Pantai Bebatuan di Belitung yang Elok

belitung 1 original FN2015050802

Pantai bebatuan di Belitung memang elok. Kumpulan bebatuan di pantai-pantai yang berada di seputar Pulau Belitung tampaknya sudah tak asing lagi bagi kebanyakan penyuka wisata negeri ini.

Pantai Bebatuan di Belitung

Pulau yang berada di Provinsi Bangka Belitung ini memang memiliki ciri khas batuan granit dengan bentuk yang berbeda-beda dan memberi keindahan tersendiri di daerah pesisir.

Hal itu tak hanya membuat turis menatap hamparan laut dan pasir putihnya, tapi juga menemukan bebatuan eksotis yang membuat foto perjalanan makin terlihat keren.Tentunya, tak hanya satu atau dua pantai yang bisa dijejaki setelah wisatawan mendarat di Bandar Udara (Bandara) Internasional H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Pilihan begitu beragam dari ujung utara, selatan, sampai ke barat.

Di sekitar Tanjung Pandan memang menjadi pilihan paling melimpah dan Pantai Tanjung Tinggi yang berada di sisi utara menjadi yang banyak diburu. Objek tersebut naik daun karena menjadi lokasi pengambilan film Laskar Pelangi. Berciri batu granit superbesar di pantai berpasir putihnyadengan ombak yang tak terlalu besar. Ada pula Pantai Tanjung Kelayang dengankomposisi bebatuan yang unik, di sinilah tempat bagi yang ingin menyelam, snorkeling, memancing, atau sekadar menikmati laut.

belitung 2 original FN2015050805
Pantai bebatuan di Belitung, tepatnya di Pulau lengkuas, nyaman direnangi wisatawan Frannoto/Travelounge

Tentu tak ketinggalan Pulau Lengkuas dengan ciri mercusuarnya. Menara tersebut dibuat pada 1882, bagian atasnya bisa digunakan untukmemandang pulau-pulau di sekitar Belitung dari ketinggian. Satu lagi, bagi yang ingin menikmati keindahan mentari tenggelam di atas pasir putih adalah Pantai Bukit Berahu. Berada di balik bukit, untuk mencapainya harus menuruni 97 tangga, tak jauh di dekatnya ada resto dan bungalow.

Di pusat kota sensasi mentari tenggelampun bisa dirasakan saat berada di Pantai Tanjung Pendam, pantai berpasir hitam dengan sejumlah restoran di sekitarnya. Jadi, setelah menikmati langit bergurat kemerahan, bisa dilanjutkan mencicipi menu berbahan ikan laut. Tentunya, diiringi musik yang menghangatkan suasana.

Hari berikutnya setelah menikmati secangkir kopi dan rekannya, Anda bisa menyusuri wilayah timur jika masih ingin berburu daerah pesisir. Belitung Timur, bisa dicapai dengan perjalanan sekitar satu jam dengan kendaraan roda empat. Pilihannya berupa Pantai Burung Mandi dengan garis pantai hingga 1,5 kilometer. Kemudian Pantai Bukit Batu, Pantai Nyiur Melambai, serta Pantai Serdang di Kecamatan Mangar. Rata-rata pantai ini sepi, tak seperti pantai-pantai yang berada di Tanjung Pandan.

Melipir ke wilayah selatan, ada juga Pantai Punai di Kecamatan Simpang Sesak dan Pantai Penyabong di Kecamatan Membalong. Jadi, pilihan menikmati pantai itu tak hanya di seputar Tanjung Pandan. Selain pantai, tentu jangan lewatkan juga seduhan kopinya, baik kopi hitam maupun kopi susu.

*****

PENERBANGAN (Jadwal bisa berubah sesuai maskapai)

Garuda Indonesia. Memiliki jadwal penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta per hari sebanyak dua kali, yakni pukul 06.45 dan 13.50. Penerbangan berlangsung selama 70 menit. Sementara dari Bandara Internasional H.A.S.Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, dalam frekuensi yang sama, dengan jadwal pukul 08.50 dan 16.30. 

Citilink. Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, jadwal penerbangan Citilink ke Tanjung Pandan hanya sekali yakni pukul 05.55. Jadwal pagi ini cocok bagi turis yang langsung memulai eksplorasi di Belitung dari pagi hari. Sementara penerbangan ke Cengkareng, Tangerang, Banten, dijadwalkan pukul 07.30. 

Sriwijaya Air. Pilihan waktu penerbanganmaskapai Sriwijaya Air dari bandara di Cengkareng ini cukup banyak, yakni pukul 06.20, 07.20,11.35, 14.50,dan 15.10. Demikian juga untuk arah sebaliknya. Lama penerbangan berlangsung satu jam.

Raja Ampat 1 Rute Menuju Waisai

Raja Ampat shutterstock 586062845 1

Raja Ampat 1 rute menuju Waisai. Itu guyonan para pecinta diving yang menuju ke Raja Amat. Tentu saja aslinya, Waisai adalah ibukota dari Kabupaten Taja Ampat, Papua Barat. Terutama jika pengunjung menggunakan layanan transportasi udara saat menuju Raja Ampat.

Dengan penerbangan, wisatawan bisa terbang dari Jakarta, Denpasar di Bali, atau dari Makassar menuju Sorong, ibukota Papua Barat. Dari sana dengan penerbangan perintis ke Waisai, sebelum menggunakan kapal menuju spot selam Raja Ampat.

Raja Ampat 1 Rute Menuju Waisai

Kumpulan pulau-pulau kecil Raja Ampat, Papua Barat, sudah tenar seantero dunia. Kawasan yang indah dipandang mata ditambah keindahan bawah laut pun diburu para wisatawan, baik lokal maupun luar negeri. Bagaimana tidak, dari hasil penelitian, sekitar 75 persen dari spesies laut dunia tinggal di perairan kabupaten ini. Raja Ampat merupakan rumah bagi 540 jenis karang dan 1.511 spesies ikan. Jelas semuanya menggoda para penyelam atau pencinta dunia laut. 

Sejumlah jalur pun dibuka demi mencapai destinasi ini serta menarik minat turis untuk datang. Sebelumnya, turis hanya mempunyai pilihan untuk terbang ke Sorong, ibu kota provinsi Papua Barat, baru melanjutkan perjalanan laut ke Raja Ampat. Ada sejumlah maskapai yang melayani rute dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandar Udara Domine Eduard Osok di Sorong, yakni Sriwijaya Air, NAM Air, Express Air, Lion Air, Batik Air, juga Garuda Indonesia. 

Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berlayar dari Pelabuhan Sorong menuju Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat, yang berada di Pulau Waigeo Selatan. Ada empat pulau besar yang berada di daerah administratif Raja Ampat, yaitu Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool. 

Pilihan transportasi laut berupa kapal cepat atau feri ekspres yang dijadwalkan dua kali dalam sehari setiap Senin, Rabu, serta Jumat. Waktu keberangkatannya pukul 09.00 dan 14.00. Di luar tiga hari tersebut, hanya ada satu waktu perjalanan, yakni pukul 14.00. Waktu tempuh sekitar dua jam, sedangkan tarifnya Rp 130-220 ribu. Pilihan lain adalah kapal lambat yang pelayarannya mencapai empat jam. Jadwalnya setiap hari sekali dengan tarif Rp 140 ribu. 

Raja Ampat 1 rute menuju Waisai
Raja Ampat salah satu destinasi selam terbaik di dunia.

Dari Sorong pun, sebenarnya bisa juga melanjutkan perjalanan lewat udara menuju Bandar Udara Marinda, Waisai, Raja Ampat. Tak hanya didarati pesawat yang terbang dari beberapa kota di Pulau Papua, bandara ini juga kini sudah memiliki rute ke kota lain di luar pulau, yakni rute dari dan ke Manado mulai Desember lalu. Jadi, setelah menikmati pulau-pulau di sekitar Manado, wisatawan bisa melanjutkan menikmati keindahan bawah laut Raja Ampat dengan sebuah penerbangan langsung. Rute ini dilayani oleh Wings Air. 

Kehadiran Wings Air menambah daftar maskapai yang mendarat di bandara yang memiliki panjang 1.400 meter dengan lebar 30 meter, taxiway80 meter x 18 meter, dan apron. Ditambah satu gedung terminalnya seluas 420 meter persegi. Setelah sebelumnya, Susi Air lebih dulu melayani rute Sorong-Waisai dua kali seminggu.

Di kabupaten ini, turis pun bisa menjelajah Selat Dampir, Pulau Pensil, Gua Karang—tempat ditemukan tengkorak makam leluhur Raja Ampat, atau langsung ke Kepulauan Wayag.  Kepulauan Wayag merupakan ikon Raja Ampat yang terdiri atas beberapa pulau kecil yang terlihat indah. Setiap akhir tahun, di tempat ini, turis dapat melihat fenomena alam unik di bagian timur Pulau Waigeo, tepatnya di depan Desa Urbinasopen dan Yesner. Berupa sinar yang muncul dari laut serta mengitari permukaannya selama 10-18 menit. Penduduk setempat menyebutnya sebagai “hantu laut”. Untuk menikmati keindahan di wilayah timur ini, buatlah perencanaan untuk terbang dari Jakarta melalui Sorong atau menikmati Manado lebih dulu baru terbang langsung ke Waisai! 

*****

JADWAL PENERBANGAN (Bisa berubah karena kebijakan maskapai

Raja Ampat 

Wings Air. Melayani penerbangan dari Manado ke Bandar Udara Marinda, Waisai, Raja Ampat. 

Susi Air. Rute yang ditawarkan dari Sorong menuju Waisai. 

Sorong

Garuda Indonesia. Maskapai ini memiliki frekuensi hingga 10 kali untuk penerbangan dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandar Udara Domine Edward Osok di Sorong. Rata-rata dengan satu pemberhentian, yakni di Makassar. Lama penerbangan antara 7-12 jam, tergantung waktu transit. 

F. Rosana

Senja di Banda Neira, Menikmati 6 Pulau indah

Senja di banda Neira, Maluku Tengah, menikmati sejarah Indonesia.

Senja di Banda Neira sungguh sebuah perjalanan wisata yang sangat menyenangkan. Setidaknya buat kami. Pulau-pulau yang indah, hawa laut yang hangat, gunung-gunung yang sejuk, perkebunan pala, juga masyarakatnya yang ramah.

Senja di Banda Neira

Banda Neira di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Malauku, adalah salah satu tujuan perjalanan yang diangankan banyak orang, terutama mereka yang menikmati perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Selain alamnya yang indah, banyak pemimpin bangsa ini yang pernah dikucilkan di kawasan ini. Termasuk para bapak bangsa Indonesia. Banyak sejarah panjang zaman kolonial dan kemerdekaan Indonesia bermula dari kepulauan ini.

Karena itu, ketika bunyi peluit kapal Express Bahari berbunyi keras menandakan mereka akan sandar di pelabuhan Neira, kami bergegas menuju ke dek kapal. Dan Banda Neira ada di muka kami. Mendadak kelelahan perjalanan laut selama hampir tujuh jam dari Ambon seakan sirna.

Hari hampir menjempur sore, sekitar jam 4, matahari masih bersinar hangat meski sudah conding ke barat. Ada rinai hujan dan gunung api di sisi kanan. Kapal segera bersandar di pelabuhan. Rasanya terbayang saat bapak bangsa seperti M. Hatta dan Sutan Sjahrir dalam pengasingannya di pulau ini.

Kami segera bergegas turun dari kapal menemui seorang kenalan yang akan memandu selama beberapa hari di sini. Malam itu, kami memang merencanakan menginap di Pulau Banda Besar. Di sebuah penginapan kecil, agar bisa bercakap-cakap dengan pemilik penginapan atau masyarakat sekitar. Selain tentu saja lebih hemat.

Malam itu kami hanya duduk mengobrol di penginapan, mengobrol sekaligus melepas penat perjalanan. Keesokan harinya kami baru berencana berkeliling.

Senja di Banda Neira dan menikmati banyak peninggalan masa lalu.
Barang-barang kuno peninggalan masa lalu di Banda Neira. Foto: Dok.shutterstock

Dan betul, pagi harinya setelah mandi dan sarapan, kami ditemani seorang teman, memulai napak tilas sejarah di Pulau Neira. Kami berkunjung ke museum lokal yang disebut Rumah Budaya, rumah ini milik almarhum Des Alwi. Des pada masa mudanya adalah saksi kedatangan para bapak bangsa ketika diasingkan ke pulau ini. Pada Des muda inilah, Hatta atau Sjahrir kadang berbagi informasi tentang Indonesia sebagai sebuah cita-cita kebangsaan.

Lukisan, dokumen, dan beberapa benda kuno yang ada di pulau ini dipamerkan di sana. Penataannya memang tak terlalu indah, juga berdebu dan gelap. Namun cukuplah untuk mendapatkan gambaran awal dalam perjalanan kali ini. Tentang salah satu keping bangunan bernama Indonesia.

Bersebelahan dengan Rumah Budaya, ada rumah pengasingan Sutan Sjahrir. Tidak cukup banyak yang bisa dilihat di rumah ini, hanya ada mesin tik tua dan foto-foto milik Sjahrir. Kami memilih duduk di teras dan menikmati hari di lorong jalan yang padat bangunan tua itu.  

Puas duduk merenung tentang Indonesia masa lalu, kami bergeser lokasi. Sekitar 10 menit berjalan kaki dari tempat tinggal Sjahrir, kami melintasi Benteng Belgica dan tiba di rumah pengasingan Bung Hatta. Rumah ini cukup luas, di sisi belakang terdapat beberapa kelas tempat Bung Hatta mengajar anak-anak setempat.

Jalan kaki memang cara terbaik menikmati pulau Banda Besar ini, karena situs sejarah bertebaran hampir setiap “jengkal” tanah. Termasuk di Pulau Run, pulau hasil tukar guling Belanda-Inggris dengan Manhattan dalam Perjanjian Breda pada 1667. Napak tilas ini menjadi pembuktian dari buku-buku yang pernah diterbitkan tentang gugusan Kepulauan Banda Neira dan sejarahnya.

Sepanjang perjalanan ke Kepulauan Banda Neira itu, kami mengunjungi enam pulau, yaitu Neira, Hatta, Banda Besar, Run, Ayi, dan Gunung Api. Termasuk wisata menikmati kekayaan bawah laut, kecantikan gunung berapi, eksotisme perkebunan pala
dan tentu saja sejarah Banda Neira.

Perjalanan ini rasanya seperti sedang menikmati Indonesia masa lalu. Indonesia yang hangat dan ramah. Keramahan warga lokal terhadap pendatang bukan sekadar basa-basi. Mereka tidak segan mengajak pendatang masuk ke rumah, lalu menghidangkan minuman dan camilan, yang tentu saja gratis.

Ini terjadi kepaa kami saat turun dari Gunung Api. Perjalanan turun dari ketinggian 600 meter yang cukup curam memaksa kami berjalan cepat, bahkan setengah berlari. Ini membuat nafas kami ‘ngos-ngosan’. Tiba di kaki gunung, seorang ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya dan melihat kondisi kami, spontan  mengajak kami singgah dan menyuguhkan air minum.

Senja di Banda Neira dan menikmati hawa laut yang hangat dan air laut yang jernih.
Kora-kora, perahu tradisional dari Banda Neira. Foto: Dok. Shutterstock

 Keramahan penduduk setempat juga terasa ketika pada keesokannya kami hndak bersnorkeling di Pulau Hatta tapi lupa membawa peralatan. Dalam 10 menit, kami mendapat pinjaman perlengkapan. Tanpa dipungut bayaran. Bahkan, hari terakhir di Neira, kami mendapat tiga undangan makan bersama. Pemilik penginapan menghidangkan ikan berkuah untuk makan siang. Malam harinya, ibu teman yang memandu selama di Banda Neira mengundang makan di rumahnya dengan menu telur ikan tuna.

Saya akhirnya memberanikan diri bertanya kepada seorang teman, “Kenapa orang Banda itu baik-baik?” Jawabannya, “Alam. Hidup kami memang keras, tapi alam selalu membuat kami bahagia.”

Pilihan hiburan bagi warga terbatas. Untuk memeriahkan hari, mereka membuat hiburan sendiri. Pada senja hari, misalnya, sayup-sayup terdengar suara gitar dan nyanyian para pria yang duduk di dermaga. Kami menikmatinya sambil memandang laut dan matahari yang turun ke peraduan.

agendaIndonesia

****

Keindahan 3 Danau di Luwu Timur

Keindahan 3 danau di Luwu Timur, salah satunya danau Matano.

Keindahan 3 danau di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, rasanya masih banyak yang belum mengetahuinya. Apalagi menyambangi tempat ini. Luwu Timur memang cukup jauh untuk ditempuh dari Makassar. Sekitar 13 jam, namun rasanya perjalanan panjang itu terbayarkan dengan keindahan 3 danau yang alami.

Keindahan 3 Danau

Salah satu yang sering dituju pengunjung di Luwu Timur tentu saja adalah Danau Matano. Danau ini terletak di Kecamatan Nuha. Desa Soroako, yang terletak di sisi barat danau. Kecamatan itu sendiri telah berkembang menjadi kota yang rapi. Pendorong utamanya karena sebagian besar daerah ini dikelola PT Vale Indonesia (dulu PT Inco), perusahaan tambang nikel yang beroperasi sejak 1968.

Keindahan 3 danau di Luwu Timur masih jarang dikunjungi wisatawan
Sungai yang menghubungkan tiga danau. Foto: DOk. TL

Danaunya memang tak sebesar Toba di Sumatera Utara, namun kecantikannya, sebagai bagian dari keindahan 3 danau, tidaklah kalah. Yang pasti, ini adalah danau terdalam di Indonesia. Begitupun di sini anak-anak remaja tak sungkan bermain air.

Biasanya, dari dermaga kayu kecil yang menjorok sekitar 20 meter ke tengah danau anak-anak muda terjun menukik. Mereka melesat ke dalam air yang jernih dan tenang. Dari pingiran terlihat pula serombongan opudi, ikan kecil endemis di danau ini, berenang lamat-lamat di sela tiang penyangga kade. Sementara di kejauhan terlihat jajaran bukit Torukuno Lela.

Keindahan 3 danau di sini bisa dinikmati sejak fajar. Matahari perlahan muncul dari celah-celah bukit tersebut. Danau Matano, pada fajar itu, sungguh pemandangan yang layak diperjuangkan.

Air danaunya sungguh dingin. Dasar danau dipenuhi tumbuhan air berwarna cokelat. Juga ikan-ikan yang berkeliaran. Penduduk Soroako, ibukota Luwu Timur, menyebut kawasan ini Pantai Ide, meski tak ada laut di sini. Satu kilometer ke arah barat laut, ada Pantai Salonsa, tanpa dermaga dengan tepian dangkal yang lebih luas. Kedua kawasan wisata ini terawat baik dan terbilang bersih.

Dengan kedalaman sekitar 590 meter, Matano menjadi danau terdalam di Asia Tenggara, juga terdalam kedelapan di dunia. Danau ini tersambung oleh sungai dengan Danau Mahalona dan Danau Towuti di bagian selatan. Sungguh keindahan 3 danau.

DanauTowuti, yang luasnya 561 kilometer persegi, merupakan danau terluas kedua di Indonesia. Ketiga danau ini, menurut riwayatnya, terbentuk akibat kegiatan tektonik jutaan tahun silam.

Soroako dapat ditempuh dengan angkutan udara dan darat dari Makassar. Ada penerbangan khusus dari ibukota Sulawesi Selatan it uke bandara Soroako.

Tak ada angkutan umum di desa ini. Ojeklah yang bisa membawa wisatawan ke hotel yang menghadap ke Danau Matano. Jika tiba lepas tengah hari, habiskan sisa hari untuk menikmati Pantai Ide dan Pantai Salonsa. Pantai tanpa dermaga dengan air tak dalam.

Tujuan utama menikmati Matano adalah mengunjungi dua desa di seberang danau. Melaluinya dari Dermaga Soroako, yang merupakan gerbang utama menuju dua desa di seberang danau: Desa Matano dan Desa Nuha, Kecamatan Nuha. Wisatawan bisa menyewa ketinting, sejenis perahu bermotor, yang disewa untuk menyusuri danau.

 Biasanya perahu bercadik itu bergerak tak jauh dari tepi danau, sehingga pengunjung bisa menikmati Pantai Ide dan Salonsa serta perumahan milik Vale, yang semuanya dari kayu dan tanpa pagar.

Tak jauhh dari dermaga, sekitar seperempat jam, perahu merapat ke tebing karang. Persis di bawah tebing itu, tampak sebuah lubang yang sebagian tenggelam dalam air. “Ini gua bawah air. Anda bisa menyelam dan muncul di dalam gua sana atau melompat dari lubang di atas,” cerita pemilik perahu.

Dari daratan, pemandangan ke bawah lubang tampak air yang tenang dan hijau berkilauan. Tinggi lubang ini 10-15 meter. Gua di bawah air luasnya kira-kira separuh lapangan badminton. Airnya jernih. Kolam itu hijau ditimpa cahaya matahari dari lubang tadi dan lubang kecil yang menghadap ke danau. Betul-betul gua rahasia. Kecantikannya hanya bisa dinikmati dengan memasukinya.

Banyak gua di sepanjang tepian danau. Hanya beberapa menit dari gua bawah air, pengunjung bisa tiba di gua lain. Gua umumnya, kering dan berbatu. Tak seberapa luas, tapi ada tulang berserakan. Penduduk menyebutnya Gua Tengkorak. Tulang-belulang manusia konon sudah ada di sini sejak masa pra-Islam.

Selain itu, ada obyek wisata menarik lain, seperti Pulau Kucing, gugusan karang kecil dengan dua pohon mangga besar, dan Kali Dingin, yang airnya tetap dingin hingga bertemu dengan air danau yang hangat.

Air Danau Matano mengalir ke Danau Mahalona melalui Sungai Petea hingga Danau Towuti. Towuti merupakan danau terluas kedua di Indonesia. Danau ini dipenuhi rumah penduduk dan hutan.

Sementara untuk menuju Danau Mahalona bisa dicapai dengan menuju Towuti terlebih dulu, sekitar satu jam dari Soroako. Dari sana pengunjung bisa berkendara ke Desa Timampu. Jalanannya menanjak dengan hutan di kiri-kanan. Selama satu jam kendaraan pengunjung menyusuri jalan itu. Hingga akhirnya bertemu dengan jembatan beton dan desa di seberangnya.

Keindahan 3 danau di Sulawesi Selatan.
Keindahan 3 danau di Sulawesi Selatan. Foto: Dok. shuterstock

Desa Tolu menjadi desa pertama dari deretan lima desa, sementara Desa Mahalona sebagai desa induk di paling ujung. Penduduknya kebanyakan berkebun merica.

Dari sana kita bisa menggunakan perahu menyusuri Sungai Tominanga menuju Danau Mahalona. Danau terkecil dari tiga danau di Luwu Timur ini. Perahu berlabuh di daratan yang agak luas dengan lantai dari batu yang nyaris rata.

Air danau itu jernih dan biru. Tepiannya banyak ditumbuhi semak dan bakau. Permukaan airnya tenang. Warga desa sering piknik ke sana bila air sedang surut. Ketiga danau di Luwu Timur ini memang sulit dicapai. Namun keindahan 3 danau tersembunyi itu tentu menggoda untuk dikunjungi.

agendaIndonesia/TL

*****

4 Pulau di Wakatobi, Dan Misteri yang Menyelimutinya

NTT Menjadi Tuan Rumah API 2020, di mana salah satu nominasi destinasi wisata yang menjadi nominasi adalah Wakatobi.

4 pulau di Wakatobi menyimpan banyak kisah. Juga misteri. Wakatobi kini adalah tujuan utama wisata bahari di Sulawesi Tenggara. Masih banyak yang belum paham jika Wakatobi sesungguhnya akronim dari empat pulau:Wanci, Kaledupa, Tomia, juga Binongko.

Kue karasi dan secangkir teh menyambut saya serta kawan-kawan di Dusun Bante, Desa Makoro, Pulau Binongko, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Lumayan menghangatkan perut yang sejak matahari terbit terguncang di atas perahu kayu cepat berkapasitas 20 penumpang.Butuh waktu satu setengah jam perjalanan dari Dermaga Pulau Tomia ke Pulau Binongko. Belum lagi menempuh gelombang dan angin laut pada Agustus yang cukup keras menerpa kapal yang saya tumpangi.

4 Pulau di Wakatobi

La Ode Muhamad Syafii, pemuka warga, yang menemui rombongan agak heran dengan kedatangan kami di musim laut yang tak ramah ini. “Jarang ada orang luar yang datang di musim laut seperti ini,” katanya. Saya hanya tersenyum sambil melirik ke Seto dan Rudi, dua orang pemandu lokal asal Wanci serta Kaledupa, yang tertawa kecil mendengar perkataan La Ode. 

“Sebagian masyarakat Binongko dan Wakatobi percaya mereka berasal dari laut,” ucap La Ode sambil mempersilakan kami menikmati kue karasi yang berasal dari tepung beras itu. Di hari-hari tertentu, kata La Ode, beberapa warga akan berjalan ke tepi pantai menunggu ‘jemputan’ kerabatnya dari laut. “Percaya atau tidak, tapi itulah yang terjadi di desa kami,” ujarnya.

Kisah semacam ini juga saya temui di masyarakat yang berada di Pulau Wanci, Kaledupa, dan Tomia, Sulawesi Tenggara. Kisah ini hampir mirip dengan urban legendsuku Betawi asli yang sampai hari ini meyakini hubungan kekerabatan dengan buaya putih di Sungai Ciliwung yang membelah Jakarta.

Wakatobi, akronim dari empat pulau:Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia, juga Binongko, tak hanya menyimpan keindahan wisata laut semata, tapi juga menyajikan wisata budaya, sejarah, dan petualangan darat yang tak kalah menarik. Tentu saja pesona maritimnya tetap yang utama.

Saat menelusuri Pulau Binongko, misalnya, saya menemukan tenun pengukur kiamat di 

Dusun Ollo-ollo, Kelurahan Sowa, Kecamatan Togo Binongko. Desa nelayanyang berjarak satu jam perjalanan darat dari Dermaga Dusun Bante, Desa Makoro, Binongko, itu menyimpan kisah lokal yang melegenda dan dipercaya masyarakat setempat hingga kini. Warga menyebutnya homorua watontea. Di dalam kotak kayu yang telah dimakan usia berukurankardus sepatu dewasa, terdapat kain tenun sakral yang dikeramatkan penduduk. Kononkain itu bertambah panjang hanya10 tahun sekali. La Samudia, tokoh adat Togo Binongko, menuturkan jika kain tenun itu sudah berhenti memanjang, pertanda dunia akan berakhir. Itulah kenapa dinamakanhomorua(tenun) watontea (yang akan muncul), kiamat yang akan tampak. 

Binongko juga dikenal dengan nama Kampung Pandai Besi. Konondi sinilah, pedang Patimura yang terkenal itu dibuat oleh empu di Binongko. Di Desa Sowa, yang terkenal dengan kampung tukang besi itu, sebagian besar sudah menggunakan peralatan modern. Hanya beberapa yang masih menggunakan alat tradisionalseperti peniup udara manual untuk membakar besi. 

Pulau-pulau di Wakatobi cukup banyak memiliki benteng-benteng kuno peninggalan era Kerajaan Buton dan kerajaan kecil lainnya. Salah satunya Benteng Patua di Desa Kollo Patua, Pulau Tomia. Benteng ini terbuat dari susunan batu karang yang diatur sedemikian rupa menjadi tembok, menara pandang, tatakan bedhil (sebutan warga setempat untuk meriam), juga ruangan-ruangan lain.

Di salah satu gardu pandang terdapat makam dua tokoh perempuan setempat bernama Wa Ode Bula dan Wa Ode Kaaka. Hikayat setempat menyebutdua perempuan sakti itulahyangmembawa sendiri meriam-meriam tersebut seakan membawa tongkat untuk berjalandari bawah bukit ke puncak benteng.

Tomia sebenarnya lebih dikenal sebagai surga bagi penyelam karena terdapat sederet titik selam terbaik, sepertiKollo Soha Dive Spot, Ali Reef, juga Marimabuk. Berada sekitar tiga kilometer dari Pantai Tomia initerdapat pemandangan ikan-ikan nudibranch dan penyu yang berseliweran. Di sini, tempatnya ikanbig eye giant trevally serta bobara.

Tak hanya bawah laut yang memukau, berada di tempat tertinggi di pulau ini juga mengasyikkan. Dikenal sebagai Puncak Kahyangan, jika cuaca cerah, dari kejauhan akan tampak Pulau Binongko, Pulau Lentea, Pulau Sawa, serta Pulau Tolendano. Bukit karang ini dulunya berada di dasar lautan. Hal ini terbukti dari banyaknya fosil-fosil kerang berukuran besar yang berserakan di atas bukit. Lokasi ini kerap menjadi tujuan pemburu keindahan mentari tenggelam atau sunset sekaligusmenikmati bintang di malam hari. 

Di Tomia Timur, tak jauh dari Desa Kulati, ada pula tebing Ampomberoyang cocok untuk melepaskan pandangan luas ke arah Laut Banda. Dari atas tebing karang yang cukup tinggi itu, jika cuaca cerah, akan tampak Pulau Nda’a yang berderet di horizon. Bagi mereka yang menyukai snorkeling, bisa berlayar ke Pulau Hoga. Titik selam di sekitar Pulau Hoga cocok untuk snorkeling. Jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari daratan.

Sedangkan, di Pulau Wanci, yang menggoda tentunya ada spotuntuk menyelam.Terdapat Nua Shark Point. Di tempat ini, penyelam akan bertemu dengan kawananikan hiu sirip hitam. Pilihan obyek wisata lain berupa kolam sekaligus gua air tawar yang disebut kontamale. Kolam alam dengan bentuk tak beraturan itu terdapat beberapa bagian cukup dalam sehingga beberapa orang dapat melakukan atraksi terjun bebas setinggi 10 meter dari tebing di atasnya.

Kemudian ada pula air Moli’i Sahatu yang berada sekitar 200 meter dari Dermaga Patuno Resort. Moli’i Sahatu memiliki arti seratus mata air. Hikayat setempat mengatakan mata air ini berkhasiat membuat seseorang yang meminumnya akan awet muda. Jadi, baik air tawar maupun air laut, sama-sama menggoda di Wakatobi.

SUKU BAJO SAMPELA, PELAUT SEJATI 

Dikenal sebagai pelaut sejati, suku Bajo Sampela menghabiskan semuahidupnya di laut lepas. Pemukiman Bajo Sampela, yang sejak 1977, bernama Sama Bahari berada sekitar dua kilometer dari Pulau Kaledupa, salah satu dari empatpulau besar di Wakatobi. Berbeda dengan Suku Bajo Mola di Wangi-wangi yang lebih modern dan sebagian besar telah ‘mendarat’, Bajo Sampela masih mempertahankan tradisi rumah di laut lepas.

Ketika berada di sini, jangan lupa mencariLa Oda, si pejalan laut. Dialah manusia pejalan laut sesungguhnya. Keahlian yang mulai langka di masyarakat Bajo Sampela. La Oda, 42 tahun,merupakan penyelam bebas dari Suku Bajo Sampela, Dusun Katutuang.Sejak berusia 10 tahun, dia mulaimenyelam di kedalaman belasan meter mencari lobster dan ikan. Dia terbiasa menyelam dikedalaman 20 meter selama 4-5menit menggunakan carummeng– kacamata selam tradisional dari kayu kalingpapa. Hal yang luar biasanya, tentunya!

Bila sempat menginap, jangan lewatkanmenikmati pemandangan terindah saat mentari terbitsambil duduk di atas sampan di tepi perkampungan. Sayangnya, di tempat ini, pasokan listrik terbatas. Hanya menyala dari pukul 18.00-23.00.

WAKTU BERKUNJUNG TERBAIK 

1. Pada Mei-Juni atau September-Desember

Hal ini karena iklim dan cuaca laut pada masa itu relatif tenang.

2.Luangkan waktu 5-7 hari

Agar perjalanan Anda tak sia-sia karena biaya tergolong mahal. Maklum tujuan wisata tersebar di sejumlah pulau di kabupaten ini. 

DARI BANDARUDARAINTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA

Pilihan umumnya terbang terlebih dulu ke Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Penerbangan ke BandarUdara Haluoleo ini biasanya berlangsung sekitar 3 jamserta cukup beragam pilihan maskapai, seperti Garuda Indonesia, Batik Air, Lion Air, dan lain-lain. Kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke BandarUdaraMatahora di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi, menggunakan maskapai Wings Air selama 45 menit. Selain jalur udara, Wakatobi bisa dicapai dengan kapal regular yang berangkat setiap Senin, Selasa, Kamis, serta Sabtu dari Kendari.

A. Nugroho

*****

Empat Pantai Tersembunyi Di Jawa Barat (Bagian 3)

karang hawu shutterstock 398880607

Empat pantai tersembunyi di Jawa Barat menawarkan barisan panjang pantai-pantai memukau. Dari perairan landai sampai dalam, baik yang berombak besar maupun yang mengalun tenang, tak henti mengundang orang untuk menyusurinya. Cerita kawasan selatan Jawa Barat ini diturunkan dalam tiga tulisan. Ceritanya pernah diturunkan di Javalane.

Empat Pantai Tersembunyi

Nama besar kawasan wisata Pangandaran rasanya telah menenggelamkan pantai-pantai lain di Jawa Barat. Akibatnya, pada hari-hari libur, pengunjungnya selalu membludak. Padahal, banyak wisatawan yang tidak suka keriuhan dan memilih tempat-tempat yang lebih tenang. Untuk itu, masih banyak pantai lain yang masih alami dan sepi pengunjung karena letaknya yang tersembunyi. Cobalah menyambangi empat pantai tersembunyi berikut ini untuk merasakan keasriannya.

  1. Pantai Santolo

Dari pusat kota Garut, para wisatawan masih harus menempuh sekitar 88 kilometer menuju Kecamatan Cikelet, Garut Selatan. Perjalanan melalui area pegunungan yang sempit dan berkelok-kelok, dengan jurang di satu sisi dan hutan di sisi lainnya. Namun begitu sampai di kawasan pantai, panorama pesisir yang unik segera menyambut. Perjalanan yang mendebarkan segera terbayar dengan sambutan itu.

Unik karena terdapat hamparan batuan, besar dan kecil, di beberapa sudut pantai. Tak hanya itu, di sudut lain ada jembatan tali yang menghubungkan daratan dengan pulau kecil, membuatnya menjadi pemandangan yang menarik.

Jangan lewatkan pula Pulau Santolo yang bersejarah. Dengan naik perahu sekitar 15 menit, Anda akan sampai di dermaga batu peninggalan Belanda. Ketika era kolonial, sekitar 1850, pantai inimemangpernah difungsikan sebagai dermaga untuk mengangkut rempah-rempah menuju kapal besar di tengah laut.

Setelah Belanda pergi, kawasan ini menjadi perkampungan nelayan. Karenanya, Pantai Santolo memiliki pusat pelelangan ikan yang menjual cumi, udang, dan aneka ikan laut yang masih segar. Pengunjung pun dapat langsung menikmatinya di warung makan dekat situ. 

  • Pantai Rancabuaya

Masih di Garut, Rancabuaya yang berada di Kecamatan Caringin berjarak sekitar 135 kilometer dari pusat kota. Meski cukup jauh, kondisi jalannya mulus dan bisa ditempuh menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. 

Pantai yang dijadikan lokasi syuting film Perahu Kertas ini merupakan tipe pantai berbatu karang. Ini membuat kawasan tersebut membentuk semacam kolam-kolam kecil nan jernih saat laut surut. Beberapa ekor ikan tampak terjebak di dalamnya, seolah-olah menanti untuk disapa. 

Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati pemandangan dari atas bukit yang berada di sekitar pantai. Bagi yang ingin bermalam, dapat menyewa vila atau pondok yang dilengkapi rumah makan bergaya lesehan.

  • Pantai Karang Tawulan

Pantai Karang Tawulan berada di Desa Cimanuk, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya.Sebenarnya lokasinya tidak sulit dijangkau, sekitar 90 kilometer dari alun-alun kabupaten. Namun karena kurang populer, pengunjungnya belum terlalu banyak. 

Ombak yang tidak terlalu besar membuat pelancong dapat berenang di beberapa sisi pantai. Cobalah datang ke Pantai Karang Tawulan pada sore hari. Jika beruntung, kawanan burung camar akan menyapa dalam perjalanan pulangnya ke Nusa Manuk, pulau kecil di tengah pantai yang menjadi rumahnya. 

  • Pantai Karang Hawu

Karang Hawu hanya berjarak sekitar 13 kilometer dari Palabuhanratu atau 73 kilometer dari pusat Kota Sukabumi. Namun suasananya jauh lebih tenteram. Tebingnyamenjorok ke laut, dengan deburan ombak yang menghantam bibir tebing, membuatnya semakin menawan.

Nama hawu yang berarti tungku berasal dari bentuk tebing karangnya yang berlubang. Beberapa orang meyakini bahwa air yang tertampung dicekungan batu karang tersebutdapat memberikanberkahdan mengobati berbagai penyakit.Kawasan ini memang masih lekat dengan cerita-cerita mistis yang dituturkan dari mulut ke mulut.

Dengan kesejukan udara dan airnya yang jernih, pantai sepanjang empat kilometer ini menjadi lokasi yang pas untuk bersantai dan menenangkan pikiran.

*****

Empat Mutiara Jawa Barat (Bagian 2)

ujung genteng shutterstock 1069249550

Empat mutiara Jawa Barat menawarkan barisan panjang pantai-pantai memukau di kawasan selatan provinsi ini. Dari perairan landai sampai dalam, baik yang berombak besar maupun yang mengalun tenang, tak henti mengundang orang untuk menyusurinya. Cerita kawasan selatan Jawa Barat ini diturunkan dalam tiga tulisan. Ceritanya pernah diturunkan di Javalane.

Empat Mutiara Jawa Barat

Pengetahuan masyarakat tentang kawasan selatan provinsi Jawa Barat, terutama pantai-pantainya, mungkin didominasi dengan Pangandaran. Daerah di ujung tenggara provinsi ini. Dulu, saat Banten masih menjadi bagian dari Jawa Barat, masih ada pantai Anyer, pantai Carita, atau Tanjung Lesung untuk menunjuk kekayaan alam pantai di sini.

Seiring perjalanan waktu, Banten dimekarkan menjadi provinsi tersendiri, Pangandaran seolah menjadi satu-satunya ingatan publik tentang wisata pantai di Jawa Barat. Betulkah demikian? Tunggu dulu. Daerah pinggiran daratan di selatan provinsi ini ternyata menyimpan banyak mutiara. Setidaknya ada empat mutiara Jawa Barat yang layak dikunjungi.

Ujung Genteng adalah salah satu desa di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Beragam pantainya memiliki nama-nama sendiri, tetapi biasanya wisatawan menyebut semuanya dengan nama Ujung Genteng. Pantai-pantai di sini memang tampak serupa, yakni masih alami, bersih, dan berhadapan langsung dengan ombak samudera yang cukup besar.

Meski mirip, ada pula sejumlah karakteristik pantai yang menjadikannya spesial. Semisal di Pantai Minajaya, biasanya ada warga yang mencari lobster dan jukut hejo (rumput hijau) di tepi laut. Pengunjung bisa membeli dan memakannya di saung-saung di sekitar pantai. Sementara di Pantai Tenda Biru, terdapat kawasan hutan lindung yang dijaga pasukan TNI AU.

Menyambangi Ujung Genteng tak lengkap tanpa bertemu penghuni khasnya, yakni penyu hijau. Di Pantai Pangumbahan, Anda bisa menyaksikan penyu-penyu naik ke daratan untuk bertelur. Lalu dengan latar belakang tenggelamnya mentari di ufuk barat, petugas konservasi akan melepaskantukik-tukik ke laut.Dengan keempat kaki yang kelak berfungsi sebagai sirip, mereka berlari-lari kecil menuju samudera, meninggalkan para pelancong yang menyemangatinya dari kejauhan.

Jika menggunakan angkutan umum, dari Terminal Sukabumi, naik angkutan ke Lembur Situ, lalu ke Surade, baru ada angkot menuju Ujung Genteng. Jika menyewa atau membawa kendaraan pribadi, tentu lebih banyak tempat yang bisa dijelajahi, misalnya Curug Cikaso dan Curug Luhur. Tersedia pulacottage dan bungalow bagi turis yang ingin menginap.

SelainUjung Genteng, Jawa Barat juga punya Desa Cipatujahyang berada sekitar 74 kilometerke arah selatan dari pusat kota Tasikmalaya. Namun perjalanan panjang ini akan terbayarkan ketika Anda sampai di kawasan pantainya. Hamparan pasirnya sangat lebar dan panjang, cocok untuk aktivitasberjemur dan melakukan rekreasi pantai lainnya.

Pantai seluas 115 hektareini merupakan pantai berkarang. Karena itulah banyak terumbu di mana ikan-ikan berkembang biak.Sementara di daratan, terdapat perkebunan kelapa yang subur dan hamparan rumput yang luas. Harmoni alam ini membuat Cipatujah sebagai paket lengkap antara keelokan alam dan kearifan budaya masyarakatnya.

Sebagai contoh, pada masa tertentu, penduduk setempat mengadakan ritual larung sesaji alias hajat laut sebagai wujud syukur atas karunia Tuhan dan doa agar nelayan selalu diberi keselamatan. Di samping itu, sehari-harinya, para peternak yang tinggal di sekitar situ kerap menggembalakan kerbaunya di padang rumput dekat pantai. Sesekali mereka melakukan atraksi balap kerbau yang diiringi tabuhan pencak, rampak kendang, dan alunanirama angklung yang banyak mengundang orang untuk menontonnya. 

…(Mutiara…. Bagian 3)

Mutiara Tersembunyi di Jawa Barat (Bagian 1)

pantai madasari shutterstock 741165235
pangandaran shutterstock 775689541
Salah satu pantai di Jawa Barat, yakni Pantai Pangandaran dari udara (shutterstock)

Mutiara tersembunyi di Jawa Barat, tepatnya di kawasan selatan provinsi ini menawarkan barisan panjang pantai-pantai memukau. Dari perairan landai sampai dalam, baik yang berombak besar maupun yang mengalun tenang, tak henti mengundang orang untuk menyusurinya. Cerita kawasan selatan Jawa Barat ini diturunkan dalam tiga tulisan. Ceritanya pernah diturunkan di Javalane.

Mutiara Tersembunyi di Jawa Barat

Siapa berani menantang ombak Samudera Hindia? Jika sedang ganas-ganasnya, derunya memekakkan telinga, juga arusnya akan mengempaskan setiap kapal yang lewat. Namun di pesisir Pangandaran, sebuah tanjung mampu meredam amarah sang samudera. Nelayan Sunda pun beramai-ramai berlindung di balik naungannya, menjadikannya rumah dan sumber pangan.

Kata Pangandaran sendiri diyakini berasal dari kata pangan yang bermakna makanan dan daran yang berarti pendatang. Berkat kehadiran tanjung tersebut, orang bisa mencari ikan, bahkan bermukim dan berladang dengan tenang. Tanjung ini pula yang mendasari penamaan salah satu desa di situ, yakni Desa Pananjung.

Karena memiliki keanekaragaman satwa dan tanaman langka, pada 1934 Pananjung dijadikan suaka alam dan margasatwa dengan luas 530 hektare. Lalu pada 1961, setelah ditemukannya bunga Raflesia padma,status berubah menjadi cagar alam.Jika berkunjung ke sana, mampirlah ke cagar alamnya untuk menjelajahi hutan lindung, gua-gua, dan keanekaragaman hayatinya.

Namun daya tarik utama Kabupaten Pangandaran pastilah eksotisme pantainya. Pantai Pangandaran. Dari sini, wisatawan dapat menikmati panorama matahari terbit, sekaligus terbenam. Hal ini karena adanya bentukpantainya yang menjorok ke laut, sehingga tinggal bergeser sedikit,bisa berada disisi barat ataupuntimur.

Di pantai barat Pangandaran, bentangan pasirnya sangat luas. Keluarga, terutama anak-anaknya, dapat puas bermain beralaskan pasir pantai, dikelilingi perairan Samudera Hindia. Sementara di pantai timur, kondisinya sedikit berbeda. Areal pasirnya tidak terlalu luas, tapi airnya lebih tenang. Di sini suasananya lebih tenang, dengan titik-titik foto yang menarik.

Berjalan sekitar tiga kilometer ke arah tanjung, Anda akan menemui Pantai Pasir Putih. Sesuai namanya, hamparan pasir di sini memang tampak berwarna putih bersih, memberikan perbandingan yang kontras dengan warna hijau pepohonan dan biru laut di sekelilingnya.

Bergeser sedikit lebih jauh, masih banyak pantai lain di sekitarnya yang menjadi favorit wisatawan. Ada Pantai Batu Hiu yang berada kurang lebih 14 kilometer dari Pangandaran. Pantai ini didominasitebing-tebing batu karangyang salah satunya berbentuk mirip ikan hiu.Dengan sedikit mendaki tebing, wisatawan dapat menikmati lanskap birunya Samudera Hindia dengan ombak putih yang bergulung mendekat.

Sementara sekitar 39 kilometer ke arah barat, ada Pantai Madasari yang dihiasi pulau-pulau kecil di sekitarnya. Namanya memang masih asing, tetapi pesona yang ditawarkan tak kalah dari pantai lainnya. Apalagi Madasari memiliki area perkemahan yang cukup luas. Bayangkan berkemah di pesisir dengan iringan bunyi ombak menghantam bukit-bukit karang. 

Paling tidak ada 21 pantai di Kabupaten Pangandaran. Ada Pantai Bojong Salawe, Karang Nini, Karang Tirta, Cikaracak, Karang Senggeul, dan masih banyak lagi. Masing-masing memiliki daya pikatnya tersendiri yang membuat Anda segan beranjak dari keelokan pesisir yang tak ada habisnya.

…….. (Mutiara … bagian 2)

Taman Narmada Lombok, Bikinan Raja Pada 1727

Taman Narmada Lombok bukan sekadar taman kota biasa, namun memiliki sejarah panjang.

Taman Narmada Lombok di dekat Mataram, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, bukanlah sebuah taman kota yang biasa-biasa saja. Ia memiliki sejarah panjang dengan falsafah yang ternyata cukup dalam. Jika tak punya agenda ke pantai saat berkunjung ke pulau Lombok, cobalah main ke taman ini.

Taman Narmada Lombok

Sisa air hujan masih menggenang di mana-mana, ketika kami sampai di pintu masuk Taman Narmada. Taman ini berada di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Hujan yang mengguyur sejak pusat kota Mataram, memang baru berhenti turun. Namun justru akibat guyuran air hujan itulah kesejukan obyek wisata taman yang merupakan cagar budaya ini semakin terasa. Udara sejuk dan terasa segar.

Ketika sampai di sana, rasanya tempat tersebut biasa-biasa saja. Dari luar tidak terlihat ada sesuatu yang istimewa. Mungkin itu pula banyak wisatawan yang berkunjung ke Lombok masih jarang yang mengenal dan mengunjungi taman ini.

Gerbang utama menutupi bagian dalam taman yang didirikan oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karangasem, pada 1727. Inilah salah satu jejak Kerajaan Karangasem saat menguasai Mataram.

Setelah melangkah masuk, barulah pengunjung bisa menemukan taman dalam lingkungan asri dengan gerbang utama dari bata merah. Pengunjung perlu membayar tiket masuk senilai Rp 6 ribu untuk wisatawan domestik. Dari pusat kota, Taman Narmada dapat dicapai dengan mudah dan cepat. Cukup dalam 20 menit karena hanya berjarak sekitar 11 kilometer.

Sebelum melangkah lebih jauh, pengunjung bisa terlebih dulu mencermati denah yang dipasang di depan pintu masuk. Maklum, luas taman mencapai sekitar hampir tiga hektare. Harapannya, tentu jangan sampai ada tempat yang terlewati.

Setiap area di dalam taman ini diberi nama khusus. Bahkan, untuk gerbang pun ada nama tersendiri. Ada yang disebut Gapura Gelang atau Paduraksa. Di setiap taman dengan nama berbeda-beda itu, umumnya terdapat bangunan, taman,dan kolam. Dari depan, perjalanan dimulai dengan menikmati Jabalkap, taman kecil plus telaga kembar yang tergolong mini.

Taman Narmada Lombok, sebuah taman yang dibangun oleh Raja Karangasem Lombok pada 1727.
Kolam dalam area Taman Narmada, Lombok, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Kemudian, ada pula Mukedas, yang memiliki beberapa bangunan, seperti Sanggah Pura, Balai Pameraja, Balai Pameraja, dan Balai Loji. Selain taman dan kolam, di area ini ada pura. Letaknya di bagian timur, dikenal sebagai Pura Kelasa atau Pura Narmada. Ada pula Bale Tenang, yang digunakan keluarga raja di masa silam untuk bersantai. Bangunan itu terbuat dari kayu dengan dominan berwarna hijau.

Langkah pengunjung saat menyusuri jalanan taman tidak selalu berpijak pada lahan datar. Beberapa kali harus naik turun tangga. Taman memang dirancang seperti Gunung Rinjani, dengan jalur dan lahan berundak-undak. Bagian yang paling tinggi atau diumpamakan sebagai puncak gunung adalah Pura Kelasa, sedangkan kolam taman ibarat Danau Segara Anak. Telaga Padmawangi, yang menjadi kolam hiasan saat ini, dulu merupakan tempat dayang-dayang berenang. Pada masa itu kolam banyak ditumbuhi bunga tunjung atau padma.

Ketinggian taman yang berbeda-beda justru memberi keuntungan bagi wisatawan. Sebab, begitu datang, segera terlihat bahwa taman ada di mana-mana. Pengunjung bisa memandang ke seluruh sudut taman tanpa halangan. Tidak hanya kolam yang menjadi hiasan dalam taman, kolam renang pun hadir di arena ini. Di sinilah umumnya keramaian setiap hari berpusat.

Tidak semua bangunan di sini asli buatan periode 1727. Karena berbagai kerusakan, pemerintah daerah sempat melakukan rekonstruksi pada 1980-1988.

Awalnya, taman memang dibuat sebagai tempat upacara Pekalem, yang diadakan setiap purnama kelima tahun Caka. Upacara ini semula diadakan di puncak Gunung Rinjani, yang berada pada ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut. Namun karena medan yang sulit, dibuat taman dengan kontur seperti gunung kedua tertinggi di Indonesia tersebut. Lengkap dengan miniatur Danau Segara Anak. Lahan ini akhirnya digunakan juga sebagai tempat peristirahatan raja.

Taman Narmada Lombok dibangun sejak 1727.
Sebuah pagi di sekitar Taman Narmada, Lombok Barat. Foto: dok.shutterstock

Bagi pengunjung, ada daya tarik lain yang tergolong unik yaitu Balai Pertirtaan, yang memiliki air bersumber dari Gunung Rinjani. Bahkan, air ini merupakan hasil pertemuan tiga sumber mata air, yaitu Lingsar, Suranadi, dan Narmada. Ada kepercayaan masyarakat setempat: siapa yang membasuh muka dan meminum air di Balai Pertirtaan,dia akan menjadi awet muda. Nama taman ini sendiri dipetik dari kata Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang dianggap suci bagi umat Hindu.

agendaIndonesia

****

Singkawang Kota Oriental Sejak Tahun 1800-an

Singkawang, kota oriental sejak tahun 1800-an

Singkawang kota oriental yang khas di Indonesia. Kota di Kalimantan Barat ini memang identik dengan etnis Tionghoa dan perayaan Cap Go Meh.

Singkawang Kota Oriental

Kota yang dijuluki Kota Seribu Kuil karena vihara atau kelenteng ada di setiap sudut kotanya ini memang tumbuh dari etnis Tionghoa. Tahun 1800-an saat Belanda masih menjajah Indonesia, Singkawang menjadi tempat transit para penambang emas dan pedagang dari Cina. Percampuran etnis Tionghoa, Dayak, Melayu, Jawa dan lain-lain di Singkawang menghasilkan budaya yang beragam.

Letaknya strategis, dikelilingi gunung, sungai dan laut, maka dalam bahasa Tionghoa (Hakka) disebut San Kew Jong yang berarti “terletak antara Gunung (dan) Mulut Lautan” atau suatu tempat yang terletak di kaki gunung menghadapke laut.

Singkawang, kota oriental yang dikenal juga dengan sebutan kota 1000 kelenteng.
Kelenteng Budi Dharma, kelenteng yang terbesar di kota Singkawang, Kalimantan Barat. Foto: dok. shutterstock

Kini sebagai kota perdagangan terbesar kedua di Kalimantan Barat, Singkawang memperdagangkan hasil bumi seperti produk pertanian, tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, hasil kerajinan dan industri kecil. Ia juga menampung dan mendistribusikan barang sandang, alat-alat pertanian dan lainnya. Pabrik pupuk organik terbesar se-Asia Tenggara, Sinka Sinye Agrotama (SSA) dan pasokan ayam, telur serta ternak babi terbesar se-Kalimantan Barat berada di sini.

Kota ini dikelilingi beberapa gunung atau bukit, yaitu Gunung Poteng dan Gunung Raya yang menjadi jalur trekking wisatawan dan tempat tumbuhnya bunga Raflesia Arnoldi (bunga terbesar di dunia) dan Anggrek Singkawang.

Selain itu ada Gunung Passi yang memiliki cagar alam seluas 2.760 hektare, serta Gunung Sari dengan hotel dan restoran yang berpemandangan ke Kota Singkawang.

Di lereng Gunung Poteng ini terdapat Batu Belimbing, yaitu sebuah batu besar berlekuk-lekuk hampir menyerupai buah belimbing. Ada yang berpendapat batu ini adalah bagian dari asteroid yang jatuh ke bumi. Areal taman tempat batu ini berjarak sekitar 8 kilometer sebelah timur pusat Kota Singkawang.

Obyek wisata lain adalah pantai Pasir Panjang. Pantai berpasir putih dan berombak tenang ini menghadap ke laut Natuna serta beberapa pulau kecil seperti Pulau Lemukutan, Pulau Kabung dan Pulau Randayan. Wisatawan bisa menyewa perahu kecil atau speed boat untuk menuju pulau tersebut.

Singkawang, kota oriental juga memiliki potensi wisata alam, salah satunya adalah pantai Pasir Panjang.
Pantai Pasir Panjang di luar kota SIngkawang yang menjadi andalan pariwisata kota ini. Foto: Dok. shutterstock

Di sekitar pantai terdapat hotel, cottage, toko dan fasilitas lainnya. Pasir Panjang dan Palm Beach yang sepesisir sangat cocok untuk menikmati pemandangan matahari terbit dan tenggelam, seka- dar bermain pasir atau memancing.

Sinka Island Park adalah obyek wisata yang terletak di selatan kota Singkawang. Berbagai fasilitas hiburan modern dan alami untuk keluarga tersedia. Berjarak 500 meter darinya terdapat Sinka Zoo yang menampilkan hewan-hewan langka lokal maupun luar daerah. Sedangkan danau Serantangan di Singkawang Selatan merupakan danau alami seluas 400 hektare yang disukai pemancing karena banyak ikannya.

Sekitar 6 kilometer dari pusat kota juga terdapat Danau Biru. Danau ini sebenarnya bekas tambang emas ilegal beberapa tahun lalu. Pemandangan matahari terbit dan terbenam di danau ini sangat indah berupa paduan langit yang biru lazuardi dan air berwarna biru turquoise dengan kebun kelapa sawit yang rindang dan rapi di kejauhan, gunung-gunung bernuansa hijau tua serta hamparan bebatuan yang terbentuk oleh air hujan.

Jumlah penduduk Singkawang sekitar 241 ribu orang dengan mayoritas penduduk adalah orang Hakka/Kek sekitar 42 persen; selebihnya orang Melayu, Dayak, Jawa dan pendatang lainnya. Namun percampuran etnis yang harmonis tampak terlihat di pusat Kota Singkawang di mana Mesjid Jami yang terbesar berdiri tidak jauh dari Vihara TriDharma Bumi Raya, kelenteng tertua di Singkawang.

Kawasan pusat kota yang dihiasi bangunan-bangunan tua bertingkat dua khas Tionghoa ini berubah saat malam hari. Selepas waktu magrib Jalan Setiabudi dan sekitarnya menjadi kawasan kuliner yang disebut Pasar Hong Kong. Hingga dini hari area tersebut diramaikan gerobak-gerobak penjual makanan khas malam seperti martabak, mie bakso ayam, kwetiau goreng, nasi goreng, kue-kue basah dan lain-lain. Label halal dan non-halal tertera di gerobak sehingga pembeli mudah memilih. Di beberapa sudut juga ada pedagang pasar tradisional yang berjualan sayur mayur, buah atau daging.

Singkawang, kota oriental tercermin juga pada makanannya, seperti choipan dan bakmi.
Choi pan atau Caikue, makanan khas Singkawang dan Pontianak. Foto: dok shutterstock

Pengunjung dapat menyantap makanan sambil duduk di bangku-bangku yang tersedia di pelataran depan bangunan tua yang tampak eksotis saat malam hari. Kalau enggan makan di luar, masih banyak toko yang buka, misalnya Bakmi 68 di sudut Jalan Pangeran Diponegoro. Bakmi yang terkenal enak dan sudah ada sejak tahun 1960 ini tidak pernah sepi, walaupun malam hari.

Menurut Herry Liu, pemiliknya, bakminya khas dengan isi yang beragam

yaitu bakso daging sapi, udang, babat, daging ayam, tauge, dan lain-lain. Yang juga menarik bagi pembeli adalah cara Harry meniriskan mie dengan melemparkannya ke udara. Cara serupa juga dipakai oleh Haji Aman di warung mie keringnya yang maknyus. Di tempat ini mie-nya lebih tipis dan cara menyantapnya tidak mengguyur kuah bakso ke dalam mangkuk mi, melainkan dihirup terpisah.

Kuliner lain khas Singkawang adalah bubur. Salah satunya Bubur Kelenteng, disebut demikian karena letak warungnya yang persis di depan Vihara TriDharma. Berbeda dengan bubur ayam biasa, bubur ini berkuah. Rasanya gurih dan nikmat. Ada pula ‘bubur ped- as’ yang tidak pedas melainkan sangat sehat karena campurannya berupa sayur kangkung, tauge, wortel, kacang tanah, ikan teri, irisan daging sapi dengan kuah dari kaldu daging sapi. Tampilan bubur ini agak hitam akibat beras yang disangrai dahulu sebelum dimasak. Tapi rasanya sangat enak.

Singkawang juga memiliki industri kerajinan keramik yang istimewa karena handmade, proses pembuatannya tradisional dan merupakan warisan leluhur yang dikerjakan secara turun temurun. Keramik ini sangat disukai karena seni artistiknya tinggi, dan kini sudah diekspor ke mancanegara. Pabriknya bernama Sinar Terang, berlokasi di Desa Sakok, 10 menit dari Singkawang. Pemanggangannya yang menggunakan ‘tungku naga’ adalah satu-satunya pengerjaan yang masih bertahan di dunia.

agendaIndonesia

*****