minuman ini sering dikonsumsi malam hari. Namun, kini bir pletok diminum kapan saja, sebagai penghangat di malam hari sebagai penyegar tubuh di siang hari dengan campuran es batu.

Walaupun pada zaman dahulu bir pletok menjadi minuman yang merakyat yang dijajakan oleh pedagang keliling, kini keberadaannya mungkin agak sulit didapati. Begitupun jika wisatawan ingin mencicipi minuman tradisional khas Betawi ini, dapat mengunjungi beberapa perkampungan Betawi.

Cara pembuatan bir pletok Betawi sendiri juga cukup mudah. Pertama geprek jahe dan serai kemudian rebus air hingga mendidih. Setelah itu masukkan bahan lainnya, lada, kapulaga, daun jeruk purut, daun pandan, kayu manis, cengkeh, dan kulit kayu secang. Jangan lupa ditambahkan gula pasir sesuai selera. Setelah mendidih sekitar 10-20 menit, angkat dan bir pletok Betawi sudah bisa dinikmati.

Yang paling khusus dalam proses pembuatannya adalah kapan bahan secang dimasukkan. Pada zaman sekarang banyak orang memasukkan seluruh bahan dalam air dan direbus bersamaan. Menurut sesepuh Betawi, cara itu kurang tepat.

Menurut mereka, secang harus dimasak atau direbus tersendiri. Bahan inilah yang menghasilkan warna merah. Dengan merebusnya dahulu, akan diperoleh warna merah di tingkat yang diinginkan.

Ramuan Bir Pletok shutterstock

Bisa pula sebaliknya, dengan menggodok semua bumbu terlebih dulu, baru ketika sudah mendidih, kemudian masukkan secang agar bisa menakar kadar warna yang ingin dihasilkan. Warna merah ini dianggap cukup penting karena dari sejarahnya minuman ini untuk menggantikan wine merah.

Dengan warna merah yang mirip dengan wine merah, ketika disajikan dalam pesta tidak terlihat perbedaan mereka yang minum minuman beralkohol, dan yang tidak.

Kini minuman ini sering disajikan dalam pesta pernikahan atau khitanan orang Betawi. Atau jika datang sebagai wisatawan, bisa mengunjungi kawasan wisata masyarakat Betawi di Setu Babakan. Bisa juga datang ke Pekan Raya Jakarta saat ulang tahun Jakarta. 

Pada masa kolonial, minuman ini sering dikonsumsi malam hari, mengingat cuaca Jakarta yang panas di sing hari dan dingin di malam hari saat itu. Tapi kini bir pletok Betawi bisa diminum kapan saja, sebagai penghangat di malam hari sebagai penyegar tubuh di siang hari dengan campuran es batu. Mau mencoba?

agendaIndonesia

*****