6 Kampung Adat Jawa Barat Tradisi Yang Perlu Dilestarikan

Program Bangun Desa termasuk di dalamnya kampung adat di Jawa Barat

Kampung adat Jawa Barat, seperti juga sejumlah kampung adat di banyak daerah di Indonesia makin hari keberadaannya makin terpinggirkan. Perkembangan peradaban mendorong bergesernya fungsi kebutuhan primer. Bahan makanan menjadi komoditas dan rumah menjadi instrumen investasi. Di tengah laju modernitas, sejumlah daerah di Jawa Barat masih mempertahankan pola kehidupan tradisional.

Kampung Adat Jawa Barat, Warisan dan Zaman

Masyarakat adat ini teguh memegang warisan leluhur untuk senantiasa hidup selaras dengan alam. Masing-masing kampung adat memiliki nilai yang berbeda satu sama lain. Ada yang sama sekali menolak alat elektronik, tetapi ada pula yang terbuka terhadap kemajuan teknologi. Ada yang tinggal secara permanen dan ada yang berpindah-pindah tempat. Meski demikian, kampung adat Jawa Barat lekat dengan pola dan ciri masyarakat agraris. 

Sebagian besar menggantungkan mata pencaharian sebagai petani. Mereka menjaga kelestarian lingkungannya dengan menghindari produk-produk sintetis, seperti pupuk, plastik, obat, dan sabun dari bahan kimia. Dengan keunikan karakteristik ini, kampung adat justru menjadi magnet bagi orang-orang yang jenuh dengan aktivitas serba instan dan udara kota yang polutif.

Maka, melambatlah sejenak dan rasakan ketenteraman hidup di tengah alam yang masih murni. Masyarakat adat akan dengan senang hati menyambut wisatawan yang ingin bersilaturahmi dan mengenal budaya setempat. Budaya Kampung adat Jawa Barat.

  • KAMPUNG NAGA

Naga pada nama kampung ini bukan melambangkan hewan mitos, melainkan berasal dari bahasa Sunda nagawir, yang berarti dikelilingi tebing atau jurang (gawir). Masyarakat Desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya tersebut masih memegang erat adat istiadat dari leluhurnya. Mereka hidup dalam kesahajaan, tanpa alat elektronik dan kendaraan. Inilah satu dari 6 adat Jawa Barat.

Seluruh bangunan di kampung ini pun sama persis, yakni rumah panggung yang terbuat dari kayu. Atapnya berupa daun nipah, ijuk, atau alang-alang. Rumah di sini memiliki dua pintu yang sejajar. Pasalnya, masyarakat meyakini adanya pintu belakang akan membuat rezeki yang masuk dari pintu depan bisa keluar lewat belakang. 

Jumlah rumah di Kampung Naga juga tidak pernah berubah, yakni 112 unit. Jika ada penduduk yang ingin membangun rumah baru, harus berada di luar kampung. Mereka kemudian akan menyandang predikat warga adat luar. 

Jika ingin menginap, dapat membuat janji terlebih dulu dengan pemandu setempat. Namun pelancong hanya boleh menginap maksimal satu hari. Jangan lupa pelajari aturan tinggal di sini. Salah satunya, tidak boleh memasuki kawasan hutan larangan, apalagi memetik buahnya. Ini bukan karena alasan mistis, melainkan agar alamnya tetap lestari. Bahkan penduduk yang membutuhkan kayu bakar pun hanya boleh mengambil ranting yang sudah jatuh di sungai atau tanah sekitar hutan.

Berkunjung ke sini belum lengkap jika tidak mencoba sajian kulinernya. Ada pipis, kue singkong yang diisi gula. Menyantap makanan ini lebih nikmat jika ditemani bajigur yang hangat dan manis. Selain kuliner, sempatkan pula membeli kerajinan tangan dari penduduk Kampung Naga.

  • KAMPUNG ADAT CIPTAGELAR

Pagi menjelang, tetapi suhu di Kampung Ciptagelar tak beranjak dari 20 derajat celsius. Pasalnya, kampung adat Jawa Barat ini berada pada ketinggian 1.050 meter di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan dikelilingi banyak gunung lain, seperti Gunung Kendeng, Karancang, dan Surandil. 

Ciptagelar juga kerap disebut sebuah kasepuhan karena mengusung model kepemimpinan adat dari orang tua atau sesepuh. Kasepuhan ini telah beberapa kali memindahkan pusat pemerintahan desa yang disebut Kampung Gede. Penduduknya memang masih menjalankan tradisi berpindah tempat berdasarkan perintah leluhur (wangsit). Saat ini, Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar berada di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

kampung adat
Kampung Ciptagelar di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Karena itulah rumah warga berupa bangunan tidak permanen. Rangkanya terbuat dari kayu dengan anyaman bambu dan beratapkan pelepah aren yang dikeringkan. Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani. Sementara sisanya berdagang, beternak, menjadi buruh, dan pegawai.

Setahun sekali, mereka menanam padi secara serentak dengan memperhatikangejalaastronomi. Karena masih terikat pada tradisi, petani tidak menggunakan pupuk kimia, pestisida, traktor, dan mesin giling. Semua hasil panen tidak boleh dijual, melainkan hanya dikonsumsi sendiri. Ini membuatKasepuhan Ciptagelar mampu berswasembada pangan hingga beberapa tahun kedepan.

Jika berminat merasakan tinggal di tengah hamparan sawah dan sungai yang jernih, wisatawan bisa menginap di permukiman warga. Empunya rumah tidak mematok tarif dan menyerahkannya pada tamu yang menginap. Warga Ciptagelar juga terbuka pada kemajuan teknologi. Sudah ada listrik, sehingga wisatawan tak perlu ragu untuk berfoto atau mengecas ponsel.

  • KAMPUNG ADAT CIRENDEU

Kampung Cirendeu berada di kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Berbeda dari kampung adat lainnya, tanaman pertaniannya bukan padi, melainkan singkong. Maka, masyarakat tidak mengonsumsi beras sebagai makanan pokok, tetapirasi, singkatan dari beras singkong.

Demi kelestarian alam, penduduk membagi hutan menjadi tiga bagian, yaitu leuweung larangan (hutan larangan), leuweung tutupan(hutan reboisasi), dan leuweung baladahan (hutan pertanian). Hutan larangan tidak boleh ditebang agar ketersediaan air tetap terjaga. Pohon hutan reboisasi boleh ditebang untuk pembangunan tetapi harus ditanami lagi. Sementara hutan pertanian boleh dibuka untuk bercocok tanam ketela, jagung, atau umbi-umbian.

Salah satuprinsip hidupnya adalah “Ngindungka waktu, mibapa ka jaman.” Artinya, senantiasa melestarikan cara, ciri, dan keyakinan masing-masing, tetapi tetap beradaptasi pada perubahan zaman. Misalnya, mengikuti perkembangan teknologi berupa listrik, televisi, atau ponsel. 

Jika berkunjung pada malam tahun baru Saka Sunda yang biasanya jatuh pada Oktober,wisatawan akan berkesempatan menyaksikan Upacara Syura-an yang dirayakan sebagai rasa syukur atas rahmat Tuhan. Para pemuka adat, warga, dan pemerintah kota akan datang dan turut meramaikan acara adat tersebut.

  • KAMPUNG ADAT KUTA

Kerap dijuluki sebagai kampung seribu pantangan, kampung adat Kuta memang memiliki banyak peraturan. Tujuannya, tak lain untuk menjaga agar alam sekitar dan tradisi leluhur tetap lestari. Salah satunya adalah pantangan membangun rumah dari tembok dan genting. Semuanya harus terbuat dari bambu atau kayu, dengan atap rumbia atau ijuk. Masyarakat meyakini jika ada warga yang membangun rumah dari tembok, seluruh kampung akan mendapat musibah. 

Warga juga dilarang membuat kamar mandi atau jamban di masing-masing rumah. Sebagai gantinya, mereka menggunakan kamar mandi umum yang biasanya menyatu dengan kolam ikan. Bentuknya berupa bilik bambu setengah terbuka. Sementara airnya berasal dari mata air yang mengalir melalui pancuran. Ketiadaan tangki septik diyakini dapat mencegah pertumbuhan bakteri dan nyamuk penular demam berdarah di sekitar rumah.

Selain itu, warga tidak boleh menguburkan jenazah di kawasan kampung agar air tanah tidak tercemar. Sumur bor pun tidak boleh dibangun karena tanah di di Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis ini tergolong labil.

Pantangan juga hadir di beberapa situs bersejarah bekas peninggalan Kerajaan Galuh. Ada hutan keramat Leuweung Gede, Gunung Barang yang diyakini sebagai tempat penyimpanan barang kerajaan, dan tempat pemandian Ciasihan.

Di sini, masyarakat sering mementaskan kesenian calung, reog, sandiwara, tagoni, jaipongan, kasidah, ronggeng, dan dangdut. Berwisata ke Kampung Kuta akan menambah pengalaman sekaligus mengasah kearifan pemikiran sesuai tradisi nenek moyang.

  • KAMPUNG ADAT PULO

Di dalam kompleks Candi Cangkuang, terdapat perkampungan adat yang didirikan oleh Embah Dalem Arif Muhammad pada abad ke-17. Ia merupakan seorang pejuang Mataram yang kemudian singgah dan menyebarkan agama Islam di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.

Ia memiliki tujuh anak, yakni enam perempuan dan satu laki-laki. Karenanya, terdapat enam rumah dan satu musala di Kampung Pulo. Dari masa ke masa, tidak boleh ada penambahan rumah, harus tetap berjumlah tujuh pokok bangunan. Anak yang menikah harus meninggalkan kampung. Baru kalau orang tuanya meninggal, keluarga anak perempuan boleh masuk kembali untuk menggantikannya.

Masyarakat adat Kampung Pulo juga tidak boleh beternak binatang besar berkaki empat, seperti kambing, sapi, atau kerbau. Kehadiran hewan besar tersebut dikhawatirkan dapat merusak sawah, kebun, dan makam yang tersebar di berbagai area kampung.

Selain pola hidup sehari-hari, penduduk Kampung Pulo juga masih melestarikan tradisi Hindu. Misalnya dengan memandikan benda pusaka, syukuran, serta ritual lainnya. Terkait kejadian-kejadian pada masa silam, warga tidak boleh memukul gong besar dan dilarang berziarah pada hari Rabu.

Berkunjung ke kawasan ini akan memberikan beragam pengalaman sekaligus, dari wisata budaya, sejarah, hingga pesona magis Kampung Pulo yang seolah-olah terisolasi oleh Situ Cangkuang.

  • KAMPUNG ADAT URUG

Menurut penuturan masyarakat setempat, pernah ada penelitian mengenai kontruksi bangunan Kampung Urug. Hasilnya, terdapat kesamaan sambungan kayu dengan bangunan peninggalan Kerajaan Pajajaran di Cirebon. Karenanya, warga adat meyakini mereka masih memiliki garis keturunan Prabu Siliwangi. 

Sama dengan kampung adat lain, rumah di Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor ini juga terbuat dari bambu dan kayu. Mayoritas penduduknya bertani padi. Hasil panennya harus disimpan di leuit(lumbung) dan tak boleh diambil sembarangan. 

Setiap tahun, masyarakat rutin mengadakan seren taun, yakni ritual adat sebagai wujud syukur sekaligus doa untuk kemakmuran di bidang pertanian. Selain seren taun, terdapat salametan ngabuli untuk memperingati tutup tahun dan salametan Mauluduntuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW).

Berbagai masalah adat dan sosial diselesaikan melalu musyawarah di bangunan bernama Gedong Ageung. Bangunan ini juga sering kali berfungsi sebagai tempat menerima tamu. Di depan Gedong Ageung terdapat rumah panggung yang tinggi bernama Gedong Luhur atau Gedong Paniisan. Tempat ini digunakan sebagai tempat bersemedi tetua adat yang disebut Abah Kolot.

Rosana

3 Kampung Kumuh Berganti Rupa

original BPW2017042104

3 Kampung kumuh berganti rupa kini. Sebelumnya ketiganya tak banyak dilirik orang. Kini malah menjadi salah satu tujuan wisata.

Mulai pangkal timur di Jawa Timur, hingga ujung barat, Pulau Jawa tak ubahnya sebuah daratan padat penduduk—bila dipotret melalui kamera udara. Di titik-titik tertentu, utamanya di wilayah perkotaan, area-area kumuh bermunculan. Namun belakangan beberapa titik itu disulap menjadi permukiman berwarna-warni, layaknya wahana berfoto yang memanjakan mata. Langkah ini berhasil mengubah citra kampung-kampung yang terkenal cemar menjadi solek. 

3 Kampung Kumuh Berganti Rupa dan Bersolek

Berikut adalah tiga contoh kampung yang tadinya berkesan kumuh yang diubah dan didandani menjadi tenpat yang bahkan layak dibanggakan warga kotanya. Tak sedikit warga yang membawa tamunya untuk sekadar berswafoto di kampung-kampung tersebut.

KAMPUNG PELANGI GUNUNG BRINTIK SEMARANG

Sekitar 900 meter dari Lawang Sewu, kota Semarang, Jawa Tengah, berdiri sebuah kampung—tempat bermukimnya 325 keluarga—bernama Gunung Brintik. Sedari dulu, perkampungan ini “dipotret” sebagai area kumuh di kota administrasi. Warga sekitar pesimistis wilayah tersebut bakal memiliki kehidupan yang baik lantaran kondisinya cukup memprihatinkan. Misalnya, tembok-tembok tak terplester dengan semestinya. Tumbuhan-tumbuhan liar merambat sesuka hati, tak dibersihkan atau dipotong.

Namun, mulai bulan keempat 2017, kampung tersebut disulap menjadi berwarna-warni, layaknya kampung pelangi. Pemerintah Kota Semarang setempat menginisiasinya. Renovasi Kampung Brintik tercatat dalam rencana perbaikan Pasar Kembang Kalisari, yang berada tepat di depannya.

Pemerintah menggandeng swasta untuk merenovasi kampung itu. Dana sekitar Rp 3 miliar digelontorkan untuk mengecat hampir semua sisi kampung dengan warna dan pola yang bervariasi. Ada juga mural-mural khas anak muda yang bisa dimanfaatkan sebagai latar swafoto. Selain itu, kampung ini menjadi wahana baru bagi para fotografer untuk membidik gambar.

Dengan begini, Gunung Brintik menjadi salah satu alternatif tujuan wisata yang bisa didatangi pelancong, selain Kota Tua dan Gereja Belenduk. Untuk menuju ke sana, wisatawan cukup berjalan kaki lebih-kurang 13 menit dari Lawang Sewu atau Tugu Muda menuju Pasar Kembang Kalisari. Kampung itu letaknya tepat di muka pasar. Kampung ini jadi kebanggaan warga Jawa Tengah.

KAMPUNG JODIPAN MALANG

Beranjak ke Jawa bagian timur, di Desa Jodipan, Blimbingan, Malang, ada sebuah permukiman yang menyajikan pemandangan serupa, seperti yang terdapat di Semarang. Letaknya persis di pusat kota, dan bisa diakses melalui jalan utama Malang-Blitar. Dulunya, kampung yang berada di bantaran Sungai Brantas ini merupakan kawasan camar, rawan banjir, dan tak terawat. Kini, setelah ide dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)—dan pengusaha cat lokal—untuk merenovasi tercetus, Jodipan berubah wajah menjadi kampung yang tak lagi buruk rupa. 

Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan berkontur tak rata itu dicat dengan beragam warna. Tembok dan gentingnya molek, layaknya pelangi penuh rona—merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. 

Cat yang digunakan untuk memoles tentu yang memiliki karakter mencolok sehingga menarik perhatian siapa pun yang melintas, lebih-lebih para pemburu gambar.

Kampung Jodipan lantas menjadi arena foto yang “seksi”. Sebab, memotret permukiman ini bisa dilakukan dan dibidik dari mana saja. Bisa dari dalam kampung, bisa juga di atas jembatan Sungai Brantas. 

Pengunjung yang ingin bertandang disarankan datang menggunakan sepeda motor karena keterbatasan akses. Biaya parkirnya Rp 2.000. Dapat jua berjalan kaki dari Stasiun Kota Baru menuju Jalan Gatot Subroto (Pecinan). Sedangkan untuk masuk kampung, pelancong tak bakal dipungut biaya. 

KAMPUNG CODE YOGYAKARTA

Pada pertengahan 1980, kampung yang dipenuhi dengan bangunan kayu yang kumuh dan tak terawat itu disulap menjadi arena seni oleh pemuka agama Katolik sekaligus arsitek kesohor, Y.B. Mangunwijaya.

Bentuk rumah yang semula tumpang-tindih mulai ditata mengikuti kontur. Fasilitas umum, layaknya toilet dan balai pertemuan, mulai dibangun. Tembok kosong dilukis penuh mural berisi kritik sosial. Pot-pot bunga diletakkan di pinggir aliran Kali Code, kota Yogyakarta.

 Perubahan terjadi lagi pada 2015. Rumah-rumah dicat warna-warni menyerupai perkampungan di Rio de Janeiro, Brasil. Sejak itu,travelermemasukkan Kampung Code ke list itinerary. Tak hanya bisa berfoto, pelancong dapat berwisata sejarah di tempat tersebut, memahami bagaimana proses perkampungan kumuh itu kini menjadi arena yang estetis. Untuk menuju Kampung Code, wisatawan bisa jalan kaki lebih-kurang 20 menit dari Stasiun Tugu atau Malioboro. Sebab, letaknya persis berada di jantung kota.

*****

Tradisi Pemakaman Di Indonesia, 4 Yang Unik

Tradisi pemakaman di Indonesia ada bagian masyarakat yang melakukannya dengan unik dan kaya falsafah.

Tradisi pemakaman di Indonesia ada beberapa yang luar biasa, dan kaya akan kebudayaan setempat. Ada istiadat pemakaman tak semata mengubur sanak saudara atau keluarga yang meninggal, namun memiliki falsafah yang dalam.

Tradisi Pemakaman di Indonesia

Upacara pemakaman di sejumlah daerah ini merupakan serangkaian kegiatan yang rumit terkait, karena adanya ikatan adat dan tradisi setempat. Kadang ada yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Persiapannya pun hingga berbulan-bulan. Soal biaya ini, kadang ada kebiasaan tersendiri. Ada adat masyarakat yang menabung terlebih dahulu hingga terkumpul uang untuk melaksanakan upacara pemakaman secara lengkap.

Upacara adat ngaben dalam tradisi masyarakat Hindu Bali, misalnya, memiliki tiga jenis: Ngaben Sawa Wedana; Ngaben Asti Wedana; dan Swasta. Ngaben sendiri adalah pemakaman keluarga dengan tradisi pembakaran. Sawa Wedana dilakukan terhadap jenasah langsung setelah meninggal. Biasanya 3-7 hari setelah meninggal.

Sementara ngaben Asti Wedana, biasanya dilakukan pada mereka yang meninggal kemudian dimakamkan atau dikuburkan terlebih dahulu. Sehingga yang dimakamkan biasanya adalah kerangkanya. Sedangkan ngaben Swasta adalah pembakaran tanpa adanya jenasah atau kerangka. Biasanya karena yang meninggal berada di luar negeri dan tidak memungkinkan dibawa pulang, atau meninggal karena kecelakaan pesawat, misalnya.

Selain ngaben, masih ada beberapa tradisi pemakaman yang unik di Indonesia. Berikut empat di antaranya.

Tradisi Rambu Solo di Tana Toraja

Tana Toraja mempunyai upacara adat yang biasa dilakukan, yakni Rambu Solo. Upacara Rambu Solo merupakan upacara pemakaman. Pada upacara ritual ini, penduduk Toraja percaya arwah orang yang telah meninggal akan memberikan kesialan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, memang terkenal unik. Ada jenazah yang digantung bersama dengan petinya pada dinding tebing, selain ditaruh dalam gua. Ada pula yang dikubur di lubang tebing. Di Buntu Pune dan Kete Kesu, misalnya. Erong atau peti mati digantung pada dinding tebing. Sementara itu, di Londa, erong tak hanya digantung di dinding tebing, tapi juga ditaruh dalam gua. Lain halnya dengan erong-erong di Lemo. Erong di sana dimasukkan dalam dinding tebing yang sudah dilubangi.

Selain itu, ada Baby Grave. Letaknya di Kambira, tidak terlalu jauh dari Lemo. Di desa yang terletakdi tenggara Rantepao ini, terdapat kuburan bayi di batang pohon Taraa. Mayat bayi diletakkan dalam lubang pohon tanpa dibungkus apa pun. Lubang ini kemudian ditutup dengan ijuk pohon enau. Tidak ada bau busuk sama sekali meskipun terdapat banyak lubang pohon berisi jenasah.

Tradisi pemakaman di Indonesia mempunyai beragam warna. Salah satu di antaranya adalah di Trunyan, Bali.
Kehidupan tradisi di Desa Trunyan , Kintamani, Bali, Indonesia. Foto: dok. shuterstock

Trunyan Bali

Seperti diceritakan di muka, di Bali umumnya orang yang meninggal akan dikubur atau dibakar dengan upacara ngaben. Namun generasi penerus keturunan Bali Aga di Desa Trunyan punya tradisi berbeda. Orang yang meninggal justru ditaruh di permukaan tanah dangkal berbentuk cekungan panjang.

Warga desa yang terletak
di pinggir Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, ini memang memiliki tradisi unik yang masih dipertahankan sejak dulu hingga sekarang. Mereka “menguburkan” jenazah dengan cara dibaringkan di atas tanah yang disebut Sema Wayah.

Posisi jenazah berjejer bersandingan, lengkap dengan pembungkus kain sebagai pelindung tubuh pada waktu prosesi. Jadi, yang terlihat hanya bagian muka jenazah melalui celah bambu ”Ancak Saji”. Ancak
Saji adalah anyaman bambu segitiga sama kaki yang berfungsi melindungi jenazah dari serangan atau gangguan binatang buas.

Dayak Benuaq, Kalimantan Timur

SUKU Dayak Benuaq atau suku Dayak Bentian di Kalimantan Timur

juga memiliki prosesi khusus untuk menguburkan manusia yang sudah meninggal. Kuburan akan mudah ditemukan di halaman samping rumah atau tepi jalan menuju kampung suku Dayak Benuaq.

Uniknya, jenazah orang Benuaq atau Bentian tidak dikubur dalam tanah atau tebing layaknya tradisi suku lain. Kuburan berbentuk kotak itu disangga tiang atau digantung dengan tali. Setelah beberapa tahun, kuburan tersebut dibuka lagi, lalu tulang-belulang jenazah didoakan dan dimasukkan dalam kotak bertiang permanen.

Tradisi pemakaman di indonesia ada berbagai ragamnya dan keunikannya. Salah satunya Waruga di Minahasa.
Waruga, pemakaman di Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Foto: Dok. shuterstock

Waruga, Minahasa

Di Minahasa zaman dulu, ada memiliki tradisi untuk membuat makam yang nantinya akan mereka tempati sendiri. Mereka juga percaya bahwa makam harus dibuat seindah mungkin untuk menghormati roh si orang meninggal.
Waruga merupakan makam yang terdiri dari dua batu. Batu pertama berbentuk peti dan batu ke dua berbentuk menyerupai limas. Biasanya, waruga akan dihiasi ornamen ukiran hewan, manusia, tanaman, ataupun geometri. Beberapa waruga juga memiliki ornamen berupa kisah hidup manusia.

agendaIndonesia

*****

3 Kampung Adat di Flores yang Unik

Bena

3 kampung adat di Flores, mungkin belum banyak yang tahu. Pulau di Nusa Tenggara Timur ini mungkin lebih dikenal karena ke-eksotisan alamnya, juga ragam budayanya. Padahal, wilayah ini memiliki jejak budaya berupa kampung adat yang harus terus dijaga kelestariannya.

3 Kampung Adat di Flores

Pemandangan berupa barisan pegunungan tampak elok mengelilingi kampung-kampung adat ini. Kampung adat apa saja yang ada di sepanjang Flores ini.

Kampung Bena

Di tengah Pulau Flores, tepatnya 19 kilometer di sisi selatan Bajawa, masih di Kabupaten Ngada dan berporoskan Gunung Inerie (2245 mdpl), kampung adat yang mengesankan kehidupan zaman batu ini bisa dijumpai. Di tanah adat itu, sekitar sembilan suku yang terdiri atas 326 orang menempati 45 rumah kayu, yang dibangun sejajar dan berhadap-hadapan. Sembilan suku itu adalah Bena, Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, serta Ago. Pembedanya, rumah dipisahkan oleh tingkatan-tingkatan. Masing-masing suku menempati satu tingkat. Tingkat paling tengah dihuni suku Benayang dianggap paling tua danpionir pendiri kampung. 

Tradisi dipertahankan di sini, seperti mengunyah sirih pinang, berladang, serta menenun kain tradisional. Pemandangan berupa barisan pegunungan mengelilingi kampung tersebut. Komunikasi antarsuku menggunakan bahasa daerah, yakni Nga’dha. Perlu perjalanan darat lebih kurang sembilan jam dari Labuan Bajo untuk menjangkau lokasi ini. Bisa juga via udara menuju Bandar Udara Soadi, dilanjutkan perjalanan darat lebih kurang satu jam. 

Kampung Wae Rebo

Tujuh rumah kerucut berjuluk mbaru niang, yang dipercaya merupakan warisan nenek moyang dari Minang, berdiri gagah di puncak gunung sebuah desa bernama Wae Rebo di Flores, Nusa Tenggara Timur. Ketujuhnya disusun melingkar, membentuk perkampungan mini yang misterius. Rumah itu menjulang tinggi mencapai 15 meter. Di dalamnya bercokol ruangan lima lantai dan setiap tingkat memiliki makna berlainan. 

Tingkat pertama disebut luntur, tempat berkumpul keluarga. Tingkat kedua adalah loteng atau lobo untuk menyimpan logistik dan kebutuhan sehari-hari. Tingkat ketiga ialah lentar, penyimpananbenih tanaman. Keempat disebut lempa rae, gudang stok makanan bila terjadi kekeringan. Terakhir, hekang kode, biasanya sebagai tempat sesaji. Untuk menjangkaunya, pelancong harus menuju Desa Denge sekitar dua jam dari Rutengdengan kendaraan bermotor. Dilanjutkan pendakian sekitar tiga sampai empat jam dengan medan cukup ekstrem. 

Kampung Gurusina

Tak hanya Bena, Kabupaten Ngada punya Kampung Gurusina. Letaknya di Desa Watumanu, Jerebu’u, masih di kaki Gunung Inerie. Kampung tersebut ditengarai sudah ada sejak 5.000 tahun silam dan digadang-gadang menjadi yang tertua di tanah bunga, Flores. Terdiri atas33 rumah yang dihuni tiga suku besar: Kabi, Agoazi, dan Agokae. Penataan rumahnya mirip di Kampung Bena, yakni berjajar dan berhadap-hadapan. Para lelakipunmenjadi peladang cengkeh, kemiri, kakao, serta jambu mete. 

Hanya tradisi menyimpan ari-ari anaknya di dalam batok kelapa, yang membuat masyarakat ini unik. Ari-ari itu lantas ditempatkan di dahan pohon yang paling tinggi dan rindang. Dengan tradisi ini, anak-anak dipercaya akan menjadi penurut serta pelindung. Selain itu, kelak dapat menaburkan perdamaian di mana pun. 

F. Rosana

Jalan Daendels 1000 Kilo Penyambung Jawa

Tugu Nol Kilometer di Anyer 4

Jalan raya Daendels adalah jalan penyambung pulau Jawa. Gubernur Jendral Belanda itu dikenal kejam, namun ia meninggalkan selarik jalan yang masih dipergunakan saat ini.

Jalan Daendels

Jalan Daendels adalah jalan penyambung pulau Jawa. Gubernur Jendral Belanda itu dikenal kejam, namun ia meninggalkan selarik jalan yang masih dipergunakan saat ini.

Awal abad kesembilan belas, armada laut Inggris terus merangsek ke Batavia, atau namanya sekarang Jakarta . Pulau Onrust dihujani bom besi. Sekoci-sekoci dilepas dari kapal perang, mengejar dan membakar kapal Belanda yang melarikan diri. Menghadapi ancaman ini, Raja Belanda Louis Napoleon, adik Napoleon Bonaparte, mengirim “orang kuat” untuk mempertahankan Jawa. Dialah Marsekal Herman Willem Daendels.

Kekuatan Daendels, jika tidak mau dibilang keganasan, benar-benar terbukti. Untuk mengamankan Jawa, Gubernur Jenderal ke-36 ini menginstruksikan pembangunan jalan strategis militer dari Anyer sampai Panarukan. Hanya dalam setahun, 1808–1809, sekitar 1.000 kilometer jalan selesai dibangun.

 

 

Rute ini disebut Jalan Raya Pos (De Grote Postweg), sebelum dikenal sebagai jalan Daendels, karena Daendels mendirikan 50 pos antara Batavia (Jakarta) dan Surabaya untuk mempercepat komunikasi dengan aparatnya. Perhubungan antarpos masih menggunakan kuda sebagai pengangkutnya. Maka dari itu, pada setiap pos sudah tersedia kuda baru untuk menggantikan kuda yang sudah kelelahan berjalan dari pos sebelumnya. Dengan begitu, stamina dan kesehatan kuda akan selalu terjaga.

Etape pertama pembangunan dimulai dari tempat istana sang gubernur jenderal berada, yakni Buitenzorg (Bogor) menuju Karangsambung di Karesidenan Cirebon. Jalan sejauh 250 kilometer ini terdiri atas ruas Cisarua-Cianjur-Rajamandala-Bandung-Parakanmuncang-Sumedang-Karangsambung.

Baru dimulai, rentetan masalah sudah menghadang. Berbeda dengan daerah lain di Pulau Jawa, wilayah Jawa Barat didominasi perbukitan berbatu cadas dan gunung-gunung tinggi. Apalagi kala itu sebagian besar masih berupa hutan belantara. Karenanya, para pekerja harus bersusah payah membuka hutan terlebih dulu dengan menebang pepohonan besar.

Ruas Megamendung hingga Cadas Pangeran merupakan medan yang paling berat. Konturnya sangat terjal dan berbatu-batu. Saat itu penggunaan dinamit untuk membuka jalan belum lazim. Akibatnya, tangan-tangan letih pribumi jugalah yang harus memapras punggung gunung hanya dengan linggis, kampak, atau pacul. Alhasil, banyak pekerja meninggal akibat tertimpa bebatuan besar atau tertimbun tanah longsor saat musim hujan.

Melihat hal ini, Bupati Sumedang Kusumadinata IX, yang kelak diberi gelar Pangeran Kornel, berang. Ia meminta proyek membobol bukit berbatu cadas itu dibatalkan. Sebagai gantinya, rute jalan dipindahkan ke bibir tebing agar lebih mudah digarap.

Namun sebanyak apa pun korban berjatuhan, Daendels tak ambil pusing. Ia bahkan menyuruh 38 bupati se-Jawa untuk melanjutkan pembangunan sampai ke ujung timur, yaitu Panarukan. Mau tak mau, mereka menurut saja. Pasalnya, sejak awal pemerintahannya, Daendels telah menerapkan sentralisasi kekuasaan. Ia tak sudi hormat kepada raja-raja, apalagi bupati dan residen.

Tak seperti para pendahulunya, Gubernur Jenderal Daendels memiliki wewenang untuk mengatur birokrasi sampai level paling bawah. Dengan cara ini, ia bisa memecat siapa pun yang dianggap membangkang dan melakukan apa saja untuk membuat pemerintahan berjalan efektif. Semua yang menentang perintahnya, orang Belanda sekalipun, akan ditembak mati.

Sebagai pengagum Napoleon, ini tentu bertentangan dengan nilai mulia Revolusi Prancis, yakni Liberte, Egalite, Fraternite (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan). Sepanjang 1.000 kilometer jalan yang ia bangun, hanya ada penindasan, kesenjangan, dan permusuhan. Jalan Pos dibangun di atas nyawa belasan ribu pribumi yang mati akibat kecelakaan, kelaparan, dan malaria.Tak heran jika kemudian orang menjulukinya Tuan Besar Guntur, atas kekejamannya yang begitu menggetarkan semua orang.

Namun kediktatorannya juga yang menjatuhkan kariernya. Rakyat yang marah kemudian melakukan protes dan perlawanan. Di Banten dan Cirebon terjadi pemberontakan, sementara di Yogyakarta, Daendels berkonflik dengan Sultan Hamengkubuwana II. Bahkan orang Belanda sendiri tak jenak dengan kebijakan Daendels. Masalah-masalah ini akhirnya sampai juga ke telinga Louis Napoleon, sehingga pada 1811 ia dipanggil pulang dan diganti oleh Jan Willem Janssens.

Meski dibangun dengan mengorbankan jiwa anak-anak negeri, tak bisa dipungkiri jalan Daendels ini memang memberikan sejumlah keuntungan. Daerah Priangan yang telah lama dikenai koffie-stelselalias tanam paksa kopi, biasanya hanya menghasilkan 120 ribu pikul per tahun. Dengan adanya jalan ini, tentu produksinya meningkat. Daendels sendiri menargetkan 300 ribu pikul. Kopi yang dulunya menumpuk di gudang-gudang Sumedang, Cisarua, Limbangan, dan Sukabumi, kini bisa diangkut ke Pelabuhan Cirebon dan Indramayu.

Selain itu, kehadiran jalan baru yang cukup mulus pada masanya juga memicu tumbuhnya kota-kota baru. Para ahli tata kota mengungkapkan bahwa Weleri, Plered, Pacet, Sidoarjo, Bangil, Gempol, dan Kraksaan tadinya hanyalah pasar kecil yang bertransformasi menjadi kota karena lokasinya berada di persilangan Jalan Pos. Bahkan ibukota Kabupaten Bandung, yang awalnya bertempat di Dayeuhkolot, dipindahkan ke Kota Bandung sekarang.

 

Tugu 1000 Kilometer Panarukan

 

Pun sepeninggal Daendels, Jalan Pos masih tetap bermanfaat, baik sebagai pendukung aktivitas ekonomi, sosial, maupun pariwisata. Ruas di sepanjang Pantai Utara Jawa misalnya, tak pernah sepi dari truk-truk besar yang mengangkut logistiknya ke kota lain.

Atas kekejamannya, orang-orang memelesetkan gelar Maarschalk atau Marsekal di depan nama Daendels menjadi Mas Galak. Hanya tiga tahun ia memerintah, tetapi warisannya begitu melimpah. Di satu sisi ada tangis dan darah, di sisi lainnya terhampar modernisasi administrasi dan prasarana. Seperti halnya lalu-lalang kendaraan yang tak henti-henti di Jalan Raya Pos, demikian pula seharusnya ingatan akan kepingan riwayatnya.

Museum Kereta Ambarawa, Perjalanan 148 Tahun

Museum Kereta Ambarawa pada 2021 berusia 178 tahun

Museum Kereta Ambarawa di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, rasanya sudah banyak yang tahu. Begitupun, jika ditanya pernahkan mampir mengunjunginya? Rata-rata orang menggelengkan kepala.

Museum Kereta Ambarawa

Itu bisa dipahami, karena museum kereta api yang tahun ini berusia 148 tahun tersebut, terletak di kota kecamatan kecil dan tidak berada di jalur utama jalan raya yang menghubungkan Semarang dengan Magelang.

Terlebih saat sekarang, di mana sudah ada fasilitas jalan tol dari ibukota Jawa Tengah itu ke Solo dan Jawa Timur. Mereka yang biasanya menuju ke Yogyakarta melalui jalur Magelang kini banyak yang beralih melalui Boyolali dan Kartasura. Ambarawa rasanya semakin terasa jauh. Entah nanti pada 2024-2025 saat sudah ada jalur tol Semarang-Yogyakarta.

Awalnya, museum ini adalah stasiun kereta api biasa yang melayani rute-tute pendek di Jawa Tengah. Belakangan stasiun ini dialihfungsikan. Sejak pertengahan 2013, stasiun yang berlokasi di pusat Kota Ambarawa atau sekitar 15 kilometer dari Ungaran, Kabupaten Semarang, dan 35 kilometer dari Kota Semarang ini tidak lagi terbuka untuk umum. Ia dijadikan museum perkeretaapian pertama di Indonesia.

Sebelum ditutup, museum ini melayani perjalanan wisata menggunakan kereta atau lori dengan trayek Ambarawa-Bedono. Waktu tempuh menuju Stasiun Bedono sekitar 1 jam untuk 35 kilometer dengan sajian panorama lembah hijau antara Gunung Ungaran dan Merbabu di sepanjang lintasan.

Ada juga rute Ambarawa-Tuntang dengan jarak ke Stasiun Tuntang relatif dekat, hanya 7 kilometer. Di sepanjang lintasan akan ada suguhan lanskap sawah dan ladang berlatar Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, serta Rawa Pening. Untuk menikmati kedua perjalanan singkat tersebut, masing-masing penumpang dikenai biaya Rp 50 ribu (kereta wisata) dan Rp 10 ribu untuk lori atau kereta bak.

Museum Kereta Ambarawa dikembangkan dari Stasiun Willem I yang sudah tidak beroperasi lagi.
Bangunan sisa peninggalan dari Stasiun Willem I di Ambarawa, Jawa Tengah. Foto: dok. shutterstock

Awalnya, lokasi yang ditempati dan menjadi Museum Kereta Api ini stasiun tua yang dialihfungsikan. Dibangun di masa pemerintahan kolonial Belanda pada 21 Mei 1873 atas perintah Raja Willem I, stasiun tua yang kini berusia 148 tahun itu tampak tetap begitu terjaga kecantikannya.

Pada 1970, setelah sebuah gempa besar, stasiun ini ditutup dan mengakibatkan putusnya lalu lintas kereta antara Magelang, Semarang, dan Yogyakarta. Kereta-kereta api juga tidak bisa bergerak ke arah Magelang pada 1972 karena terjadinya banjir lahar akibat erupsi Gunung Merapi.

Penutupan jalur kereta api rute Yogyakarta-Magelang-Secang pada 1975 membawa dampak pada jalur ini. Sejak itu, PT Kereta Api Indonesia, atau saat itu masih bernama Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) menutup jalur kereta api ini.

Selain soal rute, pada 1970-an lokomotif-lokomotif uap yang beroperasi di kawasan ini mulai berguguran karena faktor usia. Banyak yang dirucat, dipindahtangankan, atau bahkan dijadikan barang rongsokan. Karena prihatin dengan hal itu, maka pada 8 April 1976, Gubernur Jawa Tengah saat itu, Soeparjo Rustam, beserta Kepala PJKA Eksploitasi Tengah, Soeharso, memutuskan untuk membuka sebuah museum kereta api yang direncanakan akan mengoleksi barang-barang antik era lokomotif uap. Sejak itu fungsi Stasiun Willem I berubah menjadi museum.

Koleksi yang dimiliki oleh Museum Kereta Api Ambarawa tak kalah menarik. Di halaman menuju bangunan utama stasiun, tampak beberapa lokomotif uap yang sudah tidak beroperasi, seperti B2510 (produksi Hartmann tahun 1911, awalnya bertugas di Stasiun Cirebon untuk perjalanan menuju Tegal, Purwokerto, dan Kudus), BB1012 (produksi Hartmann, 1906, awalnya bertugas di daerah Banjar untuk perjalanan ke sekitar Cijulang dan Rangkasbitung), dan B2014 (produksi Bayer Peacock, 1905).

Museum Kereta Ambarawa memiliki sejumlah koleksi lokomotif uap kuno.
Lokomotif Uap kuno sebagai salah satu koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. Foto: Dok. shutterstock

Di sisi kanan bangunan Stasiun Willem I ini berderet pula beberapa lokomotif tua lain. Di sisi kiri, tampak bergandengan gerbong kereta kayu bernomor GW152002 dengan gerbong bernomor GW152013 dan gerbong terbuka di atas rel.

Jika berjalan berbalik arah melintasi lingkaran besar turntable (perangkat untuk memutar arah jalan lokomotif), pengunjung akan melihat pula garasi terbuka yang dipenuhi beberapa lokomotif dan gerbong kereta api tua. Sebut saja Boni (lokomotif uap bernomor B2502) dan Bobo (lokomotif uap bernomor B2503). Keduanya diproduksi oleh Esslingen—perusahaan teknik Jerman yang khusus memproduksi lokomotif, trem, kereta api, dan peralatan atau perangkat pendukung jasa kereta api—pada 1902.

Dengan sejumlah pengembangan yang kekinian, rasanya museum ini akan menarik minat banyak warga masyarakat untuk mengunjungi. Jika nanti jalan tol Semarang-Yogyakarta sudah beroperasi, Museum Kereta Api Ambarawa bisa jadi alternatif untuk ngaso buat mereka yang melakukan perjalanan dari Jakarta atau kota lainnya.

Museum Kereta Api Ambarawa; Jalan Stasiun Nomor 1, Ambarawa, Kabupaten Semarang

TL/agendaIndonesia

*****

Melihat Komodo di Pulau Rinca yang Asyik

Tarif masuk pulau komodo diberlakujkan untuk menunjang upaya pelsetarian lingkungan.

Melihat Komodo di Pulau Rinca mungkin belum banyak orang yang tahu. Biasanya untuk melihat hewan melata ini, wistawan langsung ke pulau Komodo, di Nusa Tenggara Timur.

Melihat Komodo di Pulau Rinca

 Pulau Rinca adalah pulau terbesar kedua setelah Pulau Komodo di gugusan Kepulauan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Pulau yang hanya bisa ditempuh menggunakan kapal nelayan atau speed boat dari Kota Labuan Bajo ini merupakan habitat hidup komodo.

Sekitar 1.300 ekor komodo hidup bebas di pulau yang tercatat sebagai wilayah penangkaran tersebut. Pada bulan-bulan tertentu, seperti Juni hingga Agustus, spesies kadal terbesar ini akan memasuki masa kawin. Kalau beruntung, wisatawan yang datang ke Pulau Rinca pada bulan-bulan tersebut bakal menyaksikan cara komodo bereproduksi.

Proses reproduksi per pasang komodo tergolong lama, yakni mencapai 7 hingga 8 jam. Maka, dalam sehari, kira-kira sebelas rombongan wisatawan yang datang ke pulau tersebut bakal menyaksikan pertunjukan langka itu.

Dalam prosesnya, komodo betina, yang jumlahnya tercatat lebih sedikit daripada komodo jantan, akan menjadi “rebutan”. Komodo jantan tak pelak berperang untuk mengawini komodo betina. Komodo betina juga tak menutup kemungkinan akan dikawini oleh lebih dari satu komodo jantan.

Setelah musim kawin, komodo menetaskan 15-30 telur dengan masa inkubasi kurang lebih sembilan bulan. Saat penulisdatang ke Pulau Rinca pada 9 Januari 2018, beberapa komodo betina tengah mengerami telurnya. Tak seperti hewan lain yang melindungi telur di bawah perutnya, komodo akan membuat lubang dan menanam telur di bawah tanah.

Fidel Hardi, ranger asal Manggarai Barat, yang ditemui di Pulau Rinca, mengatakan, masing-masing komodo betina akan memilih satu titik lokasi untuk dijadikan sarang. “Di titik itu, akan dibuat banyak lubang. Tapi lubang yang berisi telur hanya satu,” tutur Fidel. Lubang yang lain dipakai untuk mengelabuhi musuh dan menjauhkan telur dari serangan siapa pun, baik komodo maupun hewan lain. “Karena mungkin saja telur itu dimakan komodo lain. Sebab, pada dasarnya, mereka adalah hewan kanibal,” kata Fidel.

Komodo betina juga tidak setiap hari menunggui sarang atau mengeraminya. Mereka bakal pergi untuk mencari makan. Hanya sesekali komodo betina datang ke sarang tersebut. Setelah enam bulan, komodo betina benar-benar akan meninggalkan telur-telur yang masih tertanam di bawah tanah.

Saat menetas, bayi komodo tidak akan melihat induknya. “Jadi mungkin saja kalau besar nanti, anak komodo itu akan mengawini atau makan ibunya sendiri,” ucap Fidel. Dari 15-30 butir telur, hanya kira-kira 2-3 komodo yang menetas. Komodo bayi akan mengorek-korek tanah dan mencari makan berupa hewan-hewan kecil, seperti serangga melata dan cicak.

Pulau Rinca Komodao
Melihat Komodo di Pulau Rinca.

Untuk menyaksikan komodo di Pulau Rinca, wisatawan perlu menyewa kapal dari Labuan Bajo. Biaya sewanya berkisar mulai Rp 1 juta per kapal. Kapal muat diisi hingga sepuluh orang, termasuk awak kapal. Bila low season, seperti bulan Januari itu, kapal menuju Pulau Rinca bisa disewa dengan biaya lebih murah, yakni sekitar Rp 750 ribu per kapal.

 

 

Rosana

Tugu Golong Gilik Dibangun Sultan HB 1

Tugu Golong Gilik menjadi simbol kota Yogyakarta. Foto: Kemenparekraf

Tugu Golong Gilik atau wisatawan sering menyederhanakan dengan sebutan Tugu Yogyakarta merupakan sebuah monumen yang dipakai sebagai lambang dari kota pelajar ini. Selain ke dua sebutan itu, ada juga penamaan sebagai Tugu Pal Putih.

Tugu yang terletak tepat di tengah perempatan Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Margo Utomo (dahulu bernama Jalan Mangkubumi) Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro, mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tetenger ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.

Tugu Golong-Gilig ini awalnya dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta, pada 1755. Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan.

Tugu Golong Gilik saat ini bentuknya sudah berubah dari ketika dibangun pertama kali.
Suasana malam di Yogyakarta. Foto: shutterstock

Tugu Golong-gilik disebut demikian karena puncaknya berbentuk golong (bulat), dan gilig (silinder). Tugu tersebut tingginya 25 meter. Tugu golong-gilig berfungsi sebagai tetenger (penanda) kota dan titik konsentrasi ketika Sultan Hamengku Buwana I bermeditasi di Bangsal Manguntur Tangkil.

Tugu ini menyimbolkan keberadaan raja dalam menjalani proses kehidupannya yang dilandasi manembah manekung (menyembah secara tulus) kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan disertai satu tekad menuju kesejahteraan bersama rakyat (golong gilig).

Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.

Semuanya berubah pada 1867. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877), tepatnya 10 Juni 1867 (4 Sapar Tahun 1796 J), terjadi gempa tektonik berskala besar di Yogyakarta. Beberapa bangunan runtuh, termasuk Tugu tersebut.

Pilar tugu patah kurang lebih sepertiga bagian. Peristiwa ini dikenang dalam candra sengkala yang berbunyi Obah Trus Pitung Bumi (tujuh bumi terus berguncang), menunjuk pada angka 1796 tahun Jawa.

Tugu Pal Putih Kemenparekraf

Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tersebut runtuh. Selama beberapa tahun Tugu Golong Gilig sempat terbengkelai.

Keadaan benar-benar berubah pada 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tersebut. Renovasi ini dilakukan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII dengan mengubah bentuk dan tinggi yang berbeda dengan aslinya.

Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih. Ditengarai, desain baru ini merupakan strategi pemerintah Belanda untuk menghilangkan simbol kebersamaan raja dan rakyat yang ditunjukkan oleh desain tugu sebelumnya.

Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu.

Prasasti pada setiap sisi tugu yang baru tersebut, keempat-empatnya merekam proses pembangunan kembali. Di sisi barat terdapat prasasti yang berbunyi, “Yasan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Kaping VII”. Prasasti ini menunjukkan bahwa tugu tersebut dibangun (kembali) pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Di sisi timur terdapat prasasti yang berbunyi, “Ingkang Mangayubagya Karsa Dalem Kanjeng Tuwan Residhen Y. Mullemester”. Prasasti ini menyebutkan bahwa Y. Mullemester, Residen Yogyakarta waktu itu, menyambut baik pembangunan tugu tersebut. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Belanda tidak terlibat dalam pendanaan.

Di sisi selatan terdapat prasasti yang berbunyi, “Wiwara Harja Manggala Praja, Kaping VII Sapar Alip 1819”. Wiwara Harja Manggala Praja merupakan sengkalan yang menandai selesainya pembangunan Tugu Golong Gilig yang baru. 

Wiwara berarti gerbang, mewakili angka sembilan. Harja bermakna kemakmuran, mewakili angka satu. Manggala bermakna pemimpin, mewakili angka delapan. Sementara Praja bermakna negara, mewakili angka satu. Dapat diartikan bahwa perjalanan menuju gerbang kemakmuran dimulai dari pemimpin negara. Sengkalan ini menunjuk pada angka 1819, sesuai dengan tahun yang ditulis di bawahnya.

Di atas tulisan tersebut terdapat lambang padi dan kapas dengan tulisan HB VII, juga lambang mahkota Belanda di puncaknya. Lambang ini adalah lambang resmi yang dipakai oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII.

Di sisi utara terdapat prasasti yang berbunyi, “Pakaryanipun Sinembadan Patih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danureja Ingkang Kaping V. Kaundhagen Dening Tuwan Ypf Van Brussel. Opsihter Waterstaat”. Prasasti ini menyebutkan bahwa pelaksanaan pembangunan tugu dipimpin oleh Patih Danurejo V (1879-1899), dan arsitektur tugu dirancang oleh YPF Van Brussel, seorang petugas Dinas Pengairan Belanda yang bertugas di Yogyakarta.

Tugu Khas Yogyakarta Kemenparekraf

Pada 2015, sebuah miniatur Tugu Golong Gilig dibangun pada sudut perempatan sebelah tenggara tugu. Miniatur ini dibangun sesuai desain awal tugu dan dilengkapi dengan keterangan mengenai sejarah perjalanan tugu sebagai salah satu simbol penting di Kesultanan Yogyakarta.

Pembuatan miniatur ini menjadi jalan tengah bagi kebutuhan masyarakat untuk memahami sejarah dan falsafah dari bentuk tugu hasil rancangan pendiri Yogyakarta, dan kelestarian tugu hasil desain orang Belanda yang kini telah menjadi bangunan cagar budaya sekaligus landmark kota Yogyakarta.

Tugu Yogyakarta ini kini menjadi salah satu spot objek wisata yang banyak diminati ketika wisatwan berkunjung ke kota ini. Banyak sekali para wisatawan yang selalu mengabadikan momen dengan berfoto di depan Tugu Pal Putih ini.

agendaIndonesia

*****

Keunikan Rumah Adat Sasak Sejak Tahun 1089

Dola ke Lombok harus main ke rumah adat Sasak.

Keunikan rumah adat Sasak di Dusun Ende dibangun di desa dengan jumlah kepala keluarga yang tak pernah berubah. Rumah juga dibangun dengan memperhatikan sistem kekerabatan dalam menentukan lokasi.

Keunikan Rumah Adat Sasak

Dari Bandara Lombok Internasional di Praya, Lombok Tengah, hanya dalam hitungan 20 menit, pengunjung sudah bisa sampai di Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, NUsa Tenggara Barat. Desa yang masih mempertahankan kampung adatnya. Bahkan menjadi tujuan wisata yang populer. Rumah-rumah suku Sasak—suku asli yang menghuni pulau ini kentara dari luar. Salah satu keunikan rumah adat Sasak bagian atap yang terbuat dari alang-alang seperti menutup bagian utama rumah. Adapun bagian ujungnya hanya 1,5-2 meter dari atas tanah.

Wisatawan bisa minta janjian dengan seorang pemandu untuk menyusuri jalan-jalan kecil dari bebatuan yang memisahkan satu rumah dengan yang lain. Cukup padat. Ada beberapa perempuan yang tengah menenun dan menjual beragam suvenir khas pulau ini. Pengunjung bisa mencermati dinding rumah yang berbahan utama bambu, demikian juga tiang penyangganya.

Jika dizinkan, cobalah memasuki sebuah rumah. Meski harus menunduk di bagian pintu masuknya, ternyata terasa lega juga di bagian dalamnya. Lubang pintu yang rendah juga ternyata mengandung filosofi, yakni para tamu hormat kepada tuan rumah.

Meski tampak sederhana, ternyata sarat akan filosofi kehidupan. Ruang utama terlihat terbagi dalam dua bagian: depan dan belakang yang posisinya lebih tinggi ketimbang depan.

Ada tiga tangga untuk menuju bagian belakang atau bale dalem sebagai salah satu keunikan rumah adat Sasak. Tangga tersebut melambangkan lahir, berkembang, dan mati serta merupakan simbol keluarga (ayah, ibu, dan anak). Ada pula pembagian ruangan yang sesuai dengan fungsinya. Seperti ruangan khusus sang ibu yang melahirkan dan khusus tempat tidur. Bahkan ada tempat khusus menyimpan harta benda dan  dapur yang terdiri atas dua tungku yang menyatu dengan lantai.

Lantainya yang berwarna abu-abu terasa adem. Menurut sang pemandu, lantai dibuat dari campuran batu bata, abu jerami, dan getah pohon. Hanya, yang khas lantai akan dilumuri dengan kotoran hewan yang mereka miliki, baik itu kerbau maupun sapi, yang sudah dibakar dan dihaluskan. Justru trik tradisional itu yang membuat lantai terasa adem dan tidak mudah retak. Selain itu, dipercaya bisa mengusir rombongan nyamuk yang ingin bertandang.

Keunikan rumah adat Sasak memiliki makna setiap detailnya.
Salah satu sudut rumah adat Sasak. Foto: Dok. shutterstock

Bukan hanya rumah dengan bentuk khas, suku Sasak juga mempunyai lumbung padi dengan bangunan yang khusus. Atap seperti gunungan dan tentu juga seperti atap rumah yang ditutupi dengan alang-alang. Bentuknya memang lebih unik ketimbang rumah.

Selain atap gunungan dengan bagian puncaknya yang tumpul dan bagian bawahnya yang mencuat, bale-bale yang terbuka di bagian bawahnya dapat kita temukan. Menjadi tempat penghuni dan keluarga bercengkerama. Di bale-bale itu ada tangga untuk masuk ke bagian penyimpanan padi. 

Yang unik lagi, ada pula khusus rumah mungil untuk pengantin baru. “Setelah menikah, mereka akan tinggal di sana,” ujar sang pemandu. Ia menunjuk sebuah rumah yang hanya terdiri atas satu kamar.

Pengunjung pasti merasakan keunikan pasangan baru itu yang seperti berada dalam sebuah kurungan. Ada pula tradisi lama yang unik menyangkut pernikahan. Si pria atau dikenal dengan sebutan teruna akan menculik calon istrinya. Benar-benar tidak boleh diketahui oleh orang tua, seperti menculik sungguhan. Beberapa hari kemudian, keluarga pria mendatangi keluarga wanita.

Berkeliling kampung selama beberapa menit membuat pengunjung tak hanya mengenal rumah suku Sasak, tapi juga sejumlah tradisinya.

Keunikan rumah adat Sasak tak hanya di Ende. Dalam perjalanan ke Senaru, ada pula desa dengan model rumah serupa. Konon rumah tertua dari rumah adat Sasak sudah ada sejak 1089.

Keunikan rumah adat Sasak di Desa Ende.
Rumah Adat Sasak di Sengkol, Lombok. Foto: Dok: TL/Fran

Berjarak sekitar 75 km dari Mataram, Dusun Senaru tidak sepadat Dusun Sade dan tak ramai dengan turis seperti di Lombok Tengah. Desa adat Senaru di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, ini cenderung sepi. Ada gerbang yang menunjukkan kompleks rumah tersebut merupakan desa adat. Saya menemukan keheningan di sana, yakni jarak satu rumah dengan rumah lain tidak terlalu berdempetan seperti di Sade.

Bahkan ada tanah cukup luas hingga 2 meter buat anak-anak berlari-lari. Tidak ada riuh mobil yang lalu-lalang karena desa adat ini berada di kaki Gunug Rinjani. Hawa sejuknya terasa, siang yang sepi karena sebagian besar para pria pergi ke ladang.

Sekitar 90 persen warganya adalah petani. Tepat di sebelah gerbang desa adat, pengunjung bisa menemukan kebun kakao. Siang itu, yang ada hanya seorang kakek dan beberapa anak-anak. Akhirnya, ada ibu-ibu di bagian belakang. Merekalah yang menerangkan beberapa fungsi bangunan.

Desa adat hanya dihuni oleh 20 kepala dan dipertahankan dalam jumlah tersebut, sehingga desa adat tidak berubah menjadi padat. Ukuran rumahnya lebih besar dibanding di Dusun Sade, tapi bentuknya sama.

Dinding rumah juga terbuat dari anyaman bambu dan tanpa jendela. Ruangan terbagi atas ruang utama atau induk (inan bale), yang terdiri atas ruang tidur (bale dalam) dan bale luar yang mempunyai beberapa fungsi, seperti ruang ibu melahirkan, menyimpan harta benda, dan tempat jenasah disemayamkan. Di bagian bale dalam juga ada dapur, tempat penyimpanan makanan, dan perlengkapan.

Atapnya terbuat dari alang-alang dan bentuknya yang menggapai hingga ke bawah dengan bagian puncak datar diilhami oleh Gunung Rinjani yang bisa dicapai dari jalan setapak dekat dusun. Gunung tertinggi di Pulau Lombok ini bernilai sakral bagi suku Sasak. Di Danau Segara Anak, yang berada di Gunung Rinjani, suku Sasak kerap melakukan sejumlah upacara.

Meski berada di kaki gunung, desa adat ini berada di tanah datar. Letak rumah berdasarkan sistem kekerabatan dan orientasi matahari. Rumah satu sama lain yang berhadapan menghadap ke timur adalah hunian saudara yang lebih tua—bermakna penghormatan bagi sang kakak untuk mendapat siraman mentari pagi.

Di bagian tengahnya didirikan bangunan yang disebut berugak. Di sinilah biasanya keluarga berkumpul. Sebenarnya merupakan penghormatan atas rezeki yang diberikan Tuhan, tapi juga difungsikan sebagai ruang keluarga dan menerima tamu. Berugak bertiang empat merupakan simbol syariat Islam: Al-Quran, hadis, ijma, dan qiyas. Benar-benar sarat makna.

agendaIndonesia/TL/Rita N

*****

Museum Bank Indonesia, Sejarah Ekonomi Sejak 1828

Museum Bank Indonesia di antaranya memiliki koleksi koin emas derham.

Museum Bank Indonesia barangkali bisa menjadi alternatif pilihan tempat wisata yang bersifat edukatif. Tak cuma untuk anak-anak, mahasiwa bahkan orang awam pun mungkin bisa mendapatkan pengetahuan penting di sini.

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia memamerkan berbagai koleksi uang yang pernah digunakan Indonesia dari masa ke masa. Sementara itu, benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah di dalamnya akan sangat berguna bagi masyarakat. Di sebuah gedung lawas, perjalanan perekonomian bangsa ini diulas. 

Wilayah barat Jakarta disiram sinar mentari yang terik pada November lalu, tapi tak mengurungkan niat sejumlah orang untuk melangkah ke kawasan Kota dan mengunjungi Museum Bank Indonesia. Berada di Jalan Pintu Besar Utara No 3, bangunan ini dari luar memang menggoda untuk ditengok. Maklum merupakan gedung lawas dengan arsitektur neo-klasik.

Bangunan sudah hadir pada masa pendudukan Belanda. Hanya, pada awalnya digunakan sebagai rumah sakit. Beralih menjadi kantor perbankan pada 1828 dan digunakan oleh De Javasche Bank. Saat Indonesia meraih kemerdekaan, bank pun dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia (BI) pada 1958. Tak lama digunakan BI, pada 1962 pindah ke gedung baru dan bangunan lama pun difungsikan sebagai museum.

Museum Bank Indonesia terdiri dari dua lantai yang berisi segala pengetahuan mengenai ekonomi, moneter, dan perbankan yang diperlukan masyarakat. Berkunjung ke tempat ini akan memberikan pemahaman tentang latar belakang serta dampak dari kebijakan-kebijakan Bank Indonesia yang diambil dari waktu ke waktu.

Memasuki museum, saya menemukan beragam informasi mengenai peran Bank Indonesia dan kebijakan-kebijakan bank sentral ini dalam perekonomian Indonesia. Segala hal yang berkaitan dengan perekonomian Indonesia dulu bisa ditemukan di sini. Museum menyuguhkan informasi dalam beberapa media, di antaranya multimedia. Awalnya, pengunjung dibawa ke sebuah ruangan dengan sejumlah info ihwal pendirian Bank Indonesia. Nah, dengan menggunakan teknologi itu, pengunjung bisa merasakan perjalanan BI pada masa lalu tersebut.

 Dari ruangan sejarah, saya berpindah ke ruang teater berdaya tampung 60 orang. Ruangan ini tentu menampilkan sejarah BI. Kemudian, disambung memasuki sebuah ruangan Numismatic. Di ruangan ini, pengunjung bisa melihat koleksi mata uang dari awal masa kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan Islam, kolonial, hingga setelah merdeka. Ruangan dengan cahaya yang redup dan dingin ini menciptakan suasana tenang dan nyaman. Dengan bantuan kaca pembesar, saya melihat koleksi mata uang yang ada di sini.

Dari sana pengunjung bisa meneruskan langkah ke ruang lain. Kali ini ruang “bersinar” karena berisi emas dan diberi nama ruang Moneter Gold. Ada tumpukan replikasi emas batangan dan pengunjung bisa memegang serta mengangkat satu batang replika yang sudah ada di salah satu sudut ruangan. Dengan begitu, kita bisa memperkirakan berapa berat satu batang emas. Ada pula koleksi koin emas derham atau dirham yang dipergunakan untuk perdagangan di Aceh pada masa lalu.

Selain itu, ada ruangan percetakan uang yang digabung bersama ruangan sirkulasi uang. Di sini, pengunjung bisa menyimak proses uang dicetak dan diedarkan. Dari perencanaan, mencetak, distribusi, peredaran, hingga menariknya kembali. Saya juga melihat replika dari pesawat Bank Indonesia yang pertama kali mendistribusikan uang ke seluruh wilayah di Indonesia di ruang ini.

Ada sebuah ruangan yang dikhususkan untuk pameran yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. Biasanya yang ditampilkan berupa karya fotografi, lukisan, batik, dan lain-lain. Ke luar dari museum, ada buah tangan yang bisa dijadikan kenang-kenangan. Bisa dilihat di ruangan khusus ini, silakan disimak juga bila berminat. Sesekali tengok juga website Museum Bank Indonesia, siapa tahu ada pameran yang sedang digelar, sehingga bisa satu kayuh dayung, dua kegiatan dilakukan.

Hanya, seperti sejumlah museum, di sini juga ada sejumlah peraturan. Di antaranya, di beberapa ruangan, meski boleh mengambil gambar dengan kamera, tidak boleh menggunakan bantuan flash. Sejak dilakukan peresmian yang kedua kalinya pada 2009 oleh presiden kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono, memang antusiasme orang untuk berkunjung meningkat. Baik wisatawan lokal maupun asing. Sebenarnya museum dibuka pertama kali pada 15 Desember 2006, tapi pembukaan secara resmi baru pada 2009. Pengunjung dipungut biaya Rp 5 ribu, sedangkan khusus pelajar, mahasiswa dan anak-anak di bawah 3 tahun bisa menikmati secara bebas menikmati perjalanan perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

Museum Bank Indonesia; Jalan Pintu Besar Utara No 3; Jakarta Barat

Buka:Selasa-Minggu, pukul 08.00-16.00

Tutup: Hari Senin dan hari libur nasional

agendaIndonesia

*****