Wisata Bahari di Kepulauan 1000

Wisata bahari ke kepulauan seribu menjadi pilihan ketika tak mungkin pergi terlalu jauh.

Wisata Bahari ternyata tak perlu jauh-jauh, ini bisa dilakukan di sekitar Jakarta. Di utara ibu negara ini ada gugusan Kepulauan Seribu yang menyimpan keindahan, sejarah, konservasi, dan petualangan. Jangan melihat lepas pantai di utara Jakarta, tapi pergilah lebih jauh sedikit, maka pesona itu akan muncul.

Wisata Bahari

Hari masih terbilang pagi saat Predator, ini sebutan untuk kapal cepat, membelah perairan Teluk Jakarta dari Dermaga Marina, Kawasan Wisata Ancol, menuju Pulau Pramuka di Kabupaten Kepulauan Seribu.Pulau Pramuka merupakan pusat pemerintahan kabupaten yang masuk dalam Provinsi DKI Jakarta tersebut.

Meski bukan tujuan utama wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Seribu, namun geliat pariwisata di pulau ini cukup terlihat. Setidaknya ini terlihat dari tumbuhnya sarana penginapan yang dikelola masyarakat bisa menjadi indikatornya.

Dari Pulau Pramuka inilah wisatawan kemudian memanfaatkan jasa perahu nelayan untuk berwisata mengunjungi pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu. “Wisatawan yang datang ke Pramuka memang hanya mencari tempat untuk menginap, sementara untuk aktivitas wisata mereka akan menyeberang ke pulau-pulau lain,” kata seorang pengelola Aini The Villa di Pulau Pramuka.

Dengan kondisi geografisnya yang berupa gugusan kepulauan, sudah tentu kekuatan sektor pariwisata kabupaten yang resmi terpisah dari Kota Madya Jakarta Utara pada 2001 ini terdapat wisata bahari. Pulau Pramuka, Tidung, Bidadari, Pari, Harapan, Payung adalah sedikit dari sekian banyak pulau yang menjadi tujuan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Tiga aktivitas utama yang umumnya dilakoni wisatawan di sini adalah wisata pantai, snorkeling, dan diving. Keindahan alam Kepulauan Seribu memang terbentang dari daratan hingga taman bawah lautnya. Panorama tersebut membuat tiga aktivitas tersebut menjadi pilihan banyak wisatawan.

Namun di luar tiga aktivitas tesebut, Kepulauan Seribu masih menyimpan banyak potensi wisata, misalnya wisata pengamatan burung di Pulau Rambut, Wisata Sejarah di Pulau Cipir, Kelor, dan Onrust yang masih terdapat bangunan- bangunan peninggalan zaman kolonialisme Belanda.

Satu lagi aktivitas yang terbilang baru dan cukup menarik dilakukan di Kepulauan Seribu adalah wisata edukasi yakni mengunjungi keramba jaring apung tempat pembudayaan ikan laut. Budidaya ikan tersebut merupakan salah satu kegiatan yang sedang gencar dikenalkan pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu.

Dan kedepannya akan dikembangkan agro wisata di Pulau Tidung Kecil.
Pariwisata di Kepulauan Seribu terbagi dalam dua sasaran yakni wisata edukasi dan wisata bahari. Banyak obyek wisata yang kental dengan nilai pelajaran terutama untuk kalangan anak. Salah satunya tempat pembudidayaan ikan.

Kegiatan budidaya ini sebenarnya sudah lama dikembangkan oleh pihak swasta. Namun kini kegiatan pembudidayaan tersebut juga gencar disosialisasikan kepada masyarakat Kepulauan Seribu. Kegiatan budidaya tersebut juga dikembangkan sebagai aktivitas wisata.

“Wisata budidaya ikan merupakan potensi yang dapat dikembangkan, salah satu yang bisa dikunjungi ada di PT Nuansa Ayu Karamba di Pulau Pramuka,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta.

Mengunjungi lokasi pembudayaan ikan juga sudah dimasukkan dalam paket wisata beberapa agen wisata Kepulauan Seribu. Di tempat pembudidayaan ikan Nuansa Ayu Karamba ini wisatawan bisa melihat langsung pembudidayaan beberapa ikan seperti kerapu, kakap putih, bandeng, dan napoleon. Wisatawan juga bisa ikut memberikan pakan untuk ikan budi daya disini.

Melihat ikan-ikan yang berebut saat dilempari pakan tentu akan menjadi pengalaman baru, terutama bagi anak-anak. Meski berada diatas laut lokasi pembudidayaan ini sangat aman bagi aktivitas wisata. Mengunjungi keramba pembudidayaan wisatawan akan melewati jembatan kayu yang kemudian disambung dengan jembatan apung.

Selain itu di kawasan ini, di pulau Pramuka, misalnya, juga ada kolam pemancingan yang disediakan untuk pengunjung. Ikan yang dipancing nantinya bisa dimasak di Nusa Resto sebagai teman santap mengisi perut, atau boleh juga dikemas sebagai oleh-oleh perjalanan dari Kepulauan Seribu.

“Di akhir pekan, banyak wisatawan yang sengaja datang ke karamba pembudidayaan ikan yang dikelola masyarakat dibawah binaan pemerintah, maupun ke karamba yang dikelola swasta. Banyak informasi yang bisa didapat pengunjung tentang bagaimana pembudidayaan ikan dilakukan,” kata Kepala Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Seribu.

Wisata bahari di Kepulauan Seribu di antaraya bisa melihat konservasi penyu.n
ilustrasi melihat tukik, atau anak penyu, dilepasliarkan ke lautan tempat habitan mereka. Foto: Dok. shuterstock

Hal lain juga bisa dilakukan adalah menyaksikan konservasi penyu di sejumlah pulau di Kepulauan Seribu. Ini misalnya bisa dilakukan di Pulau Cikaya, pulau Karya, atau pulau Kelapa Dua. Jika menginap dan beruntung, wisatawan bisa menyaksikan proses penyu bertelur, lalu telur-telur itu dipindahkan ke tempat yang aman hingga menetas. Dan, nantinya, dilepaskan kembali ke lautan.

Tidak lengkap rasanya jika berwisata ke suatu daerah tidak membawa oleh-oleh khas buatan masyarakat. Dinas Kelautan dan Pertanian Kepulauan Seribu telah melakukan upaya pembinaan kepada kelompok ibu-ibu di Kepulauan Seribu, baik dalam bentuk olahan hasil perikanan maupun pertanian yang meliputi teknik penanganan pasca panen, termasuk juga packaging-nya. Hal ini dilakukan agar kemasan produk menarik, sehingga meningkatkan nilai jual dan minat beli terhadap produk tersebut. Beberapa makanan ringan produksi masyarakat yang sayang jika dilewatkan, seperti keripik sukun, stik cumi, kerupuk ikan, dan handycraft.

Keripik sukun adalah makanan khas yang dapat diperoleh di semua pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu. Pembuatan keripik ini sangat sederhana. Setelah dipetik dan dibersihkan, buah sukun dikupas untuk diiris tipis-tipis. Setelah di potong kemudian digoreng dan proses pemberian bumbu dilakukan pada saat menggoreng, selanjutnya dikemas

Meski bisa di dapat di semua tempat, sentra pembuatan Kripik Sukun ada di Pulau Payung. Ada dua jenis buah sukun yang digunakan untuk kripik, sukun duri dan sukun botak. Rasa yang dihasilkan dari sukun duri lebih renyah dibandingkan sukun botak,” kata Juna ibu yang menekuni usaha pembuatan kripik sukun asal Pulau Payung.

agendaIndonesia

*****

Raja Ampat Dan 10 Protokol Untuk Menikmati Keindahannya

Raja Ampat 1 rute menuju Waisai

Raja Ampat, rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan di sebalah barat kepala burung Papua, disebut orang dan para traveler sebagai salah satu spot terindah di dunia. ‘The Last Paradise‘ kata wisatawan dari seluruh dunia.

Raja Ampat

Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat merupakan daerah tujuan penyelaman terbaik yang dimiliki Indonesia. Keindahan bawah lautnya bahkan bagian dari 10 terbaik di dunia. Birunya air laut, gugusan pulau karang di tengah laut, hard coral yang tumbuh melebihi batas air, hingga gua bawah laut, adalah paket lengkap dari wisata Raja Ampat yang menyuguhkan pemandangan alam menakjubkan.

Menjelang akhir tahun, ada pertanyaan, bisakah mengunjungi Raja Ampat? Pilihan menyambangi Raja Ampat untuk liburan tentu bukan asal-asalan. Di penghujung tahun ketika di bagian Barat Indonesia cuacanya tidak menentu, Raja Ampat justru menghadirkan persahabatan.

Konon, dalam mitos masyarakatnya, nama Raja Ampat berasal dari seorang wanita yang menemukan tujuh telur. Empat butir di antaranya menetas menjadi empat pangeran, kemudian menjadi raja di empat kawasan. Tiga butir telur lainnya menjadi hantu, seorang wanita, dan sebuah batu. Wallahualam. Saya hanya berharap inilah tempat “Raja-nya” situs-situs penyelaman yang ada di negeri ini.

Hasil penelitian LIPI dan lembaga lain pada 2002 mencatat, lebih dari 540 jenis karang keras, yang artinya 75 persen dari jenis total di dunia, ada di Raja Ampat. Juga terdapat 1.000 jenis ikan karang dan 700 jenis Moluska. Tak ada tempat lain di dunia ini yang memiliki kelengkapan biota laut seperti itu.

Raja Ampat Dari udara

Berdasar laporan Travelounge beberapa tahun silam, beberapa spesies spesifik Raja Ampat yang bisa dijumpai saat menyelam antara lain Kuda Laut Katai, Wobbegong, dan Pari Manta. Ada sekitar 30 situs penyelaman di kawasan Raja Ampat. Masing-masing memiliki karakteristik. Beberapa yang popular antara lain; Mike’s Point yang merupakan batu karang berbentuk jamur. Di situs ini kita bisa temui soft coral, rombongan sweetlips, dan barracuda. Di kedalaman 25-27 meter terdapat cerukan yang mengeliingi batu karang. Kita menyelam menyusuri cerukan tersebut untuk menghindari arus yang cukup kuat.

Kumpulan Baracuda juga banyak ditemui di tempat lain, seperti di situs penyelaman Sleeping Barracuda, Cape Kry, dan Blue Magic. Berada di tengah kumpulan puluhan Baracuda tentunya merupakan pengalaman yang menakjubkan. Barracuda termasuk jenis yang Agresif, sewaktu-waktu dapat menyerang kita terutama jika ia sedang sendiri.

Situs populer lainnya yang wajib kita selami adalah Manta Point. Ada tiga lokasi di mana kita bisa menyaksikan ikan Pari Manta (Manta birostris). Manta Sandy, Manta High Way, dan Manta Coral. Di tiga lokasi itulah kita bisa menyaksikan kumpulam Pari Manta yang seolah menari dalam jarak yang sangat dekat.  Pari Manta adalah salah satu spesies ikan pari terbesar di dunia. Lebar tubuhnya dari ujung sirip ke ujung sirip lainnya bisa mencapai hampir 7 meter, bahkan lebih.

Raja Ampat dari Painemo

Menikmati kawasan Raja Ampat tak lengkap jika tak singgah ke pulau Wayag. Kepulauan di wilayah distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, ini menyuguhkan panorama luar biasa. Jika sudah puas menyelam, sisakan sedikit waktu dan tenaga untuk mendaki salah satu puncak dari puluhan pulau karang yang ada di pulau Wayag. Dari ketinggian, kita bisa menyaksikan laguna berair biru kehijauan yang dikelilingi gugusan pulau karang yang menyembul dari dasar laut.

Saat ini, Raja Ampat mulai dibuka kembali setelah sempat ditutup di awal pandemi. Begitupun, untuk mengunjungi tempat ini para wisatawan perlu memperhatikan 10 aturan baru untuk bisa berwisata ke Raja Ampat di masa pandemi.

1. Melakukan registrasi online pada: www.newnormal-rajaampat.com

2. Menyiapkan aplikasi Health Assesment Card (HAC) pada www.inahac.kemkes.go.id

3. Memiliki surat keterangan bebas covid-19, berupa hasil RT-PCR negative atau hasil rapid test nonreaktif, yang berlaku 14 hari, yang diperoleh dari Rumah Sakit/Puskesmas/Klinik resmi.

4. Menyiapkan personal health kit.

5. Memiliki asuransi kecelakaan dan atau asuransi jiwa, terutama yang akan melakukan kegiatan berisiko tinggi dan memerlukan fisik prima, seperti diving, trekking, telusur goa dan lain-lain.

6. Memiliki pemandu/pramuwisata. Lakukan booking online untuk lokasi yang akan anda kunjungi pada situs yang sama.

7. Ketika seluruh kelengkapan anda sudah terpenuhi, silakan lakukan perjalanan, dengan protokol Kesehatan.

8. Untuk perjalanan udara, anda akan tiba di Bandara Dominique Eduard Osok-Sorong dan melanjutkan perjalanan laut/udara menuju Raja Ampat.

9. Lakukan document clearence sebelum memasuki kawasan Raja Ampat pada:

• Check Point I: Pelabuhan Falaya, Waisai Pulau Waigeo.

• Check Point II: Pelabuhan Yelu-Misool.

• Check Point III: Bandara Marinda, Waigeo.

10. Tetap mengikuti prosedur protokol ketertiban tatanan baru di ruang umum. Kalau terjadi reaktif, siap untuk dikarantina dan diproses sesuai protokol (karena sudah menandatangani surat pernyataan bersedia).

agendaIndonesia

*****

Wisata Religi Demak, Main Ke Kerajaan Islam 1 di Jawa

Wisata Religi Demak ke Masjid Agung . Foto :shutterstock

Wisata religi Demak bukanlah hal baru. Bagi banyak orang, terutama kaum muslim yang tinggal di pulau Jawa, salah satu hal yang sering diimpikan adalah sholat di masjid Agung Demak.

Wisata Religi Demak

Demak, sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah, dahulunya adalah Kerajaan Islam pertama dan terbesar di pulau Jawa. Kota ini sekitar 31 kilometer di timur Semarang. Dari catatan sejarah, Demak didirikan oleh semacam perserikatan pedagang Islam di utara Jawa yang dipimpin Raden Patah, salah seorang putra Raja Brawijaya V dari kerajaan Majapahit.

Berdirinya kerajaan Demak ini tidak lepas dari peran Wali Songo, sembilan wali yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di Jawa. Raden Patah sendiri sewaktu muda belajar ajaran Islam kepada Sunan Ampel, salah satu dari Wali Songo.

Sebelum berdiri sebagai kerajaan sendiri, wilayah Demak merupakan bagian dari Majapahit. Raden Patah, sebagai anak raja Majapahit, ditugaskan sebagai Adipati Bintoro, Demak, pada abad 15. Pengaruh Majapahit saat itu boleh dikatakan berada di ambang keruntuhan. Pada tahun 1500 dengan dukungan para wali, Bintoro menyerang Majapahit dan mengalahkannya.

Kadipaten Demak kemudian termasuk wilayah yang melepaskan diri dari Majapahir dan menjadi kerajaan yang mandiri. Dan Raden patah menjadi raja pertama Demak. Selama memerintah, Raden Patah banyak dibantu oleh Wali Sanga yang berperan sebagai penasihat. Awal pemerintahannya ditandai dengan pembangunan Masjid Agung Demak dan perluasan wilayah.

Raden Patah wafat pada tahun 1518 dan pemerintah dipimpin oleh Pati Unus, putranya. Pati Unus menginginkan Kerajaan Demak menjadi kerajaan dengan kekuatan maritim yang kuat. Hal ini ditandai dengan kuatnya armada laut Kerajaan Demak.

Portugis yang saat itu tengah berusaha menguasai perdagangan di Asia Tenggara, merasa terganggu dengan keberadaan Demak. Hingga beberapa kali Kerajaan Demak melakukan pertempuran dengan Portugis di Selat Malaka.

Serangan-serangan tersebut dipimpin Dipati Unus, yang tak lain merupakan putra Raden Patah. Meskipun pada akhirnya serangan tersebut gagal, tetapi ia mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor atau pangeran yang menyeberang ke utara sebagai penghargaan atas keberaniannya. Setelah kematian Pati Unus pada saat pertempuran melawan Portugis, Demak dipimpin Sultan Trenggono (1521-1546) yang membawa Demak ke masa keemasan.

Setelah masa pemerintahan Sultan Trenggono, Demak praktis mulai mengalami kemunduran. Mulai muncul kerajaan-kerajaan di Selatan Jawa. Mulai dari Kerajaan Pajang hingga lahirnya Kasultanan Yogya dan Kasunanan Solo.

Begitupun, Demak masih meninggalkan sejumlah jejak masa lalu yang memperlihatkan mereka sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam. Baik di Jawa, maupun di Indonesia. Karena itu, di masa kini, saat jalan-jalan ke Demak, para wisatawan bisa menikmati suasana religiusitas kota yang sering disebut sebagai Kota Santri ini.

Selain memiliki sejarah yang sangat kuat, Demak memiliki peninggalan tempat bersejarah yang menarik.

Jika punya agenda main ke Demak, tempat pertama yang wajib kunjung tentu saja adalah Masjid Agung Demak. Masjid ini terletak di Desa Kauman, Kecamatan Demak Kota. Jika wisatawan datang dari arah Semarang letak masjid ini persis di sisi timur laut Alun-alun kota Demak.

Masjid yang didirikan pada 1479, ini saat sudah berumur sekitar 6 abad masih berdiri kokoh, meskipun sudah direnovasi beberapa kali. Kala awal dibangun, masjid tersebut masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi yang diasuh Sunan Ampel.

Bagi banyak orang yang bepergian dari Jakarta, Cirebon, atau Semarang ke arah Surabaya, biasanya menyempatkan sholat di masjid ini. Kadang mereka rela menunggu beberapa waktu jika saat waktu sholat belum tiba dan cukup punya waktu. Jika tidak, mereka rela untuk sekadar menunaikan sholat sunah di salah satu masjid tertua di Indonesia ini.

Jika sudah sampai masjid Agung Demak, jangan lupa untuk mengunjungi

Museum Masjid Agung Demak yang lokasinya tak jauh dari masjid, tepatnya di sisi utara masjidnya. Mudahnya akses ke museum tersebut memungkinkan wisatawan Masjid Agung senantiasa menyempatkan diri singgah pula ke museumnya.

Museum memiliki sejumlah koleksi menarik terkait sejarah siar Islam di Jawa, seperti serat-serat dan kitab kuno yang ditulis para Wali Songo. Misalnya saja, terdapat kitab tulisan tangan tafsir juz 15-30 Alquran karya Sunan Bonang.

Selain kolekasi pustaka, ada pula di museum itu artefak terkait Masjid Agung Demak seperti beduk dan kentongan wali dari abad XV. Bahkan sakatatal atau saka guru Masjid Agung Demak yang konon dibikin oleh Sunan Kalijaga. Ada pula Pintu Bledeg yang konon dibuat oleh Ki Ageng Sela pada 1466. Ia adalah guru Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya yang mendirikan Kesultanan Pajang.

Masih di seputaran kompleks Masjid Agung Demak, wisatawan juga bisa berziarah ke makam raja-raja Demak. Makam raja-raja Demak, terletak di bagian utara Masjid Agung. Makam raja-raja Demak itu terawat dengan baik, di sana terdapat makam antara lain Raden Patah, Pangeran Trenggono, sampai Arya Penangsang, adipati Jipang yang meninggal dalam pertempuran dengan pasukan Pajang.

Jika punya cukup waktu, sempatkan pula berziarah ke makam Sunan Kalijaga, salah satu dari Walisongo. Sunan Kalijaga wafat pada 1520 lalu dimakamkan di Desa Kadilangu, sebelah timur-tenggara Demak. Makam Sunan Kalijaga sekarang menjadi situs yang sering didatangi peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah di tanah air. Sunan Kalijaga dianggap istimewa di antara ke sembilan wali karena kental memanfaatkan tradisi Jawa dalam penyiaran agama Islam di Indonesia.

agendaIndonesia

*****

Danau Toba, Keindahan Letusan 75 Ribu Tahun Silam

Danau Toba Saat Senja fadli azhari unsplash

Danau Toba, danau terluas di Asia Tenggara dengan air terhampar hingga tujuh kabupaten. Tak cuma keindahan alam, tapi juga tradisi budaya adi luhur.

Danau Toba

Mata rasanya masih ingin terpejam, tapi tak ada pilihan selain segera mandi, sarapan, dan duduk manis di mobil. Saatnya meluncur ke Prapat. Salah satu titik untuk menikmati Danau Toba, yang disebut sebagai sijujung baringin di Sumatera Utara alias obyek wisata paling utama di provinsi ini. Danau ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, dengan luas 1.072,16 kilometer persegi. Terbayang, airnya terhampar luas bak lautan hingga ke tujuh kabupaten. Kali ini kami ingin menatapnya dari berbagai titik. Pukul 07.00 perjalanan dimulai. Pagi yang lengang. Maklum, hari Minggu. Kendaraan kami pun melesat di jalan Kota Medan. Melayang di jalan tol, meninggalkan rumah-rumah beratap seng.

Tak lama, Deli Serdang pun terlewati. Selanjutnya Serdang Bedagai, dengan ciri khas deretan gerai dodol pulut, yang menjadi oleh-oleh khas kota ini. melaju di jalanan nan lurus, dalam sekejap kota dodol itu pun dilalui. Tak lama kami menggelinding di jalanan Kota Pematangsiantar. Jarak Medan-Pematangsiantar sekitar 128 km. Jam menunjukkan pukul 09.00, di kiri-kanan jalan gereja mulai dipenuhi jemaat. Kaum ibu dengan kebaya panjang dan songket serta ulos di pundaknya. Kaum remaja dengan busana rapi dan cantik.

Di kota ini, becak motor (bentor) yang menggunakan motor BSA berseliweran. Motor Inggris itu digunakan tentara negeri kerajaan tersebut di Indonesia manakala Perang Dunia II pada tahun 1940-an. Yang masih banyak digunakan adalah yang berkapasitas 350 cc dan 500 cc karena kota ini berbukit. Di kota ini, kami pun sempat menengok sentra ulos di daerah Parluasan.

Keluar dari Parluasan, jalanan mulai menanjak. Kiri-kanan pohon-pohon besar, tak lagi perkebunan seperti di sepanjang rute Serdang Bedagai ke Pematangsiantar. Saya langsung tak sabar untuk memandang Danau Toba. Ternyata harapan itu datang tak lama kemudian. Ketika jalan mulai menyempit dan semakin tinggi, saya pun dapat memandang danau yang terbentuk akibat letusan gunung berapi 75 ribu tahun silam itu dari kejauhan.

Danau Toba saat fajar

Kami pun menemukan titik pertama untuk menikmati Danau Toba setelah perjalanan selama empat jam dari Medan. Titik itu adalah Prapat, di sebuah warung, dengan pemandangan terdekat Batu Bergantung, yang legendanya melekat dengan masyarakat setempat. Langit biru dan udara masih segar. Saat itu pukul 11.00, sehingga terik mentari belum menyengat. Monyet-monyet kecil berekor panjang melompat di antara dahan di depan saya.

Minuman dan camilan sudah habis, kami pun sepakat untuk langsung menyeberang ke Samosir, sehingga Dermaga Ajibata-lah yang kami tuju. Inilah pelabuhan penyeberangan ke Samosir. Berputar-putar mengamati hotel dan penginapan, kami pun tiba di Ajibata. Butir-butir pasir di dermaga sudah memantulkan sinar nan menyilaukan. Terik menyengat kulit. Kami harus menunggu sekitar satu jam. Sudah ada tiga mobil yang menunggu keberangkatan. Ada tiga pengamen cilik pula yang bernyanyi bergantian. “Mereka nyanyi lagu Batak Toba,” ujar sang sopir. Bahasanya berbeda lagi dengan Batak yang lain. Saya pun hanya mengangguk-angguk sambil menyimak bocah berkulit gelap terbakar mentari itu berdendang. Kadang-kadang diselingi bahasa Indonesia.

Sekitar 30 menit menjelang keberangkatan, lahan parkir sudah penuh. Saya membeli tiket untuk kendaraan roda empat seharga Rp 95 ribu untuk sekali penyeberangan. Akhirnya kami masuk ke perut kapal, dan pukul 13.30 kami meninggalkan dermaga. Langit terang dan sinar mentari yang menyengat menjadi teman selama perjalanan.

Sekitar satu jam menatap air dan pegunungan di sekelilingnya, akhirnya kami pun menginjak Tomok, pelabuhan feri di Samosir. Bila menggunakan perahu penumpang, penyeberangan hanya perlu waktu sekitar 30 menit. Deretan toko suvenir menyambut. Di dekat pelabuhan sudah ada satu obyek wisata bersejarah, pemakaman Raja Sidabutar dan keturunannya, yang berumur ratusan tahun. Terbuat dari batu alam tanpa sambungan. Di situ juga pertunjukan boneka Si Gale-gale digelar, dalam bentuk sederhana, hanya ada boneka dan iringan musik dari kaset. Tentu ada seorang pria menggerakkan boneka. Si Gale-gale dipercayai dulu digerakkan oleh kekuatan magis.

Mumpung belum sore, kami memilih jalan berkeliling, mengarah ke Ambarita dan Simanindo. Menikmati jalan cukup mulus yang tidak terlalu lebar. Suasana sepi, tak banyak kendaraan lewat. Sesekali ada turis dengan sepeda. Tanda lalu lintas yang ada bergambar kerbau, karena jenis hewan ini sering tampak berduyun-duyun. Bisa jadi mereka menyeberang jalan tiba-tiba. Merasa seperti menyusuri jalan tak berujung, kami pun berbalik arah dan menuju Tuk-tuk. Gerbangnya di jalanan menanjak seperti menjulang ke langit. Di sini, keramaian baru terasa. Penginapan dan hotel tampak berderet di pinggir Danau Toba, hingga akhirnya kami memilih salah satunya. Hotel dengan beberapa kamar bercirikan rumah adat.

Ada banyak pilihan obyek wisata di pulau seluas 630 kilometer persegi ini. Dan kami akan mendatanginya esok hari. Setelah puas di pagi hari menikmati danau dengan latar belakang deretan hotel-hotel di Prapat serta bukit-bukit di sisi kiri dan kanannya. Hari ini saatnya belajar adat dan budaya Batak Toba lewat ulos dan rumah adat. Pertama kali, sejarah itu kami gali di obyek wisata Batu Parsidangan Siallagan di Desa Siallagan. Kompleks rumah adat Raja Siallagan, yang terkenal dengan hukuman mati di masa lampau. Dari rumah adat, banyak tradisinya bisa dikorek habis dari pemandu wisata, belum cerita batu persidangan, yang merupakan tempat berkumpul raja, dukun, serta hakim saat membahas satu kasus, dan tentunya menjatuhkan hukuman.

Belajar adat, budaya, dan sejarah Batak Toba memang Samosir tempatnya. Kabupaten ini masih memiliki rumah-rumah adat dalam kondisi terawat. Sepanjang jalan dari Tomok menuju Pangururan–ibu kota kabupaten–rumah adat berdiri tegak di antara rumah-rumah modern. Para perajin ulos tersebar di beberapa desa. Di depan rumah adat sesekali masih ditemukan ibu atau remaja asyik menjalin benang menjadi ulos. Yang paling banyak dikenal tentunya di Desa Lumban Suhi-suhi karena mereka menenun secara berkelompok.

Meski berupa danau, ada pula daerah yang disebut pantai di Samosir. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah pantai pasir putih di Desa Parbaba. Karena bukan hari libur, tempat ini cenderung sepi. Ada juga gerombolan anak sekolah yang baru pulang dan mampir duduk-duduk di bawah pohon dekat pantai. Di sisi kanan, masih ada ibu yang mencuci perlengkapan dapur di bibir danau. Ada trotoar untuk pengunjung jika ingin jalan-jalan.

Esok pagi, baru kami menyaksikan tarian Si Gale-gale di Museum Huta Bolon Simanindo. Rumah adat yang dijadikan museum ini merupakan peninggalan Raja Sidauruk. Pertunjukan berlangsung setiap hari pukul 11.00. Ada beberapa jenis tarian, seperti yang menjadi ciri khas Tor tor, selain Si Gale-gale. Di akhir acara, pengunjung pun menari. Selepas makan siang di Pangururan, kami meninggalkan Samosir melalui jalan darat. Tidak perlu lagi ke Tomok.

Kami seperti menyusuri bibir Danau Toba. Melingkarinya, naik-turun. Mencermati desa di ujung danau dengan lahan sawahnya. Ada pula sebuah masjid–Al Huda, yang berdiri sejak 1940-an. Itu pemandangan di sisi kiri. Di sisi kanan ada perkampungan lain. Ketika rumah tak tampak lagi, jalanan pun semakin sempit, bahkan kemudian berbatuan. Namun tak lama kami disambut dengan jalanan tanah lebar dengan debu berhamburan, hingga akhirnya tiba di jalan penuh kelokan dengan tebing batu di sisi kiri dengan bebatuan yang sepertinya siap-siap berguling, sementara di sisi kanan jurang yang supercuram. Pecahan batu tercecer di jalanan.

Rasa cemas langsung menyergap, teringat akan kecelakaan yang beberapa kali terjadi di jalur ini. Maka sepanjang jalan hanya doa yang bisa saya panjatkan. Terutama ketika merasa terjepit di antara tebing batu dan jurang curam. Dengan jalan yang meliuk-liuk, di setiap belokan, jantung terasa berdetak lebih cepat. Perjalanan terasa panjang.

Namun di sinilah kami menemukan titik-titik terindah memandang Danau Toba. Ke mana mata memandang, yang tampak hanya hamparan air danau, yang kini tengah didengungkan soal ancaman kerusakannya. Bukit di sekelilingnya yang gundul dan airnya yang tercemar karena pengambilan ikan dengan bahan-bahan kimia. Beruntung, masih ada beberapa titik yang menampakkan kehijauan.

Setelah meliuk-liuk hampir dua jam, akhirnya kami tiba di Menara Pandang Tele. Sebuah menara yang terdiri atas empat lantai, yang membuat orang bisa memandang Danau Toba dengan Pulau Samosir yang utuh. Rasa lega pun memuncak di sini, tak hanya karena pemandangan yang terindah danau ini, tapi juga karena saya sudah melewati kelokan-kelokan berbahaya. Perasaan ringan pun bergelayut. Kendaraan melaju ke arah tujuan akhir hari itu: Brastagi.

Belum lama menikmati jalan mulus, kami harus menemui jalan berlubang, yang membuat kendaraan melaju lambat. Kemudian, sebelum mencapai Taman Simalem Resort, ada pula perbaikan jalan akibat longsornya dinding tebing. Hingga akhirnya tiba di resor ketika langit mulai gelap. Beruntung, kami masih bisa memandang lagi keindahan Danau Toba dengan pegunungan di sekelilingnya. Meski harus terusik lagi karena ada bukit yang penampilannya seperti kepala orang tua: botak sebagian besar.

Beranjak dari Bukit Merek, setelah mengelilingi kompleks wisata itu, kami masih menemui jalan berlubang sebesar ban di Simpang Merek. Padahal jalan tersebut merupakan jalur lintas Kota Kabanjahe-Merek-Sidikalang. Akhirnya kami tiba di Kabanjahe sekitar pukul 20.00 dengan perasaan dan badan lelah. Tujuh jam perjalanan dari Pangururan. Kami pun beristirahat di Brastagi, dan tentu tak mungkin lagi mencari titik untuk memandang Danau Toba di sini. l

Tiga Hal tentang Samosir

Penyeberangan. Ada dua pelabuhan yang memiliki rute ke Samosir dari Prapat. Paling tinggi frekuensinya dari Ajibata. Pilihannya, bila membawa kendaraan, harus dengan feri yang melaju lima kali sehari. Bila hanya penumpang, cukup dengan kapal wisata dengan jadwal setiap jam. Bisa juga Anda menyewa kapal. Dari Pasar Tiga Raja, ada juga perahu langsung ke Tuk Tuk sehingga turis bisa langsung mencapai hotel di pinggir danau. Jadwalnya delapan kali sehari.

Hotel. Hotel paling banyak ditemukan di Desa Tuk Tuk dan, untuk kenyamanan, sebaiknya memilih hotel di wilayah ini. Fasilitas untuk turis paling memadai, ada sewa sepeda, dan toko suvenir. Wartel dan warnet pun mudah ditemukan.

Obyek Wisata. Selain menikmati Danau Toba dan adat-istiadat Batak Toba, Kabupaten Samosir memiliki obyek yang berlimpah, terutama yang berunsur air. Di antaranya pemandian air panas di Pangururan, Gunung Pusuk Buhit dengan beberapa mata airnya, Danau Sidihoni–danau di dalam danau–dan mata air Datuk Parngongo. Setiap kecamatan rata-rata memiliki obyek berupa mata air, air terjun, pantai, dan jenis wisata serupa lainnya.

Rita N./Toni H./Dok. TL

Flobamora, 1 Rangkaian Keindahan di NTT

Flobamora, sebuah rangkaian keindahan di Nusa Tenggara Timur

Flobamora, ini mungkin istilah yang belum terlalu dikenal oleh orang awam. Meskipun sesungguhnya ia sudah mondar-mandir liburan ke kawasan ini.

Flobamora

Perhatikanlah peta Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di gugusan pulau itu, setiap pulau besar di daerah ini dipastikan memiliki jagoan tempat wisata. Keindahannya tak hanya dihormati di dalam negeri, masyarakat dunia pun mengakui keunikan dan keanehan. Komodo, contohnya. Masih banyak tempat lain yang memiliki pesona. Sebagian mungkin masih tersembunyi.

Komodo, kadal raksasa dari masa dinosaurus itu, memang sudah sangat melegenda, namun di luar itu ada banyak spot yang unik. Itu sebabnya, NTT dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 lalu merajai perolehan penghargaan.

Untuk NTT, masyarakat mengenal istilah Flobamora. Ini terkait dengan tempat-tempat wisata yang berkilau di empat pulau besar di provinsi ini, yatu Flores, Sumbawa, Timor, dan Alor. Mulai dari peristiwa budaya, keindahan bawah laut, wisata gunung, sampai dengan peristiwa sejarah Indonesia.

Dari yang paling terkenal dulu, yaitu di menyaksikan hewan purba yang masih hidup sampai kini, yaitu Komodo di ujung kiri Pulau Flores. Setelah itu, bergesar ke Timur untuk menikmati Danau Kelimutu. Salah satu yang membuat danau ini terkenal adalah terjadinya perubahan warna di air yang ada di kawahnya. Ada tiga buah kawah yang masing-masing airnya berbeda satu sama lain warnanya.

Flobamora merupakan rangkaian keindahan yang dimiliki pulau-pulau besar di NTT. Salah satunya Danau Kelimutu.
Danau Kelimutu mempunyai tiga warna di Gunung Kelimutu, Flores, Nusa Tenggara Timur. Foto: Dok. TL

Bila bergeser ke arah timur, silakan menikmati suguhan pemandangan alam bawah laut. Begitu jauhnya jangkauan tangan-tangan jahil membuat tampilan kawasan laut sangat indah. Di Sikka salah satunya. Kalau beruntung Anda bisa menikmati mawar laut saat menyelam.

Lalu terus ke Timur ada Larantuka yang terkenal dengan prosesi keagamaan Perarakan Jumat Agung. Perarakan ini salah satu agenda budaya yang ditunggu oleh para wisatawan karena unik dan penuh kekhusyukan.

Silakan bergerak lagi ke timur ke Timur lagi. Ada pulau kecil bernama Lembata. Sekalipun kecil, salah satu atraksi besar terjadi di tempat ini, yaitu perburuan ikan paus secara tradisional. Masyarakat di tempat ini, dikenal dunia karena kepiawaiannya menaklukan ikan paus. Nah, berikutnya kunjungilah Pulau Alor. Peristiwa budaya unik banyak digelar di sini salah satunya ada di Desa Takpala.

Kemudian, mulailah menjelajahke arah Selatan yaitu Pulau Timor.Di pulau ini peristiwa penting bagi Indonesia terjadi, salah satunya berpisahnya Timor Timur menjadi Negara Timor Leste. Bagi yang tertarik dengan sejarah tentu sangat berguna menyambangi tempat ini untuk melihat jejak-jejak yang tertinggal.

Flobamora perjalanannya bisa dimulai dari kota Kupang, ibukota NTT.
Salah sat sudut kota Kupang, ibukota NTT. Foto: Dok. unsplash

Pulau Timor juga penting karena pelabuhan udara terbesar El Tari ada di sini. Kota Kupang, ibukota Provinsi NTT, jadi wajah pertama yang dilihat oleh pengunjung sekalian. Kalau berada di Kupang dan tak sempat berkelana ke pulau lain, tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi yaitu Pantai Lasiana, Pantai Ketapang, Pantai Paradiso, Pantai Nunsui, Pantai Koepan, Museum Kupang, dan Gua Monyet.

Masih ada satu pulau lagi yang bisa ditengok yaitu Pulau Sumba. Tempat
ini banyak beragam keunikan budaya, baik itu patung-patung megalitikum. Rumah adat Praiyawang salah satu yang menyuguhkan susunan batu kokoh dan megah di sebuah kawasan desa. Di tempat ini ada sebuah rumah adat/Uma Dewa yang tidak boleh menyalakan lampu di dalamnya. Hanya boleh lilin, itupun saat ada peristiwa adat.

Untaian keindahan itu seperti kilauan yang berkilat saat melihatnya dari atas. Namun, masih ada tantangan besar untuk menikmati semuanya, yaitu minimnya infrastruktur. Untuk mengaksesnya dibutuhkan transportasi udara. Dan itu harus merogoh kocek yang dalam. Pemerintah Provinsi NTT memang terus membenahi pariwisata. Potensinya besar adan pantas dinikmati. Namun perlu banyak yang dibenahi, yaitu kesiapan masyarakat untuk menerima tamu, siap jadi tuan rumah dan memiliki ketrampilan yang mendukung.

Bila Anda cukup beruntung untuk menikmati keindahan yang ada di NTT, sudah pasti kenangan akan di bawa seumur hidup. Sulitnya mencapai daerah tersebut akan lunas terbayar ketika sampai di tempat yang dituju dan benar-benar mencicipi keindahan yang tersaji. Itulah NTT yang berkilau.

Sekalipun NTT tidak hanya Kupang, namun kota inilah yang paling terjangkau. Paling tidak perlu sebulan untuk bisa mengunjungi seluruh kawasan NTT ini. Selama di Kupang, ada beberapa tempat yang menarik dikunjungi. Salah satunya Lak Garam. Di sinilah Anda bisa melihat, pembuatan garam secara tradisional.

Keunikannya, garam dihasilkan tidak dengan menjemurnya di pinggir pantai, tetapi memasak airnya. Menarik bukan?

Selanjutnya air terjun Oenesu. Tempat ini memang belum begitu terkenal. Namun, letaknya yang tak begitu jauh dari Kota Kupang jadi salah satu alternatif menikmati suguhan alam yang unik. Lekukan bebatuan yang membentuk pola cantik jadi aroma terkuat tempat ini.

Setelah itu, kunjungilah monyet-monyet ekor panjang yang lucu. Gua Monyet Tenau ini jadi habitat asli 300-an monyet ekor panjang. “Salah satu keunikannya, selama 18 tahun dimenjaga tempat ini, belum pernah menemui monyet yang mati. Tak tahu- lah, mungkin mereka mengubur di tempat khusus dan tersembunyi. Bau pun tak ada,” kata Firman Kay, seorang penjaga gua monyet.

agendaIndonesia

*****

Gunung Toba Purba Dengan 1 Juta Misteri

Kampanye Sadar Wisata secara daring diluncurkan pemerintah untuk 6 destinasi wisata priorotas seperti Danau Toba, Wakatobo dan lainnya.

Gunung Toba Purba mungkin tak seterkenal danaunya. Padahal jauh di masa lampau, gunung ini pernah meletus dengan dahsyat depngan efek yang luar biasa.

Gunung Toba Purba

Awal Desember lalu, Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba tampak sedikit lebih dingin dari biasanya. Maklum, sejak tengah malam, hujan deras hampir merata melanda pulau itu dan sekitarnya.

Di tepian danau berair biru yang luas itu, sebuah perahu kecil mengapung dengan seorang nelayan di atasnya. Sesekali, ombak kecil menghantam perahu kecil itu dan membuat air danau masuk ke dalamnya. Meski dengan perlengkapan seadanya, nelayan itu terlihat terampil memanen aneka ikan air tawar yang memang melimpah ruah di Danau Toba. Ikan-ikan air tawar itu selanjutnya dijual ke rumah-rumah makan yang terdapat di sekitar Tuk Tuk, sebagian lagi dijual ke pembeli dari Silintong, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.

Ikan air tawar aneka jenis seperti ikan mujair dan nila merupakan kekayaan alam Danau Toba. Danau Toba merupakan danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Danau ini memiliki panorama yang indah, membuatnya menjadi salah satu tujuan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Di balik keindahan Danau Toba, tersembunyi jejak letusan maha dahsyat Gunung Toba purba yang terjadi sekitar 74 ribu tahun silam. Ketika itu, gunung raksasa ini meletus dengan dahsyatnya yang berimbas pada kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Berbagai penelitian yang dilakukan geolog dari berbagai negara menyimpulkan bahwa letusan Gunung Toba purba merupakan salah satu letusan super vulkano terbesar sepanjang sejarah.

Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina hingga Afrika Selatan. Letusan terjadi selama seminggu dan melontarkan debu vulkanik hingga ketinggian 10 kilometer di atas permukaan laut.

Menurut beberapa bukti Deoxyribonucleic Acid (DNA) yang ditemukan, letusan ini juga menyusutkan jumlah jumlah populasi manusia di dunia saat itu. Bahkan yang cukup mengejutkan, penyebaran debu vulkanik terekam hingga Kutub Utara. Hal ini menggambarkan betapa dahsyatnya letusan Gunung Toba purba.

Letusan itu menyebabkan terbentuknya kaldera raksasa yang kemudian dikenal sebagai Danau Toba. Akibat tekanan magma dari dalam perut bumi, lalu muncul sebuah pulau di tengah Danau Toba yang diberi nama Samosir. Di pulau inilah diyakini sebagai tempat asal usul leluhur suku Batak.

Para tetua adat di Samosir mengatakan Danau Toba merupakan sebuah fenomena yang tidak saja penting bagi bangsa Indonesia, tapi juga masyarakat dunia. Danau Toba masih menyimpan sejuta misteri yang patut untuk diungkap. Inilah yang menjadi daya tarik geolog lokal maupun mancanegara untuk melakukan penelitian mendalam tentang Danau Toba.

Kawasan Danau Toba yang tersebar di tujuh kabupaten memiliki potensi geologi purba terbaik di muka bumi ini. Atas dasar itulah Danau Toba dan kawasan sekitarnya diusulkan sebagai anggota Geopark UNESCO sejak 2012 silam. Sebagai geopark, Toba memiliki 42 geosite yang dibagi dalam empat geo area yakni Kaldera Haranggaol, Porsea, Sibandang dan Pulau Samosir.

Khusus untuk Samosir, kekayaan potensi geopark dan budaya suku Batak dapat menarik banyak wisatawan domestik maupun mancanegara di masa mendatang. Keragaman potensi wisata dan jejak letusan gunung purba inilah yang akan menjadi surga wisata geopark di Danau Toba.


Gabungan antara budaya masyarakat Batak dan wisata geopark merupakan modal besar untuk mengembangkan kawasan Danau Toba dan sekitarnya di masa mendatang. Geoparkpurba Toba diakui sebagai anggota Global Geopark Network UNESCO pada 2019 yang lalu. Sembilan tahun setelah diusulkan.

Danau Toba memang menarik sebagai destinasi wisata. Bukan hanya keindahan alam yang dapat dinikmati, tapi budaya suku Batak yang mengakar kuat menjadikan Danau Toba sebagai salah satu destinasi pilihan wisatawan lokal maupun internasional.

Berkaitan dengan sejarah suku Batak, di Pulau Samosir terdapat peninggalan-peninggalan sejarah masyarakat Batak di masa lampau. Di Tomok, misalnya, terdapat makam Raja Sidabutar, penguasa kawasan Tomok di masa lalu. Makam batu berusia ratusan tahun ini terbuat dari batu utuh tanpa persambungan dipahat untuk tempat peristirahatan Raja Sidabutar.

Gunung Toba Purba menyimpan sejuta misteri.
Pertunjukan boneka Sigale-gale di Tomok. Foto: Dok. TL/Tony H

Peninggalan sejarah masyarakat Batak dari batu juga terdapat di Desa Siallagan, Desa Ambarita. Obyek wisata ini adalah Batu Parsidangan, terbuat dari batu yang disusun sedemikian rupa pada masa pemerintahan Raja Siallagan sebagai tempat untuk men- gadili dan mengksekusi para kriminal. Di sekitar Batu Parsidangan terdapat pohon-pohon berukuran besar yang rindang. Masih di lokasi yang sama, terdapat Museum Huta Bolon, tempat penyimpanan benda-benda kuno masyarakat Batak. Di lokasi ini wisatawan juga dapat melihat pertunjukan Sigale-gale, sebuah boneka dari kayu yang dibalut busana adat Batak lengkap dengan kain Ulos. Boneka Sigale-gale dapat menari mengikuti irama musik tradisional gondang.

Di sebelah utara Pulau Samosir, terdapat obyek wisata alam berupa pemandian air panas. Letaknya hanya sekitar 3 kilometer dari Pangururan. Tak jauh dari pemandian air panas, tepatnya di Desa Lumban Suhi-suhi, Anda dapat menjumpai kelompok masyarakat yang masih mengerjakan tenun tradisional Ulos.

Bagaimana dengan wisatawan yang ingin menikmati suasana pantai? Jangan khawatir, Danau Toba memiliki pantai yang tak kalah indahnya dengan pantai di Bali. Namanya Pantai Sukken. Pantai ini memiliki pasir putih yang masih alami dan menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba.

Sedikit bergeser ke tengah pulau, terdapat sebuah danau kecil, Sidihoni. Danau ini menjadi keunikan tersendiri dengan sebutan ‘danau di atas danau’. Obyek wisata lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi adalah Aek sipitu dai (air tujuh rasa) di daerah Boho, Desa Limbong.

Aek sipitu dai adalah tujuh buah pancuran yang masing-masingnya memiliki rasa berbeda-beda. Air yang mengalir di pancuran ini berasal dari tujuh buah mata air yang bergabung di dalam satu tempat labuan (bak panjang) namun ketika dialirkan ke tujuh pancuran rasanya bisa kembali terpisah.

TL/agendaIndonesia

****

Singgah Semarang Dan Menikmati Kotanya Dalam 1 Hari

Kampung tematik Semarang menjadi andalan kota ini menarik wisatawan.

Singgah Semarang cuma satu hari, apa saja yang bisa dinikmati? Bagi yang sudah biasa main ke ibukota Jawa Tengah ini tentu saja tak cukup hanya mampir sehari di sini. Banyak hal yang kadung menjadi klangenan. Namun, untuk yang cuma waktu seharian saja?

Singgah Semarang

Semarang kini semakin mudah dijangkau dari banyak kota, termasuk dari Jakarta, sejak jalan tol yang menghubungkan hampir seluruh kota besar di pulau Jawa selesai dibangun dan dioperasikan. Dari Jakarta umumnya kota Semarang bisa dicapai dengan waktu rata-rata 4-5 jam. Dua orang teman bahkan pernah mencoba membandingkan lama tempuh perjalanan dari Jakarta ke Semarang dengan dua moda, pesawat terbang dan mobil pribadi. Hasilnya: mereka sampai di lobi sebuah hotel di kawasan Simpang Lima Semarang dalam waktu hampir bersamaan.

Tapi baiklah, kita tak membahas soal waktu perjalanan. Semarang, apa saja yang bisa dinikmati dalam satu hari dan kita bisa merasa sudah mendapatkan pengalaman kota di pesisir utara Jawa Tengah ini.

Hari itu, saya dan sejumlah teman SMA bikin janjian bikin reuni kecil di Semarang. Meeting point di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Ini karena 4 dari total 9 orang berangkat menggunakan pesawat dari Jakarta, sisanya dari Yogyakarta. Teman-teman dari Yogya mengunakan dua mobil MPV.

Semarang, yang sebelumnya kami persepsi amat biasa karena selama ini cuma kami nikmati sambil lalu, ternyata sungguh mengasyikkan karena didekati sebagai obyek wisata. Pada kunjungan ini kami menyaksikan persilangan tradisi peranakan Tionghoa, kolonial Belanda, dan Jawa. Dari warisan budaya hingga kulinernya.

Sejarah Semarang diawali pada abad 8 Masehi, sebagai kota pelabuhan ia merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Nama Semarang sendiri konon berasal dari pohon asam yang arang (bahasa Jawa: jarang, Asam Arang), sehingga akhirnya disebut Semarang.

Sesuai perkiraan, dua rombongan sampai di Ahmad Yani hampir bersamaan. Sekitar Jam 8 pagi. Tujuan pertama kami jelas, sarapan. Dan yang kami pilih adalah Soto Pak Man di jalan Pamularsih Raya nomor 32. Dua tahun terakhir tempat ini jadi viral. Pertama karena ia dipilih Presiden Joko Widodo untuk jajan. Kedua, pertengahan 2019 sempat disegel karena soal pajak. Tapi kini sudah beroperasi normal.

Tempatnya cukup nyaman. Sotonya seperti umumnya soto khas Semarang dengan kuah bening. Untuk sarapan rasanya pas, tidak terlalu berat. Cuma hati-hati, lauk-pauk yang tersedia di meja sangat berlimpah. Sate usus, sate kulit, sate kerang, perkedel, atau tempe goreng garing. Seorang teman menyebut, “Gara-gara soto semangkok, rusak diet sebulan..” Tapi tak apalah, kami sedang traveling bukan?

Dari sana kami jalan ke Kelenteng Sam Po Kong, di Gedung Batu. Lokasinya tak terlalu jauh dari Pak Man. Kami pilih ini supaya bisa menurunkan isi perut. Kelenteng ini merupakan persinggahan Laksamana Zheng He atau Cheng Ho atau Sam Po Tay Djien ke Jawa pada 1405. Di sini, selain menjadi tempat peribadahan, pengunjung dapat melihat keindahan kelenteng, megahnya patung Cheng Ho, juga bisa berfoto dengan menggunakan kostum ala bangsawan Tiongkok.

Dari sana, kami menuju Kelenteng Tay Kak Sie, di Gang Lombok, yang didirikan pada 1746. Selain kelenteng, di sini juga terdapat patung Cheng Ho dan replika kapalnya. Istimewanya, tepat di samping kelenteng terdapat warung Lumpia Gang Lombok. Nah, ketahuan kan niatnya? Konon ini warung lumpia tertua dan legendaris di Semarang milik keturunan keluarga Thoa Thay Yoe.

Singgah Semarang di antaranya ke pusat oleh oleh djoe

Loen pia atau Lumpia merupakan salah satu makanan khas Semarang, terdiri dari rebung, udang, telur, sayuran yang digulung dalam kulit tepung. Bisa disajikan dalam dua pilihan, goreng atau basah. Saking istimewanya, untuk  kenikmatan itu kami harus rela menunggu antrian selama 1,5 jam… haiya….

Perjalanan dilanjutkan menuju ikon Semarang lainnya yang tak kalah melegenda, Lawang Sewu. Semula bangunan yang didirikan Belanda pada 1904 ini digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api Belanda atau NIS (Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij). Mengingat gedung ini banyak memiliki pintu dan jendela besar, maka popular disebut Lawang Sewu (pintu seribu), meski kenyataannya jumlah pintunya tidak sampai seribu. Lawang  Sewu memiliki bentuk bangunan khas kolonial, megah, unik, sehingga menjadi salah satu tempat favorit untuk sesi foto, termasuk prewedding.

Jejak peninggalan kolonial lain adalah kota tua, dengan daya tarik utamanya Gereja Blenduk. Gereja ini dibangun pada 1753 dan merupakan gereja Kristen tertua di Jawa Tengah. Di kawasan ini ada spot baru yang berbau milenal: Museum 3D Trick Art. Yang senang memajang foto di instragram bisa mampir ke sini. Tepatnya di jalan Letjen Suprapto.

Menjelang sore, seraya terus ngobrol, perjalanan kami teruskan untuk menikmati kuliner warisan budaya kolonial yang masih tersisa di Semarang, yakni Toko Oen, resto yang berdiri sejak 1936. Toko ini serupa dengan Oen yang ada di Malang. Memasuki resto kita seolah masih berada di zaman Belanda. Suasana resto dipertahankan sesuai aslinya, termasuk kostum pegawai resto putih-putih dengan kopiah khas. Toko Oen menjual cookies, es krim, dan kudapan khas Belanda seperti kroket, poffertjes, atau oliebolen... hmm lekker..

Lepas magrib, kami bergeser tempat untuk menikmati makan malam. Kali ini kami memilih nasi goreng babat. Yang paling terkenal tentu saja Nasi Goreng babat Pak Karmin. Ada dua outlet warung ini. Pertama di Mberok, ini posisinya antara kota tua dan toko Oen. Cabangnya ada juga di Jalan M.H. Thamrin. Kami pilih yang ke dua ini, karena lebih searah dengan tujuan selanjutnya.

Babat adalah jerohan sapi, jika tidak menyukainya, bisa memilih yang daging saja. Selain Pak Karmin, ada beberapa warung nasi goreng Babat yang terkenal di Semarang. Salah satunya Nasi Goreng babat Sumarsono dan Nasi Goreng Babat Hengky. Ke duanya ada di kawasan perumahan Anjasmoro.

Selesai makan malam, perjalanan reuni seharian kami di Semarang hampir berakhir. Jam 7 malam kami menuju Jalan Pandanaran. Apalagi, ini salah satu pusat oleh-oleh di Semarang, seperti bandeng presto, wingko babat, moci, juga lunpia. Dengan oleh-oleh dijinjing, maka berakhirlah reuni seharian kami hari itu. Empat orang dari kami diantar ke bandara Ahmad Yani, sementara lima lainnya langsung kembali ke Yogya.

Ketika pesawat kami mendarat di Jakarta, lima teman kami memasuki kota Yogya.

AgendaIndonesia

*****

Karimun Jawa, 3 Jam Di utara Jepara

Karimun Jawa, keindahan di utara pulau Jawa.

Karimun Jawa adalah surga pecinta pantai pasir putih yang tak jauh dari Jawa. Ia seperti kalah pamor dari pantai-pantai di Bali atau Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Mungkin juga karena lokasinya yang harus menempuh perjalanan laut 2-3 jam dari kota Jepara.

Karimun Jawa

Untuk menuju ke Karimun Jawa, terutama dari Jakarta, biasanya orang menuju ke Semarang terlebih dahulu. Tentu dengan menggunakan penerbangan. Rute Jakarta-Semarang dilayani sejumlah maskapai penerbangan, seperti Garuda Indonesia, Lion Air, atau Air Asia.

Dari Bandara Ahmad Yani, Semarang, kita menuju ke Dermaga Samudra Tanjung Emas, melanjutkan perjalanan dengan pelayaran 3,5-4 jam menuju Karimun Jawa.

Bila cukup punya waktu dan ingin menikmati wisata di utara Jawa, semisal Demak dan Kudus, pengunjung bisa mencapai Karimun jawa melalui Jepara. Via perjalanan darat, Semarang-Jepara bisa dicapai sekitar 1,5 jam. Dari sini, pengunjung tinggal menyeberang dari Dermaga Kartini di Jepara ke Pelabuhan Penyeberangan Karimun Jawa dengan waktu tempuh 2,5-3 jam.

Bagi yang suka mabuk laut, di masa sebelum pandemi, ada pilihan terbang dari Bandara Ahmad Yani, Semarang, dengan pesawat Cassa 212 milik Deraya Air ke Bandara Dewandaru, Karimun Jawa. Jika ingin menggunakan cara ini, periksa dulu ketersediaan penerbangannya.

karimun Jawa mempunyai banyak pantai dengan pasir putih.
Pantai di Karimun Jawa dengan pasir putihnya yang eksotis. Foto: Dok. shutterstock

Tiba di Karimun Jawa, pengunjung dapat menyewa kendaraan roda dua atau empat untuk mengelilngi pulau itu. Untuk sepeda motor, tarifnya Rp 75-100 ribu per hari. Sedangkan tarif mobil sekitar Rp 500-650 ribu, tergantung jarak. Misalnya, jika ingin mencapai pantai Tanjung Pengantin, perlu waktu 2-3 jam jika menggunakan mobil. Sedangkan bila naik sepeda motor cukup satu jam. Akses jalan menuju Tanjung Pengantin tidak terlalu bagus, kecil, dan berbukit.

Tanjung Pengantin adalah salah satu spot wisata yang diminati banyak pengunjung. Ceritanya, ada dua bukit batu setinggi tujuh meter menghadap ke barat di tengah Pantai Tanjung Pengantin, Desa Batulawang, Kecamatan Kemojan, Karimun Jawa. Di depannya, ada batu yang lebih kecil berbentuk seperti meja. Pengantin terkutuk, demikian nama kedua batu karang yang berdiri gagah itu.

Penduduk setempat percaya dua batu besar ini adalah jelmaan Ahmad dan Fatimah, sepasang muda-mudi yang dikutuk karena kawin lari. Disebut “batu pengantin” karena posisinya yang seperti pengantin sedang mengucapkan ijab kabul.

Terlepas dari legenda yang yang ada, Tanjung Pengantin memiliki panorama alam yang sangat indah. Terletak di perbatasan dua pantai dangkal dan dalam, pantai ini menghadirkan warna kontras yang memukau. Biru untuk laut dalam dan hijau muda pada laut dangkal.

Karimun Jawa memiliki sejumlah pulau, di antaranya adalah pulau Menjangan besar.
Menikmati pantai di pulau Menjangan Besar, Karimun Jawa, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Di laut dangkal, pengunjung dapat berjalan kaki hingga 50 meter ke tengah untuk mendekati batu pengantin. Air laut yang dilewati paling tinggi hanya sebatas dada. Sepanjang 50 meter itu, jalur laut yang dilewati berupa karang yang ditumbuhi rumput laut. Tepat di bawah batu pengantin terdapat gua bawah laut berdiameter tujuh meter. Bila beruntung, penyelam yang menjelajahi gua bawah laut dapat menemukan sarang ikan kerapu macan atau Epinepehelus fuscoguttatus.

Kerapu macan berukuran besar dengan panjang mencapai 120 sentimeter. Ikan ini tersebar luas di wilayah Indo Pasifik. Sepuluh tahun terakhir, kerapu menjadi ikan favorit untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat, daya tahan terhadap perubahan lingkungan relatif kuat, juga harga jualnya yang lumayan bagus.

Tanjung Pengantin berada di Kecamatan Kemojan menjadi tempat berdiam suku Bugis yang menyeberang dari Makassar ke Karimun Jawa. Meskipun akulturasi sudah terjadi di Karimun Jawa, orang-orang Bugis ini tetap mempertahankan budaya mereka. Salah satunya dengan membentuk Kampung Bugis, yang bercirikan rumah-rumah panggung khas Bugis.

Rumah Bugis ini menjadi salah satu atraksi yang cukup memikat bila p engunjung ingin mengeksplorasi Pulau Karimun Jawa bagian utara. Sebab, selama ini yang terkenal dari Karimun Jawa adalah pantainya. Padahal, tinggal di Kampung Bugis dapat menjadi alternatif wisata yang menarik.

Pengunjung bahkan bisa meminta sajian khas Bugis, seperti barongko atau pisang kukus, lapek Bugis, dan coto. Warga Bugis di Karimun Jawa butuh waktu lebih lama untuk mencari bahan makanan. Mereka harus menyeberangi laut ke Jepara untuk mendapat bahan-bahannya.

Selain Tanjung Pengantin, wisatawan bisa belajar melaut ala nelayan Bugis sekaligus mencari ikan di Pantai Batulawang. Atau, ada empat pulau yang bisa dikunjungi.

Karimun Jawa  memiliki sejumlah atraksi, selain pantai juga ada yang menantang, berenang bersama hiu.
Salah satu atraksi yang menantang di pulau Menjangan Besar, Karimun Jawa, adalah berenang bersama ikan hiu. Foto: doc. shutterstock

Pulau Menjangan Besar. Bila masih belum puas dengan satu lokasi wisata, berlayarlah menggunakan perahu nelayan menuju Pulau Menjangan Besar. Ini merupakan pulau terdekat yang menawarkan atraksi unik, yakni berenang bersama hiu. Di pulau ini memang ada penangkaran hiu, selain pengembangbiakan penyu.

Pulau Menjangan Kecil. Menyuguhkan air kehijauan dengan terumbu karang dan ikan-ikan yang menggoda, Pulau Menjangan Kecil bisa dicapai hanya 15 menit dari Menjangan Besar. Airnya berwarna hijau transparan, menyajikan pemandangan gugusan terumbu karang nan menawan. Wisatawan pun seolah terbang di atas air sambil dikelilingi ikan zebra ekor putih (Dascyllus aruanus).

Pulau Tanjung Gelam. Pulau ini bisa menjadi tujuan berikutnya setelah Pulau Menjangan Kecil. Dapat dicapai lewat darat maupun laut, Tanjung Gelam memiliki pantai berpasir putih dihiasi pohon-pohon kelapa dengan posisi miring. Cocok untuk rileks sembari menikmati keindahan mentari tenggelam.

Pulau Cemara Besar. Perlu waktu satu jam dari Pulau Karimun Jawa untuk mencapai pulau yang berada di Taman Nasional Karimun Jawa ini. Anda harus berhati-hati saat berada di perairan pulau berpasir putih dan tenang ini. Sebab, terdapat sejumlah ikan beracun.

Cheta N./TL/agendaIndonesia

*****

Seven Wonders of Bali, 7 Wisata Wajib Lama (Bagian 2)

Seven wonders of Bali di antaranya Gunung Batur

Seven Wonders of Bali atau tujuh keindahan Bali adalah tempat-tempat yang menjadi tujuan wisata utama Bali ketika pulau ini belum semeriah saat ini. Pulau Bali memiliki banyak objek wisata menarik untuk dikunjungi, namun sejak dahulu ada tujuh tempat wisata yang selalu menjadi barometer pariwisata pulau Dewata ini. Ada lokasi atau atraksi yang senantiasa menjadi wajib kunjung.

Tulisan ke dua.

Seven Wonders of Bali

SANGEH ATAU MONKEY FOREST

Belum lengkap rasanya mengunjungi Bali tanpa mampir bertemu ratusan monyet ekor panjang di Sangeh. Berada di pinggir jalan dari arah Abiansemal ke arah Petang, di kabupaten Badung, sekitar 25 km sebelah utara Denpasar, Hutan Bukit Sari Sangeh merupakan hutan pala berumur ratusan tahun. Sangeh sendiri berasal dari kata “sang” (manusia) dan “ngeh” (melihat) karena konon menurut hikayatnya, pepohonan pala tersebut sedang dalam perjalanan suci dari Gunung Agung ke arah barat namun karena dipergoki mata manusia maka perjalanan  tersebut terhenti di Sangeh. Kini pepohonan pala tersebut menyebar sekitar 10 hektare luasnya dan menjadi rumah bagi sekitar 500 kera macaca fuscicularis.

Di tengah hutan terdapat beberapa pura yang dibangun oleh keraton Mengwi pada abad ke-17 dengan Pura Bukit Sari sebagai pusatnya.  Para kera ini dipercaya sebagai para prajurit Hanuman yang menjaga Pura Bukit Sari, dan oleh karenanya penduduk setempat tak ada yang mengganggu gugat kehidupan mereka. Jika dulu monyet Sangeh dikenal galak, kini justru sebaliknya, monyet di Sangeh  telah jauh lebih jinak. Monyet berbulu kelabu tersebut tidak takut pada manusia, bahkan gemar mendekat untuk berfoto bersama dan menjadi atraksi bagi para pelancong. Monyet di Sangeh kini terhitung paling jinak dibandingkan yang berada di Uluwatu atau Monkey Forest, Ubud. Pengunjung hanya perlu menundukkan badan dan monyet-monyet itu dengan lincah akan melompat ke atas bahu, meminta gendong. Jika ingin melepaskan gendongan, pengunjung cukup mencondongkan tubuh ke bawah maka mereka akan melompat turun.

Obyek Wisata Bukit Sari Sangeh buka setiap hari pada pukul 07.30-17.00 WITa dan dapat dicapai sekitar 30 menit hingga satu jam perjalanan mobil dari Denpasar.

Sangeh adalah hutan, dan sejinak apa pun monyet disana adalah binatang liar sehingga pengunjung diharap untuk mempersiapkan diri pada segala kemungkinan.

Pengunjung disarankan masuk bersama petugas dan membeli kacang di pintu gerbang. Petugas akan memberi mereka makan sehingga bisa diajak berfoto bersama.

Barang yang berkilau seperti kacamata hitam dan telepon genggam dapat memprovokasi monyet untuk berusaha mengambilnya secara paksa dari pengunjung.

Meski pun jinak, terdapat pula monyet yang nakal, memeriksa bekal para pengunjung dengan cara menarik baju hingga menyibak rok yang dikenakan para turis sehingga lebih disarankan untuk memakai celana panjang bagi pengunjung perempuan.

Siapa pun bisa berkunjung ke Hutan Bukit Sari, Sangeh kecuali perempuan yang sedang haid dan mereka yang sedang berkabung .

seven wonders of Bali di antaranya Sangeh atau monkey forest

BATUR

Belum lama ini Gunung Batur telah dikukuhkan menjadi Taman Bumi (geopark) oleh Unesco lantaran warisan geologis yang dimiliki kawasan  wisata di Kintamani, Kabupaten Bangli ini yang sangat kaya. Dapat dicapai sekitar dua jam bermobil dari Denpasar, atau sekitar satu jam dari Besakih, suguhan utama kawasan wisata ini terdiri dari dua sejoli danau dan gunung Batur. Menikmati  pagi dari dusun Penelokan, berarti tempat untuk melihat-lihat, wisawatan mendapatkan paduan pemandangan spektakuler Gunung Batur dengan kawah, kaldera dan danau Batur yang mirip bulan sabit biru di depan mata. Layaknya kawasan pegunungan, pagi adalah saat terbaik untuk menikmati keindahan pemandangan lantaran kabut akan segera muncul setelahnya. Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali dan menjadi sumber irigasi persawahan yang menghijau di Bangli.

Tak jauh dari bibir kaldera pengunjung bisa mengunjungi Pura Ulun Danau Batur yang berada di lembah Gunung Batur. Pura yang direnovasi pada tahun 1926 setelah terjadi letusan yang cukup besar dan meluluh lantakkan sebagian caldera di sana. Keganasan gunung berapi aktif yang telah meletus 24 kali tersebut  bisa dilihat pada Museum Gunungapi Batur (Batur Museum) di Penelokan yang buka setiap hari Senin hingga Jumat mulai pukul 10 pagi.

Gunung Batur juga salah satu tujuan favorit wisatawan yang gemar mendaki gunung. Dengan ketinggian sekitar 1,7 km, puncak Gunung Batur dapat dicapai rata-rata dalam dua jam pendakian. Pendaki biasanya mengincar sunset di puncak gunung, namun banyak juga yang berangkat pada pagi hari. Jika waktu kunjung hanya sebentar dan enggan berlama-lama di tepi danau yang penuh oleh para pedagang suvenir, wisatawan dapat bersantai pada sejumlah restoran di sekitar Panelokan, misalnya di Puri Sanjaya dan restoran Apung Kedisan yang mengapung di atas danau Batur.

Kawasan Gunung Batur, dan Kintamani pada umumnya, adalah daerah pegunungan yang sangat sejuk, sangat disarankan membawa baju hangat terutama pada malam hari.

Kawasan ramai di Penelokan menjadi pusat para pedagang suvenir, beberapa diantaranya anak usia sekolah dan ibu-ibu yang cukup telaten dalam merayu calon pembeli sehingga malah membuat kenyamanan pengunjung terganggu.

Jika hendak mendaki Gunung Batur, disarankan untuk memakai baju hangat karena hembusan angin yang kuat, dan sepatu olahraga dengan sol yang cukup tebal karena jalur pendakian cukup terjal dengan banyaknya batu gunung yang tajam  dan bisa merobek sol sepatu.

Untuk mendaki Gunung Batur sangat disarankan dengan menggunakan jasa pemandu demi alasan keamanan. Seluruh pemandu terdaftar pada Association of Mount Batur Trekking Guides yang membuka perwakilan di desa Toyo Bungkah Telp. 0366 52362.  Seorang pemandu mengawal  paling banyak empat orang pendaki dalam satu kali perjalanan. Selain biaya resmi yang ditetapkan, pendaki diharap memberikan tip bagi pemandu.

TRUNYAN

Danau Batur di kabupaten Bangli menjadi gerbang untuk memasuki kawasan yang sangat unik, Desa Bali Aga di Trunyan. Penduduk Desa Bali Aga adalah suku bangsa Bali pegunungan dan kerap disebut sebagai penduduk Bali asli dan memiliki kelaziman yang berbeda dengan penduduk Bali pada umumnya. Di desa ini ada tradisi untuk tidak memakamkan orang yang telah meninggal melainkan cukup menyemanyamkan jenazahnya di bawah pohon di udara terbuka, tanpa meninggalkan bau. Di desa yang mendapatkan namanya dari kata Taru (kayu) dan Menyan (wangi) ini memang terdapat pepohonan taru menyan yang memiliki aroma wangi semerbak. Pohon ini dianggap bisa menetralisir timbulnya bau dari jenazah yang diletakkan di bawah kerindangannya. Tradisi menyemayamkan jenazah di bawah pohon tersebut dilakukan secara turun temurun hingga kini.

Satu-satunya jalan untuk mencapai desa Trunyan adalah melalui Danau Batur, tepatnya di desa Kedisan di mana terdapat perahu yang bisa membawa pengunjung untuk menyeberang.  Waktu untuk  menyeberangi Danau Batur ke desa Trunyan sekitar 20 menit.Jalan lain menuju Trunyan nyaris tidak ada karena desa ini berada di pinggir danau Batur dan dikelilingi perbukitan yang curam. Selain melihat tata cara pemakaman yang unik, Trunyan juga menarik untuk menikmati Gunung Batur dari sisi timur danau Batur karena sangat berbeda dengan pemandangan dari arah sebaliknya.

*****

Seven Wonders of Bali, 7 Keajaiban Bali Lama (Bagian 1)

Seven Wonders of Bali

Seven Wonders of Bali atau tujuh keindahan Bali adalah tempat-tempat yang menjadi tujuan wisata utama Bali ketika pulau ini belum semeriah saat ini. Pulau Bali memiliki banyak objek wisata menarik untuk dikunjungi, namun sejak dahulu ada tujuh tempat wisata yang selalu menjadi barometer pariwisata pulau Dewata ini. Ada lokasi atau atraksi yang senantiasa menjadi wajib kunjung.

Agar tak lupa dengan tujuh pesona tujuan wisata tradisional Bali ini, AgendaIndonesia menurunkan kisahnya dalam 2 artikel. Berikut Tulisan pertama.

Seven Wonders of Bali

Seven Wonders of Bali, salah satunya adalah Tanah Lot

TANAH LOT

Pulau Bali telah lama menjadi salah satu destinasi wisata populer di dunia. Destinasi wisata ini pulau ini tidak hanya terletak pada keindahaan alamnya, tetapi juga banyak keindahaan arsitektur serta keunikan budaya. Salah satu keindahaan arsitektur yang dapat anda temukan di pulau Bali adalah pura Tanah Lot di desa Braban, Kabupaten Tabanan.

Keindahan tempat wisata pura Tanah Lot terdapat pada perpaduan keindahan alam yang berpadu dengan keindahan budaya. Di saat liburan ke Tanah Lot, wisatawan akan melihat deruan ombak menerjang tebing batu karang. Menjelang matahari terbenam, sedikit demi sedikit warna langit berubah dramatis dan langit dipenuhi beraneka ragam warna. Keindahan Tanah Lot saat matahari terbenam menjadi daya tarik utama wisatawan berlibur ke sini.

Sejarah Tanah Lot Bali Indonesia berdasarkan legenda. Salah satu legenda mengisahkan pada abad ke -15, Bhagawan Dang Hyang Nirartha atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari pulau Jawa ke pulau Bali. Menurut kisahnya Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batu karang yang berada di tengah lautan.

Tanah di artikan dataran/tanah, Lot artinya laut, jadi Tanah Lot berarti dataran yang berada di tengah laut. Sebuah bangunan pura Hindu berdiri di atas batu karang besar pada bibir pantai. Sesuai dengan nama tempatnya, pura tersebut diberi nama pura Tanah Lot.

Pura Tanah Lot terletak di atas batu karang, berjarak sekitar 300 meter dari garis pantai. Lokasinya berada di lepas pantai, karenanya untuk dapat mengakses pura pengunjung harus melewati jalan batu pada saat air laut surut. Dari lokasi batu karang, untuk mencapai pura, pengunjung harus menaiki anak tangga dari batu.

Di dalam area batu karang terdapat beberapa goa kecil yang di dalamnya dihuni beberapa ular berwarna belang putih hitam. Ular belang putih hitam ini bagi masyarakat lokal disebut sebagai ular suci Tanah Lot Bali.

Satu pura dibangun diatas batu karang hitam dengan ukuran sangat besar dan berada ditepi pantai sebelah kiri. Pura ini lebih dikenal dengan nama pura Tanah Lot. Pada saat pasang, air laut akan menutup area pantai dan membuat lokasi pura Tanah Lot terlihat seperti berada di tengah lautan. Momen air laut pasang ini juga terlihat seperti sebuah kapal yang terbuat dari batu besar berwarna hitam terapung dipermukaan air laut.

Pura ke dua berada dipinggir tebing karang, yang juga berada di tengah laut di sisi kanan kawasan pantai Tanah Lot. Di bawah tebing karang pada lokasi pura kedua terdapat lubang besar, yang selalu dilewati oleh gelombang ombak besar

Untuk menuju Tanah Lot, jika pengunjung berangkat dari kawasan Kuta, akan memerlukan waktu 1 jam 10 menit untuk mencapai lokasi Tanah Lot. Perkiraan jarak tempuh dari area pantai Kuta ke Tanah Lot sekitar 23 kilometer.

Objek wisata Tanah Lot Bali buka setiap hari dari pukul 7 hingga 19 sore. Mengenai waktu terbaik berkunjung ke pura Tanah Lot, setiap wisatawan akan memiliki kriteria berbeda akan tujuan liburan. Ada yang menyukai liburan ke Tanah Lot saat kawasan belum ramai dengan kunjungan wisatawan. Ada juga wisatawan yang memprioritaskan untuk dapat melihat pemandangan matahari terbenam.

BESAKIH

Terletak di lereng selatan Gunung Agung, Pura Kahyangan Jagad Besakih menjulang indah di desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Desa Besakih yang namanya berasal dari kata “Basuki”, dalam Bahasa Sansakerta berarti “keselamatan”, terpilih menjadi lokasi pembangunan tempat ibadah yang menjadi pura induk di Bali tersebut karena merupakan desa tertinggi di kaki gunung terbesar di pulau itu. Bangunan yang konon dibangun pada abad ke-14 ini terdiri dari 22 pura yang berjajar di kaki pegunungan, dengan teras yang bertingkat dan anak tangga yang kian menanjak, sesuai dengan filosofi spiritual  untuk terus meningkatkan perjalanan menuju puncak gunung dan Sang Pencipta.

Dari gerbang masuk,  pengunjung akan menuju pada struktur Meru puncak menara utama, Pura Penataran Agung, yang menjadi pura terbesar di dalam kompleks Pura Besakih. Sebagai pura induk, Pura Besakih merupakan jantung kegiatan persembahyangan Agama Hindu Dharma yang menjadi kepercayaan utama warga Bali dimana terdapat lebih dari 70 upacara keagamaan yang dilangsungkan disana setiap tahunnya.

Pura Besakih dapat dicapai dengan satu jam bermobil dari bandar udara Ngurah Rai.

Dari tempat parkir menuju pura,  wisatawan harus melewati deretan pedagang makanan dan suvenir yang cukup panjang dan menjadi penguji rasa sabar karena beberapa diantaranya bersikap berlebihan, memaksakan diri untuk menawarkan dagangannya.

Gunakan sepatu yang nyaman untuk menjelajah pura yang sangat luas dengan ratusan undak anak tangga dan akan sedikit licin pada waktu musim hujan.

Pura Besakih adalah tempat ibadah agama Hindu Dharma, sehingga wisatawan diharap bersikap sopan, tidak bertingkah iseng mengutak-atik benda apa pun di dalam pura, serta mengenakan busana adat berupa sarung dan ikat yang telah disediakan di pintu masuk.

Pengunjung bisa mencapai pura terbesar, namun hanya umat yang hendak bersembahyang yang diperbolehkan memasuki pura lainnya.

Terdapat jasa guide dengan tarif bervariasi yang disediakan di gerbang masuk untuk membantu pengunjung memahami kompleks pura yang luas tersebut, misalnya mengenai ukiran penghias arsitektur pura yang menceritakan fragmen kisah Ramayana dan Mahabrata hingga lukisan-lukisan tua yang bergaya Kamasan.

Seven Wonders of Bali, di antaranya adalah Gunung Agung

GUNUNG AGUNG

Cincin api yang mengelilingi Indonesia mencuatkan gunung berapi tertinggi kelimanya di Pulau Bali dan kita kenal sebagai Gunung Agung. Menjulang setinggi 3,142 meter, Gunung tertinggi di pulau dewata ini terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali.  Menjulang dengan dikitari hutan lebat, dimana babi hutan, kera ekor panjang dan aneka burung liar, termasuk Elang Bali yang langka, bersarang. Terdapat tiga jalur untuk mencapai puncak Gunung Agung, namun medan ketiganya cukup berat dan hanya wisatawan yang benar-benar fit saja yang bisa disarankan untuk mendaki. Mengingat pentingnya peran Gunung Agung sebagai salah satu pusat ritual warga Bali, terutama melalui gerbang utamanya di Pura Besakih , maka sangat disarankan untuk menggunakan jasa pemandu jika ingin mengunjungi Gunung Agung. Para pemandu dapat ditemukan pada lokasi pendakian, antara lain Gung Bawa Trekking  dari pos pendakian jalur Besakih dan MG Trekking di Candidasa.

Puncak Gunung Agung dapat dicapai dari berbagai arah. Jalur selatan pendakian melalui Klungkung dan Candidasa, Jalur  Barat melalui Pura Besakih, Timur melalui Tirta Gangga dan Karangasem. Jalur yang sedang digemari adalah dari arah pantai timur, melalui sebelah utara Amed menuju Tulamben dan Singaraja . Sisi timur Gunung Agung cenderung kerontang sedangkan pemandangan dari sisi barat jauh lebih menghijau. Keelokan puncak gunung Agung adalah pemandangan sekelilingnya, yang berliku dikelilingi  Gunung dan Danau Batur serta mencapai puncaknya ketika di seberang lautan terlihat matahari pagi muncul dari balik Gunung Rinjani di Pulau Lombok.

Para pendaki dianjurkan mendaki pada musim kemarau (April – Oktober) sedangkan Januari sangat dihindari mengingat tingginya curah hujan yang berakibat pada jalur pendakian yang licin dan berbahaya.  Pada bulan Januari dan Februari dianggap paling berbahaya karena adanya kemungkinan jalur yang longsor. Pada bulan April terdapat banyak upacara keagamaan sehingga tidak leluasa untuk melakukan pendakian.

Para pendaki mengincar sunrise di puncak gunung sehingga berangkat pada tengah malam. Lantaran cahaya bulan yang temaram, disarankan membawa senter, atau head lamp yang terang.

Pendakian pada umumnya dimulai pada pukul 23.00 WITa, selama sekitar enam jam untuk mencapai puncak.Tak lama setelah matahari terbit, kabut akan kembali muncul, menghalangi pemandangan.

Pendaki pemula disarankan melalui jalur utara, melalui Duku Bujangga Sakti dan membawa peralatan camping. Meski memutar dan menghabiskan waktu dua kali lebih banyak, jalur  ini lebih landai dan memungkinkan untuk beristirahat.

BEDUGUL

Kawasan wisata Bedugul terletak sekitar 50 km di sisi utara kota Denpasar, atau sekitar satu hingga dua jam perjalanan bermobil, tergantung tingkat kemacetan hari itu, dari kawasan turis di Kuta.  Wisatawan yang berkunjung ke Bedugul biasanya menyempatkan diri mengunjungi Pura Ulun Danu di pinggir Danau Bratan yang sangat unik. Pura yang seolah menyembul dari tengah danau itu dikelilingi taman yang sangat asri dan hijau, tak heran Ulun Danu menjadi salah satu pura yang paling banyak menjadi obyek pemotretan.

Di Danau Bratan terdapat banyak aktivitas olahraga air untuk seluruh keluarga, dari parasailing, jetsky, berperahu hingga sekadar memancing. Selain olahraga air, Bedugul juga memiliki lapangan golf yakni pada Bali Handara Kosaido Golf and Country Club. Terdapat juga jalur yang cukup sohor untuk melakukan trekking melalui dua danau yang berdampingan; Danau Buyan dan Danau Tamblingan, menuju Gua Jepang dan Pura Puncak Mangu. Trekking dan bersepeda melalui persawahan Jatiluwih juga menjadi rute yang disukai para pelancong.  Jika lelah, pengunjung bisa mampir ke Restoran Batukaru di Jatiluwih yang menyajikan masakan kontemporer di hadapan hamparan sawah bersubak yang menawan. Jika ingin menu yang berbeda bisa mencoba Restoran Bukit Hexon, di Wanagiri, yang menawarkan hidangan organik atau Strawberry Stop, kebun strawberry di antara Danau Buyan dan Danau Bratan yang menyediakan tak hanya menyediakan strawberry melainkan juga milkshake dan aneka jajanan.

Bedugul juga memiliki kebun raya yaitu Kebun Raya Eka Karya yang terletak di kawasan Candi Kuning. Kebun raya yang lebih dikenal sebagai Bedugul Botanical Garden ini sohor  dengan koleksi anggreknya yang memukau. Untuk menghibur keluarga, terdapat juga Bali Tree Top yang menyediakan arena permainan di alam bebas seperti flying-fox dan jembatan a la Indiana Jones. Tak seberapa jauh ke timur juga terdapat lokasi wisata alam yang menakjubkan seperti air terjun Gitgit,  Munduk dan Air Terjun Kembar.  hingga pemandian air panas Angseri serta Penatahan.

…(Bagian 2)…

*****