Wisata Gunung Berapi, Pesona 4 Kawah

Wisata gunung berapi tak cuma dengan mendaki, tapi juga bisa menikmati kawahnya Kawah Ijen-Foto mario la pergola-unsplash.

Wisata gunung berapi rasanya sudah biasa untuk para penikmat wisata alam. Banyak orang yang tak menyukai pendakian gunungnya, namun sangat bisa menikmati bagian dari gunung. Ya, letusan gunung berapi ternyata menyisakan kawah yang indah.

Wisata Gunung Berapi

Sudah sejak lama kawah Tangkuban Perahu di Jawa Barat menjadi salah satu objek yang menarik bagi wisatawan. Hampir setiap karya wisata yang melibatkan anak-anak sekolah yang berkunjung ke Bandung, dapat dipastikan akan memasukkan spot ini ke dalam jadwalnya.

Di negeri yang kaya dengan gunung berapi seperti Indonesia, salah satu obyek wisata gunung berapi yang unik adalah kawah. Sejatinya, kawah terbentuk dari letusan gunung berapi. Seiring dengan berjalannya waktu, kawah yang terbentuk itu menebarkan pesona keindahan dan keunikan tersendiri.

Ada puluhan kawah yang menjadi tujuan wisata, berikut ini kami pilihkan empat kawah yang menyedot banyak perhatian wisatawan.

Suara Burung di Kamojang

Kawah Kamojang yang terletak di Garut, Jawa Barat, ini memiliki beberapa titik kawah yang diberi nama berdasarkan suaranya yang unik. Ada Kawah Manuk yang jika berada di dekatnya Anda akan mendengar suara seperti burung.

Ada juga Kawah Kereta Api yang memiliki suara seperti kereta api. Bahkan ada juga yang terdengar seperti peluit. Kawah Sakarat merupakan kawah yang suaranya mirip dengan orang sekarat. Selain itu, ada pula Kawah Hujan yang unik. Di kawah ini terasa seperti sedang hujan. Jika berada di dekatnya, Anda akan sedikit basah seperti terkena gerimis.

Selain menikmati keunikan kawahnya, di sini pengunjung juga bisa datang untuk berendam air panas. Lokasi Kawah Kamojang berada di area geothermal PLTU Kamojang, Garut. Tepat berada di area perbatasan kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.

Berbahaya tapi Elok

Kawah Ijen merupakan pusat danau kawah terbesar di Dunia terletak di Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Wisata gunung berapi salah satunya dengan mengunjungi Gunung Ijen di Jawa Timur untuk menikmati pesona kawah Ijen.
Wisata gunung berapi untuk menikmati pesona kawahnya. Foto: Dok. unsplash

. Kawah ini bisa memproduksi 36 juta meter kubik belerang dan hidrogen klorida dengan luas sekitar 5.466 hektare. Meski berbahaya, kawah ini memiliki keindahan yang luar biasa.

Danau Ijen memiliki derajat keasaman nol dan kedalaman 200 meter. Keasamannya yang sangat kuat dapat melarutkan pakaian dan jari manusia.

Saat berada di kawasan Kawah Ijen, pelancong bisa menyaksikan para penambang yang sibuk membawa tumpukan belerang di punggung mereka. Selain itu, menyusuri jalan yang curam dan dipenuhi oleh gas beracun yang berbahaya.

Untuk mencapai Kawah Ijen ada dua jalur yang bisa dilalui. Pertama melalui Banyuwangi. Namun rute praktis lebih sulit dilalui karena kondisi jalan yang tidak terlalu bagus. Jalur ini biasanya digunakan para pendaki untuk rute pendakian wisata gunung berapi Ijen.

Rute kedua melalui Kota Bondowoso. Berangkat dari Bondowoso, lalu menuju Wonosari, dan dilanjutkan ke Sempol dan akhirnya ke Patulding. Dari Patulding tinggal berjalan kaki melewati jalan setapak dan tebing kaldera sejauh 2 kilometer menuju Kawah Ijen. Jalur dari Bondowoso ini lebih baik dari Banyuwangi karena kondisi jalan yang bagus dan relatif mulus. Jarak tempuh jalur Bondowoso ini mencapai 70 kilometer dengan pemandangan pohon kopi dan hutan pinus yang indah.

Danau Kawah

Kawah Putih adalah sebuah danau kawah dari Gunung Patuha yang terletak di daerah selatan Bandung, Jawa Barat. Dulu, sebelum Kawah Putih dibuka untuk umum, masyarakat setempat percaya bahwa Kawah Putih menyimpan misteri dan angker karena banyak burung yang mati saat melintasi Kawah Putih. Namun anggapan itu ternyata salah.

Wisata gunung berapi di selatan Bandung bisa dilakukan dengan mengunjungi Kawah Putih.
Pesona Kawah Putih di Ciwidey, Jawa Barat. Foto: unsplash

Pada 1987, kawasan Kawah Putih dijadikan sebagai obyek wisata gunung berapi. Keindahan danau Kawah Putih memang sangat mempesona. Danau Kawah Putih memiliki ciri khas dan keunikan, yaitu air di danau kawahnya bisa berubah warna, seperti hijau apel, kebiru-biruan bila cuaca terang terkena pantulan matahari, atau cokelat susu.

Namun paling sering terlihat airnya berwarna putih disertai kabut tebal di atasnya. Kawasan ini tidak jarang dijadikan sebagai obyek untuk foto prewedding lantaran pemandangannya yang eksotis.

Kawah Putih Ciwidey Bandung berada di lokasi yang sangat strategis, yakni di tengah kawasan wisata Ciwidey, tepatnya di Jalan Raya Ciwidey Patengan Kilometer 11 Bandung, Jawa Barat.

Berbeda Warna

Kawah lain yang tak kalah indah sekaligus unik adalah Danau Kelimutu yang terletak di dekat Desa Moni, di Pulau Flores. Danau yang menempati kawah ini terdiri atas tiga danau yang masing-masing memiliki warna berbeda. Danau Orang Tua atau Tiwu Ata Mbupu memiliki warna biru.

Wisata gunung berapi yang terkenal adalah ke Gunung Kelimutu untuk menikmati kawahnya yang menjadi danau Kelimutu.
Danau/kawah Tiwu Nua Mori Koo Fai dan Tiwu Ata Polo, di Taman Nasional Kelimutu, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Foto: DOk. TL/Rully

Sedangkan dua danau lain, yakni Muri Koo Fai (Danau Anak Muda dan Perawan) berwarna hijau dan Tiwu Ata Polo (Danau Pikat), berwarna kemerahan. Warna-warni yang terlihat di kawasan Kawah Kelimutu ini ternyata bisa berubah-ubah tanpa bisa diprediksi sebelumnya.

Dari ke empat kawah yang disampaikan di sini, Kelimutu tentu yang cukup sulit dicapai karena berada di Gunung Kelimutu. Perjalanan ke Kelimutu bisa dilakukan melalui kota Ende, bisa pula dicapai melalui Labuan Bajo.

agendaIndonesia

*****

1 Senja di Lombok Timur, Mengejar Ribuan Buih

Pantai Gili Pasir

1 senja di Lombok Timur, memburu ribuan buih air laut, dan menapak di jutaan pasir. Pulau-pulau kecil dengan pasir halus, tersebar dari Tanjung Luar sampai Sekaroh.

1 Senja di Lombok Timur

Udara mulai bergeser terik, meski masih terbilang pagi. Meninggalkan Pantai Seger di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, saya tak ingin hanya berputar di sekitar kawasan wisata Kuta. Jadilah kendaraan melaju ke bagian timur. Maklum, kabarnya ada sebongkah keindahan di sana. Melewati perkampungan yang adem karena penuh pepohonan, hingga akhirnya melaju di atas aspal mulus dengan salah satu sisi yang tandus. Aroma khas pesisir mulai tercium. Perjalanan satu jam sudah.

Setelah melaju di Jalan TGH Moh. Mutawalli, kendaraan pun berbelok ke kanan di depan kantor Desa Serumbung, Kecamatan Jerowaru. Rasa panas pun menerpa, saya menutup jendela rapat-rapat. Tak ada arahan menuju pantai, tapi saya percaya dengan pengemudi yang paham betul Lombok.

Di pertigaan terlihat kerumunan warga yang baru ke luar dari kantor Kepala Desa Ekas Buana. Saya lihat kiri-kanan kebun jagung yang mengering, jalan kecil tanah pun berdebu. Namun, hanya dalam jarak 400 meter, samudra pun sudah di depan mata. Debur ombak nyaring terdengar. Pantai yang begitu panjang, diapit dua bukit bebatuan.

Perjalanan 1 jam lebih dari Kuta pun menjadi tak terasa. Saya memilih menaiki bukit batu agar bisa memandang pantai dan samudra dari ketinggian. Apalagi di balik bukit ternyata ada pantai kecil yang juga begitu sepi. Di ujung lain, terlihat ada bagian pantai dengan pasir putih, sedangkan di dekat saya berdiri, tepian pantai penuh dengan karang. Tak ada turis berkeliaran. Ketika menuruni bukit, baru saya bertemu dua ibu yang membawa keranjang. Rupanya mereka hendak mencari kerang-kerang yang bersembunyi di balik karang.

Pantai Pink
Wisata pantai di Lombok Timur, salah satunya ke pantai Pink. shutterstock.

Saat kendaraan baru beranjak, barulah saya bersua dengan dua turis bule yang mengendarai sepeda motor. Mereka mengarah ke pasir putih yang berada di sisi kiri. Di sana memang lebih nyaman untuk berjemur atau sekadar leyeh-leyeh di tepi pantai. Pantai landai dengan pasir yang lembut.

Satu surga harus saya tinggalkan siang itu. Karena Lombok Timur masih menyimpan “surga-surga” lain, kali ini saya masih harus berkendara satu jam lagi dari Desa Ekas Buana menuju sisi yang berlawanan, yakni Tanjung Luar. Ada sejumlah pulau kecil, dan tentunya Pantai Pink, yang namanya sudah berkibar di kalangan pelancong.

Atas saran pengemudi, saya dan kawan mendatanginya via laut, alias berperahu. “Lewat darat harus lewat hutan Sekaroh dengan jalan rusak, dan kalau kemalaman pas pulang, gelap itu,” ujarnya. Sebagai orang yang tak paham wilayah, saya sepenuhnya percaya kepada pria asli Lombok itu.

Jadi kami pun menuju sebuah pelabuhan kecil di Dusun Telong Elong, Desa Pringgasela Timur, Lombok Timur. Sebenarnya, bisa juga berperahu dari Labuan Pandan, tapi lagi-lagi menurut si pengemudi yang bernama Kadir itu, jaraknya terlalu jauh. Kadir berbaik hati pula memesan pisang goreng sebelum kami tiba. Dengan bekal minuman dan pisang goreng panas, kaki pun melangkah riang. Sudah terbayang keindahan pantai-pantai di Tanjung Luar.

Mendung seperti tiba-tiba menyergap. Saya segera ke perahu nelayan, paling tidak tentunya berharap hanya gerimis yang turun dan langit pun segera cerah kembali. Perahu melaju melewati Gili Re, pulau dengan penduduk terbanyak di Tanjung Luar. Di sini pula, Mak Heri, nelayan yang mengantar kami, tinggal. Keramba terlihat di sekeliling pulau. Tujuan pertama rupanya Gili Pasir, yang dicapai hanya dalam 15 menit. Ehmm… Benar-benar hanya ada gundukan pasir, bendera merah putih, dan bintang-bintang laut yang menampakkan diri di tepian pantai.

Sederhana suasananya tapi bahagia rasanya dan saya ingin berlari menuju dua sisi pasir yang tak seberapa luas itu. Sayang, tak lama hujan deras turun dan sempat masuk ke dalam perahu. Tapi kami mencoba menunggu dan berharap hujan segera berhenti. Doa rupanya terkabul, hujan hanya sesaat. Saya pun kembali berlari di pasirnya yang halus dan tertawa lepas.

Tak bisa terlalu lama rupanya, karena perjalanan ke pulau selanjutnya lebih panjang. Melewati tambak-tambak ikan, juga tempat pembudidayaan mutiara. Sang nelayan sempat menunjuk Pantai Pink 2 yang dari kejauhan terlihat pasirnya yang merah muda. Terlihat sepi, tapi perahu terus melaju hingga sekitar 30 menit, dan tibalah di Gili Petelu. Pulau kecil dengan tiga bukit karang, juga pantai berpasir putih yang mini. Terlihat satu keluarga tengah menikmati keindahan bawah lautnya. Perairannya yang jernih memang menggoda.

Meski tidak bisa terbilang istimewa, menjajal snorkeling di sini bisa menjadi pilihan. Bila tidak, cukuplah dengan menebar remah-remah roti, rombongan ikan pun menampakkan diri. Saat langit mulai tak terang lagi, perahu kembali dinaiki. Di sisi kanan Gili Petelu sudah terlihat hamparan Pantai Pink, yang ternyata warna kemerahannya tak terlalu kuat bila dibanding Pantai Pink 2. Bisa jadi, karang-karang merah yang membikin pasir menjadi kemerahan sudah tak lagi banyak singgah di pantai yang terletak di Desa Sekaroh ini.

Ombak begitu tenang di tepi pantai. Berjajar beberapa perahu, terasa sepi. Hanya ada satu anak seusia siswa taman kanak-kanak bermain di pantai, dan orang tuanya menunggu di tepian. Kelompok turis bisa jadi sudah pulang karena senja sudah menjelang. Tinggal segerombol nelayan yang nongkrong di sebuah warung. Sejenak saya ingin menikmati pantai dalam keheningan, sementara rekan saya langsung mendaki bukit yang ada di salah satu sisi. Tentunya untuk mencari tempat pengambilan foto terbaik.

Anjing-anjing berlarian, gonggongannya memecah hening. Saya menengadah ke langit, rupanya warnanya mulai gelap. Saatnya menyusul teman, mendaki ke bukit. Segerombolan kambing dan seorang nenek saya temukan di atas bukit, plus setumpuk kelapa muda. Duduk di bangku kayu sembari menyeruput air kelapa hijau tampaknya bisa bikin menanti senja semakin nikmat. Langit mulai menguning, memerah, dan rekan saya tiba-tiba muncul dari ujung bukit. Masih ada warna merah dan berbaur gelap di langit, tapi kami memilih kembali ke perahu. Lebih asyik menikmati senja di tengah lautan.

Perasaan saya perjalanan pulang lebih panjang. Mungkin karena perahu tak mampir-mampir. Lampu-lampu di tempat budi daya mutiara, dan bagan ikan yang terapung, menjadi penerang laju perahu. Tak ada satu pun yang berbicara. Sesekali Mak Heri menyapa rekannya yang menjaga bagan ikan. Hanya ada suara ombak terhantam perahu dan mesin perahu yang saling bersahutan. Kami kembali dalam hening, seakan tak rela meninggalkan langit yang jingga. Apalagi dermaga kecil di Dusun Telong Elong yang dituju tampak gelap gulita. l

Rita N/Fran-TL

Berburu Batik di 6 Kampungnya di Jawa

Berburu batik semakin asyik jika langsung ke tempat atau kampung sentra produksinya.

Berburu batik bisa dilakukan sambal melakukan tur ke Jawa dengan menyusuri kampung-kampung batik. Perjalanan bisa dilakukan dari barat menuju timur, dari Jakarta dan berakhir di Madura. Atau bisa sebaliknya, dari Surbaya menuju Cirebon.

Berburu Batik

Batik menjadi warisan budaya yang tak ternilai di Indonesia ini. Bahkan kecintaan pada batik membuat kemunculan beragam jenis batik dari berbagai daerah.

Meski pada awalnya batik identik dengan Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sejumlah kota di pulau ini pun melengkapi dengan wisata khusus batik dengan menata kampung batiknya.

Tidak sekadar melihat-lihat tentunya, berburu batik pun menjadi aksi yang menarik bagi wisatawan. Wisata batik bisa dimulai dari Cirebon dan berakhir di Bangkalan, Madura. Ini perjalanan berburu batik di enam kota sepanjang Jawa.

Batik Pesisir Jawa Barat

Dari Jakarta, sebaiknya berangkat pagi. Tujuan pertama dalam berburu batik ini adalah Cirebon, Jawa Barat, yang mempunyai khas corak pesisir. Jarak 231 kilometer itu bisa ditempuh dalam 2-3 jam dengan kendaraan beroda empat melalui jalan tol.

Berburu batik bisa diawali ke Cirebon, tepatnya ke Trusmi.

Di Kota Udang yang biasa dikunjungi adalah Batik Trusmi. Di sana wisatawan bisa mencermati beragam motif batik Cirebonan.

Selain butik batik yang berada di Jalan Trusmi Kulon nomor 129, Plered, Cirebon, telah berdiri pula toko kedua di Jalan Trusmi Kulon nomor 148 Plered, yang lebih luas dan lengkap. Bahkan dilengkapi dengan arena bermain untuk anak-anak.Berburu

Selain busana batik untuk santai maupun acara formal, bisa ditemukan beragam aksesori bercorak batik. Harga bervariasi, mulai terendah sekitar puluhan ribu hingga bernilai jutaan.

Untuk yang ingin membawa oleh-oleh berupa makanan, bisa juga dibeli di sini. Bahkan jika ingin mencicipi empal gentong dan lain-lain, para penjaja bisa ditemukan di dekat pusat belanja ini. Jadi, bisa sekalian makan siang.

Batik Trusmi, Jalan Trusmi Kulon Nomor 129, Plered, Cirebon

Kota Batik Pekalongan

Puas dengan batik Cirebonan yang berwarna menyegarkan, saatnya melaju ke Kota Batik di Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 140 kilometer dari Cirebon. Pekalongan adalah nama kota yang sudah begitu lekat dengan warisan budaya Nusantara yang satu ini.

Sebagai “gudang” batik, ada beberapa pilihan kampung batik, seperti Kampung Batik Kauman, yang berada di seberang alun-alun. Jalan masuk berupa gang kecil yang di sisi kiri-kanannya dipenuhi rumah yang telah menjadi toko atau pabrik batik.

Salah satu pilihannya Nulaba Bati dan Garmen. Busana yang ditawarkan dari daster, celana, kemeja, hingga lembaran kain yang dipatok mulai Rp 50 ribu. Di kampung ini, kegiatan membatik sudah lekat pada 1950-an dan sekarang bisa ditemukan sekitar 200 pembatik. Produknya beragam, dari batik tulis, cap, hingga cetak.

Pilihan lain berburu batik di Pekalongan adalah Kampung Pesindon, di Jalan Hayam Wuruk. Ada pula Kampung Wiradesa dan Kedungwuni. Lokasinya tidak berjauhan, sehingga Anda mudah menelusurinya. Bila sudah terlalu sore bisa langsung ke sentra penjualan batik yang berada di jalur utama Pantura. Di antaranya Pusat Grosir Batik Setono Pekalongan dan Pusat Grosir Batik Wiradesa. Di kota tersebut, Anda juga bisa singgah ke Museum Batik.

Bila ingin menjelajahi semua kampung dan juga museum, sebaiknya Anda menginap di kota ini. Cukup banyak penginapan di sini.  

Kampung Batik Kauman, Jalan Kauman, Pekalongan

Kampung Pesindon, Jalan Hayam Wuruk, Pekalongan

Batik Tulis Mataram

Esok paginya setelah perburuan batik di Pekalongan rampung, saatnya menuju Yogyakarta yang berjarak sekitar 183 kilometer. Perjalanan mengasyikkan melewati jalur penuh kehijauan. Bisa memilih jalur tol via Semarang dan Solo. Bisa pula melalui jalur lama via Magelang.

Berburu batik di Yogyakarta bisa langsung menuju ke kampung batik Giriloyo yang sudah ada sejak abad 17.
Kampung batik Giriloyo. Foto. Dok. shutterstock

Ada beberapa lokasi yang menarik di daerah istimewa ini, seperti Kampung Batik Giriloyo di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Hanya berjarak sekitar 17 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Yogyakarta. Dikenal sebagai tempat perajin batik tulis khas Keraton Mataram. Tidak hanya menemukan batik tulis, turis bisa juga ikut kursus singkat membatik.

Kampung batik, yang bisa menjadi pilihan lain, berada di Kali Tirto, Mangunan, Berbah, Sleman. Bahkan kawasan ini telah menjadi desa wisata dengan tawaran komplet bagi turis. Tidak hanya soal batik, berbagai tradisi seni—seperti bermain gamelan dan wayang—pun diperkenalkan.

Apabila ingin melihat pembuatan batik dengan media lain, bisa mendatangi Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Awalnya, penduduk desa kebanyakan perajin topeng kayu, wayang, dan mebel. Pada 1998, penduduk desa membuat hiasan corak batik pada beragam aksesori, topeng, dan lain-lain.

Di kota pelajar ini, sempatkan menginap satu malam sebelum menuju lokasi berburu batik selanjutnya. Jika ingin berbelanja batik dengan harga cukup murah, bisa mampir di Pasar Beringharjo.

Batik Laweyan & Kauman

Setelah puas di Yogya, coba habiskan waktu seharian di Solo. Ada satu kampung yang sering dituju wisatawan saat berkunjung ke Solo, yaitu Kampung Laweyan. Tidak hanya hasil karya batik dengan warna-warna terang yang menarik, tapi suasana kampung yang khas. Terdiri atas bangunan lawas yang masih terjaga rapi.

Jangan lupa mampir ke Museum Batik Kuno Danar Hadi. Anda juga bisa mampir ke kampung batik yang berada tak jauh dari keraton. Kampung Batik Kauman namanya. Lingkungannya berupa gang-gang sempit. Jadi sebaiknya Anda memilih untuk berjalan kaki.

Ciri khas batiknya ada pada pewarnaan yang lebih gelap, seperti cokelat kehitaman. Dikelilingi jalan-jalan utama dan keramaian Pasar Klewer, Beteng dan Gladak. 

Seperti perkampungan batik umumnya, rumah pun disulap menjadi gerai batik. Pilihan batik di sini lebih banyak bercorak khas keraton, terutama batik tulisnya. Selain itu, ada pula produk batik murni cap dan kombinasi batik tulis dan cap.

Kampung Batik Kauman, Jalan  Trisula, Kauman Timur, Solo

Kampung Batik Laweyan, Kecamatan Laweyan, Solo

Batik Blasteran Oriental Lasem

Lasem adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dan terkenal dengan produksi batik. Daerah ini memiliki banyak penghasil batik terbaik di Jawa dengan ciri khas batik pesisir yang indah melalui pewarnaan yang berani.

Berburu batik jangan sampai melewatkan mampir ke Lasem. Di sini ada batik dengan motif campuran oriental dan Jawa.
Pembatik di Lasem. Foto: dok. shutterstock

Dari Solo, butuh perjalanan sekitar 4 jam menuju Rembang. Karena itu, perlu berangkat pagi-pagi setelah menginap semalam di Solo. Atau, berangkat malam dan menginap di di Rembang, sebelum keesokan harinya menuju Lasem yang cukup dekat.

Lasem kadang disebut juga sebagai Tiongkok Kecil atau La Petite Chine dalam bahasa Prancis. Alasannya, kota ini merupakan daerah pertama yang dikunjungi ekspedisi Tiongkok di pantai utara Jawa di abad 13 dan 14.

Batik Lasem merupakan salah satu jenis batik pesisiran yang memiliki ciri khas tersendiri. Kekhasan tersebut merupakan hasil dari akulturasi dari budaya Tiongkok dan Jawa.
Pola hias batik digunakan untuk kepentingan keagamaan bersifat simbolis dan bermakna sakral, seperti ragam hias Kawung, Bunga Padma Ceplok, Kalacakra atau Nitik Ceplok, Sayap Garuda (Lar, Sidomukti), Gringsing (Urna) dan Parang yang hanya digunakan oleh Raja dan anggota kerajaan.
Sore atau malam selepas puas belajar gaya batik Lasem, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Surabaya. Tidur satu malam di ibukota Jawa Timur ini. Sebelum keesokan paginya menyeberang jembatan Suramadu ke Madura.

Batik Pusaka Beruang, Jalan Eyang Sambu, Jatirogo, Lasem

Batik Pewarnaan Madura

Ini adalah tujuan terakhir berburu batik sepanjang pulau Jawa. Pagi-pagi wisatawan bisa menyeberang ke Madura. Begitu sampai di seberang, tak jauh dari sana, pengunjung sudah disuguhi pajangan batik-batik warna-warni khas batik Madura,

Batik Madura bukan hanya memiliki keindahan, tapi juga cerminan watak msyarakatnya. Keberanian dan ketegasan orang Madura memunculkan warna-warna berani. Berevolusi lewat adukan beragam budaya, batik madura adalah cermin karakter dinamis, egalitarian, kesukaan untuk serba praktis, sekaligus keinginan untuk tampil berbeda.

Sejarah batik Madura tidak terlepas dari keberadaan kerajaan di Pamelingan yang saat ini dikenal dengan nama Pamekasan. Kemudian, batik tulis Madura mulai dikenal oleh masyarakat umum antara abad ke-16 dan ke-17.

Nah lengkap sudah perjalanan berburu batik sepanjang pulau Jawa ini. Batik Madura dimasukkan karena masih berada di Provinsi Jawa Timur.

Batik Naraya, Jalan Pelabuhan Sarimuna, Peseseh, Tanjungbumi, Bangkalan, Madura

agendaIndonesia

*****

Kampung Tematik Semarang, Ini 4 Yang Unik

Kampung tematik Semarang jadi pilihan kunjungan jika dlan ke kota ini.

Kampung tematik Semarang bisa dibilang menjadi terobosan yang tergolong cukup baru dan unik dalam dunia pariwisata lokal. Beberapa contohnya yang cukup ramai diminati oleh masyarakat saat ini adalah beberapa kampung tematik di Semarang, Jawa Tengah.

Kampung Tematik Semarang

Kampung tematik sendiri merupakan area tempat tinggal yang umumnya dikhususkan sebagai pusat budaya dan kesenian. Ini salah satu usaha pemerintah daerah dalam pemenuhan sarana dan pra-sarana pemukiman, serta peningkatan kualitas lingkungan tempat tinggal.

Dibentuknya kampung tematik Semarang ini bertujuan agar kondisi pemukiman dapat diperbaiki dan tidak menjadi kumuh, serta meningkatkan potensi ekonomi dan sosial warga setempat. Usaha ini didasari partisipasi warga secara aktif, dan ciri khas pada lokasi tersebut yang unik dan kuat.

Kampung tematik Semarang menjadi andalan kota ini menarik wisatawan.

Di dalam kampung tematik ini, biasanya akan ditemukan beberapa jenis kerajinan tangan dan kuliner khas setempat, dengan usaha berbasis home industry. Semua ditata rapi dan ramah dengan lingkungan, serta sesuai dengan budaya, tradisi dan kearifan lokalnya.

Bagi pengunjung dan wisatawan, hal ini juga semakin menambah alternatif destinasi wisata, yang mampu memberi nuansa berbeda dari lokasi-lokasi wisata yang sudah ada. Ditambah lagi, semakin mudah untuk mencari kuliner dan kerajinan tangan pada lokasi yang sudah terpusat.

Kampung Batik Semarang

Ambil contoh kampung batik yang terletak di area kelurahan Rejomulyo, tidak jauh dari Museum Kota Lama Semarang. Sejak 2005, mereka sudah dikenal sebagai sentra produksi serta penjualan batik, dengan setidaknya sekitar 20-an merek atau jenama batik yang aktif saat ini.

Selain memproduksi kerajinan batiknya sendiri, mereka juga kerap menerima titipan produk dari luar kampung batik tersebut. Tak hanya itu, di tempat ini juga dapat ditemui atraksi lain seperti mural bergaya batik yang menggambarkan kisah pewayangan sebagai spot foto cantik.

Kampung tematik Semarang lainnya yang serupa adalah kampung Alam Malon, yang terletak di area kaki gunung kawasan Ungaran. Di sini juga dapat ditemui beragam produsen batik tulis tradisional dengan kisaran harga produk dari Rp 70 ribu hingga Rp 200 ribu.

Yang cukup spesial, proses produksinya masih terbilang sangat otentik dan tradisional, dengan penggunaan bahan baku yang alami seperti dedaunan kering, sabut kelapa, batang pohon mahoni, dan lain-lainnya. Hal ini tak banyak ditemui lagi di sentra produksi batik lainnya.

Berawal dari beberapa perajin batik di area tersebut yang sudah membuat dan berjualan batik sejak 40 tahun lalu, kini area tersebut dikembangkan sebagai salah satu kampung tematik. Selain menemukan produk-produk batik, pengunjung juga dapat belajar membatik sendiri.

Kampung Misoa

Bagi yang ingin berburu kuliner tradisional, dapat mencoba mengunjungi kampung tematik Semarang seperti kampung Misoa. Misoa, yang merupakan singkatan dari Mie dan Soto Ayam, terletak di area kelurahan Brumbungan, kawasan pusat kota Semarang.

Soto Neon Pak Nie Semarang
Warung Soto Neon Pak Nie sebagai bagian dari Kampung Tematik Semarang di Kampung Misoa. Foto: DOk. Soto Neon

Kampung tematik Semarang ini dinamakan demikian karena mayoritas warganya merupakan penjual ragam makanan seperti soto ayam, tahu pong, mie ayam, dan lain sebagainya. Sehingga sejak 2018, area ini diresmikan sebagai salah satu kampung tematik bertema kuliner.

Hingga saat ini, kampung Misoa sudah mampu menandai eksistensinya sebagai salah satu sentra kuliner khas Semarang. Beberapa destinasi wisata kuliner unggulan di tempat ini, seperti Soto Neon dan Tahu Pong Brumbungan, kini ramai diminati banyak pengunjung.

Kampung Petis

Kampung tematik bertema kuliner lainnya adalah kampung petis dan mangut di kelurahan Tambakharjo, wilayah barat Semarang. Kampung tematik ini masih cukup baru karena baru diresmikan tahun 2021 lalu, dan menawarkan aneka olahan petis dan mangut khas Semarang.

Umumnya, warga di kawasan ini mayoritas berprofesi sebagai nelayan, dengan hasil tangkapan seperti ikan sembilang dan sebagainya. Dari hasil tangkapan tersebut, ada yang kemudian diolah menjadi petis dan mangut.

Kampung Tematik Semarang ada bermacam-macam, dari kerajinan seperti batik, kuliner, hingga kampung tanaman bonsai.
Kuliner khas Semarang Petis Bumbon. Foto: dok. jatengprov.go.id

Petis adalah olahan udang atau ikan yang dimasak bersama gula merah, karamel dan garam hingga menjadi saus berwarna hitam pekat, dengan rasa manis gurih. Adapun mangut merupakan sejenis gulai ikan yang dimasak dengan santan dan cabe, bercita rasa pedas gurih.

Sejak 2021 silam, tempat ini diresmikan pula sebagai salah satu kampung tematik kuliner. Bersamaan dengan itu, dibangunlah sebuah pujasera yang menjadi wadah sekaligus pusat penjualan petis dan mangut di kampung ini.

Kampung Bonsai Semarang

Uniknya, terkadang kampung tematik tidak melulu bertemakan kerajinan atau kuliner tradisional saja. Kampung Bonsai di kelurahan Ponganan, misalnya, merupakan kampung tematik yang menjadi sentra tanaman bonsai di Semarang.

Awalnya, warga di sekitar area ini kebanyakan berprofesi sebagai pengrajin pot. Seiring semakin maraknya seni budidaya tanaman bonsai, beberapa di antaranya juga mulai menjajakan beragam hasil tanaman bonsai.

Oleh karenanya, pada 2010 lalu area ini ditetapkan sebagai kampung tematik yang menjadi sentra penjualan bibit serta tanaman bonsai. Tak kurang sekitar 40 pengrajin tanaman bonsai yang kini melayani demand lokal dan nasional, bahkan tiga di antaranya sudah go international.

Harga tanaman bonsai yang dijual di sini bervariasi, mulai dari raturan ribu hingga puluhan juta rupiah. Ada beberapa aspek yang dapat mempengaruhi harga, seperti proses pembuatannya, umur tanaman, hingga kualitas estetika dari tanaman tersebut.

Selain itu, masih banyak lagi jenis-jenis kampung tematik lainnya di Semarang, seperti kampung Jajan Pasar yang menjadi sentra penjualan dan eduwisata ragam jajanan pasar, atau kampung Konveksi yang kini mampu memproduksi ribuan potong kaos dan jaket per minggu.

Ke semuanya memiliki ciri khas, gaya, serta produk menarik bagi wisatawan yang berburu kuliner atau oleh-oleh. Ke depannya, tren dan konsep kampung tematik ini akan terus menjadi salah satu opsi bagi pemerintah daerah dalam menggali potensi pariwisata di daerahnya.

Kampung-kampung Tematik Semarang

Kampung Batik Rejomulyo

Jl. Batik Gedong, Rejomulyo, Semarang

Kampung Alam Malon

Kelurahan Gunungpati, Semarang

Kampung Misoa

Kelurahan Brumbungan, Semarang

Kampung Petis dan Mangut

Kelurahan Tambakharjo, Semarang

Kampung Bonsai

Kelurahan Ponganan, Semarang

Kampung Jajan Pasar

Jl. Stonen Timur, Gajahmungkur, Semarang

Kampung Konveksi

Desa Sodong, Purwosari, Semarang

agendaIndonesia/audha alief P

*****

Museum Zoologi Bogor, Unik Sejak 1894

Museum Zoologi Bogor adalah salah satu rujukan tentang hewan yang ada di Nusantara.

Museum Zoologi Bogor mungkin kalah pamor dibandingkan Kebun Raya atau Istana Bogor. Padahal, museum ini berada di dalam satu komplek dengan Kebun Raya tersebut.

Museum Zoologi Bogor

Ia patut menjadi salah satu pilihan alternatif tujuan wisata kala melancong di kota hujan, Bogor. Museum yang menampilkan koleksi kerangka fosil dan spesimen hewan yang diawetkan ini adalah salah satu museum fauna terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara.

Lokasinya berada di dalam area salah satu objek wisata utama Bogor lainnya, yakni Kebun Raya Bogor. Maklum, museum ini dulunya merupakan laboratorium penelitian terkait dengan botani dan zoologi yang dilakukan di sekitar wilayah Kebun Raya Bogor.

Museum Zoologi Bogor berada di dalam kompleks Kebun Raya Bogor.
Kebun Raya Bogor. Foto: shutterstock

Didirikan pada 23 Agustus 1894, tempat ini diprakarsai oleh seorang ahli dan peneliti botani dari Belanda bernama Dr. J. C. Koningsberger. Awalnya, tempat ini dinamai Landbouw Zoologish Laboratorium, merujuk kepada fungsi utamanya sebagai laboratorium penelitian.

Seiring berjalannya waktu, selain melakukan kegiatan penelitian terhadap flora dan fauna, Koningsberger kemudian juga berupaya mengumpulkan dan menghimpun koleksi spesimen hewan-hewan yang pernah ditemuinya selama berada di Indonesia.

Dari kegiatan inventarisasi kekayaan fauna Indonesia tersebut, maka pada 1901 dibangunlah gedung tambahan sebagai ruang koleksi dan pameran. Fungsi tempat ini pun turut bertambah sebagai museum dan sarana edukasi untuk umum, hingga saat ini.

Nama tempat ini pun sempat berubah beberapa kali. Misalnya, pada masa setelah kemerdekaan, museum ini berganti nama menjadi Museum Zoologicum Bogoriense. Kemudian sempat berubah-ubah, sampai akhirnya ditetapkan bernama resmi Museum Zoologi Bogor.

Zoologi sendiri merupakan istilah dari bahasa Yunani yang berasal dari gabungan dua kata, zoios dan logos. ‘Zoios’ artinya hewan, sedangkan ‘logos’ adalah ilmu atau studi mengenai sesuatu. Jadi, zoologi adalah studi dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hewan.

Dengan luas lahan sebesar, 1.500 m2 dan luas bangunan sekitar 750 m2, tempat ini memiliki tujuh ruangan utama yang berisi koleksi berbagai jenis fauna, mulai dari mamalia, burung, ikan, reptil, amfibi, moluska, serangga, serta hewan invertebrata non serangga dan moluska lainnya.

Pada 1997, sempat dilakukan peremajaan yang didanai oleh Bank Dunia dan dibantu oleh pemerintah Jepang. Kendati ruangan-ruangannya diperbarui dan dilengkapi beberapa diorama, arsitektur bangunannya yang kental bergaya kolonial tetap dipertahankan hingga kini.

Museum Zoologi Bogor Kemendikbud
Pintu masuk Museum Zoologi Bogor. Foto: Kemendikbud.

Setelah rampung, pada tahun 2000 museum ini resmi dikelola oleh divisi zoologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sekarang Badan Riset dan Ilmu Pengetahuan Indonesia (BRIN). Fungsi museum Zoologi Bogor sebagai pusat penelitian, inventarisasi dan edukasi kepada masyarakat umum pun terus dilakukan sampai sekarang.

Tercatat, hingga saat ini terdapat koleksi 650 jenis mamalia, 12.000 jenis ikan, 1.000 jenis burung, 763 jenis reptil dan amfibi, 12.000 jenis serangga, 959 jenis moluska, serta 700 jenis hewan invertebrata non serangga dan moluska, seperti cumi-cumi, ubur-ubur, dan lainnya.

Dari koleksi tersebut, terdapat beberapa koleksi unik yang pantang untuk dilewatkan kala berkunjung ke museum ini. Salah satunya yang cukup legendaris adalah kerangka paus biru yang dulu ditemukan mati terdampar di pantai Pameungpeuk, Garut pada Desember 1916.

Hewan yang dikenal sebagai spesies mamalia terbesar di dunia tersebut ditemui dengan panjang mencapai 27,25 meter, dan bobotnya sekitar 116 ton. Bahkan, berat kerangka tulangnya saja disebut-sebut seberat 64 ton.

Maka tak heran dibutuhkan waktu kurang lebih sekitar dua bulan untuk dapat memindahkannya ke Museum Zoologi Bogor. Sesampainya di museum pun, dibutuhkan ruangan tersendiri untuk dapat menyimpan kerangkanya secara utuh, lantaran ukurannya yang begitu raksasa.

Koleksi lain yang cukup unik adalah badak Jawa, salah satu satwa langka yang dilindungi. Konon populasinya kini hanya sekitar puluhan ekor, dan mayoritas habitatnya saat ini berada di taman konservasi Ujung Kulon, Banten.

Badak yang memiliki ciri khas bercula satu dan kecil ini menjadi langka dan terancam punah akibat kerap diburu untuk diambil culanya. Tak terkecuali badak berbobot sekitar dua ton tersebut yang juga mati oleh pemburu cula badak.

Badak itu kemudian disebut-sebut sebagai salah satu badak Jawa terakhir yang hidup di area Tasikmalaya. Karena tak sempat dipindahkan ke Ujung Kulon, akhirnya setelah wafat badak tersebut diabadikan di dalam museum pada 1934.

Selain itu, terdapat pula sampel kulit beserta foto dari komodo yang ditemukan pada tahun 1912 oleh Pieter Antonie Ouwens, direktur Landbouw Zoologish Laboratorium pada saat itu. Ini adalah pertama kalinya spesies komodo ditemukan dari ekspedisi di area Nusa Tenggara.

Yang juga tak kalah unik, ruangan untuk menyimpan spesimen burung memiliki kriteria khusus. Untuk menjaga spesimen agar senantiasa awet dan tidak rusak, maka suhu ruangan selalu dikondisikan setidaknya dalam suhu sekitar 22 derajat Celsius.

Bahkan, koleksi yang terdapat di museum ini tak hanya meliputi satwa nusantara saja. Beberapa di antaranya merupakan hewan-hewan yang ditemukan di negara-negara lain, seperti misalnya kepiting laba-laba Jepang yang merupakan kepiting terbesar di dunia.

Mengingat lokasinya yang masih berada di dalam wilayah Kebun Raya Bogor, untuk dapat masuk ke dalam perlu membayar tiket masuk menuju Kebun Raya Bogor terlebih dulu. Harganya Rp 16,5 ribu untuk hari biasa dan Rp 26,5 ribu saat akhir pekan.

Kemudian, lokasi museum ini berada bersebelahan dengan gedung Balai Industri Agro. Dari pintu masuk Kebun Raya Bogor, akan terdapat papan penunjuk arah menuju ke museum. Di dalam museum juga ada denah ruangan per kategori hewan, sehingga tak perlu takut tersasar.

Harga tiket masuk ke dalam museum adalah Rp 15 ribu untuk hari biasa, serta Rp 25 ribu kala akhir pekan. Jam operasional museum mulai dari jam 08.00 sampai 15.00 di hari biasa, sedangkan saat akhir pekan buka lebih awal pada jam 07.00.

Museum Zoologi Bogor; Jl. Ir. H. Juanda Nomor 9, Bogor

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Menikmati 1 Masa Lalu Surabaya di Malam Hari

Tahu Telur Pak Jayen sesungguhnya adalah tahu tek.

Gelap sudah membayang ketika saya masuk Surabaya di malam hari, Ibu Kota Jawa Timur, dari arah Madura. Selepas Jembatan Suramadu, cukup lama saya menghabiskan waktu di Masjid Sunan Ampel. Jadilah masa lalu Surabaya menyambut dalam temaram, apalagi saat memasuki kawasan gudang-gudang tua. “Ini kawasan Pecinan,” ujar sang pengemudi yang mengantar. Ia pun mengajak berputar, tapi yang ada kegelapan. Jalan Gula, Jalan Karet, hingga Jalan Kembang Jepun, lokasi adanya Kya Kya Surabaya yang memperlihatkan gedung-gedung berpulas abu-abu tak terawat.

Menikmati masa lalu Surabaya di malam hari di antaranya mengunjungi Kya-kya Surabaya.

Meski kawasan Pecinan lebih banyak dipenuhi gedung-gedung lawas tak terawat, tapi pada pagi dan siang hari kawasan itu menjadi sasaran para pencinta foto, baik mereka yang amatiran maupun fotografer profesional. “Mbak mungkin harus lihat besok pagi,” ujar sang pengemudi memecah keheningan. Ia tak tahu, saya tengah menikmati masa lalu Surabaya di malam hari.

Masa Lalu Surabaya di Malam Hari

Nah, dari kawasan Pecinan, saya melewati Jembatan Merah. Jembatan yang menghubungkan jalan Kembang Jepun dan jalan Rajawali ini, menjadi saksi dari kisah heroik para pejuang Indonesia melawan kaum kolonial. Jembatan diberi penerangan cukup hingga terlihat menawan di malam hari. Lampu-lampu pun terlihat lebih bertebaran di seberang jembatan. Melintasi jalan tersebut, saya mengenang kisah Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, pemimpin tentara Inggris meregang nyawa tak jauh dari sini, tepatnya di Gedung Internatio, yang menjadi pusat tentara Sekutu.

Malam itu, gedung yang berada di jalan Jayengrono tersebut terlihat kokoh meski dalam kegelapan. Bangunan yang didirikan pada 1929 ini, tak jauh dari Gedung Cerutu dan De Javasche Bank Surabaya yang dikenal sebagai Gedung Garuda. Juga sebuah hotel yang tampak kental dengan aksen klasik di malam hari, Hotel Arcadia by Horison. Hotel itu tampak di pojokan, seperti menyambut orang yang melewati Jembatan Merah.

Saya membuka mata lebih lebar, gedung-gedung kuno itu semakin membuat saya penasaran. Jadi tak bisa rasanya hanya melewati sekali, meski malam hari saya masih penasaran untuk memutari kembali dan masuk ke dalam jalan-jalan kecil di antara gedung-gedung lawas tersebut. Ini memang menikmati masa lalu Surabaya di malam hari.

Di seputar Jembatan Merah, ternyata banyak juga gedung tua yang terawat dan difungsikan, seperti yang digunakan sebagai kantor oleh PT Perkebunan Nusantara X dan kantor Polwiltabes Surabaya dengan bangunan tahun 1850. Saya lebih terpana lagi saat mencermati bangunan yang digunakan Kantor PT Perkebunan Nusantara XI. Gedung yang digunakan kantor yang mengurusi perkebunan tebu dan pabrik gula itu begitu luas dan terlihat megah.

Pembangunannya disebut menghabiskan 3.000 meter kubik beton. Pilar-pilar besar menjadi salah satu ciri gedung berlantai dua tersebut dengan detail di beberapa bagian. Di masa lalu, gedung yang dibangun pada 1921 ini merupakan Gedung Serikat Dagang Amsterdam. Tak jauh dari PT Perkebunan Nusantara XI ada Maybank cabang Jembatan Merah yang mengunakan bangunan lawas, dulunya bernama Netherlands Spaarbank. Bangunan tersebut didirikan pemerintahan Belanda pada 1914.

Malam terus merambat, niat menikmati masa lalu Surabaya di malam hari berlanjut. Saya pun harus menuju ke hotel yang terletak dalam Jalan Darmo Raya. Lama tak menginjak kota ini, rasanya saya tak cukup untuk satu hari semalam menyimak sejarah kota lewat bangunan tuanya. Dalam perjalanan menuju hotel, saya kembali menyimak Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria dengan gaya arsitektur Gothic, Gedung Isola, dan Gedung Negara Granadi yang didirikan pada 1795, yang kini menjadi kediaman resmi Gubernur Jawa Timur.

Di pusat keramaian kota masih ada sederet titik yang menyimpan sejarah perjuangan bangsa ini. Salah satunya nan begitu populer adalah Hotel Majapahit Surabaya yang dibangun pada 1910. Di sinilah terjadi perobekan bendera Belanda yang terdiri atas tiga warna dan menjadi merah putih. Bendera tersebut berkibar megah di bangunan yang dulu bernama Hotel Oranje, yang kemudian berubah lagi menjadi Hotel Yamato. Sayang, malam itu badan saya sudah mulai berharap untuk rebahan. Hingga kendaraan tidak kembali berputar untuk mengitar seputar Tunjungan.

Menikmati Masa lalu Surabaya salah satunya mengunjungi kawasan Jembatan Merah.
Kawasan Jembatan Merah Surabaya. Foto: unsplash

Esok hari, perjalanan sejarah ini pasti akan diulang. Masih ada Gedung Kantor Pos Kebonrojo, Gedung Pertamina, Rumah WR Supratman, Balai Kota Surabaya, Gedung Suara Asia, Gedung PLN Gemblongan, serta Jembatan Petek’an, yang membuat saya memahami perjuangan warga kota ini untuk kemerdekaan, hingga predikat Kota Pahlawan pun wajib disematkan.

Es krim Zangrandi Surabaya
Es krim Freezing Barbeque di Kedai ice cream Zangrandi, Surabaya.

Kuliner Zangrandi & Pasar Blauran

Di tengah udara panas Surabaya, saat menapaki jejak sejarah, rasanya mampir ke restoran yang terletak di jalan Yos Sudarso Surabaya ini menjadi pilihan menggoda. Resto dengan suguhan spesial es krim ini, didirikan Renato Zangrandi dari Italia pada 1930. Suasana klasik masih dipertahankan di sini, ubin dengan corak zaman dulu dan kursi rotan lama masih mendominasi.

Untuk pilihan, tutti frutti yang menawarkan es krim dengan rasa buah-buahan, yang dulu digandrungi pun masih bisa dicicipi. Selain itu, ada pula sweet blossom dan fruit parade, yang harganya dipatok pada kisaran Rp 30 ribuan.

Ingin makanan tradisional sekaligus menikmati suasana pasar zaman dulu, bisa mampir ke Pasar Blauran. Namanya juga pasar, memang sulit untuk mendapat parkir kendaraan, tapi di bagian dalam aneka camilan dan tentu sajian khas, bisa dicicipi di lingkungan yang bersih dan rapih. Lontong mi, rujak cingur, atau es dawet, bisa membuat perut tak lagi keroncongan.

Interior Masjid Sunan Ampel Surabaya
Masjid Sunan Ampel Surabaya

Sunan Ampel dan Cheng Ho

Ada dua tujuan wisata religi yang saya jejaki sembari menyimak sejarah di Surabaya. Pertama, Masjid Sunan Ampel yang dibangun pada 1421, terasa hangat dengan pernak perniknya, membuat orang serasa di Arab Saudi. Selepas salat ashar saya pun menyusuri lorong-lorong seputaran masjid. Aneka kurma, pakaian dari abaya, sampai gamis kaum Adam memenuhi toko. Hingga saya pun terdampar di sebuah toko keturunan Arab dengan suguhan khas roti cane dan beberapa potong cane menjadi pengisi perut. Saat azan magrib terdengar, saya kembali bergegas kembali ke masjid, berduyun-duyun orang dari lorong yang berbeda mempunyai satu tujuan. Jumlah peziarah memang mencapai ribuan setiap harinya dan datang dari berbagai daerah. Di bagian belakang masjid juga terdapat makam Sunan Ampel, sang pendiri rumah ibadah sekaligus salah satu Wali Songo. Kegiatan berziarah tentu menjadi agenda dari para wisatawan religi itu.

Kedua, Masjid Cheng Ho di Surabaya, yang memang bukanlah bangunan tua. Namun sebaiknya tak dilewatkan karena masjid yang terletak di Jalan Gading, Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng, ini tetap terkait dengan sejarah. Dibangun pada 2001, rumah ibadah ini didirikan untuk menghormati Laksamana Cheng Ho yang berasal Cina. Bangunan ini didominasi warna khas Tiongkok, seperti merah, hijau, kuning, dan biru. Sebagian besar detail arsitekturnya pun dipenuhi ciri Negeri Bambu tersebut, meski ada beberapa detail khas Arab yang terlihat. Bangunan tidak terlalu besar, hanya memanjang dan di bagian depan terdapat lapangan, sehingga saat hari raya bisa menampung hingga 200 orang. Di dalam kompleks masjid terdapat taman kanak-kanak, salah satunya berguna sebagai tempat kursus bahasa Mandarin.

Rumah HOS Tjokroaminoto

Berada di Gang VII, Peneleh, Rumah HOS Tjokroaminoto terkesan teduh. Pagar berwarna hijau tosca menciptakan kesegaran. Tak hanya menyimpan jejak pahlawan nasional, tapi juga jejak sejumlah muridnya, termasuk Presiden Soekarno, Muso, Semaun, Alimin, Darsono, Tan Malaka, hingga Kartosuwiryo. Profil para murid ini terpampang di dinding-dinding dalam catatan khusus. Lantas, ada ruang spesial di atas yang menjadi favorit Bung Karno. Siapa pun bisa mengenal lebih dekat pemimpin Serikat Islam ini, lewat pajangan di dinding-dinding rumah yang dibangun pada 1870.

Rita N

Sensasi Wisata Dalam Air, 2 Yang Unik Dicoba

Sensasi wisata dalam air tak sekadar menyelam, tapi ada pula yang untuk berfoto.

Sensasi wisata dalam air rasanya pasti berbeda dibandingkan menikmati pemandangan di daratan. Terlebih di era sosial media yang menambah syarat spot wisata: instagramable. Serba bisa diunjukkan di akun instagram wisatawan. Sampai ada yang berpendapat, banyak orang yang berwisata bukan untuk menikmati suasana dan budaya yang berbeda, tapi sekadar membuat ‘prasasti’ pernah di tempat itu.

Sensasi Wisata Dalam Air

Tak apalah, sekadar mengabadikan pernah main ke tempat itu, atau memang menikmati keunikan destinasi wisata yang dikunjungi, dua-duanya layak dilakukan. Dan, menikmati pemandangan di dalam air adalah cara berbeda melakukan perjalanan.

Namun, jika berwisata dalam air itu berarti menyelam, tentu saja meminatnya jadi terbatas. Ini ada dua spot wisata dalam air yang layak dicoba bagi mereka yang bukan penyelam tapi ingin coba-coba menikmati sensasi kehidupan bawah air.

Sensasi wisata dalam air selain untuk kesenangan menyelam, juga bisa dilakukan untuk keperluan sosial media.
Salah satu spot yang instagramable di Umbul Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. Foto: dok. shutterstock

Umbul Ponggok Klaten

Ingin snorkeling atau menyelam tapi takut gelombang laut? Tak usah khawatir. Silakansambangi Umbul Ponggok. Kolam di Desa Umbul Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Spot ini masih sangat alami, berupa hamparan pasir nan luas, bebatuan, dan ribuan ikan warna-warni sehingga suasananya benar-benar seperti di bawah laut. Di kala normal, bukan saat pandemi, Umbul Ponggok buka setiap hari, mulai pukul 07.00-17.00 WIB.

Tempat wisata ini terbilang cukup berbeda dibanding kolam renang pada umumnya. Airnya berasal langsung dari mata air. Dasar kolamnya pun memiliki pasir, karang, hingga berbagai jenis ikan. Meski dipenuhi ikan, air di Umbul Ponggok tidak amis karena airnya terus mengalir.

Selain sebagai tempat snorkeling, Umbul Ponggok kerap dijadikan lokasi latihan menyelam bagi para pemula sebelum mereka benar-benar menyelam di laut. Bahkan kolam alami yang sudah ada sejak zaman Belanda itu memberi pula kesempatan pengunjung untuk berfoto di dalam air sambil bermain video game, nonton televisi, naik sepeda motor, atau melakukan aktivitas lain.

Wisatawan yang masuk ke dalam kolam bisa menemui beberapa spot foto menarik. Memang, pengelola menaruh beberapa benda unik di dalam kolam, seperti motor bebek klasik, sepeda onthel, meja makan, kursi santai, televisi, hingga laptop. Barang-barang bisa disewa untuk sesi foto. Salah satu spot foto yang kerap digandrungi wisatawan adalah tempat duduk ala taman.


Selain bisa berfoto ria bersama ikan dan beberapa properti yang telah disediakan, wisatawan juga bisa snorkeling dan diving di Umbul Ponggok. Wisatawan tidak perlu khawatir jika tidak memiliki peralatan menyelam. Sebab, tempat wisata menyewakan beberapa perlengkapan. Untuk snorkeling, pengunjung bisa menyewa pelampung, kaki katak, dan masker khusus snorkeling.
Tarif untuk menikmati wisata bawah air ini bervariasi dan tidak terlelu mahal. Tiket masuknya di week day hanya Rp 10 ribu, sedangkan untuk week end Rp 15 ribu. Tarif termahal adalah untuk kelas menyelam tang mencapai Rp 250 ribu.

Saat ini wisata Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah, menghadirkan wahana baru di wisata mata airnya, yaitu flying board. Wahana baru tersebut merupakan upaya untuk menarik pengunjung di tengah pandemi Covid-19.

Sensasi wisata dalam air bisa dilakukan berupa 'jalan-jalan' di dasar lautan, seperti di Lembongan, Bali.
Suasana di perairan bawah laut Lembongan, Nusa Lembongan Island, Bali, Indonesia. Foto: dok. shuterstock

Nusa Lembongan, Bali

Atraksi wisata dalam air di Pulau Lembongan, Bali, lain lagi. Pulau Nusa Lembongan lokasinya berada di tenggara pulau Bali dan masuk dalam pemeritahan Kabupaten Klungkung. Hal yang membuat pulau Nusa Lembongan disukai wisatawan untuk destinasi liburan karena keindahan alamya. Keindahan yang dapat Anda lihat di pulau Nusa Lembongan seperti pantai pasir putih, hutan bakau dirimbuni pepohonan hijau, serta keindahan pemandangan bawah laut.

Salah satu daya tarik pulau Nusa Lembongan terdapat pada keindangan perairan bawah laut. Hampir disebagian besar area di Nusa Lembongan Anda akan melihat penawarkan aktivitas snorkeling dengan Manta Rays atau aktivitas menyelam.

Yang unik, di pulau kecil ini, wisata dalam air berupa sea walking atau jalan-jalan di dasar laut. Sesuai dengan namanya, wisatawan yang ingin mencicipi atraksi ini tak perlu menyelam, cukup berjalan kaki. Untuk itu, wisatawan dibekali helm yang dirancang khusus agar dapat bernapas saat berada di dalam air. Sea walking diklaim lebih seru dibandingkan menyelam ataupun snorkeling karena turis bisa langsung berinteraksi dengan ikan-ikan.

Banyak agen wisata di Bali yang kini menawarkan atraksi tersebut dengan harga bervariasi, mulai Rp 520 ribu per orang. Wisatawan dibawa menggunakan perahu cepat dari Sanur menuju Lembongan selama 30 menit. Kemudian, barulah menjelajahi alam bawah lautnya, juga selama 30 menit. Sea walking juga dianggap lebih aman karena didampingi oleh dive master.

Andry T./TL/agendaIndonesia

*****

Susu Sapi Boyolali, 1 Sentra Susu Segar

Susu sapi Boyolali sentra susu di Jawa.

Susu sapi Boyolali menjadi salah satu daya tarik pelancong datang ke kota kecil di Jawa Tengah itu. Terlebih lagi kini kota tersebut sudah menjadi satu rangkaian dari jalan tol TransJawa. Jika berjalan dari Semarang ke arah Solo, ada exit di Boyolali.

Susu Sapi Boyolali

Kabupaten Boyolali mendapat sebutan sebagai Kota Susu. Ini mengingat daerah ini merupakan penghasil susu sapi terbesar di Jawa Tengah. Kota ini bahkan punya patung sapi perah raksas sebagai ikon daerahnya.

Boyolali memiliki banyak peternakan sapi perah, terutama di daerah selatan dan dataran tinggi yang berhawa sejuk, di mana banyak tersedia pakan hijau yang sangat mendukung perkembangbiakan ternak.

Susu sapi Boyolali selain dikonsumsi langsung juga menjadi aneka produk olahan.
Susu sapi sesudah dari perahan. Foto; shutterstock

Kabupaten yang terletak sekitar 25 kilometer sebelah barat Kota Surakarta ini kadang dijuluki juga sebagai New Zealand Van Java atau Selandia Baru dari Jawa. Sebutan ini berdasarkan kesamaan keduanya, yakni sama-sama sentra produsen susu dan daging sapi.

Sebagian besar wilayah Boyolali terletak di dataran tinggi sehingga cocok untuk menjadi tempat budi daya sapi perah. Dengan potensi budidaya sapi sebesar ini, wajar jika Boyolali menjadi kota Susu. Selain sapi perah, kota tersebut juga dikenal sebagai sentra peternakan sapi potong.

Potensi pariwisata di Kabupaten Boyolali juga sangat besar. Ada berbagai wisata alam, wisata edukasi, sejarah dan budaya yang ada di daerah ini. Yang kian dkembangkan tentu saja soal produksi sapi.

Memanfaatkan peternakaan sapi perah yang ada, seperti wisata sapi perah Cepogo, wisata Selo, wisatawan bisa datang dan melihat langsung dan terlibat dalam proses pemerahan susu sapi, hingga susu diolah menjadi berbagai produk olahan seperti keju, kerupuk susu, dodol susu, atau yogurt.

Keju mozarela dari Boyolali berawal ketika ada warga negara Belanda yang mencoba mengembangkan produk susu.
Keju Mozarela produksi Boyolali dari susu sapi lokal. Foto: Tokopedia

Di wilayah Boyolali juga terdapat beberapa gunung, dua di antaranya adalah Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Ke dua gunung tersebut menjadikan kondisi tanah di Boyolali sangat subur.

Suhu dan kondisi alam yang tepat inilah yang membuat ratusan sapi perah bisa berkembang biak dengan baik di Boyolali. Kota ini menjadi salah satu pemasok susu di Indonesia. Per harinya, produksi susu sapi bisa mencapai 120 ribu liter.

Tapi main atau mampir ke Boyolali tak lengkap jika tak mencicipi produk susu dan turunan kulinernya. Jika tak langsung dikonsumsi, bisa dijadikan oleh-oleh.

Yang pertama tentu saja mencicipi susu segarnya secara langsung. Tradisi nongkrong malam-malam di kedai susu berawal dari kota ini. Wisatawan bisa mendatangi kedai-kedai minum susu terbaik di Boyolali untuk merasakan nikmatnya susu sapi Boyolali yang segarnya alaminya.

Banyak tempat yang menyajikan minuman dan makanan berbahan dasar susu sapi Boyolali. Di antara semua kedai susu, yang paling populer di kalangan warga adalah Waroeng Spesial Susu Segar (SSS).

Selain SSS, pelancong juga bisa mencoba susu sapi Boyolali di kedai Mas Bejo. Susu Segarnya yang khas membuatnya didatangi banyak pengunjung dari dalam kota maupun pelancong.

Berlokasi di di Jalan Pandanaran No 241, Susu Segar Mas Bejo menyediakan berbagai macam menu susu yang harganya sangat murah. Dengan uang kurang dari Rp 10 ribu, wisatawan sudah bisa menikmati segelas susu sapi segar dengan rasa favorit.

Selain susu segar, produk khas daerah Boyolali pertama adalah tahu susu. Makanan ini merupakan olahan dari susu dengan cita rasa yang khas dan unik.

Perbedaan itu bisa dilihat dari aroma dan rasa yang lebih manis. Dari segi tekstur, tahu di sini sangatlah lembut dan kenyal. Bahkan, ada beberapa yang ketika pertama kali dipegang langsung hancur atau rapuh seketika.

Tahu susu kerap dijadikan oleh-oleh khas Boyolali yang tahan lama. Wisatawan bisa membawa tahu susu yang masih mentah yang dikemas dalam plastik. Harganya pun terjangkau yang ditemukan di toko oleh-oleh sekitar Boyolali.

Selain tahu susu, susu sapi Boyolali juga dioleh menjadi dodol susu. Berbeda dengan dodol dari daerah lain, dodol susu memiliki rasa yang lebih manis dan creamy. Kudapan ini cocok untuk wisatawan yang menyukai makanan manis. Rasa dodol susu relatif mudah diterima di lidah semua kalangan, dari anak kecil hingga orang tua.

Makanan khas dari Boyolali yang dapat dijadikan oleh-oleh selanjutnya adalah Keju Meneer. Makanan hasil fermentasi susu sapi ini berasal dari daerah Selo.

Dulunya ada warga Belanda yang tinggal di daerah itu dan berkeinginan untuk mengembangkan potensi susu sapi di wilayah ini dengan baik. Dengan keinginannya tersebut, ia membuat produk keju dengan rasa yang sangat gurih. Keju meneer bisa tahan sekitar tujuh hari di perjalanan.

Abon Sapi Boyolali Tokopedia
Abon sapi Boyolali. Foto: Tokpedia

Kota Boyolali tidak hanya terkenal sebagai daerah penghasil susu sapi segar terbesar di Jawa Tengah, tetapi daerah itu juga dikenal dengan olahan daging sapinya. Karena itu, tidak lengkap jika para wisatawan belum mencicipi sekaligus membawa olahan daging sapi dari daerah ini. Seperti dendeng atau abon.

Dalam proses pengolahannya, produsen menggunakan daging sapi pilihan dan bumbu yang berkualitas agar bisa menghasilkan dendeng sapi bercita rasa khas. Daging sapi harus diiris setipis mungkin sebelum dibumbui dan direndam dalam bumbu rempah.

Setelah beberapa waktu, daging sapi berbumbu dikeringkan secara maksimal. Dendeng sapi yang sudah jadi kemudian dikemas dalam plastik yang direkat dan bisa dibawa untuk perjalanan jauh. 

Produk olahan daging lainnya adalah abon sapi khas Boyolali. Sama seperti abon pada umumnya, bentuknya serabut berwarna kecoklatan terang hingga kehitaman. Cita rasanya dominan gurih dan manis sehingga cocok dijadikan sebagai makanan pendamping nasi.

Harga dari abon sapi khas Boyolali ini relatif terjangkau. Abon Sapi juga memiliki ketahanan yang lama karena kering dan tidak ada air di dalam kemasannya sehingga cocok untuk dibawa dengan perjalanan yang lama.

Jadi kapan dolan ke Boyolali? Cobalah mampir sebentar saat perjalanan dari Jakarta, Semarang atau kota lainnya dan melintasi kota ini. Kalau tak sempat main lama, produk susu dan olahannya bisa jadi alternatif buah tangan.

agendaIndonesia

*****

2 Wisata Balikpapan, Udara Laut dan Hutan

iStock 509316323

Kota kilang minyak di Kalimantan Timur ini tak hanya tumbuh sebagai kota bisnis, tapi juga tempat wisata Balikpapan. Bandar udara yang tergolong anyar karena baru diresmikan pada September 2014 ini pun terlihat megah dan hadir dengan nama baru Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Berupa gedung berkonsep eco-airport dengan langit-langit tinggi, terdiri atas empat lantai, dan dilengkapi dengan pusat perbelanjaan. 

Balikpapan memang punya pilihan beragam destinasi. Di seputar kota ataupun hutan-hutan di pinggiran kota. Di dalam kota, misalnya, wisatawan bisa menikmati pantai dan kuliner serta pemandangan laut dari ketinggian. Ada Pantai Melawai dan Kemala, yang berada di Jalan Jenderal Sudirman. Jangan lupa juga mencicipi hidangan dari kepiting yang tersedia di sejumlah restoran. Hidangan yang satu ini memang lekat dengan kota ini. 

Yang Khas Wisata Balikpapan

Masih di pusat kota, pelancong juga berbelanja berbagai kerajinan khas Suku Dayak serta olahan makanan di Pasar Kebun Sayur. Benda-benda khas dari rotan dan bambu hingga batu warna-warni, yang berupa gelang, kalung, dan cincin, bisa ditemukan di sini. Selain itu, ada penangkaran buaya yang tidak jauh dari pusat kota. Tepatnya, terletak di Kelurahan Teritip atau sekitar 27 kilometer dari pusat kota. Anda bisa bersua dengan ribuan ekor buaya, yang terdiri atas tiga jenis, yaitu buaya muara, supit, dan air tawar, yang menempati lahan seluas 5 hektare itu. Bisa juga berbelanja produk dari kulit buaya. 

Jika ingin menikmati hawa khas hutan, saatnya mengintip konservasi orang utan dan beruang madu yang dikelola Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS) di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Jaraknya sekitar 40 km dari pusat kota. 

Anda akan melalui jalur tanpa aspal dengan di sisi kiri-kanan pohon besar hingga menemukan kelompok orang utan di pulau-pulau buatan. Selain orang utan, ada juga kawanan beruang madu (Helarctos malayanus) di lahan yang berbeda.

Masih di daerah yang sama, ada pilihan lain, yakni Taman Nasional Bangkirai. 

Merupakan hutan konservasi seluas sekitar 1.500 hektare dengan koleksi tanaman tropis Kalimantan Timur. Daya tarik lainnya adalah jembatan gantung sepanjang 64 meter dengan ketinggian 30 meter di atas tanah. l

F. Rossana

Terbuai Gelombang di Pantai Bali Selatan

shutterstock 186

Sehari pasca-Kuningan, penjor-penjor masih berdiri gagah di sepanjang lorong gang-gang di Denpasar, Bali. Juga di pantai Bali di Pulau Dewata itu. Janur kuning belum berubah kecokelatan. Bunga-bunga di canang juga tampak baru kemarin sore ditata di papan persembahan. Pagi itu, para perempuan berkamen dengan rambut disanggul berlalu-lalang di sepanjang Sunset Road, Badung, Bali, diikuti para lelaki dengan aksesori udeng di kepala. “Mereka akan sembahyang di pura-pura keluarga,” kata Made Arya, warga asli Singaraja, yang bebeapa hari itu mengantar perjalanan di Bali. 

Mobil melaju ke selatan menuju pesisir Pulau Seribu Pura. Kian dekat pantai, tempat-tempat persembahyangan kian banyak dijumpai. Orang-orang mengantar doa makin berlipat jumlahnya. Kontras dengan warga-warga asing yang melaju santai membawa papan selancar, beriringan ke arah yang sama. 

Pantai Bali Setelah Kuta

Lamat-lamat, lantunan Kuta Bali Andre Hehanusa terdengar dari radio. …Di Kuta Bali kau peluk erat tubuhku, di Kuta Bali cinta kita… Made Arya memutar tombol volume. “Kuta dulunya memang ramai. Apalagi setelah upacara Kuningan begini. Namun orang sekarang mungkin agak bosan. Mereka mau yang lebih indah, yang lebih menantang. Yang asyik, ya, Bali bagian selatan, di pantai-pantai yang belum terjamah,” tuturnya. 

Mobil Made membelah jalan bertebing karst. Roda-rodanya luwes mengikuti jalur-jalur sempit dan berkelok. Patung Garuda Wisnu Kencana tampil di kiri jalan. Tak lama, sebuah papan kayu kecil di persimpangan jalan menarik pandangan. Pantai Gunung Payung. Begitulah tulisan yang tertera. Belum banyak literatur yang mengulas pantai ini. 

Jalan masuknya berupa jalur menuju kawasan golf di Uluwatu. Begitu sampai, sebuah lorong dengan dinding penuh tumbuhan merambat menyambut dan menuntun langkah menuju lokasi suara ombak terpecah karang bernaung. Jalannya cukup besar dengan kontur menurun. Namun semakin lama semakin menyempit. Jalan rata berubah menjadi tangga-tangga batu yang licin. Kanan-kiri semak belukar. 

Paralayang di langit Selatan Pulau Bali
Paralayang di langit Selayan pulau Bali.

“Jalan ke bawah masih jauh, buddy,” kata pria Australia berusia 30 tahun kepada rekan sejawatnya dalam bahasa Inggris. Napasnya tersengal. Sebab, sebelah tangannya menggendong papan selancar. DI seperempat jalan, terdapat sebuah spot, yang sering digunakan untuk berfoto, berupa tanah lapang dengan pemandangan lepas pantai. Diteropong dari atas, lanskap yang tersaji ialah hamparan Gunung Payung dengan pasir putih disapu ombak. Terlihat beberapa orang kulit putih berjemur santai sembari menikmati bir. 

Perjalanan masih cukup jauh. Kaki kembali melangkah. Kian ke bawah, tangga curam menghadang. Lanskap pantai dan gunung karang mulai tak terlihat. Lorong makin gelap. Sekitar 20 menit kemudian, lorong itu menemui ujungnya. Cahaya merasuk sedikit-sedikit. Hamparan pasir menyambut. Di anak tangga terakhir, saya seperti berada di sebuah gerbang yang membawa ke dunia lain. Oasis tanpa batas yang bersanding dengan lautan membikin jatuh cinta pada pandangan pertama. 

Di ujung pantai, dekat dengan gunung karang, bule Australia yang saya temui di perjalanan tadi sudah melucuti pakaian luarnya dan berlari-lari kecil. Sejurus kemudian, papan itu diajak menari di atas gelombang. Sesekali terempas dan tubuhnya jatuh terpelanting ombak. 

“Deretan pantai Bali selatan memang surganya para surfer,” ucap Made memecah hening. Pantai Gunung Payung menjadi salah satu favorit lantaran punya gelombang yang besar. Namun yang berlaga di sini ialah kalangan profesional, juga yang siap mental digulung ombak ganas hingga 2-3 meter. Belum lagi, karakter pantai di bagian selatan tersebut sebagian besar berkarang. 

Melihat keadaan alamnya, memori langsung mengantarkan saya kepada obrolan bersama seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Siloam Denpasar, dokter Netty Santyari, beberapa waktu lalu. Ia berkisah tentang tarian gelombang yang diam-diam menghanyutkan. Banyak cerita para peselancar mengalami kecelakaan bila tak siap menghadapi tarian ombak yang elusif. Yang menakjubkannya adalah para peselancar itu kerap mengalami bencana tak terduga. “Rumah sakit tempat saya bertugas, Rumah Sakit Siloam Denpasar, sering menerima pasien yang cedera karena surfing. Tebak, mereka kebanyakan bukan mengalami patah tulang, tapi cedera wajah karena terbentur papan surfing,” tutur Netty kala itu.

Para peselancar dari luar negeri itu akhirnya harus tinggal lebih lama di Bali untuk mendapatkan perawatan intensif pemulihan wajah melalui operasi plastik yang tersedia di rumah sakit tersebut. Jadi tak heran kalau yang berani bermain dengan gelombang selatan adalah para peselancar yang sudah andal dan siap menanggung segala risiko terburuk. 

Gunung Payung bukan satu-satunya pilihan. “Ada Green Bowl dan Nyang-nyang yang tak kalah elok untuk berselancar,” ucap Made. Dua pantai ini memiliki karakter serupa dengan Gunung Payung, sama-sama butuh perjalanan panjang menuruni bukit berbatu untuk sampai tujuan. Bahkan Green Bowl memiliki anak tangga lebih banyak. Sekitar 300 undak-undakan. 

Namun keindahan lanskap yang menyerupai gadis berkuntum, kalis dan suci, akan membayar peluh yang mengalir. Bibir pantainya tak terlalu luas, tapi bersih tak terkira. Pasirnya lembut bak bubuk gula halus. Karang-karang yang bercokol mendekati tebing mengesankan pemandangan yang dramatis. Ditambah, dengan gelombang laut yang memiliki ritme memikat. 

Dulu, pantai di Desa Ungasan ini merupakan area privat salah satu resor premium. Namun kini dibuka untuk umum. “Kalau mauberselancar di sini, paling bagus pukul 5 sampai 9 pagi atau 4 sore hingga 7 malam,” ucap Ketut Sane, warga setempat. Ia berkisah, Green Bowl memiliki pusaran gelombang di tengah laut yang membikin arus menyapu lebih ganas. Karena itu, ada jam-jam khusus saat ritme gelombang lebih stabil, tak terlalu rendah, juga tinggi. Di samping itu, Green Bowl cocok untuk merefleksikan diri atau sekadar sebagai media buat mendengar puisi alam paling merdu di dunia, ombak dan kicau burung laut yang bersahut-sahutan. 

Tak jauh dari Green Bowl, Nyang-nyang turut menjadi bagian pesisir Pulau Dewata yang merayu buat dinikmati kesyahduannya. Untuk menjangkaunya, perlu terpelanting, tergelangsar, atau terperosok ke jalan berbatu putih. Bukan hiperbola. Sebab, kemiringan jalur tersebut hampir membentuk sudut 80 derajat. 

Sembari bersusah menuruni jalur licin dan berkerikil, lagi-lagi saya bersemuka dengan para turis dari Eropa dan Australia. Beberapa juga berbahasa Rusia. Wisatawan dari kedua benua ini memang terkenal paling doyan menjangkau lokasi yang menantang adrenalin. “Semangat! Setelah ini, kita akan bermain-main dengan ombak. Eh, mana papan surfing-mu?” ujarnya menyapa. 

Saya hanya nyengir sembari memincingkan mata jauh ke depan. Jalur berbatu ini seakan tak berujung. Sekonyong-konyong, debur yang makin terdengar lantang membikin kaki meloncat girang. Bule-bule tadi sudah sampai duluan. Mereka sibuk memainkan papan selancarnya di atas gelombang. 

Saya berdiam mengeringkan keringat di karang besar yang siap menopang badan. Mata asyik menyimak angin yang menyapu gelombang, dan pasir meliuk-liuk terinjak kaki. Matahari berarak pulang. Langit mulai bergaris, berkecamuk memadukan semburat kuning, merah, dan biru tua. Turis-turis mengangkat papan selancarnya. Orang-orang meninggalkan pura di sekitar pantai. Sambil memejamkan mata, terbayang pengembaraan pulang meniti kaki mendaki jalur berbatu yang terjal dan ekstrem. 

F. Rossana/A. Prasetyo