Untaian 213 Pulau Eksotik di Mentawai

Untaian 213 pulau di mentawai, ombak bergulung yang dilihat dari jendela penginapan.

Untaian 213 pulau di Mentawai, Sumatera Barat, mengalun indah dengan rangkaian pasir putih, laut biru, dan gulungan ombak. Semuanya seakan mengucapkan, “Aloita”  yang artinya selamat datang.

Untaian 213 Pulau

Apa istimewanya Mentawai? Hawanya sudah tentu panas. Begitupun jangan pernah melewatkan keindahan mentari terbit di pulau yang berada di tengah Samudra Indonesia ini. Perjalanan seminggu ke Kawasan ini tentu tak kan cukup. Menjejaki satu demi satu pulau dari ratusan yang ada.

Di ujung selatan ada pulau Sipora. Cobalah menginap di Dusun Katiet, Desa Bosua, Kecamatan Sipora Selatan. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya laut. Bahkan ketika jika membuka jendela di penginapan, yang tampak semata gulungan ombak.

Untaian 213 pulai di Mentawai dengan pulau dan ombak lautnya adalah sorga bagi para peselancar.
Peselencar menikmati ombak di kawasan Mentawai. Foto: Dok. shutterstock

Ini pulau kecil. Berjalan kaki dalam hitungan menit, pengunjung sudah berada di ujung pulau. Dan tampaklah Pulau Pagai Utara, yang berada di sebelah Sipora. Dusun yang biasanya sepi itu, beberapa hari terakhir cukup ramai.

Pagi itu, sembari menikmati matahari, terlihat peselancar menari bersama ombak. Sinar kekuningan dari langit menyoroti badannya. Setelah beberapa meter berjalan, ia menaiki papan selancar dan mengayuhnya hingga ke tengah pantai. Bertemu dengan gulungan ombak, tubuhnya meliuk-liuk.

Di depan Pantai Katiet, yang berpasir putih dengan jajaran pohon kelapa, bisa ditemukan dua titik selancar dengan ombak yang menantang: Hollow Tree alias Lances Right dan Lances Left.

Bagi para penggemar olahraga selancar, tinggal berhari-hari di pulau-pulau itu memang menyenangkan. Di sepanjang pantai di Pulau Sipora bisa ditemukan deretan ombak yang menggoda. Nama ombak-ombaknya rata-rata berbahasa asing. Sudah pasti ini karena para peselancar asing yang memberikan julukan.

Menjelang siang, seraya menikmati ombak pengunjung bisa menyantap pical Padang—sajian sejenis gado-gado. Sang penjual memang berasal dari ibu kota Sumatera Barat itu.

Setelah perut kenyang, sebaiknya nongkrong saja. Siang hari bukan waktu yang tepat untuk berjalan-jalan. Panasnya mentari begitu membakar. Cobalah bersantai ditemani kelapa muda sembari melihat aksi para peselancar lagi. Tidak ada lokasi lain yang bisa jadi sasaran selain pantai. Ibu kota Kecamatan Sipora Selatan, Sioban, pun harus ditempuh lewat jalur laut selama 20 menit.

Selepas siang, dengan perahu cepat wisawatan bisa meninggalkan dusun yang punya pantai bersih dan air laut nan biru ini. Perjalanan menuju Tuapejat, ibu kota kabupaten yang berada di ujung utara Pulau Sipora.

Meski satu pulau, kota tersebut harus ditempuh dengan perahu cepat sekitar 1,5 jam. Terkadang bahkan butuh waktu 2 jam, tergantung pada ombak dan angina.

Jika beruntung pengunjung bisa melaju dengan perahu cepat, sehingga Tuapejat dapat dicapai dalam 5,5 jam dari Pelabuhan Bungus, Padang. Waktu tempuh ini tergolong pendek dibanding dengan naik kapal kayu regular rute Padang-Mentawai, yang rata-rata memakan waktu 10 jam.

Biasanya, pengunjung memang tidak langsung ke Sipora. Di awal, pengunjung akan menyusuri pantai-pantai seputar ibu kota kabupaten, di antaranya Pantai Mapadegat. Esoknya, baru menyusuri pulau lain.

Untaian 213 pulau eksotik di mentawai dengan pasir putih dan tarian ombak.
Ombak yang menari dan peselancar yang meliulk. Foto: DOk. unsplash

Kepulauan Mentawai terdiri atas empat pulau besar: Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Namun masih ada 200-an pulau kecil yang tentunya tak kalah menggoda para pencinta bahari dan alam. Total, seperti disebut di muka, Mentawai adalah untaian 213 pulau.

Mengunjunhgi Mentawai, dari Jakarta rute pertama tentu menuju Bandara Internasional Minangkabau di Padang. Perjalanan dilanjutkan dengan kapal laut dari Pelabuhan Bungus. Rata-rata perjalanan memakan waktu 10 jam dengan KM Ambu-ambu, KM Sumber Rezeki Baru, dan KM Pulau Simasin. Jadwal keberangkatan tidak setiap hari, sehingga Anda perlu mengecek jadwal sebelum membuat rencana perjalanan. Umumnya, perjalanan dilakukan malam hari.

Perjalanan laut dari Siberut ke Tuapejat atau sebaliknya, wisatawan akan tak habis-habis disuguhi keindahan beragam pulau, seperti Pulau Kandui dengan dua resor yang tersembunyi di balik pepohonan.

Di sisi lain, pulau itu memiliki halaman berupa laut lepas. Tentunya dengan ombak yang menggoda para tamu yang sebagian besar peselancar dari berbagai negara. Ada juga Pulau Karangmajat, yang dikenal karena keindahan alam bawah lautnya diburu para penyelam dan penggemar snorkeling. Laut di sekitar Mentawai memang surga bagi peselancar dan penyelam.

Di setiap penjuru kabupaten ini bisa ditemukan setidaknya 400 titik selancar. Sungguh sebuah untaian 213 pulau yang eksotis. Bahkan di Pulau Siberut, yang terkenal dengan taman nasional dan budaya, juga ada spot khusus bagi peselancar. Misalnya di Pulau Nyangnyang.

Jika menuju ke arah Sipora dari Siberut, akan melihat pasir putih yang panjang di Pulau Masilok. Juga ada pulau-pulau kecil lain. Orang juga bisa bermalam di sebuah resor di Pulau Simakakang, yang dicapai dalam 15 menit dari Tuapejat.

Di sekeliling pulau ini, terdapat pulau-pulau kecil yang bisa dikunjungi. Ada dua pulau karang yang menjadi penahan ombak dari laut lepas di dekatnya, selain pulau kecil yang hanya terdiri atas pasir. Salah satu yang tampak indah adalah Pulau Togat, yang juga dilengkapi resor. Masura Bagata (terima kasih), Mentawai. Benar-benar sebuah surga di tengah samudra!

Sudah pernah mengunjungi Mentawai? Jika belum, mungkin mulai dipikirkan untuk mengagendakannya. Menikmati untaian 213 pulau berikut keindahannya.

Berikut ada beberapa tips yang bisa dipakai untuk pegangan. Di Kawasan ini sementara ini hanya ada Bank Nagari, yakni di Tuapejat. Jadi, sebaiknya pengunjung membawa uang tunai yang memadai.

Untuk menjelajahi kabupaten ini umumnya Anda harus menggunakan transportasi laut yang menguras kantong. Harga makanan dan minuman serta barang-barang lainnya lebih tinggi dibandingkan dengan di Padang.

agendaIndonesia/TL/Rita

*****

Keindahan Air Terjun, 4 Yang Unik

Keindahan air terjun ada di sejumlah tempat di Indonesia, di antaranya air tejun Parangloe. (Foto Sempugi.Org)

Keindahan air terjun sering memukau orang dan mengunjunginya. Sering cuma untuk untuk menyaksikan air yang mancur turun. Ada pula yang mencoba untuk menikmati langsung cucuran air dengan berenang atau main air di sekitar jatuhnya dari atas.

Keindahan Air Terjun

Indonesia mempunya sejumlah air terjun yang unik, beberapa bahkan masih jarang dikunjungi. Mungkin tak sebesar Niagara di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada, namun sejumlah air terjun di Indonesia ini tetap saja menarik. Berikut ini ada empat cerita tentang keindahan air terjun. Sekali-kali mungkin perlu diagendakan dikunjungi.

Air Terjun Mursala

Terletak di Pulau Mursala, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Air terjun Mursala ini memiliki ketinggian sekitar 35 meter. Dari Medan cukup jauh, lewat jalan darat perlu waktu 8 jam.

Keindahan air terjun ada yang mengalir di pulau yang tidak memiliki dataran tinggi.
Kabupaten Tapanuli Tengah dilihat dari udara. Foto: DOk. Unsplash

Pelancong biasanya memulai perjalanan dari Pandan de[1]ngan naik kapal sewaan selama dua jam. Beberapa pulau akan dilintasi selama pelayaran, di antaranya Pulau Situngkus dan Putri.

Keindahan air terjun dilihat dari air yang mengalir melewati dinding karang berwarna hitam dan langsung ke perairan laut dangkal berwarna hijau jernih. Di bawahnya, terdapat terumbu karang warna-warni dengan ikan yang hilir-mudik.

Wisatawan dapat menjajal snorkeling di sini. Banyak pengunjung bertanya-tanya dari mana sumber air terjun itu. Sebab, Pulau Mursala tak terlalu luas, sehingga tampak mustahil dapat menghasilkan air tawar dalam volume cukup besar. Air terjun ini bahkan tetap mengalir saat musim panas tiba. Ada dugaan air itu berasal dari Danau Toba, mengalir lewat sungai bawah tanah.

Air Terjun Jogan

Pantai Jogan di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki air terjun yang tak kalah ajaib. Air terjun itu jatuh dari atas tebing, langsung menghantam ka[1]rang dan bebatuan di bawahnya.

Untuk mencapai lokasi ini, butuh waktu sekitar 30 menit dari Wonosari atau dua jam dari Yogyakarta. Jalan menuju Pantai Jogan cukup menant[1]ang adrenalin. Berliku, penuh tanjakan dan turunan. Namun, wisatawan tak akan bosan selama perjalanan karena terdapat panorama unik didominasi perbukitan kapur.

Diapit tebing-tebing tinggi khas pegunungan kapur, Pantai Jogan bak peraduan, tempat air sungai turun gunung menemui ombak yang pulang melaut. Dari puluhan pantai yang berserak di sepanjang 71 kilometer pesisir Gunungkidul, Pantai Jogan menempati posisi istimewa karena keberadaan air terjun yang langsung jatuh dari atas tebing ke bibir laut, mengingatkan pada McWay Beach Waterfall di California.

Selama ini, tak banyak pelancong yang tahu tentang Pantai Jogan. Lokasinya yang persis berada di sebelah barat Pantai Siung sering terlupa oleh para pemanjat yang dipacu semangat memeluk moleknya tebing Siung.

Untuk mencapai Pantai Jogan, perlu waktu sekitar dua jam berkendara dari Jogja. Menyusuri jalanan aspal mulus, berkelok-kelok membelah perbukitan karst yang merupakan sisa lautan jutaan tahun silam. Bila kita sampai di Pos Retribusi Pantai Siung, artinya Pantai Jogan sudah dekat,

Air Terjun Binangalom

Berada persis di pinggir Danau Toba, air terjun Binangalom meng[1]alir turun langsung ke danau. Nama air terjun ini diambil dari nama desa di dekat air terjun yang berada di Kecamatan Lumban Julu, Kota Parapat, Sumatera Utara, itu. Kata lom atau lum dalam bahasa Batak berarti air penyejuk.

Keindahan air terjun di Indonesia di antaranya ada yang langsung terjun ke danau.
Air terjun Binangalom atau Situmurun di kawasan Danau Toba. Foto: Milik tobaria.com

Airnya berasal dari sungai di dekat desa, mengalir dari tebing tujuh tingkat, lalu jatuh ke danau. Turis biasanya berenang di sekitar air terjun atau sekadar memandangi burung bangau terbang mencari ikan. Sayang[1]nya, akses menuju tempat ini relatif masih terbatas. Wisatawan harus menyewa kapal untuk mencapai air terjun terse[1]but. Namun, dari Parapat hanya butuh waktu 15 menit.

Air Terjun Binangalom atau sering disebut dengan nama air terjun Situmurun tergolong unik karena airnya mengalir langsung jatuh ke Danau Toba. Beberapa aktifitas yang dapat dilakukan wisatawan ketika berkunjung ke air terjun ini adalah berenang dan bersantai dan pastinya mengabadikan momen.

Jika tidak pandai berenang, wisatawan masih dapat menggunakan pelampung untuk menikmati air danau toba. Namun, pengunjung tidak boleh berenang terlalu dekat dengan air terjun dikarenakan arusnya cukup deras.  

Air Terjun Parangloe

Banyak yang menyebut air terjun Parangloe di Desa Parang Loe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, ini mirip Niagara di Amerika dalam versi mungil. Lokasinya terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Makassar, dapat ditempuh melalui jalur Hertasning Baru.

Air terjun Parangloe cukup indah, bertingkat dengan tekstur bebatuan yang menawan. Sayang, belum bisa dijadikan tempat liburan keluarga karena lokasinya cukup masuk dan butuh trekking. Namun bagi petualang, backpacker, dan para penggemar fotografi, obyek wisata ini bisa dibilang wajib dikunjungi.

Warga sekitar sering juga menyebutnya dengan sebutan Air Terjun Bantimurung II, karena Air Terjun Parangloe katanya bermuara dari Air Terjun Bantimurung yang ada di Maros. Air Terjun parangloe sering juga disebut Air Terjun Bertingkat atau Air Terjun Bersusun, karena karakteristik air terjunnya yang bertingkat dan bersusun.

agendaIndonesia

*****

Panggilan Ombak Sumbawa Barat

shutterstock 174246365

Maluk, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat yang menjadi pilihan saya menginap malam pertama di pulau yang berada di seberang Lombok ini. Tak jauh dari Taliwang, Maluk mempunyai pantai berpasir putih nan lembut. Pukul 06.30 pagi saya sudah menginjak obyek wisata ini. Huruf M A L U K menghiasi bagian depan pantai. Sepagi itu jajaran warung masih belum buka. 

Pantai yang diapit dua bukit itu hening saat pagi ketika saya mencecap sinar mentari yang muncul dari balik Bukit Mantun di sisi utara. Menerobos hingga selatan yang dibatasi Bukit Balas. Segar dan hangat rasanya. Di tengah teluk, ada satu perahu nelayan mengais rezeki. Seorang pria berdiri di bagian depan dengan sebilah kayu panjang yang ia pukul keras ke laut. Rupanya, ia tengah menggiring ikan ke jaringnya. Suara motor perahu dan pukulannya pun memecah keheningan.

Sumbawa Barat, Surga Kecil Peselancar

Teluk yang tenang itu begitu menenteramkan. Namun, di salah satu sisinya, ternyata ada juga gulungan ombak yang digandrungi para peselancar. Dikenal sebagai ombak Super Suck, dan di depannya tersedia sejumlah akomodasi sederhana. Selepas mandi, melahap nasi kuning, saatnya menyinggahi pantai-pantai lain. Sumbawa Barat adalah surga bagi para pencinta pantai dan ombak. Maluk bukan satu-satunya. Sehari sebelumnya selepas senja, sebenarnya saya sempat mampir ke Pantai Benete, tepat di depan Pelabuhan Bennete. Penuh cahaya di malam hari karena merupakan dermaga khusus PT Newmont Nusa Tenggara. 

Pagi itu bergaya bak para pemburu ombak, saya pun mencari pantai-pantai lain. Namun tentunya bukan untuk beraksi dengan papan seluncur. Saya hanyalah penikmat deburan ombak serta balutan pasir lembut di kaki. Perjalanan mengarah ke Sekongkang Barat. Seperti perjalanan dari Pelabuhan Poto Tano menuju Maluk, Jalan Raya Sekongkang pun cenderung sepi. Hanya sesekali bertemu dengan pengendara roda dua atau roda empat. 

Kiri-kanan lahan berbukit-bukit dengan tanaman sebagian mengering. Sebagian dipenuhi pohon jenis sulur. Hingga bertemulah dengan pertigaan dengan tulisan Sekongkang. Suasana begitu sepi. Mata pun mulai lebih awas, mencari petunjuk. Hingga bertemu papan bewara superbesar yang menunjukkan belum lama ini digelar kompetisi selancar internasional di Pantai Tropical, Sekongkang. Saya dan kawan-kawan mengabaikannya. Namun beberapa meter tak ada tanda lain hingga mobil pun kembali ke tempat tersebut.

Ada sebuah jalan kecil di sebelah papan bewara itu. Sekitar 2 kilometer melaju di jalan tanah itu, ada cabang dengan gerbang kecil. Di salah satu sisinya ada tanah berpagar, dan ada tanda bahwa tanah milik sebuah perusahaan. Sedikit ragu, tapi akhirnya kendaraan menerobos jalan kecil. Kurang dari lima menit, terlihat sebuah teluk dengan beberapa pohon di tepian, diapit dua bukit karang. Teluk yang pendek, tapi siang itu menjadi sebuah gambar nan indah di mata saya. Matahari belum terlalu terik, langit begitu biru, ombak bergulung-gulung, dan tentunya pepohonan membuat paduan alam yang sempurna. Rupanya inilah Pantai Lawar. 

Merasa bukan satu-satunya pantai di sana, kendaraan kembali ke jalan yang bercabang dan memilih jalan tanah salah satu lagi yang ternyata melebar masih tetap berupa tanah. Tak ada petunjuk sama sekali hingga ada bule muncul dari arah berlawanan dengan sepeda motor dan papan selancar, keyakinan ada pantai di ujung sana pun muncul. “Ya lurus, ada Pantai Tropical, Pantai Yoyo, ombaknya keren,” ucap pria tersebut, sementara telunjuknya diarahkan ke utara.

Pantai Yoyo Sumbawa Barat Frannoto12
Lanskap Pantai Yoyo, Sekongkang, Sumbawa Barat, digemari peselancar karena ombaknya.

 

Senyum saya dan kawan-kawan pun mengembang. Tak lama memang debur ombak terdengar nyaring, dan di depan mata terbentang garis pantai yang panjang. Inilah Pantai Yoyo yang menyambung dengan Pantai Rantung. Udara panas mulai menyergap, pasir pantai nan panas terasa menggigit kaki. Saya memilih duduk di gazebo di tepi pantai. Para peselancar beberapa kali lewat. Ada yang berasal Jepang dengan kulit sudah cokelat matang. Dari jauh saya melihat peselancar perempuan berjalan di pasir putih sembari menenteng papannya. Ehmm…. demi ombak, panas pun mereka terjang. Di tengah laut, sejumlah pemain mencoba menari dengan ombak. 

Meski tersambung, dua pantai nan panjang itu tidak bisa dilalui kendaraan. Akhirnya saya dan kawan-kawan kembali ke Jalan Raya Sekongkang, terus melaju ke Jalan Raya Rantung. Sesungguhnya Pantai Yoyo bernama pantai Tropical. Namun, karena ombaknya bergulung-gulung seperti yoyo yang tengah berputar, pantai ini di kalangan peselancar dikenal sebagai Pantai Yoyo. 

Jalan Rantung Raya juga sepi, hanya kiri-kanan lebih banyak kehijauan. Tiba-tiba saya menemukan papan nama hotel di dekat Bandar Udara Sekongkang. Jalur pacu bandara itu tanpa pesawat terbang. Kendaraan pun terus melaju hingga saya menemukan Nomad Tropical Surf Resort di depan Pantai Tropical. Resort ini memiliki halaman hijau, kolam renang, dan lapangan golf. Siang itu gazebo, tepat di depan pantai, dipenuhi beberapa peselancar yang mendinginkan tubuh dengan minuman segar. 

Terik mentari memang begitu terasa meski sebentar lagi sore tiba. Pasir pantai masih terasa panas, saya memilih duduk di sebuah saung. Ada sepasang turis asing, sang perempuan asal Argetina dan pria dari Prancis. Keduanya peselancar yang selama dua minggu berkeliling Bali, Lombok, dan Sumbawa. Mereka mengaku jatuh cinta pada Sumbawa yang tenang, natural, dan tentunya ada gulungan ombak yang menggoda. 

Tak terasa perut mulai keroncongan. Saya tinggalkan Tropical, menuju Rantung Beach Bar & Restaurant, menyantap makan siang yang tertunda sembari menunggu langit berubah gelap. Maklum, menurut info yang berseliweran di dunia maya, di Pantai Rantung-lah keindahan mentari tenggelam itu bisa direkam. Saatnya saya benar-benar menikmati pantai, kaki pun mengenal pasir yang berbeda-beda, dari butiran besar, kemudian masuk pasir yang halus. Perjalanan berat karena kaki terus terbenam, akhirnya muncul juga warna kuning, merah di langit. Sang Surya pun menyemburkan keindahan di Rantung.

Rita N/Fran

Tembok Bukittinggi, Tembok 1,5 Kilometer

Tembok Bukittinggi disebut sebagai Tembok Besar berukuran mini.

Tembok Bukittinggi atau orang juga menyebutnya Jajang Koto Gadang adalah wisata trekking yang layak dicoba jika mengunjungi Sumatera Barat. Meskipun rutenya tak terlalu Panjang, tapi tetap perlu stamina yang prima jika ingin menjajalnya

Tembok Bukittinggi

Jadi ceritanya, di kota Bukittinggi, Sumatera Barat, sekitar 10 tahun terakhir ada obyek wisata mirip great wall di Cina, tapi berskala mini. Diresmikan Januari 2013, setiap akhir pekan tembok tersebut selalu dipadati turis domestik maupun asing.

Disebut Tembok Besar Mini karena panjangnya “hanya” 1,5 kilometer, tinggi 2 meter, dan lebar 2 meter, dengan sekitar 1.000 anak tangga. Bentuk bangunannya melingkar-lingkar mirip Tembok Besar Cina. Trek ini menghubungkan dua tebing yang telah dikenal dengan obyek wisata Ngarai Sianok dan Goa Jepang.

Kedua ujung tembok itu menghubungkan wilayah Panorama dengan Koto Gadang, sehingga sering juga disebut Jajang Koto Gadang (Tembok Koto Gadang). Lokasinya sekitar 5 kilometer dari jam gadang dan terletak satu kompleks dengan Goa Jepang dan Ngarai Sianok, yang berpanorama indah. Warga setempat menyebut lokasi ini dengan nama Panorama.

Meskipun baru diresmikan pada 2013, sejatinya lintasan tembok Bukittinggi ini sudah ada dari zaman kolonial yang berfungsi sebagai penghubung dua Nagari, yaitu Nagari Koto Gadang dan Nagari Ngarai. Dahulunya masyarakat memanfaatkan sebagai jalur pengantaran logistik. Pengunjung bisa membayangkan perjuangan masyarakat dahulu untuk saling membantu.

Janjang Koto Gadang menghubungkan kawasan Bukittinggi dan Agam. Dilongok dari situs resmi Pemerintah Sumatera Barat, objek baru ini menambah ikon bagi pariwisata di Sumatera Barat. Tembok Bukittinggi atau Great Wall ala Sumatera Barat ini, karena menghubungkan dua tempat, maka ada dua pintu masuk bagi wisatawan yang ingin menapakkan kaki di tembok raksasa kecil ini.

Tembok Bukittinggi merupakan trek yang cukup panjang, sekitar 1,5 kilometer, dan menghubungkan dua spot wisata di Sumatera Barat.
Jalur mendaki dari Tembok Bukittinggi. Foto: Dok. TLTembok Bukittinggi

Dari Bukittinggi, wisatawan bisa masuk lewat pintu yang letaknya tak jauh dari Lobang Jepang. Dari sana, wisatawan akan melalui jalan yang menurun. Sebaliknya, jika memilih memulai perjalanan dari sisi Ngarai Sihanok, maka jalanan cenderung agak mendaki. Begitupun, trek ini tetap berkontur naik turun. Sesuai kontur daerah tersebut.

Jalur trekking yang dilewati jelas tidaklah landai, melainkan berkontur naik dan turun dengan ribuan anak tangga. Walau begitu terdapat dua pilihan trek yaitu trek menurun yang dimulai dari pintu Goa Jepang, dan trek berkelok dan sempit jika ditempuh dari Ngarai Sianok.

Untuk menikmati wisata Great Wall of Bukittinggi, wisatawan tidak dikenai tiket masuk. Namun jika membawa kendaraan pribadi, ada biaya parkir.

Wisatawan memulai perjalanan dari mulut Goa Jepang, keluar dari gua, dan berjalan sepanjang 300 meter menuju tangga pertama Tembok Besar Bukittinggi. Terbuat dari batako, sepanjang kanan-kiri tembok dipenuhi pemandangan indah lembah Ngarai Sianok.

Siap-siap terpana dengan pemandangan yang disuguhkan. Mata pengunjung akan segera dihadapkan dengan kemegahan Ngarai Sianok, persawahan dan tebing-tebing gahar. Jangan sia-siakan kesempatan untuk mengabadikan momen lewat jepretan lensa kamera. Berposelah layaknya berada di Tembok Besar Cina. Cari spot yang mirip-mirip. Pengambilan jarak jauh perlu dipertimbangkan dengan latar belakang tembok yang meliuk-liuk.

adli hadiyan munif IRT hol0XUA unsplash
Tembok Bukittinggi juga memberi spot untuk melihat jam Gadang di Kota Bukittinggi. Foto: Dok. unspalash

Sepanjang lintasan pengunjung disuguhkan hijaunya pemandangan alam. Penampakan Jam Gadang akan terlihat saat pengunjung berada di puncak lintasan. Pengunjung juga dapat melihat Taman Panorama di bukit seberang. Di akhir lintasan, pengunjung akan berdiri di tengah lembah tempat mengalirnya Batang Sianok.

Selain treking, di sana juga ada jembatan gantung dan anak tangga yang tinggi. Beberapa titik pun disiapkan pos-pos pemberhentian. Selain untuk tempat beristirahat, pos-pos ini juga bisa dipakai menikmati pemandangan sungai, sawah, dan tebing.

Wisatawan perlu memiliki stamina kuat untuk menjelajahi tempat ini. Jika ingin menuntaskan perjalanan Janjang Koto Gadang ini, sebaiknya pengunjung menyiapkan air minum. Jarak tempuh sejauh 1,5 kilometer ini akan membuat tenggorokan kering kehausan. Dan ingat, tak ada orang berjualan di dalam trek.

Menariknya, objek wisata ini dikelilingi tebing terkenal yaitu Ngarai Sianok dengan pemandangan alam yang indah. Selain itu udara di kawasan ini juga cukup segar sehingga cocok untuk melepas penat dan berjalan-jalan.

Keasrian dan kesan alami masih terjaga di sekitar kawasan wisata. Tidak jarang satwa liar menghampiri pengunjung. Para kera ekor panjang sering beratraksi dan mencuri perhatian pengunjung. Kera-kera ini kerap berlari dan bergelantungan ke pohon jika didekati para pengunjung. Begitupun pengunjung tetap harus hati-hati.

agendaIndonesia

*****

Tanjungpinang, Antara Kesultanan Melayu dan Wisata Religi

Vihara Avalokitesvara

Terdapat sekitar 2.408 pulau besar dan kecil di Provinsi Kepulauan Riau. Hanya saja, yang paling dikenal adalah Pulau Batam dan Pulau Bintan. Adapun Pulau Bintan adalah tempat Kota Tanjungpinang berada. Dengan budaya Melayunya yang kental, di sini wisatawan bisa mengenal lebih dekat kesultanan Melayu, mengunjungi vihara unik, dan tentunya menikmati keindahan pantai Pulau Bintan. 

Tanjungpinang dan kesultanan Melayu

Sejarah Kesultanan Melayu bisa didapat bila pelancong singgah ke Pulau Penyengat yang bisa dicapai hanya 15 menit perjalanan dengan perahu dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjungpinang. Di pulau berukuran 3,2 kilometer persegi ini, wisatawan bisa menelusuri sejarah Kesultanan Melayu karena pada abad ke-18 merupakan pusat Kesultanan Johor-Riau. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Raya Sultan Riau. Selain itu, ada beberapa peninggalan lain, seperti tempat pemandian Perigi Puteri, gudang mesiu, makam raja, rumah-rumah asli, dan meriam di Bukit Kursi. 

Ketika kembali ke Tanjung Pinang, terdapat tempat ibadah umat Budha yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Vihara Avalokitesvara Graha yang berada di jalur Tanjung Pinang-Uban. Vihara itu disebut-sebut sebagai vihara terbesar se-Asia Tenggara. Di bagian dalamnya, ada patung Dewi Kuan Yin dengan tinggi 16,8 meter yang berlapis emas 22 karat. Selain itu, ada sejumlah wihara lain yang unik. Misalnya, Vihara Patung Seribu yang memiliki 1.000 patung Budha dengan ekspresi dan gaya yang berbeda-beda.

Saat perut keroncongan, ada beragam sajian khas kota ini, seperti gonggong, sup ikan, ikan asam pedas, nasi lemak, hingga mi lendir, mi kuning basah yang diguyur dengan kuah kacang encer. Adapun bila ingin bersantai, ada deretan kedai kopi yang biasa dijadikan tempat nongkrong oleh warga. 

Malam hari, bisa Anda habiskan untuk menikmati pantai dan hembusan angin laut. Tanjungpinang memiliki garis pantai yang cukup panjang, dan yang menarik adalah pesisir timurnya. Dari mulai Pantai Trikora, pantai yang berpasir putih dengan hiasan batu-batu granit. Selain itu, ada sejumlah akomodasi bagi wisatawan yang ingin mencecap suasana lebih lama dan nyaman.Melangkah lebih jauh lagi atau sekitar 65 kilometer dari Tanjung Pinang, ada Pantai Lagoi yang dipenuhi resor dan hotel berbintang. Akomodasi dan sarananya lengkap, bahkan terdapat lapangan golf. Kawasan wisata di Kabupaten Bintan ini digandrungi turis Korea, Cina, Jepang, dan Singapura. Bagi warga dari Negeri Jiran, Malaysia, dapat mencapainya lebih cepat dengan kapal feri khusus dari Tanah Merah, Singapura, dengan jumlah keberangkatan empat kali dalam sehari. l

F. Rossana

Indahnya 1.000 Batuan di Pantai Ranai

Batuan di Pantai Ranai, Natuna

Menjelajahi Natuna, di Provinsi Kepulauan Riau, mungkin banyak yang belum tertarik. Pilihan terbangnya pun harus dari Jakarta ke Batam atau ke Tanjungpinang, baru lanjut ke Natuna. Jika mengunjunginya, sempatkan mampir ke Pantai Ranai.

Pantai Ranai di Pulau Bunguran

Kabupaten merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara dan mempunyai potensi wisata berlimpah, selain potensi perikanan dan migasnya. 

Terdiri atas 272 pulau dan merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Tujuh, Natuna memiliki pilihan beragam untuk wisata bahari. Namun bila cuaca sedang tidak bersahabat atau Anda hanya memiliki waktu pendek, berkeliling di Pulau Bunguran, tempat Ibu Kota Kabupaten Natuna berada, pun tetap menyenangkan. Di sana ada beberapa titik di seputar Ranai yang menarik untuk disinggahi. 

Batu-batu kecil dan besar yang bertaburan di tepian pantai menjadi ciri dari pantai-pantai seputar Ranai. Salah satu lokasi yang tidak jauh dari pusat Kota Ranai adalah Batu Sindu. Untuk bisa melihat bebatuan yang berserakan di bagian bawah atau di dekat tebing, Anda harus menaiki Bukit Senubing. Di sana Anda akan melihat bebatuan dengan ukuran dan bentukyang berbeda-beda, serta terlihat unik. Selain itu, batuan tidak hanya berada di bagian bawah, tapi juga bertebaran di perbukitannya. 

Tidak jauh dari Batu Sindu, masih ada keindahan bebatuan lain yang lebih tertata dan diberi label Alif Stone Park. Bahkan, ada juga homestay bagi Anda yang ingin menginap di sini. Lokasinya di Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, dari Ranai sekitar 7 kilometer atau bisa dicapai dalam 10 menit. Di lokasi favorit untuk selfie atau wefie bagi kebanyakan wisatawan ini, Anda bisa menikmati laut dan bebatuan yang bertebaran. 

Setelah Alif Stone Park, sekitar 4 kilometer bisa ditemukan objek wisata lain, yakni Pantai Tanjung. Pantai ini menjadi tujuan favorit penduduk Ranai menghabiskan akhir pekan. Pantai panjang berpasir putih itu biasanya memang hanya ramai pada Sabtu dan Minggu. Namun di hari biasa pun, sebagian kedai yang berada di sepanjang pantai tetap buka. Jadi, wisatawan bisa mampir, duduk, dan bersantap, sembari menatap Pulau Senoa dari kejauhan. Pulau Senoa dikenal yang dengan bentuknya seperti ibu hamil itu, bisa dicapai dengan perahu cepat sekitar 15 menit. Pulau tersebut memiliki pasir putih dan spot untuk snorkeling maupun menyelam.

Saat duduk-duduk di Pantai Tanjung ini, jangan lupa mencicipi camilan khas lokal yang bernama kernas. Kernas terbuat dari ikan tongkol dengan sagu dan ada benjolan putih dari bahan sagu. Sehingga sekilas terlihat mirip onde-onde, hanya saja bentuknya gepeng dan berwarna cokelat tua. Kernas yang dicocol sambel rasanya gurih dan pedas. Apalagi kalau masih panas, sedap rasanya. 

Sore atau pagi hari, ada pilihan pantai juga di tengah kota. Pantai Kencana dengan taman di depannya, bisa menjadi pilihan saat duduk-duduk di sore hari atau jalan di pagi hari sembari menghirup udara segar. Selain ini, tentunya masih banyak pilihan objek wisata meski lokasinya lebih jauh dari pusat kota. 

Dolan Ke Natuna, 272 Pulau Eksotis

Dolan ke Natuna bia menjadi alternatif liburan bagi pecinta wisata bahari.

Dolan ke Natuna hampir pasti masih jauh dari bayangan para pelancong Indonesia. Persepsi kebanyakan orang Indonesia, kawasan Natuna adalah kepulauan nun jauh di Utara negri ini. Persepsi yang tak terlalu meleset, meskipun sesungguhnya kawasan ini memiliki banyak spot wisata menarik.

Dolan Ke Natuna

Sampai saat ini, Pulau Natuna masih menjadi salah satu destinasi pulau terluar Indonesia. Banyak orang tahu soal keindahan alamnya. Sebagai bagian dari Provinsi Kepulauan Riau yang berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan, Pulau Natuna memiliki destinasi wisata yang eksotis. 

Jika ingin menikmati wisata pantai, wisatawan mungkin mulai bisa mengagendakan waktunya untuk bisa dolan ke Natuna dan mengunjungi Pantai Teluk Buton atau Pantai Sahi di Pulau Natuna.

Pantai Camaga di Kepulauan Natuna menjadi salah satu dari 272 pulau eksotis Natuna.

Masih seputar menikmati wisata bahari, saat dolan ke Natuna pelancong juga bisa melakukan island hopping, dari pulau ke pulau. Mereka bisa mengunjungi Pulau Senua yang terkenal dengan pusat konservasi penyu dan wisata edukasi.

Selain menikmati pemandangan pantai yang indah, di pulau ini pelancong juga berkesempatan snorkeling melihat ratusan terumbu karang yang masih terjaga dengan baik.

Kabupaten Natuna memangterkenal dengan sejumlah tempat wisata yang mempesona dan menakjubkan, lengkap dengan sumber daya alam melimpah. Wisatawan yang ingin liburan, bisa masukan Natuna sebagai salah satu pilihan dalam daftar rencana. Di sana, wisatawan bisa menikmati bukit kapur hingga pantai yang indah.

Natuna sering dibayangkan seperti pulau tersendiri yang terpencil jauh dari pulau-pulau lain. Letaknya di antara Kalimantan dan Sumatera, tetapi memang jauh di utara. Berbagai cerita tentang pulau ini melintas di berbagai zaman.

Cerita itu mulai dari kisah diakuinya pulau ini sebagai wilayah Indonesia, lalu soal minyak dan gas alam yang berlimpah, hingga kisah sejumlah negara asing untuk mengambil alih pulau ini. Natuna sendiri sesungguhnya adalah sebuah kepulauan. Jumlah pulaunya ada 272. Bayangkan, ada berapa pantai eksotis di tengah Laut China Selatan ini.

Tanjung Datuk di Natuna bisa dukunjungi saat dolan ke Natuna.


Untuk dolan ke Natuna, pelancong bisa berangkat dari Jakarta dengan penerbangan. Sayangnya, tidak ada penerbangan komersial yang langsung, semua harus transit di Bandara Hang Nadiem di Batam sehingga total penerbangan bisa 4-6 jam. Dari Batam baru terbang menuju Bandara Ranai di Natuna.


Kebanyakan warga Natuna adalah masyarakat Melayu. Salah satu makanan yang khas adalah kerang yang dimakan dengan sambal calok—cabai dan irisan udang yang superpedas. Uniknya, ada beberapa angkringan ala Jawa di Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna. Malam-malam, orang-orang banyak berkumpul di warung dan disko dangdut.

Kabupaten Natuna yang memiliki pusat kota di Ranai yang terletak di Pulau Natuna Besar memiliki keunikan dan menjadi daya tarik pariwisata, yaitu wisata bahari. Tentunya kegiatan wisata seperti snorkeling, diving hingga berenang sangat dinantikan wisatawan jika berkunjung ke Natuna.

Kendati pun demikian, ada baiknya wisatawan tahu kapan waktu terbaik untuk berkunjung ke Natuna. Pemerintah Kabupaten Natuna merekomendasikan bulan Maret sampai Oktober sebagai waktu yang tepat untuk dolan ke Natuna. Saat-saat bulan seperti ini, cuaca lagi bagus-bagusnya di Natuna.


Jika waktu liburannya pendek, dan tak memungkinkan island hoping, wisatawan bisa mengunjungi sejumlah tempat di sekitar Ranai. Misalnya, Tanjung Senubing dan Bukit Kapur.

Seperti kota-kota di pinggir pantai, tepi jalan di luar Kota Ranai diwarnai dengan pohon-pohon kelapa. Bayangan pasir putih yang indah dengan pantai yang bersih, namun ada yang unik.

Batu-batu andesit di sepanjang jalan dan pantai di Natuna.

Sepanjang jalan banyak batu-batu andesit superbesar. Beberapa bahkan lebih tinggi dari empat meter. Mobil lalu berbelok ke arah pantai. Pasir pantai itu memang putih, tetapi yang menarik adalah batu-batunya.

Tanjung Senubing memiliki pemandangan yang asyik. Lokasinya terletak di pantai timur Ranai, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna. Tempat ini menawarkan pemandangan batu-batu purba berukuran besar, dan goa yang terbentuk dari susunan bebatuan, serta dipadu dengan bentangan laut biru.

Dengan hamparan batu yang unik dan menarik, Tanjung Senubing cocok untuk dijadikan tempat berfoto yang instagramable. Salah satu spotnya adalah Batu Sindu yang melegenda di kalangan masyarakat.


Pilihan lainnya adalah Bukit Kapur yang terletak di bawah kaki Gunung Ranai tepatnya di Desa Ceruk, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna. Berada di ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut (mdpl), Bukit Kapur menawarkan keindahan hutan yang hijau dan memandangi wilayah Natuna dari ketinggian.

Bukit Kapur memiliki pemandangan indah dan pepohonan pinus. Di sana tersedia balkon dan jembatan kayu yang sangat cocok dijadikan sebagai latar foto. Medan trek di Bukit Kapur cukup menantang dan sangat cocok untuk aktivitas outdoor seperti bersepeda. Di sini juga tersedia warung-warung makan, sehingga pengunjung dapat mengisi perut ketika lapar.


Masih ada banyak spot wisata di Natuna, jadi rasanya sekali-kali agendakan liburan dengan dolan ke Natuna.

agendaIndonesia

****






Glamping, Wisata Kemah Cantik

glam 4 IMG 20190803 WA0003

Kini orang menikmati glamping. Kemah cantik yang tidak perlu membawa perlengkapan berkemah bahkan tidur pun di kasur empuk.

Malam sudah larut saat Rufaida, berangkat berkemah. Ia meluncur menuju Gadog, Bogor. Perjalanan kemahnya kali ini berbeda. Wanita yang akrab dipanggil Cobi ini pernah menginjakkan kaki di beberapa gunung atau membuka kemah di dataran tinggi di Indonesia. Biasanya ia membawa ransel besar berisi segala perlengkapan. Kali ini, ia cukup membawa ransel daypack-nya. Rupanya ia ingin “camping cantik”. 

 “Maksudnya aku pengin refreshingdi alam, menginap di tenda, tapi enggak mau susah. Enggak perlu bawa tenda, logistik, makanan, dan lain-lain. Pokoknya bawa badan saja. Dan satu lagi, nyaman selama camping,” ujarnya. 

Glamping di Gunung Geulis

Bogor hanya 45 menit dari Jakarta. Ditambah sekitar setengah jam perjalanan, ia dan tiga temannya sudah tiba di Gunung Geulis Campsite. Di sebuah tenda terpal, telah terpasang empat tempat tidur. Di atasnya, ada kasur empuk beserta bantal dan selimut. Kamar mandi bersih pun tersedia. Ia pun tidak perlu menyiapkan senter untuk penerangan. Ada lampu listrik yang membuat tenda terang-benderang. Malam itu, ia langsung rebah tanpa perlu susah payah mendirikan tenda seperti yang biasa ia lakukan. “Ha-ha-ha…ini asyiknya glamping,” katanya. 

glmap 2 IMG 20190803 WA0195

Istilahglamping atau glamorous campingpertama kali dikenal pada 2005 di Inggris. Namun konsep kemah mewah seperti ini bukan hal yang benar-benar baru. Sebab, hal itu telah dilakukan raja-raja dan bangsawan pada zaman dahulu. Pada abad ke-16, Duke of Atholl dari Skotlandia melakukan perjalanan glampingdi Highland untuk mengunjungi Raja James V dan ibunya. Rombongan Duke mengangkut tenda-tenda mewah dan mengisinya dengan segala keperluan seperti di istana. Pada periode yang sama, Kesultanan Ottoman juga memiliki tenda mewah dan megah yang dibawa dari satu misi militer ke misi berikutnya. Sultan memiliki tim yang bepergian bersama tentara untuk mendirikan serta memelihara tenda-tenda ini. 

Kini konsep akomodasi glamping sudah menyebar ke seluruh dunia. Di Indonesia, lokasi-lokasi yang selama ini terkenal dengan daerah wisata alamnya juga terdapat fasilitas ini, seperti Bali, Lombok, Bogor, juga Sukabumi. Dengan glamping, orang bisa berkemah dengan nyaman. Alas tidur bukan lagi selembar alas berlapis kantong tidur, tapi kasur empuk. Untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus, tersedia kamar mandi yang bersih dengan pilihan air hangat. Bayangkan, betapa sulitnya mencari keberadaan air atau tempat buang air dan hajat ketika tengah berkemah. Bahkan tak jarang membutuhkan perjuangan karena lokasinya yang jauh dari kemah serta cuaca dan air yang dingin. Belum lagi, orang kerap harus mencari semak atau menggali lubang untuk buang air. Uggghh…!

IMG 20190803 WA0042
Gambaran kamar mandi dalam tenda.

Untuk makan, peserta glampingtidak perlu repot membeli bahan makanan serta memasaknya. Pengelola akan menyiapkan makanan sehingga tamu lebih leluasa menikmati alam dan pemandangan sekitarnya. Bahkan di beberapa tempat glamping, tamu dapat memesan menu tertentu. 

Selain itu, pihak operator menawarkan beragam aktivitas. Ada harga, ada rupa. Biaya glamping bervariasi, mulai Rp 800 ribu hingga Rp 5 juta per tenda. Harga itu bisa bertambah jika tamu ingin menambah fasilitas atau kegiatan. Rasanya biaya itu sebanding dengan kenyamanan menikmati alam bebas tanpa perlu repot. Kemah yes, repot no….! l Ika Candra

Di Mana Bisa Glamping?

  1. Legok Kondang Lodge

Dikelilingi hutan pinus, lokasi Legok Kondang Lodge berada di Ciwidey, Bandung. Tersedia tenda berkapasitas 2-8 orang dengan fasilitas kamar mandi di dalam, air hangat, juga TV kabel. Biaya mulai Rp 1,2 juta untuk kapasitas empat orang hingga Rp 2,2 juta untuk delapan orang. Ada juga tenda untuk dua orang bertarif Rp 1,9 juta. Biaya tersebut sudah termasuk sarapan serta kopi atau teh gratis selama 24 jam. Selain itu, tersedia aktivitas tambahan, seperti barbequepaintballtrekking, tur Kawah Putih, dan arung jeram.

  • Sandat Glamping Tents

Berlokasi tiga kilometer dari Ubud, Bali, tenda mewah Sandat dilengkapi dengan kolam renang pribadi dan fasilitas lain, seperti bar serta restoran. Harga per kamar mulai Rp 3,6 juta per malam. Selain itu, tersedia fasilitas yoga, relaksasi, serta meditasi. 

  • Tanakita

Tanakita Camping Groud terletak di depan Taman Nasional Gede Pangrango, Kadudampit, Cisaat, Sukabumi, dengan ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Tenda dilengkapi fasilitas kamar mandi dengan air panas, alas lantai, kasur dan bantal, sleeping bags, serta stop kontak untuk charger. Biayanya sekitar Rp 550 ribu per orang untuk satu malam. Harga itu sudah termasuk makan. Selain bermain flying foxdan berwisata ke danau, pengunjung bisa melakukan river tubing.

  • Gunung Geulis Campsite (GGC)

Lokasinya di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut di wilayah Gunung Geulis, Gadog, Bogor, dengan luas sekitar dua hektare. Pemandangan Gunung Salak menjadi daya tarik, selain kehadiran kolam renang yang tersedia di tempat ini. Tenda Halimun memiliki empat kasur dan kamar mandi di dalam. Untuk menikmati tenda ini, Anda perlu merogoh kocek Rp 500 ribu per malam. Pihak operator juga menawarkan berbagai kegiatan outbound.

  • Glamping Gunung Pancar

Lokasi dengan suasana hutan pinus ini tidak jauh dari Jakarta, yaitu di Sentul, Bogor. Tenda dilengkapi dengan alas lantai, kasur dan bantal, serta stop kontak. Pengelola juga menawarkan berbagai kegiatan luar ruang dan wisata ke curug. Glamping di Gunung Pancar dibanderol mulai Rp 385 per orang untuk satu malam dan sudah termasuk makan.  

Ika Candra 

*****

Wisata Perut Bumi, Ini 10 Yang Keren

Wisata perut bumi atau menjelajah gua bisa menjadi pilihan wisata.

Wisata perut bumi atau juga dikenal sebagai caving atau jelajah gua layak menjadi pilihan bagi pelancong yang punya jiwa petualang. Pesona alam Indonesia memang tak diragukan lagi. Tak hanya di permukaan tanah, keindahan alam nusantara juga tampak hingga “perut bumi”, alias ke dalam gua-gua.

Wisata Perut Bumi

Di Indonesia terdapat banyak gua yang terbentuk secara alami, bahkan menyimpan banyak sejarah di dalamnya. Karena itu, wisata perut bumi atau jelajah gua bisa menjadi alternatif liburan seru. Khususnya bagi para pelancong yang hobi memacu adrenalin.

Ada beberapa gua di Indonesia yang bisa dimasuki dengan cara trekking melalui tangga dan batuan terjal, menyusuri sungai di dalam gua, hingga menggunakan bantuan tali untuk masuk ke dalam mulut gua. Semua asyik buat wisata perut bumi. Bahkan mungkin untuk yang tak terlalu suka berpetualang.

Berikut ini ada 10 gua di Indonesia yang bisa dicoba untuk wisata perut bumi dan mencoba sensasi liburan berbeda.

Gua Jomblang, Gunug Kidul, Yogyakarta

Wisata gua yang pertama berada di Gunungkidul, Yogyakarta, yakni Gua Jomblang. Daya tarik utama dari gua ini adalah Cahaya Surga, yakni sorot cahaya matahari yang masuk ke dalam gua melalui lubang besar setinggi 90 meter. 

Untuk menyaksikan langsung keindahan tersebut, wisatan harus turun ke mulut gua dari ketinggian 15-20 meter dengan bantuan tali, lalu menyusuri gua menuju titik Cahaya Surga. Para pelancong akan dipandu ahli untuk memastikan keamanan saat masuk ke dalam Gua Jomblang.

Wisata pertu bumi e gua Beloyot
Gua Beloyot di kawasan Dusun Merabu village Kalimantan Utara. Foto: shutterstock

Gua Pindul, Gunung Kidul, Yogya

Masih berada di daerah Gunung Kidul, destinasi wisata gua di Indonesia lainnya yang menarik untuk disusuri adalah Gua Pindul. Aktivitas seru yang bisa wisatwan lakukan di gua ini adalah susur sungai atau river tubing, yakni menggunakan ban dalam truk. Pasalnya, di Gua Pindul terdapat aliran sungai bawah tanah sepanjang 350 meter. Untuk menyusuri gua wisatan harus bersabar masuk satu per satu, atau mengikuti arahan dari pemandu wisata. 

Gua Cokro, Gunung Kidul, Yogya

Satu lagi hidden gem di Gunung Kidul, yakni wisata Gua Cokro. Daya tarik dari gua ini adalah ornamen yang terdapat pada dinding gua yang terbentuk secara alami. Uniknya, ornamen tersebut seakan membentuk tirai dan menyerupai keris. Stalaktit dan stalakmit yang indah juga bisa kita lihat saat menyusuri gua dengan kedalaman 18 meter ini. 

Gua Gong, Pacitan

Bergeser ke Timur, wisata perut bumi selanjutnya adalah Gua Gong, di Pacitan, Jawa Timur. Nama gua tersebut tercipta bukan tanpa alasan. Nama ini muncul karena ada suara seperti gong saat stalakmit dan stalagmit di gua dipukul. Saat melakukan susur gua, wisatawan juga bisa menikmati cahaya warna-warni yang berpendar di dalam gua.

Gua Beloyot, Berau

Terletak di Kampung Merabu, Berau, Kalimantan Timur, Gua Beloyot konon sudah ada sejak 10 ribu tahun silam. Di dalam gua ini, wisatawan bisa menemukan beberapa peninggalan prasejarah berupa lukisan manusia purba yang menceritakan aktivitas berburu, dan jiplakan tangan manusia purba. Untuk mencapai Gua Beloyot pengunjung harus menyusuri hutan rimbun yang masih asri sejauh 5,5 kilometer dari Kampung Merabu. 

Gua Pangkep, Maros

Berbeda halnya dengan wisata perut bumi pada umumnya, Gua Pangkep menawarkan sekumpulan gua yang berdekatan. Wisata gua ini membentang dari Kabupaten Maros hingga Pangkep, tepatnya di kawasan Karst, Sulawesi Selatan. Dengan luas keseluruhan sekitar 43 hektare, yang terdiri dari 268 gua di dalamnya. Menariknya, 50 gua di antaranya termasuk gua prasejarah. Karena ditemukan bekas makanan manusia purba hingga lukisan kuno. 

Gua Cermin Kemenparekraf
Gua Cermin di Labuan Bajo, NTT. Foto: Kemenparekraf

Gua Batu Cermin, Labuhan Bajo 

Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur juga memiliki wisata gua yang menyimpan sejuta pesona, yakni Gua Batu Cermin. Gua ini seperti kolam yang terbentuk secara alami, akibat permukaan air laut yang surut. Tak heran kalau di dalam gua tersimpan beberapa fosil koral. Mulai dari penyu, kura-kura, dan berbagai jenis ikan. Saat menjelajahi gua, wisatawan akan menemukan stalaktit dan stalakmit yang masih sangat alami dan terjaga keindahannya.

Gua Londa, Toraja Utara

Wisata susur gua di Indonesia yang cukup unik bisa wisatawan dapati di Gua Londa, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Di dalam gua kita bisa menyaksikan langsung peti-peti jenazah dan tulang belulang para leluhur yang dimakamkan di dinding gua. Untuk memasuki gua, Sobat Parekraf harus dipandu warga lokal atau guide. Karena gua ini mempunyai lorong sempit, batuan terjal, dan cukup licin. 

Gua Ergendang, Deli Serdang

Tidak boleh ketinggalan, destinasi wisata gua selanjutnya adalah Gua Ergendang. Gua ini berada di Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hilir, Deli Serdang, Sumatera Utara. Di tengah gua terdapat kolam pemandian air panas yang bisa digunakan wisatawan untuk berendam maupun berenang, sambil melihat stalaktit dan stalakmit yang menghiasi langit gua. Keindahan makin bertambah, berkat adanya pantulan sinar matahari yang masuk ke dalam gua. 

Gua Lokale, Lembah Baliem

Di Tanah Papua juga memiliki wisata gua yang patut ditelusuri, salah satu Gua Lokale di Lembah Baliem, Jayawijaya. Gua ini disebut sebagai gua tak berujung, karena arkeolog baru mencapai kedalaman gua sejauh 3 kilometer, sehingga mungkin saja panjangnya lebih dalam lagi. Di dalam gua ada beberapa dinding berongga, ketika kita ketuk maka akan mengeluarkan suara cukup unik. Berada di kawasan hutan pinus, udara di Gua Lokale dikenal sangat sejuk dan asri.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****