Saung Angklung Udjo, Bergoyang Mulai 1966

Saung Angklung Udjo Bandung melestarikan budaya dengan cara gembira. Foto: Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo puluhan tahun menjadi salah satu identitas budaya tradisional Sunda di Bandung, Jawa Barat. Utamanya, tentu, mengenalkan alat musik khas masyarakat Sunda, yakni angklung. Di sini tak sekadar pertunjukan, pengunjung juga dapat belajar tentang sejarah angklung, cara memainkannya, serta menonton beragam pertunjukan seni tradisional Sunda.

Saung Angklung Udjo

Sejatinya, tempat ini didirikan sebagai upaya edukasi dan pelestarian budaya tradisional Sunda, termasuk seni musik angklung. Dengan format yang ringan, sederhana dan menyenangkan bagi pengunjungnya, diharapkan semakin banyak yang tertarik melestarikan budaya tersebut.

Didirikan pada 1966, tempat ini memiliki panggung serta etalase untuk memamerkan alat musik tradisional seperti angklung, calung, arumba dan lain lainnya. Selain itu, karya seni lainnya seperti lukisan dan sebagainya kerap dipamerkan pula di sini.

Adalah seorang seniman tradisional Sunda bernama Udjo Ngalagena yang merasa tergerak untuk berkontribusi lebih besar pada kesenian yang membesarkan namanya serta memberinya penghidupan. Sebagai tanda kontribusinya, ia pun mendirikan tempat ini.

Angklung sendiri merupakan salah satu alat musik tradisional Sunda yang diyakini muncul pertama kali sekitar abad ke-12. Angklung lazim digunakan dalam ritual budaya dan keagamaan di masa kerajaan kala itu.

Saung Angklung Udjo ikut mengembangkan teknik permainan angklung.
Alat musik angklung seperti yang diajarkan di Saung Angklung Udjo Bandung. Foto: dok. shutterstock

Salah satu ritual tersebut dilakukan bagi para kaum tani. Pada masa kerajaan Hindu, kepercayaan masyarakat kala itu meyakini bahwa permainan angklung akan membawa berkah dari Dewi Sri, dewi kesuburan. Harapannya, pertanian mereka selalu subur dan sukses panen.

Angklung digunakan pula sebagai penanda perang atau keadaan bahaya. Dan pada perkembangannya, ia juga digunakan dalam pertunjukan musik yang diselenggarakan kerajaan saat itu. Dari situlah, budaya seni musik angklung berlanjut hingga kini.

Alat musik ini terbuat dari bambu yang dibuat menyerupai pipa-pipa yang tersangga. Untuk memainkannya, angklung digoyangkan agar badan pipa bambu tersebut berbenturan dan menimbulkan suara.

Setiap angklung memiliki nada yang berbeda-beda, sehingga dibutuhkan lebih dari satu angklung untuk dapat membuat sebuah pertunjukan musik. Oleh karena itulah seni musik angklung biasanya dimainkan secara ensemble.

Nama angklung sendiri disebut berasal dari sebuah istilah dari bahasa Sunda yaitu angkleung-angkleung, yang kurang lebih artinya gerakan yang mengikuti irama. Ini didasari pada cara memainkan angklung yang digoyang-goyangkan.

Secara etimologi, angklung juga disebut berasal dari kata angka yang berarti nada dan kata lung yang berarti patah atau putus. Ini merujuk pada jenis suara yang dikeluarkan oleh alat musik ini biasanya cenderung putus-putus atau hanya satu kali suara.

Walaupun angklung biasanya dimainkan dengan cara digoyangkan, tetapi ada juga teknik-teknik lain, seperti misalnya cetok yang berarti pipa bambu ditarik-tarik dengan cepat. Atau tengkep dimana salah satu pipa bambu ditahan saat digoyangkan.

Pada 1938, seorang maestro angklung bernama Daeng Soetigna menciptakan angklung dengan nada diatonis. Angklung jenis ini dapat memainkan lagu-lagu dengan kunci dan tangga nada pada umumnya, sehingga bisa digunakan pada orkestra sekalipun.

Angklung jenis inilah yang kemudian paling dikenal secara luas hingga kini. Udjo, yang kebetulan merupakan sang murid pada saat itu pun kemudian turut membantu mempopulerkan jenis serta kesenian alat musik ini.

Namun seperti halnya kebanyakan seni budaya tradisional pada umumnya, perkembangan zaman menjadi tantangan berat dalam melestarikannya. Kekhawatiran inilah yang membuat pria yang akrab dipanggil mang Udjo tersebut memutuskan mendirikan Saung Angklung Udjo.

Di tempat ini ia pun mengembangkan teknik-teknik permainan angklung, serta rajin menggelar pertunjukan seni musik angklung. Bersama sang istri, Uum Sumiati, ia dengan giat mengelola tempat ini dalam upaya mempopulerkan kesenian tersebut agar tak punah dimakan waktu.

Baginya, Saung Angklung Udjo didirikan agar menjadi pusat pertunjukan seni budaya tradisional seperti angklung dan lain lainnya yang mampu menarik banyak pengunjung. Tetapi lebih dari itu, ia juga ingin tempat ini berfungsi sebagai media edukasi bagi setiap pengunjungnya.

Pada perkembangannya Saung Angklung Udjo pun menjadi pusat pertunjukan, pengembangan dan edukasi bagi seni musik angklung serta kesenian tradisional Sunda lainnya. Bahkan setelah mang Udjo tutup usia pada tahun 2001, tempat ini terus dikelola oleh anak-anaknya.

Saung Angklung Udjo Konser Saung Angklung Udjo
Salah satu pertunjukan di Saung Angklung Udjo, di mana penonton kadang ikut tampil. Foto: Saung Angklung Udjo

Satu ciri khas dari Saung Angklung Udjo adalah pertunjukan yang biasanya diadakan pada sore hari. Biasanya setiap jam 15.00 hingga jam 17.00 tempat ini mengadakan beragam pagelaran seni budaya Sunda seperti angklung, arumba, tari topeng, sampai wayang golek.

Begitu padatnya pengunjung yang berminat menonton pertunjukan ini, beberapa kali diadakan pula pertunjukan pada pagi atau siang hari. Pada 1995 pun dibangun panggung yang cukup besar yang mampu menampung kapasitas sekitar 500 orang.

Tak hanya itu, beberapa kali seniman-seniman dari Saung Angklung Udjo ditanggap untuk tampil di tempat lain dalam berbagai acara. Yang lebih hebat lagi, beberapa di antaranya bahkan berlangsung di luar negeri.

Selain menghidupi seniman-seniman yang berkarya di sana, Saung Angklung Udjo juga menjadi sumber rejeki bagi para pengrajin alat musik tradisional Sunda. Di tempat ini pengnjung juga bisa membeli dan/atau memesan beragam jenis alat musik tradisional tersebut sebagai souvenir.

Selain menjual dan mempromosikan, tempat ini juga berkomitmen untuk membantu para pengrajin agar senantiasa mendapatkan bahan baku terbaik. Ditambah lagi, mereka juga memberi pelatihan agar kualitas alat musik buatan mereka senantiasa baik.

Sesuai dengan semangat ‘memberi kembali’, banyak warga lokal sekitar yang diberdayakan menjadi pengrajin. Selain itu, beberapa dari penghasilan tempat ini juga disisihkan untuk membiayai pendidikan anak-anak kurang mampu di sekitarnya.

Kalau tertarik untuk berkunjung, harga tiket masuknya Rp 60 ribu untuk hari biasa dan Rp 70 ribu pada akhir pekan. Untuk wisatawan mancanegara, harga tiketnya menjadi 110 ribu saat weekdays dan Rp 120 ribu kala weekend.

Selain pertunjukan seni tradisional Sunda serta edukasi tentang kesenian Sunda, di tempat ini juga disediakan beragam jenis hidangan ala Sunda. Cocok bagi yang ingin santap siang sekaligus menikmati setiap pengalaman yang ditawarkan tempat ini.

Adapun harga souvenir seperti angklung beragam dari ukurannya. Untuk yang berukuran besar dihargai Rp 300 ribu, sedangkan yang berukuran sedang harganya Rp 250 ribu. Selain itu ada pula alat musik lain, misalnya gambang yang dijual Rp 275 ribu.

Saung Angklung Udjo buka dari jam 08.00 hingga jam 17.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (022) 7271714 atau via email info@angklung-udjo.co.id serta mengunjungi situs resmi angklungudjo.com dan akun Instagram resmi @angklungudjo.

Saung Angklung Udjo

Jl. Padasuka no. 118, Bandung

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Sarapan Tradisional Bangkalan, 3 Yang Perlu Dicoba

Sarapan Tradisional Bangkalan Madura perlu dicoba selain bebek Sinjay ada 3 pilihan lain.

Sarapan tradisional Bangkalan di pulau Madura mungkin banyak orang akan langsung terpikir nasi bebek Sinjay yang memang sudah sangat kondang. Namun, sesungguhnya, Bangkalan tidak cuma mempunyai bebek, ia juga punya sejumlah masakan untuk sarapan. Jika cukup punya waktu, pesan saja bebeknya untuk dibungkus dan dibawa pulang, sementara sarapannya coba yang lain.

Sarapan Tradisional Bangkalan

Bangkalan, kota yang berada di Pulau Madura tapi dapat dicapai dalam waktu satu jam dari Surabaya via Jembatan Suramadu ini, sesungguhnya mempunyai pilihan segudang menu sarapan.

Namun, dalam perjalanan singkat ke Madura dan Jawa Timur, saya menemukan satu titik yang menyajikan tiga menu pilihan khas. Selain lokasinya berdekatan, yakni di ujung Jalan KH Hasyim Asyari yang tidak jauh dari SMPN 2 Bangkalan, harganya juga tidak menguras kantong. Semua di bawah Rp 10 ribu. Ketiganya adalah nasi jagung, topak lodeh, dan tajin Sobih.

Ke tiganya bisa menjadi alternatif pilihan sebelum melanjutkan perjalanan ke Madura. Baik ke Pamekasan untuk berburu batik, atau sekedar jalan-jalan di seputar kota Bangkalan sebelum kembali ke Surabaya atau tujuan perjalanan lainnya di Jawa Timur.

sarapan tradisional Bangkalan menjadi lebih mudah sejak adanya Jembatan Suramadu.
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura. Foto:shutterstock

Nasi Jagung Ikan Tongkol

Dalam bahasa daerah, orang Madu
ra menyebutnya nasek ampog. Jagung memang bahan makanan yang lekat dalam keseharian masyarakat Pulau Madura. Karena itu, tak mengherankan muncul olahan bernama nasi jagung. Menu olahan beras ini dicampur dengan jagung pipilan yang telah dikeringkan dan ditumbuk. Menu ini lahir karena kesulitan beras pada masa lalu, tapi kini tetap enak dinikmati karena menjadi sajian khas di pagi hari.

Dulu, nasi jagung diolah dengan lebih banyak beras dibanding jagung. Namun dalam perjalanan kali ini saya menemukan Ibu Astuti. Pedagang nasi jagung yang telah berjualan selama delapan tahun di ujung Jalan Hasyim Asyari tersebut menyebutkan menggunakan
1,5 kilogram beras dengan 1 kilogram jagung yang sudah dikeringkan.

Nasi jagung ditempatkan di wadah, bersebelahan dengan lauk pauk dan sayuran padanannya. Pagi itu, saya menemukan lauk berupa tongkol sengkeseng atau ikan tongkol yang ditumis dengan tomat, bawang merah, plus sayuran. Satu bungkus yang cukup mengenyangkan itu dia banderol hanya Rp 8.000. Ia berjualan sejak pukul 06.30. Biasanya, pukul 08.00 dagangannya sudah habis.

Meski tergolong tidak banyak lagi yang berjualan, nasi jagung masih bisa ditemukan di beberapa tempat. Astuti menyebutkan lokasi itu ada di Pasar Sorjen, Bangkalan.

Topak Lodeh Nan Gurih

Bersebelahan dengan penjual nasi jagung, saya menemukan ibu yang berjualan dengan menu khas lain, yakni topak lodeh. Rupanya makanan ini merupakan perpaduan potongan ketupat atau lontong dengan sayur lodeh. Uniknya, kuahnya dibuat kental dengan rasa gurih. Sehingga rasanya nikmat benar di lidah. Penjaja juga menjualnya dalam wadah bambu.

Selain berisi lontong atau ketupat, dalam wadah yang disekat daun pisang itu ada juga tambahan berupa jagung tumbuk, kerupuk kulit kuah lodeh, sayur pepaya muda berkuah kental karena menggunakan santan dan tepung beras,

serta parutan kelapa yang disangrai dengan irisan cabe merah. Ibu Sukarni, sang penjaja makanan ini, berjualan pukul 05.00-08.00. Harganya juga cukup irit untuk sarapan, yakni Rp 6.000. Jenis penganan ini juga bisa ditemukan di Pasar Senen, Bangkalan.

Si Manis Tajin Sobih

Bila ingin yang manis, pilihannya adalah tajin Sobih. Nama belakang dari tajin atau bubur itu adalah nama desa di Kecamatan Bangkalan. Nah, sebagian besar pedagang bubur Sobih di Bangkalan ternyata berasal dari desa itu. Saya mendapati Ibu Khoiriyah, salah seorang penjual bubur Sobih, di seberang pedagang topat lodeh dan nasi jagung. Berbekal bakul dari anyaman bambu, ia berjualan mulai pukul 05.00 hingga 10.00.

Tajin Sobih tak lain terbuat dari bubur sumsum dengan guyuran gula merah cair. Namun ada tiga panci kecil yang dipadu menjadi teman tajin Sobih dengan warna berbeda-beda, yakni bubur srintil dan bubur mutiara santan. Bungkus menu sarapan yang manis ini juga menggunakan daun pisang. Harganya per pincuk hanya Rp 3.000. Penjual menu ini tergolong banyak, dari yang nangkring sampai berkeliling.

agendaIndonesia

****

Kuliner Yogyakarta, 7 Yang Pedas Menyengat

Jogja Fashion Week 2022 diselenggarakan di tiga venue.

Kuliner Yogyakarta persepsi orang selalu dikaitkan dengan gudeg, masakan berbahan nangka muda dengan rasa dominan manis. Bahkan semua masakan di kota pelajar ini cenderung dipersepsikan makanan yang manis. Tapi, betulkah demikian?

Kuliner Yogyakarta

Ternyata tak semua sajian di kota ini berasa manis, ada pula olahan yang membuat lidah terasa terbakar. Rasanya ada kuliner yang perlu Anda coba bila bepergian ke Yogyakarta, dan mencari alternatif selain gudeg.

Gudeg tentu jangan sampai dilewatkan, namun kali ini kami coba mengenalkan warisan kuliner Yogyakarta selain gudeg. Cukup banyak warung yang melejit dan ramai dikunjungi karena keberanian menggunakan cabai dalam olahan maskan andalannya. Berikut tujuh yang mungkin bisa dikunjungi.

Entok Slenget Kang Tanir

“Entok”dalam bahasa Jawa adalah sebutan untuk itik manila, sedangkan “slenget”berarti rasa yang menyengat. Kang Tanir memberi nama warungnya sesuai dengan spesialisasinya memasak rica-rica itik pedas yang mampu menyengat lidah pembelinya. Lokasi warung kuliner Yogyakarta ini terletak di daerah Turi. Dari pusat Kota Yogya, setidaknya 45 menit berkendara menuju warung ini.

Kuliner Yogyakarta tak cuma gudeg, tapi juga entok yang pedas menyengat.
Entok Slenget Pak Tanir, tampilan bisa buruk, tapi rasa bisa bikin kangen. Foto: Dok. TL

Meskipun jauh, dijamin tidak akan menyesal berkunjung ke mari. Kanan-kiri jalan dipenuhi hamparan sawah dan kebun salak pondoh. Pada akhir pekan, jalanan menuju Turi akan disesaki kendaraan yang hendak berwisata di lereng Gunung Merapi di Kaliurang.

Warung Kang Tanir buka pukul 16.30, di mana udara Turi menjadi cukup dingin menjelang gelap. Jadi ini saat yang tepat untuk memesan sepiring entok slenget dengan nasi panas. Anda bisa meminta tingkat kepedasan yang sesuai toleransi lidah.

Biasanya kang Tanir akan mengambil beberapa cabai rawit untuk ditumbuk kasar. Lalu dimasukkan ke dalam satu wajan berisi potongan entok yang telah direbus sebelumnya. Setelah ditambah kecap dan bumbu lain, semua campuran itu dimasak dengan api besar.

 Entok slenget dibanderol Rp 30 ribu per porsi, termasuk nasi, sepiring potongan kubis mentah dan mentimun segar, plus teh atau jeruk hangat. Jika hendak berkunjung di akhir pekan, pastikan Anda datang lebih awal. Sebab, hanya dalam waktu 2-3 jam, stok daging entok bisa ludes seketika. Ada pula pilihan lain, thengkleng entok, yang ini cukup banyak tulangannya.

Entok Slenget Kang Tanir; Pasar Agropolitan Pules, Donokerto, Turi, Sleman.


Penyetan Mas Kobis

Sekitar 10 tahun lalu, warung Penyetan Mas Kobis hanya menempati sepetak poskamling di daerah Universitas Negeri Yogyakarta. Warung ini menjadi andalan mahasiswa, terutama yang doyan pedas. Namun sekarang, warung ini memiliki tempat yang luas dan banyak cabang sehingga menjangkau berbagai kalangan.

Kuliner Yogyakarta ternyata menyimpan masakan-masakan yang berasa pedas.

Penyetan Mas Kobis menyediakan menu berupa ayam, tahu, tempe, telur, ikan nila, ati ampela, dan lele dengan kisaran harga Rp 5 ribu-20 ribu. Buka pukul 11.00- 23.00. Jangan lupa selalu cantumkan seberapa pedas sambal yang Anda inginkan. Dua atau 20 cabai pun akan tetap dilayani. Cabai-cabai ini ditumbuk kasar dengan bawang putih, lalu ditambah sedikit minyak goreng panas. Kemudian lauk yang Anda pesan akan digeprek atau dihancurkan di dalam cobek berisi sambal bawang tadi. Bahkan, jika Anda memesan terung atau kol goreng pun, akan turut digeprek. Hasil akhir penampakan menu di warung ini memang terkesan berantakan. Tapi itulah ciri khas Penyetan Mas Kobis selama bertahun-tahun. Meskipun tak menarik dilihat, tidak berarti tak sedap di lidah, bukan?

Penyetan Mas Kobis; Jalan Pandega Marta, Mlati,Yogyakarta

Kebelet Belut

Tidak semua orang menggemari masakan belut. Sebagian bahkan merasa jijik dan geli membayangkan hewan aslinya yang licin dan hidup di sekitar sawah. Tapi tak sedikit pula yang menyukai daging belut karena lembut dan gurih. Jika Anda termasuk di dalamnya, cobalah kuliner Yogyakarta yang khas dengan mampir ke warung Kebelet Belut yang memiliki berbagai olahan masakan belut.

Ada belut goreng kering yang dicampur dengan sambal merah atau sambal hijau dalam satu cobek. Ada pula belut goreng yang dihidangkan terpisah dengan sambal bawang pedas. Bosan dengan goreng-gorengan, cobalah varian lain, yaitu garang asem belut dengan cita rasa asam manis karena dimasak menggunakan belimbing wuluh dan santan.

Sebagai makanan berkolesterol tinggi, kerap kali sambal belut disandingkan dengan potongan bawang putih mentah sebagai penurun kolesterol secara alami. Meskipun berspesialisasi mengolah belut, warung ini juga menyediakan lele dan ayam goreng.

Kebelet Belut; Jalan Ipda Tut Harsono 42, Timoho; Yogyakarta

Iwak Kalen

Iwak kalen dalam bahasa Jawa artinya ikan kali atau sungai kecil. Warung ini memang khusus menyediakan makanan yang berasal dari ikan sungai dan tambak. Menu andalannya adalah ikan wader, udang air tawar, dan ikan kutuk, atau populer sebagai ikan gabus.

Kuliner Yogyakarta sangat beragam dari yang manis hingga yang pedas. Dari ayam hingga ikan sungai.
Iwak kalen yang berarti ikan dari kali atau sungai kecil seperti ikan wader. Foto: Dok. TL

Tak ketinggalan juga aneka sambal disediakan, seperti sambal tomat segar, sambal terasi matang, sambal bawang, dan sambal kecap. Anda juga bisa memilih apakah lauk akan digoreng, dibakar, ditumis bersama sambal, dimasak mangut pedas, atau dibuat sup.

Lokasinya bersebelahan dengan persawahan dengan suasana perdesaan yang kental. Bagi wisatawan atau pengunjung yang suntuk dengan hiruk-pikuk perkotaan, warung Iwak Kalen bisa menjadi pilihan. Makan enak sembari memanjakan mata.

Iwak Kalen; Jalan Godean KM 9, Gang Mandungan, Genitem, SidoagungGodean, Sleman

Oseng-oseng Mercon Bu Narti

Istilah mercon digunakan banyak kuliner di Jawa Tengah, Yogya, dan Jawa Timur untuk menunjukkan masakan yang dijual biasanya sangat pedas. Jika berkunjung ke warung bu Narti di kawasan Kauman, orang akan langsung paham jenis masakan apa yang dijual: orang-orang yang sedang makan dengan raut wajah terengah-engah dan mata setengah melotot. Tak sedikit yang makan sambil mengelap peluh di keningnya.

Inilah efek menyantap oseng-oseng mercon. Makanan kreasi Bu Narti ini kini telah menjadi kuliner khas Yogyakarta. Berdiri sejak 1998 warung ini terkenal hingga ke berbagai kota, menarik setiap pejalan untuk mencoba.

Dilihat dari bentuknya, hidangan yang disajikan biasa saja. Hanya nasi putih panas ditemani oseng-oseng sederhana berisi kikil, gajih, kulit, dan tulang muda. Orang Jogja menyebutnya koyoran. Terlihat sangat berminyak, ditambah kepungan irisan cabai rawit yang bijinya menempel di koyoran.

Masakan ini karena sangat berminyak akan cepat membeku. Ngendal kata orang Jawa. ngan lemak yang begitu banyak. Maka makanlah dengan cepat. Panas nasi putih juga bisa membantu memperlambat proses pembekuan lemak. Toh, makan mercon selezat ini mana bisa lambat-lambat, semua gerak cepat. Jika tak kuat dengan serangan rasa pedas, ada menu lain seperti ayam, burung puyuh, dan lele.

Oseng-oseng Mercon Bu Narti; Jl. KH ahmad Dahlan, Gang Purwodiningratan, Yogyakarta

Gudeg Mercon Bu Tinah

Satu lagi masakan yang memajang kata mercon di sajiannya. Kali ini adaptasi dari kuliner Yogyakarta, gudeg. Jadi ini gudeg yang tidak sekadar manis.

Gudeg Mercon Bu Tinah yang terletak di Jalan Asem Gede di kawasan Kranggan ini merupakan warung gudeg favorit.

Sebenarnya banyak warung gudeg, namun, warung Gudeg milik Bu Tinah ini sangat populer dan termasuk salah satu pilihan bagi mereka yang tak terlalu suka makanan manis.

Gudeg buatan Bu Tinah ini bisa dibilang tidak biasa dan punya keunikan. Gudegnya memiliki citarasa yang pedas dengan kuah santan yang kental dan gurih. Rasa pedas Gudeg ini sangat dominan. Rasa pedasnya nendang banget, ini berasal dari oseng-oseng mercon kreceknya.

Dimana krecek tersebut ditabur dengan ranjau cabai rawit yang ekstra pedas. Belum lagi dengan tambahan sayur lombok ijo yang membuat makanan ini pedasnya meledak di mulut. Meski terkenal dengan rasa pedasnya, Gudeg ini tetap memiliki rasa manis.

Warung Bu Tinah ini buka setiap malam dan memiliki pelanggan yang lumayan banyak. Terutama setiap malam minggu tak pernah sepi pengunjung. Warungnya sangat sederhana, yaitu berupa warung tenda di pinggir trotoar.

Gudeg Mercon Bu Tinah; Jalan Asem Gede, Jetis, Yogyakarta

Jadi kalau ke Yogyakarta dan ingin membakar lidah, jangan lupa agendakan mencicipi kuliner pedas ini ya.

agendaIndonesia

*****

Nusa Penida Bali, Ini 6 Tempat Wajib Dikunjungi

Tenun Rangrang adalah produk kerajinan dari masyarakat Nusa Penida, Bali,

Nusa Penida Bali semakin banyak dikunjungi wisatawan. Ikon berupa pantai dengan karang yang membentuk jari kelingking menjadi potret yang banyak diburu wisatawan.

Nusa Penida Bali

Nusa Penida sendiri adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah tenggara pulau Bali yang dipisahkan oleh Selat Badung dan masuk ke dalam Kabupaten Klungkung. Di dekat pulau ini terdapat juga pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Dua pulau ini relatif lebih dulu dikenal oleh wisatawan. Perairan pulau Nusa Penida terkenal dengan kawasan selamnya di antaranya terdapat di Crystal BayManta Point, Batu Meling, Batu Lumbung, Batu Abah, Toyapakeh, dan Malibu Point.

Pulau kecil tersebut saat ini praktis termasuk tempat wisata pantai atau laut yang masih alami di Bali. Untuk ke Nusa Penida saat ini makin mudah, karena semakin banyak paket tur ke sini dan adanya layanan fast boat ke pulau ini.

Cara paling umum ke Nusa Penida adalah dengan fastboat dari Pantai Sanur. Dari pantai ini ada fastboat yang berangkat tiap satu atau dua jam sekali. Tergantung perusahaan fastboat yang mengelola. Pantai Sanur bukan satu-satunya tempat memilih fastboat ke Nusa Penida, wisatawan juga bisa menumpang kapal cepat ini dari Tanjung Benoa.

Dari ke dua tempat di daratan pulau Bali, Wisatawan akan menyeberang menuju Pelabuhan Banjar Nyuh di Nusa Penida. Jika memilih jalan sendiri tanpa menggunakan jasa biro perjalanan, pengunjung bisa menyewa mobil atau sepeda motor di sekitar Banjar Nyuh. Ini perlu sebab di pulau ini tidak ada kendaraan umum yang bisa membawa ke sumlah spot wisata.

Lalu, apa saja yang paling menjadi primadona Nusa Penida? Berikut enam daerah wisata di Nusa Penida yang paling sering dikunjungi wisatawan.

Nusa Penida Bali, salah satu yang menjadi ikonnya adalah Pantai Kelingking, yang fotonya tersebar ke seluruh dunia.
Pantai Kelingking di Nusa Penida Bali, kini menjadi salah satu ikon wisata pulau Dewata. Foto: Unsplash

Pantai Kelingking

Pantai Kelingking atau Karang Dawa terletak di Desa Buga Mekar. Pantai ini bisa disebut ikonnya Nusa Penida. Hampir semua travel inflencer Indonesia pernah melakukan sesi pemotretan di sini. Lanskap utamanya berupa laut dan tebing karang. Salah satu tebing karang di Nusa Penida berbentuk seperti jari kelingking. Konon, sarat akan nilai historis. Untuk menuju Pantai Kelingking, wisatawan harus getol bertanya kepada warga sekitar. Sebab, lokasinya tak tertangkap baik oleh GPS. Wisatawan juga harus berhati-hati kalau membawa motor sendiri lantaran jalurnya rusak dan berkelok-kelok.

Broken Beach

Dari sejumlah pantai dengan karang bolong di Indonesia, Broken Beach atau Pantai Uug merupakan salah satu yang tereksotis. Potret pantai ini bila ditangkan menggunakan kamera udara tampak seperti sumur raksasa. Karang itu membentuk lingkaran yang besar dengan lubang menganga lebar di tengahnya. Di dalam lubang itu terdapat kolam air laut yang lebih mirip teluk. Broken Beach tak jauh-jauh amat dari Pantai Kelingking. Keduanya sama-sama berlokasi di Desa Bunga Mekar.

Nusa Penida Bali dengan salah satu ikonnya Angle's Billabong
Angel’s Billabong di Nusa Penida Bali. Foto: unsplash

Angel’s Billabong

Angel’s Billabong adalah pantai dengan karang yang membentuk koridor. Di tengah karang tersebut terdapat air laut dengan warna gradasi, yakni biru muda, biru tua, dan tosca. Berlokasi di Sakti, Nusa Penida, Angel’s Bilabong, 300 meter dari Brokeb Beach, pantai ini masuk daftar wajib kunjung. Apalagi buat penghobi renang. Airnya yang amat jernih membuat mereka ingin segeran menceburkan diri ke kolam alami itu.

Pantai Atuh

Pantai Atuh terdapat di Pejukutan, Nusa Penida. Pantai ini memiliki atmosfer yang sangat positif. Laut biru dengan gradasinya dapat langsung menyegarkan pikiran. Pantai Atuh hanya bisa dinikmati dari atas tebing. Dari sebrang tebing itu terdapat bukit-bukit kapur kecil yang wujudnya seperti lanskap di Raja Ampat.

Untuk menuju Pantai Atuh, wisatawan harus berjalan cukup jauh dari arah parkiran kendaraan. Jalurnya menurun dan cukup terjal. Namun perjalanannya tak akan terasa karena panorama sepanjang jalan cukup membikin berdecak kagum.

Pura Dalem Penataran

Nsua Penida tak cuma punya pantai. Tempat menarik lain yang bisa dikunjungi adalah pura. Salah satunya Pura Dalem Penataran. Pura tersebut berlokasi di Jalan Ped-Buyuk.

Suasana pura yang tergolong tertua itu kental dengan budaya Hindu-Bali yang khas. Bangunannya besar dan banyak memiliki ornamen. Pura Dalem cocok buat para turis yang doyan wisata kultur.

Nusa Penida Bali menjadi salah satu tujuan untuk diving dengan spotnya di Manta Point.
Manta Point sebagai salah satu tujuan diving di Nusa Penida Bali. Foto: Unsplash

Manta Point

Manta point sebenarnya merupakan titik untuk diving. Bisa ditempuh menggunakan spead boat dari dermaga Nusa Penida. Panorama bawah laut menjadi salah satu andalannya. Para penyelam di Manta Point dapat dengan jelas berenang dengan manta-manta atau pari raksasa. Bisa juga berenang bersama mereka.

Nah, kamu sudah mengepak koper atau ransel buat liburan ke Nusa Penida?

agendaIndonesia

*****

Museum UGM, 1 Kenangan Masa Kecil Obama

Museum UGM Yogyakarta menjadi tempat pembelajaran bagi generasi muda.

Museum UGM atau Museum Universitas Gadjah Mada di kawasan Bulaksumur, Yogyakarta, mungkin nyaris luput dari pantauan wisatawan Indonesia. Bisa jadi karena museum belum merupakan spot destinasi wisata yang digandrungi para pelancong. Bisa pula karena spot ini masih belum banyak yang mengetahuinya.

Museum UGM

Padahal, Museum UGM sudah berdiri dan terbuka untuk umum sejak 2013. Hampir sepuluh tahun. Ada sejumlah atraksi di dalam museum ini yang menarik. Mulai dari sejarah berdirinya salah satu universitas terbesar dan tertua di Indonesia ini, hingga satu spot kecil tentang mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Indonesia sangat lekat dalam ingatan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Sebab ia pernah menikmati masa kecilnya di negeri ini. Kenangan akan jejak-jejak Obama itu terbingkai di beberapa tempat. Misalnya sebuah sekolah dasar di kawasan Menteng, Jakarta. Atau, sebuah rumah di kawasan perumahan dosen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Museum UGM menjadi saksi pernah disinggahinya kawasan Bulaksumur UGM oleh Obama.
Salah satu kamar tempat Barack Obama pernah menginap. Foto: dok. MuseumUGM.ac.id

Salah satu tempat yang mengabadikan kenangan masa kecilnya adalah Museum Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulak Sumur, Yogyakarta. Eks perumahan dosen  pergutuan tinggi negeri itu yang kini disulap menjadi ruang edukasi. Salah satunya dulu merupakan tempat tinggal paman tiri Obama, Profesor Iman Sutiknjo.

“Dulu, ketika libur sekolah, Obama sering menginap di sini,” kata Uun, edukator Museum UGM, saat ditemui di Yogyakarta. Ia lalu mengantarkan sejumlah tamu menuju sebuah ruangan khusus yang dinamai Ruang Obama.

Ruang yang lebih mirip kamar berukuran 3×4 meter itu seperti mesin waktu. Aura masa lampau alias tempo dulu begitu terasa. Apalagi di dalam kamar ini berisi barang-barang kuno, seperti tempat tidur kayu, kasur ukuran single, meja dan kursi belajar, serta kumpulan foto masa kecil sang mantan presiden.

Konon, kamar itulah yang sering ditinggali Obama selama ia berlibur di kota pelajar. Sebuah ruangan yang sempat disinggahi seorang tokoh dunia.

Museum UGM tak cuma mematri kenangan masa kecil Obama. Ruangan untuk mengenang Prof. Dr. Sardjito juga dihadirkan di dalamnya. Dr Sardjito adalah rektor pertama UGM sekaligus ilmuwan pertama yang menciptakan obat calcusol. Calcusol terkenal sampai sekarang sebagai obat penyembuh batu ginjal berharga murah.

Di Ruangan Sardjito, tertampil benda-benda peninggalannya. Seperti radio lawas, cangkir, mesin ketik, dan meja-kursi. Ada juga patung Sardjito memakai setelan jas yang lengkap di tengah ruangan. Di sampingnya, tergantung toga dan pakaian doktornya. 

Di samping ruang khusus Sardjito, ada ruangan luas yang menyimpan benda-benda ilmiah karya para mahasiswa. Ada pula di dalam Museum UGM itu tempat khusus untuk mengenal perjalanan UGM dari masa dibangun sampai kini. 

Pendirian Museum UGM sendiri berangkat dari pertimbangan bahwa Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah universitas negeri tertua dan terbesar di Indonesia. Dalam sejarah pendiriannya, UGM tidak terlepas dari peran para tokoh pejuang dan pendiri bangsa dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia.

Museum UGM ingin mengabadikan sejumlah karya dan perjalanan universitas ini sejak berdirinya hingga kini.
Salah satu sudut Gedung Pusat UGM Yogyakarta. Foto. Dok. Unsplash

Berbagai tokoh pejuang perang kemerdekaan telah berjasa melahirkan Universitas Gadjah Mada. Maka tidak heran bila Universitas Gadjah Mada dikatakan sebagai Universitas perjuangan dan berkerakyatan.

Di samping itu, UGM juga menjadi media transformatif dalam bidang keilmuan, kemasyarakatan, dan kebangsaan. Dengan peran yang dimiliki oleh UGM tersebut telah mendekatkan diri dengan masyarakat karena telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan.

Dokumentasi yang melimpah tentang sumbangsih UGM baik dalam pengabdian masyarakat, pendidikan, dan penelitian perlu dikenalkan, dikelola, dan dibudidayakan supaya tetap terpelihara. Selain itu, dengan dokumentasi di dalam bentuk museum ini masyarakat bisa mengenal lebih dekat lagi melalui rekam jejak UGM dan sumbangsihnya dari masa ke masa.

Museum UGM menempati dua lahan eks perumahan dosen. Museum UGM terletak di Kompleks Bulaksumur, tepatnya di rumah yang berada di Blok D6 dan D7 di Kompleks Bulaksumur. Bulaksumur sendiri adalah kompleks UGM yang berada di sisi Timur Jalan Kaliurang.

Sebelum menjadi museum, kedua rumah ini merupakan tempat tinggal dua orang guru besar Universitas Gadjah Mada. Rumah D6 pernah ditinggali oleh Prof. Kardono Darmojuwono, seorang dekan Fakultas Geografi UGM. Sedangkan rumah D7 pernah ditinggali Prof. Drs. Iman Soetiknjo, seorang dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM.

Museum ini mulai dibuka untuk umum pada 2013. Para wisatawan umumnya datang saat libur lebaran atau akhir tahun. Jumlah pengunjung pada tanggal merah mencapai 100 orang per hari. Tak ada retribusi untuk masuk museum.

Jadi, meskipun bukan alumni universitas ini, tak ada salahnya mengagendakan kunjungan ke Museum UGM sekali-sekali.

agendaIndonesia

*****

Ini 3 Toko Oleh-Oleh Keren di Tasikmalaya

Ladu Tasik yang bisa diperoleh di 3 toko oleh-oleh keren di Tasikmalaya.

Ini adalah 3 toko oleh-oleh keren kala berkunjung ke kota Tasikmalaya. Kota yang dikenal sebagai kota santri itu terletak di wilayah selatan Jawa Barat. Ia dikenal sebagai salah satu pusat keagamaan di provinsi tersebut, serta sarat akan kebudayaannya yang khas, tak terkecuali ragam penganan ringan tradisionalnya yang bisa menjadi oleh-oleh menarik.

Curug Dengdeng Tasikmalaya dirparbud jabarprov
Curug Dengdeng, kalau ke sini jangan lupa mampir ke 3 toko oleh-oleh keren di Tasikmalaya. Foto: disparbud.jabarprov

3 Toko Oleh-oleh Keren di Tasikmalaya

  1. Ladu Tasik Campernik

Salah satu kudapan ringan yang identik dengan Tasikmalaya adalah kue ladu. Ladu adalah penganan bercita rasa manis yang terbuat dari beras ketan hitam, gula aren, dan parutan kelapa. Secara penampilan dan bentuknya, ia terlihat agak mirip seperti dodol Garut, melonjong seperti tabung dan bertekstur lembut.

Ladu biasanya disajikan kalau ada acara tertentu, misalnya ketika perayaan hari raya Idul Fitri. Meski demikian, ia juga nikmat sebagai cemilan saat minum teh atau kopi. Ia termasuk penganan ringan yang populer di Tasikmalaya dan beberapa daerah di Jawa Barat lainnya, namun tak mudah untuk menemukannya di banyak tempat lain, menjadikannya pilihan oleh-oleh khas yang sayang untuk dilewatkan.

Satu dari 3 toko oleh-oleh keren penjual ladu yang paling populer dan ramai dikunjungi di Tasikmalaya adalah Ladu Tasik Campernik. Saat ini ada dua cabang yang tersedia, yakni di jalan A.H. Nasution nomor 172, serta di jalan Yudanegara nomor 55. Kedua toko tersebut buka setiap harinya dari jam 08.00 sampai 19.00.

Secara mendasar, ada tiga paket yang ditawarkan kepada konsumen, yaitu paket Premium Box, Simple Box dan Family Box. Rinciannya, Premium Box yang berisi 10 buah ladu dengan harga Rp 22,5 ribu, Simple Box yang berisi 15 buah ladu dengan harga Rp 31,5 ribu, serta Family Box yang berisi 24 buah ladu dengan harga Rp 46 ribu.

  • Radja Sale

Penganan ringan tradisional lainnya yang terkenal di Tasikmalaya adalah sale pisang. Sale pisang merupakan kudapan yang terbuat dari irisan pisang yang diasapkan dan dikeringkan. Teknik ini dilakukan untuk mengurangi kadar air di dalam pisang, sehingga pisang tersebut lebih tahan lama untuk dikonsumsi.

Pisang Sale shutterstock
Pisang Sale khas Tasikmalaya yang bisa diperoleh di 3 toko oleh-oleh keren. Foto: shutterstock

Secara umum ada dua cara penyajian sale pisang, yakni sale pisang basah yang langsung disajikan setelah proses pembuatan, atau digoreng terlebih dulu dengan dibaluri tepung terigu agar terasa lebih garing. Keduanya dapat ditemukan di 3 toko oleh-oleh keren di sekitaran Tasikmalaya, seperti misal yang populer adalah Radja Sale.

Berlokasi di jalan R.E. Martadinata nomor 30, Radja Sale buka setiap hari dari jam 08.30 hingga 21.00. Tokonya berukuran agak kecil dengan produk dagangan dipajang berjejeran rapat, sehingga harus sedikit berhati-hati dan bersabar manakala toko sedang ramai pengunjung, khususnya pada akhir pekan maupun hari libur.

Produk andalannya tentu saja sale pisang, yang tersedia dalam beberapa bentuk, seperti oval yang pipih, lidah yang memanjang, atau gulung yang berukuran kecil. Sementara varian rasanya terdiri dari original dan pilihan rasa seperti wijen, keju, kacang dan susu. Semuanya dibungkus dalam kemasan berbobot 250 gram dan 500 gram.

Harganya bervariasi, mulai dari Rp 14 ribu sampai 35,5 ribu, tergantung dari pilihan rasa serta bobot kemasannya. Selain itu, terdapat pula produk seperti keripik pisang dengan varian bawang, madu dan mocca dengan harga Rp 14 ribu untuk kemasan 250 gram dan Rp 29 ribu untuk yang 500 gram. Adapun sale pisang basah tersedia dalam kemasan 250 gram seharga Rp 22,5 ribu dan 300 gram seharga 27 ribu.

  • Sentral Kue Aci Sinar Berkat

Kue aci juga termasuk salah satu kudapan yang populer di Tasikmalaya. Kue kering ini dikenal dengan cita rasa manis nan legit, serta karakternya yang renyah di luarnya, namun ketika masuk ke dalam mulut menjadi lumer dan lembut. Aci sendiri merupakan istilah bahasa Sunda bagi tepung tapioka, yang menjadi bahan dasar pembuatan kue kering tersebut.

Kue Asi atau kue Sagu Tasikmalaya IGkuekeringtasik
Kue Aci atau kue sagu khas Tasikmalaya. Foto: IG kuekeringtasik

Di beberapa daerah di Jawa Barat sendiri, aci kerap digunakan untuk membuat beragam jenis penganan ringan tradisional, seperti cilok, cireng dan tentunya kue aci, yang di tempat lain juga dikenal sebagai kue sagu. Di Tasikmalaya, toko penjaja kue aci yang terbilang kondang dan legendaris adalah Sentra Kue Aci Sinar Berkat.

Di toko yang sudah eksis lebih dari 20 tahun ini, terdapat berbagai macam varian kue aci yang dapat dipilih. Mulai dari vanilla, coklat, jahe, mocca, lemon, keju, kopi ginseng hingga susu spesial. Semua varian rasa tersedia dalam pilihan kemasan 250 gram dan 500 gram, yang kisaran harganya mulai dari Rp 19 ribu sampai 52 ribu.

Selain itu, toko yang terletak di jalan R.E. Martadinata nomor 4 itu juga menyediakan berbagai jenis produk oleh-oleh lainnya, seperti opak ketan, opak singkong kecimpring, keripik ubi ungu, keripik sukun, rengginang terasi, comring alias oncom garing, dorokdok atau kerupuk kulit sapi, dan sebagainya. Toko ini buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 21.00.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Candi Adan-Adan, Situs Dari Abad Ke 11

Candi Adan-Adan di Kediri merupakan peninggalan dari abad 11.

Candi Adan-Adan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjadi penemuan istimewa peninggalan masa lalu selama 10 tahun terakhir. Kabupaten Kediri sendiri memang mempunyai banyak situs candi peninggalan sejarah. Salah satu situs yang istimewa adalah Situs Adan-Adan di Desa Adan-Adan Kecamatan Gurah.

Candi Adan-Adan

Situs Adan-Adan merupakan candi yang memiliki latar belakang agama Budha aliran Mahayana. Diperkirakan ukuran candi induk 28×28 meter dan luas situs diperkirakan mencapai kurang lebih 784 meter persegi, sehingga merupakan candi Budha terbesar di Jawa Timur.

Penelitian terhadap candi ini sudah dilakukan selama lima tahap oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), sejak 2016 sampai 2021. Dari proses penelitian diketahui bahwa Candi Adan-Adan dibangun dengan dua bahan utama, yakni batu bata dan batu andesit. Candi ini diasumsikan menghadap ke arah barat laut.

“Situs Candi Adan-adan memiliki karakteristik bentuk arsitektur peralihan gaya Jawa Tengah ke Jawa Timur atau ‘mata rantai’ perkembangan arsitektur candi Jawa Tengah ke Jawa Timur,” ujar Adi Suwignyo, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Candi Adan-Adan di Kediri merupakan candi Budha terbesar di Jawa Timur.

Dari sejumlah temuan dari situs, bisa terlihat teknologi pembangunan yang digunakan pendirinta dahulu. Candi ini menyerupai Candi Surowono dan Candi Tegowangi yang juga ada di Kediri. Kedua candi tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit. 

Candi Adan-Adan yang mempunyai latar belakang agama Buddha Mahayana diperkirakan dibangun pada abad ke-11 Masehi. Namun sumber lain menyebutkan bahwa candi ini didirikan bertepatan dengan masa Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur.

Sayangnya, situs yang cukup besar ini sampai terpendam terpendam dan baru saja ditemukan. Soal terendamnya ini bisa dipahami sebab di wilayah ini telah mengalami tiga kali bencana alam besar dan tiga kali pembangunan. Kendati demikian, ahli sejarah Belanda sebenarnya telah mencatatkan situs tersebut sebagai temuan candi yang terbuat dari batu bata dan batu andesit pada masa penjajahan.

Candi ini awalnya ditemukan di Kediri di mana lokasinya berdekatan dengan aliran Kali Serinjing yang menjadi aliran lahar dingin Gunung Kelud yang ada di Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah. Oleh sebab itu, ahli sejarah menamainya sebagai Candi Adan-Adan.

Sebelum penemuan itu, ditemukan adanya dua makara yang akhirnya menguatkan asumsi arkeolog bahwa dulunya pernah berdiri sebuah candi di lokasi tersebut. Kemudian, arkeolog pun melakukan ekskavasi pada tahun 2016.

Candi Adan Adan Dinas Pariwisata Kediri
Proses ekskavakasi di Situs Adan-Adan, Kediri. Foto: Dinas Pariwisata Kediri


Sesudah dilakukan penggalian, dua makara tersebut ternyata memiliki bentuk yang sempurna dengan ketinggian 2,3 meter. Makara itu sekaligus menjadi makara tertinggi dan terbesar di Indonesia.

Pada penelitian tahap selanjutnya, peneliti menemukan dua arca Buddha, yakni Arca Amithaba dengan sikap tangan dhyani mudra dan Arca Bodhisattva bagian kepala. Tak hanya itu, terdapat pula lapik arca bagian kaki dengan motif padmasana ganda serta bebatuan pada bagian candi 
Lalu pada tahap selanjutnya, yakni pada tahun 2017, kembali ditemukan Arca Dwarapala dengan ketinggian 180 sentimeter di titik yang tidak jauh dari lokasi ditemukannya dua makara. Arca tersebut terpendam di kedalaman 80 sentimeter dari permukaan tanah.

Jika melihat dari lokasi-lokasi situs yang ditemukan, Candi Adan-Adan awalnya diperkirakan memiliki luas hingga 784 meter persegi. Namun setelah dilaksanakan penelitian lanjutan, luas candi itu diyakini lebih dari luas awal tersebut.


Pada tahun 2021, tim Puslit Arkenas melakukan ekskavasi di tiga sektor, yaitu sektor utama dengan penemuan berupa struktur batu bata kuno yang merupakan bangunan candi induk. Kemudian sektor timur laut ditemukan struktur batu bata kuno yang merupakan bagian dari bangunan pendukung Candi Adan-Adan.

Yang terakhir sektor barat daya dengan hasil temuan struktur batu bata kuno yang diduga sebagai pagar ke dua dari Candi Adan-Adan. Di lokasi tersebut juga ditemukan pecahan keramik Cina abad 13-14 (Dinasti Yuan). Lalu, yang tak kalah menyita perhatian adalah ditemukannya dua buah gentong berbahan batu andesit yang saat ini disimpan di Museum Bagawanta Bhari, Kabupaten Kediri.

Melalui penyajian tiga artefak di situs Adan-adan, masyarakat dapat memperoleh informasi tentang sejarah, kebudayaan, arkeologi, teknologi dan ragam seni rupa Kediri masa lalu sehingga dapat menginspirasi untuk memajukan Kabupaten Kediri di masa depan.

Kegiatan di Situs Candi Adan-Adan saat ini masih mengambil tema Penelitian Arkeologi Situs Candi Adan-Adan Tahap ke-5 (Tinjauan Arsitektur, Religi dan Kronologi).

Situs Adan-Adan sudah tercatat dalam laporan Belanda yang memberitakan adanya gundukan candi berbentuk bata, dan beberapa komponen bangunan candi dari batu andesit berupa Makara, kepala kala, arca dwārāpala dan lain-lain.

agendaIndonesia/berbagai sumber

*****

Tahu Telur Pak Jayen, Gurih Sejak 2007

Tahu Telur Pak Jayen menjadi salah satu pilihan kuliner malam di Surabaya. IG SurabayaFoodis

Tahu telur Pak Jayen beberapa tahun belakangan ini begitu tersohor sebagai salah satu pilihan kuliner malam di Surabaya. Rasanya yang gurih, porsinya yang mengenyangkan, serta harganya yang terjangkau menjadi daya tarik yang membuatnya selalu diburu.

Tahu Telur Pak Jayen

Secara umum, tahu telur memang merupakan salah satu jenis kuliner yang cukup lumrah ditemukan pada berbagai daerah di sekitar Jawa Timur. Juga beberapa daerah di Jawa lainya. Makanan ini juga kerap disebut tahu tek, yang disinyalir berasal dari suara tahu yang dipotong kecil-kecil.

Dari wujudnya, mungkin bisa dikatakan jika makanan ini punya kemiripan dengan ketoprak atau lotek. Ia terdiri dari tahu goreng, telur dadar, potongan timun, taoge, serta lontong dan kentang yang kemudian dilumuri dengan bumbu kacang yang mengandung petis dan bawang putih.

Tahu Telur Pak Jayen sesungguhnya adalah tahu tek.
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura Foto: shutterstock

Perpaduan dari tahu yang hangat dan empuk, segarnya taoge dan timun, serta gurihnya bumbu kacang dengan petisnya tersebut begitu menggoda lidah. Porsinya yang biasanya juga cukup banyak membuatnya terbilang cukup mengenyangkan.

Salah satu penjaja tahu telur yang terbilang paling populer saat ini adalah tahu telur Pak Jayen, yang telah melayani pelanggan setianya sejak 2007. Kedai tahu telur tersebut berada di kawasan Gubeng, tepatnya di jalan Dharmahusada.

Lokasinya berada tak jauh dari stasiun kereta api Gubeng dan Rumah Sakit Dr. Soetomo. Awalnya, tempat mereka berjualan digunakan bergantian oleh pedagang gudeg di pagi hari dan jasa pencuci mobil di siang hari, sehingga mereka baru buka saat sore hingga malam.

Hal tersebut justru menjadi peruntungan tersendiri, tatkala pengunjung mulai ramai berdatangan memenuhi kedai ini. Usut punya usut, meski tahu telur sendiri terbilang kuliner yang cukup umum di kota pahlawan tersebut, ada sejumlah keunikan yang dimilikinya.

Yang pertama dan utama adalah cita rasanya yang begitu unik dan nikmat. Paduan bumbu kacang, petis dan bawang putihnya beraroma sangat khas dan terasa kental, gurih nan menggigit di lidah. Cita rasa ini rupanya begitu digemari oleh warga Surabaya.

Cita rasa bumbunya tersebut selalu dijaga agar senantiasa terasa fresh. Kerap kali mereka baru membuat bumbu ketika akan menghidangkan makanan, dengan racikan petis dari Sidoarjo dan bawang putih yang secara khusus sudah disiapkan.

Tahu Telur Surabaya shutterstock
Tahu Telur Surabaya dengan rasa gurih dari petis. Foto: shutterstock

Kemudian porsinya yang terasa pas, tidak terasa kurang maupun berlebihan. Sebagai kuliner malam hari, Tahu Telur Pak Jayen cocok sebagai hidangan main course saat makan malam, tetapi juga masih nikmat sebagai kudapan yang cukup mengisi perut kala malam mulai larut.

Umumnya ada tiga jenis menu tahu telur yang disediakan. Tahu telur komplit, tahu tek tanpa telur, serta tahu telur porsi jumbo. Untuk tahu telur komplit dan tahu tek tanpa telur dihargai Rp 20 ribu, sedangkan untuk yang porsi jumbo harganya Rp 25 ribu.

Lain dari itu, pengunjung juga dapat memesan tahu telurnya sesuai selera. Mulai dari tingkat kepedasan dan jumlah cabe yang digunakan, isi kondimen yang diinginkan atau tidak, sampai detail kecil seperti kerupuk yang digabung atau dipisah.

Satu hal lain yang cukup unik di Tahu Telur Pak Jayen, bila meminta kerupuk untuk dipisah, biasanya pembeli akan diberikan sekantung plastik kerupuk berukuran besar, terutama bagi yang memesan untuk dibawa pulang. Saat masuk ke dalam kedai, kerap terlihat tumpukan plastik berisi kerupuk tersebut.

Beberapa hal tersebut menjadikan tahu telur Pak Jayen sebagai salah satu kuliner tahu telur paling tersohor di Surabaya. Walaupun hanya buka dari sore sampai malam, tak jarang pengunjung hingga mengantri, bahkan mendekati tengah malam.

Lontong Balap Surabaya shutterstock
Tahu telur mirip dengan lontong balap, berbeda dikuahnya. Foto shutterstock

Oleh karenanya, dibuka pula sebuah cabang yang juga masih terletak di area jalan Dharmahusada. Lokasinya kini berupa kedai dengan bangunan permanen, untuk dapat melayani lebih banyak pengunjung.

Kendati terkadang harus antri memesan, begitu makanan telah dipesan biasanya akan datang sekitar 10-15 menit. Setiap pramusaji memiliki perannya sendiri, seperti pembuat bumbu, pemotong, penggoreng, dan seterusnya agar pesanan dapat cepat dihidangkan.

Tahu telur Pak Jayen buka dari jam 17.00 hingga jam 00.00, meski terkadang dikarenakan ramainya pengunjung bisa saja mereka tutup lebih awal karena sudah laris terjual. Sudah jadi maklum bila kedai terlihat ramai hingga jam 22.00 lebih, dipenuhi penggemar kuliner malam.

Selain itu, hingga kini kedai utamanya masih sering penuh hingga harus mengantri, sehingga tak ada salahnya untuk menyambangi cabang yang satu lagi jika sekedar ingin mencobanya. Toh secara cita rasa, tak ada bedanya dan dijamin tetap sama enaknya.

Tahu Telur Pak Jayen

Jl. Dharmahusada Indah I, Blok C no. 2, Surabaya

Jl. Dharmahusada no. 112, Surabaya

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Kerajaan Sunda Kuno, Jejak Peradaban Nusantara (Bagian 1)

Kerajaan Sundo Kuno merupakan peninggalan jejak peradaban Nusantara

Kerajaan Sunda kuno merupakan sedikit dari kerajaan di Provinsi Jawa Barat yang menorehkan kejayaannya pada catatan peradaban Nusantara. Dari serpihan-serpihan peninggalan yang masih tersisa, para pelancong akan disuguhi keanggunan budaya tradisional dan jejak romantisme masa silam.

Kerajaan Sunda Kuno

Jauh sebelum Kesultanan Cirebon, tersebutlah kerajaan besar yang tak bisa ditaklukkan oleh Majapahit sekalipun. Menurut penulis Portugis, Tome Pires, dalam catatan perjalanannya Summa Oriental, kerajaan ini menguasai separuh Pulau Jawa dan batasnya berada di Sungai Chi Manuk. Itulah Sunda Galuh atau lebih dikenal dengan Kerajaan Pajajaran.

Luasnya meliputi daerah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sisi barat Jawa Tengah. Hal yang membuatnya begitu besar dikarenakan Sunda Galuh merupakan gabungan dua imperium, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kerajaan Sunda yang terbentuk sejak abad ke-7 berpusat di Pajajaran dan beribukota di Pakuan (Bogor), sedangkan Kerajaan Galuh yang hadir sejak abad ke-8 beribukota di Kawali (Ciamis).

Pada suatu masa, salah satu putra mahkota, Jayadarma menikah dengan keturunan Kerajaan Singasari, yakni Dyah Lembu Tal. Keduanya memiliki anak bernama Raden Wijaya yang kelak mendirikan Kerajaan Majapahit. Namun apa lacur, justru pada pemerintahan cucu Raden Wijaya, yakni Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda berseteru dalam Perang Bubat. Sejak itulah, kerabat keraton Sunda ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit (Jawa).

Perang yang lebih hebat terjadi saat Sunda Galuh didesak oleh kerajaan-kerajaan Islam di sekitarnya, seperti Cirebon, Demak, dan Banten. Untuk memperkuat diri, Sunda Galuh bekerja sama dengan Portugis. Alfonso d’Albouquerque menyambut baik ajakan ini. Namun sayang, Cirebon dan Banten tetap lebih kuat, sehingga Sunda Galuh memasuki era kejatuhannya.

Berikut sejumlah jejak peninggalan Kerajaan Sunda Galuh yang masih ada dan layak dikunjungi.

Candi Cangkuang

Tak banyak peninggalan Kerajaan Sunda Galuh yang tersisa. Namun justru itulah yang membuat perjalanan ke Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut menjadi begitu bermakna. Di sana ada Candi Cangkuang yang telah dibangun pada zaman Kerajaan Galuh pada abad ke delapan.

Dari pintu masuk ke kompleks candi, pengunjung masih harus menyeberangi danau sejauh 250 meter menggunakan rakit yang sudah disediakan. Deretan pepohonan Cangkuang di segala sisi pulau siap memayungi para wisatawan dari terik matahari. Selain itu, ada pemukiman adat Kampung Pulo yang terdiri dari enam rumah yang saling berhadapan.

Ke enam rumah ini mencerminkan jumlah anak dari tokoh pendiri kampung, yaitu Embah Dalem Arief Muhammad. Dia adalah seorang tentara Kerajaan Mataram yang menyebarkan agama Islam pada penduduk Desa Cangkuang. Makamnya pun dapat ditemui di dekat area candi.

Alamat: Leuwigoong, Karanganyar, Cangkuang, Leles, Kabupaten Garut
Tarif sewa rakit
: Rp 5.000 per orang
Akomodasi: Tersedia penginapan dan bungalow dengan tarif mulai Rp 250,000 sampai Rp 300.000 per malam

Situs Ciung Wanara Karangkamulyan

Ciung Wanara adalah tokoh legenda di Jawa Barat. Ia mewarisi kesaktian dari ayahnya, seorang raja yang sudah diambil alih kekuasaannya oleh orang lain. Raja baru dan salah satu permaisuri pun merasa terancam dengan kelahiran Ciung Wanara, sehingga membuangnya ke sungai. Namun bayi itu selamat dan kelak ketika dewasa berjuang menuntut keadilan pada raja dan ratu yang lalim.

Kisah ini berlatar di Kerajaan Galuh. Karenanya, situs Ciung Wanara pun bertempat di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis yang pernah menjadi pusat aktivitas kerajaan. Begitu menjejakkan kaki di sini, kerimbunan rumpun bambu akan menyambut dengan kesejukannya.

Di balik pepohonan berumur ratusan tahun, terdapat sejumlah bangunan peninggalan Kerajaan Galuh. Di bagian depan ada Pangcalikan, yaitu batuan bertingkat segi empat yang biasanya digunakan sebagai altar pemujaan. Bagian selanjutnya adalah Sahyang Bedil, berupa ruangan batu dengan menhir di dalamnya. Ada pula tempat bernama Lambang Peribadatan dan Panyabungan Hayam, yang digunakan Ciung Wanara untuk menyabung ayam.

Alamat: Jalan Raya Banjar Ciamis, Cijeungjing, Karangkamulyan, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis
Jam buka
: 07.00–20.00

Kerajaan Sunda Kuno dengan peninggalan Prasasti Batutulis. Prasasti ini masih ada di tempat aslinya.
Prasasti Batutulis yang merupakan salah satu bukti adanya Kerajaan Sunda. Foto: Dok. Javalane

Prasasti Batutulis

Luas kompleks Batutulis hanya sekitar 17 x 15 meter, tetapi nilai historisnya sangat penting. Batu berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi) ini merupakan bukti keberadaan Kerajaan Sunda. Statusnya in situ, yaitu masih terletak di lokasi aslinya alias sama sekali tidak dipindahkan.

Pada batu terukir beberapa baris kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuna. Teks tersebut dibuat oleh Prabu Surawisesa untuk mencatatkan jasa dan kebesaran ayahandanya, Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi.

Alamat: Jalan Batutulis Nomor 54, Batutulis, Bogor
Jam buka: 08.00–17.00

agendaIndonesia

*****

Ini 5 Tempat Wisata Asyik di Cilacap

Ini satu dari 5 tempat wisata asyik di Cilacap, Teluk Penyu. Shutterstock

Jika berkunjung ke Cilacap, Jawa Tengah, ini 5 tempat wisata asyik ketika berkunjung ke kota di pesisir selatan pulau Jawa yang dikenal karena berseberangan dengan pulau Nusakambangan dan menjadi lokasi kilang minyak Pertamina terbesar di Indonesia. Di samping itu, Cilacap juga memiliki beberapa lokasi wisata yang menarik, dan ini adalah beberapa di antaranya.

Benteng Pendem Cilacap wisata cilacapkab go id
Benteng Pendem yang merupakan salah satu dari 5 tempat wisata asyik di Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Dok. wisata.cilacapkab.go.id

5 Tempat Wisata Asyik di Cilacap

  1. Pantai Teluk Penyu

Berada di area pesisir, Cilacap memiliki setidaknya 5 tempat wisata asyik di pantai yang menarik untuk dikunjungi wisatawan, dan salah satunya yang paling terkenal adalah Pantai Teluk Penyu. Lokasinya berseberangan langsung dengan pulau Nusakambangan, dan berdekatan dengan area penyimpanan minyak milik Pertamina.

Letaknya tidak jauh dari pusat kota, hanya sekitar dua sampai tiga kilometer. Hamparan pasir putih serta deburan ombak pantai yang tenang membuatnya cocok menjadi tempat untuk bersantai, sambil menikmati panorama sekitar. Biasanya, wisatawan bisa melihat pemandangan pulau Nusakambangan, serta perahu nelayan dan kapal tanker minyak yang hilir mudik di sekitarnya.

Seperti namanya, pantai ini juga menjadi salah satu area konservasi penyu, karena kerap menjadi lokasi penyu di sekitar perairan tersebut untuk bertelur. Wisatawan dapat menyaksikan proses tersebut pada musim bertelur penyu di area ini, yang berkisar dari bulan Mei sampai Agustus. Akan ada petugas konservasi penyu yang mengawasi proses tersebut.

Setelah proses bertelur dan penyu kembali ke laut, telur-telur tersebut kemudian diamankan untuk menghindari ancaman seperti predator dan lain lainnya. Telur lantas akan diawasi hingga menetas, sebelum akhirnya dikembalikan ke habitatnya. Ini merupakan bagian dari usaha menjaga populasi penyu, utamanya di perairan tersebut, yang tergolong hewan dilindungi.

Aktivitas lainnya yang dapat dilakukan di pantai ini meliputi memancing, berenang dan bermain di tepi pantai, serta disediakan pula layanan untuk yang ingin menyeberang ke pulau Nusakambangan. Biayanya sekitar Rp 30 ribu hingga 50 ribu untuk sekali antar jemput, dan maksimal beroperasi hingga jam 17.00.

Selain itu, di sekitar area pantai juga terdapat beberapa warung masakan seafood yang menyajikan ikan bakar dan ragam hasil laut lainnya yang fresh. Terdapat pula kios-kios yang menjajakan beragam jenis oleh-oleh, mulai dari ikan asin yang dikeringkan hingga kerajinan tangan yang terbuat dari kerang.

Untuk masuk ke area pantai, dikenakan tarif masuk Rp 8 ribu per orang, sementara tarif parkir untuk motor Rp 3 ribu dan mobil Rp 5 ribu. Sebagai catatan, pantai ini biasanya cenderung lebih ramai ketika pagi dan sore hari, karena banyak warga setempat yang juga pelesiran di area sekitar pantai tersebut, khususnya ketika akhir pekan atau hari libur.

  • Benteng Pendem

Tak jauh dari Pantai Teluk Penyu, terdapat satu dari 5 tempat wisata asyik yakni sebuah benteng peninggalan dari masa pendudukan Belanda, yang bernama Kustbatterij op de Landtong te Tjilatjap, atau yang biasa disebut Benteng Pendem. Benteng ini dibangun pada 1861, yang digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu sebagai markas pertahanan di wilayah Cilacap.

Ini 5 tempat Wisata asyik di Cilacap yang ada di  jalur mudik selatan salah satunya bisa menikmati spot wisata di sekitar Cilacap
Benteng Pendem Cilacap (Dutch : Kustbatterij op de Landtong te Cilacap ), satu dari 5 tempat wisata asyik di kota ini. Foto: shutterstock

Benteng dengan luas wilayah 10,5 hektare ini didirikan karena kekhawatiran akan lokasi Cilacap yang dianggap strategis sebagai sebuah pelabuhan. Berfungsi sebagai tempat menyimpan senjata dan berlindung dari potensi serangan, benteng ini juga sempat digunakan oleh Jepang ketika mendarat dan menduduki tanah air pada 1942.

Setelah merdeka, benteng ini sempat diduduki pasukan Belanda dan sekutu semasa Agresi Militer. Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949, benteng kemudian sempat difungsikan sebagai tempat latihan militer oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), atau yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus) hingga 1965.

Adapun nama Benteng Pendem berasal dari wujudnya yang dulu sengaja dibangun terpendam oleh tanah agar tak mudah terlihat oleh musuh. Tanah setebal 3,5 meter menimbun benteng hingga hanya kelihatan beberapa bagian pintu dan jendelanya saja. Bahkan ketika Belanda meninggalkan Indonesia, benteng ini juga diisi dengan tanah untuk menghilangkan jejak.

Hingga akhirnya pada 1986, pemerintah daerah Cilacap menggali kembali dan merestorasi area di sekitar benteng, dan setahun setelahnya diresmikan sebagai cagar budaya yang dapat dikunjungi wisatawan. Dari beberapa bangunan yang telah berhasil digali, terdapat beberapa bagian seperti barak, gudang senjata, penjara dan sebagainya.

Pengunjung dapat berkeliling sambil melihat-lihat dan berfoto di sekitar area benteng. Tiket masuk area benteng seharga Rp 7,5 ribu per orang, dan kalau ingin menggunakan jasa pemandu wisata perlu menambah Rp 50 ribu. Kawasan Benteng Pendem buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 18.00.

  • Gunung Selok

Obyek wisata satu ini yang merupakan bagian dari 5 tempat wisata asyik, bisa dikatakan adalah destinasi wisata spiritual, lantaran beberapa kepercayaan relijius warga setempat di dalamnya. Lokasinya berada dekat dengan tepi pantai Sodong, dan di dalamnya terdapat beberapa gua yang dianggap keramat oleh warga setempat, seperti gua Rahayu, gua Naga Raja, gua Pakuwaja, gua Sribolong dan lain lain.

Menurut kepercayaan warga, Gunung Selok yang berketinggian 150 mdpl ini dinamakan berdasarkan istilah Jawa ‘Junggring Seloko’ yang kurang lebih berarti tempat yang tinggi dimana para dewa tinggal dan bersemayam. Oleh karenanya, banyak hal-hal mistik yang diyakini oleh warga terdapat di area Gunung Selok.

Misalnya, air yang jatuh menetes dari atas gua dianggap berkhasiat karena berasal dari akar-akar pohon, dan jika diminum dipercaya dapat membantu menyembuhkan beragam penyakit. Atau sebuah batu besar di dalam gua Rahayu bernama Eyang Kencana Wati, yang menjadi tempat orang berziarah membawa sesajen dan bersemedi ketika memiliki sebuah niat atau rencana, agar dapat terpenuhi dan berjalan lancar.

Kemudian di area puncak gunung, terdapat beberapa petilasan untuk bersemedi seperti Jambe Lima, Jambe Pitu dan padepokan Sang Hyang Gunung Jati, yang biasa digunakan sebagai tempat beribadah bagi penganut agama Buddha. Selain itu, pengunjung juga dapat memandangi dan berfoto dengan panorama sawah, hutan pohon cemara dan pantai Sodong.

Untuk menuju ke Gunung Selok, harus berjalan kaki melewati jembatan yang mengarungi area sungai dan rawa. Adapun jam buka area wisata Gunung Selok dari jam 08.00 sampai 17.00. Meski bersifat destinasi wisata spiritual, jangan heran kalau bertemu dengan kalangan figur publik, terutama dari kalangan pemerintahan yang kerap datang ke sini.

  • Waduk Kubangkangkung

Destinasi wisata alam lainnya berada di kawasan Cilacap adalah Waduk Kubangkangkung, yang jaraknya sekitar 20-an km dari area pusat kota. Area ini dulunya merupakan tempat penyimpanan air bersih di masa pendudukan Belanda, dan dinamakan demikian karena banyaknya kangkung yang tumbuh di area ini.

Kini tempat ini menjelma menjadi obyek wisata yang asri dan cocok untuk dikunjungi bersama keluarga. Pengunjung dapat mengarungi area waduk dengan menggunakan perahu bebek, atau sambil mengitari jalan setapak yang dirindangi pohon jati, pohon karet dan pohon pinus yang menambah nuansa sejuk.

Terdapat pula jembatan setapak bernama Zazax Koebang yang mengapung dan menghubungkan dua sisi dari waduk tersebut. Di antara jembatan tersebut terdapat beberapa tempat duduk untuk berfoto dan bersantai menikmati suasana. Selain itu, tempat ini juga menyediakan berbagai fasilitas seperti ATV, flying fox, terapi ikan, serta area kolam renang di dekat waduk tersebut.

Area wisata Waduk Kubangkangkung buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 17.00. Tiket masuknya seharga Rp 10 ribu per orang, sedangkan untuk mengakses berbagai fasilitas yang disediakan harga tiketnya bervariasi, mulai dari Rp 3 ribu sampai 20 ribu. Dan hampir setiap akhir pekannya akan ada event-event khusus yang diadakan oleh pengelola waduk untuk meramaikan suasana.

  • Havana Hills

Satu lagi obyek wisata di Cilacap yang pas untuk dikunjungi bersama keluarga adalah Havana Hills, yang berlokasi di jalan Lengkong, kabupaten CIlacap. Lokasinya berdekatan dengan Kawasan Industri Cilacap (KIC) dan berjarak sekitar 15 km dari pusat kota, dengan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi kurang lebih ditempuh 30 menit.

Havana Hills Dok Havana Hills
Satu spot di Havana Hills, satu dari 5 tempat wisata asyik di Cilacap. Foto: Dok. Havana Hills

Meski baru dibuka pada 2022 lalu, namun tempat ini mampu mencuri perhatian dan menjadi salah satu obyek wisata paling ramai dikunjungi di Cilacap. Baik bagi mereka yang hanya sekedar bersantai menikmati pemandangan, yang ingin bermain di wahana-wahana permainan, maupun yang ingin camping.

Wahana yang tersedia meliputi bioskop VR (virtual reality), mobil RC (radio controlled), Mini Zoo, dan sebagainya. Tersedia pula kolam renang dan wahana air Water Playground, serta area outbond. Harga tiket masuk Rp 15 ribu per orang, sedangkan untuk bisa mengakses beragam wahana tersebut, harga tiketnya berkisar dari Rp 15 ribu hingga 20 ribu.

Sementara bagi yang senang camping, disediakan pula area khusus camping ground. Untuk reservasi tempat dikenakan biaya Rp 75 ribu per orang saat weekdays dan Rp 100 ribu kala weekend. Iklim di sekitar lokasi yang buka setiap hari dari jam 08.00 sampai 22.00 tersebut cenderung sejuk, ditambah pemandangan city view Cilacap baik saat siang maupun malam hari juga jadi daya tarik tersendiri.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–