8 Destinasi Wisata Yang Ramai Selama Pandemi

8 destinasi wisata disebut naik daun selama pandemi Covid-19 ini. Sejak pandemi COVID-19 dan kasusnya muncul di Indonesia sejak Maret 2020 lalu, masyarakat harus tetap berada di rumah. Seluruh kegiatan mereka pun terpaksa berhenti, termasuk pariwisata. Terutama ketika pemerintah menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang cukup ketat.

8 Destinasi Wisata

Situasi agak berubah ketika peraturan mulai dilonggarkan, dan terdapat sejumlah tempat yang dulunya kurang dilirik tanpa disadari menjadi bersinar. Selain, tentu saja satu-dua destinasi yang sudah unggul sejak dulu.

Pandemi menciptakan sebuah tren baru bagi masyarakat untuk berwisata, seperti wisata alam, staycation (diam saja di suatu tempat) dan roadtrip, yakni perjalanan via jalan darat –umumnya kendaraan pribadi, karena dianggap lebih aman. Beberapa destinasi wisata pun menjadi pilihan favorit selama masa pandemi untuk mereka yang butuh melepaskan penat atau rindu jalan-jalan.

Berikut adalah daftar destinasi wisata yang naik daun sepanjang 2020 versi kantor berita Antara.

Sentul Hill Trekking
Kegiatan mendaki di kawasan Sentul, Bogor, menjadi primadona bagi masyarakat yang rindu berpergian dan melakukan wisata alam. Melintasi jalan setapak yang naik turun, sawah, perbukitan, sungai, goa, dinding bebatuan dan berakhir berendam di curug dengan pemandangan air terjun sangat menggiurkan untuk pelancong.

Tak heran kegiatan trekking di Sentul begitu diminati selama pandemi. Di sini Anda bisa melakukan perjalanan sendiri atau menggunakan jasa pemandu wisata.

Jaraknya yang tak terlalu jauh dari Jakarta pun membuat wisata ini memiliki nilai plus. Belum lagi para selebritas yang kerap mengunggah kegiatan mereka saat melakukan trekking seperti Luna Maya, Dian Sastrowardoyo, Sigi Wimala, Vidi Aldiano, Sophia Latjuba, hingga Wulan Guritno. 

8 destinasi wisata salah satunya ke Puncak  di wilayah Bogor
Trekking di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.



Curug dan goa di Sentul
Kawasan Sentul, Bogor ternyata memiliki tempat wisata alam yang masih sangat asri, beberapa di antaranya adalah Curug Leuwi Hejo, Curug Kencana, Curug Hordeng, Curug Ciburial dan Curug Kembar.

Untuk dapat mencapai tempat ini, tentu harus melakukan trekking terlebih dahulu. Trekking dengan perjalanan yang cukup berat ini pun akan terbayarkan saat melihat lanskap air terjun dan udaranya yang menyegarkan.

Ada juga Goa Agung Garunggung yang memiliki mulut goa menganga secara vertikal. Tempatnya memang tidak terlalu besar, namun pemandangannya membuat tempat ini menjadi salah satu primadona.

Gunung Pancar Bogor
Sebelum masa pandemi, Gunung Pancar, Sentul, Bogor sudah menjadi favorit masyarakat untuk berwisata singkat. Saat masa PSBB dilonggarkan, tempat yang menawarkan pemandangan hutan pinus ini pun menjadi pilihan utama untuk dikunjungi.

Selain trekking, pengunjung juga bisa menginap dengan mendirikan tenda yang sudah disediakan oleh pengelola. Liburan singkat dengan pemandangan alam pun bisa didapatkan untuk melepaskan penat selama PSBB.

Bagi yang memiliki anggaran lebih, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur juga menjadi primadona saat pandemi COVID-19. Belum lagi tiket murah yang ditawarkan oleh maskapai penerbangan saat jalur kembali dibuka, masyarakat dan juga selebritas berbondong-bondong mengunjungi kawasan tersebut.

Tempat-tempat yang paling menjadi incaran para turis adalah Bukit Cinta untuk menyaksikan sunset, jelajah Pulau Kelor, menyaksikan komodo di Taman Nasional Komodo, berburu foto di bukit Pulau Padar hingga menikmati indahnya Air Terjun Cuanca Wulang.

8 destinasi wisata selama pandemi 2020 adalah satunya wisatawan melakukan perjalanan dengan model roadtrip.
Roadtrip, perjalanan melalui jalur darat dengan kendaraan pribadi menjadi pilihan wisata saat pandemi. Foto:ilustrasi-unsplash



Bali
Sejak pandemi COVID-19, tren terbaru ke Bali tidak lagi menggunakan pesawat terbang, melainkan lewat perjalanan darat. Banyak wisatawan yang berasal dari pulau Jawa berkunjung ke Bali dengan menggunakan mobil pribadi, karena dianggap lebih aman dan tidak berdekatan dengan orang lain di pesawat.

Kelebihan roadtrip menuju Bali ini, wisatawan juga bisa mampir ke destinasi wisata lain seperti Surabaya dan juga Banyuwangi sebelum akhirnya menyeberang Pulau Bali.

Banyuwangi
Untuk yang tidak memiliki banyak waktu menyeberang ke Bali, Banyuwangi adalah pilihan favorit-nya selama pandemi COVID-19. Biasanya wisatawan akan menginap di Hotel Ketapang Indah yang menyajikan panorama Pulau Bali di kejauhan.

Ada beberapa wisatawan yang memilih untuk diam di hotel karena pemandangannya dirasa sudah cukup Indah, tapi ada juga sebagian yang memilih untuk mengeksplorasi wilayah Banyuwangi dengan mendatangi tempat-tempat seperti Kawah Ijen, Jawatan Benculuk, Taman Nasional Baluran, Bangsring Underwater hingga Puncak Sejati, Gunung Rawung. 

Bandung
Alasan utama Bandung menjadi tujuan utama selama pandemi adalah dekat dengan Jakarta. Buat yang ingin menginap atau sekadar perjalanan-pulang pergi untuk menikmati kulinernya serta mendapat suasana baru, Bandung masih menjadi primadona warga Jakarta.

Puncak
Sejak PSBB dilonggarkan, banyak orang yang berkunjung ke puncak untuk melepas penat. Liburan singkat dan mendapat udara segar setelah berbulan-bulan di dalam rumah, membuat puncak tempat idaman masyarakat bahkan bisa dicapai hanya dengan menggunakan motor

agendaIndonesia

Desa Batuan Bali, 1 Relik Sejarah Kuno

Desa Batuan Bali adalah gambaran kehidupan masyarakat Bali sejak zaman dulu.

Desa Batuan Bali merupakan tempat yang tepat bagi pelancong yang ingin melihat dan memahami lebih dekat tentang sejarah dan budaya tradisional masyarakat Bali. Desa yang berada di Kabupaten Gianyar itu hingga kini masih menyimpan beberapa potongan adat dan budaya Bali tempo dulu.

Desa Batuan Bali

Desa ini sejak dulu kala memang sudah identik dengan karya seni dan budayanya. Salah satu bukti kuatnya dapat ditemui dari beberapa peninggalan bangunan candi serta pahatannya yang terdapat di Pura Puseh, salah satu pura tertua di Bali yang usianya sudah sekitar 1.000 tahun.

Ini terdokumentasikan dalam sebuah prasasti yang berada di dalam pura tersebut. Prasasti itu diyakini dibuat pada awal tahun 1020-an, yang memberi gambaran kehidupan dan sistem sosial masyarakat di desa tersebut pada masa itu.

Artefak di utaraPura Puseh Desa Batuan Kemendikbud
Sejumlah artefak di Pura Puseh Desa Batuan Bali. Foto: Dok. Kemendikbud

Diceritakan bahwa desa tersebut awalnya bernama Baturan. Di desa ini terdapat penduduk yang sebagian besar berprofesi dalam bidang seni budaya, seperti citrakara (pelukis), undagi (pengrajin kayu) dan sulpika (pemahat patung).

Disebutkan pula, salah satu alasan utama warga desa ini menekuni seni budaya tersebut adalah sebagai simbol yadnya, yaitu keikhlasan berkarya wujud bersyukur kepada Sang Pencipta. Semangat ini jugalah yang membuat banyak warga desa Batuan Bali masih berkesenian hingga kini.

Salah satu kesenian desa Batuan Bali yang paling terkenal adalah lukisannya. Lukisan dari desa Batuan dikenal memiliki gaya abstrak yang inspirasinya datang dari cerita rakyat, cerita mistis serta mitos sehari-hari yang kadang digambarkan dalam lukisan tentang penyihir atau monster.

Lukisan yang dibuat juga biasanya terlihat ramai dengan detail-detail, yang sering kali berhubungan dengan kisah kehidupan warga sehari-harinya. Begitu detailnya lukisan ini, ia akan terlihat begitu memenuhi kanvas.

Desa Batuan Bali salah satunya dikenal karena karya-karya lukisannya.
Ilustrasi lukisan seniman Bali. Foto: Dok. shutterstock

Dan salah satu ciri khas lukisan desa Batuan Bali adalah dominannya warna hitam dan putih yang menimbulkan kesan kelam dan mencekam. Seni melukis di desa ini disebut telah populer sejak 930-an dan menjadi salah satu seni lukisan Bali paling mahsyur.

Kini pengunjung bisa menemui beberapa galeri-galeri pelukis di desa Batuan. Beragam lukisan dipajang dan bahkan beberapa di antaranya dijual. Harganya pun cukup mahal, paling tidak bisa mencapai jutaan, bahkan puluhan juta rupiah.

Kalau tak punya budget untuk membeli lukisan, ada souvenir seperti cangkang telur yang dilukis ala desa Batuan Bali. Ada yang menggunakan cangkang telur ayam, bebek atau bahkan burung unta asli, ada juga yang hanya tiruan dari kayu. Harganya pun lebih terjangkau, mulai dari Rp 50 ribu.

Desa batuan Bali juga terkenal karena lukisan pada cangkang telur.
Lukisan pada cangkang telur. Foto: dok Tempo dari gettyimage

Selain seni melukis, warga desa Batuan Bali juga merupakan pekerja seni lainnya, seperti memahat patung, mengukir kayu, menenun, dan membuat topeng. Beberapa lainnya juga masih melestarikan budaya tari tradisional.

Salah satu tari tradisional yang identik dengan desa Batuan adalah Tari Gambuh. Seni tari ini kabarnya sudah eksis sejak abad ke-15, yang menggabungkan elemen-elemen seperti tarian, nyanyian, akting dan drama, serta elemen seni visual lainnya.

Tari Gambuh biasanya berisi atraksi tari dengan drama lakon, diiringi oleh seperangkat gamelan yang dinamai gamelan pegambuhan. Tarian ini biasanya dilakukan pada Odalan, salah satu hari raya di Bali yang dirayakan sekitar enam bulan sekali.

Odalan pada dasarnya merupakan perayaan dimana masyarakat Hindu di Bali memohon kepada para dewa agar turun ke Bumi dan memberi rahmatnya kepada Bali dan warganya. Caranya, mereka melakukan beragam ritual dan kesenian tradisional, seperti Tari Gambuh.

Selain itu, Tari Gambuh biasanya juga dilakukan pada festival perayaan bulan purnama, atau di acara-acara seperti pernikahan di desa Batuan Bali. Anda bisa menyaksikan atraksi tari ini kala mereka tampil di sekitar kawasan Pura Puseh.

Rumah-rumah tradisional di sekitar desa ini juga merupakan daya tarik turis lainnya. Rumah tradisional ini bercirikan atap yang terbuat dari rumput ilalang, serta pintu depan berukuran kecil dengan daun pintu yang terbuat dari tanah liat.

Arsitektur rumah tradisional seperti ini menjadi keunikan tersendiri yang tak anda lihat di tempat lainnya. Maka tak jarang beberapa orang melakukan sesi foto seperti pre-wedding dan sebagainya dengan menggunakan latar rumah tradisional ini.

Kurang afdol pula kalau tidak masuk berkeliling di Pura Puseh. Pura yang hingga kini masih digunakan untuk warga setempat sembahyang ini memiliki beragam ornamen ukiran khas Bali, dengan lukisan-lukisan yang menceritakan berbagai lakon cerita rakyat bernapaskan Hindu.

Di Pura Puseh juga pengunjung bisa melihat prosesi sembahyang umat Hindu, serta beragam upacara adat dan keagamaan. Pergelaran tari tradisional seperti Tari Gambus dan sebagainya juga biasa diadakan di sekitar wilayah pura tersebut.

Untuk bisa masuk ke dalam pura, pengunjung akan dikenakan tiket masuk seharga Rp 10 ribu. Selain itu, anda juga diminta untuk menggunakan kain dan menggunakannya dengan cara dililit di pinggang, bagaikan sarung. Kain ini dipakai selama berkunjung ke pura sampai selesai.

Yang perlu diingat, setiap pengunjung diminta untuk tidak menyentuh ukiran, lukisan atau benda-benda yang berkaitan dengan prosesi sembahyang di pura ini. Pengunjung juga diminta berhati-hati untuk tidak melangkahi sesembahan di sekitar area pura.

Di desa ini, pengunjung juga bisa belajar seni melukis, mengukir dan memahat ala desa Batuan. Hanya perlu membayar Rp 100-150 ribu untuk short course. Beragam pilihan guest house sebagai fasilitas penginapan juga tersedia.

Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi via email di desabatuan@gmail.com, atau mengunjungi akun Twitter resmi @BatuanDesa serta akun Instagram resmi @desa.batuan.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Punthuk Setumbu, Keindahan Borobudur Jam 5 Pagi

Punthuk Setumbu adalah sebuah pilihan menikmati ufuk fajar 2021 nanti. Melihat matahari pertama di tahun itu muncul di belakang Candi Borobudur pastilah menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Punthuk Setumbu

Awalnya, Punthuk Setumbu, yang terletak di Dusun Kerahan, Desa Karangrejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa tengah, hanyalah perbukitan biasa dengan ladang milik masyarakat setempat. Tempat ini menjadi terkenal saat seorang fotografer mengabadikan pemandangan sekitar kawasan ini dan menayangkannya. Pemandangan yang diabadikan itu adalah Candi Borobudur dengan latar belakang matahari terbit.

Namanya makin “mendunia” ketika film Ada Apa Dengan Cinta?2 diputar. Salah satu adegan dalam film tersebut dilakukan di tempat tersebut. Semakin hari, kawasan perbukitan ini semakin ramai oleh pengunjung. Dan hingga saat ini dibuka untuk umum sebagai objek wisata.

Tujuan utama wisatawan datang ke Punthuk Setumbu tentu saja untuk mengambil foto matahari terbit. Tak heran, mereka rela datang di pagi buta supaya tidak terlewat momen tersebut.

Punthuk Setumbu berasal dari bahasa Jawa yang memiliki makna punthuk sebagai gundukan atau perbukitan. Sedangkan setumbu sendiri artinya adalah tumbu atau lebih tepatnya tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Jadi nama punthuk setumbu memiliki arti bukit yang bentuknya mirip tempat nasi yang terbuat dari anyaman.

AgendaIndonesia berkesempatan mampir ke tempat ini sekitar empat tahun lalu. Beberapa saat setelah film yang dibintangi Dian Sanstrowardoyo dan Nicolas Saputra itu tayang dan kebetulan ada liputan ke Yogyakarta.

Saat liputan harus terhenti, karena jadwal satu narasumber sedikit mundur karena sedang keluar kota. Apa yang harus dikerjakan? Berpikir cepat, teman fotografer yang menemani mengusulkan mengambil gambar matahari terbit di Punthuk Setumbu.

Diskusinya kemudian, apakah kami berangkat dari Yogya pada pagi-pagi buta, atau memilih menginap di seputaran Borobudur? Kami memilih yang pertama supaya bisa meninggalkan barang-barang di penginapan di Yogya daripada menggotongnya mondar-mandir.

Namun berangkat dari Yogya itu artinya kami harus bangun pagi lewat tengah malam lantas bergegas menembus gelap menuju Muntilan lalu belok ke barat arah Borobudur. Bukan waktu yang nyaman melakukan perjalanan. Terutama karena harus menyetir mobil.

Untungnya perjalanan pagi itu lumayan asyik. Keluar dari hotel jam menunjukkan pukul dua dini hari. Jalanan praktis sepi. Jalur Yogyakarta-Magelang yang biasanya sesak di pagi hingga siang hari, ketika itu nyaris kosong. Jarak dari kota Yogya ke Borobudur sejauh sekitar 40 kilometer yang biasanya ditempuh 1,5 jam, pagi itu cuma dilalap dalam waktu sekitar 35 menit. Itupun dengan kecepatan yang cukup santai.

Pukul 2.35 menit kami sampai di depan Pasar Borobudur. Pasar tradisional yang berjarak sekitar satu kilometer dari candi. Masih cukup sepi, hanya beberapa orang menurunkan dagangan. Kepada mereka kami bertanya soal arah menuju Punthuk Setumbu.

Dari pasar sesungguhnya tak terlalu jauh. Hanya sekitar 2-3 kilometer dan jalanan beraspal halus. Setidaknya ketika itu. Kami sempat berpikir cari kopi dulu di sekitar pasar. Namun para pedagang menyarankan langsung naik saja. Mereka juga menyebut ada warung kopi di titik awal naik.

Kami mengikuti saran tersebut sambil berpikir kemungkinan lokasinya yang sepi dan gelap. Ternyata kami keliru. Menjelang sampai di dekat jalan naik jalanan tampak ramai. Banyak mobil, dari mobil kecil hingga minibus, berjajar parkir. Di bagian lain puluhan sepeda motor juga terparkir cukup rapi. Suasana cukup ramai, dan yang jelas cukup terang.

Loket retribusi naik Punthuk Setumbu ada di dekat warung makan. Satu orang lokal dikenai Rp 20 ribu.

Pukul 3.30-an sejumlah portir meminta kami mulai mendaki. Mendaki? Ya, untuk ke Punthuk Setumbu kami harus menaiki tangga memutari bukit setinggi 400-an meter. Ada deretan anak tangga yang dibagi dalam tiga stage. Di tiap akhir stage ada bordes untuk berhenti sejenak ambil nafas. Di sana biasanya ada portir yang menjaga dan memberi cahaya dari senter. Bersama kami ada sekitar 20-an pengunjung.

Punthuk Setumbu, sebuah bukit di barat candi Borobudur. Sebuah tempat untuk menyaksikan matahari terbit dengan pemandangan Borobudur.
Pengunjung Punthuk Setumbu mengabadikan matahari terbit dengan latar depan candi Borobudur.

Hampir setengah jam berjalan, kami sampai puncak. Ini lebih mencengangkan lagi. Ternyata di puncak hampir mirip pasar malam. Ada sekitar 200-an orang di sana. Masing-masing telah mengambil posisi. Duduk atau berdiri. Entah siapa yang mengatur, tapi posisinya seperti orang duduk di ampitheater. Agak melengkung menatap ke satu arah.

Cukup banyak yang membawa kamera cukup serius (baca: dengan tripod dan lensa tele). Saat itu doa semua orang sama: tidak ada mendung dan matahari muncul dengan ceria.

Dan doa kami semua terwujud. Sekitar 27 menit setelah adzan subuh mengema di lembah, sebaris warna jingga muncul di cakrawala. Menit demi menit matahari beringsut naik. Hingga pada satu ketinggian, secara dramatis siluet Borobudur muncul dari balik kabut pagi dengan cahaya matahari menyorotinya. Luar biasa.

Dan drama itu berlangsung sekitar 30-an menit. Selesai selepas pukul 5 pagi. Maka perlahan para penikmat matahari terbit itu turun bukit.

Teman fotografer menyebut pengalaman itu sebagai cara lain menikmati candi Borobudur. Ia mungkin benar, saya seperti melihat Borobudur yang ‘baru’. Yang berbeda dengan saat masa kanak-kanak dulu.

Ayo, jangan lupa agendakan perjalananmu ke Magelang dan nikmati pesona elok dari perbukitan menoreh. Serta menikmati opera Borobudur di saat fajar menyingsing.

Waktu terbaik untuk datang ke kawasan ini pada adalah saat musim kemarau, yakni mulai Juli hingga Agustus. Pada saat itu, matahari kemungkinan besar tak terhalang awan atau mendung.

agendaIndonesia

****

Pulau Weh, Mengunjungi Indonesia di Titik 0

Dari Sabang hingga Takengon bisa dilakukan dalam waktu 5 hari.

Pulau Weh atau pulau We mungkin banyak anak milenial yang kurang mengetahuinya. Tapi kalau kita menyebut satu-satunya kota di atas pulau ini, yakni Sabang, mungkin mereka akan segera tahu, ini pulau paling barat dari Indonesia.

Pulau Weh

Orang Indonesia biasanya memang lebih mengerti Sabang daripada pulau Weh. Sabang adalah simbol ujung barat dari deret kepulauan Nusantara, dengan simbol ujung timurnya di Merauke. Ya, bila Indonesia diibaratkan sebuah deret aritmatika, Sabang dan pulau Weh adalah bilangan paling awal, bilangan 0.

Karena itu mengunjungi titik 0 Indonesia, yang ditandai dengan tugu Kilometer 0, tentu menjadi cerita yang seru. Apalagi jika wisatawan bisa mendapatkan sertifikat” Kilometer 0” yang ditandatangani Walikota Sabang.

Tugu Kilometer 0 itu lokasinya kurang lebih 29 kilomter dari pusat kota Sabang, dengan waktu tempuh ksekitar 1,5 jam dengan kendaraan bermotor. Tugu setinggi 20 meter itu berwarna krem dan merah muda dengan lambang Garuda yang sedang menggengam angka 0 di puncaknya.

Pulau Weh sendiri berada di ujung utara pulau Sumatera dan menjadi bagian dari Daerah Istimewa Aceh. Ia terbentuk akibat letusan gunung berapi pada zaman pleistosen, letusan yang menyebabkan daratan Weh terpisah dari daratan Sumatera. Pulau ini terletak di Laut Andaman.

Karena terbentuk karena letusan gunung berapi, menyebabkan masih banyak ditemukan batuan-batuan vulkani di pulau ini. Ini juga berpengaruh pada kesuburan tanahnya. Sebagian tutupan hutan hijau yang masih utuh dapat dijumpai di bagian barat pulau ini. Dan, meskipun hanya kecil dengan luas sekitar 120-an kilometer persegi, pulau Weh memiliki banyak pegunungan. Puncak tertinggi pulau ini adalah sebuah gunung berapi fumarolik dengan tinggi 617 meter

Pulau ini terbentang sepanjang 15 kilometer. Dari Banda Aceh, jarak Sabang sekitar 32 kilometer. Menuju Sabang bukan hal sulit, ini bisa dicapai dengan perjalanan laut dari Banda Aceh. Ada dua jenis kapal yang bisa mengantar ke Sabang, pertama kapal cepat yang menempuh perjalanan selama 30 menit harga tiketnya Rp 60 ribu per orang. Pengunjung juga bisa memilih kapal reguler, hanya saja waktu tempuhnya lebih lama, yakni sekitar dua jam. Harganya tiketnya lebih murah, yakni Rp 23 ribu per orang.

Sejumlah teman menyarankan, tidak ada salahnya jika memilih kapal yang lebih lambat. Sebab, kadang jika beruntung penumpang kapal reguler ini mendapatkan tontonan menarik. Selain disuguhi pemandangan laut yang indah, dalam perjalanan penumpang bisa melihat lumba-lumba berlompatan di permukaan laut, mereka seakan mengiringi perjalanan itu.

Terdapat empat pulau kecil yang mengelilingi Pulau Weh, yakni Pulau Klah, Rubiah, Seulako, dan pulau Rondo. Di antara keempatnya, Rubiah yang paling terkenal sebagai tempat pariwisata menyelam karena terumbu karangnya yang indah.

Pulau Rubiah berada di teluk di muka kota Sabang. Konon namanya diambil dari nama seorang perempuan, Cut Nyak Rubiah, yang makamnya ditemukan di pulau tersebut. Akses menuju pulau Rubiah adalah melalui Pantai Iboih atau yang nama lokalnya Teupin Layeu di kota Sabang. Waktu tempuh menuju Rubiah sekitar 5-10 menit dengan perahu motor dari Iboih.

Perairan di seputar pantai Iboih dan pulau Rubiah memang diperuntukkan untuk pariwisata. Penangkapan ikan secara masif dilarang di perairan ini, karena dianggap dapat merusak terumbu karang. Perairan bawah air di kawasan ini konon disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di Sumatera.

Jika tidak berminat menyelam, pengunjung bisa snorkling dan mengamati kecantikan laut dari permukaan. Ada banyak menjumpai kumpulan ikan (schooling fish) yang berenang di seputaran terumbu karang. Biaya menyewa peralatan snorkling di Iboih atau Rubiah sekitar Rp 40 ribu. Sedang tarif untuk satu kali menyelam Rp 400 ribu.

Bilapun tak ingin menyeberang ke Rubiah, pengunjung bisa menikmati pantai Iboih atau pantai Teupin Layee. Suasana pantainya asri dengan panorama yang indah. Warung makan, toko pakaian, dan kedai kopi mudah ditemukan di sini. Wisatawan pun bisa menikmati ikan hias dan terumbu karang dengan menggunakan perahu kaca di seputar pantai.

Pilihan wisata lain adalah pantai Anoi Itam di sisi selatan Pulau Weh, butuh waktu sekitar 30 menit dari Sabang dengan motor motor. Keistimewaan pantai ini pada pasirnya yang hitam. Dalam bahasa Aceh, Anoi Itam berarti pasir hitam. Salah satu hal menarik di pantai ini adalah adanya Benteng Anoi Itam. Benteng ini adalah salah satu tempat yang menjadi pertahanan serdadu Jepang saat mereka masuk Sabang. 

Dari benteng tersebut, wisatawan juga bisa melihat hamparan laut berwarna biru kehijauan yang memukau. Di titik ini, wisatawan juga bisa melakukan pemotretan dengan latar Gunung Seulawah Agam yang menjulang kokoh di kejauhan di daratan Aceh.

Tapi terlepas dari apapun yang memang asyik itu, berkunjung ke titik Kilometer 0 Indonesia adalah pengalaman yang luar biasa. Ayo agendakan kunjunganmu ke tempat ini.

agendaIndonesia

*****

Damar Langit Bogor, Makan Nginap 1 Tempat

Damar Langit Bogor baru berumur setahun namun sudah menjadi pilihan liburan kekinian.

Damar Langit Bogor atau tepatnya Damar Langit Dining and Resort adalah salah satu alternatif spot wisata dan liburan kekinian di kawasan Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Menjual daya tarik seperti pemandangan indah nan asri serta iklim yang sejuk, tempat dengan konsep open space ini tengah naik daun dan ramai dikunjungi.

Damar Langit Bogor

Baru mulai berdiri dan beroperasi sejak 19 Juni 2021 lalu, tempat ini mendapat sambutan positif dan sedang populer bagi wisatawan yang memilih berlibur di area Bogor dan Puncak. Dari Bogor, jarak tempuh menuju tempat ini dengan mobil atau motor sekitar satu jam.

Utamanya tempat ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin bersantai menikmati alam sambil bersantap siang atau malam bersama keluarga, teman dan orang-orang terdekat. Atau bagi mereka yang ingin mencari suasana berbeda dengan spot berfoto yang indah.

Damar Langit Bogor memiliki pemandangan dua gunung, Gunung Salak dan Pangrango
Salah satu alasan memilih tempat ini adalah pemandangannya yang luar biasa. Foto: DOk. Damar Langit

Pemandangan alam di sini memang menjadi nilai plus utama dari tempat ini. Di sini anda dapat menikmati panorama dua gunung, yakni gunung Salak dan Gede Pangrango yang dikelilingi area perbukitan yang menghampar hijau, dan kelip cahaya kota Bogor yang menghiasi di malam hari.

Anda bisa menikmati pemandangan serta suasana asri tersebut dalam tiga pilihan area, yaitu indoor, semi outdoor dan outdoor. Biasanya, kebanyakan pengunjung lebih menyukai area outdoor, di mana tersedia beberapa tempat lesehan di tengah lahan rumput hijau.

Terdapat pula fasilitas kolam renang bagi yang ingin menikmati nuansa alam yang sejuk sambil berenang. Kolam renang ini terbuka untuk umum dan untuk dapat masuk pengunjung akan dikenakan tarif tiket sebesar Rp 50 ribu.

Damar Langit Bogor juga menawarkan beragam jenis makanan dan minuman untuk disantap sambil bersantai. Dari masakan lokal Indonesia seperti ayam Taliwang hingga menu-menu mancanegara seperti seafood tom yum dan chicken quesadilla tersedia di sini.

Damar Langit Bogor minuman
Salah satu minuman unggulan di Damar Langit Bogor. Foto: dok. Damar Langit

Namun perlu dicatat bahwa harga makanan di sini tergolong agak premium, yang berkisar antara Rp 35 ribu hingga Rp 200 ribu. Pilihan minumannya pun dihargai sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu, dengan pilihan seperti fresh juice, fruity ginger tea dan kopi kacang hijau.

Sebagai spot wisata kekinian, Damar Langit Bogor juga menyediakan fasilitas staycation berupa glamping alias glamour camping yang belakangan tengah marak. Nama glamping sendiri merujuk pada kegiatan pelesir mirip berkemah yang dilakukan dengan fasilitas lebih memadai.

Alih-alih menggunakan kemah, di tempat ini disediakan beberapa dome yang sudah dilengkapi dengan fasilitas seperti TV, kamar mandi dengan pancuran, kulkas, wi-fi dan sebagainya. Untuk menuju dome ini, pengunjung perlu membawa mobil atau dengan fasilitas shuttle car yang disediakan.

Tarif dome-dome tersebut dihargai Rp 1,5 juta per malam pada saat weekdays dan Rp 1,8 juta per malam kala weekend. Cocok bagi anda yang ingin menikmati pengalaman serasa berkemah tapi tanpa perlu merasakan kesulitan serta keterbatasan yang lazimnya dialami saat berkemah.

Atau kalau anda hanya membutuhkan fasilitas staycation seperti pada umumnya, Damar Langit Bogor juga menyediakan beberapa vila-vila. Setiap vila dapat menampung setidaknya empat orang, plus satu orang dengan tambahan extra bed.

Selain itu, vila-vila tersebut juga dilengkapi teras yang cukup besar dan nyaman untuk menikmati pemandangan. Tarif sewa vila ini harganya Rp 3,5 juta per malam ketika weekdays dan Rp 4 juta per malam pada weekend.

Yang perlu dicatat, jika anda menginap baik di dome maupun vila, anda akan mendapatkan akses khusus untuk ke kolam renang secara gratis. Anda juga dapat memesan menu-menu makanan dan minuman yang akan diantarkan ke dome atau vila tempat anda menginap.

Sebagai info, menu sarapan tersedia dari jam 07.00 sampai 11.00, sedangkan menu makan siang mulai dari jam 12.00 hingga jam 15.00. Adapun menu untuk makan malam disediakan dari jam 18.00 sampai jam 23.00.

Detail lainnya, tarif seperti tiket masuk kolam renang berlaku untuk usia 17 tahun ke atas. Yang juga tak boleh dilupakan, setiap penginapan baik dome maupun vila adalah penginapan bebas rokok, tetapi disediakan area khusus untuk merokok.

Lain dari itu, akses menuju tempat ini dapat dilalui oleh mobil maupun motor, dengan fasilitas tempat parkir juga tersedia. Namun jalur yang dilalui tergolong agak sempit dan cukup curam, sehingga pengunjung perlu berhati-hati, terlebih saat weekend atau hari libur yang lebih padat.

Damar Langit Dining and Resort buka setiap hari dari jam 10.00 hingga 21.00 pada weekdays dan dari jam 10.00 hingga 22.00 saat weekend. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0251) 8295404, (0251) 8260424, atau kunjungi situs resmi www.damar-langit.com dan laman Instagram resmi @damarlangitresort.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Mengejar Awan Mahameru di Atas 3676 Meter

Mengejar awal mahameru sebagai atap jawa sungguh bukan perjalanan mudah.

Mengejar awan Mahameru adalah impian para petualang alam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Selain curam, medannya juga berpasir yang membuat setiap selangkah mendaki, kaki malah bisa merosot mundur lima langkah.

Mengejar Awan Mahameru

Perjalanan ini sendiri sudah jauh saya lakukan. Bahkan sebelum masa pandemi, namun tetap saja menarik buat saya kenang. Saya ingat, saat itu hampir menjelang tengah malam saat sampai di pos Kalimati. Hawa dingin sudah menyerbu badan bahkan saat sebelum sampai pos ini. 

Sambil duduk di atas sebuah batu, berulangkali saya mencoba merapatkan jaket yang menempel di tubuh. Tapi nyaris tak ada gunanya. Di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut menuju puncak Semeru, sia-sia saja melawan dinginnya udara yang mendekati nol derajat.

Mengejar awan Mahameru adalah impian para penjelajah alam di tanah Jawa.
Danau Ranukumbolo, tempat para pendaki biasa mendirikan tenda untuk bermalam sebelum menuju puncak Semeru. Foto: Dok. Unsplash


Mencoba mencari hangat, saya berjalan berkeliling. Mendekati sekelompok orang yang tengah duduk mengelilingi api unggun kecil. Mereka penduduk sekitar Semeru yang biasa menawarkan jasa porter. “Kapan akan berangkat muncak?” tanya salah seorang dari mereka. “Tengah malam nanti, pak,” ujar saya.


“Berjalan saja, jangan pikirkan akan sampai atau tidak. Jika berjalan terus, tidak terasa nanti sampai di atas,” ujar laki-laki setengah baya tadi seakan memberi tip sekaligus menguatkan semangat.


Semeru, merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Gunung yang sudah banyak diimpikan para pendaki.

Untuk saya sendiri, angan-angan mengejar awan Mahameru di ketinggian 3.676 mdpl sudah ada sejak remaja, meski saya bukan pendaki. Dan kesempatan itu pun akhirnya datang. Dengan menumpang kereta Matarmaja saya menuju Malang dari Jakarta. Selanjutnya bersama 16 teman menumpang jeep hingga pos Ranu Pane, desa terakhir untuk menuju Semeru. 


Malam itu di Kalimati, berarti tinggal sekitar tiga kilometer menuju puncak. Tapi perjuangan justru baru dimulai. Medan yang akan kami tapaki selanjutnya, selain curam, adalah medan berpasir. Satu langkah mendaki, kaki bisa merosot lima langkah.


Tepat pukul 12 malam rombongan memulai perjalanan menuju puncak. Di tengah kegelapan, kami merayapi sela pepohonan dengan penerangan dari headlamp. Semakin tinggi mendaki, saya semakin sulit bernapas. Hidung terasa nyeri ketika menghirup udara. Kepala saya pening. Tampaknya asupan oksigen yang kurang lancar mulai mempengaruhi peredaran darah di kepala.


Saya tetap berjalan. Pikiran saat itu masih normal untuk mengatakan, saya harus terus berjalan. Saya tidak mau menyerah. Apalagi, di sekitar pos Arcopodo, kami menjumpai beberapa batu nisan yang dibuat untuk menandai pendaki yang meninggal saat pendakian. Sambil melangkah, doa semakin deras terucap dalam hati.


Lepas dari pos Kelik, kami mulai menapaki pasir. Meski kondisi gelap gulita, saya dapat merasakan pasir raksasa Mahameru berdiri tegak di depan kami. Saya menyesal tidak menggunakan geiter sebagai penutup kaki. Pasir dan kerikil masuk ke dalam sepatu dan sampai di bawah tapak kaki. Menginjak kerikil-kerikil membuat saya melangkah dengan rasa nyeri. Berulangkali saya melepas sepatu dan mengeluarkan kerikil.

Mengejar awan Mahameru yang berada di ketinggian 3676 di atas permukaan laut.
Puncak Semeru terlihat di kejauhan. Foto: Dok. unsplash


Hampir fajar. Rombongan sudah berpencar. Saya menoleh ke belakang. Masih ada dua teman. “Ayoo semangaaat…,” teriak seseorang.  Saya masih berada di tengah pasir, saat rona merah matahari dari bawah awan menyajikan pemandangan yang sangat indah. Di Jakarta, matahari terbit sering saya anggap hal biasa. Tapi sini, setiap kejadian alam adalah keajaiban. Terduduk di pasir, saya merasa beruntung dapat menikmati kuasa-Nya.


Hari telah pagi. Suasana hampir terang. Puncak Semeru belum juga terlihat. Saya melangkah dengan sisa-sisa napas. Tenggorokan terasa kering. Persediaan minum sudah habis pula. Seorang pendaki yang berjalan mendahului saya, mencoba memberi semangat. “Puncak sebentar lagi, paling 50 meter,” ujarnya tanpa ditanya.

Duh, bahkan 5 meter menanjak di pasir yang miring sangat jauh berbeda dengan di permukaan datar. Jangankan berjalan, mencari pijakan di pasir saja, kaki harus meraba agar tidak merosot ke bawah lagi.


Di tepian pasir, beberapa pendaki tergolek tidur. Saya mencoba merebahkan diri di pasir Semeru. Luar biasa, lebih nikmat dibanding ketika di spring bed mahal. Kantuk menyerang, hampir saya tertidur. O.. tidak! Saya segera bangkit. Saya bergegas, khawatir kehabisan waktu, karena setelah pukul 9.00 pendaki tidak bisa menuju puncak. Semua harus turun. Angin yang mungkin membawa asap beracun dari kawah Semeru akan bergerak ke jalur pendakian.


Tubuh saya benar-benar lemas, 10 meter menjelang puncak. Dari atas sekelompok pendaki berjalan turun. “Sini, mana tongkatnya, saya tarik,” dia berteriak. Saya mengangsurkan trekking pole saya. Ia menarik tongkat yang saya genggam hingga tubuh saya terangkat naik. Teman di belakangnya melanjutkan menarik tongkat saya.


Saya seperti mendapat semangat baru. Saya tahu, puncak hanya beberapa langkah lagi. Satu…dua…tiga. Hopla!! Dengan sisa tenaga saya mencapai tanah datar Semeru. Saya tersungkur dan meneteskan air mata, tidak percaya akhirnya mencapai harapan mengejar awan Mahameru. 
Saya bangkit menatap hamparan abu-abu puncak Semeru. Melangkahkan kaki mengitari puncak dengan buncahan rasa yang sulit saya definisikan. Semalaman bergelut dengan pasir dan bebatuan Mahameru, inilah akhir perjalanan. Puncak Mahameru dikelilingi kepingan awan. Saya seperti berada di negeri atas awan puncak tanah Jawa.

agendaIndonedia/TL/Ika C/Rita

*****

Wisata Ke Batam, 15 Kilometer Dari Singapura

Wisata Ke Batam Jembatan Balerang

Wisata ke Batam pada masanya pernah begitu popular bagi banyak orang Indonesia. Maklum, hingga 31 Desember 2010, orang Indonesia yang hendak bepergian ke luar negeri dulu harus membayar fiskal sebesar Rp 1 juta. Dan, jika berangkat dari Batam, untuk perjalanan satu hari biaya itu bisa dipangkas separuhnya.

Wisata Ke Batam

Soal jalan-jalan dengan menghemat biaya fiskal adalah cerita masa lalu. Kini Batam terus berbenah menjadi spot wisata yang mandiri. Makin banyak pengunjung yang memang mau menikmati Batam itu sendiri. Tentu, tak menutup kemungkinan ada saja ada pengunjung yang selain main ke pulau ini seraya melirik ke negeri Singa. Maklum, jarak antara ke dua pulau ini cuma 15 kilometer. Dengan kapal fery, jarak ini biasanya ditempuh 40-45 menit.

Batam adalah kota sekaligus pulau yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai kota, Batam adalah kota terbesar di provinsi ini. Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil lainnya di kawasanSelat Singapura dan selat Malaka. Pulau Batam, Rempang, dan Galang kini terkoneksi oleh Jembatan Barelang yang sekaligus menjadi ikon kota ini.

Ketika dibangun pada tahun 1970-an oleh Otorita Batam, saat ini bernama BP Batam, kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk. Dalam tempo 40 tahunan penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat. Jumlah penduduk mencapai 1.150.000 jiwa pada sensus 2012.

Kota ini sejatinya terus dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu yang cukup lengkap. Selain memiliki sejulah spot alam yang menarik, punya petilasan sejarah, dan tak kalah penting ia juga dikembangkan untuk wisata belanja. Batam merupakan bagian dari kawasan khusus perdagangan bebas Batam-Bintan-Karimun (BBK).

Untuk ke Batam tentu saja paling mudah menggunakan penerbangan dari Jakarta. Ada banyak jadwal penerbangan ke kota ini, tinggal disesuaikan dengan acara yang disusun selama di Batam.

Jika melakukan perjalanan ke Batam untuk liburan, pulau ini memiliki koleksi pantai yang indah dan beragam. Wisatawan bisa memilih, pemandangan gugusan pulau, Singapura, atau Jembatan Barelang yang megah itu. Salah satu pantai yang memiliki potensi wisata bahari adalah Pantai Tanjung Pinggir.

Pantai ini berada di kawasan Sekupang, Kota Batam. Bila tak sedang musim kabut asap, gedung-gedung di Singapura terlihat jelas, bahkan Marina Bay Sands sekalipun. Tanjungpinggir dikepung bebatuan, namun pantainya yang kecoklatan masih sangat leluasa untuk digunakan bermain atau berjalan-jalan di pinggirnya.

Ada pula Pantai Nongsa yang memiliki pemandangan sangat cantik dan banyak dikunjungi wisatawan karena keindahan pantai dengan pasir putihnya. Pantai ini terletak di Kecamatan Nongsa, hanya sekitar 10 menit jika ditempuh dari bandara. Banyak wisatawan yang datang ke tempat wisata ini untuk menikmati keindahan lautnya, mereka juga dapat menginap di hotel sekitar pantai.

Pilihan kunjungan lainnya adalah ke kampung Vietnam di Pulau Galang. Tempatnya sekitar 50 kilometer dari Kota Batam dengan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam. Kampung Vietnam merupakan bekas kamp pengungsian warga Vietnam pada saat Perang Vietnam berlangsung atau setelah berakhir di akahir 60-an hingga 70-an.

Di Kampung Vietnam ada gereja tua, vihara, barak pengungsian, penjara hingga patung Buddha tidur. Beberapa bangunan memang banyak yang telah menjadi puing-puing, seperti rumah sakit dan penjara. Semua bangunan tersebut menjadi saksi bisu tentang kehidupan para pengungsi di masa lalu.

Secara historis Indonesia pernah punya pengalaman ikut menangani pengungsi dari Vietnam atau yang kerap dijuluki sebagai manusia perahu. Pemerintah Indonesia saat itu memilih Pulau Galang untuk menampung para manusia perahu tersebut.

Pemerintah Indonesia mengizinkan mereka mengungsi ke tempat tersebut untuk sementara waktu hingga perang saudara di Vietnam reda. Setelah terjadi  perdamaian di Vietnam, para pengungsi mulai kembali ke negaranya dan membiarkan tempat tersebut kosong. Hingga saat ini tempat itu menjadi tempat wisata yang unik karena ada sebuah desa yang tidak berpenghuni namun memiliki suasana yang tidak lazim di Indonesia.

Wisata Ke Batam Ocarina

Pilihan selanjutnya, terutama bagi mereka yang memiliki anak kecil adalah bermain ke Ocarina. Orang Jakarta barang kali memiliki Taman Impian Jaya  Ancol, nah kalau orang Batam punya yang namanya Ocarina, yaitu wahana permainan seluas sekitar 40 hektare yang dibuka pada 2008. Tempat ini sekarang menjadi wisata hiburan paling populer bagi masyarakat Batam dan sekitarnya.

Dengan lokasi berada di pinggir pantai, bisa dimanfaatkan pengunjung untuk keperluan liburan keluarga. Pada hari libur tempat ini banyak dikunjungi oleh masyarakat baik lokal maupun luar daerah.

Wisata lain yang menarik adalah belanja. Pada masanya, banyak orang dari luar Batam yang pergi ke sini untuk berbelanja barang-barang impor, khususnya barang elektroni. Harganya memang relatif miring. Saat ini, dengan makin terbukanya perdagangan dan transaksi daring, harga murah menjadi relatif. Namun jika ada yang ingin mencoba peruntungan, bisa main ke Batam City Square, Panbil Mall, Nagoya Hill, atau Pasar Aviari. Yang terakhir ini banyak menjual barang bekas dengan kondisi bagus eks negara tetangga.

Jadi, kapan punya agenda main ke Batam?

agendaIndonesia

*****

Pulau Morotai Di Maluku Utara Dengan 33 Surganya

Wings Air rute Ternate-Morotai mulai terbang lagi

Pulau Morotai masih jarang diperbincangkan dalam peta pariwisata Indonesia. Sekitar lima tahun lalu, kawasan ini sempat disebut-sebut ketika pemerintah hendak mendorongnya sebagai salah satu sentra industri kelautan. Belakangan rencana ini seperti agak memudar.

Pulau Morotai

Morotai sendiri merupakan nama sebuah pulau di Kepulauan Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Pulau ini adalah salah satu pulau terluar di Indonesia.

Lucunya, meski berada di Kepulauan Halmahera, Morotai sendiri sejatinya adalah gugusan pulau-pulau kecil. Pulau ini merupakan yang terbesar dengan luas 2.400-an kilometer persegi.

Sebagai pulau yang terbesar, Morotai dikelilingi 32 pulau kecil. Sehingga totalnya gugusan ini ada 33 pulau. Dari jumlah tersebut, hanya tujuh pulau yang berpenghuni, sisanya kosong alias tidak berpenghuni. Tujuh pulau yang berpenghuni adalah Morotai, pulau Kolorai, pulau Ngele-ngele Kecil, pulau Ngele-ngele Besar, pulau Golo-golo, pulau Rao, dan pulau Saminyamau.

Nama Morotai berasal dari pemberian nama Kerajaan Moro di Filipina. Kerajaan Morotai sendiri merupakan daerah jajahan Moro pada abad 15-17. Kerajaan Moro menamakan jajahan mereka dengan dua nama, yaitu Morotia yang berarti Moro daratan, dan Morotai yang berarti Moro lautan. Tapi, jauh sebelum itu, Morotai berada di bawah Kesultanan Ternate.

Sebagai pulau yang berbatasan dengan Samudera Pasifik dan Filipina, Morotai pernah digunakan Jepang sebagai basis pertahanan mereka selama Perang Dunia II. Setelah itu, pulau ini diambil alih Sekutu dan digunakan sebagai landasan pesawat untuk menyerang wilayah Filipina dan Borneo Timur.

Karena itu, pulau ini banyak menyimpan sisa-sisa peningggalan Perang Dunia II. Ada gua persembunyian, landasan pesawat, juga kendaraan lapis baja yang masih utuh walaupun berkarat. Salah satu gua yang terkenal bernama Nakamura, yang jadi tempat persembunyian para tentara Jepang setelah Pulau Morotai diambil alih Sekutu. Nama tersebut diambil dari nama tentara Jepang, yang konon bersembunyi di sana selama 30 tahun.

Pada 2018, pemerintah memekarkan Morotai menjadi kabupaten. Pertimbangannya daya tarik pulau-pulaunya, keanekaragaman biota laut, dan pesona sejarah yang kuat. Pulau Morotai diyakini bakal menjelma menjadi salah satu wisata laut terindah. Bahkan tahun 2016 Morotai ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata utama di Indonesia untuk jadi 10 ‘Bali Baru’.

Pulau Morotai tidak memiliki penduduk asli yang menetap secara turun temurun. Penduduk yang ada saat ini adalah berasal dari Suku Tobelo dan Suku Galela di Pulau Halmahera, tepatnya di Kabupaten Halmahera Utara. Kedua sub-etnis tersebut mendominasi mayoritas penduduk Morotai hingga kini.

Untuk menuju Morotai dari Jakarta, umumnya menggunakan penerbangan menuju Bandara Sultan Babullah Ternate. Penerbangan yang panjang, karena memakan waktu 3 jam 45 menit. Biasanya pesawat akan terbang tengah malam dari Jakarta dan tiba di Ternate sekitar jam 7 waktu setempat. Dari sini penerbangan dilanjutkan menuju pangkalan AU Leo Wattimena di Galela, Morotai sekitar lewat tengah hari. Penerbangannya sendiri cuma sekitar 45 menit, tapi umumnya harus menunggu, sebab jadwalnya belum cukup sering.

Sejatinya Morotai adalah salah satu surga milik Indonesia. Pulau-pulaunya masih belum banyak terjamah hiruk-pikuk pariwisata. Keindahan alam pulau-pulau di Morotai tak hanya tercermin lewat bawah lautnya, tapi juga daratannya. Hamparan pasir putih yang luas bisa memanjakan siapa pun yang menginjakkan kaki di sana. Panorama matahari terbit dan tenggelam menjadi salah satu momen paling dinanti wisatawan.

Ada setidaknya 28 titik penyelaman yang menyuguhkan keindahan bawah laut. Bisa jadi, ini adalah rangkaian keindahan dari Bunaken ke raja Ampat. Spot-spot penyelaman itu ada Tanjung Wayabula, Dodola Point, Batu Layar Point, Tanjung Sabatai Point, hingga Saminyamau. Semuanya luar biasa indah, dengan perairan jernih berwarna biru tua. Biota lautnya tak terhingga, hidup di antara terumbu karang yang terawat.

Bila cukup punya nyali, cobalah mampir ke Pulau Mitita yang juga menjadi salah satu spot diving. Keistimewaannya, di sini wisatawan bisa berenang bersama hiu pada waktu tertentu.Rupanya sejumlah jenis hiu di sana sudah terbiasa berenang dengan penyelam.

Apa bila tak ingin menyelam dan hanya ingin menikmati keindahan pantainya, berenang pun bisa dilakukan sepuasnya. Bagian pinggir pantai cukup dangkal. Kegiatan  snorkeling ataupun berenang sangat direkomendasikan. Atau sekadar menikmati matahari terbit dan matahari tenggelam.

Nah yang terakhir ini mungkin bisa sambil menjelajahi Pulau Dodola. Pulau ini terdiri dari Pulau Dodola Besar dan Dodola Kecil. Uniknya, kedua pulau ini tersambung menjadi satu saat air laut sedang surut dan membantang jalan pasir yang menghubungkan keduanya.

Pulau Morotai Dermaga Daruba

Pulau Dodola terletak di sebelah barat Pulau Morotai. Dari Daruba, ibukota Morotai, perjalanan ditempuh dengan menggunakan seedboat menuju Pulau Dodola yang memakan waktu tempuh sekitar 20 menit. Jaraknya sekitar 12 kilometer. Sayangnya biaya sewa speedboad masih cukup mahal, sekitar Rp 1 juta untuk berangkat dan pulang.

Keindahan kedua Dodola Besar dan Kecil tidak berbeda jauh. Pasir pantainya sangat putih dan halus. Pemandangan lautnya yang hijau, jernih dan kebiruan.
Jika sedang surut, kedua pulau ini terhubungkan oleh pasir putih. Ya, pasir putih tersebut seolah jembatan tersembunyi. Panjangnya sekitar 500-an meter. Sungguh luar biasa dan sangat cantik. Wisatawan bisa berjalan di atas pasirnya sekitar 5 menit untuk menyeberang.

Jika pandemi telah lewat, ayo agendakan kunjunganmu ke Morotai.

agendaIndonesia

*****

Salak Pondoh Sleman, Manis Sejak 1917

Salak pondoh Sleman menjadi komoditas dan sekaligus tempat wisata. Foto: shutterstock

Salak pondoh Sleman adalah varietas buah salak yang berasal dari Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Salak pondoh Sleman memiliki kulit coklat kehitaman dengan duri-duri halus, daging buah yang tebal, dan rasa yang manis.

Salak Pondoh Sleman

Pada wisata Sleman, salak pondoh (Salacca zalacca Gaertner Voss) adalah salah satu buah khas dari daerah ini. Di wilayah Sleman utara seperti di Kecamatan Pakem, Cangkringan, Turi, dan sebagian Tempel, hamparan kebun salak akan banyak ditemui sejauh mata memandang.

Tidak ada catatan pasti mengenai sejarah lahirnya salak Pondoh, namun diyakini bahwa varietas ini sudah ada sejak lama dan telah menjadi salah satu buah andalan daerah Sleman dan sekitarnya. Pada masa lalu, salak merupakan buah yang ditanam sebagai tanaman pekarangan atau sebagai penghasilan sampingan bagi petani.

Di beberapa titik, ada papan petunjuk arah bertuliskan “Agrowisata Salak” mudah ditemui. Bahkan, ada pula sebuah ruas jalan di Turi bernama Jalan Agrowisata.

Salak Pondoh Sleman banyak ditemui di pasar-pasar tradisional hingga pinggir jalan antarkota
Salak Pondoh dijajakan di banyak tempat di Yogyakarta. Foto: shutterstock

Berdasarkan informasi di situs resmi Kabupaten Sleman, sejarah salak pondoh dimulai pada sekitar 1917. Saat itu ada seorang jagabaya atau perangkat keamanan desa, di Tempel bernama Partodiredjo mendapatkan oleh-oleh 4 buah salak dari seorang warga Belanda. Salak tersebut lalu ia tanam dan budidayakan. Ternyata menghasilkan buah salak yang manis dan tak kesat. Lalu, sekitar tahun 1948, budidaya buah salak dilanjutkan lagi oleh putranya.

Masyarakat mulai masif menanam salak Pondoh ini ketika pemerintah menjalankan program ABRI Masuk Desa (AMD) pada 1981. Saat itu, para tentara membuatkan saluran irigasi sehingga lahan-lahan bisa mendapatkan pengairan secara lebih baik. Setelah itu warga mulai berbondong-bondong menanam komoditas salak mengikuti petani lainnya yang sudah mulai lebih dulu.

Dalam beberapa tahun terakhir, salak pondoh Sleman semakin dikenal dan diminati oleh pasar lokal dan internasional, sehingga produksi dan penjualan salak pondoh meningkat dengan pesat. Hal ini juga menjadi pendorong bagi para petani untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi salak pondoh dari desa Turi ini.

Kini, salak pondoh Sleman menjadi salah satu buah yang menjadi kebanggaan masyarakat Sleman dan Yogyakarta serta menjadi buah yang banyak diburu oleh wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.

Selain berwisata ke tempat desa agrowisata ini, pengunjung juga bisa belajar cara membudidayakan salaknya. Asal tahu saja, tanaman yang bisa hidup selamanya ini ternyata mempunyai kelamin jantan dan betina. Cara membedakan yang jantan dan betina adalah dengan melihat dari bunganya.

Kebun Salak Pondoh sporttourism id
Desa Agrowista Salak, bisa langsung memetik buah salak dri pohonnya. Foto: Dok. sporttourism.id

Adapun perbedaannya adalah bunga jantan hanya mempunyai benang sari tanpa putik sehingga hanya membentuk sel kelamin jantan dengan bentuk bunga bulat memanjang. Saat bunga masak akan berwarna merah yang berlangsung hanya tiga hari dan tidak bisa berbuah.

Lain lagi dengan bunga betina yang hanya mempunyai putik tanpa benang sari. Bentuk bunganya panjang agak bulat dan di bagian tengah lebih besar. Pada saat masak, akan ada seludang atau kulit bunga pecah–pecah dan mahkota bunga nampak merah jambu selama tiga hari.

Jika pelancong punya kesempatan main ke Yogyakarta dan ingin mencicipi kesegaran salak pondoh langsung dari pohonnya, sesekali datanglah ke Desa Wisata Agro Bangunkerto, Sleman.

Desa yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani salak ini berlokasi di Kampung Gadung, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ketika memasuki kawasan ini, Anda langsung disambut berderet pohon salak dan kesejukan udara khas pedesaan. Untuk menuju ke tempat ini, wisatawan bisa melalui Jalan Kaliurang, bisa pula melalui Jalan Magelang.

Berdiri sejak 1989, Desa Agrowisata Bangunkerto dikelola pertama kali oleh Dr Soebroto Soedibyo. Desa wisata penghasil salak ini pernah mengalami masa-masa keemasan sekitar tahun 2000-an. Luasnya yang mencapai 27 hektare, menjadikan Desa Wisata Agro Bangunkerto mempunyai berbagai jenis salak unggulan yang belum tentu ada di negara lain.

Pintu masuk bagi para pengunjung menuju kawasan budidaya salak di Desa Wisata Agro BangunkertoJalan setapak yang bisa dilalui pengunjung untuk mengelilingi kebun salak di Desa Wisata Agro BangunkertoPeta petunjuk lokasi yang ada di desa wisata penghasil salak. Salak Madu, salah satu salak yang bisa anda temui di Desa Wisata Agro Bangunkerto.

Deretan pohon salak dan kesejukan udara khas pedesaan akan menyambut Anda di Desa Wisata Agro BangunkertoKolam yang disediakan pengelola untuk pengunjung bersantai sambil menikmati salak. Selain melihat aneka salak, Anda juga bisa melihat aneka tanaman obat di Taman Obat yang ada disiniDesa Wisata Agro Bangunkerto berlokasi di Kampung Gadung, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Sleman, YogyakartaPara pedagang salak menjajakan salak kepada pengunjung Desa Wisata Agro BangunkertoSalak Gading, salah satu salak hasil budidaya di Desa Wisata Agro Bangunkerto.

Salak Pondoh shutterstock
Salak pondoh kecil buahnya tapi manis rasanya. Foto: shutterstock

Tercatat sekitar 17 jenis salak terdapat di desa ini. Sebut saja seperti salak super asli Indonesia, salak madu, salak manggala, salak hitam, salak gading, salak klinting, salak gula pasir, dan beberapa salak lainnya.

Jika pun tak sempat mampir ke Desa Agrowisata-nya, wisatawan bisa membeli salak pondoh Sleman di sepanjang Jalan Magelang, jalan yang mengubungkan Yogyakarta dan Magelang, Jawa Tengah.

agendaIndonesia

*****

Gili-gili Lombok, Keindahan 23 Pulau-pulau Kecil

Google Trends memperlihatkan banyak destinasi lokal yang menjadi incaran para pelancong.

Gili-gili Lombok adalah kekuatan lain wisata ke pulau di timur Bali ini. Gili, yang artinya pulau dalam bahasa setempat, dengan pantai berpasir putih menjadi pilihan menikmati liburan akhir tahun. Jika Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili air sudah mulai dipenuhi wisatawan, coba alihkan ke kawasan Sekotong.

Gili-gili Lombok

Pantai Senggigi boleh jadi menjadi tujuan utama Anda ketika berlibur ke Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Dari sana, umumnya wisatawan lantas menyebarang ke Gili Trawangan atau Gili Meno. Pilihan yang selalu meyenangkan.

Namun, sesekali, tak  ada salahnya jika memilih alternatif pantai lain yang juga tak kalah indahnya. Misalnya pantai-pantai di sejumlah gili di Kecamatan Sekotong di bagian selatan Lombok Barat. Kawasan ini terletak sekitar satu jam perjalanan dari Kota Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sejumlah pantai berpasir putih dengan panorama menawan menjadi dayatariknya, seperti PantaiMekaki, Pantai Bangko-bangko, dan Pantai Sepi. Di beberapa lokasi ombaknya cukup besar sehingga cocok untuk surfing.

Andalan utama Sekotong sesungguhnya adalah 23 pulau kecil, atau disebut gili, yang berpantai landai dan berpasir putih dengan air laut yang jernih. Perjalanan ke pulau-pulau ini memakan waktu 15 hingga 30 menit menggunakan perahu motor dari Pelabuhan Lembar.  Dari Mataram, pelabuhan ini cuma sekitar 2,5 kilometer  atau lamanya kira-kira 7 hingga 10 menit. Akses lain adalah melalui Pantai Cemara dan Pantai Tawun.

Berperahu ke gili-gili ini cukup mengasyikkan karena laut cukup tenang. Sepanjang perjalanan terlihat kapal feri Bali-Lombok yang sedang melintas. Setiap minggu, di saat kondisi sebelum pandemi, kapal pesiar dari Australia berkapasitas 1.000-2.000 penumpang juga menepi di Pelabuhan Lembar. Dari Lembar, wisatawan bisa menyewa perahu motor untuk menyeberang ke sejumlah gili-gili. Harga sewa perahu motor berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Ini harga perahu dengan kapasitas delapan orang untuk seharian, atau biasanya hitungan untuk main ke tiga gili terdekat.

Jika cuma punya waktu seharian, wisatawan bisa memilih hop in-hop off ke tiga gili, yakni Gili Nangu, Gili Sudak dan Gili Kedis. Gili terdekat adalah Gili Sudak, pulau kecil dengan pantai landai berpasir putih yang lembut. Namun, bisa saja perjalanan dimulai ke Gili Kedis yang tak terlalu besar. Di sini wisatawan bisa berenang atau snorkeling.

Gili gili Lombok Snorkeling

Air lautnya yang jernih dan tenang dijamin akan membuat wisatawan betah berlama-lama menikmati alam bawah lautnya. Gugusan terumbu karang yang dihuni beragam flora dan fauna laut menawan akan memancing decak kagum. Gili Kedis luasnya mungkin cuma sekira lapangan bola. Tapi asyik buat dinikmati. Buat yang suka majang foto di akun socmed-nya, gili ini tempatnya.

Kondisi pulau-pulau lain, baik di daratan maupun bawah laut, juga masih sangat terjaga. Alamnya yang tenang sangat cocok untuk menepi, sejenak membebaskan diri dari kesibukan sehari-hari.

Hanya sekitar 10 menit dari Gili Kedis, hop-in selanjutnya adalah Gili Sudak. Biasanya sampai di gili ini pas waktu makan siang, karena di sini dikenal dengan wisata kulinernya. Ada beberapa warung makan pinggir pantai yang menawarkan menu olahan berbagai ikan laut segar, juga udang, cumi, dan kadang juga lobster. Wisatawan juga makan siang ditemani kelapa muda yang segar di sini.

Puas makan siang di tepi pantai, wisatawan bisa melanjutkan hop in-hop off ke pulau ketiga, Gili Nangu. Sama seperti dua gili sebelumnya, Gili Nangu adalah pulau tak berpenghuni. Tapi tempatnya memang asyik. Pasir putih bersih, air yang jernih, dan bawah air yang menarik. Mau ketemu Nemo si ikan badut? Di sini tempatnya.

Dari Nanggu, wisatawan bisa kembali ke daratan Lombok sebelum magrib turun. Tapi jika berminat bermalam, pilihannya adalah mampir ke Gili Gede. Ini gili terbesar di kawasan Sekotong.

Gili Gede memiliki pilihan akomodasi yang lebih baik bagi para wisatawan. Dengan fasilitas dan resor seperti itu, wisatawan ketika ingin dapat menikmati alam dalam jangka waktu yang lebih lama. Meski lokasinya terpencil dan berukuran kecil, wisatawan tidak perlu ragu mengunjungi Gili Gede. Mereka terkesan dengan alam dan fasilitas yang disediakan di sana. Gili Gede termasuk pulau berpenghuni.

Arah pengembangan wisata di pulau-pulau kecil ini akan disesuaikan dengan keunikan dan daya tarik yang ada di masing-masing
pulau. Gili Gede, misalnya, dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari, khususnya wisatawan pemilik yacht. “Ada kekhasan di masing-masing pulau tersebut,” ujar seorang pemandu wisata di sana.

AgendaIndonesia

******