Indahnya 1.000 Batuan di Pantai Ranai

Batuan di Pantai Ranai, Natuna

Menjelajahi Natuna, di Provinsi Kepulauan Riau, mungkin banyak yang belum tertarik. Pilihan terbangnya pun harus dari Jakarta ke Batam atau ke Tanjungpinang, baru lanjut ke Natuna. Jika mengunjunginya, sempatkan mampir ke Pantai Ranai.

Pantai Ranai di Pulau Bunguran

Kabupaten merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara dan mempunyai potensi wisata berlimpah, selain potensi perikanan dan migasnya. 

Terdiri atas 272 pulau dan merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Tujuh, Natuna memiliki pilihan beragam untuk wisata bahari. Namun bila cuaca sedang tidak bersahabat atau Anda hanya memiliki waktu pendek, berkeliling di Pulau Bunguran, tempat Ibu Kota Kabupaten Natuna berada, pun tetap menyenangkan. Di sana ada beberapa titik di seputar Ranai yang menarik untuk disinggahi. 

Batu-batu kecil dan besar yang bertaburan di tepian pantai menjadi ciri dari pantai-pantai seputar Ranai. Salah satu lokasi yang tidak jauh dari pusat Kota Ranai adalah Batu Sindu. Untuk bisa melihat bebatuan yang berserakan di bagian bawah atau di dekat tebing, Anda harus menaiki Bukit Senubing. Di sana Anda akan melihat bebatuan dengan ukuran dan bentukyang berbeda-beda, serta terlihat unik. Selain itu, batuan tidak hanya berada di bagian bawah, tapi juga bertebaran di perbukitannya. 

Tidak jauh dari Batu Sindu, masih ada keindahan bebatuan lain yang lebih tertata dan diberi label Alif Stone Park. Bahkan, ada juga homestay bagi Anda yang ingin menginap di sini. Lokasinya di Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, dari Ranai sekitar 7 kilometer atau bisa dicapai dalam 10 menit. Di lokasi favorit untuk selfie atau wefie bagi kebanyakan wisatawan ini, Anda bisa menikmati laut dan bebatuan yang bertebaran. 

Setelah Alif Stone Park, sekitar 4 kilometer bisa ditemukan objek wisata lain, yakni Pantai Tanjung. Pantai ini menjadi tujuan favorit penduduk Ranai menghabiskan akhir pekan. Pantai panjang berpasir putih itu biasanya memang hanya ramai pada Sabtu dan Minggu. Namun di hari biasa pun, sebagian kedai yang berada di sepanjang pantai tetap buka. Jadi, wisatawan bisa mampir, duduk, dan bersantap, sembari menatap Pulau Senoa dari kejauhan. Pulau Senoa dikenal yang dengan bentuknya seperti ibu hamil itu, bisa dicapai dengan perahu cepat sekitar 15 menit. Pulau tersebut memiliki pasir putih dan spot untuk snorkeling maupun menyelam.

Saat duduk-duduk di Pantai Tanjung ini, jangan lupa mencicipi camilan khas lokal yang bernama kernas. Kernas terbuat dari ikan tongkol dengan sagu dan ada benjolan putih dari bahan sagu. Sehingga sekilas terlihat mirip onde-onde, hanya saja bentuknya gepeng dan berwarna cokelat tua. Kernas yang dicocol sambel rasanya gurih dan pedas. Apalagi kalau masih panas, sedap rasanya. 

Sore atau pagi hari, ada pilihan pantai juga di tengah kota. Pantai Kencana dengan taman di depannya, bisa menjadi pilihan saat duduk-duduk di sore hari atau jalan di pagi hari sembari menghirup udara segar. Selain ini, tentunya masih banyak pilihan objek wisata meski lokasinya lebih jauh dari pusat kota. 

1 Gendang Mengiring 3G Tari Jaipong

original PML2013100904

Sejak bonang dan gendang mulai ditabuh, hentakan irama rancak menjalar ke seluruh penjuru ruang pertunjukan. Di atas panggung, seorang penari bergerak mengikuti suara gendang menarikan gerakan tari jaipong berputar sembari memainkan selendangnya. Para penonton pun bersiap menyaksikan jaipong Jawa Barat, tari tradisional masyarakat Sunda yang bergulir sejak abad ke-20.

Sejarah Tari Jaipong

Asal-mula jaipong Jawa Barat memang belum terlalu lama, baru sekitar tahun 1976 ketika seniman bernama H. Suwanda (1950–2017) mulai mengulik seni musik dan tari di Karawang. Suwanda adalah seorang maestro seni tradisi Topeng Banjet, tari Ketuk Tilu, sekaligus juru kendang yang mahir. Berbagai kesenian khas Karawang ini ia padukan hingga membentuk irama baru, yang menjadi cikal bakal Tepak Jaipong.

Tepak atau tabuhan kendang Suwanda mengalun cepat dan patah-patah, memicu penari atau pemain teater di depannya untuk bergerak maju mundur dengan dinamis. Banyak orang meyakini bahwa nama jaipong sendiri merupakan onomatope atau kata yang berasal dari tiruan bunyi kendang.

Kreasi baru ini meraih banyak penggemar dengan cepat. Suwanda pun merespons peluang dengan merekam tabuhan kendangnya melalui media kaset. Ia membuat rekaman tanpa label dan mendistribusikannya secara swadaya ke wilayah Karawang dan sekitarnya. 

Gaung tepak kendang semakin meluas, hingga akhirnya sampai ke telinga seniman Bandung, Gugum Gumbira Tirasonjaya. Di tangan Gugum, jaipong menjadi sebuah paket seni pertunjukan yang matang dan lebih terstruktur. Sebagai seorang koreografer, ia mengenal betul perbendaharan pola gerak tari-tari Sunda. Hasilnya, Jaipong berkembang menjadi seni gerak dan irama yang khas dan bisa dinikmati semua kalangan, termasuk masyarakat modern.

Pada tahun-tahun berikutnya, popularitas Jaipong terus menanjak. Bahkan baik Suwanda maupun Gugum sempat mempertunjukkan kesenian ini di luar negeri. Salah satunya, pada 1984, Suwanda pernah melanglang buana ke kota-kota di Jerman Barat. Sementara Gugum, bersama istrinya, Euis Komariah, membentuk kelompok kesenian Dewi Pramanik dan mengadakan pertunjukan di luar negeri. 

Untuk memperkaya khasanah tariannya, Gugum juga menciptakan beberapa macam koreografi untuk Jaipongan, antara lain Keser Bojong, Rendeng Bojong, TokaToka, dan Sonteng. Tangan dingin Gugum telah melahirkan ribuan penari Jaipong yang gencar mengenalkan Jaipong ke penjuru dunia, seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. 

Kini, sudah tak terhitung sanggar tari yang mempelajari dan mempraktekkan tarian Jawa Barat ini. Bahkan ada yang mengkreasikannya dengan tarian daerah lain menjadi tarian nusantara. Jaipong adalah persembahan Jawa Barat bagi Indonesia dan dunia. Maka sudah sepantasnya Jaipong diusulkan ke Unesco untuk menjadi warisan budaya dunia.

Ketika merancang pola gerak tari Jaipong, Gugum Gumbira terinspirasi dari beragam nilai dan tradisi masyarakat Sunda. Terdapat unsur-unsur tarian tradisional Ketuk Tilu dan seni bela diri pencak silat di dalamnya. Sejumlah riset pun dilakukan, untuk menciptakan seni yang tidak hanya mengekspresikan dirinya, tetapi juga berkesan di hati penontonnya.

Ciri khas Jaipong, jika dibandingkan tari tradisional lain yang berkembang kala itu, adalah arah pandangan si penari. Sebagai tari pergaulan dan pertunjukan, mata penari harus selalu fokus memandangi penonton agar tercipta komunikasi yang intens. Penonton pun boleh terlibat secara aktif, salah satunya dengan naik ke panggung dan ikut menari bersama penari.

Selain pandangan mata penari, rangkain gerak Jaipong juga dibuat sedemikian rupa agar mampu menciptakan suasana keakraban dan kegembiraan. Terdapat empat bagian gerak tari Jaipong, yaitu:

  • Bukaan: Pada tahap pembukaan, biasanya sang penari berjalan berputar sambil memainkan atau memutar-mutar selendangnya yang dikenakan pada leher.
  • Pencugan: Ini adalah kumpulan berbagai gerakan lanjutan. Umumnya diiringi dengan tempo musik yang cepat.
  • Ngala: Ngala berarti titik atau perhentian. Gerakannya terlihat patah-patah atau menjadi titik perhentian sebuah gerakan.
  • Mincit: Ini adalah gerakan peralihan dari satu ragam gerak ke ragam gerak lain. Gerakan ini dilakukan setelah ada gerakan ngala.

Rangkaian gerakan yang dinamis tersebut otomatis menghasilkan lenggok pada seluruh bagian tubuh, terutama pinggul. Dari sinilah muncul persepsi masyarakat awam bahwa Jaipong identik dengan 3G, yaitu geol, gitek, goyang. Geol adalah gerakan pinggul yang memutar, gitek adalah gerakan pinggul yang menghentak dan mengayun, sedangkan goyang adalah gerakan pinggul mengayun tanpa hentakan.

Sebenarnya ketiganya bukanlah unsur yang melekat secara eksklusif pada Jaipong. Gerakan pinggul akan secara otomatis muncul pada segala jenis tarian, dari Pendet, Gambyong, sampai Serimpi. Hal yang membedakannya adalah tempo dan variasinya saja. Ritme tiba-tiba cepat dan tiba-tiba melambat ini justru perlu dilestarikan karena telah menjadi karakteristik khas Jaipong.

Dari segi penyajian, Jaipong mempunyai dua kategori, yakni ibing pola yang berarti diberi pola serta ibing saka yang berarti acak. Pada ibing pola, materi tari ditata secara khusus untuk kebutuhan sajian tontonan. Karenanya, kelompok penarinya harus berkemampuan tinggi dan menjalani latihan intensif. Sementara pada ibing saka, tidak ada aturan atau pola gerakan khusus. Penonton bahkan boleh ikut menari di atas panggung dan memberikan imbalan uang (sawer) kepada penari.

Meskipun kebanyakan tarian tersebut hanya dimainkan oleh seorang wanita, pada dasarnya Jaipongan dapat dimainkan berpasangan maupun kelompok. Keselarasan gerak justru akan semakin terlihat jika Jaipong dimainkan oleh tiga sampai lima orang. 

Adapun busana yang dikenakan dalam sebuah pementasan Jaipong sangat beragam. Meski demikian, pada dasarnya seorang penari Jaipong selalu mengenakan sinjang, apok, dan sampur. Sinjang merupakan kain panjang yang berfungsi sebagai celana panjang. Apok adalah baju atau kebaya yang memiliki ciri khas pada pernik dan ornamennya. Sementara sampur adalah selendang yang dikenakan pada leher penari.

Kekayaan unsur itulah yang kemudian menjadikan Jaipong sebagai seni pertunjukan rakyat yang selalu mendapat tempat di hati masyarakat Sunda, Indonesia, dan dunia. Seperti kendang yang tidak dapat dilepaskan dari bonang, saron, gong, rebab, dan juru aloknya, Jaipong pun tak akan lestari tanpa cinta dan semangat generasi muda Sunda untuk terus menarikannya.

Dowa Bag Yogyakarta, Tas Rajut Premium Asli

dowa bag

Dewasa ini, produk tas rajut buatan tangan sudah menjadi salah satu fashion item yang trendy dan terkenal, bahkan hingga ke mancanegara. Beberapa pengrajin dan pebisnis produk semacam ini di Indonesia pun ikut terangkat popularitasnya, dengan salah satu merk yang paling populer saat ini adalah Dowa Bag Yogyakarta.

Buat wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal, Dowa Bag sudah menjadi salah satu alternatif pilihan oleh-oleh jika berkuncung ke kota pelajar ini. Harganya memang tidak masuk kategori murah, namun cukup layak untuk kualitas produknya. Jika beruntung, konsumen yang berkunjung ke gerai produk ini bisa mendapatkan produk desainnya mirip namun kualitasnya sama dengan merek berbeda.

Jangan salah. Ini bukan produk tiruan atau KW. Ini justru produk kualitas ekspor. Biasanya sisa ekspor ke Italia yang masih ada. Tentu, kadang pengunjung tidak bisa memilih warna atau desain. Namanya juga sisa ekspor. Tapi untuk koleksi tas, rasanya warna bukan satu-satunya pertimbangan bukan?

Awal Mula Dowa Bag Yogyakarta

Bermula dari Delia Murwihartini, seorang ibu rumah tangga yang memulai usaha kecil-kecilan untuk mengisi waktu luangnya dengan membuat tas rajut dan menjualnya kepada tetangga sekitar sejak tahun 1989. Mulai laku dan diminati, para tetangga pun ikut tertarik untuk membantu membuat tas-tas ini dan tak lama kemudian bisnis semakin berkembang. Produk tas ini kemudian dinamakan Dowa, yang dalam bahasa Sansekerta berarti doa.

Awalnya, tas-tas ini dijajakan di area penginapan turis di kawasan Prawirotaman, dimana target konsumen yang disasar merupakan turis baik domestik maupun luar negeri yang mencari barang-barang kerajinan tangan sebagai oleh-oleh. Ternyata kemudian tas-tas Dowa banyak diminati oleh berbagai turis, bahkan pada perkembangannya ada beberapa turis asing yang memborong tas dalam jumlah tertentu untuk kemudian diedarkan dan dijual di negara asalnya. Sontak popularitas Dowa meningkat drastis dan permintaan dari dalam maupun luar negeri terus bertambah. Pada prosesnya, Dowa kemudian bekerja sama dengan beberapa brand luar negeri seperti The Sak dan The Read’s untuk distribusi produk ke pasar Eropa dan Amerika.

Kemudian untuk memenuhi permintaan di area domestik yang juga meningkat, dibukalah showroom dan workshop pusat di kawasan Godean, dimana selain melayani pembelian tempat ini juga menjadi pusat pembuatan produk-produk Dowa. Konsumen bisa melihat langsung bagaimana proses tas dan fashion item lainnya dibuat secara handmade oleh para pengrajin asli Yogyakarta. Lalu belakangan, untuk bisa menjangkau lebih banyak lagi konsumen, beberapa cabang outlet turut dibuka seperti di kawasan Mangkubumi yang dekat dengan Tugu Yogyakarta, serta di beberapa hotel seperti hotel Inna Garuda, hotel Novotel Yogyakarta dan Solo.

Selain lokasi bisnis yang berkembang, produk-produk pun ikut dikembangkan dengan beragam varian. Selain tas wanita yang menjadi produk unggulan, kini Dowa juga memproduksi dompet, clutch, scarf, aksesoris seperti pouch, gantungan kunci, bahkan produk tas untuk pria. Tak hanya itu, Dowa kini tidak cuma berfokus pada tas rajut saja, tapi Dowa juga mulai memasarkan tas-tas berbahan kulit, kanvas dan rotan dengan kualitas yang sama-sama premium serta desain yang tak kalah unik.

Harga sendiri beragam, bergantung dari bahan yang digunakan, serta motif dan desain. Tas rajut misalnya, berkisar antara Rp. 650.000,00 hingga Rp. 1.200.000,00. Kemudian untuk dompet, clutch serta pouch dihargai dari Rp. 125.000,00 sampai Rp. 650.000,00. Adapun produk lain seperti tas kanvas dijual mulai Rp. 700.000 hingga Rp. 1.100.000,00 serta tas kulit berkisar dari Rp. 550.000,00 sampai Rp. 1.400.000,00. Harga yang tergolong premium, namun sesuai dengan target pasar yang premium pula dengan desain yang unik dan kualitas handmade yang apik.

Showroom pusat dan cabang outlet Dowa Bag buka setiap hari dari jam 08.00 pagi hingga jam 17.00 sore. Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi (0274) 6497555, via email di dowa@dowabag.co.id atau mengunjungi situs resmi di dowabag.co.id.

Dowa Bag

Showroom & factory: Jl. Godean km. 7, telp. (0274) 6497555

Outlet Mangkubumi: Jl. Mangkubumi no. 125, telp. (0274) 6429681

Outlet Inna Garuda: Jl. Malioboro no. 60, telp. (0274) 566322

Outlet Novotel Yogyakarta: Jl. Jend. Sudirman no. 89, telp. (0274) 521169

Outlet Novotel Solo: Jl. Slamet Riyadi no. 272, telp. (0271) 740242

Pusat Oleh-oleh Kampoeng Semarang: One Stop Shopping & Leisure

Ayam goreng Pak Supar bisa jadi kulner, tapi alau oleh-oleh bisa ke kampoeng semarang

Saat ini, Pusat oleh-oleh Kampoeng Semarang telah menjadi salah satu pilihan destinasi wisata jika wisatwan berkunjung ke ibukota Jawa Tengah itu. Semarang sendiri sudah sejak lama menjadi tujuan wisata utama jika orang berkunjung ke kawasan Jawa Tengah dan sekitarnya.

Salah satu ciri khas serta daya tarik utama Semarang yang paling dikenal secara luas adalah kuliner. Ini hal yang kerap diburu oleh para pelancong yang memang sengaja berkunjung maupun yang kebetulan lewat dan mampir. Melihat antusiasme dan semakin ramainya pengunjung ke kota Semarang, pemerintah daerah setempat kemudian berinisiatif mendirikan pusat perbelanjaan oleh-oleh.

Pusat Oleh-oleh Kampoeng Semarang

Selain melayani kebutuhan para wisatawan, tempat seperti ini sekaligus memberi wadah bagi para pelaku usaha mikro yang ingin menjajakan barang-barang kerajinan buatannya. Tidak kalah penting, ikut serta menggalakkan potensi wisata kota Semarang. Pada 2012, diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, pusat oleh-oleh Kampoeng Semarang pun resmi dibuka untuk publik.

Dengan konsep “one stop shopping & leisure“, Kampoeng Semarang menjadi pusat oleh-oleh terbesar di Semarang. Dengan luas lahan mencapai 4.000 meter persegi, ini meliputi berbagai booth oleh-oleh, restoran, tempat pertemuan serta rest area. Lokasinya pun tidak jauh dari Bandar Udara Ahmad Yani, membuatnya terhitung strategis bagi para pendatang yang ingin mampir dan mencari oleh-oleh. Barang-barang yang dijajakan di sini merupakan hasil kreasi dari para pengrajin UMKM setempat, yang menyajikan berbagai kerajinan tangan seperti perlengkapan rumah tangga, batik, tas, kaos, beragam jenis souvenir dan lain lain.

Salah satu produk unggulan di Kampoeng Semarang adalah handmade fashion product lokal WeBe. Telah memulai usahanya sejak tahun 1998, WeBe sudah berkembang dari industri rumahan menjadi perusahaan resmi. Selain menjalankan bisnisnya di dalam negeri, perusahaan ini juga telah mengekspor beberapa produknya ke pasar internasional. Dengan beberapa produk-produk seperti tas tangan, tas jinjing, dompet dan lainnya, WeBe menawarkan produk handmade. Selain berkualitas tinggi, produk-produk perusahaan ini juga memiliki desain yang unik dan fashionable. Belakangan, kini WeBe juga merambah segmen dunia anak-anak dengan menjajakan beberapa produk perlengkapan anak, perlengkapan sekolah dan lain sebagainya.

Kemudian ada pula Omah Asem Homeware yang menawarkan beragam produk rumah tangga yang dibuat dari vinyl dengan desain yang unik dan artistik. Produk-produk seperti piring, nampan, tempat lilin, kotak perhiasan dan lain lain bisa ditemukan di outlet bernuansa galeri ini. Harganya pun beragam, mulai dari belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Ada pula galeri Asem Arang, yang memiliki beragam produk batik tulis khas Semarangan, mulai dari kain, baju, tas, sarung, selendang serta aksesoris batik untuk wanita. Tak hanya itu, pengunjung juga bisa merasakan pengalaman belajar membatik di sini.

Bagi yang ingin sekadar mencari souvenir tersedia pula Kembang Asem Souvenir Center yang menyediakan berbagai pernik. Ini seperti ragam kerajinan batik, kalung, gelang, gantungan kunci, dan lainnya. Ada pula Galeri Kaos Semarangan yang menjajajkan kaos-kaos berdesain unik dengan tema desain berciri khas ala Semarang.

Rentang harga barang-barang tersebut dari puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah. Rasa-rasanya harganya cukup terjangkau kantong pengunjung. Tidak hanya barang oleh-oleh berupa barang, Kampoeng Semarang juga menjajakan beberapa oleh-oleh penganan khas Semarang. Jenisnya seperti bandeng presto, lumpia, wingko babad, roti ganjel rel dan lain sebagainya. Selain bisa dibeli secara satuan, tersedia juga paket oleh oleh yang lebih praktis dan ekonomis.

Selain sentra oleh-oleh, Kampoeng Semarang juga memiliki fasilitas rest area dan restoran Asem Jawa yang berkonsep fusion tradisional dan modern, dengan beragam masakan yang disajikan dari ala Indonesia hingga Western. Tidak hanya itu, Kampoeng Semarang juga menyediakan fasilitas playground bagi anak-anak serta ruang pertemuan baik meeting maupun acara seperti pesta ulang tahun, seminar dan lain lain. Ini senada dengan konsepnya sebagai “one stop shopping & leisure“, dimana Kampoeng Semarang bukan hanya menjadi pusat belanja oleh-oleh, tetapi juga sebagai tempat berkumpul dan menikmati liburan atau akhir pekan.

Kampoeng Semarang

Jl. Kaligawe Raya no. 96, Semarang

Telp: (024) 6580015

Email: info@kampoengsemarang.com

Website: https://www.kampoengsemarang.com

Ber-Vespa, Tetap Anggun dengan 250 Cc

Ber-vespa semakin digemari para pecinta roda dua.

Ber-Vespa kini semakin popular di kalangan para pecinta roda dua. Terlebih pada 9 hingga 12 Juni 2022 lalu, penggemar skuter asal Italia ini berkumpul di Bali untuk merayakan Vespa World Days 2022. Sepeda motor ini semakin diincar penikmatnya. Tapi apa istimewanya kendaraan ini?

Ber-Vespa

Tidak cocok buat kebut-kebutan, tidak mengeluarkan suara bising berlebihan di jalanan, penuh gaya, irit, dan tangguh buat menempuh perjalanan jauh, ber-Vespa kini menjadi pilihan favorit buat jalan-jalan jarak jauh.

“Dengan Vespa, gua sudah jalan Jakarta–Lombok selama 3 hari, Jakarta–Medan selama 4 hari, Jakarta–Bali selama 3 hari, dan Jakarta–Bromo selama 2 hari. Seruu, seru sekali. Selain gampang dikendarai, Vespa juga gampang perawatannya. Buat touring lebih simple, tidak gampang capek seperti mengendarai motor gede yang berat,” ujar Anton Bramana, seorang eksekutif muda di sebuah perusahaan impor daging di Jakarta, yang juga Ketua Umum Piaggio Club Indonesia, klub para penggemar motor Vespa modern merek Piaggio.

Ber-Vespa semakin nge-trend seiring makin popularnya kendaraan buatan Italia ini.
Deretan kendaraan peserta Vespa World Vespa Days 2022 di Bali.Foto: Dok. vespaworlddays2002.id

Pada waktu ke Lombok, Bramana jalan-jalan bersama 27 penggemar Vespa lain dari Jakarta, menempuh jarak sekitar 2.000 kilometer.  Mereka jalan mulai malam. Pertama menempuh rute Jakarta–Solo, terus istirahat di Solo sekitar 2 jam. Dilanjutkan Solo–Jember; Jember–Bali; dan Bal –Lombok.

Mereka jalan santai dengan kecepatan 80km/jam pada rute jalan berkelok, atau sekitar 100 km/jam pada jalan lurus. Selama di Lombok, kami keliling pulau, ke Rinjani, dan mampir  Gili Trawangan.

Alhamdulilah, tidak ada masalah apapun, tidak ada yang mesinnya rewel atau ngadat. Semua lancar. Vespaan (mengendarai Vespa) tiga hari, badan rasanya remuk redam. “Pulangnya, Vespa kami kirim pakai kargo ke Jakarta, Orangnya ganti naik pesawat haha,” ujar Bramana yang mengoleksi beberapa Vespa matic; sehari-hari ia suka menggunakan Vespa Piaggio jenis Lx V, sedang kalau touring menggunakan Vespa Piaggio X9 250 cc.

Touring dengan Ber-Vespa harus lebih hati-hati. Karena knalpot tidak mengeluarkan suara keras dan bising seperti motor besar, sehingga sering diabaikan di jalanan. “Makanya kalau mau jalan jauh, sebaiknya dilakukan berombongan,” ujar Ichsan Yanuar, seorang wiraswasta muda yang mengaku jatuh cinta pada Vespa karena bentuk dan karakternya yang keren. “Karakternya tampak romantis, cocok buat jalan-jalan jauh sama pacar,” ujarnya tertawa.

Yanuar mengaku masih pendatang baru di dunia para kolektor Vespa, menyukai sejak 2007, setelah membeli Vespa Piaggio Lx 150 ie seharga Rp 30 juta saat itu. Sejak itu ia sering ikut dalam berbagai kegiatan touring Vespa ke berbagai pelosok di tanah air. Di antaranya, touring Vespa Jakarta–Medan (2012) selama empat hari yang menempuh jarak hingga 1.500 kilometer. 

Tujuannya ke Danau Toba. Ya sebenarnya jalan-jalan wisata saja, ditempuh dengan Ber-Vespa agar lebih seru dan murah. Empathari Jakarta–Medan cuma habis Rp 3 juta, murah banget dibanding wisata biasa dengan naik pesawat ke Medan. “Dengan naik vespa kami juga bisa mengunjungi banyak obyek wisata di setiap kota yang dilewati. Foto-fotonya juga lebih keren,” ujar Yanuar.

Harga Vespa yang tidak pernah jatuh, bahkan cenderung semakin tua semakin mahal, juga membuat alasan Yanuar mengoleksi sejumlah motor Vespa di garasi rumahnya. Dulu klub Vespa kesannya seperti klub penggemar motor skuter jadul keluaran tahun 40-60an yang telah direkondisi aneh-aneh. “Ini beda, kami klub Vespa modern yang kebanyakan adalah motor-motor Vespa matic keluaran di atas tahun 2000an. Jadi ya keren-keren bentuknya,” ujar Yanuar yang juga aktif di Piaggio Club Indonesia.

Piaggio Club Indonesia sendiri, kini adalah klub motor Vespa modern terbesar di Indonesia. Dulu para penggemar Vespa tersebar dalam berbagai komunitas-komunitas kecil yang berkumpul berdasarkan bertemanan terbatas.

Sejak Juli 2005, setelah kehadiran Agen Tunggal Pemegang Merek Piaggio, sejumlah komunitas Vespa modern di Jakarta, seperti ; Campur Sari Vespa Jakarta, Piaggio Lovers, Modern Vespa Club, Piaggio Owner Club, Zip Owner Club, dan lain-lain, sepakat menggabungkan diri dalam komunitas Vespa induk yakni Piaggio Club Indonesia yang rutin menggelar berbagai aktivitas touring bersama, kegiatan amal sosial, dan menjadi penghubung persahabatan antar penggemar Vespa.

Ber-Vespa cocok untuk pria maupun wanita berkeliling kota maupun touring ke luar kolta.
Vespa-vespa masa kini yang semakin trendy seraya tetap anggun. Foto: Dok. TL

“Harga Vespa yang relatif terjangkau bagi kebanyakan orang, antara 30 jutaan untuk kategori 150 cc, atau 40 – 75 juta untuk kategori 200 – 250 cc, membuat klub Vespa modern cepat berkembang dibanding klub motor gede,” ujar Hatma Nugraha, yang memiliki Vespa Piaggio Lx 150 warna merah.  “Latar belakang anggota di Piaggio Club Indonesia juga beragam, dari anak muda hingga orang tua. Dari pengusaha swasta hingga PNS,” ujar Anto Bramana.

Koleksi vespa para anggota Piaggio Club Indonesia pun beragam, dari Piaggio MP 3 atau skuter beroda tiga dengan kapasitas mesin 250-400cc, Piaggio XEvo kapasitas mesin 250 cc, Piaggio X9 kapasitas mesin 180-250 cc; dan Piaggio seri Vespa 125 cc. Yang paling banyak Piaggio seri 125 – 150 cc yang harganya  relatif paling terjangkau. Secara rutin, mereka tampak sering berkumpul di akhir pekan di tempat-tempat keramaian, dan melakukan touring bersama ke jarak-jarak pendek seperti Jakarta Bandung atau Jakarta – Bogor. “Untuk persaudaraan, kami punya etik, kalau antar Vespa bertemu di jalan untuk saling klakson, saling menyalakan lampu, atau minimal saling melambaikan tangan,” ujar Anton Bramana.

Keren Dengan Vespa

Masih ingat film Roman Holiday (1953) yang dibintangi Gregory Peck dan Audrey Hepburn. Film ini tidak hanya berhasil mempopulerkan Roma sebagai kota wisata, tetapi juga melambungkan Vespa sebagai kendaraan paling romantis buat pacaran keliling kota.  Sejak itu Vespa semakin terkenal di seluruh dunia, tidak semata sebagai kendaraan transportasi, tapi juga sebagai ekspresi gaya hidup. Di Indonesia pun, sejumlah nama populer juga menggemari Vespa sebagai ekspresi diri. David Bayu misalnya, vokalis band Naif ini, sejak lama telah berhasil memformulasikan dirinya sebagai anak muda urban yang keren, gaya, dan modern, dengan pergi kemana-mana Ber-Vespa.

Untuk kegemarannya itu, bahkan ia pernah ditunjuk jadi duta merek Vespa. “Ia memang aktif di berbagai kegiatan komunitas Vespa. Selain dia juga ada banyak artis penggemar Vespa seperti Tora Sudiro, Winky Wiryawan, Slank, dan lain-lain,” ujar Ichsan Yanuar

Tingkat kecelakaan pengguna Vespa juga paling kecil dibandingkan dengan jenis motor lain. Bentuknya yang kecil dan sederhana, membuatnya lebih aman dan nyaman buat dikendarai jauh. “Jaket, helm, sepatu touring, dan kaos tangan, menjadi standar safety kalau untuk berkendaraan Vespa jarak jauh. Jangan lupa dengan managemen touring yang baik, selalu dengan captain, marshal, tim swipper, dan back up car, setiap touring jauh yang melibatkan banyak peserta,” ujar Anton Bramana.

agendaIndonesia/TL

*****

Lunpia Cik Meme, Lunpia Enak 5 Rasa

Lunpia Cik Meme menjadi alternatig oleh-oleh dari Semarang.

Lunpia Cik Meme menjadi alternatif oleh-oleh makanan tradisional saat berkunjung ke kota Semarang, Jawa Tengah. Ya, tentu saja tidak sah jika berkunjung ke Semarang tapi tak mencicipi kelezatan lunpia.

Lunpia Cik Meme

Makanan berisi adonan rebung atau batang bambu muda ini memang menjadi kuliner andalan di ibu kota provinsi Jawa Tengah. Ada yang menyebutnya sebagai lunpia atau loenpia, ada pula yang melafalkannya sebagai lumpia.

Jajanan khas Semarang yang dibuat dari campuran rebung, telur, sayuran, hingga daging dan dibungkus dengan kulit dari tepung. Tak lekang oleh waktu, lunpia menjadi jajanan favorit hingga saat ini bagi masyarakat lokal maupun wisatawan saat berkunjung ke Semarang. Salah satunya ada Lunpia Cik Meme yang menerobos bahkan mendobrak sejumlah nama atau merek lunpia yang sudah melegenda.

Suasana dapur Lunpia Cik Meme, Semarang.

Disebut mendobrak atau menerobos, karena Lunpia Cik Meme memiliki kelebihan lain dari lunpia tradisional, yakni memiliki berbagai varian rasa. Jika biasanya lunpia hanya berisi campuran rebung, telur, dan potongan daging ayam, di kedai Cik Meme ada lima varian unik yang layak dicoba.

Kedai Lunpia Cik Meme berlokasi di Jalan Gajah Mada Nomor 107, Semarang. Tidak terlalu jauh dari Simpang Lima, pusat kota Semarang. Aksesnya pun mudah, tinggal mengambil jalur yang lurus menuju Pasar Johar, kedai lumpia ini ada di kiri jalan setelah perempatan pertama.

Selain itu, Lunpia Cik Meme juga membuka dua konter di Bandara Internasional Ahmad Yani untuk memudahkan pelanggan. Ada juga layanan antar menuju stasiun untuk pelanggan yang akan menempuh perjalanan menggunakan kereta.

Kedai utama yang berada di Jalan Gajah Mada memiliki area parkir yang cukup luas. Bangunannya terdiri dari dua lantai dan tersedia cukup banyak meja di dalamnya untuk pengunjung yang ingin mencicipi langsung rasa otentik lunpianya.

Cita rasa lunpia Cik Meme ini bisa dibilang cukup otentik, dan untuk varian origialnya punya kemiripan rasa dengan lunpia legenda kota ini. Meliani Sugiarto, sang pemilik, memang adalah generasi ke lima lunpia Semarang yang dipelopori oleh Tjoa Thay Joe dan istrinya yang akrab disapa Mbok Wasi pada 1870.

Lunpia otentik dari Semarang
Lunpia adalah makanan hasil akulturasi budaya. Foto: shutterstock

Lunpia Cik Meme berdiri sejak 2014 dan konon menjadi kedai lunpia pertama yang mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia. Ini menjadi penting karena lunpia sendiri merupakan makanan khas Semarang sebagai hasil dari akulturasi budaya. Dan makanan hasil campuran budaya ini kadang dipertanyakan soal kehalalannya.

Seperti disebut di muka, berbeda dengan kedai lunpia lainnya di Semarang, Cik Meme mempunyai lima varian unik yang bikin penikmat kuliner penasaran dan tertarik mencoba.

Selain varian original yang berisi campuran rebung, telur, dan potongan daging ayam, di kedai Cik Meme ini ada varian Raja Nusantara yang berisi jamur dan kacang mede; Kajamu yang menggunakan campuran daging kambing jantan muda; lunpia crab dengan daging kepiting; lunpia isi ikan kakap, hingga keripik lunpia.

Menariknya, ada varian khusus vegetarian yang diberi nama lumpia plain. Ini sepertinya cocok bagi yang sedang diet. Adonan isinya hanya terdiri dari rebung dan bumbu rempah rahasia.

Atas kreativitasnya dalam mengolah lumpia ini, pada 2016 Cik Meme diganjar penghargaan oleh Lembaga Prestasi Indonesia Dunia, sebagai pemegang rekor menu lumpia terbanyak.

Meliani, dari mana nama Cik Meme lahir, mengatakan bahwa resep Lunpia Cik Meme adalah sebuah ide yang dijabarkan dalam bentuk riset yang kemudian menghasilkan kualitas cita rasa yang sempurna.

Lunpia Cik Meme Basah dan Kering IG
Lunpia basah dan kering. Foto IG Lunpia Cik Meme

Berbeda dari yang lain, lunpia kedainya menghasilkan varian rasa yang beragam hingga melakukan inovasi produk yang menjadi produk unggulan. Menu LCM di antaranya LCM Plain, LCM Original, LCM Fish Kakap, LCM Crab, LCM Kajamu (Kambing Jantan Muda), LCM Raja Nusantara (Rasa Jamur Nusantara) serta Keripik Lunpia. Menu yang menjadi unggulan adalah kreasi Keripik Lunpia Cik Meme.

Keripik lunpia ini memang varian unik yang bikin Cik Meme lain dari yang lain. Camilan ini bukan sekadar keripik gandum biasa yang ditaburi bumbu dengan cita rasa lunpia. Namun benar-benar dibuat dari adonan lunpia asli melalui proses pengolahan panjang.

Adonan kulit dan isi lumpia dihaluskan bersama hingga tercampur rata. Setelah itu dicetak pipih dan dipotong kotak-kotak kecil. Adonan keripik yang sudah dipotong kemudian digoreng, lalu dioven, dan tahap akhir di-spinner untuk menghilangkan kadar minyak.

Bumbu taburnya pun diolah dari adonan lunpia asli. Ini melewati proses pengeringan selama 24 jam pada temperatur tertentu. Rasa rebung dan bumbu khas isian lunpia sangat terasa di setiap keping keripiknya. 

Kapan terakhir ke Semarang? Kalau main ke ibu kota Jawa Tengah ini, jangan lupa agendakan untuk mencicipi lunpia khas ini. Bisa juga untuk oleh-oleh kerabat ketika kembali ke rumah.

agendaIndonesia

*****

Roti Mandarijn Solo Oleh-oleh Legendaris

toko roti orion

Roti Mandarijn Solo oleh-oleh legendaris Solo, mungkin sudah diketahui banyak orang. Bagi para turis dan pengunjung kota Solo, salah satu pusat oleh-oleh yang selalu menjadi buruan adalah toko oleh-oleh Orion yang terletak di kawasan jalan Urip Sumoharjo.

Roti Mandarijn Solo Oleh-oleh Legendaris

Toko roti ini memiliki beberapa produk unggulan buatan sendiri seperti roti lapis mandarijn, roti bolu roll, roti semir dan lain lain di samping beberapa penganan oleh-oleh lainnya.

Toko Roti Orion Mandarijn menjadi salah satu toko kue paling tua di Kota Solo. Toko kue legendaris yang menjadi salah satu pusat oleh-oleh populer di kota di Jawa Tengah ini sudah berdiri sejak 1932. Pilihan roti yang ditawarkan toko roti ini cukup bervariatif. Ada roti gambang, roti kasur, roti kering, hingga aneka kue kering.

Roti Mandarijn SOlo jadi pilihan oleh-oleh dari kota ini.

Toko roti Orion didirikan oleh sepasang suami istri di tahun 1932, tidak jauh dari Pasar Gede Solo. Bangunan yang terkesan kuno ala jaman pendudukan Belanda pun masih tetap dipertahankan hingga saat ini, dengan kanopi berwarna kuning yang kemudian menjadi ciri khas dari toko ini.

Satu produk yang kemudian menjadi paling ikonik dan populer adalah roti mandarijn Solo, dinamakan mandarijn karena melambangkan roti kaum priyayi Tionghoa. Roti ini berwujud dua lapis kuning dan coklat bertekstur lembut dipadu dengan selai nanas yang bercita rasa legit. Namun yang menjadi andalan Toko Roti Orion adalah roti Mandarin Solo yang lembut halus teksturnya, nyaris tak berubah. Aneka roti di sini dibanderol mulai dari Rp 120 ribuan hingga Rp 250 ribuan.

Ada beberapa jenis roti mandarijn Solo, yaitu roti mandarijn biasa, roti mandarijn kismis serta roti mandarijn spesial, dimana roti juga ditambah rum butter yang lebih banyak. Selain itu pilihan juga dibedakan dari ukuran yang kecil maupun yang besar, dengan harga yang kecil berada di kisaran Rp. 100.000,00-an dan yang besar sekitar Rp. 200.000,00-an. Bagi yang ingin membawa roti ini sebagai oleh-oleh juga tidak perlu khawatir karena walaupun roti ini dibuat tanpa bahan pengawet, roti ini tetap awet hingga sekitar satu minggu.

Selain itu, Orion juga dikenal dengan produk roti bolu roll bernama Roll-O yang dilengkapi selai rasa vanilla, mocca atau campuran dari keduanya, serta roti semir alias roti dua tangkup dengan isi selai krim yang dibedakan dengan roti biasa dengan roti coklat. Harganya berkisar dari Rp. 90.000,00-an untuk Roll-O, sedangkan roti semir sekitar Rp. 50.000,00-an, dengan daya tahan kurang lebih antara 3 sampai 5 hari.

Di luar produk-produk buatan sendiri, Orion juga menjual berbagai jenis penganan lainnya, seperti kue-kue basah, beragam keripik dan kerupuk, dan lain sebagainya. Ini yang menyebabkan Orion hingga kini selalu ramai dan menjadi salah satu pilihan utama sentra oleh-oleh bagi para turis dan pendatang di kota Solo, terutama pada akhir pekan dan hari libur.

Orion buka setiap hari dari jam 7.30 pagi hingga jam 8 malam, untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi (0271) 645214.

Toko Roti Orion

Jl, Jend. Urip Sumoharjo no. 80

Telp. (0271) 645214

Lumpia Otentik Mbak Lien 1 Khas Semarang

lumpia mbak lien

Lumpia otentik Mbak Lien adalah salah satu jajanan kha semarang. Salah satu penganan khas Semarang yang paling populer dan dicari oleh tiap pendatang dan turis yang berkunjung ke ibukota Jawa Tengah ini. Baik lumpia goreng maupun lumpia basah.

Makanan hasil perpaduan budaya kuliner Jawa dan Tionghoa ini selalu menjadi sebuah ikon kuliner kota Semarang. Orang sering menyebut lumpia, tapi jika kita ke kota ini, sering kali penyebutannya adalah loenpia. Adakah bedanya? orang Semarang cuma bilang, itu cara penyebutannya saja.

Lumpia Otentik Mbak Lien

Dari beberapa gerai penjual lumpia asli yang sudah berjualan turun temurun di Semarang, salah satu yang paling populer adalah Lumpia mbak Lien. Gerainya ada yang terletak di kawasan Jalan Pemuda, tepatnya di sebuah gang kecil bernama gang Grajen. Posisinya berada di dekat bekas pusat perbelanjaan Sri Ratu Pemuda. Tepatnya di seberangnya. Atau, ancer-ancer lain, gang ini berdekatan dengan Resto Oen yang juga legendaris itu. Di gang ini terdapat kios pemesanan bagi yang ingin membeli untuk dibawa pulang, serta sebuah rumah makan bagi yang ingin menikmati lumpia di tempat.

Mbak Lien sendiri merupakan generasi keempat dari para penjual sekaligus penemu resep lumpia khas Semarang. Bapak dan ibunya juga telah menjadi penjual lumpia sebelum mereka bertemu dan menikah. Setelah menikah dan menggabungkan bisnis mereka, bisnis ini kemudian dilanjutkan dan dibesarkan oleh mbak Lien. Hingga kemudian saat ini bisnis tersebut dikelola oleh anak-anaknya, dengan toko pusat terletak di gang Grajen Pemuda serta ada cabang lainnya dibuka di kawasan pusat oleh-oleh Pandanaran. Tepatnya depan toko oleh-oleh Bandeng Presto Juwana.

lumpia otentik mbak Lien dari Semarang
Lumpia otentik mbak Lien atau Loenpia, makanan tradisional dari Semarang, Foto: shutterstock.

Lumpia otentik mbak Lien yang dijual di kios mbak Lien ini terdiri dari 3 jenis rasa original, yaitu isi ayam, udang serta spesial yang merupakan perpaduan dari keduanya. Ada pula beberapa rasa baru yang dijajakan seperti isi kepiting, jamur, kepiting jamur, smoked beef serta mozzarella bagi yang ingin mencoba sensasi bersantap lumpia yang berbeda. Selain itu, lumpia juga dibedakan dengan caranya disajikan, yakni lumpia goreng dan lumpia basah, dimana kulitnya tidak digoreng namun isiannya sudah dimasak.

Biasanya isian lumpia ini terdiri dari telur ayam kampung, rebung yang sudah dicuci dan diproses hingga tidak berbau dan terasa gurih, bumbu-bumbu lain serta ayam dan/atau udang. Kulitnya juga diolah sendiri secara khusus sehingga tetap nikmat baik saat tidak digoreng sebagai lumpia basah maupun sebagai lumpia goreng yang terasa renyah. Lumpia otentik mbak Lien kemudian disajikan dengan acar bawang, mustard, atau saus widjo yang merupakan campuran dari bawang putih, kecap serta tepung pati. Selain itu ada juga daun bawang, acar timun dan cabe sebagai pelengkap teman makan.

Harga per biji dari Lumpia otentik mbak Lien ini beragam tergantung dari jenisnya, mulai dari isi udang yang paling murah Rp. 11.000,00, isi ayam Rp. 12.000,00, hingga yang spesial dihargai Rp. 13.000,00. Lain daripada itu rasa-rasa lainnya seperti isi jamur, kepiting dan lain lain berkisar antara Rp. 18.000,00 hingga Rp. 23.000,00. Bagi yang ingin menikmati lumpia di tempat disediakan rumah makan yang juga menyediakan ragam jenis minuman teh, kopi dan lain sebagainya. Untuk yang ingin membawa pulang sebagai oleh-oleh, Lumpia mbak Lien diklaim bisa bertahan 2 hari, dan bisa tahan lebih lama lagi hingga 5 hari jika disimpan di kulkas. Lumpia kemudian bisa disajikan kembali dengan digoreng atau dikukus.

jajanan khas Semarang ada tahu isi juga lumpia otentik mbak Lien
Kuliner khas Semarang Lunpia Mataram di Jalan M.T Haryono 481, Semarang, 26 April 2015. TEMPO/ Nita Dian

Kios Lumpia mbak Lien selalu ramai dan biasanya bisa menjual sampai 1000 buah lumpia pada akhir pekan atau hari libur, pada hari biasa pun paling tidak bisa menjual hingga separuhnya, sehingga bagi yang berkunjung untuk siap mengantri atau memesan lewat telpon terlebih dulu. Untuk yang ingin menghindari antrian panjang, tersedia juga cabang di Jalan Pandanaran yang terletak tepat di depan toko oleh-oleh Bandeng Juwana, dimana sesuai dengan filosofi mbak Lien kios tetap berformat sebagai toko kaki lima yang sederhana.

Lumpia otentik mbak Lien buka setiap hari dari jam 8.30 pagi hingga jam 9.30 malam. Untuk info dan pemesanan bisa menghubungi kios pusat di telpon (024) 3580734.

Kotagede Yogyakarta Keindahan Abad 16

Kotagede Yogyakarta pusat kerajinan perak yang pernah jaya

Kotagede Yogyakarta sekarang mungkin tidak semeriah 15-20 tahun lalu, saat bis-bis besar pariwisata hilir mudik di jalan-jalan sempit kota kecamatan itu. Pada masa lalu, Kotagede merupakan satu spot yang tidak akan dilewatkan wisatawan yang berkunjung ke kota pelajar ini.

Kotagede Yogyakarta

Kotagede Yogyakarta sering dijuluki “Jewellry of Jogja” adalah sentra kerajinan perak terpopuler di Indonesia. Bahkan hingga kini. Di sana berdiri banyak toko-toko penjualan perak yang sudah dikenal hingga ke penjuru negeri.

Reputasi ini tentu  bukanlah hasil kerja tahunan. Kerajinan perak di Kotagede sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam berdiri, yakni pada abad ke-16. Pada waktu itu, abdi dalem kriya diperintahkan sultannya, Panembahan Senopati, untuk membuat perhiasan untuk kebutuhan kraton.

Saat masuknya Belanda ke Nusantara melalui perusahaan dagangnya, VOC, pada abad ke-16 itu juga, perdagangan kerajinan perak di Kotagede tumbuh semakin pesat. Waktu itu, banyak pedagang VOC yang memesan alat-alat rumah tangga dari emas, perak, tembaga, dan kuningan ke penduduk setempat di sana.

Kotagede merupakan sebuah wilayah yang memiliki nilai  sejarah di Kota Yogyakarta. Keberadaan pengrajin perak di kota itu mucul seiring dengan tumbuhnya pusat kerajaan itu. Saat pusat Kerajaan Mataram pindah ke Pleret, para pengrajin perak tetap tinggal di kota itu untuk melayani permintaan dari masyarakat umum.

Kotagede Yogyakarta menjadi ikon wisata dan budaya kota pelajar ini.
Kotagede Yogyakarta sama ikoniknya dengan tugu di pusat kota ini. Foto: Dok. shutterstock

Pecahnya kerajaan Mataram Islam menjadi Kraton Yogyakarta Hadiningrat dan Kraton Surakarta Hadiningrat berdampak pada kerajinan perak di Kotagede. Saat itu, sentra kerajinan itu harus melayani permintaan empat kraton sekaligus, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta, Kasunanan Surakarta, Puro Pakualaman, dan Puro Mangkunegaran.

Tradisi pembuatan kerajinan perak itu terus berlanjut hingga masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII di Kraton Ngayogyakarta.

Awalnya kerajinan perak di Kotagede Yogyakarta produknya hanya terbatas. Lama-kelamaan ia bertransformasi menjadi industri. Kedatangan Belanda membawa peran dalam mengubah wajah kerajinan perak, dan industrinya di sana. Ini terjadi karena ada perpaduan kultur barat dan timur.

Semula gaya ukiran perak Kotagede terinspirasi dari ukiran pada bangunan-bangunan kuno yang ada di Jawa, seperti di candi Prambanan dan lain-lain. Inilah keunikan Kotagede yang tak dimiliki daerah lain, yaitu seni ukir perak.

Industri perak Kotagede mulai berkembang dan dikenal pasaran dunia ketika para pengrajin perak di sana mulai berinteraksi dengan para pedagang dari bangsa Belanda. Waktu itu, para pedagang dari negeri kincir aingin itu memesan kebutuhan rumah tangga untuk orang-orang Eropa dengan bahan perak seperti sendok, garpu, sendok nasi, panci, piring, dan cangkir.

Dalam periode selanjutnya, kerajinan perak di Kotagede mengalami masa pertumbuhan yang luar biasa, tepatnya antara 1930-1940-an. Pada waktu itu muncul perusahaan-perusahaan baru pengrajin perak. Dari sisi produk, berbagai motif baru ukiran perak juga diciptakan. Bahkan kualitas hasil kerajinan perak ditingkatkan.

Berkembangnya perusahaan-perusahaan perak tersebut, juga disebabkan keberhasilan mereka mengembangkan kerja sama dengan mitra di luar negeri. Ekspor produk kerajinan perak Kotagede Yogyakarta pun mendunia.

Seluruh kerajinan perak yang dihasilkan para pengrajin di Kotagede tidak hanya unik dan indah, melainkan menjadi karya seni bernilai tinggi. Secara umum, kerajinan perak di Kotagede terbagi atas beberapa jenis seperti kalung, gelang, cincin dan anting, miniatur, dekorasi atau hiasan dinding, serta aneka kerajinan lainnya.

Kotagede Yogyakarta sebagai pusat pengrajin perak, selain produk-produknya, juga ditunjukkan dengan berdirinya Kunstambachtsschool atau Sekolah Seni Kerajinan Sedyaning Piwoelang Angesti Boedi yang didirikan oleh Java Instituut pada 1939. Dulunya, bangunan sekolah itu masih satu kompleks dengan Gedung Museum Sonobudoyo.

Dari murid-murid yang belajar di sekolah itu, lahir berbagai kerajinan perak yang unik. Sayangnya sekolah ini hanya meluluskan satu angkatan (1939-1941) karena pada tahun-tahun itu meletuslah Perang Dunia II.

Begitupun Kotagede Yogyakarta sebagai pusat kerajinan perak masih tumbuh. Bahkan mampu mengalami masa kejayaan ke dua pada era 1970 hingga 1980. Pada waktu itu para pengusaha perak di kota ini sering mengekspor produknya hingga mancanegara seperti Malaysia, Pakistan, Arab, dan Romania. Saat itu jenis kerajinan yang banyak dipesan adalah alat-alat makan.

Setelah era kejayaan di awal era 80-an, perlahan-lahan pesona Kotagede sebagai tempat kerajinan perak terus meredup. Kini, kerajinan perak di Kotagede mulai luntur. Kerajinan itu kini sedang mengalami surut dalam produksi. Bahkan saat ini para pengrajin tak bisa menjadikan perak sebagai tumpuan hidup keluarga.

Saat ini umumnya para pengrajin perak di sana hanya memasarkan produk di wilayah Yogyakarta dan sekitar pulau Jawa. Merekapun sering kali hanya mengandalkan pembeli yang datang ke gerai-gerai mereka saja.

Padahal pusat kerajinan perak ini masih memproduksi berbagai macam benda dari perak dan bentuknya juga unik dan keren. Harganya juga sangat terjangkau mulai dari Rp 10 ribu sampai jutaan rupiah tergantung besar kecilnya produk.

Kotagede Yogyakarta menjadi saksi keindahan produk-produk kerajinan perak.
Perajin perak Kotagede Yogyakarta sedang bekerja. Foto: Dok. shutterstock

Jenis kerajinan yang diproduksi berbagai macam dari cincin, kalung, gelang, andong, serta hewan-hewan unik lainnya. Dengan keunikan tersebutm rasanya Kotagede Yogyakarta masih bisa diandalkan menjadi destinasi wisata bagi pengunjung.  

Perlu dilakukan sejumlah pengembangan, dari segi desain, model, juga gaya pemasaran. Dari sisi wisata, mungkin ia bisa menarik lagi wisatawan yang ingin belajar membuat karyanya sendiri. Dengan demikian bis-bis besar akan kembali hilir mudik.

agendaIndonesia

*****

Dolan Ke Natuna, 272 Pulau Eksotis

Dolan ke Natuna bia menjadi alternatif liburan bagi pecinta wisata bahari.

Dolan ke Natuna hampir pasti masih jauh dari bayangan para pelancong Indonesia. Persepsi kebanyakan orang Indonesia, kawasan Natuna adalah kepulauan nun jauh di Utara negri ini. Persepsi yang tak terlalu meleset, meskipun sesungguhnya kawasan ini memiliki banyak spot wisata menarik.

Dolan Ke Natuna

Sampai saat ini, Pulau Natuna masih menjadi salah satu destinasi pulau terluar Indonesia. Banyak orang tahu soal keindahan alamnya. Sebagai bagian dari Provinsi Kepulauan Riau yang berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan, Pulau Natuna memiliki destinasi wisata yang eksotis. 

Jika ingin menikmati wisata pantai, wisatawan mungkin mulai bisa mengagendakan waktunya untuk bisa dolan ke Natuna dan mengunjungi Pantai Teluk Buton atau Pantai Sahi di Pulau Natuna.

Pantai Camaga di Kepulauan Natuna menjadi salah satu dari 272 pulau eksotis Natuna.

Masih seputar menikmati wisata bahari, saat dolan ke Natuna pelancong juga bisa melakukan island hopping, dari pulau ke pulau. Mereka bisa mengunjungi Pulau Senua yang terkenal dengan pusat konservasi penyu dan wisata edukasi.

Selain menikmati pemandangan pantai yang indah, di pulau ini pelancong juga berkesempatan snorkeling melihat ratusan terumbu karang yang masih terjaga dengan baik.

Kabupaten Natuna memangterkenal dengan sejumlah tempat wisata yang mempesona dan menakjubkan, lengkap dengan sumber daya alam melimpah. Wisatawan yang ingin liburan, bisa masukan Natuna sebagai salah satu pilihan dalam daftar rencana. Di sana, wisatawan bisa menikmati bukit kapur hingga pantai yang indah.

Natuna sering dibayangkan seperti pulau tersendiri yang terpencil jauh dari pulau-pulau lain. Letaknya di antara Kalimantan dan Sumatera, tetapi memang jauh di utara. Berbagai cerita tentang pulau ini melintas di berbagai zaman.

Cerita itu mulai dari kisah diakuinya pulau ini sebagai wilayah Indonesia, lalu soal minyak dan gas alam yang berlimpah, hingga kisah sejumlah negara asing untuk mengambil alih pulau ini. Natuna sendiri sesungguhnya adalah sebuah kepulauan. Jumlah pulaunya ada 272. Bayangkan, ada berapa pantai eksotis di tengah Laut China Selatan ini.

Tanjung Datuk di Natuna bisa dukunjungi saat dolan ke Natuna.


Untuk dolan ke Natuna, pelancong bisa berangkat dari Jakarta dengan penerbangan. Sayangnya, tidak ada penerbangan komersial yang langsung, semua harus transit di Bandara Hang Nadiem di Batam sehingga total penerbangan bisa 4-6 jam. Dari Batam baru terbang menuju Bandara Ranai di Natuna.


Kebanyakan warga Natuna adalah masyarakat Melayu. Salah satu makanan yang khas adalah kerang yang dimakan dengan sambal calok—cabai dan irisan udang yang superpedas. Uniknya, ada beberapa angkringan ala Jawa di Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna. Malam-malam, orang-orang banyak berkumpul di warung dan disko dangdut.

Kabupaten Natuna yang memiliki pusat kota di Ranai yang terletak di Pulau Natuna Besar memiliki keunikan dan menjadi daya tarik pariwisata, yaitu wisata bahari. Tentunya kegiatan wisata seperti snorkeling, diving hingga berenang sangat dinantikan wisatawan jika berkunjung ke Natuna.

Kendati pun demikian, ada baiknya wisatawan tahu kapan waktu terbaik untuk berkunjung ke Natuna. Pemerintah Kabupaten Natuna merekomendasikan bulan Maret sampai Oktober sebagai waktu yang tepat untuk dolan ke Natuna. Saat-saat bulan seperti ini, cuaca lagi bagus-bagusnya di Natuna.


Jika waktu liburannya pendek, dan tak memungkinkan island hoping, wisatawan bisa mengunjungi sejumlah tempat di sekitar Ranai. Misalnya, Tanjung Senubing dan Bukit Kapur.

Seperti kota-kota di pinggir pantai, tepi jalan di luar Kota Ranai diwarnai dengan pohon-pohon kelapa. Bayangan pasir putih yang indah dengan pantai yang bersih, namun ada yang unik.

Batu-batu andesit di sepanjang jalan dan pantai di Natuna.

Sepanjang jalan banyak batu-batu andesit superbesar. Beberapa bahkan lebih tinggi dari empat meter. Mobil lalu berbelok ke arah pantai. Pasir pantai itu memang putih, tetapi yang menarik adalah batu-batunya.

Tanjung Senubing memiliki pemandangan yang asyik. Lokasinya terletak di pantai timur Ranai, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna. Tempat ini menawarkan pemandangan batu-batu purba berukuran besar, dan goa yang terbentuk dari susunan bebatuan, serta dipadu dengan bentangan laut biru.

Dengan hamparan batu yang unik dan menarik, Tanjung Senubing cocok untuk dijadikan tempat berfoto yang instagramable. Salah satu spotnya adalah Batu Sindu yang melegenda di kalangan masyarakat.


Pilihan lainnya adalah Bukit Kapur yang terletak di bawah kaki Gunung Ranai tepatnya di Desa Ceruk, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna. Berada di ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut (mdpl), Bukit Kapur menawarkan keindahan hutan yang hijau dan memandangi wilayah Natuna dari ketinggian.

Bukit Kapur memiliki pemandangan indah dan pepohonan pinus. Di sana tersedia balkon dan jembatan kayu yang sangat cocok dijadikan sebagai latar foto. Medan trek di Bukit Kapur cukup menantang dan sangat cocok untuk aktivitas outdoor seperti bersepeda. Di sini juga tersedia warung-warung makan, sehingga pengunjung dapat mengisi perut ketika lapar.


Masih ada banyak spot wisata di Natuna, jadi rasanya sekali-kali agendakan liburan dengan dolan ke Natuna.

agendaIndonesia

****