Museum Kereta Ambarawa, Perjalanan 148 Tahun

Museum Kereta Ambarawa pada 2021 berusia 178 tahun

Museum Kereta Ambarawa di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, rasanya sudah banyak yang tahu. Begitupun, jika ditanya pernahkan mampir mengunjunginya? Rata-rata orang menggelengkan kepala.

Museum Kereta Ambarawa

Itu bisa dipahami, karena museum kereta api yang tahun ini berusia 148 tahun tersebut, terletak di kota kecamatan kecil dan tidak berada di jalur utama jalan raya yang menghubungkan Semarang dengan Magelang.

Terlebih saat sekarang, di mana sudah ada fasilitas jalan tol dari ibukota Jawa Tengah itu ke Solo dan Jawa Timur. Mereka yang biasanya menuju ke Yogyakarta melalui jalur Magelang kini banyak yang beralih melalui Boyolali dan Kartasura. Ambarawa rasanya semakin terasa jauh. Entah nanti pada 2024-2025 saat sudah ada jalur tol Semarang-Yogyakarta.

Awalnya, museum ini adalah stasiun kereta api biasa yang melayani rute-tute pendek di Jawa Tengah. Belakangan stasiun ini dialihfungsikan. Sejak pertengahan 2013, stasiun yang berlokasi di pusat Kota Ambarawa atau sekitar 15 kilometer dari Ungaran, Kabupaten Semarang, dan 35 kilometer dari Kota Semarang ini tidak lagi terbuka untuk umum. Ia dijadikan museum perkeretaapian pertama di Indonesia.

Sebelum ditutup, museum ini melayani perjalanan wisata menggunakan kereta atau lori dengan trayek Ambarawa-Bedono. Waktu tempuh menuju Stasiun Bedono sekitar 1 jam untuk 35 kilometer dengan sajian panorama lembah hijau antara Gunung Ungaran dan Merbabu di sepanjang lintasan.

Ada juga rute Ambarawa-Tuntang dengan jarak ke Stasiun Tuntang relatif dekat, hanya 7 kilometer. Di sepanjang lintasan akan ada suguhan lanskap sawah dan ladang berlatar Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, serta Rawa Pening. Untuk menikmati kedua perjalanan singkat tersebut, masing-masing penumpang dikenai biaya Rp 50 ribu (kereta wisata) dan Rp 10 ribu untuk lori atau kereta bak.

Museum Kereta Ambarawa dikembangkan dari Stasiun Willem I yang sudah tidak beroperasi lagi.
Bangunan sisa peninggalan dari Stasiun Willem I di Ambarawa, Jawa Tengah. Foto: dok. shutterstock

Awalnya, lokasi yang ditempati dan menjadi Museum Kereta Api ini stasiun tua yang dialihfungsikan. Dibangun di masa pemerintahan kolonial Belanda pada 21 Mei 1873 atas perintah Raja Willem I, stasiun tua yang kini berusia 148 tahun itu tampak tetap begitu terjaga kecantikannya.

Pada 1970, setelah sebuah gempa besar, stasiun ini ditutup dan mengakibatkan putusnya lalu lintas kereta antara Magelang, Semarang, dan Yogyakarta. Kereta-kereta api juga tidak bisa bergerak ke arah Magelang pada 1972 karena terjadinya banjir lahar akibat erupsi Gunung Merapi.

Penutupan jalur kereta api rute Yogyakarta-Magelang-Secang pada 1975 membawa dampak pada jalur ini. Sejak itu, PT Kereta Api Indonesia, atau saat itu masih bernama Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) menutup jalur kereta api ini.

Selain soal rute, pada 1970-an lokomotif-lokomotif uap yang beroperasi di kawasan ini mulai berguguran karena faktor usia. Banyak yang dirucat, dipindahtangankan, atau bahkan dijadikan barang rongsokan. Karena prihatin dengan hal itu, maka pada 8 April 1976, Gubernur Jawa Tengah saat itu, Soeparjo Rustam, beserta Kepala PJKA Eksploitasi Tengah, Soeharso, memutuskan untuk membuka sebuah museum kereta api yang direncanakan akan mengoleksi barang-barang antik era lokomotif uap. Sejak itu fungsi Stasiun Willem I berubah menjadi museum.

Koleksi yang dimiliki oleh Museum Kereta Api Ambarawa tak kalah menarik. Di halaman menuju bangunan utama stasiun, tampak beberapa lokomotif uap yang sudah tidak beroperasi, seperti B2510 (produksi Hartmann tahun 1911, awalnya bertugas di Stasiun Cirebon untuk perjalanan menuju Tegal, Purwokerto, dan Kudus), BB1012 (produksi Hartmann, 1906, awalnya bertugas di daerah Banjar untuk perjalanan ke sekitar Cijulang dan Rangkasbitung), dan B2014 (produksi Bayer Peacock, 1905).

Museum Kereta Ambarawa memiliki sejumlah koleksi lokomotif uap kuno.
Lokomotif Uap kuno sebagai salah satu koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. Foto: Dok. shutterstock

Di sisi kanan bangunan Stasiun Willem I ini berderet pula beberapa lokomotif tua lain. Di sisi kiri, tampak bergandengan gerbong kereta kayu bernomor GW152002 dengan gerbong bernomor GW152013 dan gerbong terbuka di atas rel.

Jika berjalan berbalik arah melintasi lingkaran besar turntable (perangkat untuk memutar arah jalan lokomotif), pengunjung akan melihat pula garasi terbuka yang dipenuhi beberapa lokomotif dan gerbong kereta api tua. Sebut saja Boni (lokomotif uap bernomor B2502) dan Bobo (lokomotif uap bernomor B2503). Keduanya diproduksi oleh Esslingen—perusahaan teknik Jerman yang khusus memproduksi lokomotif, trem, kereta api, dan peralatan atau perangkat pendukung jasa kereta api—pada 1902.

Dengan sejumlah pengembangan yang kekinian, rasanya museum ini akan menarik minat banyak warga masyarakat untuk mengunjungi. Jika nanti jalan tol Semarang-Yogyakarta sudah beroperasi, Museum Kereta Api Ambarawa bisa jadi alternatif untuk ngaso buat mereka yang melakukan perjalanan dari Jakarta atau kota lainnya.

Museum Kereta Api Ambarawa; Jalan Stasiun Nomor 1, Ambarawa, Kabupaten Semarang

TL/agendaIndonesia

*****

Melihat Komodo di Pulau Rinca yang Asyik

Tarif masuk pulau komodo diberlakujkan untuk menunjang upaya pelsetarian lingkungan.

Melihat Komodo di Pulau Rinca mungkin belum banyak orang yang tahu. Biasanya untuk melihat hewan melata ini, wistawan langsung ke pulau Komodo, di Nusa Tenggara Timur.

Melihat Komodo di Pulau Rinca

 Pulau Rinca adalah pulau terbesar kedua setelah Pulau Komodo di gugusan Kepulauan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Pulau yang hanya bisa ditempuh menggunakan kapal nelayan atau speed boat dari Kota Labuan Bajo ini merupakan habitat hidup komodo.

Sekitar 1.300 ekor komodo hidup bebas di pulau yang tercatat sebagai wilayah penangkaran tersebut. Pada bulan-bulan tertentu, seperti Juni hingga Agustus, spesies kadal terbesar ini akan memasuki masa kawin. Kalau beruntung, wisatawan yang datang ke Pulau Rinca pada bulan-bulan tersebut bakal menyaksikan cara komodo bereproduksi.

Proses reproduksi per pasang komodo tergolong lama, yakni mencapai 7 hingga 8 jam. Maka, dalam sehari, kira-kira sebelas rombongan wisatawan yang datang ke pulau tersebut bakal menyaksikan pertunjukan langka itu.

Dalam prosesnya, komodo betina, yang jumlahnya tercatat lebih sedikit daripada komodo jantan, akan menjadi “rebutan”. Komodo jantan tak pelak berperang untuk mengawini komodo betina. Komodo betina juga tak menutup kemungkinan akan dikawini oleh lebih dari satu komodo jantan.

Setelah musim kawin, komodo menetaskan 15-30 telur dengan masa inkubasi kurang lebih sembilan bulan. Saat penulisdatang ke Pulau Rinca pada 9 Januari 2018, beberapa komodo betina tengah mengerami telurnya. Tak seperti hewan lain yang melindungi telur di bawah perutnya, komodo akan membuat lubang dan menanam telur di bawah tanah.

Fidel Hardi, ranger asal Manggarai Barat, yang ditemui di Pulau Rinca, mengatakan, masing-masing komodo betina akan memilih satu titik lokasi untuk dijadikan sarang. “Di titik itu, akan dibuat banyak lubang. Tapi lubang yang berisi telur hanya satu,” tutur Fidel. Lubang yang lain dipakai untuk mengelabuhi musuh dan menjauhkan telur dari serangan siapa pun, baik komodo maupun hewan lain. “Karena mungkin saja telur itu dimakan komodo lain. Sebab, pada dasarnya, mereka adalah hewan kanibal,” kata Fidel.

Komodo betina juga tidak setiap hari menunggui sarang atau mengeraminya. Mereka bakal pergi untuk mencari makan. Hanya sesekali komodo betina datang ke sarang tersebut. Setelah enam bulan, komodo betina benar-benar akan meninggalkan telur-telur yang masih tertanam di bawah tanah.

Saat menetas, bayi komodo tidak akan melihat induknya. “Jadi mungkin saja kalau besar nanti, anak komodo itu akan mengawini atau makan ibunya sendiri,” ucap Fidel. Dari 15-30 butir telur, hanya kira-kira 2-3 komodo yang menetas. Komodo bayi akan mengorek-korek tanah dan mencari makan berupa hewan-hewan kecil, seperti serangga melata dan cicak.

Pulau Rinca Komodao
Melihat Komodo di Pulau Rinca.

Untuk menyaksikan komodo di Pulau Rinca, wisatawan perlu menyewa kapal dari Labuan Bajo. Biaya sewanya berkisar mulai Rp 1 juta per kapal. Kapal muat diisi hingga sepuluh orang, termasuk awak kapal. Bila low season, seperti bulan Januari itu, kapal menuju Pulau Rinca bisa disewa dengan biaya lebih murah, yakni sekitar Rp 750 ribu per kapal.

 

 

Rosana

Tugu Golong Gilik Dibangun Sultan HB 1

Tugu Golong Gilik menjadi simbol kota Yogyakarta. Foto: Kemenparekraf

Tugu Golong Gilik atau wisatawan sering menyederhanakan dengan sebutan Tugu Yogyakarta merupakan sebuah monumen yang dipakai sebagai lambang dari kota pelajar ini. Selain ke dua sebutan itu, ada juga penamaan sebagai Tugu Pal Putih.

Tugu yang terletak tepat di tengah perempatan Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Margo Utomo (dahulu bernama Jalan Mangkubumi) Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro, mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tetenger ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.

Tugu Golong-Gilig ini awalnya dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta, pada 1755. Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan.

Tugu Golong Gilik saat ini bentuknya sudah berubah dari ketika dibangun pertama kali.
Suasana malam di Yogyakarta. Foto: shutterstock

Tugu Golong-gilik disebut demikian karena puncaknya berbentuk golong (bulat), dan gilig (silinder). Tugu tersebut tingginya 25 meter. Tugu golong-gilig berfungsi sebagai tetenger (penanda) kota dan titik konsentrasi ketika Sultan Hamengku Buwana I bermeditasi di Bangsal Manguntur Tangkil.

Tugu ini menyimbolkan keberadaan raja dalam menjalani proses kehidupannya yang dilandasi manembah manekung (menyembah secara tulus) kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan disertai satu tekad menuju kesejahteraan bersama rakyat (golong gilig).

Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.

Semuanya berubah pada 1867. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877), tepatnya 10 Juni 1867 (4 Sapar Tahun 1796 J), terjadi gempa tektonik berskala besar di Yogyakarta. Beberapa bangunan runtuh, termasuk Tugu tersebut.

Pilar tugu patah kurang lebih sepertiga bagian. Peristiwa ini dikenang dalam candra sengkala yang berbunyi Obah Trus Pitung Bumi (tujuh bumi terus berguncang), menunjuk pada angka 1796 tahun Jawa.

Tugu Pal Putih Kemenparekraf

Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tersebut runtuh. Selama beberapa tahun Tugu Golong Gilig sempat terbengkelai.

Keadaan benar-benar berubah pada 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tersebut. Renovasi ini dilakukan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII dengan mengubah bentuk dan tinggi yang berbeda dengan aslinya.

Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih. Ditengarai, desain baru ini merupakan strategi pemerintah Belanda untuk menghilangkan simbol kebersamaan raja dan rakyat yang ditunjukkan oleh desain tugu sebelumnya.

Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu.

Prasasti pada setiap sisi tugu yang baru tersebut, keempat-empatnya merekam proses pembangunan kembali. Di sisi barat terdapat prasasti yang berbunyi, “Yasan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Kaping VII”. Prasasti ini menunjukkan bahwa tugu tersebut dibangun (kembali) pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Di sisi timur terdapat prasasti yang berbunyi, “Ingkang Mangayubagya Karsa Dalem Kanjeng Tuwan Residhen Y. Mullemester”. Prasasti ini menyebutkan bahwa Y. Mullemester, Residen Yogyakarta waktu itu, menyambut baik pembangunan tugu tersebut. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Belanda tidak terlibat dalam pendanaan.

Di sisi selatan terdapat prasasti yang berbunyi, “Wiwara Harja Manggala Praja, Kaping VII Sapar Alip 1819”. Wiwara Harja Manggala Praja merupakan sengkalan yang menandai selesainya pembangunan Tugu Golong Gilig yang baru. 

Wiwara berarti gerbang, mewakili angka sembilan. Harja bermakna kemakmuran, mewakili angka satu. Manggala bermakna pemimpin, mewakili angka delapan. Sementara Praja bermakna negara, mewakili angka satu. Dapat diartikan bahwa perjalanan menuju gerbang kemakmuran dimulai dari pemimpin negara. Sengkalan ini menunjuk pada angka 1819, sesuai dengan tahun yang ditulis di bawahnya.

Di atas tulisan tersebut terdapat lambang padi dan kapas dengan tulisan HB VII, juga lambang mahkota Belanda di puncaknya. Lambang ini adalah lambang resmi yang dipakai oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII.

Di sisi utara terdapat prasasti yang berbunyi, “Pakaryanipun Sinembadan Patih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danureja Ingkang Kaping V. Kaundhagen Dening Tuwan Ypf Van Brussel. Opsihter Waterstaat”. Prasasti ini menyebutkan bahwa pelaksanaan pembangunan tugu dipimpin oleh Patih Danurejo V (1879-1899), dan arsitektur tugu dirancang oleh YPF Van Brussel, seorang petugas Dinas Pengairan Belanda yang bertugas di Yogyakarta.

Tugu Khas Yogyakarta Kemenparekraf

Pada 2015, sebuah miniatur Tugu Golong Gilig dibangun pada sudut perempatan sebelah tenggara tugu. Miniatur ini dibangun sesuai desain awal tugu dan dilengkapi dengan keterangan mengenai sejarah perjalanan tugu sebagai salah satu simbol penting di Kesultanan Yogyakarta.

Pembuatan miniatur ini menjadi jalan tengah bagi kebutuhan masyarakat untuk memahami sejarah dan falsafah dari bentuk tugu hasil rancangan pendiri Yogyakarta, dan kelestarian tugu hasil desain orang Belanda yang kini telah menjadi bangunan cagar budaya sekaligus landmark kota Yogyakarta.

Tugu Yogyakarta ini kini menjadi salah satu spot objek wisata yang banyak diminati ketika wisatwan berkunjung ke kota ini. Banyak sekali para wisatawan yang selalu mengabadikan momen dengan berfoto di depan Tugu Pal Putih ini.

agendaIndonesia

*****

Keunikan Rumah Adat Sasak Sejak Tahun 1089

Dola ke Lombok harus main ke rumah adat Sasak.

Keunikan rumah adat Sasak di Dusun Ende dibangun di desa dengan jumlah kepala keluarga yang tak pernah berubah. Rumah juga dibangun dengan memperhatikan sistem kekerabatan dalam menentukan lokasi.

Keunikan Rumah Adat Sasak

Dari Bandara Lombok Internasional di Praya, Lombok Tengah, hanya dalam hitungan 20 menit, pengunjung sudah bisa sampai di Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, NUsa Tenggara Barat. Desa yang masih mempertahankan kampung adatnya. Bahkan menjadi tujuan wisata yang populer. Rumah-rumah suku Sasak—suku asli yang menghuni pulau ini kentara dari luar. Salah satu keunikan rumah adat Sasak bagian atap yang terbuat dari alang-alang seperti menutup bagian utama rumah. Adapun bagian ujungnya hanya 1,5-2 meter dari atas tanah.

Wisatawan bisa minta janjian dengan seorang pemandu untuk menyusuri jalan-jalan kecil dari bebatuan yang memisahkan satu rumah dengan yang lain. Cukup padat. Ada beberapa perempuan yang tengah menenun dan menjual beragam suvenir khas pulau ini. Pengunjung bisa mencermati dinding rumah yang berbahan utama bambu, demikian juga tiang penyangganya.

Jika dizinkan, cobalah memasuki sebuah rumah. Meski harus menunduk di bagian pintu masuknya, ternyata terasa lega juga di bagian dalamnya. Lubang pintu yang rendah juga ternyata mengandung filosofi, yakni para tamu hormat kepada tuan rumah.

Meski tampak sederhana, ternyata sarat akan filosofi kehidupan. Ruang utama terlihat terbagi dalam dua bagian: depan dan belakang yang posisinya lebih tinggi ketimbang depan.

Ada tiga tangga untuk menuju bagian belakang atau bale dalem sebagai salah satu keunikan rumah adat Sasak. Tangga tersebut melambangkan lahir, berkembang, dan mati serta merupakan simbol keluarga (ayah, ibu, dan anak). Ada pula pembagian ruangan yang sesuai dengan fungsinya. Seperti ruangan khusus sang ibu yang melahirkan dan khusus tempat tidur. Bahkan ada tempat khusus menyimpan harta benda dan  dapur yang terdiri atas dua tungku yang menyatu dengan lantai.

Lantainya yang berwarna abu-abu terasa adem. Menurut sang pemandu, lantai dibuat dari campuran batu bata, abu jerami, dan getah pohon. Hanya, yang khas lantai akan dilumuri dengan kotoran hewan yang mereka miliki, baik itu kerbau maupun sapi, yang sudah dibakar dan dihaluskan. Justru trik tradisional itu yang membuat lantai terasa adem dan tidak mudah retak. Selain itu, dipercaya bisa mengusir rombongan nyamuk yang ingin bertandang.

Keunikan rumah adat Sasak memiliki makna setiap detailnya.
Salah satu sudut rumah adat Sasak. Foto: Dok. shutterstock

Bukan hanya rumah dengan bentuk khas, suku Sasak juga mempunyai lumbung padi dengan bangunan yang khusus. Atap seperti gunungan dan tentu juga seperti atap rumah yang ditutupi dengan alang-alang. Bentuknya memang lebih unik ketimbang rumah.

Selain atap gunungan dengan bagian puncaknya yang tumpul dan bagian bawahnya yang mencuat, bale-bale yang terbuka di bagian bawahnya dapat kita temukan. Menjadi tempat penghuni dan keluarga bercengkerama. Di bale-bale itu ada tangga untuk masuk ke bagian penyimpanan padi. 

Yang unik lagi, ada pula khusus rumah mungil untuk pengantin baru. “Setelah menikah, mereka akan tinggal di sana,” ujar sang pemandu. Ia menunjuk sebuah rumah yang hanya terdiri atas satu kamar.

Pengunjung pasti merasakan keunikan pasangan baru itu yang seperti berada dalam sebuah kurungan. Ada pula tradisi lama yang unik menyangkut pernikahan. Si pria atau dikenal dengan sebutan teruna akan menculik calon istrinya. Benar-benar tidak boleh diketahui oleh orang tua, seperti menculik sungguhan. Beberapa hari kemudian, keluarga pria mendatangi keluarga wanita.

Berkeliling kampung selama beberapa menit membuat pengunjung tak hanya mengenal rumah suku Sasak, tapi juga sejumlah tradisinya.

Keunikan rumah adat Sasak tak hanya di Ende. Dalam perjalanan ke Senaru, ada pula desa dengan model rumah serupa. Konon rumah tertua dari rumah adat Sasak sudah ada sejak 1089.

Keunikan rumah adat Sasak di Desa Ende.
Rumah Adat Sasak di Sengkol, Lombok. Foto: Dok: TL/Fran

Berjarak sekitar 75 km dari Mataram, Dusun Senaru tidak sepadat Dusun Sade dan tak ramai dengan turis seperti di Lombok Tengah. Desa adat Senaru di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, ini cenderung sepi. Ada gerbang yang menunjukkan kompleks rumah tersebut merupakan desa adat. Saya menemukan keheningan di sana, yakni jarak satu rumah dengan rumah lain tidak terlalu berdempetan seperti di Sade.

Bahkan ada tanah cukup luas hingga 2 meter buat anak-anak berlari-lari. Tidak ada riuh mobil yang lalu-lalang karena desa adat ini berada di kaki Gunug Rinjani. Hawa sejuknya terasa, siang yang sepi karena sebagian besar para pria pergi ke ladang.

Sekitar 90 persen warganya adalah petani. Tepat di sebelah gerbang desa adat, pengunjung bisa menemukan kebun kakao. Siang itu, yang ada hanya seorang kakek dan beberapa anak-anak. Akhirnya, ada ibu-ibu di bagian belakang. Merekalah yang menerangkan beberapa fungsi bangunan.

Desa adat hanya dihuni oleh 20 kepala dan dipertahankan dalam jumlah tersebut, sehingga desa adat tidak berubah menjadi padat. Ukuran rumahnya lebih besar dibanding di Dusun Sade, tapi bentuknya sama.

Dinding rumah juga terbuat dari anyaman bambu dan tanpa jendela. Ruangan terbagi atas ruang utama atau induk (inan bale), yang terdiri atas ruang tidur (bale dalam) dan bale luar yang mempunyai beberapa fungsi, seperti ruang ibu melahirkan, menyimpan harta benda, dan tempat jenasah disemayamkan. Di bagian bale dalam juga ada dapur, tempat penyimpanan makanan, dan perlengkapan.

Atapnya terbuat dari alang-alang dan bentuknya yang menggapai hingga ke bawah dengan bagian puncak datar diilhami oleh Gunung Rinjani yang bisa dicapai dari jalan setapak dekat dusun. Gunung tertinggi di Pulau Lombok ini bernilai sakral bagi suku Sasak. Di Danau Segara Anak, yang berada di Gunung Rinjani, suku Sasak kerap melakukan sejumlah upacara.

Meski berada di kaki gunung, desa adat ini berada di tanah datar. Letak rumah berdasarkan sistem kekerabatan dan orientasi matahari. Rumah satu sama lain yang berhadapan menghadap ke timur adalah hunian saudara yang lebih tua—bermakna penghormatan bagi sang kakak untuk mendapat siraman mentari pagi.

Di bagian tengahnya didirikan bangunan yang disebut berugak. Di sinilah biasanya keluarga berkumpul. Sebenarnya merupakan penghormatan atas rezeki yang diberikan Tuhan, tapi juga difungsikan sebagai ruang keluarga dan menerima tamu. Berugak bertiang empat merupakan simbol syariat Islam: Al-Quran, hadis, ijma, dan qiyas. Benar-benar sarat makna.

agendaIndonesia/TL/Rita N

*****

Museum Bank Indonesia, Sejarah Ekonomi Sejak 1828

Museum Bank Indonesia di antaranya memiliki koleksi koin emas derham.

Museum Bank Indonesia barangkali bisa menjadi alternatif pilihan tempat wisata yang bersifat edukatif. Tak cuma untuk anak-anak, mahasiwa bahkan orang awam pun mungkin bisa mendapatkan pengetahuan penting di sini.

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia memamerkan berbagai koleksi uang yang pernah digunakan Indonesia dari masa ke masa. Sementara itu, benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah di dalamnya akan sangat berguna bagi masyarakat. Di sebuah gedung lawas, perjalanan perekonomian bangsa ini diulas. 

Wilayah barat Jakarta disiram sinar mentari yang terik pada November lalu, tapi tak mengurungkan niat sejumlah orang untuk melangkah ke kawasan Kota dan mengunjungi Museum Bank Indonesia. Berada di Jalan Pintu Besar Utara No 3, bangunan ini dari luar memang menggoda untuk ditengok. Maklum merupakan gedung lawas dengan arsitektur neo-klasik.

Bangunan sudah hadir pada masa pendudukan Belanda. Hanya, pada awalnya digunakan sebagai rumah sakit. Beralih menjadi kantor perbankan pada 1828 dan digunakan oleh De Javasche Bank. Saat Indonesia meraih kemerdekaan, bank pun dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia (BI) pada 1958. Tak lama digunakan BI, pada 1962 pindah ke gedung baru dan bangunan lama pun difungsikan sebagai museum.

Museum Bank Indonesia terdiri dari dua lantai yang berisi segala pengetahuan mengenai ekonomi, moneter, dan perbankan yang diperlukan masyarakat. Berkunjung ke tempat ini akan memberikan pemahaman tentang latar belakang serta dampak dari kebijakan-kebijakan Bank Indonesia yang diambil dari waktu ke waktu.

Memasuki museum, saya menemukan beragam informasi mengenai peran Bank Indonesia dan kebijakan-kebijakan bank sentral ini dalam perekonomian Indonesia. Segala hal yang berkaitan dengan perekonomian Indonesia dulu bisa ditemukan di sini. Museum menyuguhkan informasi dalam beberapa media, di antaranya multimedia. Awalnya, pengunjung dibawa ke sebuah ruangan dengan sejumlah info ihwal pendirian Bank Indonesia. Nah, dengan menggunakan teknologi itu, pengunjung bisa merasakan perjalanan BI pada masa lalu tersebut.

 Dari ruangan sejarah, saya berpindah ke ruang teater berdaya tampung 60 orang. Ruangan ini tentu menampilkan sejarah BI. Kemudian, disambung memasuki sebuah ruangan Numismatic. Di ruangan ini, pengunjung bisa melihat koleksi mata uang dari awal masa kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan Islam, kolonial, hingga setelah merdeka. Ruangan dengan cahaya yang redup dan dingin ini menciptakan suasana tenang dan nyaman. Dengan bantuan kaca pembesar, saya melihat koleksi mata uang yang ada di sini.

Dari sana pengunjung bisa meneruskan langkah ke ruang lain. Kali ini ruang “bersinar” karena berisi emas dan diberi nama ruang Moneter Gold. Ada tumpukan replikasi emas batangan dan pengunjung bisa memegang serta mengangkat satu batang replika yang sudah ada di salah satu sudut ruangan. Dengan begitu, kita bisa memperkirakan berapa berat satu batang emas. Ada pula koleksi koin emas derham atau dirham yang dipergunakan untuk perdagangan di Aceh pada masa lalu.

Selain itu, ada ruangan percetakan uang yang digabung bersama ruangan sirkulasi uang. Di sini, pengunjung bisa menyimak proses uang dicetak dan diedarkan. Dari perencanaan, mencetak, distribusi, peredaran, hingga menariknya kembali. Saya juga melihat replika dari pesawat Bank Indonesia yang pertama kali mendistribusikan uang ke seluruh wilayah di Indonesia di ruang ini.

Ada sebuah ruangan yang dikhususkan untuk pameran yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. Biasanya yang ditampilkan berupa karya fotografi, lukisan, batik, dan lain-lain. Ke luar dari museum, ada buah tangan yang bisa dijadikan kenang-kenangan. Bisa dilihat di ruangan khusus ini, silakan disimak juga bila berminat. Sesekali tengok juga website Museum Bank Indonesia, siapa tahu ada pameran yang sedang digelar, sehingga bisa satu kayuh dayung, dua kegiatan dilakukan.

Hanya, seperti sejumlah museum, di sini juga ada sejumlah peraturan. Di antaranya, di beberapa ruangan, meski boleh mengambil gambar dengan kamera, tidak boleh menggunakan bantuan flash. Sejak dilakukan peresmian yang kedua kalinya pada 2009 oleh presiden kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono, memang antusiasme orang untuk berkunjung meningkat. Baik wisatawan lokal maupun asing. Sebenarnya museum dibuka pertama kali pada 15 Desember 2006, tapi pembukaan secara resmi baru pada 2009. Pengunjung dipungut biaya Rp 5 ribu, sedangkan khusus pelajar, mahasiswa dan anak-anak di bawah 3 tahun bisa menikmati secara bebas menikmati perjalanan perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

Museum Bank Indonesia; Jalan Pintu Besar Utara No 3; Jakarta Barat

Buka:Selasa-Minggu, pukul 08.00-16.00

Tutup: Hari Senin dan hari libur nasional

agendaIndonesia

*****

Sekolah Hijau Bali, 1 Cara Belajar Hidup

Sekolah hijau Bali membangun jembatan dari bahan bambu yang lebih ramah lingkungan.

Sekolah Hijau Bali, atau Green School Bali, bukanlah sekolah lingkungan biasa. Ini sebuah sekolah yang mengajarkan hal “lebih” tentang kehidupan.

Sekolah Hijau Bali

Suara-suara ceria dan musik upbeat langsung tertangkap telinga, ehmm… bikin penasaran saja. Kedua kaki saya menjejaki jalan berkerikil menuju sumber suara itu. Begitu tiba di sebuah aula bambu besar terlihat sejumlah orang menari-nari, melompat, dan bernyanyi gembira. Mereka benar-benar menikmati suasana.

Saya bukan berada dalam sebuah festival siang itu, melainkan berada di tengah sebuah sekolah di Jalan Raya Sibang Kaja di wilayah Badung, Bali. Tepatnya di Green School Bali. Bukan sembarangan sekolah memang.

Didirikan oleh John dan Cynthia Hardy yang berdarah Amerika dan Kanada. Mereka dulu adalah pencinta perhiasan. Keduanya telah menjadi penduduk Bali lebih dari 30 tahun. Green School dibangun tujuh tahun lalu dengan harapan mereka bisa membawa para murid keluar dari batas-batas struktural, konseptual, dan fisik yang ditemukan di berbagai sekolah konvensional.

Sekolah ini tidak hanya menyediakan ilmu mengenai green living, namun juga mempersiapkan kehidupan anak-anak mereka. “Karena kami tidak mempersiapkan murid-murid kami (untuk masuk ke sekolah Ivy League). Kami mempersiapkan lebih dari itu untuk mereka,” kata Francis, pemandu wisata hari itu, yang juga guru di sekolah tersebut.

Sekolah pun terus berusaha agar bisa semandiri mungkin. Dihadapkan dengan kondisi sumber daya air di Bali yang semakin berkurang, sekolah membangun penampungan air sendiri. Kemudian, mendaur ulang melalui osmosis terbalik untuk memproduksi air bersih yang aman. Air tersebut digunakan di sekolah dan diambil dari penampungan air serta sungai.

“Kemandirian sekolah tidak berhenti hanya di air. Sekolah ini telah membangun sebuah pusaran air, di mana pembangunannya sudah memasuki tahap akhir untuk menghasilkan listriknya sendiri. Hingga saat ini, proyek yang berumur tujuh tahun ini merupakan satu-satunya turbin air vertikal di Bali,” kata Francis menjelaskan.

Selain itu, sekolah ini mendaur ulang limbah, termasuk kamar mandinya. Juga menyediakan botol air yang terbuat dari besi untuk murid-muridnya, membuat mobil listrik bambu sebagai kendaraan ramah lingkungan, dan menggunakan bambu untuk semua struktur di dalam wilayah Green School.

sekolah hijau Bali tidak sekedar mengajarkan tentang lingkungan, tapi juga kehidupan.
Sekolah Hijau Bali dengan ruang kelasnya yang tidak konvensional. Foto: Shutterstock

Lebih jauh, Francis mengungkapkan, bambu merupakan salah satu material yang memiliki kemampuan untuk menyimpan karbon. Selain itu, bambu dapat didaur ulang. Namun, jika tidak di daur ulang, maka akan kembali pada alam. Bahkan jembatan sekolah, yang dapat menahan hingga 200 orang dewasa, seluruhnya terbuat dari bambu. Jembatan ini berdiri anggun di atas Sungai Ayung dan menjadi jembatan bambu teranggun dan terkokoh yang pernah saya lihat.

Francis memimpin kami menuju salah satu ruang kelas. Sebagai orang yang hidup di perkotaan, saya harus mengakui berjalan di seputar Green School bukanlah hal yang mudah. Tidak ada jalan di sekolah ini yang terbuat dari semen. Semakin jauh saya berjalan, semakin besar usaha yang saya lakukan. Jalan di sekolah masih pada bentuk awalnya: terbuat dari batuan vulkanik.

Francis menyebutkan kondisi jalan tersebut sebenarnya ada tujuannya. Diharapkan, anak-anak akan berjuang dan ketika mereka terjatuh jadi paham rasa sakitnya. Tapi mereka tentu akan bangun dan melanjutkan perjalanan. “Begitu juga dengan menjalani hidup,” ucapnya.

Yang lebih menarik dari jalanan vulkanik adalah lubang lumpur. Terletak di sebelah salah satu kelas dan studio yoga, lubang lumpur merupakan bagian dari berbagai aktivitas sekolah. Terinspirasi dari mepantigan—sebuah bentuk pergulatan dan ilmu bela diri dari Bali—anak-anak dianjurkan untuk ikut serta dalam “pertarungan” seru di dalam lumpur. Dengan aktivitas ini, sekolah memperkenalkan kepada anak-anak tentang latar belakang dari kultur lokal. Selain itu, kegiatan itu bertujuan mengajarkan bahwa tanah tidaklah kotor.

Sama seperti sekolah lain, jiwa dari Green School ini terletak pada kurikulum yang ditawarkannya. Green School merupakan sekolah yang berpusat pada anak-anak dan mereka dianjurkan dapat berkembang dalam kecepatan masing-masing.

Francis menyebutkan sistem penilaian konvensional sudah tidak memiliki tempat di sini meski ada beberapa pengecualian, antara lain, sekolah tetap mempersiapkan murid-murid senior untuk ujian masuk perguruan tinggi.

Di sisi lain, dengan belajar di dalam kelas dan mengikuti suatu sistem yang dinamakan thematics oleh sekolah, para murid dapat melihat subyek yang mereka pelajari dari berbagai perspektif yang berbeda. Di sekolah, para murid juga belajar dengan praktek. Anak Francis rupanya juga bersekolah di sini. “Anak saya terlibat dalam pembangunan sebuah generator. Saat ini, sekolah ini memang sedang membangun bendungan di sungai, bendungan sungguhan,” kata dia.

Green School juga mengajarkan murid-murid mereka agar tidak hanya menghargai bumi ini, tapi juga orang-orang dan budaya di sekeliling. Contohnya, murid sekolah dasar diwajibkan untuk belajar bahasa Indonesia. Sementara itu, untuk murid yang tidak dapat hadir di sekolah selama satu tahun penuh ataupun  orang dewasa yang ingin merasakan pengalaman green living di Bali telah disediakan Green Camp. Di area ini, peserta belajar soal kepemimpinan melalui pengalaman belajar di luar ruang.

Francis pun menyimpulkan secara sederhana: “Sekolah ini bukan hanya tentang kepalanya, ini juga tentang tangan dan hatinya. Di sini kami ingin murid-murid juga mengetahui bahwa mereka dapat membuat perubahan.”

agendaIndonesia/ F. Ramdhani/TL

*****

House of Danar Hadi, Koleksi 500 Batik

House of Danar Hadi, museum dan butik batik di Solo

House of Danar Hadi menjadi salah satu saksi perjalanan batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Ratusan koleksinya menjadi referensi dari begitu beragamnya jenis, motif, dan latar tradisi dari batik. Ia juga menjadi saksi perjalanan sejarah klasik bangsa ini.

House of Danar Hadi

Mungkin sekitar 500 koleksi batik yang dipajang di House of Danar Hadi ini seakan ‘hanya’ menunjukkan kecintaan Santosa Doellah pada batik. Santosa adalah pemilik batik Danar Hadi, salah satu merek batik terkemuka di Indonesia. Namun, jika ingin belajar tentang batik, tempat ini bisa menjadi titik awalnya.

Satu kota di Indonesia yang tak bisa dipisahkan dari batik adalah Solo. Ketika berkunjung ke kota di Jawa Tengah ini, cobalah untuk menyempatkan diri untuk mengunjungi museum yang menyimpan sejarah batik dan pembuatannya dalam ragam koleksi milik H. Santosa Doellah, yakni House of Danar Hadi.

House of Danar Hadi menceritakan kepada kita perjalanan batik Indonesia.
Ruang pamer batik pengaruh kraton di Museum Danar Hadi, Solo, Jawa Tengah. Foto: Dok TL/Suryo

Nama butik sekaligus museum batik yang terletak di Jalan Slamet Riyadi ini sesungguhnya gabungan nama istri dan mertua Santosa, Danar dan Hadi. Nam pertama adalah nama istri sang pemilik, Danarsih. Sedangkan Hadi dari nama mertuanya, Hadipriyono. 

Solo memang saksi cikal bakal lahirnya Batik Danar Hadi. Ia berawal dari kecintaan Santosa Doellah pada batik, ia mengumpulkan 10 ribu jenis batik dan sekitar 500 di antaranya dipajang di museum ini.

Dengan membayar Rp  25 ribu, pengunjung akan mendapatkan seorang pemandu yang akan membantu menyusuri seluruh galeri dalam museum ini. Sebelas galeri menyimpan beragam jenis batik dari berbagai era dan daerah, proses pembuatan batik, dan koleksi batik mahakarya Santosa Doellah.

Di galeri pertama, ada batik Belanda yang dibuat pada masa penjajahan kolonial. Batiknya berwarna cerah dengan motif-motif dongeng Grimm bersaudara. Ada batik dengan motif si kerudung merah dan serigala serta batik bermotif rumah kue Hansel dan Gretel.

Di ruangan kedua, ada batik dari dua keraton Mataram, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Di sini orang bisa belajar membedakan batik gaya Kraton Yogya dan Kraton Solo.

Kadang untuk nama motif yang sama, ada perbedaaan pewarnaan. Atau, motif yang sama ternyata penggunaannya bisa untuk momen yang berbeda. DI tempat ini Pengunjung juga bisa belajar cara penggunaan kain batik ala kasunanan (Solo) atau kasultanan (Yogya).

Batik keraton Solo umumnya didominasi oleh warna hitam, cokelat, dan biru tua yang biasanya sekaligus menunjukkan strata kebangsawanan pemakainya. Batik keraton memiliki beragam ukuran dan motif yang masing-masing memiliki fungsi dan filosofi tersendiri. Museum ini juga menyimpan motif batik tertua, yakni batik kawung.

Museum Danarhadi
Penjaga melintas di depan batik yang digunakan oleh Istri Sukartno di ruang pamer Batik Indonesia di Museum Danar Hadi, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (14/2/2015). Museum Batik Danar Hadi adalah salah satu museum batik terbesar dengan puluhan ribu motif batik yang terbagi dalam sembilan jenis batik: Batik Belanda, Batik Cina, Batik Jawa Hokokai, Batik pengaruh India, Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran dan Petani, Batik Indonesia dan Batik Danar Hadi. Foto: Suryo Wibowo

Pada galeri selanjutnya, pengunjung akan diperkenalkan pula pada batik yang mendapat pengaruh tradisi India. Motif ini pertama kali dibawa oleh para pedagang Gujarat pada abad 16.

Ada pula batik yang mendapat pengaruh keraton dan Jepang yang dinamai Jawa Hokokai. Ada cerita unik soal munculnya batik yang mirip motif kraton namun dengan pewarnaan atau gaya yang sedikit perbeda. Konon ini terjadi karena masyarakat biasa di Jepang atau negara Asia lainnya, seperti saudagar dan petani, yang tertarik ingin memiliki kain batik layaknya keluarga kraton Jawa, sehingga mereka membuatnya dengan warna yang lebih terang dan motif yang lebih sederhana. Ini untuk membedakannya dengan batik keraton.

Batik-batik tersebut sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pola-pola dari negara mereka, misalnya Negeri Tirai Bambu. Batik Cina memiliki warna yang lembut, seperti merah muda, oranye, atau hijau muda dengan motif gerigi yang khas.

Soal pewarnaan ini, di antara galeri-galeri itu juga ada galeri yang memberikan gambaran soal pilihan warna dan dari unsur pewarnaan itu diambil. Warna sogan –coklat khas batik, misalnya diambil dari dedaunan dan akar-akaran. Sementara warna lain juga diambil dari bahan-bahan alami lainnya.

Di galeri pembuatan batik House of Danar Hadi, pengunjung dapat mempelajari delapan tahapan pembuatan batik dari kain mori polos, klowongan, tembokan, wedelan, kerokan, biron, sogan hingga kemudian menjadi batik. Dalam stoples-stoples kaca disimpan tanaman-tanaman, bahan kimia, dan ragam jenis lilin yang digunakan untuk batik tulis tradisional.

Batik kontemporer hadir dari rancangan-rancangan desainer Indonesia, seperti Soemihardjo, Bambang Oetoro, dan Guruh Soekarno Putra. Batik ini memiliki motif yang lebih unik, seperti motif Pancasila dan motif api Reformasi.

Di galeri terakhir, Santoso Doellah menyimpan batik tulis dengan motif paling rumit dan paling indah. Motif tersebut ia anggap tidak akan bisa ditiru atau dibuat kembali. Salah satu batik unik tersebut adalah Batik Tiga Negeri. Disebut demikian karena batik ini dibuat di tiga tempat yang berbeda untuk setiap warnanya. Warna merah dibuat di Lasem, biru di Pekalongan, dan cokelat di Solo.           

Selain menjelajahi isi museum, pengunjung bisa melengkapi wisata dengan berbelanja produk-produk Batik Danar Hadi. Pintu ke luar museum terhubung langsung dengan ruangan toko batik. Batik Danar Hadi kini telah menuai kesuksesan dan ketenaran melalui 17 gerainya yang tersebar di kota-kota di Indonesia. Bukan hanya koleksi batiknya saja yang luar biasa, tapi juga museum ini dilengkapi dengan arsitektur mewah dan klasik dengan lampu gantung, lukisan, dan cermin berpigura emas.

Pernah mampir ke House of Danar Hadi? Jika belum, cobalah agendakan untuk mengunjunginya jika sedang berada di Solo.

agendaIndonesia/TL-Yolanda/Suryo

*****

Sentra Gudeg Wijilan Dimulai Sejak 1942

Sentra Gudeg Wijilan Yogyakarta dimulai sejak 1942.

Sentra gudeg Wijilan, Yogyakarta, ternyata bukan sekadar kawasan dengan deretan penjual masakan khas Yogyakarta dari bahan nagka muda itu. Kawasan ini menyimpan sejarah panjang kuliner yang ikut menyokong perekonomian masyarakat, bahkan tradisi dan kebudayaan.

Sentra Gudeg Wijilan

Wijilan satu kawasan yang terkenal sekaligus bersejarah yang berhubungan dengan masakan gudeg. Kampung Wijilan terletak di sebelah Selatan Plengkung Tarunasura atau yang lebih dikenal dengan sebutan Plengkung Wijilan. Kampunya ada di sebelah Timur Alun Alun Utara. Begitu melewati plengkung, di jalan ini berjejer tempat makan yang menjajakan gudeg.

Sentra Gudeg Wijilan selain menjadi pusat kuliner juga tempat belajar sejarah gudeg.
Salah satu sudut Kampung Wijilan, sentra gudeg di Yogyakarta. Foto: Dok. Shutterstock

Plengkung itu sendiri menandai bahwa Kampung Wijilan ini menjadi bagian apa yang disebut sebagai jeron beteng, di dalam benteng (kraton). Ini artinya Wijilan masuk dalam kompleks Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang ditinggali oleh para keluarga abdi dalem. Nama-nama jalan di kawasan ini memperlihatkan posisi para abdi dalam.

Menurut cerita sejumlah pedagang gudeg di kawasan itu, gudeg adalah salah satu makanan khas keluarga kraton. Ini membuat para istri abdi dalem memiliki kemampuan membuat gudeg.

Namun, kisah terbentuknya kampung Wijilan menjadi sentra kuliner gudeg dimulai ketika seorang penjual bernama ibu Slamet merintis usaha warung gudeg pada 1942. Pada saat itu, meski di tempat lain ada penjual atau pembuat gudeg, namun di wilayah itu dialah yang merintis menjadi pedagang pertamanya.

Beberapa tahun kemudian warung gudeg di daerah itu bertambah dua, yakni Warung gudeg Campur Sari dan Warung Gudeg Djuwariah. Yang terakhir ini belakangan kemudian dikenal dengan sebutan gudeg Yu Djum. Ia menjadi salah satu ikon kuliner yang terkenal saat ini.

Pada 1980, warung gudeg Campur Sari tutup tetapi tempat makan lain seperti warung gudeg Bu Lies dan lain-lain buka di sana. Hingga saat ini, toko gudeg milik Yu Djum, Bu Slamet, dan Bu Lies masih ditemui di Sentra Gudeg Wijilan. Meskipun beberapa memindahkan dapur utamanya.

Pasang surut usaha gudeg memang sempat dialami oleh warung gudeg yang ada di kampung Wijilan. Termasuk tutupnya warung gudeg Campur Sari tadi. Butuh waktu sekitar 13 tahun baru warung gudeg di kampung tersebut menjadi ramai seperti saat ini tepatnya pada 1993. Makanan dengan citarasa manis dan gurih ini kini menjadi incaran para pengunjung yang sedang berwisata di Jogja.

Gudeg yang dibuat oleh toko di Sentra Gudeg Wijilan umumnya memiliki rasa hampir mirip, yakni manis dan cenderung jenis gudeg kering. Karena itu, gudeg di sentra ini juga cocok menjadi buah tangan karena tidak mudah basi dan bahkan mampu tahan selama tiga hari.      

Gudegnya adalah jenis gudeg kering dengan rasa manis. Sebagai lauk pelengkap, daging ayam kampung dan telur bebek yang dipindang kemudian direbus. Sedangkan rasa pedas datang dari paduan sayur tempe dan sambal krecek.

Gudeg Yogya umumnya memang berbeda dengan gudeg Solo yang basah. Di kota pelajar ini gudeg justru kering karena tidak menggunakan areh yang diencerkan. Areh merupakan kuah santan kental yang biasanya disajikan dengan cara disiram di atas nasi atau lauk. Di daerah lain seperti Solo, areh yang dipakai berbentuk lebih encer dan terkesan menjadi seperti kuah.

Dan seperti disebut di depan, bagi masyarakat Yogyakarta selain menjadi santapan dan oleh-oleh, gudeg Kampung Wijilan dulu juga dipakai sebagai ubo rampe keperluan keluarga Sultan saat melakukan kembul bujono.

Sentra Gudeg Wijilan dimulai dari warung gudeg milik bu Slamet pada 1942.
Sepiring gudeg yang dialasi daun pisang. Foto: Dok. shutterstock

Kembul bujono merupakan istilah untuk menamai kegiatan makan bersama-sama dengan menggunakan daun pisang sebagai alasnya. Tak hanya mengisi perut, aktivitas ini juga melambangkan kekompakan dan kerukunan.

Yang juga unik dari gudeg-gudeg di Sentra Gudeg Wijilan adalah beberapa penjual tidak keberatan menunjukkan cara memasak gudeg kepada para pengunjung. Bahkan di warung gudeg Yu Djum menawarkan paket wisata memasak gudeg kering bagi anda yang ingin memasak sendiri dengan pengarahan langsung dari Yu Djum. Saat ini dilanjutkan anak keturunannya.
Dengan berwisata gudeg, pengunjung tidak hanya akan mencicipi gudeg, namun seharian penuh mereka akan belajar meracik bumbu dan mamasak gudeg. Prosesnya di mulai dari mulai merajang gori (nangka muda), meracik bumbu, membuat telur pindang, sampai mengeringkan kuah gudeg di atas api.

Sentra Gudeg Wijilan juga tempat untuk mencari oleh-oleh, di antaranya gudeg dalam kaleng.
Gudeg Dalam kaleng. Foto. ist.

Rata-rata warung gudeg di Wijilan buka dari pukul 5.30 pagi hingga pukul 8 malam. Gudeg yang disajikan pun berbeda-beda, tergantung selera.

Sentra Gudeg Wijilan pada akhirnya tak hanya sekadar spot wisata, namun juga pusat konservasi kulineri Yogyakarta. Tertarik? Ayo agendakan kunjunganmu ke sini.

agendaIndonesia

****

Penyu Belimbing, 2 Pantai Favorit Bertelur

Penyu Belimbing punya tempat bertelur favorit di Tambrauw Papua Barat.

Penyu Belimbing atau dikenal dengan nama latin Dermochelys coriaceadi ternyata punya tempat favorit untuk bertelur, dan itu di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Taman Pesisir Jeen Womom, yang meliputi wilayah Pantai Jamursba Medi (Jeen Yessa) dan Pantai Warmon (Jeen Syuab), menjadi satu-satunya tempat bertelur rutin penyu Belimbing di Indonesia.

Penyu Belimbing

Berdasar data World Wide Fund for Nature (WWF), misalnya, sepanjang 2017 tercatat 1.240 sarang penyu belimbing ditemukan di pesisir tersebut. Peneliti penyu senior Universitas Udayana, Ida Bagus Windia Adnyana, menyebut jumlah itu tercatat sebagai salah satu yang terbesar di dunia.

Penyu Belimbing yang ditemukan di pesisir Jeen Womom umumnya hanya yang berjenis kelamin betina dan berusia 15-30 tahun. Sepanjang tahun 2019, 281 ekor mendarat di sana untuk menetaskan tukik-tukiknya.

Biasanya setelah bertelur, penyu Belimbing akan kembali ke perairan Samudra Pasifik dan berenang sampai perairan California, Amerika Serikat, tepatnya di Pantai Monterey. Di sana mereka memburu makanan utamanya, yakni ubur-ubur jelly blubber atau Catostylus mosaicus.

Keberadaan penyu belimbing di perairan California itu disebut membantu mengontrol lonjakan populasi ubur-ubur yang sering menguasai kawasan perairan wilayah itu. Karena itu, masyarakat California mesti ikut menjaga kelangsungan hidup penyu belimbing karena kalau punah, lonjakan populasi ubur-ubur tidak terkendali.

Setelah makan dan bereproduksi, penyu Belimbing akan berenang kembali mengikuti arus menuju Pantai Jeen Womom. Mereka berenang kira-kira enam bulan untuk sampai ke perairan Papua Barat. Dalam perjalanannya, penyu itu akan mampir ke feeding ground atau tempat mencari makan. Salah satunya di Pulau Kei, Maluku Tenggara.

Sesampainya di Jeen Womom, penyu belimbing bakal berputar-putar mencari tempat untuk bertelur. Konon, pantai tersebut mereka pilih karena memiliki kualitas pasir yang lembut dan cocok untuk penetasan tukik penyu Belimbing.

Dalam proses bertelur, penyu akan menggali lubang sedalam satu meter. Sekali bertelur, telur penyu belimbing berjumlah lebih-kurang 80 butir. Tukik akan menetas setelah 60 hari.  

Penyu Belimbing memiliki ciri unik. Utamanya tentu soal ukuran tubuhnya yang berukuran paling besar dibanding penyu jenis lainnya. Panjang lengkungan punggungnya mencapai sekitar 1,2-2,4 meter.

Penyu ini juga merupakan penyu satu-satunya yang tidak memiliki karapas keras. Sedangkan bentuk punggungnya menyerupai belimbing yang memiliki uliran tajam.

Adapun rahang penyu sangat lunak. Inilah yang membuat penyu harus menyantap makanan yang juga lunak, seperti ubur-ubur. Telur penyu Belimbing abnormal karena tidak memiliki kuning telur. Ukuran telurnya sebesar bola tenis.

Telur penyu belimbing menjadi incaran utama predator darat. Manusia, babi, dan anjing hutan menjadi ancaman terbesar punahnya penyu belimbing dan tukik-tukiknya.

Di Indonesia, penyu belimbing pernah bertelur di sejumlah tempat. Misalnya di Aceh dan kawasan Sukamade di Jember, Jawa Timur. Namun tidak terprediksi dan tidak rutin. Bisa jadi mereka hanya terbawa arus karena penyu kan berenang mengikuti arus. Jumlah penyu Belimbing di Aceh tak sampai 10 persen. Itupun tak terprediksi selalu ada. 

Banyak wisatawan tertarik menyaksikan penyu yang konon telah langka itu. Penyu ini bertelur sepanjang tahun. Pada Januari sampai Juni, penyu akan bertelur di Pantai Jamursba Medi. Sedangkan pada Juli sampai Desember, penyu akan bertelur di Pantai Warmon.

Dinas Perikanan Kabupaten Tambrauw menerapkan aturan khusus apabila ada wisatawan ingin mengamati penyu bertelur. Sebab, penyu sangat sensitif. Ada beberapa hal yang wajib diperhatikan, seperti berikut ini.

  • Menggunakan Senter Merah

Wisatwan wajib menggunakan senter atau lampu berwarna merah. Lampu itu hanya dinyalakan seperlunya. Adapun cahaya lampu tak boleh langsung ditembakkan ke wajah penyu. Bila terkena cahaya, penyu akan kehilangan orientasi arah.

  • Mendekat dari Belakang

Cara mendekati penyu adalah dari belakang dengan mengikuti bekas jejaknya. Usahakan merunduk dekat pasir. Anda harus menjauh apabila penyu menunjukkan tanda-tanda terganggu.

  • Waktu Mengamati

Waktu mengamati penyu tak boleh lebih dari 30 menit. Selama mengamati itu pula, Anda tidak boleh bersuara dan harus bergerak sangat pelan.

  • Etika Memotret

Anda tidak diperkenankan memotret penyu yang sedang mengeluarkan telur. Pemotretan hanya boleh dilakukan ketika penyu telah selesai bertelur. Hindari pemotretan yang terlampau lama karena akan membuat penyu tidak nyaman.

  • Etika melihat Tukik yang menetas

Tukik yang baru menetas harus terhidar dari lampu senter dan blitz kamera. Maka itu, wisatawan tidak dibolehkan menyalakan lampu selama tukik berjalan di pantai hingga masuk ke laut.

  • Cara bertemu Penyu di Laut

Saat di laut, wisatawan harus menjaga jarak aman dengan penyu. Mereka tidak boleh mengganggu penyu yang sedang istirahat, kawin, atau makan. Penyu harus didekati dengan pelan-pelan. Anda juga harus menjauh bila penyu merasa terganggu. Selain itu, dilarang melempar, menembak, menangkap atau menunggangi penyu. Penyu juga tak boleh diberi makan.

  • Berkemah di Pantai Tempat Penyu Bertelur

Bila wisatawan membuka tenda di wilayah tempat bertelurnya penyu, mereka tidak boleh menyalakan api unggun. Sampah pun tidak boleh ditinggalkan. Semua harus dibawa pulang kembali karena dapat mengancam ekosistem penyu.

agendaIndonesia/Rosana

Museum UGM, 1 Kenangan Masa Kecil Obama

Museum UGM Yogyakarta menjadi tempat pembelajaran bagi generasi muda.

Museum UGM atau Museum Universitas Gadjah Mada di kawasan Bulaksumur, Yogyakarta, mungkin nyaris luput dari pantauan wisatawan Indonesia. Bisa jadi karena museum belum merupakan spot destinasi wisata yang digandrungi para pelancong. Bisa pula karena spot ini masih belum banyak yang mengetahuinya.

Museum UGM

Padahal, Museum UGM sudah berdiri dan terbuka untuk umum sejak 2013. Hampir sepuluh tahun. Ada sejumlah atraksi di dalam museum ini yang menarik. Mulai dari sejarah berdirinya salah satu universitas terbesar dan tertua di Indonesia ini, hingga satu spot kecil tentang mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Indonesia sangat lekat dalam ingatan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Sebab ia pernah menikmati masa kecilnya di negeri ini. Kenangan akan jejak-jejak Obama itu terbingkai di beberapa tempat. Misalnya sebuah sekolah dasar di kawasan Menteng, Jakarta. Atau, sebuah rumah di kawasan perumahan dosen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Museum UGM menjadi saksi pernah disinggahinya kawasan Bulaksumur UGM oleh Obama.
Salah satu kamar tempat Barack Obama pernah menginap. Foto: dok. MuseumUGM.ac.id

Salah satu tempat yang mengabadikan kenangan masa kecilnya adalah Museum Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulak Sumur, Yogyakarta. Eks perumahan dosen  pergutuan tinggi negeri itu yang kini disulap menjadi ruang edukasi. Salah satunya dulu merupakan tempat tinggal paman tiri Obama, Profesor Iman Sutiknjo.

“Dulu, ketika libur sekolah, Obama sering menginap di sini,” kata Uun, edukator Museum UGM, saat ditemui di Yogyakarta. Ia lalu mengantarkan sejumlah tamu menuju sebuah ruangan khusus yang dinamai Ruang Obama.

Ruang yang lebih mirip kamar berukuran 3×4 meter itu seperti mesin waktu. Aura masa lampau alias tempo dulu begitu terasa. Apalagi di dalam kamar ini berisi barang-barang kuno, seperti tempat tidur kayu, kasur ukuran single, meja dan kursi belajar, serta kumpulan foto masa kecil sang mantan presiden.

Konon, kamar itulah yang sering ditinggali Obama selama ia berlibur di kota pelajar. Sebuah ruangan yang sempat disinggahi seorang tokoh dunia.

Museum UGM tak cuma mematri kenangan masa kecil Obama. Ruangan untuk mengenang Prof. Dr. Sardjito juga dihadirkan di dalamnya. Dr Sardjito adalah rektor pertama UGM sekaligus ilmuwan pertama yang menciptakan obat calcusol. Calcusol terkenal sampai sekarang sebagai obat penyembuh batu ginjal berharga murah.

Di Ruangan Sardjito, tertampil benda-benda peninggalannya. Seperti radio lawas, cangkir, mesin ketik, dan meja-kursi. Ada juga patung Sardjito memakai setelan jas yang lengkap di tengah ruangan. Di sampingnya, tergantung toga dan pakaian doktornya. 

Di samping ruang khusus Sardjito, ada ruangan luas yang menyimpan benda-benda ilmiah karya para mahasiswa. Ada pula di dalam Museum UGM itu tempat khusus untuk mengenal perjalanan UGM dari masa dibangun sampai kini. 

Pendirian Museum UGM sendiri berangkat dari pertimbangan bahwa Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah universitas negeri tertua dan terbesar di Indonesia. Dalam sejarah pendiriannya, UGM tidak terlepas dari peran para tokoh pejuang dan pendiri bangsa dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia.

Museum UGM ingin mengabadikan sejumlah karya dan perjalanan universitas ini sejak berdirinya hingga kini.
Salah satu sudut Gedung Pusat UGM Yogyakarta. Foto. Dok. Unsplash

Berbagai tokoh pejuang perang kemerdekaan telah berjasa melahirkan Universitas Gadjah Mada. Maka tidak heran bila Universitas Gadjah Mada dikatakan sebagai Universitas perjuangan dan berkerakyatan.

Di samping itu, UGM juga menjadi media transformatif dalam bidang keilmuan, kemasyarakatan, dan kebangsaan. Dengan peran yang dimiliki oleh UGM tersebut telah mendekatkan diri dengan masyarakat karena telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan.

Dokumentasi yang melimpah tentang sumbangsih UGM baik dalam pengabdian masyarakat, pendidikan, dan penelitian perlu dikenalkan, dikelola, dan dibudidayakan supaya tetap terpelihara. Selain itu, dengan dokumentasi di dalam bentuk museum ini masyarakat bisa mengenal lebih dekat lagi melalui rekam jejak UGM dan sumbangsihnya dari masa ke masa.

Museum UGM menempati dua lahan eks perumahan dosen. Museum UGM terletak di Kompleks Bulaksumur, tepatnya di rumah yang berada di Blok D6 dan D7 di Kompleks Bulaksumur. Bulaksumur sendiri adalah kompleks UGM yang berada di sisi Timur Jalan Kaliurang.

Sebelum menjadi museum, kedua rumah ini merupakan tempat tinggal dua orang guru besar Universitas Gadjah Mada. Rumah D6 pernah ditinggali oleh Prof. Kardono Darmojuwono, seorang dekan Fakultas Geografi UGM. Sedangkan rumah D7 pernah ditinggali Prof. Drs. Iman Soetiknjo, seorang dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM.

Museum ini mulai dibuka untuk umum pada 2013. Para wisatawan umumnya datang saat libur lebaran atau akhir tahun. Jumlah pengunjung pada tanggal merah mencapai 100 orang per hari. Tak ada retribusi untuk masuk museum.

Jadi, meskipun bukan alumni universitas ini, tak ada salahnya mengagendakan kunjungan ke Museum UGM sekali-sekali.

agendaIndonesia

*****