Pantai Botutonuo di Gorontalo
Continue readingMasakan Pariaman, 60 Kilo Dari Padang ke Nusantara
Masakan Pariaman, yang merupakan daerah pesisir di Provinsi Sumatera Barat, dikenal menawarkan kelezatannya di seluruh pelosok Indonesia. Sebagian besar rumah makan Padang yang tersebar di tanah Air dibuka oleh para perantau asal Pariaman, kota yang berjarak hanya sekitar 60 kilometer dari kota Padang.
Masakan Pariaman
Nama Padang memang lebih dikenal dibandingkan Pariaman. Namun, di kampung para juru masak andal ini, tentunya ada pilihan berlimpah hidangan asli Pariaman. Walhasil, bila berlibur di kota ini, wisatawan tak hanya menikmati keindahan pantainya, tapi juga berwisata kuliner dengan sajian pilihan seperti berikut ini.

Nasi Sek Pariaman
Inilah hidangan terpopuler di Pantai Gandoriah, Pariaman. Banyak yang menjualnya di kedai-kedai kecil dengan meja dan kursi di tempat terbuka, di bawah rindangnya pohon cemara laut. Nasi sek adalah kependekan dari nasi “seratus kenyang”. Dulu sekali harganya memang Rp 100 per bungkus. Kini dipatok Rp 4 ribu-5 ribu. Sekepal nasi panas dibungkus daun pisang dengan lauk sala ikan atau sala cumi.
Sala ikan dan cumi adalah ikan dan cumi yang digoreng dengan tepung beras berbumbu. Bumbu sala ikan dan cumi ini cukup sederhana, yaitu tepung beras, kunyit, garam, dan jeruk nipis. Bumbu tersebut dibalurkan pada ikan dan cumi, lalu langsung digoreng dan dihidangkan panas-panas.
Gurih dan segar karena ikannya langsung dibeli dari nelayan pagi-pagi di Pantai Gandoriah. Nasi sek dan sala ikan serta cumi ini dilengkapi dengan urap daun singkong dan tauge, serta sambal lado tomat, yang dibuat dari cabai, bawang, dan tomat rebus yang digiling kasar.
Di Pantai Gondariah terdapat belasan pondok lesehan tempat makan nasi sek yang menghadap ke laut. Harga satu porsi, yang terdiri atas lima bungkus nasi dan sepiring sala serta urap dan sambal lado, adalah Rp 25 ribu.
Kedai Nasi Sek; Pantai Gandoriah, Pariaman
Gulai Kepala Ikan Pauh
Yang satu ini, khususnya kepala ikan karang, juga menjadi ciri hidangan di rumah makan Pariaman. Daerah Pauh di Pariaman memang terkenal dengan gulai ikan karang. Bahkan banyak rumah makan di kota besar membuka rumah makan dengan nama Pauh, dengan sajian andalan gulai ikan karang.
Salah satu rumah makan yang khusus menjual gulai ikan karang ini adalah Kedai Nasi Pauh. Menggunakan bangunan lama dari kayu dan cukup luas, rumah makan ini menyuguhkan gulai kepala ikan yang masih panas karena baru dibuat pagi harinya di atas tungku kayu di dapur rumah.
Gulai ikan karang berkuah merah, dengan santan yang tidak terlalu pekat. Bumbunya yang berupa bawang merah dan bawang putih yang digiling kasar, serta cabai rawit hijau yang dibiarkan utuh, membuat gulai terasa makin segar. Dibikin lebih khas dengan tambahan daun ruku-ruku, kunyit, serai, dan asam kandis. Hanya cabai merah, jahe, lengkuas, dan kunyit yang digiling halus. Kepala ikan karang yang disajikan biasanya ikan kakap yang berkulit tebal, tapi setelah dimasak menjadi kenyal. Gulai ini tidak terlalu pedas, bila ingin pedas, silakan gigit cabai rawitnya.
Kedai Nasi Pauh; Jalan DR. M. Djamil, Pariaman

Katupek Gule Tunjang
Hidangan ini bisa ditemukan di Los Lambuang, Pasar Kuraitaji. Tak jauh
dari Kota Pariaman, berada di jalan utama di pesisir Pariaman arah ke Tiku dan Pasaman. Berbeda dengan ketupat atau lontong yang biasanya disajikan dengan sayur nangka, pakis, atau buncis. Seperti namanya, ketupat gulai tunjang ini disajikan dengan gulai tunjang.
Tunjang adalah kaki sapi yang direbus lama hingga empuk, mirip kikil, tapi lebih tebal, kenyal, dan lembut. Kalau kikil lebih keras karena kulit luar sapi, tunjang ini “dagingnya” kaki sapi dan yang melekat ke tulang.
Seporsi ketupat disiram gulai dengan kuah yang tidak terlalu merah, berisi beberapa potong cubadak atau nangka muda, dan beberapa potong tunjang. Di atasnya ditambahkan kerupuk merah. Gulai tunjangnya juga empuk dan kenyal. Sungguh perpaduan yang unik antara ketupat, gulai tunjang, dan gulai nangka. Gulai tunjang dimasak menggunakan bumbu rempah yang sangat beragam, dari ketumbar, kemiri, merica, sampai kapulaga. Tak mengherankan rasa rempahnya begitu kuat.
Katupek Gulai Tunjang Kuraitaji; Pasar Kuraitaji, Pariaman
Pasar Tiku, sekitar 1 kilometer dari Pasar Kuraitaji, Pariaman.
Katupek Gulai Sempadeh
Dulunya Tiku bagian dari Pariaman, tapi kemudian digabungkan dengan
Kabupaten Agam. Katupek gulai sampadeh ini dijual di pinggir jalan raya di Pasar Tiku. Ada tiga kedai yang menjualnya. Sajian ini berbeda dengan hidangan ketupat lain karena kuahnya pedas tanpa santan, menggunakan gulai sampadeh atau gulai asam pedas khas masakan Pariaman.
Dalam satu porsi ada tiga ketupat yang diguyur kuah asam pedas berwarna merah dengan potongan labu siam dan ikan laut yang kecil-kecil. Sekilas penampilannya kurang menarik. Namun, pada suapan pertama,
Anda mendapat kejutan. Ternyata ketupatnya gurih, seperti nasi uduk, pas sekali dengan kuahnya yang asam, pedas, dan segar. Desi, penjualnya, menyebutkan ketupatnya gurih karena dimasak dalam santan yang kental. “Anduang (nenek) saya dulu sudah menjual katupek sampadeh ini,” kata seorang pedagang di sana. Ia generasi ketiga yang menjual ketupat gulai sampadeh di Tiku.
Kedai Katupek Gulai Sampadeh; Pasar Tiku, Agam
Memang ada banyak hidangan yang dapat wisatawan coba ketika berwisata ke Pariaman. Namun, untuk minumnya, jangan lupa minuman khas yang amat populer, teh talua atau teh telur. Minuman ini umumnya disediakan di setiap rumah makan atau warung ketupat yang menjual sajian sarapan.
TL/agendaIndonesia
*****
Dolan Asyik Di Labuan Bajo Dalam 1 Hari
Dolan asyik di Labuan Bajo ternyata bisa dilakukan dalam kurun waktu satu hari. Ini tentu di luar waktu tempuh dari daerah asal. Ini biasanya bisa dilakukan jika kebetulan mendapat tugas atau urusan pekerjaan ke wilayah Nusa Tengara Timur. Cobalah sisihkan satu hari untuk menikmati daerah yang kaya budaya dan wisata alam ini.
Dolan Asyik di Labuan Bajo
Tentu saja untuk menikmati seluruh spot di sini sejatinya tak cukup dengan dolan asyik di Labuan Bajo dalam satu hari. Bahkan banyak yang bilang seminggu pun masih terasa kurang. Banyak sekali yang isa dikunjungi di sini.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan dalam dolan asyik di Labuan Bajo jika cuma waktu satu hari? Agenda di bawah ini mungkin bisa menjadi pertimbangan.
Pertama: Berburu Sunrise di Pantai Waso
Pengunjung bisa memulai hari di Labuan Bajo dengan menikmati matahari terbit (sunrise) yang eksotis di sini. Ada sejumlah spot yang keren, namun salah satu destinasi wisata di Labuan Bajo yang menawarkan titik sunrise terbaik adalah Pantai Waso.
Terletak di Desa Benteng Dewa, Kecamatan Lembor Selatan, Manggarai Barat, Pantai Waso memiliki daya tarik yang tidak dimiliki pantai lainnya.
Saat matahari terbit, pelancong akan disambut pemandangan matahari terbit dengan latar belakang perbukitan hijau yang mengelilingi pantai. Ditambah lagi, pantulan sinar matahari di bebatuan pinggir pantai seakan memancarkan kilau yang sangat indah.
Ke dua: Island Hopping
Ketika matahari sudah utuh di langit, saatnya menikmati Labuan Bajo sebagai wisata kepulauan. Dolan asyik ke Labuan Bajo kurang lengkap tanpa island hopping, atau eksplorasi dari satu pulau ke pulau lainnya. Bakal menjadi pengalaman yang tak terlupakan, para pelancong bisa melakukan island hopping dengan menggunakan kapal phinisi.

Wisatawan bisa naik phinisi untuk island hopping ke Pulau Komodo. Sesampainya di Pulau Komodo, mereka bisa melihat sekitar 2.000 komodo secara langsung di pulau tersebut. Selain itu, wisatawan juga bisa menyelami keindahan bawah laut yang dipenuhi hamparan terumbu karang dan berbagai spesies ikan warna-warni.
Ke tiga: Singgah di Desa Wae Rebo
Dari pulau Komodo, para wisatawan bisa mengisi waktu dolan asyik di Labuan Bajo di siang hari dengan mengunjungi destinasi wisata berkelanjutan di Labuan Bajo. Salah satunya berkunjung ke Desa Wisata Wae Rebo di Kampung Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese, Manggarai Barat.
Desa wisata ini terus berupaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Baik dengan membatasi penggunaan listrik, mengolah makanan dari hasil kebun sendiri, serta menjaga kearifan lokal. Bahkan, Desa Wisata Wae Rebo masih menjaga tujuh rumah adat Mbaru Niang yang diakui sebagai situs warisan budaya dunia.

Selain Desa Wisata Wae Rebo, di daerah ini masih banyak desa wisata lain yang tidak kalah menarik dikunjungi saat dolan asyik ke Labuan Bajo, yakni Desa Bena, Desa Wologai, Desa Cancar, atau Desa Tololela.
Ke empat: Asyiknya Sunset di Pantai Waecicu
Setelah island hopping dan menikmati ragam budaya di desa wisata, menjelang sore para wisatawan bisa beristirahat di pinggir pantai sambil menikmati sunset di Labuan Bajo. Dari banyaknya pilihan pantai indah yang ada, Pantai Waecicu jadi spot sunset terbaik yang bisa dipilih.
Hanya dengan duduk di atas pasir pantai yang lembut, pelancong akan merasakan semilir angin yang menyegarkan. Menyeruput segelas minum segar sambil disinari sinar matahari terbenam yang eksotis, seakan melunturkan rasa lelah setelah seharian keliling Labuan Bajo.
Ke lima: Dinner di Pinggir Pantai
Selesaikan dolan asyik di Labuan Bajo? Belum. Setelah puas berkeliling menikmati destinasi wisata unggulan, saatnya makan malam. Pilihannya adalah di Kisik Seafood and Grill. Berlokasi tidak jauh dari Pantai Waecicu, restauran ini merupakan salah satu tempat makan seafood di pinggir pantai.
Kalau ingin yang lebih autentik, wisatawan juga bisa mencari restoran lokal yang menyajikan olahan makanan khas Labuan Bajo dengan cita rasa yang istimewa. Dengan menu-menu khas lokal yang sedap.
Salah satunya ikan kuah asam, yakni olahan ikan kerapu yang dimasak menggunakan belimbing wuluh sebagai bahan utama. Perpaduan daging ikan lembut dengan kuah asam segar yang khas sungguh menyegarkan setelah dolan seharian.
Makanan khas Labuan Bajo lain yang tidak kalah menarik dicoba adalah rumpu rampe: oseng daun dan bunga pepaya yang dimasak dengan rempah khas Labuan Bajo. Biasanya, rumpu rampe dihidangkan bersama ikan bakar atau sei sapi, untuk menetralisir rasa pahit gurih yang nikmat.
Bisa kan, sehari menikmati Labuan Bajo? Ayo agendakan waktumu saat mampir ke daerah ini.
agendaIndonesia/kemenparekraf
****
3 Jajanan Pagi Bali di Pasar Ubud
Ubud, Gianyar, Bali memang mempunyai segudang pesona, bahkan jika Anda menyusuri pasar tradisionalnya. Meski sekarang terlihat lebih padat karena belum renovasi setelah terbakar pada 2016. Rencananya, tahun ini Pemerintah Daerah Gianyar akan melakukan revitalisasi. Namun, dalam kondisi padat sekalipun, mencicipi jajanan pagi Bali di pasar saat sarapan tentunya tetap menarik untuk dinikmati. Pilihannya kali ini ke pasar tradisional Ubud.
Pilihan Jajanan Pagi Bali
Bagi yang tidak biasa jalan atau melanglang ke pasar-pasar tradisional, mungkin tawaran sarapan di tempat seperti ini kurang menarik. Bayangan pasar yang sumpek dan mungkin becek bikin tidak nyaman memilihnya. Tapi bagaimana jika tak perlu masuk-masuk?
Di pasar tradisional Ubud, pengunjung tak perlu masuk ke bagian dalam, karena para penjual sarapan ini berada di bagian luar, atau emperan toko di bagian depan. Turun dari kendaraan umum, atau parkiran kendaraan pribadi, pengunjung sudah dapat melihat pedagang jajanan menggelar dagangannya.
Sedikitnya ada tiga pilihan yang khas, yakni bubur Bali, nasi campur, dan jajanan yang manis. Umumnya berdagang dari pukul 04.00-10.00, meski ada juga yang bertahan hingga siang hari.
Bubur Rasa Pedas
Ini bukan bubur biasa. Tampilannya memang berbeda dengan bubur yang biasa ditemui di Jakarta atau Pulau Jawa pada umumnya. Di pasar ini, ditempatkan dalam selembar daun pisang dengan cara dipincuk, bubur dari beras putih itu nyaris tak terlihat karena di bagian atas bertumpuk macam-macam olahan. Di antaranya sambal Bali, bawang goreng, serundeng, urap yang terdiri atas tauge, daun singkong, rumput laut, dan telur pindang. Rasa pedasnya tentu menonjol.
Saya bertemu dengan Gusti Biang Ayu dari Taman Unud. Ia mengaku sudah berjualan bubur Bali sejak kelas 6 SD. Saat itu yang membuat olahan buburnya adalah ibunya sendiri. Kini tentunya ia membuat sendiri, mengikuti jejak ibunya. Ia duduk berjajar dengan ibu-ibu penjual sajian lain sejak pagi hingga pukul 10.00. Per porsi dipatoknya pada kisaran Rp 5.000.
Nasi Campur Plus Ayam Suwir
Nasi rames khas Bali ini pun bisa ditemukan di sini. Dalam porsi yang ringan bisa ditemukan di bagian depan, tapi di bagian dalam pun ada warung-warung yang menjajakan dengan menu lengkap. Nah, untuk sarapan yang tidak berat tentunya lebih baik yang simpel, yang dijual para ibu yang berdagang di emperan.
Mirip gambaran nasi campur atau nasi rames di tempat lain. Satu porsinya terdiri atas ayam suwir bumbu Bali yang rasanya pedas, orek tempe, mi goreng, serundeng, dan telur pindang. Untuk memulai hari, rasanya cukup mengenyangkan. Soal harga, satu porsinya cukup merogoh kantong sebesar Rp 5.000. Murah bukan?
Ingin nasi campur dengan pilihan lauk berlimpah? Coba masuk ke bagian dalam, ada deretan warung dengan tawaran nasi campur, dengan lauk berpiring-piring. Cuma hati-hati bagi yang Muslim, kadang ada makanan-makanan yang tidak halal. Seperti yang dijajakan Bu Ketut dari Tegalalang, ada telur pindang, sosis babi, jeroan ayam yang digoreng dengan mi telur, ikan asin, sayur nangka, dan ayam merah. Berjualan dari pukul 04.00 hingga pukul 13.00, per hari ia mengolah 10 ekor ayam. Per porsi dijual Rp 10-20 ribu.
Jaje Bali yang manis
Ingin memulai hari dengan hidangan manis? Ada beragam pilihan juga di Pasar Ubud. Dikenal sebagai jaje atau jajanan Bali. Dalam satu wadah, seperti yang dijual Made Musti, 56 tahun, ada beberapa olahan. Perempuan asal Gianyar itu menyebutkan satu per satu dagangannya, seperti batun bedil yang mirip seperti kolak biji salak. Selain itu, ada jajan ketan—olahan ketan yang dibubuhi kelapa muda,laklak alias serabi hijau berukuran kecil, dan bubur injin yang terbuat dari ketan hitam.
Setiap pedagang yang menjajakan olahan manis ini memang mempunyai satu wadah khusus untuk bermacam-macam bubur. Tak hanya bubur ketan hitam, ada juga bubur sumsum yang berwarna hijau karena dibubuhi air daun pandan. Hingga aromanya pun tercium khas. Ibu Mudri dari Klungkung mengaku menjual per hari hingga 100 bungkus aneka bubur rasa manis buatannya sendiri tersebut.
Rita N.
Tembok Bukittinggi, Tembok 1,5 Kilometer
Tembok Bukittinggi atau orang juga menyebutnya Jajang Koto Gadang adalah wisata trekking yang layak dicoba jika mengunjungi Sumatera Barat. Meskipun rutenya tak terlalu Panjang, tapi tetap perlu stamina yang prima jika ingin menjajalnya
Tembok Bukittinggi
Jadi ceritanya, di kota Bukittinggi, Sumatera Barat, sekitar 10 tahun terakhir ada obyek wisata mirip great wall di Cina, tapi berskala mini. Diresmikan Januari 2013, setiap akhir pekan tembok tersebut selalu dipadati turis domestik maupun asing.
Disebut Tembok Besar Mini karena panjangnya “hanya” 1,5 kilometer, tinggi 2 meter, dan lebar 2 meter, dengan sekitar 1.000 anak tangga. Bentuk bangunannya melingkar-lingkar mirip Tembok Besar Cina. Trek ini menghubungkan dua tebing yang telah dikenal dengan obyek wisata Ngarai Sianok dan Goa Jepang.
Kedua ujung tembok itu menghubungkan wilayah Panorama dengan Koto Gadang, sehingga sering juga disebut Jajang Koto Gadang (Tembok Koto Gadang). Lokasinya sekitar 5 kilometer dari jam gadang dan terletak satu kompleks dengan Goa Jepang dan Ngarai Sianok, yang berpanorama indah. Warga setempat menyebut lokasi ini dengan nama Panorama.
Meskipun baru diresmikan pada 2013, sejatinya lintasan tembok Bukittinggi ini sudah ada dari zaman kolonial yang berfungsi sebagai penghubung dua Nagari, yaitu Nagari Koto Gadang dan Nagari Ngarai. Dahulunya masyarakat memanfaatkan sebagai jalur pengantaran logistik. Pengunjung bisa membayangkan perjuangan masyarakat dahulu untuk saling membantu.
Janjang Koto Gadang menghubungkan kawasan Bukittinggi dan Agam. Dilongok dari situs resmi Pemerintah Sumatera Barat, objek baru ini menambah ikon bagi pariwisata di Sumatera Barat. Tembok Bukittinggi atau Great Wall ala Sumatera Barat ini, karena menghubungkan dua tempat, maka ada dua pintu masuk bagi wisatawan yang ingin menapakkan kaki di tembok raksasa kecil ini.

Dari Bukittinggi, wisatawan bisa masuk lewat pintu yang letaknya tak jauh dari Lobang Jepang. Dari sana, wisatawan akan melalui jalan yang menurun. Sebaliknya, jika memilih memulai perjalanan dari sisi Ngarai Sihanok, maka jalanan cenderung agak mendaki. Begitupun, trek ini tetap berkontur naik turun. Sesuai kontur daerah tersebut.
Jalur trekking yang dilewati jelas tidaklah landai, melainkan berkontur naik dan turun dengan ribuan anak tangga. Walau begitu terdapat dua pilihan trek yaitu trek menurun yang dimulai dari pintu Goa Jepang, dan trek berkelok dan sempit jika ditempuh dari Ngarai Sianok.
Untuk menikmati wisata Great Wall of Bukittinggi, wisatawan tidak dikenai tiket masuk. Namun jika membawa kendaraan pribadi, ada biaya parkir.
Wisatawan memulai perjalanan dari mulut Goa Jepang, keluar dari gua, dan berjalan sepanjang 300 meter menuju tangga pertama Tembok Besar Bukittinggi. Terbuat dari batako, sepanjang kanan-kiri tembok dipenuhi pemandangan indah lembah Ngarai Sianok.
Siap-siap terpana dengan pemandangan yang disuguhkan. Mata pengunjung akan segera dihadapkan dengan kemegahan Ngarai Sianok, persawahan dan tebing-tebing gahar. Jangan sia-siakan kesempatan untuk mengabadikan momen lewat jepretan lensa kamera. Berposelah layaknya berada di Tembok Besar Cina. Cari spot yang mirip-mirip. Pengambilan jarak jauh perlu dipertimbangkan dengan latar belakang tembok yang meliuk-liuk.

Sepanjang lintasan pengunjung disuguhkan hijaunya pemandangan alam. Penampakan Jam Gadang akan terlihat saat pengunjung berada di puncak lintasan. Pengunjung juga dapat melihat Taman Panorama di bukit seberang. Di akhir lintasan, pengunjung akan berdiri di tengah lembah tempat mengalirnya Batang Sianok.
Selain treking, di sana juga ada jembatan gantung dan anak tangga yang tinggi. Beberapa titik pun disiapkan pos-pos pemberhentian. Selain untuk tempat beristirahat, pos-pos ini juga bisa dipakai menikmati pemandangan sungai, sawah, dan tebing.
Wisatawan perlu memiliki stamina kuat untuk menjelajahi tempat ini. Jika ingin menuntaskan perjalanan Janjang Koto Gadang ini, sebaiknya pengunjung menyiapkan air minum. Jarak tempuh sejauh 1,5 kilometer ini akan membuat tenggorokan kering kehausan. Dan ingat, tak ada orang berjualan di dalam trek.
Menariknya, objek wisata ini dikelilingi tebing terkenal yaitu Ngarai Sianok dengan pemandangan alam yang indah. Selain itu udara di kawasan ini juga cukup segar sehingga cocok untuk melepas penat dan berjalan-jalan.
Keasrian dan kesan alami masih terjaga di sekitar kawasan wisata. Tidak jarang satwa liar menghampiri pengunjung. Para kera ekor panjang sering beratraksi dan mencuri perhatian pengunjung. Kera-kera ini kerap berlari dan bergelantungan ke pohon jika didekati para pengunjung. Begitupun pengunjung tetap harus hati-hati.
agendaIndonesia
*****
Kerajinan Cirebon, 4 Yang Bisa Dikoleksi
Kerajinan Cirebon tak Cuma batik Trusmi yang sudah sangat popular itu. Ada kerajinan lain di kota Udang ini yang perlu dilirik dan bisa dikoleksi. Tentu, Trusmi tetap wajib dikunjungi jika mampir ke kota di pesisir utara Jawa Barat ini.
Kerajinan Cirebon
Cirebon ternyata merupakan gudang aneka kerajinan tangan dengan bahan baku yang beragam. Kulit kerang, kaca, dan rotan dimunculkan dalam corak dan nuansa berbeda karena kentalnya perpaduan budaya Cina, Arab, dan domestik Jawa Barat, khususnya Cirebon sendiri. Pengunjung pasti leluasa dan nyaman berjalan-jalan karena bisa membeli cenderamata itu di lokasi perajin maupun toko-toko suvenir yang ada di tengah kota.
Berikut ada 4 kerajinan Cirebon yang bisa menjadi pertimbangan dikoleksi atau jadi cindera mata.
Batik Trusmi yang Mendunia
Urutan pertama kerajinan Cirebon yang wajib kunjung tentu saja pusat pembuatan batik Trusmi bila berkunjung ke kota ini. Pertama kali memasuki Kampung Trusmi, Kecamatan Plered, yang berjarak 4 kilometer dari pusat Kota Cirebon, biasanya pengunjung akan melihat beberapa pekerja menjemur kain batik yang masih berlapis lilin dalam cuaca terik.

Coba saja masuki salah satu dari puluhan toko yang menjual batik di pusat pembuatan dan penjualan batik Cirebon itu. Biasanya akan tampak puluhan pekerja sibuk menyelesaikan pembuatan batik. Ada teknik berbeda-beda, di antaranya tulis, cap, atau kombinasi keduanya.
Batik Cirebon memiliki kekhasan dalam warna dan motif. Dari corak, sedikitnya ada lima jenis, yakni batik wadasan atau Keratonan, geometris, byur, Pangkaan, dan Semarangan. Tapi yang paling sering diburu pengunjung adalah batik Keratonan.
Motif yang khas adalah singo barong, naga seba, sawat, dan mega mendung dengan warna-warna cerah. Batik ini dijual seharga Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah.
Batik Trusmi, Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Cirebon
Dekorasi Rumah dari Kerang
Di sebuah industri rumahan di Desa Astapada, seberang flyover tol Kecamatan Tengah Tani, Cirebon Barat, para pekerja menyulap limbah kerang menjadi perabotan unik dan berkualitas. Usaha berlabel Multi Dimensi Shell Craft ini dimiliki Nur Handiah Jaime Taguba. Bingkai foto, cermin, lampu gantung, kursi, tempat tidur, dan bahkan helm tak luput dilapisi kulit kerang. Harganya sangat variatif, dari Rp 10 ribuan hingga jutaan.

Mulanya, Nur mengekspor kerang sebagai bahan baku ke Korea. Kemudian, ia pun tergerak untuk mengolah sendiri. Ia menggunakan kerang simping, yang lebar, sebelum bereksperimen dengan jenis kerang lainnya. Karya kerajinan Nur awalnya hanya punya dua warna dasar, yakni perak dan emas, tapi lantas diberi warna beragam. Pemesannya pun berasal dari mancanegara, seperti Timur Tengah, Amerika, Eropa, dan juga Asia, semisal Jepang.
Multi Dimensi Shell Craft, Desa Astapada, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon
Lukisan Kaca Terbalik
Pada siang yang terik di sebuah galeri di Jalan Kartini, Hendy, sibuk mengelap kaca berukuran 50 sentimeter. Kuas dan cat besi berserakan. Ia memang menggunakan kaca bening tak berwarna untuk menuangkan imajinasi.
Uniknya, ia melukis secara terbalik atau di belakang kaca, sehingga gambar bisa dinikmati dari sisi depan. Teknik melukis ini diperkirakan hadir di Cirebon sejak empat abad silam bersamaan dengan masuknya Islam ke Kota Udang.
Di masa pemerintahan Panembahan Ratu, lukisan kaca digunakan untuk media dakwah karena obyek lukisan adalah tokoh wayang dan kaligrafi ayat Al-Quran atau hadis. Kemudian, lukisan kaca berkembang mengikuti zaman, para seniman seperti Hendy pun melukis motif tradisional Cirebon secara abstrak.
Ada ratusan pelukis kaca di kota ini. Mereka kebanyakan menggambar obyek karakter wayang, seperti Arjuna, Kresna, dan Rama, selain potret pribadi atau keluarga. Harga lukisan mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah, tergantung tingkat kesulitan gambar. Beberapa kali Hendy mengaku melukis dengan tiga atau lima lapis kaca untuk menguatkan dimensi lukisan pesanan pembeli. Tentunya kreasi itu harus dibayar dengan harga tinggi.
Galeri Lukisan Kaca, Kedai Kopi Rempah Brana, Jalan Kartini No 20, Cirebon
Kerajinan dan Perabotan Rotan
Jika pengunjung keluar dari gerbang tol Plumbon, sekitar 500 meter di kanan-kiri Jalan Tegalwanangi menuju Kota Cirebon, mereka akan menemukan deretan kios penjual kerajinan Cirebon berbahan rotan. Desa Tegalwangi adalah sentra kerajinan rotan, yang menjadi salah satu komoditas unggulan Cirebon.
Jika masuk lebih jauh ke dalam desa itu, wisatawan bisa menyaksikan puluhan pegawai industri rumahan tengah membuat kursi, meja, pembatas ruangan, kuda-kudaan, keranjang, tutup makanan, dan lain-lain.
Jika perlu, jangan langsung menentukan satu toko untuk membeli. Cona masuki tiga atau empat tempat produksi rotan yang memiliki fungsi berbeda. Pertama, tempat pemotongan rotan dan, kedua, tempat pengolahan bahan baku rotan menjadi berbagai kerajinan.
Kaum pria biasanya membuat kerangka dan memanaskan rotan dengan api, sehingga bisa dibentuk sesuai keinginan. Sedangkan kaum perempuan menganyam rotan dan mematenkan anyaman ke kerangka dengan menggunakan strapless listrik.
Rampung dibuat, rotan dibawa ke lokasi ketiga untuk tahap finishing. Serabut dihilangkan dengan cara ditempelkan ke api. Proses terakhir adalah pewarnaan dengan mencelupkan rotan ke dalam bak yang telah diisi pewarna. Setelah itu, rotan dijemur dan siap untuk didistribusikan.
Industri rotan ini kini tak seramai beberapa tahun lalu karena para perajin semakin sulit memperoleh bahan baku rotan dari Kalimantan. Beberapa pengusaha pun menggantinya dengan rotan sintetis. Namun sebenarnya masih cukup banyak permintaan kerajinan rotan dari berbagai daerah di Indonesia. Harga barang bisa dipatok mulai puluhan ribu hingga Rp 2 juta untuk satu set meja dan kursi.
Sentra Kerajinan Rotan, Desa Tegalwangi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon
agendaIndonesia/TL
*****
Menoreh Restaurant, 1 Kuliner di Kawasan Borobudur
Plataran Heritage Borobudur, Hotel & Convention Hall, memang seperti dikepung bukit dan persawahan. Selain perbukitan Tidar di sekitar Magelang, jauh di depannya, terlihat Bukit Menoreh. Mungkin karena itu, tempat makan di hotel tersebut menggunakan nama Menoreh Restaurant. Lokasinya tidak jauh dari kawasan Candi Borobudur.
Interior Menoreh Restaurant
Sesuai dengan tema hotel yang bergaya kolonial, restoran ini pun berhias pernak-pernik jadul alias jaman dulu. Timbangan lawas salah satunya. Kemudian juga keramik-keramik tinggi, yang biasanya sebagai tempat minum, menjadi hiasan di antara wadah-wadah dari tanah liat pada tatanan menu prasmanan. Pada salah satu keramik, tertulis Bacterievrij Akiz-Filter, sementara yang lain ada yang berlukiskan pohon nyiur dan beberapa polos tanpa tulisan ataupun gambar. Piring keramik kuno pun menghiasi salah satu dinding.
Seluruh tatanan dan dekorasi ini memberi kesan kuat nuansa masa lalu. Terutama kaitannya dengan jaman Belanda. Tak cuma dekorasi, interiornya pun memperkuat kesan masa lalu itu.
Tak ketinggalan, di bagian bawah pun dipasangi ciri khas jadul berupa ubin warna-warni model lama. Dari putih-hitam sampai yang penuh ornamen dalam beberapa warna. Semua hiasan klasik itu terlihat harmonis dan membuahkan kenyamanan.
Kursi-kursi makan dipilih berbentuk simpel dalam warna cokelat tua. Tentunya tak memberi kesan terlalu formal. Di sanalah saya duduk dan langsung memesan teh jahe yang hangat untuk memulihkan tubuh setelah perjalanan panjang dari Jakarta, sembari menunggu hidangan utama dari resto yang menyuguhkan menu Indonesia dan Asia ini. Untuk yang memilih menu prasmanan, ada minuman lokal yang tidak boleh terlewatkan, yakni kunyit asam yang rasanya menyegarkan. Selain itu, tersedia beras kencur. Restoran bisa disambangi saat sarapan, makan siang, dan malam. Jam operasional memang cukup panjang, yakni pukul 06.00-23.00.
Siang itu, pilihan menu Saya adalah gurame asam manis. Ikan gurame yang dibalut tepung terasa gurih tanpa rasa amis. Dan tentunya guyuran saus asam manis yang menyegarkan. Pilihan yang tepat untuk makan siang. Gurame asam manis memang salah satu menu unggulan meski bukan satu-satunyaandalan. Masih ada pilihan lain, seperti nasi uduk komplet. Nasi yang gurih ini dipadu dengan ayam goreng, potongan telur dadar, sambal kacang, irisan mentimun, dan yang mengejutkan ada beberapa keping jengkol.
Bila tak ingin icip-icip hidangan lokal, Menoreh juga menawarkan olahan Asia. Penggemar nasi briyani, misalnya, bisa memilih prawn sauteed brochette, yang tak lain adalah paduan nasi briyani dengan udang bakar, mango chutney, dan yogurt tanpa rasa. Soal yogurt ini, Menoreh memproduksinya sendiri. Rasanya lembut. Untuk penutup hidangan, bisa juga ditemukan yogurt dengan berbagai rasa di menu prasmanan.
Bila singgah saat makan malam, pilihan bisa dijatuhkan pada Duo of Australian Lamb, dua potong daging kambing yang penampilannya terlihat cantik karena ditemani eggplant-ratatouille involitinidan pommes gratin. Untuk bagian akhir, ada yang manis, yang membuat acara bersantap menjadi berkesan. Chef Iqbal Batubara, sang maestro di dapur hotel ini, menawarkan baked pear surprise, buah pear panggang yang dipadu dengan saus berry, juga coffee trio, paduan tiga sajian coffee panna colta, coffee and chocolate tart, dan mocha parfait. Lengkap sudah!
Rita N
Batik Madura (2), yang Unik dan Ngejreng Khas Pamekasan
Setiap kota di Madura memiliki batik khas, termasuk Sampang dan Sumenep. Selain batik Madura khas Bangkalan dan batik Pamekasan juga tengah naik daun. Kedua kota ini berjarak sekitar 96 kilometer. Pamekasan berada di sisi selatan, sedangkan Sumenep berada di ujung timur pulau ini. Warna-warna ngejreng menjadi ciri khas dari batik Pamekasan. Di kota ini, seperti juga di Bangkalan, ada pasar khusus batik. Namanya Kompleks Pasar 17 Agustus. Lokasinya terletak di Jalan Pintu Gerbang. Hampir semua kios menjual batik serupa, tapi kebanyakan batik Pamekasan.
Kampung Batik Madura
Lokasi kampung batiknya tak terlalu jauh dari pusat kota. Kecamatan Proppo memiliki beberapa kampung batik, di antaranya Desa Rangperang Daya dan Desa Klampar. Untuk menuju ke sana, hanya memerlukan waktu 10-15 menit dari pusat kota. Suatu pagi, di Dusun Banyumas, Desa Klampar, saya melihat kaum ibu membatik di depan rumahnya. Salah satunya Khatimah, 30 tahun, yang langsung tersenyum ketika saya dekati.
Ibu dua anak ini sudah membatik sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kini kegiatan itu ia lakukan hampir setiap hari setelah mengurus anak dan memasak. “Kadang sambil ngerumpi juga,” ujarnya sembari tertawa. Ia membatik di atas kain samporis, motif sederhana yang dengan cepat diselesaikannya. “Motifnya di sini besar-besar dan gablak (warna-warni),” katanya. Menurut Khatimah, batik yang sedang tren adalah pancawarna. “Cirinya berwarna terang dan tabrakan,” ucapnya. Warna kinclong itu tentunya dari pewarna kimiawi. Warna batik Pamekasan memang ke luar dari pakem batik umumnya. Batik ini memunculkan warna menyala, terutama oranye, ungu, kuning, juga hijau.
Soal harga, batik Pamekasan tergolong miring. Tergantung kain yang digunakan, corak, serta warna. Coraknya pun cenderung tak memenuhi lembaran kain. Harga terendah berkisar Rp 50-75 ribu. Rupanya harga tersebut justru yang paling banyak dibeli. Untuk batik yang menggunakan katun super, harga terendah Rp 100 ribu. Tapi kisaran harga umumnya antara Rp 65-350 ribu per lembar. Di kampung ini, batik yang tengah naik daun adalah motif sekar jagad. “Maksudnya, segala corak masuk, pokoknya sejagad. Rumput, daun, dan garis-garis,” tuturnya.
Tak jauh dari Desa Klampar, ada Desa Rangperang Daya. “Di Rangperang Daya, batiknya lebih halus,” kata Kholili dari Batik Podhek Al-Barokah di Rangperang Daya. Selain itu, ada kampung batik di Desa Kowel yang lebih banyak menggunakan warna dasar putih. l
Rita N
Batik Madura, (1) Pewarnaan di Dalam Gentong
Madura tak selalu identik dengan karapan sapi, garam, atau bebek Sinjay. Pulau di utara Jawa Timur ini juga punya batik. Beberapa tahun terakhir, batik Madura sinarnya makin benderang bagi pecinta batik di Indonesia, juga mancanegara.
Adalah Kampung Batik Tanjungbumi di pesisir utara pulau garam ini yang menjadi semacam sentra batik khas Madura. Sesungguhnya, jika wisatawan menuju Madura melewati jembatan Suramadu, maka begitu lepas jembatan yang menghubungkan dengan Surabaya ini, di Kota Bangkalan mereka sudah disuguhi gerai batik Madura.
Motif Batik Madura
Lokasi Kecamatan Tanjungbumi yang terkenal dengan batik Gentongan, batik yang menggunakan pewarnaan alami dan proses pembuatan nan panjang sekitar satu jam perjalanan dari Bangkalan. Atau sekitar 45 kilometer dari kota itu.
Aroma laut tercium ketika kendaraan mulai masuk ke jalan kecil tak jauh dari pasar. Tak lama papan nama perajin batik pun bermunculan. Papan nama Batik Naraya, Jalan Pelabuhan Sarimuna, Peseseh, Tanjungbumi, Bangkalan, yang dipasang tampak memudar. Maklum, usaha batik ini sudah turun-temurun diwariskan dari nenek dan ibunya.
Ada sekitar empat perempuan yang tengah bekerja. Masing-masing menangani hal berbeda-beda. Seorang ibu tengah memberi malam pada motif, sedangkan di bagian belakang, perempuan lain menyelupkan kain bercorak ke air pewarna yang mendidih. Perempuan lain menjemur kain batik setelah mencelupkannya ke air bersih. Satu lagi, berada di depan batik yang tengah digantung. Tangan-tangan bergerak naik-turun di atas batik, membuang malam yang tersisa. “Itu lagi melorot, membuang malam terus mengais, dan membersihkan sisa-sisanya,” kata Misnari, pemilik Batik Naraya.
Nyaris setiap perempuan di Tanjungbumi bisa membatik. Tapi untuk pewarnaan, kata Misnari, hanya ada di tiga tempat di kecamatan itu.
“Proses pewarnaannya pakai gentong,” ujar mbak Nari, sapaan akrab Misnari menjelaskan asal nama Gentongan. Kain batik bercorak direndam dalam gentong pewarna selama berbulan-bulan. Ciri warnanya memang cenderung gelap karena variasi pewarna alami tak berlimpah. Warna cerah yang muncul biasanya merah dan biru. Itu pun tak terlalu menonjol. Kain cenderung penuh dengan corak yang beragam. Proses pembuatan kain Gentongan memerlukan waktu panjang, yakni enam bulan hingga setahun. “Pewarnaannya itu saja. Paling cepat tiga bulan,” ucapnya. Tak heran jika harganya dipatok antara Rp 3-5 juta.
Ia menyatakan batik Gentongan berbeda dengan batik sederhana, seperti jenis torcetor yang hanya memerlukan waktu seminggu. Bahkan dalam sehari, bisa mendapat dua lembar kain. Sedangkan, dalam satu lembar batik Gentongan, bisa muncul beberapa corak dan pewarnaannya dua sisi. Sebab, kedua sisi kain Gentongan dibatik. Berbeda dengan batik umumnya yang hanya satu sisi. Belum lagi proses membuat pewarna alami yang memakai saga, mengkudu, dan lain-lain.
Berada di daerah pesisir dengan mata pencarian utama para pria sebagai nelayan, membuat corak berbau bahari banyak menjadi inspirasi. “Motif asli sini adalah sik malaya, pantai, serta berlayar. Hal ini karena suami nelayan dan ini jadi khas Madura,” tuturnya.
Dengan berpatok pada ide mengenai perahu, berlayar, dan pantai, memunculkan banyak variasi corak. Ditambah pula beberapa motif lain khas Tanjungbumi, seperti panji susi, pempadi (bunga padi), bulu ayam, tesate (tusuk sate), turun hujan, mo’ramo’ (akar-akaran), beragam bunga, juga burung. Motif itu terus berkembang seiring waktu. Namun, menurut Nari, yang tergolong baru adalah telenteh (lidi) dengan warna campuran alami dan kimiawi.
Ia mengatakan dahulu batik digunakan hanya untuk salat. Kini pengrajin membuat perangkat lengkap, yakni dari kainsampai selendang untuk membuat perempuan tampil prima dalam balutan batik Gentongan. Untuk paket lengkap tersebut, bisa mencapai Rp 5 juta. Meski demikian, ia tetap membuat batik tulis sederhana yang pengerjaannya sekitar seminggu dengan nilai jual mulai Rp 100 ribu.
Rita N
Tanjungpinang, Antara Kesultanan Melayu dan Wisata Religi
Terdapat sekitar 2.408 pulau besar dan kecil di Provinsi Kepulauan Riau. Hanya saja, yang paling dikenal adalah Pulau Batam dan Pulau Bintan. Adapun Pulau Bintan adalah tempat Kota Tanjungpinang berada. Dengan budaya Melayunya yang kental, di sini wisatawan bisa mengenal lebih dekat kesultanan Melayu, mengunjungi vihara unik, dan tentunya menikmati keindahan pantai Pulau Bintan.
Tanjungpinang dan kesultanan Melayu
Sejarah Kesultanan Melayu bisa didapat bila pelancong singgah ke Pulau Penyengat yang bisa dicapai hanya 15 menit perjalanan dengan perahu dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjungpinang. Di pulau berukuran 3,2 kilometer persegi ini, wisatawan bisa menelusuri sejarah Kesultanan Melayu karena pada abad ke-18 merupakan pusat Kesultanan Johor-Riau. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Raya Sultan Riau. Selain itu, ada beberapa peninggalan lain, seperti tempat pemandian Perigi Puteri, gudang mesiu, makam raja, rumah-rumah asli, dan meriam di Bukit Kursi.
Ketika kembali ke Tanjung Pinang, terdapat tempat ibadah umat Budha yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Vihara Avalokitesvara Graha yang berada di jalur Tanjung Pinang-Uban. Vihara itu disebut-sebut sebagai vihara terbesar se-Asia Tenggara. Di bagian dalamnya, ada patung Dewi Kuan Yin dengan tinggi 16,8 meter yang berlapis emas 22 karat. Selain itu, ada sejumlah wihara lain yang unik. Misalnya, Vihara Patung Seribu yang memiliki 1.000 patung Budha dengan ekspresi dan gaya yang berbeda-beda.
Saat perut keroncongan, ada beragam sajian khas kota ini, seperti gonggong, sup ikan, ikan asam pedas, nasi lemak, hingga mi lendir, mi kuning basah yang diguyur dengan kuah kacang encer. Adapun bila ingin bersantai, ada deretan kedai kopi yang biasa dijadikan tempat nongkrong oleh warga.
Malam hari, bisa Anda habiskan untuk menikmati pantai dan hembusan angin laut. Tanjungpinang memiliki garis pantai yang cukup panjang, dan yang menarik adalah pesisir timurnya. Dari mulai Pantai Trikora, pantai yang berpasir putih dengan hiasan batu-batu granit. Selain itu, ada sejumlah akomodasi bagi wisatawan yang ingin mencecap suasana lebih lama dan nyaman.Melangkah lebih jauh lagi atau sekitar 65 kilometer dari Tanjung Pinang, ada Pantai Lagoi yang dipenuhi resor dan hotel berbintang. Akomodasi dan sarananya lengkap, bahkan terdapat lapangan golf. Kawasan wisata di Kabupaten Bintan ini digandrungi turis Korea, Cina, Jepang, dan Singapura. Bagi warga dari Negeri Jiran, Malaysia, dapat mencapainya lebih cepat dengan kapal feri khusus dari Tanah Merah, Singapura, dengan jumlah keberangkatan empat kali dalam sehari. l
F. Rossana









