Ternate, Pulau Vulkanik Dengan 2 Warna

Danau Ngade

Ternate, pulau vulkanik dengan 2 warna tradisi belum banyak diketahui orang. Dari pelajaran sejarah, kita hanya dikenalkan adanya Kesultanan Ternate dan Tidore. Tapi jejaknya seperti apa, lebih banyak orang yang kurang paham dari daerah di kawasan Maluku Utara ini.

Ternate, Pulau Vulkanik Dengan 2 Warna

Berada di kaki Gunung Gamalama, Ternate yang dikelilingi laut sesungguhnya tak hanya menawarkan wisata bahari. Pulau yang berada di Provinsi Maluku Utara ini juga menarik ditelusuri sejarahnya melalui peninggalannya. Maklum, seperti disebut di muka, pada abad ke-13 di pulau ini berdiri Kesultanan Ternate, yang tradisinya hingga sekarang masih dipertahankan.

Pemerintah daerah setempat pun menggelar Festival Legu Gam setiap tahun untuk merayakan ulang tahun Sultan Ternate. Festival itu biasanya digelar setiap April.

Pada kesempatan itu, rakyat Ternate berpesta. Masyarakat berkumpul di Kedaton atau Istana Sultan Ternate. Di sana, digelar prosesi adat, pagelaran seni dan budaya, serta pameran yang terkait dengan usaha kecil dan sumber alam provinsi yang terdiri atas delapan pulau ini. Termasuk kerajinan tangan lokal. Kemeriahan sudah pasti berlangsung selama festival, yang biasa digelar hingga dua minggu ini.

Tentu tak harus sampai dua minggu untuk menikmati Ternate. Setiap hari ada penerbangan langsung dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Jika kehabisan tiket penerbangan langsung, wisatawan masih bisa mencari penerbangan sambungan (connecting). Bisa dari Makassar, atau Manado. Dari Manado, penerbangan hanya berlangsung sekitar 30 menit. Sedangkan jika dari Jakarta, penerbangan akan berlangsung 3 jam dan 45 menit. Ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Ternate, yakni dua jam.

Ternate, tentu, bukan kota besar. Namun, menariknya, jika kita berkeliling kota, banyak nuansa kolonial Portugis mewarnai kotanya. Semisal, Benteng Tolukko yang dibangun bangsa Portugis pada 1540 agar bisa tetap menguasai cengkeh yang menjadi hasil khas pulau ini. Lokasinya strategis karena berada di puncak bukit.

Selain itu, ada Benteng atau Fort Oranje yang menjadi pusat pemerintahan VOC sebelum dipindahkan ke Batavia pada abad ke-17. Tak hanya dua benteng yang dibangun Portugis, masih ada Benteng Kalamata, Benteng Kota Janji, dan Benteng Kastela. Fort Oranje dibangun abad 15 dan sekarang sering menjadi tempat pementasan seni budaya lokal.

Selain diwarnai peninggalan kolonial Portugis dan Belanda, Ternate yang dulunya Kesultanan juga pekat dengan nuansa Islam. Kesultanan ini dulunya memang dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur.

Karena itu, saat wisatawan berada di pusat kota, langsung mendapat suguhan dua peninggalan zaman Kesultanan Ternate, yakni Kedaton (istana) Ternate dan Masjid Kesultanan Ternate.

Sebagai daerah kesultanan, Ternate mempunyai istana yang dikenal sebagai Kedaton Ternate. Bangunan berwarna kuning muda itu menyimpan koleksi kesultanan. Ada mahkota berumur 500 tahun. Kemudian sebuah lemari kaca yang menyimpan sejumlah pedang atau kelewang. Masih ada pula singgasana sultan, ruang makan, dan lain-lain.
Istana yang dibangun pada 24 November 1813 ini berada di atas lahan seluas 1,5 hektare dan berada di pusat kota.

Hanya berjarak 100 meter lokasinya dari Kedaton Ternate, terletak  Masjid Kesultanan Ternate. Masjid ini didirikan pada masa  Sultan Ternate yang kedua atau awal abad ke-17. Memiliki arsitektur unik, berbentuk limas dengan enam undakan. Terbilang sederhana, bangunan terbuat dari batu yang direkatkan oleh getah kayu pohon Kalumpang. Setiap Ramadan, ada tradisi unik antara sultan dan rakyatnya.

Selain masjid lawas peninggalan kesultanan, Pemerintahan Kota Ternate kini menambahkan sebuah ikon kota sebagai penanda warisan tradisi agama Islam di daerah ini, yakni Masjid Al-Munawaroh. Yang unik, masjid ini dibangun pemerintah Kota Ternate tepat di bibir pantai. Terlihat begitu menawan saat dipandang dari arah laut. Tak mengherankan, masjid yang berdiri di atas lahan seluas enam hektare ini sekarang menjadi landmark kota ini. Empat menara yang menjulang dan keramiknya yang indah ternyata diterbangkan langsung dari Turki.

Tentu tidak sah bagi penyunjung Ternate, terutama mereka para pencinta bahari, jika tidak berperahu ke pulau-pulau lain di sekeliling kota ini. Keindahan laut bisa dinikmati dengan mampir ke Pantai Sulamadaha.

Pantai di pulau ini benar-benar tak boleh dilewatkan selama liburan akhir tahun di Ternate. Di dekat pantai berpasir hitam nan luas ini temukan juga Teluk Saomahada, dengan air hijau toska dan tenang, inilah salah satu spot favorit di sana. Berbentuk mirip laguna, wisatawan bisa berperahu dengan tenang atau berenang di sini. Juga snorkeling. Objek wisata ini bisa dicapai dalam 30 menit dari pusat kota Ternate. Ada pula pantai yang jaraknya cukup jauh, yakni 20 kilometer dari pusat kota, yakni Pantai Bobaneha Ici.

Pantai lain yang bisa dikunjungi wisatawan saat di Ternate adalah Pantai Tobololo. Berada di utara Ternate, pantai ini termasuk dalam Kelurahan Tobololo dan bisa dicapai dalam 20 menit dari pusat kota. Lokasinya boleh dibilang diapit Pulau Halmahera dan Pulau Hiri. Di beberapa titik tertentu, bisa temukan air panas yang bersumber dari Gunung Galamalama. Jarak pantai dengan air panas biasanya tergolong dekat, sekitar 1 meter.

Atau bila ingin duduk manis sembari menikmati alam, bisa singgah ke Danau Tolire yang berada di kaki Gunung Gamalama. Ada dua danau yang bisa ditemukan. Namanya sesuai ukuran, yakni Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil. Luasnya mencapai 5 hektare dengan kedalaman 50 meter. Di latar belakang tampak Gunung Gamalama nan gagah, apalagi bila langit tengah cerah.

Datanglah di sore hari, karena keindahan mentari tenggelam sempurna dari lokasi ini. Dengan latar laut, langit memunculkan senja nan indah. Lokasi Danau Tolire Kecil lebih dekat dengan laut. Jadi dua danau yang bersebelahan ini diapit gunung di satu sisi dan di sisi lainnya laut. Lokasinya sekitar 10 kilometer dari pusat kota.

Selain Danau Tolire, masih ada DanauNgade yang berair tawar, meskipun berdekatan sekali dengan laut. Dilihat dari ketinggian hanya ada batas tipis antara danau dan laut. Di sekeliling danau penuh dengan warna kehijauan. Spot foto pun benar-benar instagrammable. Kini bahkan sudah dilengkapi dengan restoran yang menawarkan menu ikan tawar, hingga menikmati danau pun bisa sembari wisata kuliner.

Jadi kapan Anda main-main ke Ternate? L

R. Nariswari

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan (Bagian 2)

Wisata Kuningan dan menikmati sejumlah spot di kawasan ini.

Jelajah gunung tanah Parahyangan, Jawa Barat, mungkin tidak sepopuler kawasan Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau Gunung Bromo dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Namun, seperti dua daerah lainnya tersebut, wilayah Jawa barat juga memiliki kontur geografis yang bergunung-gunung.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan

Tanah Pasundan malah dinilai memiliki kontur tanah yang naik turun dari ujung ke ujung wilayah. Mungkin karena itulah Jawa Barat dikenal juga sebagai tanah Parahyangan: Para Hyang atau para dewa. Mereka yang dipercaya menghuni tempat-tempat yang tinggi. Parahyangan bisa berarti tempat tinggal para dewa.

Setelah menikmati dua Taman Nasional di Jawa Barat pada artikel sebelumnya, kali ini cerita berlanjut ke sejumlah loka yang umumnya bisa dinikmati wisatawan umum. Pengunjung yang mencapai kawasan-kawasan ini tak melulu para pecinta alam, tapi banyak yang sekadar ingin menikmati petualangan tipis-tipis. Berikut artikel ke dua dari kisah penjelajahan gunung-gunung di tanah Parahiyangan.

Gunung Tangkuban Perahu

Tangkuban Perahu shutterstock
Gunung Jawa Barat, Gunung dan dan kawah Tangkuban Perahu. shutterstock

Siapa tak kenal tokoh Sangkuriang dan ibunya, Dayang Sumbi? Perseteruan keduanya telah membuat Sangkuriang mengamuk dan menendang perahu bikinannya hingga menjadi sebuah gunung. Tentu ini hanyalah kisah legenda. Namun tak bisa dipungkiri wujud Tangkuban Perahu memang mirip perahu yang terbalik. Juga ragam bentang alam di sekitarnya, mampu memukau setiap mata yang memandang.

Untuk menuju puncak gunung, tak perlu repot mendaki. Tempat parkirnya berada di dekat bibir kawah yang menjadi daya tarik utama. Destinasi pertama, Kawah Ratu, merupakan yang terluas dari sembilan kawah di Tangkuban Perahu.

Tanahnya berwarna putih dengan batu-batu kekuningan karena kandungan belerang. Di sejumlah sudut, asap putih yang membubung menandakan masih aktifnya kawah tersebut. Biasanya pengunjung tidak boleh turun ke bawah karena posisinya berada di kedalaman gunung dan menguapkan gas beracun.

Dari Kawah Ratu, wisatawan dapat berjalan kaki sekitar 1,2 kilometer atau naik kendaraan ke Kawah Domas. Di kawah ini pengunjung boleh melihat kawah dari dekat, bahkan membasuh diri atau merebus telur di sumber air panasnya. Selain itu, ada pula beberapa orang yang menyediakan jasa spa lumpur yang diyakini bermanfaat menyembuhkan penyakit kulit.

Kawah ketiga yang cukup populer adalah Kawah Upas yang berjarak sekitar satu kilometer dari Kawah Ratu. Letak kedalaman kawah mirip dengan Kawah Ratu, sehingga pengunjung tidak boleh terlalu dekat berada di inti kawah.

Ke kawah mana pun Anda menuju, jangan lupa mengenakan jaket untuk menghangatkan badan. Dengan ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut, suhu Tangkuban Perahu berkisar 17 derajat Celcius pada siang hari dan 2 derajat Celcius di kala malam. Jika tak jua hangat, bisa juga mencoba menyeruput teh hangat dan ketan bakar yang merupakan kuliner khas Lembang.

Jelajah Lembang

Udara yang sejuk dan alam yang permai mendorong hadirnya berbagai destinasi wisata di lereng Tangkuban Perahu, tepatnya di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Bagi para pencinta aksi petualangan, terdapat aneka alternatif wisata outbound, dari yang ramah untuk anak hingga yang ekstrem.

Salah satunya, Dusun Bambu Family Leisure Park yang cocok menjadi tempat rekreasi bersama keluarga. Di sini anak-anak bisa mengenal satwa sembari memberi makan kelinci, bebek, domba, dan kura-kura. Untuk mengasah bakat seni, bisa juga mengikuti kelas mengecat keramik. Ada pula wahana panahan, air soft gun, dan All Terrain Vehicle (ATV) untuk menjelajah alam bebas.

Masih di Lembang, pengalaman yang disuguhkan Bandung Treetop Adventure Park tak kalah menantang. Tempat ini memiliki arena menjelajah hutan dari ketinggian. Rasakan sensasi melayang dengan melintasi flying-fox atau berjalan dari pohon ke pohon di atas jembatan tali.

Setiap wahana telah dirancang sedemikian rupa dengan tingkat kesulitan yang bertahap sehingga bisa dinikmati segala usia. Anak usia 4 tahun dapat menjajal ketangkasannya pada ketinggian 2 meter, sementara pecandu adrenalin dapat beraksi pada ketinggian 20 meter di atas pohon. Tak perlu takut jatuh karena semua sirkuit sudah dilengkapi life-line support untuk menjamin keamanan.

Destinasi wisata unik lainnya adalah De Ranch yang menawarkan konsep tamasya di peternakan kuda. Pengunjung dapat berkuda dengan aksesori lengkap ala koboi. Ada pula wahana permainan lain seperti trampolin, the gold hunter, balon air, panahan, peti luncur, hingga flying-fox.

Usai menjelajah alam di alam bebas, tak ada salahnya menyempatkan berbelanja di Pasar Terapung Lembang. Sesuai namanya, para pedagang di sini menjajakan makanannya di atas perahu yang mengapung di kawasan danau buatan. Bahan makanan yang dijual pun menarik untuk dicoba, di antaranya sayuran, ikan, atau jajanan tradisional khas Jawa Barat seperti karedok, batagor, dan durian bakar.

Gunung Papandayan

Mendaki gunung tak melulu identik dengan kegiatan ekstrem yang menguras energi. Di Papandayan, rute sampai ke puncak didominasi medan yang landai dan dilengkapi prasarana yang cukup memadai. Ini membuatnya menjadi destinasi yang tepat bagi para pendaki pemula atau penyuka wisata alam dengan trek yang bersahabat.

Jalur yang dimaksud adalah melalui Desa Cisurupan, Kabupaten Garut. Namun jika ingin lintasan yang lebih menantang dapat memilih mendaki via Pengalengan, Kabupaten Bandung. Selain itu, di sepanjang jalan pendaki juga dapat menemukan sumber air bersih dengan mudah.

Lalu jika sewaktu-waktu ingin buang hajat, tak usah repot menggali tanah. Terdapat beberapa toilet yang bisa digunakan pada jalur pendakian. Bahkan sudah tersedia warung makan yang menjual mi instan atau nasi goreng sehingga Anda tidak perlu memasak. Karena ada warung, tentu ransel pun menjadi lebih ringan karena tak perlu membawa air minum terlalu banyak.

Meski telah dilengkapi berbagai fasilitas, Gunung Papandayan tetap menyajikan lanskap yang menawan. Berada di Kabupaten Garut, gunung berapi stratovolcano setinggi 2.665 mdpl ini memiliki kawah luas yang terbentuk akibat beberapa kali erupsi. Satu lagi yang tak kalah memukau, yakni hamparan padang bunga Edelweis bernama Tegal Alun. Berada di tengah bunga keabadian akan memberikan sensasi istimewa yang tak terlupakan.

Gunung Ciremai

Dengan ketinggian mencapai 3.078 mdpl, Ciremai menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat. Kawasannya sendiri telah menjadi sebuah taman nasional dengan luas lebih dari 15 ribu hektare. Maka wajar jika rimba yang menyelimutinya merupakan habitat flora dan fauna langka, seperti elang Jawa, surili, dan macan kumbang.

Secara administratif, Taman Nasional Gunung Ciremai menempati dua kabupaten, yakni Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Karenanya, gunung ini memiliki cukup banyak alternatif jalur pendakian, di antaranya lewat Linggasana, Palutungan, Apuy, dan Linggarjati. Bagi penyuka tantangan, cobalah mendaki dari jalur Linggarjati. 

Layaknya sebuah taman nasional, cukup banyak tujuan wisata yang bisa dikunjungi di Ciremai. Sebut saja air terjun yang tersebar di berbagai sudut, seperti Curug Sawer, Curug Sabuk, Curug Putri, dan Curug Tonjong. Dari aspek budaya, kawasan ini memiliki tempat bernilai historis tinggi dan dikeramatkan, di antaranya Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).

Di puncaknya, Gunung Ciremai mempunyai dua buah kawah. Kawah pertama beradius 400 meter yang terpotong oleh kawah kedua di timur dengan radius 600 meter. Keunikan lainnya adalah keberadaan Gowa Walet yang terbentuk akibat letusan. Titik ini merupakan salah satu tempat favorit pendaki untuk mendirikan tenda.

Gunung Cikuray

Bagi orang awam, namanya memang kurang populer. Namun para pendaki justru memiliki kesan tersendiri ketika menjelajahi gunung ini. Lokasinya sulit diakses dengan angkutan umum. Begitu mendaki, sulit menemukan sumber air di sepanjang jalan. Hanya medan yang curam dan jurang yang menganga. Di baliknya, kisah peradaban kuno Nusantara semakin menambah seru petualangan.

Berdasarkan naskah kuno, lereng Gunung Cikuray pernah menjadi mandala atau pusat pertapaan para pendeta dan pembelajaran beragam ilmu. Waktu itu adalah era Kerajaan Sunda Galuh yang berpusat di Pakuan Pajajaran. Tulisan ini masih tersimpan rapi di perpustakaan Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Kabupaten Garut.

Untuk mencapai puncak Cikuray, bisa memilih lewat Bayongbong, Cikajang, atau yang terfavorit, rute pemancar di Cilawu. Dinamakan jalur pemancar karena terdapat beberapa stasiun pemancar televisi di situ.

Puncaknya sendiri merupakan tanah datar yang cukup luas. Pada ketinggian 2.821 mdpl, Anda dapat menyaksikan matahari terbit di tengah lautan awan. Sementara di kejauhan, Gunung Ceremai dan Gunung Slamet tampak menjulang.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan (Bagian 1)

Gunung Parango shutterstock

Jelajah gunung tanah Parahyangan, Jawa Barat, mungkin tidak sepopuler kawasan Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau Gunung Bromo dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Namun, seperti dua daerah lainnya tersebut, wilayah Jawa barat juga memiliki kontur geografis yang bergunung-gunung.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan

Tanah Pasundan malah dinilai memiliki kontur tanah yang naik turun dari ujung ke ujung wilayah. Mungkin karena itulah Jawa Barat dikenal juga sebagai tanah Parahyangan: Para Hyang atau para dewa. Mereka yang dipercaya menghuni tempat-tempat yang tinggi. Parahyangan bisa berarti tempat tinggal para dewa.

Pada wilayah inilah, wisatawan terus berdatangan, seolah tersihir oleh udaranya yang senantiasa sejuk, air yang melimpah ruah, dan segala rupa flora yang tumbuh subur. Mereka yang datang tak melulu para pecinta alam, tapi juga banyak yang sekadar ingin menikmati petualangan tipis-tipis di tanah yang indah ini. Artikel diturunkan dalam dua penayangan.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Sejak pagi hingga sore hari, pintu masuk pendakian Cibodas tak juga sepi dari lalu-lalang manusia beransel besar. Umumnya mereka mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) sebagai salah satu syarat menjelajahi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat.

Dari situ, langkah kaki menjejaki jalan setapak yang dikelilingi rimbunnya pohon-pohon rasamala yang menjulang hingga 20 meter. Jika beruntung, kehadiran pendaki kerap kali disambut dengan nyanyi merdu merpati hutan atau lengkingan segerombol owa Jawa. Yang terakhir ini satwa yang semakin langka.

Oksigen yang melimpah dan tenaga yang masih utuh membuat perjalanan 1,5 kilometer tak terasa jauh. Tahu-tahu, hamparan danau berwarna kebiruan tersaji di depan mata. Itulah Telaga Biru, yang warna airnya bisa berubah-ubah akibat ulah ganggang di dasar danau. Untuk melintasinya, pendaki harus berjalan di atas jembatan kayu yang mulai reyot tergerus cuaca.

Jembatan ini pula yang mengantarkan para penjelajah ke Rawa Gayang Agung yang berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jika sudah melewati jembatan, trek kembali didominasi bebatuan dan tanah padat. Tak berapa jauh, Anda akan sampai di Pos Panyancangan Kuda.

Di pos ini terdapat bangunan kecil tempat orang berlindung dari hujan atau sekadar beristirahat sejenak. Selain itu, jalur akan terbelah menjadi dua. Belok kanan menuju Curug Cibereum, sedangkan yang lurus menuju ke puncak Pangrango. Jika punya tenaga dan waktu lebih, tak ada salahnya mampir ke Curug Cibereum dan menikmati guyuran air dari ketinggian 40 meter, sebelum kembali ke jalur pendakian.

Puas membasuh diri di percikan air terjun, jalanan berbatu menuju pos selanjutnya akan semakin terjal dan berliku. Karenanya tak ada salahnya mengambil rehat sejenak di beberapa pos yang tersedia. Jika mulai banyak bonus turunan dan tanah landai, itu berarti Anda akan segera sampai di sumber air panas.

Namun jangan senang dulu. Zona air panas ini berupa deretan panjang lereng curam, licin, dan sempit. Di bawahnya, mengalir jurang air panas dengan suhu mencapai 70 derajat celsius. Bersabarlah mengantre ketika berpapasan dengan pendaki lain yang datang dari arah berlawanan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Lepas dari situ, Anda akan sampai di Pos Kandang Batu yang berada di ketinggian 2.220 mdpl. Tak jarang para pendaki berlama-lama bersantai di tempat ini karena ada aliran sungai berair hangat yang memanjakan tubuh.

Setelah trek ini, terhampar area tanah datar yang cukup luas. Inilah Kandang Badak, tempat para pendaki mendirikan tenda dan mengisi persediaan air. Setelah pos terakhir ini, hanya ada tanjakan curam dan seolah tak habis-habisnya menuju puncak Pangrango. Di sinilah ketahanan fisik pendaki benar-benar diuji. Seiring dengan suhu yang terus menurun, begitu pula suplai oksigennya.

Namun jika berhasil melewati jalan menanjak sekitar tiga kilometer, segala letih dan jerih itu terbayarkan. Di Puncak Pangrango atau Puncak Mandalawangi, pada ketinggian 3.019 mdpl, Gunung Gede dan panorama alam Parahyangan terbentang megah. Sementara turun sedikit ke arah barat, di Lembah Mandalawangi, permadani bunga Edelweis menyapa dengan ronanya.

Gede dan Pangrango adalah dua puncak gunung dari satu deret pegunungan yang sama dan berdekatan. Meski tampak dekat, perjalanan dari Pangrango ke Puncak Gede tak kalah terjal. Bentuknya yang memanjang menyajikan pemandangan dua kawah, yaitu Kawah Wadon dan Kawah Ratu. Sesekali, bau menyengat belerang menusuk hidung.

Jika Pangrango punya Lembah Mandalawangi, Gunung Gede punya Alun-Alun Surya Kencana. Lagi-lagi bentangan taman Edelweis menyelimuti tanah lapang, berpadu dengan sumber air jernih yang tak henti-hentinya mengaliri permukaan bumi. 

Jalur Alternatif

Selain Cibodas, pendakian ke TNGGP juga bisa dilakukan melalui jalur Gunung Putri dan Selabintana. Jalur Gunung Putri bisa ditempuh baik dari arah Bogor-Jakarta atau Cianjur-Bandung. Anda dapat berpatokan pada Pasar Cipanas. Dari sana teruskan perjalanan menggunakan angkutan umum jurusan Pasir Kampung menuju Gunung Putri. Jika memilih via Selabintana, patokannya adalah Terminal Sukabumi. Dari sana dapat meneruskan perjalanan menuju Pondok Halimun menggunakan angkutan umum atau mencarter mobil.

Persyaratan Mendaki TNGGP

  • Calon pendaki memesan slot pendakian melalui situs booking.gedepangrango.org. Formulir berisi pilihan waktu, pintu masuk, pintu keluar, dan nama-nama anggota kelompok. Sebaiknya mendaftar jauh-jauh hari karena pada hari libur kuotanya sering kali habis dengan cepat. Operator akan melakukan proses validasi data calon pendaki maksimal tiga hari kerja.
  • Membayar tiket masuk dan asuransi senilai Rp 29.000 pada hari kerja dan Rp 34.000 pada hari libur. Khusus pelajar dan Warga Negara Asing (WNA) dikenakan tarif berbeda. Pembayaran bisa dilakukan secara transfer.
  • Pada hari pendakian, silakan mengambil Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) di pintu masuk dengan menunjukkan kopi identitas, bukti pembayaran, lembar pendaftaran, dan surat pernyataan standar pendakian. Informasi lengkap cek situs booking.gedepangrango.org.
Gunung Salak shutterstock
Jelajah gunung tanah Parahyangan di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Baik Gunung Salak maupun Halimun memang tak setinggi Gunung Gede Pangrango. Ketinggian Gunung Salak adalah 2.211 mdpl, sedangkan Gunung Halimun hanya 1.929 mdpl. Meski demikian, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan kawasan hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Tak ayal, keanekaragaman hayati yang tersebar sepanjang jalan begitu beragam, dari lutung, elang, bahkan macan tutul.

Apabila tujuan Anda adalah pengalaman mendaki yang memacu adrenalin, kompleks Gunung Salak yang memiliki enam puncak berbeda menjadi pilihan tepat. Namun jika sekadar ingin bertamasya, lepas dari rutinitas ibukota, Gunung Halimun menawarkan aneka area perkemahan yang ramah keluarga.

Tujuan favorit pendaki umumnya ialah Puncak Salak 1. Salah satu pilihan rutenya melalui Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Langsung saja mendaftar dan membayar Simaksi sebesar Rp 22.000 per orang di kantor TNGHS. Dari situ, terbentang satu kilometer jalanan aspal sampai ke gerbang pendakian.

Rute menuju Pos Bajuri terus menanjak, tetapi terbilang landai. Sudah ada bebatuan yang tersusun rapi agar langkah kaki tak mudah tergelincir. Pos Bajuri sendiri menyediakan lahan cukup luas untuk mendirikan tenda. Juga sudah ada sungai kecil sebagai sumber persediaan air minum. Kalau belum ingin berkemah, silakan lanjutkan perjalanan ke Puncak Bayangan.

Kali ini jalurnya lebih curam. Akar pohon yang centang perenang berupaya menghambat langkah yang mulai lelah. Ditambah lagi banyak lumpur yang membuat jalan menjadi licin. Selepas Puncak Bayangan, rintangan alam justru semakin menjadi-jadi. Kali ini jalan setapak diapit oleh jurang di kedua sisinya. Ada jembatan tali yang harus dilewati dengan sangat hati-hati.

Menuju puncak, trek berubah menjadi tanjakan yang hampir tegak lurus. Tentunya tak bisa lagi hanya mengandalkan kaki. Tangan harus berpegangan kuat pada akar pohon dan tali yang tersedia. Namun jika semua ini terlewati, Puncak Manik Salak 1 sudah menanti dengan hamparan tanah lapang yang tersaput awan tipis.

Tak jauh dari situ, menjulang Kawah Ratu dan Puncak Salak 2 yang menanti untuk dijelajahi. Jalurnya tergolong ekstrem, yaitu harus melintasi Titian Alam, punggung gunung yang terjal dan dikelilingi jurang. Maka tak perlu buru-buru melanjutkan langkah. Nikmati saja Puncak Manik 1, dengan pendaran jingga mentari yang menyapa di kala fajar.

Jalur Alternatif

Mendaki Gunung Salak juga bisa dilakukan lewat Pasir Reungit, Cimelati, dan Giri Jaya. Pasir Reungit umumnya dipilih jika pelancong ingin menyambangi Kawah Ratu terlebih dulu. Sementara Jalur Cimelati adalah jalur pendakian yang paling pendek, meski sedikit sumber airnya. Jika memilih jalur Giri Jaya, akan melewati Wana Wisata Curug Pilung yang berada di Kecamatan Cidahu, Sukabumi.

Destinasi Wisata di Kawasan TNGHS

  • Curug Cigamea

Curug Cigamea terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Sejatinya ada enam air terjun di sini, tetapi Curug Cigamea menjadi primadonanya. Bukan hanya deburan air dari ketinggian 30 meter yang jadi magnet, melainkan juga aksesnya. Menuju lokasi, terdapat tangga batu permanen yang diapit oleh pemandangan asri nan hijau.

  • Bumi Perkemahan Sukamantri

Banyak hal yang dapat dilakukan ketika berkemah di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Salah satunya menuju Air Terjun Surya Kencana yang berjarak sekitar satu kilometer melewati hutan Gunung Salak yang cukup lebat. Jika tak mau repot, tersedia deretan warung makan yang menjajakan aneka masakan sekaligus menyewakan tenda dan perlengkapannya.

  • Suaka Elang Loji

Suaka Elang Loji berada di Kampung Loji, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Di tengah rimbunnya rimba TNGHS, terdapat elang Jawa, elang brontok, dan burung lainnya. Di sini dilakukan upaya penyelamatan, pengembangbiakan, dan pelepasliaran elang ke alam bebas. Pengunjung juga dapat berkemah atau mengunjungi Curug Cibadak hanya berjarak sekitar 1,3 kilometer.

Bertamu ke Orang Utan di Tanjung Puting

Kapal kapal klotok sandar

Bertamu ke orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, mungkin banyak yang berpikir: apa asyiknya? “Di Jakarta juga ada,” begitu sebagian orang berkata. Tapi, percayalah, bagi mereka yang senang berpetualang, bertamu ke rumah asli orang utan mempunyai sensasi tersendiri.

Bertamu ke Orang Utan

Di Taman Nasional Tanjung Puting adalah salah satu habitat asli orang utan di dunia. Berdasar data 2018 dari Orangutan Foundation International, sembilan dari ratusan jenis fauna itu merupakan spesies primata yang dikenal dengan nama orang utan Kalimantan. Tiga di antaranya merupakan primata endemik Kalimantan.

Spesies orang utan Kalimantan termasuk langka di dunia. Tak heran kalau orang dari banyak negara datang. Mereka ingin bertemu dengan hewan yang mampu bertahan hidup hingga umur 60 tahun ini. 

Berdasarkan data Balai Taman Nasional Tanjung Putting 2017, kunjungan ke kawasan ini terbanyak justru dari wisatawan asing. Berdasar data tersebut, tercatat sebanyak 24.693 pengunjung. Dari jumlah tersebut, 14.933 orang adalah wisatawan mancanegara, dan 9.760 wisatawan nusantara.

Dari kalangan wisatawan asing, kebanyakan berasal dari Eropa dan Australia. Sejumlah tokoh dan pesohor tercatat pernah mengunjungi Taman Nasional ini dan bertamu ke orang utan. Misalnya saja founder Microsoft Bill Gates. Atau aktris film Julia Robert.

Ada kira-kira lima titik atau camp (perkampungan) orang utan yang bisa dikunjungi wisatawan di Taman Nasional Tanjung Puting. Camp yang paling ramai adalah Leakey yang berlokasi di lumbung taman nasional. 

Orang Utan
Orang utan di Camp Leakey, Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Dok. Rosana

Camp Leakey termasuk habitat orang utan. Di sana, wisatawan dapat menyaksikan orang utan melakukan aktivitas harian, seperti makan, bermain dengan sesamanya, dan meloncat di pepohonan rindang. Mereka juga akan minum susu yang telah disediakan petugas taman nasional.

Pada musim kemarau, pengunjung dapat menyaksikan orang utan di camp dengan jumlah yang lebih banyak daripada saat musim hujan. Sebab, saat kemarau, buah-buahan di tengah hutan tak banyak tumbuh sehingga orang utan lebih suka menyambangi camp untuk menyantap buah yang disediakan petugas.

Jika ingin bertamu ke orang utan, ada waktu-waktu khusus untuk berkunjung ke camp. Misalnya, pada pukul 14.00 hingga 16.00, yakni saat orang utan makan siang. Petugas akan memanggilnya dengan teriakan sampai para orang utan muncul di camp.

Tentu saja pengunjung bisa melakukan tracking ke dalam hutan untuk melihat aktifitas orang utan langsung. Tapi sebaiknya datang ke Taman Nasional ini ketika musim hujan, atau sesudah musim hujan. DI mana buah-buahan banyak di hutan. Jika datang di musim kemarau, itu tadi, cukup bertamu di camp.

Sulitkan mengunjungi Taman Nasional Tanjung Putting? Jika menggemari liburan setengah bertualang, rasanya asyik-asyik saja.

Menuju Tanjung Putting, pertama-tama pengunjung harus menuju ke kota Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Dari pulau Jawa, ada tiga kota yang memiliki penerbangan langsung ke Pangkalan Bun: Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute ini. Dari Kalimantan, ada beberapa kota yang punya penerbangan ke Pangkalan Bun, seperti Balikpapan dan Banjarmasin.

Dari Pangkalan Bun, untuk menyambangi camp, wisatawan harus menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan kapal klotok dari Dermaga Kumai, Pangkalan Bun. Sungai Sekonyer membentang sepanjang 45 kilometer. Di titik dekat camp, kapal klotok akan menepi dan Anda beralih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki masuk ke hutan sejauh kurang lebih dua kilometer.

Makan Siang di kapal Klotok
Menu makan siang di atas kapal Klotok saat menyusuri Sungai Sekonyer. Dok. Rosana

Idealnya, wisatawan menginap di kapal klotok selama 3 hari 2 malam. Ini kapal yang tidak terlalu besar tapi lumayan lega. Biasanya terdiri dari 2 lantai. Lantai bawah untuk beristirahat, ada dipan untuk meluruskan badan. Dan ada dek untuk bersantai, makan di alam terbuka selama perjalanan menuju camp. Wisatawan akan merasakan sensasi bermalam di tengah hutan dan menyatu bersama ratusan jenis fauna. Biaya untuk live on board, perjalanan dan tinggal di kapal, di Sungai Sekonyer berkisar Rp 2 jutaan per orang.

Taman Nasional Tanjung Puting kini semakin menjadi destinasi alternatif yang cukup digemari orang. Para penikmat jalan-jalan mulai menyambangi kawasan penangkaran orang utan di Kalimantan Tengah itu. 

Tujuan mereka adalah merasakan sensasi bermalam di kapal klotok sembari menyusuri Sungai Sekonyer dengan hutan lebat di kedua sisi sungai. Jika malam tiba, pengunjung bisa menikmati suasana hutan, kadang diayun ombak kecil. Dan, tentu saja, menyaksikan orang utan langsung di habitat aslinya.

Namanya wilayah konservasi, tentu ada sejumlah aturan yang harus diikuti jika  pengunjung datang ke camp-camp di Taman Nasional Tanjung Puting. Peraturan pertama, para wisatawan dilarang memberi makan dan minum kepada orang utan. Aturan ini jelas tertera di sejumlah tempat di Camp Leakey.

Makanan dan minuman hanya boleh disediakan oleh pihak taman nasional. Selain faktor kesehatan para primata, aturan itu dibuat agar orang-orang utan tersebut tetap hidup dengan kondisi alami mereka.

Tak cuma tak boleh memberi makanan dan minuman, bahkan pada peraturan kedua, wisatawan tak diperkenankan minum atau makan di depan orang utan. Hal itu bermaksud supaya orang utan tidak terdistraksi dengan aktivitas pengunjung.

Peraturan ketiga, pengunjung tidak boleh bersuara lantang atau berisik saat berada di Camp Leakey. Ini agar orang utan tidak merasakan perubahan suasana hutan mereka.

Peraturan keempat, nah ini sangat penting, selama menyusuri hutan pengunjung tak boleh menceburkan diri di sungai atau rawa-rawa. Ini untuk keamanan, kenyamanan dan keselamatan para pengunjung itu sendiri. Sebab, di sana buaya hidup bebas. Untuk alasan keamanan, para wisatawan diminta berjalan sesuai dengan jalur yang sudah dibuat oleh petugas.

Rasanya Taman Nasional Tanjung Putting layak masuk agenda liburan Anda selanjutnya, dan bertamu ke orang utan.

F. Rosana

Museum Geologi Bandung, Unik Sejak 1929

Museum Geologi Bandung menjadi salah satu ikon wisata di ibukota Jawa Barat.

Museum Geologi Bandung merupakan salah satu objek wisata ibu kota Jawa Barat bagi mereka yang ingin belajar lebih dalam mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu kebumian di Indonesia. Di museum ini terdapat beragam koleksi material geologi di Indonesia, seperti fosil, batuan dan sebagainya.

Museum Geologi Bandung

Berlokasi di jalan Diponegoro, museum ini berdekatan dengan dua landmark ikonik kota kembang lainnya, yakni Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Museum ini didirikan pada 16 Mei 1929, bertepatan dengan 4th Pacific Science Congress yang diadakan di Bandung kala itu.

Pembangunan dimulai sejak setahun sebelumnya, dengan gaya art deco yang diarsiteki H. M. van Schouwenburg. Awalnya, gedung ini dalam masa pendudukan Belanda diperuntukkan sebagai pusat penelitian geologi dan sumber daya mineral di Indonesia.

Museum Geologi Bandung awalnya merupakan Geologisch Laboratorium untuk penelitian geologi, mineral dan pertambangan.
Bagian depan Museum Geologi. Foto: Dok Wikimedia

Gedung ini lantas dinamakan Geologisch Laboratorium, dimana lembaga penelitian geologi, mineral dan pertambangan Belanda Dienst van den Mijnbouw bekerja. Tugasnya meliputi laporan serta pengumpulan contoh-contoh temuan seperti batuan, mineral dan fosil.

Setelahnya, dilakukan pemetaan, analisa dan penyimpanan temuan-temuan itu di gedung tersebut. Tujuannya untuk mengetahui lokasi-lokasi di tanah air yang sarat akan bahan tambang, serta dokumentasi akan kegiatan pertambangan tersebut.

Tampuk pengelolaan gedung ini pun turut berpindah-pindah dari masa ke masa. Saat Jepang mengambil alih, gedung ini sempat berganti nama dua kali menjadi Kogyo Zimusho dan Chishitsu Chosacho.

Pasca kemerdekaan, gedung ini kemudian dikelola oleh Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG). Pada perkembangannya, mereka sempat harus memindahkan pekerjaan beserta dokumen terkait di berbagai kota lain, lantaran upaya Belanda merebut kekuasaan kembali.

Setelah Indonesia mendapatkan kedaulatannya lagi, gedung tersebut kembali dioperasikan seperti semula. Kini fungsinya tak hanya sebagai pusat penelitian dan dokumentasi, namun juga sebagai sarana eksibisi dan edukasi kepada masyarakat umum tentang ragam ilmu kebumian.

Selain batuan mineral, Museum Geologi Bandung juga menampilkan sejumlah fosil yang ada di Indonesia.

Untuk meremajakan bangunan tersebut, pada 1999 dilakukan renovasi yang turut disponsori pemerintah Jepang lewat lembaganya Japanese International Cooperation Agency (JICA), yang mengurusi bantuan pembangunan pada negara-negara berkembang.

Setelah pengerjaan renovasi selesai, pada 23 Agustus 2000 Museum Geologi Bandung kembali dibuka untuk umum oleh wakil presiden Republik Indonesia saat itu, Megawati Soekarnoputri. Museum kemudian dikelola oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hingga saat ini.

Secara mendasar, Museum Geologi Bandung adalah bangunan dua lantai yang masing-masing terdiri atas tiga ruangan utama. Ada tiga kategori utama yang dipertunjukkan di museum ini, yaitu sejarah geologi Indonesia, kemudian perkembangannya, serta fungsinya bagi kehidupan masyarakat.

Jika dirinci, museum ini menjadi rumah bagi 250 ribu jenis temuan batuan dan mineral, serta 60 ribu jenis temuan fosil. Selain memamerkan beragam koleksi tersebut, terdapat juga peragaan-peragaan yang dikemas dalam bentuk maket.

Masuk ke Museum Geologi Bandung, pengunjung akan menemukan pusat informasi terkait museum, serta relief peta Indonesia beserta detail geografisnya dan informasi terkait geologi yang dipertunjukkan dalam layar lebar dengan animasi.

Dari sini, pengunjung bisa memasuki area sayap barat atau sayap timur. Pada area sayap barat, dapat ditemukan koleksi batuan dan mineral, ditambah maket yang memperagakan lempeng tektonik di sekitar Indonesia, serta gunung berapi aktif dan contoh material vulkaniknya.

Sedangkan sayap timur memamerkan beragam koleksi temuan fosil dan artefak makhluk hidup di masa lalu. Contohnya kura-kura raksasa, gajah, badak dan ikan air tawar purba, serta tengkorak manusia purba yang ditemukan di lokasi seperti Trinil, Ngandong dan Sangiran.

Museum Geologi Bandung AntaraNews
Sejumlah koleksi fosil dan kerangka di Museum Geologi. Foto: Dok. Antaranews

Serta koleksi yang menjadi ikon dari museum ini adalah kerangka serta cetakan kaki dari Tyrannosaurus Rex, salah satu dinosaurus karnivor paling terkenal. Selain itu, terdapat pula maket penjelasan mengenai proses pembentukan fosil dan minyak bumi.

Naik ke lantai dua, pengunjung akan disambut oleh maket pertambangan emas di area Pegunungan Tengah di Papua. Pertambangan emas ini disebut sebagai yang terbesar di Indonesia, dan konon bahkan salah satu yang terbesar di dunia.

Di sebelah maket tersebut, dapat ditemukan pula beberapa contoh batuan yang ditemukan di area pertambangan tersebut, yang disimpan di dalam lemari kaca. Tak jauh dari situ, terdapat pula miniatur peragaan alat pengeboran minyak dan gas alam.

Khusus di lantai dua, area sayap barat dikhususkan kepada staf museum saja. Namun, di area sayap timur, terdapat setidaknya 7 section yang memberi penjelasan tentang bagaimana aspek-aspek geologi mempengaruhi kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Misalnya, di salah satu section dijelaskan tentang sebaran sumber daya mineral di Indonesia dan apa saja manfaat serta kegunaannya. Section lainnya mendokumentasikan kegiatan-kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di tanah air.

Kemudian terdapat area yang menceritakan upaya pembudidayaan sumber daya mineral, baik secara tradisional maupun modern. Diperlihatkan pula barang-barang dari bahan mineral yang lazim dipakai sehari-hari, seperti sendok, garpu, panci, piring, cangkir, tabung gas dan lainnya.

Ada pula area yang memaparkan hal-hal terkait sumber daya air. Mulai dari apa saja kegunaan dan pemanfaatannya, serta apa saja yang bisa mempengaruhi kelestariannya dan cara-cara yang dapat dilakukan agar mampu membantu melestarikannya.

Area lain menjelaskan pengolahan atas beragam jenis komoditas mineral dan energi lainnya, serta beragam kegunaan dan manfaatnya. Tak lupa, dipaparkan pula bagaimana pentingnya mengelola sumber daya tersebut serta upaya-upayanya.

Serta dua section lainnya yang tak kalah penting adalah mengenai aspek geologi yang terkait dengan gunung berapi, mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia.

Satu area menceritakan apa saja sisi positif yang dimiliki Indonesia dengan banyaknya gunung berapi aktif tersebut. Di sisi lain, area lainnya juga menjelaskan apa saja bahayanya dari segi potensi bencana alam dan cara-cara untuk mengantisipasinya.

Saat ini, Museum Geologi Bandung buka hampir setiap hari kecuali pada hari Senin, Jumat dan setiap hari libur nasional. Khusus untuk hari Senin, pengelola museum menawarkan layanan virtual tour yang diadakan lewat siaran langsung di Youtube, atau lewat live conference via Zoom.

Lain daripada itu, museum buka pada hari lainnya mulai dari jam 09.00 hingga jam 15.00 pada hari biasa, dan jam 14.00 pada akhir pekan. Untuk tiket masuk, dikenakan biaya Rp 3 ribu untuk umum, Rp 2 ribu untuk pelajar dan Rp 10 ribu untuk wisatawan mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal pengadaan virtual tour dan hal-hal lain terkait Museum Geologi, dapat menghubungi (022) 7213822, atau lewat akun resmi Instagram @geomuzee.

Museum Geologi Bandung

Jl. Diponegoro no. 57, Bandung

agendaIndonesia/Audha Alief P./Berbagai Sumber

*****

Negeri di Atas Awan, 1 Keunikan Sumbawa Barat

Pulau Kenawa

Negeri di Atas Awan Sumbawa Barat ternyata betul-betul ada. Ini membuktikan Nusa Tenggara, baik Barat maupun Timur, memiliki begitu banyak kekayaan alam yang tak terpermanai. Kali ini kami mendaki Bukit Mantar untuk menatap Selat Alas, disambung menikmati senja di Pulau Kenawa.

Negeri di Atas Awan

Siraman sinar mentari terasa menyubit kulit. Meski berada di daerah perbukitan, cahaya hangat mulai berubah menjadi menyengat. Padahal, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00. Mungkin memang begitu pagi di Bumi Undru – nama lain dari Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Niat ingin segera menikmati keindahan Desa Wisata Mantar di Kecamatan Poto Tano, tampaknya harus tertunda beberapa saat. Saya harus tertahan di Dusun Tapir, kampung terdekat desa wisata tersebut.

Jadilah pagi yang resah buat saya karena kendaraan 4 WD yang dinanti tak kunjung tiba. Padahal, menuju desa wisata yang kini secara administratif berada di Desa Tuananga dengan ketinggian 630 meter di atas permukaan laut itu, cuma bisa dicapai menggunakan jenis kendaraan tersebut. Jarum jam terus bergeser. Hal yang dinanti tak kunjung tiba. Tak ada pilihan selain menumpang sepeda motor. Jadilah rekan saya dibonceng warga desa yang hendak pulang, sedangkan saya meminta anak pemilik warung mengantar.

Rupanya perlu kesabaran lebih untuk bisa menginjak desa yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan itu. Apalagi jalur yang dilalui memang tak lurus dan lapang. Selepas jalan datar dengan persawahan dan menemukan gerbang Desa Mantar, perjuangan pun dimulai. Akhir tahun lalu, saat saya menginjakkan kaki di sana, jalur menanjak di perbukitan baru tahap awal diperbaiki. Jadi saya masih merasakan jalur terjal penuh batu dengan di salah satu sisi jurang.

Rasa ngeri semakin terasa ketika si pengemudi mengatakan belum lama ada kecelakaan maut karena pengendara tak cermat. Jalan berkelok, sempit, dan terjal memang perlu kehati-hatian yang tinggi. Lengah sedikit, kendaraan bisa terperosok ke jurang. Maka untuk menghilang rasa takut, sesekali saya panjatkan doa.

Jalur kelok berbahaya pun lewat, saya memasuki perkampungan, hingga bertemu tanah lapang di ketinggian. Inilah punggung Bukit Mantar, tempat para penyuka paralayang bisa mengudara dan penikmat keindahan bisa duduk termangu menatap Selat Alas, Pulau Panjang, dan kumpulan pulau-pulau kecil di Sumbawa Barat. Ada Pulau Kenawa, Pulau Mendaki, Pulau Paserang, Pulau Belang, Pulau Ular, Pulau Nako, dan Pulau Kalong yang dikenal sebagai Gili Balu – delapan pulau kecil. Selepas dari desa ini, pulau-pulau ini memang menjadi tujuan saya berikutnya.

Pagi yang cerah, Gunung Rinjani pun dari kejauhan kentara jelas. Desa-desa di bawah seperti Seteluk dan Senayan pun tertangkap mata dengan jelas. Saya datang bukan di hari libur, jadi suasana cukup sepi. Kios yang ada pun tutup. Namun tak lama ada sekelompok anak-anak yang datang mengagetkan menggunakan bersepeda motor. Ahhhh… saya sediki ngeri karena di sisi lain punggung bukit ternganga jurang. Di sanalah biasanya para pegiat paralayang meluncur bebas. Dalam bingkai foto, selintas anak-anak itu seperti melaju di antara awan-awan. Seperti juga sekumpulan kambing dan sepintas layaknya merumput di sebuah negeri jauh di atas awan.

Desa Mantar sebenarnya punya banyak keunikan. Kehadiran keturunan Portugis yang dulu terdampar di perairan di bawah Bukit Mantar dan rumah-rumah yang unik. Hanya karena akan singgah ke kawasan Gili Balu, maka desa tempat lokasi pengambilan gambar film Serdadu Kumbang ini pun saya jelajahi dengan waktu singkat. Lantas, sepeda motor pun kembali ke jalan yang berliku dan sempit. Sekitar 25 menit, saya sudah tiba kembali ke lokasi kendaraan diparkir di Dusun Tapir. Rasanya jalur kembali lebih cepat, mungkin karena jalan yang menurun.

Sayangnya, hanya sekejap menikmati desa yang telah ditata sebagai desa wisata ini. Rencananya, setelah menikmati dari ketinggian, dua pulau akan segera saya singgahi. Jadi tak ada pilihan selain bergegas turun dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Poto Tano. Bagi saya, tentu tak kalah menggairah menyentuh laut langsung setelah menatapnya dari kejauhan.

Selepas Jalan Raya Seteluk ditelusuri, disambung Jalan Senayan Poto Tano, saya temukan Pelabuhan Poto Tano, tempat penyeberangan Lombok-Sumbawa. Tak jauh dari pelabuhan, terdapat gerbang menuju jalan kecil dan di atasnya tertulis “Kawasan Wisata Bahari Pulau Kenawa”. Tak lama kami langsung menemukan Bachtiar, pemilik perahu. Harga pelayaran ke Kenawa Rp 300 ribu, tapi untuk dua pulau, yakni Kenawa dan Paserang, ia meminta Rp 500 ribu.

Perlu persiapan ternyata, jadi perahu tak langsung segera berangkat. Jadilah, saya mencermati bocah-bocah yang tengah bermain di dermaga. Mereka serasa berada di kolam super besar, bergantian menceburkan diri, berenang, dan tertawa lepas. Masa anak-anak yang sederhana, tapi menyenangkan. Tiba-tiba bahu saya ditepuk. Saya diberi tahu bahan bakar perahu sudah didapat dan pelambung pun sudah ditenteng pemilik perahu. Dari atas perahu, kali ini giliran saya yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat meninggalkan dermaga. Laut memang membawa keriangan.

Laut di Selat Alas tergolong tenang. Sekitar 30 menit, Pulau Paserang sudah di depan mata. Dermaga kayu menyambut, sementara pantai berpasir putih seperti memohon untuk segera dijejaki. Perlahan saya naik ke dermaga. Ilalang tinggi terlihat di bagian tengah pulau seluas 54,77 hektare itu. Rupanya, pulau telah disiapkan untuk destinasi wisata. Ada para pekerja yang tengah menyiapkan sejenis cottage plus fasilitasnya. Hingga wisatawan bisa menginap dengan nyaman di sini. Pilihan lain, tentunya menggelar tenda.

Menatap kedalaman laut, tiba-tiba saya melihat pari kecil lewat sekelebat. Sayangnya, tak sempat menatap lama. Selebihnya, ada sejumlah ikan-ikan kecil wara-wiri, lumayan untuk yang gemar snorkeling. Ada juga sekumpulan terumbu karang meski tak tampak warna-warni. Menyusuri pantai yang panjangnya mencapai 2,5 km bisa menjadi pilihan untuk menikmati pasir putihnya yang halus.

Menjelang sore, saatnya melaju ke Pulau Kenawa. Menangkap keindahan mentari tenggelam dari pulau yang memiliki savana dan bukit unik tersebut. Pulau seluas 13,8 hektar itu sering menjadi pilihan bagi para turis kelas ransel untuk bermalam dengan mendirikan tenda. Rasanya memang menggoda. Dari tiupan angin kencang yang membuat ilalang menari-nari, laut yang tenang, sampai bukit di tengah pulau. Sayang, saya hanya singgah untuk berayun-ayun di bawah pohon sembari menanti langit semakin memerah. Kemudian, menyusuri pasir putih dan ilalangnya, sebelum akhirnya harus rela meninggalkan pulau sebelum angin bertiup kian kencang dan langit semakin gelap. l

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilih rute penerbangan menuju Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.  Dilanjutkan dengan kendaraan roda empat selama 2 jam menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, yang menjadi tempat penyeberangan menuju Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat.

Secuplik Info

1. Penyeberangan Lombok-Sumbawa sekitar 1,5 jam, tapi dengan proses kapal merapat total menghabiskan waktu 2 jam.

2. Jadwal penyeberangan antara dua pelabuhan ini tersedia dalam 24 jam.

3. Desa Mantar lokasinya sekitar 27 km dari Pelabuhan Poto Tano.

4. Untuk mencapai Desa Mantar tersedia kendaraan 4 WD dari Dusun Tapir dengan biaya Rp 25 ribu per orang. Bisa juga dengan sepeda motor atau ojek dengan biaya Rp 50 ribu per orang sekali jalan.

5. Sewa perahu menuju Pulau Paserang dan Kenawa bisa didapat langsung di dermaga kecil menuju Kawasan Gili Balu. Biasanya harga dimulai Rp 300 ribu dan sudah termasuk perlengkapan snorkeling

R. Nariswari/Frann/TL

Nain dan Siladen, 2 Rahasia Laut Manado

Senja di kota Manado, Sulawesi Utara.

Nain dan Siladen, 2 rahasia Laut Manado betul-betul belum banyak yang tahu. Pulau-pulau di perairan Minahasa Utara yang menawan ini kini menjadi alternatif jika berkunjung ke Manado dan Sulawesi Utara. Terutama jika sudah pernah ke Bunaken.

Nain dan Siladen, Wisata Laut Manado

Dari sebuah gedung gergasi di Jalan Boulevard Kota Manado, yang condong menghadap ke barat daya, tampak perairan Celebes membentang luas tak ada habisnya. Di muka pandangan, garis laut tegas membelah langit dan laut dengan marka imajiner. Disapu kabut tipis bekas gerimis, air di beranda Samudra Pasifik menjadi tampak misterius dan penuh teka-teki. Di tengah laut, semu-semu pulau seluas tak lebih dari 10 kilometer persegi menampakkan diri. Namanya Taman Laut Bunaken, di baliknya terdapat Gunung Manadotua.

Kring. Notifikasi berbunyi. Nama “Daeng” muncul mengirim pesan. “Hari ini cerah. Mudah-mudahan besok juga. Kalau cuaca oke, kita berangkat ke Pulau Nain dan Siladen. Jangan lagi ke Bunaken atau Manadotua kalau mau betul bertualang.” Begitulah pesan Daeng, penduduk suku Bajau, yang bermukim di Manado, mengingatkan pertemuan. Penawaran menarik.

Pagi-pagi sekali, berbekal nasi kuning yang dibeli di rumah makan legendaris bernama Saroja, kaki saya asyik meniti lorong Pelabuhan Calaca. Lokasinya tepat di depan Pasar 45, dekat pusat perdagangan Manado tempo dulu. Sembari celingak-celinguk mencari Daeng, bau ikan cakalang fufu mengalihkan fokus. Gorengan pisang goroho berona kuning keemasan juga turut merayu. Kopi Kotamobagu—perpaduan arabika dan robusta—menyeruak penciuman. Namun langkah tak boleh berbelok. Maklum, jarum jam mengejar.

Jauh di ujung dermaga, pria 30 tahun berkulit legam, berkaus puntung dan bercelana boxer, melambaikan tangan. “Yang ini jo kapalnya,” kata dia sembari menunjuk speed boat putih-ungu.

Tak lama kemudian, kapal kami melaju cepat melewati Jembatan Soekarno yang menjadi ikon baru kota multikultural ini. Pemandangan di samping berupa daratan Manado yang didominasi kontur berbukit, sementara lanskap di hadapan adalah laut lepas dan mercusuar kecil, yang menimbulkan efek dramatis.

“Kita mau ke Pulau Nain (Naen), pulau tempat saya lahir,” tutur Daeng memecah lamunan. Ini adalah pulau terjauh dalam kawasan Taman Nasional Bunaken. Bahkan lebih jauh daripada Mantehage, yang bisa dijangkau dengan waktu tempuh 1,5 jam dari daratan. Secara administratif, Nain termasuk bagian dari Kecamatan Wori, Minahasa.

Pulau tersebut terbagi atas dua wilayah, yaitu Nain Besar dan Nain Kecil. Nain Besar berpenduduk padat. Mayoritas merupakan suku Bajo atau Bajau. Suku ini berasal dari Kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Umumnya mereka hidup di atas laut. Sering disebut gipsi laut. Sedangkan Nain Kecil merupakan pulau tak bertuan. Misterius, tapi menawan.

Bunyi mesin kapal mendadak mati. “Baling-baling tersangkut plastik,” kata Daeng. Kapal bergoyang, melanting ke kanan dan kiri. Untungnya gelombang belum besar. Padahal di daerah laut dalam itu, kalau cuaca buruk, ombak bisa menggulung hingga 5 meter. Lewat dua jam, kapal melaju memecah samudra. Lamat-lamat pulau di ujung Minahasa Utara itu mulai tampak. Nain Besar dan Nain Kecil dari kejauhan berhadapan. “Kita akan bersandar di sana, Nain Kecil,” ujar Daeng.

Air laut biru tua berubah tosca. Perairan dangkal mengucapkan selamat datang dan ragam karang pun tampak. Aduhai, pulau itu seperti tempat yang menyimpan banyak misteri. Dingin, tapi cantik. Di pinggirnya terdapat bebatuan layaknya pantai-pantai di Belitung. Pasirnya putih dan halus.

Tumbuhan bakau leluasa hidup mempercantik serambi samping. Di muka pulau, Nain Besar berdiri gagah. Lekuk-lekuk bentang alamnya nyata terlihat. Konturnya seperti membentuk bukit-bukit kecil. Rumah-rumah warga tersaru pepohonan subur. Di Nain Kecil, ada banyak rumah panggung, tapi tak berpenghuni. Pulau ini hanya menjadi persinggahan petani rumput laut. Tak heran, keramba bertebaran sepanjang perjalanan menuju pulau itu.

Masih jarang pelancong datang. “Wisatawan hanya datang kalau Pasir Timbul, harta karun Pulau Nain, menampakkan diri, misalnya pada Juni hingga Agustus,” tutur Daeng. Pasir Timbul adalah secuil nirwana di pulau ini. Di masa-masa tertentu dan di jam-jam khusus, seperti kala purnama, di siang hari, ketika air sedang surut, pulau yang hanya berisi pasir putih itu unjuk diri. “Setiap hari sebenarnya juga akan kelihatan, tapi tergantung keadaan. Hanya alam yang tahu kapan pulau itu tampak, kapan dia akan tenggelam,” tuturnya.

Tak lama di Nain, kapal kami bergerak ke Siladen, pulau yang bisa ditempuh dengan waktu 30 menit dari Bunaken. Di tengah perjalanan, Daeng berkisah, sepanjang pelayaran nanti, kalau beruntung, kami bisa menyaksikan lumba-lumba menari mengikuti laju kapal. “Namun lagi-lagi itu rahasia laut. Tak ada yang tahu lumba-lumba kapan datang,” tuturnya. Sampai mendarat di Siladen, tak ada satu pun mamalia laut itu yang muncul.

Untungnya senyum anak-anak bermain ayunan di pinggir pulau memantik gembira. “Halo cici—sapaan untuk kakak perempuan.” Satu per satu mereka mengajak berjabat tangan. Di sampingnya, para orang tua berkumpul sembari minum kopi. “Selamat datang di Siladen. Jangan kaget kalau sepi. Pulau ini hanya dihuni 128 keluarga,” ucap Daniel, penduduk setempat.

Saya pun duduk di antara warga suku Sanger, menikmati bibir pantai. Di seberang lautan, Pulau Bunaken terlihat jelas. Begitu juga dengan Manadotua. Orang-orang asing lalu-lalang, tak peduli terik. Mereka menenteng alat snorkel untuk sekadar bersemuka dengan ikan goropa atau nemo. Juga dengan koral berwarna-warni. “Di sini cocok buat orang yang mencari ketenangan. Makanya bule suka dengan Siladen,” tutur Daniel menyela lamunan.

Di balik kecantikannya, sejatinya pulau ini menyimpan setitik pilu. Daniel berkisah lahan di pulau ini sebagian besar dimiliki John Rahasia, sejarawan yang berpengaruh pada masa Orde Baru sekaligus penulis Penemuan Kembali Tagaroa. Sehingga belum sepenuhnya merdeka. Selain itu, listrik belum optimal dirasakan. “Hanya ada pukul 6 sore sampai 11 malam,” kata dia. Mereka bisa melakukan perputaran uang lantaran bantuan keluarga John Rahasia, yakni dengan merekrut masyarakat setempat bekerja di resornya.

Infrastruktur juga belum maksimal. Terutama kesehatan dan pendidikan. Hanya ada SD. “Kalau kesehatan, hanya ada puskesmas. Itu pun belum tentu buka,” ujarnya. Warga setempat dan pelancong yang tengah menginap dan mengalami gangguan kesehatan, tutur Daniel, lebih memilih pergi ke Kota Manado untuk memeriksakan diri. “Kala sakit, kami dan para tamu yang datang biasanya ke Siloam Manado saja, yang jelas pelayanannya,” ucapnya berkisah. Mereka biasa memanfaatkan kapal cepat milik resor atau menumpang kapal nelayan untuk menuju kota.

Obrolan terus diramu sampai jauh. Anak-anak ikut bercengkerama. Kadang menarik tangan untuk turut berlari-lari kecil menyusuri pantai dengan pasir selembut susu bubuk. Juga meremas-remas biskuit dan menebarnya di tepi pantai, berharap ikan-ikan hias mendekat.

Matahari tak sadar jatuh ke barat, menggantung di atas Manadotua. Lamat-lamat langit berubah oranye. Daeng mengajak saya beranjak. Siladen makin jauh dari pandangan. Pulau itu tampak seperti rumah baru. Lagi-lagi laut mengutarakan berlaksa kisah istimewanya lewat penghuni pulau. Di ujung bilik kapal cepat milik Daeng, rahasia-rahasia samudra akan segera menepi di daratan Negeri Nyiur Melambai.

F. Rosana/A. Prasetyo

2 Wajah Labuan Bajo

labuan Bajo

2 wajah Labuan Bajo mengiringi saya dalam perjalanan ke Nusa Tenggara Timur kali itu. Daratan nan hijau dan laut yang biru.

Jo memegang kendali setir. Tangannya luwes memutar kemudi, ke kiri, lantas ke kanan. Mobil beringsut membelah Bukit Melo, bergeser ke arah timur daratan Flores. Sekonyong-konyong, kakinya menginjak rem.

2 Wajah Labuan Bajo

Tangannya ayal-ayal membuka jendela. “Lihat ke kanan,” katanya. Serentak, tiga orang—saya, Andi, dan Lorens—menggeser pandangan. Karpet-karpet alam bersanding dengan bentangan bahar terhampar membangun komposisi yang pas, biru laut, hijau bukit, dan putih markah cumulonimbus. Lapisan lanskap Labuan Bajo bisa leluasa kami pandang dari ketinggian kurang lebih 700 meter.

Tak lama kemudian, Jo menginjak pedal gas. “Kita harus sampai Cunca Wulang sebelum terik,” ujarnya dengan logat Manggarai. Tempat yang dimaksud adalah air terjun yang berlokasi di Kampung Warsawe. Pamornya memang belum terlampau kesohor layaknya Pulau Komodo atau Rinca. Namun keunikannya tak bisa dipandang sebelah mata.

Menuju ke kepingan nirwana di “tanah bunga” butuh kesabaran. Hampir dua jam kami melewati jalan terjal, berliku, dan hanya bisa dilalui satu mobil. Pemandangan kanan-kiri berupa hutan. Jurang menganga lebar. Jalan hotmix berjawat menjadi aspal rusak. Tak ada kendaraan lalu-lalang, juga warga yang bermukim.

labuan bajo 01
Cunca Wulang di Labuan Bajo. Dok. TL

Kabut pagi luruh. Pendar surya memantul di kaca mobil. Sejangkauan pandang di depan, rumah-rumah penduduk tampak samar-samar. Bentuknya stereotipe, pendek dan beratap seng. Oto—istilah orang Manggarai untuk menyebut mobil—berhenti di depan pondok kecil. Pria berperawakan ceking, berambut ikal, dan berkulit legam mendekat. “Tabe gula (selamat pagi). Dopo no’o kali oto ho’o (mobil hanya bisa sampai sini),” ujarnya sambil menyunggingkan senyum. Tangannya mengajak berjabat. “Siprianus Kabe.”

 Sipri mengajak kami memarkir kendaraan di ujung jalan setapak. Lima meter di depannya, tampak jalan tanah menurun. Hanya bisa dilalui satu orang. Jalurnya licin lantaran hujan menerpa beberapa hari terakhir. “Perjalanan dimulai,” ucap Lorens, local guide yang turut mendampingi, membakar semangat.

Sipri, Lorens, saya, Andi, dan Jo beriringan menyintas medan tak terduga. Sesekali bersiul, lalu berdendang untuk menampik lelah. Pemandangan sana-sini berupa pohon kemiri, komoditas utama warga setempat. Akarnya yang melintang membantu menahan tubuh supaya tak terpeleset jalur berlumpur. Keringat merebas, padahal matahari belum terik. Sraaak. Kaki terperosok. “Tenang, sebentar lagi jalan berbatu,” tutur Sipri.

Sejurus kemudian, jalur yang dimaksud si anak Manggarai itu kami jumpai. Lebih lebar dan mudah dilalui. Orang-orang bilang ini “bonus”. Sayangnya tak terlampau panjang. Sekitar 15 menit melintas, tantangan kembali menghadang. Hutan alami membentang. Derik siye—serangga hutan—lamat-lamat sampai ke kuping. Lorens mengambil posisi paling muka, menuntun rombongan memasuki lorong gelap. “Kalau berjumpa piton, jangan panik. Biasa saja,” ucap Sipri.

Hati berdebar. Bukan lantaran harus menempuh jalur terjal dan berlumpur, melainkan cemas bertemu binatang liar. Selain mungkin menjumpai ular, sewaktu-waktu juga dapat bersemuka dengan babi hutan, babi landak, dan babirusa. Daripada memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak, pandangan pun saya alihkan ke kanan-kiri.

Ada yang menarik. Tali-tali alami menjuntai dari pepohonan besar, mirip dengan yang sering dijumpai dalam film Tarzan. Kalau beruntung, monyet-monyet bergelantungan di sana, menemani perjalanan. Gedebuk. Tubuh kembali terantuk akar, menandakan pandangan harus fokus.

Rasanya sudah banyak percakapan dan nyanyian didendangkan, tapi suara air terjun belum terdengar. Malahan jalan yang harus dilewati kian menggila. Kadang membuat kaki terkesot-kesot mengikuti turunan yang kemiringannya nyaris 90 derajat, atau melompat melintasi pohon tumbang.

Peluh mengalir, tuturan melirih. Sengal-sengal napas tertangkap kuping. Gemericik air yang laun terdengar tiba-tiba membangkitkan spirit. Ritme langkah mengencang. Tak sampai seputaran jam, sungai berbatu dialiri air tosca menyapa pandang.

Di ujung sana, air terjun setinggi 70 meter berdiri gagah. Debitnya deras menghantam batu kali. Cipratannya meruap dan airnya meletup-letup laksana kembang api. Di kanan dan kirinya terdapat tebing berjenjang. Umumnya digunakan untuk atraksi lompat. Jebuuur. Lorens menerjunkan badan dari tebing setinggi 30 meter. “Segar,” teriaknya dari bawah.

Bentang yang menawan genap membayar kesulitan kami menjangkau lokasi ini. Angin yang menyapu bambu belang mengiramakan nada alam serta memalingkan kepenatan. Dua turis asal Jerman melucut pakaian, lalu asyik memeragakan gaya katak di sela-sela bebatuan. Menyelam, lantas mentas. Sekejap kemudian, kakinya asyik melompat di bebatuan laksana kancil.

Lanskap yang membikin hati ria kabarnya makin elok saat musim kering tiba. Ada pantulan cahaya membentuk bulan menggantung di atas air terjun kala siang. Itulah yang membuatnya dinamakan Cunca Wulang yang berarti bulan di atas air terjun. Pelangi kadang-kadang muncul melengkung di antara tebing yang mengapit gerojogan.

Sipri mengeluarkan ponsel pintar, lalu mengajak saya menuju spot terbaik untuk berfoto. Meloncat dari satu batu ke batu lain, tibalah kami di titik tengah. Dalam bingkai lensa, saya diapit tebing dengan lata belakang air meluncur hebat.

“Saya unggah di Facebook, ya,” tutur Sipri. Saya heran bagaimana ia bisa mengakses Internet di tengah hutan begini. “Tenang, jaringan Telkom sudah kencang,” ucapnya menyamber. “Kalau ingin lebih kencang, ada Wi-Fi ID, tapi di kota nanti (Labuan Bajo),” tuturnya seakan membaca kerutan tak percaya lawan bicaranya.

Sejurus setelah asyik berselancar di media sosial, Sipri lantas tak henti menyerocos tentang keindahan Labuan Bajo dan titik-titik nirwana yang mengelilinginya. Darat ataupun laut tak terbantahkan keelokannya. “Ini baru darat, besok kau harus ke laut,” katanya. Menggenapi tantangan Sipri, saya lantas gerak cepat. Pulau Kelor ada di angan-angan. Bukan lagi Komodo atau Rinca.

Deru kapal milik Ibrahim, pelaut berusia 60-an, pada pagi selanjutnya mengantarkan kami menuju surga di sisi barat Labuan Bajo. Geber lanskap samudera mulai tersibak. Ikan-ikan melompat mengikuti tarian ombak, mengantarkan kapal menuju lokasi. Di sisi kiri terhampar daratan Flores dengan bukit-bukit membentuk kukusan. Musim hujan membikin barisan kerucut-kerucut alam itu menghijau, membawa ingatan pada bukit Gurten di Swiss.

Kapal kami mengikuti arus, menuju sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Selama 2 jam tubuh digoyang ombak di atas dek kayu, hingga akhirnya Ibrahim melemparkan tali, mencari tempat bersandar. Ikan-ikan mendekat, koral warna-warni mengucapkan selamat datang. Di tengah pulau terbentang bukit kerucut. Bentuknya hampir presisi, mendekati sempurna. Ada jalur kecil berbatu kapur untuk mengantarkan kami menuju puncak.

Kemiringan 80 derajat harus ditempuh. Keringat lagi-lagi tak terelak. Kaki harus seimbang menopang bobot tubuh dan menyisihkan batu-batu rapuh. Perjuangan terbayar saat sampai di puncak. Pemandangan laut bersanding dengan gugusan daratan Nusa Tenggara Timur bagian barat menjadi sajian utama. Segaris dengan amatan, tampak gradasi air dengan rona tosca, biru muda, dan biru tua meliuk-liuk mengikuti garis laut.

Tak ingin hanya mengecap keindahan dari atas bukit Pulau Kelor, kaki merayu kembali turun ke bibir pantai. Nemo mengajak menari di dalam air, memaksa badan menceburkan diri dengan alat snorkeling yang lengkap. Tanpa dipantik repih-repih roti atau makanan ikan, para penghuni laut datang mendekat.

Sepi dan sunyi membikin saya merasa memiliki pulau seutuhnya. Di tempat itu memang hanya ada segelintir orang, rombongan kami dan rombongan satu kapal yang baru saja mendarat. Salah satu penumpangnya bernama Carita. Turis asal Jakarta yang lama tinggal di Swedia itu langsung berlari-lari kecil, lantas berteriak histeris melambungkan kegembiraan. “Ah, tidak usah sampai ke tengah laut, di pinggir saja banyak ikan. Cantik sekali,” tuturnya.

Lantaran terlampau antusias, Carita sampai lupa melakoni pemanasan sebelum menceburkan diri di air. “Hati-hati kram dan cedera,” ujar saya berteriak kepadanya. “Sulit mencari pertolongan medis,” ujar saya lagi.

Umar, awak kapal yang mengantarkan Carita sampai di pulau itu, langsung menceletuk. “Soal medis tak usah khawatir, sudah ada rumah sakit di sini. Rumah Sakit Siloam. Baru satu tahun lalu dibuka. Letaknya di Jalan Gabriel Campur,” tuturnya menyamber. Carita dan saya sama-sama menyunggingkan senyum dan sekonyong-konyong merasa aman.

Surya lambat laun meruyup ke barat. Angin sepoi-sepoi berganti lantam. Saatnya kembali ke darat. Ibrahim sudah menghidupkan kembali mesin kapalnya. Biduk yang kami tumpangi berbelot, melawan arus. Sayup-sayup lagu Bandaneira mengiringi perjalanan pulang. Laut dan langit dan hal-hal yang tak kita bicarakan, biar jadi rahasia, menyublim ke udara, hirup dan sesalkan jiwa.

Boks

Akses: Dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pilih penerbangan langsung ke Bandara Udara Labuan Bajo dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Waktu tempuhnya kurang-lebih 2 jam 25 menit. Bisa juga transit melalui Bandara Internasional Ngurah Rai yang berlokasi di Pulau Bali. Maskapai yang tersedia, di antaranya Sriwijaya, Lion Air, Batik Air, AirAsia, dan Garuda, lantas disambung dengan pesawat perintis NAM dan Wings Air.

F. Rosana/A. Prasetyo

Dolan Ke Pulau Macan, 2 Jam Dari Jakarta

Dolan ke Pulau Macan bisa menjadi alternatif wisata bahari di sekitar Jakarta.

Dolan ke Pulau Macan di Kepulauan Seribu menjadi salah satu alternatif jika ingin liburan di pantai berpasir putih yang bagus dan tak perlu jauh-jauh dari Jakarta. Berada di kawasan Kepulauan Seribu, Pulau Macan menjanjikan liburan bahari yang asyik.

Dolan Ke Pulau Macan

Di antara barisan pulau di wilayah Kepulauan Seribu, Pulau Macan bisa menjadi pilihan staycation yang tenang di akhir pekan. Pulau ini menawarkan eksklusivitas dibandingkan pulau-pulau lain di kawasan ini.

Dolan ke Pulau Macan ini nyaman untuk yang senang ketenangan, karena setiap hari hanya menerima paling banyak 40 wisatawan.

Pulau ini wajib dikunjungi untuk pelancong yang menyukai wisata alam yang tenang dan privat. Terdiri dari Pulau Macan Besar dan Pulau Macan Kecil, pulau ini menyuguhkan konsep yang unik yaitu eco resort dengan fasilitas lengkap. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini.

Dolan ke Pulau Macan cocok untuk yang enang laut dan staycation.
Snorkeling bisa enjadi pilihan ketika dolan ke Pulau Macan. Foto: pulaumacan.id

Secara administratif, Pulau Macan Besar berada di wilayah Kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Luas pulau hanya sekitar 6,13 hektare. Pulau resort ini dimiliki dan dikelola oleh swasta dan diperuntukkan untuk pariwisata dengan nama Tiger Islands Village and Eco Resort.

Pulau Macan boleh dikatakan merupakan salah satu wisata Pulau Seribu yang paling bagus karena mengusung konsep eco-resort. Meskipun pulau ini tidak begitu luas, namun memiliki  fasilitas yang lengkap, pemandangan keren di pagi dan sore hari, arus laut yang tenang, dan peralatan watersport yang bisa dipergunakan secara gratis.

Soal nama, meskipun namanya Pulau Macan, pengunjung tak perlu membayangkan sesuatu yang ‘sangar’ seperti macan. Jangan khawatir, tidak ada hewan macan di pulau ini. Bahkan, nuansa yang bisa dinikmati selama berwisata di pulau ini jauh dari kata-kata ‘ngeri’.

Salah satu hal unik ketika dolan ke Pulau Macan adalah setiap bangunan kamarnya dibangun di tepian pantai. Ini membuat pengunjung dapat langsung berenang di laut atau duduk santai, bahkan ketika baru bangun tidur.

Dolan ke pulau Macan, bia tidur dengan ilustrasi musik gelombang air laut.
Kamar-kamar yang langsung menhadap ke laut, bangun tidur bisa langsung nyemplung. Foto: dok pulaumacan.id

 

Atau, bisa juga sekadar bermalas-malasan sambil  mata menyapu cahaya matahari terbit dengan laut biru. Hal unik lainnya adalah, pada saat air laut surut, wisatawan akan menemukan sebuah pulau kecil yang diikuti barisan pasir putih memanjang yang menyambung dengan pulau utama. Bisa dikunjungi dengan berjalan kaki, atau menggunakan kayak.


Fasilitas akomodasi yang disediakan oleh pengelola adalah sejumlah cottage privat dengan akses langsung ke laut. Kapasitas cottage bervariasi, mulai dari untuk dua  orang hingga 7 orang.

Nama-nama cottage yang disediakan menunjukkan konsep eco-resort yang diusung, seperti eco cabin, redbrick room, driftwood hut, tropical bungalow, island hut, sunset hut, zet hut, atau coral hut.

Di antara beberapa jenis cottage ini, type Sunset Hut adalah yang paling populer, terutama bagi wisatawan yang senang menikmati matahari tenggalam. Cottage-nya menghadap ke barat dengan pandangan bebas hambatan ke arah matahari terbenam.

Kapasitas cottage ini maksimal untuk empat orang, sehingga ideal untuk keluarga. Di dalamnya juga terdapat kamar mandi utama.

Kapasitas masing-masing cottage yang kecil menunjukkan kalau pulau ini memang mengusung tema eco-wisata yang sangat privat dan eksklusif. Mudah ditebak jika harga paket wisatasaat dolan ke Pulau Macan relatif lebih mahal.

Kayak di Pulau Macan pulaumacanid
Berkayak bia hop in hop off di seputar Pulau Macan. foto: dok. pulaumacan.id

Ketika dolan ke Pulau Macan, pengunjung juga dapat menikmati makanan yang diolah langsung dari hasil kebun organik milik pengelola.  

Pulau Macan yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu mudah dijangkau dari ibukota. Pelancong bisa pergi hari Sabtu pagi dan kembali ke Jakarta pada Minggu sore.

Akses akomodasi ke Pulau Macan tidak sulit. Ada dua alternatif keberangkatan kapal yang bisa dipilih wisatawan, yaitu melalui Ancol atau lewat  Muara Angke (Kali Adem). Kedua pemberangkatan tersebut menggunakan jenis kapal yang berbeda, tentu dengan harga yang berbeda pula.


Harga kapal cepat via Ancol bergantung tujuan pulau yang dikehendaki. Semakin jauh pulau yang dituju, maka semakin mahal ongkos yang dikeluarkan. Secara umum, tiket kapal cepat via Ancol berkisar antara Rp125 ribu sampai Rp375 ribu per orang untuk sekali jalan.
Kapal feri mungkin lebih ekonomis. Harganya juga bergantung tujuan pulau yang dituju. Begitupun bila tujuan pulau yang dituju jauh, harga tiket masih cukup terjangkau.


Secara umum, harga tiket kapal feri via Kali Adem Muara Angke berkisar antara Rp85 ribu sampai Rp105 ribu untuk sekali jalan.
Untuk jam keberangkatan kapal, kapal cepat via Ancol berangkat pukul 08.00 WIB dan kapal feri via Muara Angke berangkat pukul 07.30 WIB. Jika berangkat dari Muara Angke, wisatawan sebaiknya datang lebih awal, agar tidak mengantre lama dan panjang.


Bagi Anda yang pergi ke Muara Angke menggunakan kendaraan pribadi, Anda dapat menitipkan kendaraan Anda di lahan parkir khusus yang disediakan. Besaran tarif parkir menginap Rp 25 ribu untuk motor dan Rp 50 ribu untuk mobil.

agendaIndonesia

*****

Wisata Sekitar Jalur Kereta, 6 Pilihannya

wisata sekitar jalur kereta belum popular di Indonesia, saatnya mengenalkan ke publik.

Wisata sekitar jalur kereta api belum popular di Indonesia. Umumnya wisatawan baru menikmati moda kereta api untuk menuju ke satu destinasi, baru dari sana mereka menyebar ke spot wisata lain. Di sisi lain, saat ini operator kereta api belum memiliki paket perjalanan yang memberi kesempatan penumpang hop in-hop off di satu spot dari sebuah rute perjalanan tanpa tambahan biaya.

Wisata Sekitar Jalur Kereta

Jadi, misalnya, seorang penumpang membeli tiket rute Jakarta-Surabaya, lalu ia bisa turun di Cirebon untuk menikmati wisata di kota ini satu malam sebelum besoknya melanjutkan perjalanan dengan kereta api yang sama tanpa dikenai charge baru. Tentu ia ketika turun di Cirebon perlu lapor dulu ke sistem KAI. Mudah-mudahan di masa datang ini bisa dilakukan.

Namun liburan ke berbagai kota kini memang semakin mudah dengan beragam pilihan moda transportasi. Salah satu opsi transportasi yang menyenangkan untuk dipilih adalah kereta api.

Wisata sekitar jalur kereta api bisa dinikmati sesaat menjalang perjalanan dengan kereta.
Rangkaian kereta melewati Kampung Jodipan, Malang. Foto: Dok KAI

Ada banyak kota dengan segudang pilihan wisata seru dan menarik yang bisa kamu kunjungi untuk liburan. Kamu bisa menggunakan kereta api yang cepat dan nyaman untuk mengunjungi berbagai tempat wisata tersebut.

Bahkan, ada juga tempat wisata keren yang jaraknya sangat dekat dari stasiun. Jadi, kamu hanya perlu jalan kaki sebentar untuk menikmati liburan seru, baik sendirian maupun ramai-ramai. Ini ada enam rekomendasi tempat wisata dekat stasiun kereta yang bisa kamu kunjungi. Ke enamnya bisa dicoba dinikmati menjelang keberangkatan dengan kereta.

Galeri Nasional Indonesia, Jakarta

Buat mereka yang menyukai dunia seni, tempat wisata sekitar jalur kereta ini bisa jadi pilihan untuk dikunjungi. Wisatawan hanya tinggal naik kereta dengan destinasi Stasiun Gambir, Jakarta. Tepat di seberang Stasiun Gambir ada Museum Galeri Nasional Indonesia. Tempat wisata yang satu ini menjadi sarana pameran seni dan kebudayaan, dari yang antik, kontemporer, sampai modern. Tak cuma pameran saja, kamu pun bisa menikmati seminar, fasilitas perpustakaan, dan laboratorium yang ada di dalamnya.

Kampoeng Plered Purwakarta

Berkunjung dan berjalan-jalan ke Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, sempatkan untuk mampir sejenak ke tempat yang satu ini. Adalah Kampung Maranggi, tempat makan khusus yang menyediakan Sate Maranggi, sebagai makanan khas dari Purwakarta.

Sate Maranggi di Purwakarta bisa jadi wisata sekitar jalur kereta.
Sate Maranggi khas Purwakarta.

Surga wisata kuliner yang berlokasi di alun-alun Kecamatan Plered tepatnya di samping halaman Stasiun Plered bisa jadi tempat menjawab rasa lapar selama perjalanan wisata ke Purwakarta. Untuk menuju Stasiun Plered, kamu bisa menggunakan kereta api Serayu, Garut Cibatuan, dan Bandung Raya Ekonomi.

Benteng Pendem Cilacap

Terletak di Dusun Kebonjati, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Benteng Pendem merupakan peninggalan Belanda di pesisir Pantai Teluk Penyu. Benteng ini dibangun pada 1861 dan dulunya menjadi markas pertahanan tentara Hindia Belanda.

Wisata sekitar jalur kereta salah satunya bisa menikmati spot wisata di sekitar Cilacap
Benteng Pendem Cilacap (Dutch : Kustbatterij op de Landtong te Cilacap ), is a Dutch fortress on the coast of Teluk Penyu in the district of Cilacap , Central Java, which was built in 1861

Di dalamnya terdapat gudang senjata, benteng pengintai, benteng pertahanan, gudang mesiu, penjara, ruang perwira, hingga dapur.
Benteng Pendem Cilacap berjarak kurang lebih tiga kilometer dari Stasiun Cilacap dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit. Kamu bisa menggunakan kereta api Kamandaka, Wijayakusuma, dan Joglosemarkerto untuk menuju Stasiun Cilacap. Ini bisa menjadi pilihan wisata sekitar jalur kereta.

Pantai Grand Watu Dodol Banyuwangi

Bila kamu memutuskan turun ke stasiun terakhir di Banyuwangi, yakni Stasiun Ketapang bisa coba berkunjung ke Pantai Grand Watu Dodol (GWD). Jarak yang harus ditempuh dari stasiun ke Pantai Grand Watu Dodol (GWD) kurang lebih 6,8 kilometer atau perjalanan sekitar 11 menit. Nah ini pilihan lain wisata sekitar jalur kereta.

Pantai GWD menyajikan wisata snorkeling, diving dan trip naik perahu ke Pulau Tabuhan. Bagi kamu yang dari Semarang ingin menuju Stasiun Ketapang, kamu bisa menggunakan kereta yang baru dijalankan pada momen libur Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 yaitu Blambangan Ekspres relasi Semarang Tawang – Ketapang (Banyuwangi) pp. Selain itu, masih tersedia banyak kereta api dari berbagai daerah yang bisa kamu gunakan menuju ke Stasiun Ketapang.

Wisata Kampung Warna-warni Jodipan Malang

Kampung warna-warni yang ada di Kelurahan Jodipan juga merupakan salah satu tempat wisata Malang yang dekat dengan Stasiun Malang. Buat kamu yang suka foto selfie, di sana ada ratusan rumah yang dicat warna-warni sehingga kampung ini menjadi tampak Instagramable untuk latar belakang berfoto. Lokasinya ada di Jalan Ir. H. Juanda 6, Jodipan, Kota Malang, Jawa Timur. Jaraknya dari Stasiun Malang sekitar 1,5 kilometer. Kamu bisa berkendara selama sekitar 5 menit atau jalan kaki kurang lebih 17 menit. 

Kampung Kuliner Binjai

Tempat wisata di Binjai dekat stasiun adalah Kampung Kuliner. Tempat wisata populer ini hanya berjarak sekitar 100 meter dari Stasiun Binjai. Kamu bisa mencoba berbagai kuliner khas Binjai hingga hidangan khas Sumatera Utara lain di tempat ini.

Tempat ini menawarkan konsep yang unik semacam food court dengan pilihan indoor maupun outdoor. Disini kamu bisa memilih untuk menikmati makanan di luar ruangan (outdoor) di mana tersedia banyak tenda dengan kursi-kursi dengan konsep yang keren. Bagi kamu yang ingin lebih private kamu bisa memlih makan di dalam ruangan (indoor) agar tidak terganggu dengan suasana keramaian.

Itu tadi enam rekomendasi tempat wisata dekat stasiun yang bisa dijangkau dengan kereta. Tak perlu jauh-jauh, kamu bisa hanya berjalan kaki sekitar 5-17 menit untuk mendapatkan pengalaman seru selama liburan.

Selain enam lokasi wisata tersebut, sebenarnya masih banyak lagi tempat-tempat wisata, baik wisata sejarah, seni, alam, hingga wisata kuliner di sekitaran stasiun-stasiun kereta api di berbagai daerah.

“Stasiun kereta api terletak di tempat-tempat strategis, sehingga masyarakat bisa langsung jalan-jalan tanpa menempuh perjalanan panjang lagi. KAI juga menyediakan berbagai tipe kereta yang dapat digunakan. Mulai dari kelas Ekonomi, Bisnis, Eksekutif, dan Luxury,” kata Joni dari PT Kereta Api Indonesia.

agendaIndonesia (sumber PT KAI)

*****