Makan Beramai Ala Botram, 4 Pilihannya

Makan beramai ala botram mulai menjadi tren publik pada 2017.

Makan beramai ala botram sangat menyenangkan dan beberapa tahun terakhir menjadi trend. Tidak saja resto yang membuat gaya ini, tapi juga ketika ada acara-acara keluarga di rumah-rumah pribadi. Masing-masing orang membawa makanan sendiri, untuk kemudian saling bertukar dan mencicipi makanan satu sama lain dan makan beramai ala botram.

Makan Beramai Ala Botram

Beberapa lembar daun pisang terhampar di atas lantai. Di atasnya digelar tempe goreng, tahu, ikan asin, ikan gurame, dan ayam goreng bertumpuk-tumpuk mengelilingi nasi putih hangat yang disusun memanjang. Di sana-sini tersaji sambal dan beragam dedaunan sebagai lalapan.

Makanan sebanyak itu disiapkan oleh sejumlah orang secara bergotong-royong untuk kemudian dinikmati bersama. Itulah yang disebut botram atau makan beramai ala botram.

Makan beramai ala botram juga dibuat paket menu makan ala-ala di sejumlah restoran.
Resto Alas Daun, salah satu penyaji makan ala botram. Foto: dok Javalane

Orang kerap kesulitan membedakan istilah botram, liwetan, dan balakecrakan. Balakecrakan adalah kegiatan makan bersama, sedangkan liwetan lebih mengacu pada jenis makanan dan cara penyajiannya. Sementara botram merupakan cara penyiapan makanan yang dibawa oleh masing-masing peserta.

Tidak ada istilah tuan rumah dalam konsep makan beramai ala botram. Semua peserta makan adalah setara. Masing-masing membawa makanan sendiri, lalu nantinya saling bertukar makanan dan saling mencicipinya. Juga tak ada ketentuan pasti harus membawa seberapa banyak. Hal ini mencerminkan sifat masyarakat Sunda yang menganut moralitas egaliter, yaitu bahwa semua manusia diciptakan sama dan sederajat.

Tradisi makan beramai ala botram umumnya diselenggarakan ketika sebuah keluarga atau komunitas sedang berkumpul, seperti saat rekreasi, arisan, atau menyambut bulan Ramadan. Lokasinya pun bervariasi, dari di dalam rumah, halaman, ladang, atau kebun. Jika mengacu pada aspek sejarahnya, nasi liwet khas Sunda berasal dari masyarakat perkebunan yang membekali dirinya dengan nasi untuk makan dari pagi sampai siang di ladang. Karena itu, makan ala botram di tengah kebun merupakan pilihan tepat untuk mendapatkan atmosfer masyarakat Sunda masa silam.

Dago Panyawangan
Dago Panyawangan yang juga menyedian makan beramai ala botram.

Setelah lama tenggelam, tradisi ini kembali mencuat, bahkan sempat viral pada 2017. Saat itu foto orang yang makan bersama dengan alas daun pisang berseliweran di media sosial. Kehadiran media sosial dan keunikan tradisi menjadi faktor yang memicu botram kembali naik ke permukaan.

Sejumlah restoran di Jawa Barat bahkan menyediakan paket menu botram bagi pengunjung. Di Bandung misalnya, ada restoran Moza Cafe, Maka Gallery Cafe, Kelapa Lagoon, Alas Daun, Dago Panyawangan, dan Pinch of Salt. Sementara di Caringin, Kabupaten Bogor, ada penginapan Land Of Blessing Farmstay yang menawarkan sensasi makan botram di tengah areal persawahan.

Virus botram juga melanda warung makan di luar Jawa Barat, terutama Jakarta. Beberapa di antaranya adalah Warung Teteh di Jalan Petogogan, Warung Sunda Ceu Kokom di Jalan Raya Pos Pengumben, dan Bebek Asap Balcon di Kebon Jeruk. Sejumlah nama kemudian sempat hilang ketika pandemi Covid19 sejak 2020 lalu.

Tentu esensi botramnya hilang karena semua makanan disediakan oleh pihak restoran. Namun paling tidak jenis makanan dan cara penyajiannya tetap mempertahankan gaya liwetan khas Sunda.

Nasi liwet Sunda berbeda dengan nasi liwet khas Jawa Tengah. Saat melakukan teknik liwet, orang Jawa mencampur beras dengan santan, sedangkan liwet Sunda tidak menggunakan santan. Nasi liwet Sunda biasanya memakai bumbu garam, bawang merah, bawang putih, daun salam, sereh, lengkuas, cabai, santan, minyak kelapa, atau ikan asin, sesuai selera masing-masing.

Land Of Blessing Farmstay
Land of Farmstay, menikmati alam Sunda.

Untuk lalapannya tak ada aturan baku. Namun biasanya yang paling sering muncul adalah daun sawi, kemangi, dan mentimun karena murah dan mudah ditemukan. Duo lalapan sedap tapi berbau menyengat, jengkol dan petai, juga menjadi ciri khas dari acara makan ini. Pada beberapa rumah makan di Jawa Barat umumnya masih bisa ditemukan lalapan unik, seperti bunga honje atau kecombrang.


Selain berbagi makanan, orang-orang yang makan juga berbagi cerita dan lelucon. Namun ada semacam aturan tak tertulis yang melarang kita untuk berbagi cerita sedih karena akan merusak suasana. Pasalnya, inti dari kegiatan makan bersama ini adalah terwujudnya keceriaan dan silaturahmi yang berujung pada semakin eratnya ikatan kekeluargaan.

Berikut empat pilihan untuk menikmati makan beramai ala botram

  • Alas Daun

Jam buka: Setiap hari, pukul 10.00–22.00

Alamat: Jalan Citarum No.34, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung

  • Dago Panyawangan

Jam buka: Setiap hari, pukul 10.00–23.00

Alamat: Jalan Ir. H.Djuanda No.127, Lebak Siliwangi, Coblong, Kota Bandung

  • Land Of Blessing Farmstay

Jam buka: Berdasarkan perjanjian

Alamat: Jl. Curug Kalong RT 01 RW 04, Desa Tangkil, Caringin,Bogor

  • Waroeng Botram Cianjur

Jam buka: 11.00–21.00 (Senin-Jumat) dan 11.00–22.00 (Sabtu-Minggu)

Alamat: Jalan Masjid Agung No. 126, Pamoyanan, Cianjur

agendaIndonesia

*****

Soto Tangkar Betawi, Ini Dia 5 Jawaranya

Soto tangkar Betawi bermula dari iga sapi yang tak dimakai dalam masakan meneer Belanda.

Soto tangkar Betawi mungkin kalah pamor sedikit dibandingkan kuliner khas masyarakat Betawi lainnya, soto Betawi. Padahal dari segi rasa, tak kalah nikmatnya.

Soto Tangkar Betawi

Soto tangkar pada awalnya adalah soto berkuah gurih dengan isian berupa tangkar atau tulang iga. Dari Kuliner Betawi: Selaksa Rasa dan Cerita karya Akademi Kuliner Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama, dalam bahasa Betawi tangkar artinya tulang iga.

Lalu apa bedanya dengan soto Betawi? Warna kuah soto tangkar sedikit lebih kemerahan dan rasanya lebih ringan dibanding soto Betawi. Penyebabnya, soto tangkar menggunakan air asam jawa, kencur, dan lengkuas yang membuat rasanya lebih segar.

Saat ini, selain menggunakan tangkar atau iga, ada pula pedagang soto tangkar yang mencampur isian soto dengan potongan daging. Ada pula yang menambahkan kelapa sangrai halus sehingga kuahnya jadi lebih gurih dan kental.

Soto tangkar Betawi biasanyaisiannya  disipakan dalam mangkok-mangkok dan baru disiram kuah saat akan dihidangkan.


Soto tangkar Betawi sendiri punya sejarah yang cukup panjang, bahkan hingga ke masa kolonial Belanda. Kala itu masyarakat hanya mampu membeli bagian tangkar yang punya sedikit daging dan lebih murah dari pada daging sapi.

Selain itu, ada cerita lain yang mengatakan bahwa para pejabat dan tuan-tuan Belanda jika mengadakan jamuan makan masak makanan mewah dari daging sapi. Bagian lain seperti iga dan jeroan sapi akan diberikan kepada para pekerja lokal. Bagian-bagian inilah kemudian yang dimasak dengan bumbu tradisional, salah satunya soto tangkar Betawi.


Soto tangkar Betawi juga disebut mengalami percampuran budaya antara banyak bangsa yang datang ke Batavia. Misalnya saja dari budaya kulinari Tionghoa. Tak hanya Tionghoa, soto tangkar juga mengalami percampuran budaya India dan Arab yang masuk melalui penggunaan minyak samin dalam soto tangkar dan soto Betawi. Percampuran selera Betawi dan lokal, pengaruh Tionghoa, Arab, dan India menyatu.
Saat ini masyarakat semakin mudah mendapatkan soto tangkar. Selain menikmati masakan dari warung yang legendaris, misalnya, yang berpusat di daerah Pasar Pagi Glodok, Jakarta Barat.Orang juga bisa menikmati warung-warung kecil yang mulai menjajakannya.

Perbedaan soto-soto tangkar legendaris dengan soto-soto tangkar baru biasanya pada komposisi campuran susu dan santennya. Di warung-warung terkenal biasanya lebih banyak susunya, bahkan ada yang tanpa santan. Selain itu, semuanya mirip. Dalam semangkuk soto, selain  daging sapi terdapat potongan tomat, daun bawang, babat, kikil dan jeroan sapi.

soto tangkar Betawi mirip dengan soto Betawi namun berbeda dalam bumbu dan ketebalan kuahnya.
Soto Tangkar Betawi mempunyai kuah yang berwarna orange dengan iga sapi dan daging sapi. Foto: shutterstock

Soto Tangkar Haji Diding

Bagi warga Jakarta dan para peminat soto tangkar pasti sudah tak asing lagi dengan gerai soto tangkar ini. Memiliki banyak cabang, pusatnya Soto Tangkar H. Diding berada di Pasar Pagi Lama.

Soto tangkar di sini sangat menjaga keasliannya dari waktu ke waktu. Maka tak heran jika peminat soto tangkar Haji Diding juga terus bertambah seiring berjalannya waktu. Tak hanya soto tangkar, di sini pecinta kuliner juga dapat mencicipi sate kuah dengan daging sapi empuk. 

Lokasi di Jalan Pasar Pagi II, RT.2/RW.2, Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. 

Soto Tangkar Jumanta

Pilihan lainnya, jika sedang melewati kawasan Glodok, mampirlah ke Gang Kalimati yang di dalamnya terdapat soto tangkar Pak Jumanta. Sudah berjualan sejak 1970-an, soto tangkar Pak Jumanta masih eksis hingga kini.

Sebaiknya datang waktu pagi hari karena sekitar jam 12 siang soto tangkarnya biasanya sudah terjual habis. Untuk dapat menyantap semangkuk soto tangkar, pengunjung hanya perlu menyiapkan uang kurang lebih Rp 25 ribu.

Lokasi di Jalan Pancoran Gang Kalimati, Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta.

Soto Tangkar Jakarta shutterstock
Ini merupakan campuran budaya lokal, Tionghoa, India dan Arab. Foto: shutterstock

Soto Tangkar Omah Sendok

Kalau yang Ini merupakan sebuah restoran yang menyediakan soto tangkar dengan kuah yang lebih merah dan kental. Untuk soal rasa, soto tangkar omah sendok ini sudah tak dapat diragukan lagi, karena memang sangat enak. Isiannya pun sangat berlimpah. Mulai dari daun bawang, potongan tomat, sampai daging yang lunak, dan gurih berlimpah. 

Lokasi di Jalan Empu Sendok No. 45, RT.8/RW.3, Jakarta Selatan

Soto Tangkar Tanah Tinggi

Kedai ini sudah dibuka sejak 1946. Warung soto tangkar ini didirikan pak Haji Ikhsan.

Keunikan dari soto tangkar di sini adalah kuahnya yang kental serta berwarna kemerahan. Isiannya pun sangat komplit, mulai dari daging sapi, babat, paru, iso, kikil, tulang muda dan tulang rawan telinga. 

Lokasi di Jalan Tanah Tinggi III No. 15, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat. 

Soto Tangkar Gunawan

Ini pilihan soto tangkar yang enak lainnya. Kedainya terletak di pinggir jalan dengan gerobak tradisional namun rasa dari soto tangkar di sini tak kalah dengan yang terdapat di restoran. Jika ingin menyantap semangkuk soto tangkar di sini, usahakan hindari makan siang, karena tempat ini akan dikerubungi pelanggan saat jam makan siang tiba. 

Lokasi di Jala Warung Jati Barat No. 48, Kalibata, Jakarta Selatan.

agendaIndonesia

*****

De Tjolomadoe, Masih Manis Seperti Tahun 1861

De Tjolomadoe, bekas pabrik gula sejak 1861 kini diubah menjadi museum.

De Tjolomadoe bagi masyarakat Surakarta, Jawa Tengah, identik dengan pabrik gula. Tidak salah, sebab sejak 1861, Tjolomadoe atau dulu dikenal menuliskannya Colomadu, memang merupakan tempat memproduksi gula pasir tebu. Namanya kini memang menjadi De Tjolomadoe. Sebuah museum dan destinasi wisata unggulan di sekitar Surakata.

De Tjolomadoe

Awalnya ia bernama Pabrik Gula Colomadu yang didirikan pada 1861 di Karanganyar oleh Mangkunegaran IV. Tahun 1928, pabrik ini mengalami perluasan area lahan tebu dan perombakan arsitektur. Dinamakan Colomadu karena memiliki arti gunung madu. Ini yang menjadi pijakan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro IV, raja masa penjajahan Belanda yang memiliki jiwa bisnis atau wiraswasta untuk mendirikan pabrik gula (PG) Colomadu di Desa Malangjiwan pada 1861.

De Tjolomadoe dari pabrik gula merevolusi menjadi museum destinasi wisata unggulan.
Salah satu sisi bangunan De Tjolomadoe saat ini. Foto: Dok. shutterstock


Mengubah sebuah pabrik gula menjadi museum tentu tidak mudah. Bahkan di saat awal rencana mengubah pabrik ini banyak isu berseliweran. Misalnya, ada kabar angin Colomadu akan diratakan, dan sebuah superblok modern siap menggantikannya.

Pabrik gula itu sebenarnya memang sudah berhenti berproduksi sekitar dua dekade ketika diputuskan untuk tak lagi beroperasi, yakni pada 1997 saat dikelola PTPN IX. Maka pabrik gula itu pun ‘mangkrak’.

Pada 1997, ketika berhembus kabar pabrik beralih tangan, nasib bangunan pabrik yang tersisa pun terancam hal sama. Pabrik yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini, pada seakan menunggu keruntuhannya untuk kedua kalinya.

Bagi masyarakat Surakarta, pabrik ini bukan sekadar bangunan. Ada pusara Nyi Pulungsih di tengah perkampungan, tak jauh dari pabrik. Ia adalah salah satu selir KGPAA Mangkunegara IV yang bertakhta pada 1853-1881. Sang selir diyakini berperan penting, terutama dalam urusan finansial, dalam membantu suaminya mendirikan usaha agroindustri itu pada 1861.

Dikenal sebagai perempuan peranakan Tionghoa, Nyi Pulungsih tidak diketahui nama lahirnya. Colomadu adalah nama yang disematkan sang raja, yang berarti limpahan madu. Orang Jawa di masa itu lazim mengidentikkan rasa manis dengan sebutan madu.

Sebagai balas jasanya, setiap tahun digelar cengbeng—tradisi ziarah dan jamasan (mencuci) makam sang selir sebelum memulai musim giling. Hal yang sama juga dilakukan pada Monumen Mangkunegara IV yang berdiri di depan gerbang pabrik.

Colomadu mulai berproduksi dua tahun setelah didirikan. Waduk Cengklik yang berjarak 10 kilometer di sebelah barat laut pabrik-lah yang mengairi lahan tebu di sekitarnya. “Manis”-nya Colomadu menggoda sang empunya, sehingga sebuah suiker fabriek didirikan lagi pada 1871 yang berlabel Tasikmadu, yang juga masih di Karanganyar. Sekali lagi R. Kampf, seorang insinyur Jerman, dipercaya menjadi juru bangunnya.

Ketika terjadi peralihan kekuasaan, Mangkunegara V yang bertakhta pada 1881-1896 ternyata tak selihai pendahulunya. Beberapa cerita menyebut ia bukan raja yang cakap. Yang lain menganggapnya sebagai hedonis penghambur harta. Bahkan Colomadu yang menjadi aset kerajaan sempat dikelola VOC untuk membayar utang.

Saat kembali terjadi suksesi kekuasaan, misi penyelamatan pun digelar. Mangkunegara VI yang berkuasa pada 1896-1916 melakukan penghematan akbar. Upah pekerja dipotong. Konon ia sendiri juga memotong haknya sampai nyaris setengah. Kebijakan yang kontroversial, namun ternyata keputusan itu jitu. Colomadu tak lagi tercekik utang.

Politik bergolak pascaproklamasi di banyak wilayah, termasuk di Jawa Tengah. Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta dihapus lalu dilebur dalam Dewan Pertahanan Daerah Surakarta. Perubahan drastis ini turut berimbas pada aset Mangkunegaran.

Pada 1947 pemerintah Republik mengeluarkan peraturan tentang Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI). Mulai saat itu Colomadu dan Tasikmadu berada di bawah kuasa Republik. PPRI sendiri adalah cikal BUMN PT Perkebunan (PTPN).

Di luar perubahan admisitrasinya, usia uzur mereduksi daya dua bersaudara pabrik gula itu. Kelangkaan onderdil dan mahalnya biaya perawatan membuat salah satunya harus dikorbankan. Colomadu terpilih karena luas lahan tebu di sekitarnya menciut drastis. Mayoritas berubah menjadi sawah dan permukiman. Musim giling terakhir pada 1997 adalah pamungkas. Setelah itu banyak mesin dibongkar dan dibawa ke Tasikmadu sebagai suku cadang.

Yang tersisa kemudian hanyanya bangunan utama pabrik dan beberapa bangunan lain, seperti garasi lori, menara air, rumah kepala masinis lori, dan Ndalem Besaran. Yang disebut terakhir ialah rumah kepala administratur alias direktur. Griya besar ini sempat menjalani perbaikan dalam rangka pengambilan gambar sebuah film.

Bangunan itu lebih mujur daripada deretan rumah tak terurus di depan pabrik yang dulu dihuni para pejabat pabrik. Bagian dalam pabrik juga tak lebih baik. Besi rongsok dan serpihan material adalah warisan utama sekaligus saksi bisu kejayaan masa lalu. Lebih mirip lokasi uji nyali.

Aset negara yang pernah berjaya itu mangkrak hampir 20 tahun, sebelum kemudian Kementerian BUMN menugaskan empat BUMN untuk berkongsi membentuk PT Sinergi Tjolomadoe. Tugasnya mengubah fungsi bekas pabrik gula itu menjadi Museum De Tjolomadoe pada 2017.

De Tjolomadoe peninggalan Mangkunegara IV kini diubah menjadi museum pabrik gula.
Bekas mesin refinery air tebu di Colomadu. Foto: dok. shutterstock


Kini halaman depan pabrik dijadikan area kebun bunga berwarna-warni. Dinding dinding pabrik diwarnai kuning gading sehingga tampak cerah dan bersih. Sementara area dalam pabrik penggilingan dijadikan area museum gula. Mesin-mesin penggilingan berukuran raksasa berjajar rapi dan masih terlihat kokoh.

Sedang area Stasiun Ketelan disulap menjadi pusat kuliner, dengan stand-stan yang menawarkan beragam jenis makanan dan minuman. Stasiun Penguapan menjadi area arcade, dan Stasiun Karbonasi menjadi area kesenian dan kerajinan.

Selain itu, di dalam bekas pabrik gula ini juga terdapat restoran berdesain interior yang instagramable, sehingga cocok untuk berswafoto. Begitu halnya di luar ruang, persisnya di bagian timur kompleks, wisatawan juga diberi tempat swafoto di depan cerobong asap yang menjulang ke langit.

De Tjolomadoe kini kembali manis. Ia menjadi destinasi wisata yang kembali membuat bangga warga Surakarta. Lokasinya yang dekat dengan bandara dan juga pintu exit tol, menjadikan wisawatan mudah mengunjungi.

TL/agendaIndonesia

*****

Percikan Air Terjun Subang Selama 2 Hari

Percikan air terjun memberikan kesegaran, bisa dinikmati di wilayah Subang Selatan.

Percikan air terjun bisa menyegarkan pikiran dan raga yang jenuh dengan kesibukan di kota. Tak perlu jauh-jauh melakukan perjalanan. Bagi mereka yang biasa berakhir pekan e Bandung, atau sebaliknya yang dari ibukota Jawa Barat itu ke Jakarta, sekali-kali bisa membelokkan kendaraannya sedikit.

Percikan Air Terjun

Ada pilihan destinasi yang tidak itu-itu saja di antara Jakarta dan Bandung, kali ini sedikit melipir ke . Tepatnya di Subang Selatan. Ada kesejukan percikan air terjun, atau dalam bahsa Sunda disebut curug.

Jalur untuk mencapainya juga menawarkan jejak petualangan baru. Dari Jakarta, jaraknya 157 kilometer. Sedangkan dari pusat Kota Subang ke arah selatan, jaraknya 37 kilometer. DI sana ada hamparan perkebunan teh nan hijau dengan sederet air terjun.

Walaupun masuk wilayah Subang, lokasinya lebih dekat dengan kota Purwakarta. Dari tol Cipularang, wisatawan bisa keluar di pintu tol Sadang, Purwakarta, dan melanjutkan perjalanan ke arah Wanayasa. Bila berangkat dari Bandung, jaraknya 63 kilometer ke utara melalui Jalan Raya Ciater.

Lalu ada apa saja sajian wisatanya? Pilihan destinasinya ada Curug Cikondang, Cilémpér, Cijalu, hingga Cileat. Semburan air dan hawa sejuknya menyegarkan badan dan pikiran. Obyek wisata ini bisa dijajal dalam dua hari di akhir pekan.

Percikan air terjun Cijalu di Subang menarik meskipun masih dikeramatkan.
Percikan Air Terjun Cijalu menyegarkan meskipun kaum hawa mesti menahan diri. Foto: DOk. TL

Hari Pertama: Curug Cijalu

Berangkat pagi dari Jakarta atau Bandung. Bila berangkat pukul 06.00 dari Jakarta, dalam kisaran tiga jam pengunjung sudah tiba di Jalan Raya Ciater, Subang. Sedangkan dari Bandung, tidak sampai dua jam.

Tiba di Subang, wisatawan akan disambut hamparan kehijauan perkebunan teh yang berkabut. Selanjutnya, tinggal menuju Jalan Raya Ciater hingga menemukan jalan ke arah Serangpanjang.

Di sana tujuan pertamanya adalah Wisata Curug Cijalu. Pengunjung harus membayar tiket masuk Rp 10 ribu per orang. Adapun tarif kendaraan sebesar Rp 3 ribu-10 ribu, tergantung ukurannya. Kawasan wisata yang berada di Desa Cipancar, Kecamatan Serangpanjang, ini tidak sulit dicapai. Jalan masuknya beraspal. Area parkir utama akan ditemui setelah 20 menit berkendara dari gerbang. Selanjutnya berjalan kaki.

Sudah ada juga beberapa warung makanan dan cenderamata. Tersedia pula ruang lapang bagi pengunjung yang ingin beraktivitas atau bahkan untuk mereka yang ingin berkemah.

Sekitar 10 menit berjalan dari area parkir, wisatawan bisa menemukan air terjun kecil menuruni batuan alami di sisi kiri, namanya curug Cikondang. Tingginya kira-kira 30 meter. Percikan air terjun nya cukup memberikan kesegaran.

Berjalan kaki lagi 10 menit, ada teras air terjun yang airnya berasal dari Gunung Sunda. Di area sebelum teras, pengunjung bisa menemukan sejumlah kupu-kupu bersayap panjang. Yang indah, kupu-kupu ini dari bagian belakang tubuhnya seperti terlihat semprotan cairan setiap sekitar dua detik sekali.

Kupu-kupu tersebut dikenal sebagai The Green Dragon Tail (Lamproptera meges), biasanya hidup di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Ternyata, meski dikenal sebagai Curug Cijalu, air terjun utama setinggi 50-60 meter tersebut aslinya bernama Cilémpér. Menurut sejumlah pedagang di sana.

Sudah dua curug, tapi belum juga bertemua dengan curug Cijalu. Maka timbul pertanyaan, di manakah Curug Cijalu yang sebenarnya?”

Rupanya cucug yang satu ini masih dikeramatkan. Penduduk, jika tak sedang sibuk berladang, biasanya tidak segan mengantarkan hingga ke air terjun itu.

Perlu tambahan waktu sekitar satu jam untuk menemukannya dari Curug Cilémpér, dengan melintasi jalur basah dan hutan kecil. Selain itu, ada syarat khusus, yakni hanya pengunjung laki-laki yang boleh bermain atau mandi di air terjun yang satu ini. Kaum hawa harus menahan diri untuk menikmati percikan air terjun. Sepulang dari air terjun setinggi 15-20 meter itu, saatnya beristirahat.

Malam bisa dihabiskan menginap di sekitar Ciater. Ada sejumlah penginapan yang menawarkan beragam akomodasi.

Hari Kedua: Curug Cileat

Keesokan harinya, waktunya mengunjungi Curug Cileat. Jalurnya lebih menantang dibanding dengan tiga air terjun sebelumnya. Letaknya juga tidak dekat dari ketiganya. Harus berkendara lagi untuk mencapai Dusun Cibago, Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang.

Kawasan air terjun ini dikelola penduduk sekitar. Tiket masuknya Rp 5 ribu. Disarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal karena lama perjalanannya sekitar 2-2,5 jam. Jalurnya menanjak, berupa medan tanah dan batu yang bersisian langsung dengan hutan kecil dan jurang. Pastikan perbekalan air minum dan makanan mencukupi karena tidak ada warung di sepanjang perjalanan.

Percikan air terjun perlu usaha yang lebih karena letaknya yang cukup jauh.
Percikan air terjun perjalanannya harus melewati pemukiman penduduk yang menjemur paneh hasil bumi. Foto: Dok TL.

Sebelum keluar dari Cibago, berhati-hatilah melangkah. Warga memiliki rutinitas menjemur hasil panen di ruas jalan, semisal biji kopi. Bila merasa lelah, Anda dapat beristirahat sejenak sambil menikmati percikan air di beberapa sisi dinding tebing. Saat bersentuhan dengan sinar matahari, percikan air ini akan memunculkan pelangi. Tak hanya itu, sambil beristirahat, mungkin ada kupu-kupu, capung warna-warni, dan bahkan elang Jawa yang menemani.

Setelah melalui apitan batu menyempit yang dirimbuni pepohonan dan semak terakhir, titik-titik air akan mulai terasa menerpa wajah. Tak lama berselang, terlihat jelas curahan air dari ketinggian sekitar 100 meter di lekuk dinding tebing. Cantik sekali. Itulah sambutan “Selamat Datang” dari percikan air terjun Cileat.

Semakin mendekat, air semakin deras memercik. Hati-hati bila membawa kamera. Lantas, bila tergoda untuk mengelilingi Cileat, menerobos ke balik air terjun seperti yang dilakukan oleh umumnya para pemandu, Anda perlu mewaspadai permukaan pijakan yang licin. Setelah perjalanan panjang, asiknya berlama-lama di lokasi hingga benar-benar puas menghirup udara segar dan tepercik air dingin. Sore nanti, tentu saja harus kembali ke kota asal.

agendaIndonesia

*****

Getuk Pisang Kediri, Enak Sejak 1940

Getuk pisang Kediri menjadi alternatif oleh-oleh selain tahu.

Getuk pisang Kediri seperti ingin “menyaingi” popularitas tahu sebagai oleh-oleh dari kota di Jawa Timur itu. Bedanya, jika yang satu gurih asin, yang ini rasanya manis.

Getuk Pisang Kediri

Makanan bercita rasa asam manis itu cukup mudah dijumpai di kawasan yang terbelah arus Sungai Brantas. Di warung-warung, pasar tradisional, maupun tempat wisata, getuk pisang Kediri dijajakan sebagai penganan di kala bersantai atau menjadi oleh-oleh bagi pelancong yang berkunjung ke kota tersebut.

Lahirnya penganan ini dari kisah masyarakat setempat, sesungguhnya akibat masa kelam orang Kediri di masa penjajahan Jepang. Rakyat Indonesia, tentu saja termasuk masyarakat Kediri, saat itu berada di bawah invasi tentara Nippon, diterpa kesulitan ekonomi.

Getukpisang Kediri menjadi salah satu kebanggaan masyarakatnya.
Salah satu sudut kota Kediri yang punya penganan getuk pisang. Foto: shutterstock

Akibatnya terjadi kesulitan pangan. Bahan makanan yang sulit ditemukan membuat warga mengalami krisis pangan. Masyarakat setempat lantas mencari bahan pangan untuk bertahan hidup.

Kebetulan di bantaran Sungai Brantas banyak tumbuh pohon pisang raja nangka. Ya tentu saja pisang bisa dimakan langsung. Tapi tak mungkin terus-menerus mengkonsumsi pisang secara langsung, selain pisang pun bisa menjadi busuk.

Dari kondisi itu akhirnya timbul ide menjadikan olahan pisang menjadi getuk agar dapat menyambung hidup. Jenis pisang raja nangka yang ukuran buahnya cenderung besar ini kemudian diolah menjadi getuk, agar terasa lebih nikmat ketika dikonsumsi. Getuk pisang menjadi makanan alternatif yang mengeyangkan.

Berdasarkan kajian literatur yang dilakukan Komunitas Pelestasi Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK), pembuat pertama kali getuk gedang adalah seorang nenek yang tinggal kawasan Mojoroto, Kota Kediri. Informasi ini ditemukan dari naskah tua di perpustakaan Universitas Negeri Malang.

Jejak pembuatan getuk pisang Kediri pertama kali ditemukan saat masa penjajahan Jepang yang berlangsung pada 1940-an. Pada masa tersebut, masyarakat benar-benar sengsara dan mengalami kondisi kelaparan yang sangat mengenaskan.

Getuk Pisang Kediri kediripedia
Salah satu gerai oleh-oleh di Kediri yang menjual getuk pisang. Foto: dok. milik kediripedia.com

Ribuan pohon pisang raja nangka yang tumbuh di sepanjang Sungai Brantas menjadi anugerah untuk masyarakat kala itu. Ukuran pisang yang besar lantas dicoba diolah dengan cara dikukus. Hasilnya, adonan kukusan pisang ini memiliki rasa yang enak dan mampu menjadi makanan pengganti untuk masyarakat yang kelaparan.

Dari awalnya hanya sebagai makanan darurat, getuk pisang mulai diperjualbelikan. Bentuk jajanan berwarna merah maron ini dulunya dijual dengan cara ditaruh pada cetakan loyang. Apabila ada pembeli, maka akan diiris kotak, seperti halnya penjual getuk lindri yang berbahan dasar singkong.  

Berdasar data dari Pasak, bentuk getuk pisang berubah ketika mulai dipasarkan oleh orang-orang Tionghoa Kediri. Transformasi getuk pisang mencapai puncaknya ketika mulai dikembangkan oleh warga keturunan Tionghoa Kediri ini. Makanan ini, mulai dimasak dengan cara yang lebih baik sehingga rasa yang dihasilkan menjadi lebih lezat.

Salah satunya adalah proses pengukusan pisang yang menggunakan daun pisang sehingga membuat aroma dan rasa makanan ini semakin kompleks. Tak hanya itu, dengan proses memasak yang alami, membuat kandungan nutrisi dari pisang tetap terjaga.

Perubahan yang paling menonjol adalah ketika penyajian tidak lagi menggunakan loyang. Bahan mentah berupa pisang yang telah ditumbuk, lalu dibungkus daun pisang kemudian dikukus. Secara fisik, bentuknya menjadi lonjong menyerupai lontong. Wujud getuk pisang itu tak mengalami perubahan hingga sekarang.

Getuk Pisang Pemkot Kediri
Getuk pisang Kediri bentuknya lonjong seperti lontong. Foto: milik Pemkot Kediri

Getuk pisang Kediri menurut cerita masyarakat setempat paling enak dibuat dari pisang raja nangka, meskipun bisa juga dari jenis pisang lainnya. Keistimewaan pisang raja nangka ini adalah cita rasanya yang khas, yakni asam dan manis meski, misalnya, tanpa tambahan gula.

Rasa manis inilah yang menjadikan getuk banyak disukai orang untuk terus dinikmati. Selain itu, karena dibungkus dengan daun pisang yang hijau, aroma dari getuk ini semakin menggoda. 

Getuk pisang Kediri berbentuk bulat lonjong mirip sekali dengan lontong. Dengan panjang sekitar 15–20 cm. Warnanya merah kecoklatan, teksturnya kenyal tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras.

Untuk mendapatkan getuk pisang ketika mampir ke kota Kediri tidaklah sulit. Pelancong bisa menemukannya di setiap sudut kota itu, mulai dari warung-warung kecil, pedagang asongan, hingga toko oleh-oleh. Harganya pun sangat terjangkau, berkisar antara Rp 2.500 – 5.000 perbuahnya tergantung ukuran dan mereknya.

Jika pun belum mempunyai agenda perjalanan ke Kediri, Anda bisa mencoba membuatnya sendiri. Cara membuat getuk pisang cukup mudah.

Pertama kukus pisang hingga matang, kupas. Setelah itu tumbuk halus dan campur pisang dengan gula serta garam. Disarankan untuk menumbuknya saat pisang masih panas sehingga lebih mudah halus. Setelah semua bahan tercampur, siapkan daun pisang dan bungkus adonan tersebut seperti membuat lontong, dan Anda bisa langsung menikmatinya.

Getuk pisang khas Kediri hanya bertahan satu hingga dua hari saja karena tidak memakai bahan pengawet. Jika disimpan dalam lemari pendingin, getuk pisang bisa bertahan empat sampai lima hari.

agendaIndonesia

*****



4 Hari di Seputar Belitung Yang Mengasyikan

Senja Liburan 4 hari di Belitung

Bisa 4 hari di seputar Belitung? Liburan mendadak ternyata bisa juga dibikin seru. Meski tiket pesawat dan harga sewa kendaraan roda empat tinggi,  karena pilihannya adalah 4 hari di seputar Belitung, ganjalan dana itu seperti terkikis. Maklum, empat hari di pulau, yang merupakan bagian dari Kepulauan Bangka Belitung (Babel), ini benar-benar mengasyikkan.  Bagi saya dan banyak turis, bisa jadi liburan ini nmerupakan liburan yang ingin diulang kembali.  Apalagi pilihannya tak melulu pantai, tapi juga jejak film Laskar Pelangi, bukit hijau, dan tentu sajian kuliner.

4 Hari di Seputar Belitung: Belitung Timur Hari 1

Hari Pertama: Belitung Timur

Penerbangan pendek selama 45 menit ke Tanjung Pandan sungguh tak terasa. Lubang-lubang bekas galian tambang tampak dari atas, tersebar di mana-mana. Pengemudi yang siap mengantar saya rupanya sudah menunggu di pintu ke luar Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Ketika kendaraan bergerak, saya menemukan jalan yang mulus dan sepi, tanah kering, serta rumah dengan jarak berjauhan. Hal ini menjadi pemandangan pertama yang saya lihat. Saya berencana menghabiskan waktu empat hari di pulau ini. “Enak itu, kalau cuma tiga hari, keburu-buru banget,” ucap Iqbal, yang menjadi pengemudi merangkap pemandu wisata.

Iqbal menyarankan tujuan wisata hari pertama ialah ke Belitung Timur (Beltim). Setelah melahap ilak bakar, sajian ikan bakar khas pulau dengan tumis kangkung, saya pun berangkat. Perjalanan ditempuh sekitar 1-1,5 jam. Kunjungan pertama ialah ke sekolah, tempat syuting Laskar Pelangi. Kemudian, mampir ke Museum Kata-kata Andre Hirata sembari menikmati kopi kuli.

Keasyikan menikmati kopi, akhirnya kunjungan ke Pantai Burung Mandi batal karena hari sudah terlalu sore. Namun bila Anda punya waktu panjang, tentu jangan dilewatkan. Akhirnya, saya pun kembali ke Tanjung Pandan.

Hari kedua: Tanjung Kelayang & Tanjung Tinggi

Pantai Kelayang salah satu pantai selama 4 hari liburan di Belitung
Pantai Kelayang dalam 4 hari di seputar Belitung

Hari kedua, saatnya melaut. Saya berangkat sekitar pukul 08.00. Tujuan pertama ialah Tanjung Kelayang dan pemilik perahu sudah menelepon. Ia sudah siap mengantar keliling pulau. Pagi yang hening, kendaraan melaju di jalan aspal yang mulus. Tak lama, anak panah ke Pantai Tanjung Kelayang pun tampak. Saya melihat area parkir sudah penuh. Maklum, musim liburan.

Kemudian, saatnya berputar-putar di laut, mulai dari Pulau Pasir, yang hanya berupa seonggok pasir, tempat saya menemukan sejumlah bintang laut, hingga  Pulau Lengkuas dengan mercusuar yang menonjol. Saatnya snorkeling! Setelah lelah mengambang di air, saatnya beranjak. Pengemudi kapal menyarankan untuk tidak membersihkan diri di Pulau Lengkuas, tapi di Pulau Kepayang, sekalian menikmati makan siang.

Rekomendasi yang tepat. Begitu mendekati pulau yang juga disebut Pulau Babi itu, suara musik terdengar nyaring. Rupanya, hanya ada satu restoran di sana. Setelah membilas badan, saatnya kembali menikmati ikan bakar dan tumis kangkung. Benar juga, di pulau ini air di kamar mandi bersih. Meski ada beberapa kamar mandi , tetap harus antre karena jumlah turis membludak.

Di Pulau Kelayang, selain ada penangkaran penyu, ternyata ada penginapan dan bisa menjadi pilihan bagi turis yang ingin menyepi. Perut kenyang, saatnya menyinggahi pulau-pulau lain yang ternyata meski sama-sama penuh dengan batu, bentuknya berbeda-beda.  Misalnya Pulau Batu Belayar dan Pulau Burung, hingga akhirnya kembali berlabuh di Tanjung Kelayang. Saya berniat menyisakan sore untuk menikmati mentari tenggelam di Tanjung Tinggi.

Tiba di Tanjung Tinggi, area parkir penuh lagi. Kondisi cukup ramai karena saya datang di masa liburan. Karena terlalu ramai, waktu kunjungan pun dipersingkat. Lebih baik beristirahat dulu karena kami ingin menikmati makan malam di Pantai Tanjung Pendam yang berada di pusat kota.

Hari Ketiga: Bukit Mentas, Bukit Berahu, dan Icip-icip

Hari ketiga, dicoba pilihan wisata bukan pantai. Tujuan wisata ialah Bukit Mentas, dengan suasana hutan dan sungai yang juga penuh bebatuan. Saya menemukan  Tarsius , si monyet mini  dalam kandangnya. Sore hari, akhirnya kembali ke pantai. Pilihannya ialah Pantai Bukit Berahu di Tanjung Binga dengan restoran di atas  bukit, serta pantai di bawahnya dengan deretan cottage.  Pantai ini berpasir putih nan bersih. Akhirnya, tercapai juga merekam keindahan senja.

Malamnya, hidangan Belitung  jadul di Restoran Belitong Timpo Duluk, Jalan Lettu Mad Daud, Tanjung Pandan menjadi pilihan icip-icip. Hidangan yang sudah jarang dijumpai di pulau ini pun terpapar di meja dengan interior unik. Dinding-dinding dipenuhi perangkat tempo dulu dan benda-benda jadul lainnya.

Hari keempat: Warung Kopi Kong Djie dan Danau Kaolin

Hari terakhir, sebelum terbang kembali ke Jakarta, saya menyeruput kopi di Warung Kopi Kong Djie di Jalan Siburik, Tanjung Pandan. Warung ini didirikan pada 1945 dan menawarkan hidangan kopi serta kopi susu. Ada juga teman minum kopi berupa gorengan. Dilanjutkan menuju toko oleh-oleh, membeli  terasi, aneka kerupuk ikan, juga berbagai sambal khas dari ikan laut.

Persinggahan terakhir adalah Danau Kaolin di Desa Air Raya, yang jalurnya searah dengan perjalanan ke bandara. Danau terbentuk karena galian penambangan kaolin, yang akhirnya menciptakan lubang besar. Airnya terlihat berwarna biru tosca , sedangkan sekelilingnya berupa lahan putih. Tampilan warna ini menciptakan kontras. Tentu menggoda untuk menjadikannya obyek foto. Setelah berfoto, perjalanan menuju bandara dilanjutkan. Kemudian, mengucapkan “Selamat Tinggal Belitung!”

Naskah & Foto: Rita N/TL

Kampung Tematik Semarang, Ini 4 Yang Unik

Kampung tematik Semarang jadi pilihan kunjungan jika dlan ke kota ini.

Kampung tematik Semarang bisa dibilang menjadi terobosan yang tergolong cukup baru dan unik dalam dunia pariwisata lokal. Beberapa contohnya yang cukup ramai diminati oleh masyarakat saat ini adalah beberapa kampung tematik di Semarang, Jawa Tengah.

Kampung Tematik Semarang

Kampung tematik sendiri merupakan area tempat tinggal yang umumnya dikhususkan sebagai pusat budaya dan kesenian. Ini salah satu usaha pemerintah daerah dalam pemenuhan sarana dan pra-sarana pemukiman, serta peningkatan kualitas lingkungan tempat tinggal.

Dibentuknya kampung tematik Semarang ini bertujuan agar kondisi pemukiman dapat diperbaiki dan tidak menjadi kumuh, serta meningkatkan potensi ekonomi dan sosial warga setempat. Usaha ini didasari partisipasi warga secara aktif, dan ciri khas pada lokasi tersebut yang unik dan kuat.

Kampung tematik Semarang menjadi andalan kota ini menarik wisatawan.

Di dalam kampung tematik ini, biasanya akan ditemukan beberapa jenis kerajinan tangan dan kuliner khas setempat, dengan usaha berbasis home industry. Semua ditata rapi dan ramah dengan lingkungan, serta sesuai dengan budaya, tradisi dan kearifan lokalnya.

Bagi pengunjung dan wisatawan, hal ini juga semakin menambah alternatif destinasi wisata, yang mampu memberi nuansa berbeda dari lokasi-lokasi wisata yang sudah ada. Ditambah lagi, semakin mudah untuk mencari kuliner dan kerajinan tangan pada lokasi yang sudah terpusat.

Kampung Batik Semarang

Ambil contoh kampung batik yang terletak di area kelurahan Rejomulyo, tidak jauh dari Museum Kota Lama Semarang. Sejak 2005, mereka sudah dikenal sebagai sentra produksi serta penjualan batik, dengan setidaknya sekitar 20-an merek atau jenama batik yang aktif saat ini.

Selain memproduksi kerajinan batiknya sendiri, mereka juga kerap menerima titipan produk dari luar kampung batik tersebut. Tak hanya itu, di tempat ini juga dapat ditemui atraksi lain seperti mural bergaya batik yang menggambarkan kisah pewayangan sebagai spot foto cantik.

Kampung tematik Semarang lainnya yang serupa adalah kampung Alam Malon, yang terletak di area kaki gunung kawasan Ungaran. Di sini juga dapat ditemui beragam produsen batik tulis tradisional dengan kisaran harga produk dari Rp 70 ribu hingga Rp 200 ribu.

Yang cukup spesial, proses produksinya masih terbilang sangat otentik dan tradisional, dengan penggunaan bahan baku yang alami seperti dedaunan kering, sabut kelapa, batang pohon mahoni, dan lain-lainnya. Hal ini tak banyak ditemui lagi di sentra produksi batik lainnya.

Berawal dari beberapa perajin batik di area tersebut yang sudah membuat dan berjualan batik sejak 40 tahun lalu, kini area tersebut dikembangkan sebagai salah satu kampung tematik. Selain menemukan produk-produk batik, pengunjung juga dapat belajar membatik sendiri.

Kampung Misoa

Bagi yang ingin berburu kuliner tradisional, dapat mencoba mengunjungi kampung tematik Semarang seperti kampung Misoa. Misoa, yang merupakan singkatan dari Mie dan Soto Ayam, terletak di area kelurahan Brumbungan, kawasan pusat kota Semarang.

Soto Neon Pak Nie Semarang
Warung Soto Neon Pak Nie sebagai bagian dari Kampung Tematik Semarang di Kampung Misoa. Foto: DOk. Soto Neon

Kampung tematik Semarang ini dinamakan demikian karena mayoritas warganya merupakan penjual ragam makanan seperti soto ayam, tahu pong, mie ayam, dan lain sebagainya. Sehingga sejak 2018, area ini diresmikan sebagai salah satu kampung tematik bertema kuliner.

Hingga saat ini, kampung Misoa sudah mampu menandai eksistensinya sebagai salah satu sentra kuliner khas Semarang. Beberapa destinasi wisata kuliner unggulan di tempat ini, seperti Soto Neon dan Tahu Pong Brumbungan, kini ramai diminati banyak pengunjung.

Kampung Petis

Kampung tematik bertema kuliner lainnya adalah kampung petis dan mangut di kelurahan Tambakharjo, wilayah barat Semarang. Kampung tematik ini masih cukup baru karena baru diresmikan tahun 2021 lalu, dan menawarkan aneka olahan petis dan mangut khas Semarang.

Umumnya, warga di kawasan ini mayoritas berprofesi sebagai nelayan, dengan hasil tangkapan seperti ikan sembilang dan sebagainya. Dari hasil tangkapan tersebut, ada yang kemudian diolah menjadi petis dan mangut.

Kampung Tematik Semarang ada bermacam-macam, dari kerajinan seperti batik, kuliner, hingga kampung tanaman bonsai.
Kuliner khas Semarang Petis Bumbon. Foto: dok. jatengprov.go.id

Petis adalah olahan udang atau ikan yang dimasak bersama gula merah, karamel dan garam hingga menjadi saus berwarna hitam pekat, dengan rasa manis gurih. Adapun mangut merupakan sejenis gulai ikan yang dimasak dengan santan dan cabe, bercita rasa pedas gurih.

Sejak 2021 silam, tempat ini diresmikan pula sebagai salah satu kampung tematik kuliner. Bersamaan dengan itu, dibangunlah sebuah pujasera yang menjadi wadah sekaligus pusat penjualan petis dan mangut di kampung ini.

Kampung Bonsai Semarang

Uniknya, terkadang kampung tematik tidak melulu bertemakan kerajinan atau kuliner tradisional saja. Kampung Bonsai di kelurahan Ponganan, misalnya, merupakan kampung tematik yang menjadi sentra tanaman bonsai di Semarang.

Awalnya, warga di sekitar area ini kebanyakan berprofesi sebagai pengrajin pot. Seiring semakin maraknya seni budidaya tanaman bonsai, beberapa di antaranya juga mulai menjajakan beragam hasil tanaman bonsai.

Oleh karenanya, pada 2010 lalu area ini ditetapkan sebagai kampung tematik yang menjadi sentra penjualan bibit serta tanaman bonsai. Tak kurang sekitar 40 pengrajin tanaman bonsai yang kini melayani demand lokal dan nasional, bahkan tiga di antaranya sudah go international.

Harga tanaman bonsai yang dijual di sini bervariasi, mulai dari raturan ribu hingga puluhan juta rupiah. Ada beberapa aspek yang dapat mempengaruhi harga, seperti proses pembuatannya, umur tanaman, hingga kualitas estetika dari tanaman tersebut.

Selain itu, masih banyak lagi jenis-jenis kampung tematik lainnya di Semarang, seperti kampung Jajan Pasar yang menjadi sentra penjualan dan eduwisata ragam jajanan pasar, atau kampung Konveksi yang kini mampu memproduksi ribuan potong kaos dan jaket per minggu.

Ke semuanya memiliki ciri khas, gaya, serta produk menarik bagi wisatawan yang berburu kuliner atau oleh-oleh. Ke depannya, tren dan konsep kampung tematik ini akan terus menjadi salah satu opsi bagi pemerintah daerah dalam menggali potensi pariwisata di daerahnya.

Kampung-kampung Tematik Semarang

Kampung Batik Rejomulyo

Jl. Batik Gedong, Rejomulyo, Semarang

Kampung Alam Malon

Kelurahan Gunungpati, Semarang

Kampung Misoa

Kelurahan Brumbungan, Semarang

Kampung Petis dan Mangut

Kelurahan Tambakharjo, Semarang

Kampung Bonsai

Kelurahan Ponganan, Semarang

Kampung Jajan Pasar

Jl. Stonen Timur, Gajahmungkur, Semarang

Kampung Konveksi

Desa Sodong, Purwosari, Semarang

agendaIndonesia/audha alief P

*****

Museum Zoologi Bogor, Unik Sejak 1894

Museum Zoologi Bogor adalah salah satu rujukan tentang hewan yang ada di Nusantara.

Museum Zoologi Bogor mungkin kalah pamor dibandingkan Kebun Raya atau Istana Bogor. Padahal, museum ini berada di dalam satu komplek dengan Kebun Raya tersebut.

Museum Zoologi Bogor

Ia patut menjadi salah satu pilihan alternatif tujuan wisata kala melancong di kota hujan, Bogor. Museum yang menampilkan koleksi kerangka fosil dan spesimen hewan yang diawetkan ini adalah salah satu museum fauna terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara.

Lokasinya berada di dalam area salah satu objek wisata utama Bogor lainnya, yakni Kebun Raya Bogor. Maklum, museum ini dulunya merupakan laboratorium penelitian terkait dengan botani dan zoologi yang dilakukan di sekitar wilayah Kebun Raya Bogor.

Museum Zoologi Bogor berada di dalam kompleks Kebun Raya Bogor.
Kebun Raya Bogor. Foto: shutterstock

Didirikan pada 23 Agustus 1894, tempat ini diprakarsai oleh seorang ahli dan peneliti botani dari Belanda bernama Dr. J. C. Koningsberger. Awalnya, tempat ini dinamai Landbouw Zoologish Laboratorium, merujuk kepada fungsi utamanya sebagai laboratorium penelitian.

Seiring berjalannya waktu, selain melakukan kegiatan penelitian terhadap flora dan fauna, Koningsberger kemudian juga berupaya mengumpulkan dan menghimpun koleksi spesimen hewan-hewan yang pernah ditemuinya selama berada di Indonesia.

Dari kegiatan inventarisasi kekayaan fauna Indonesia tersebut, maka pada 1901 dibangunlah gedung tambahan sebagai ruang koleksi dan pameran. Fungsi tempat ini pun turut bertambah sebagai museum dan sarana edukasi untuk umum, hingga saat ini.

Nama tempat ini pun sempat berubah beberapa kali. Misalnya, pada masa setelah kemerdekaan, museum ini berganti nama menjadi Museum Zoologicum Bogoriense. Kemudian sempat berubah-ubah, sampai akhirnya ditetapkan bernama resmi Museum Zoologi Bogor.

Zoologi sendiri merupakan istilah dari bahasa Yunani yang berasal dari gabungan dua kata, zoios dan logos. ‘Zoios’ artinya hewan, sedangkan ‘logos’ adalah ilmu atau studi mengenai sesuatu. Jadi, zoologi adalah studi dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hewan.

Dengan luas lahan sebesar, 1.500 m2 dan luas bangunan sekitar 750 m2, tempat ini memiliki tujuh ruangan utama yang berisi koleksi berbagai jenis fauna, mulai dari mamalia, burung, ikan, reptil, amfibi, moluska, serangga, serta hewan invertebrata non serangga dan moluska lainnya.

Pada 1997, sempat dilakukan peremajaan yang didanai oleh Bank Dunia dan dibantu oleh pemerintah Jepang. Kendati ruangan-ruangannya diperbarui dan dilengkapi beberapa diorama, arsitektur bangunannya yang kental bergaya kolonial tetap dipertahankan hingga kini.

Museum Zoologi Bogor Kemendikbud
Pintu masuk Museum Zoologi Bogor. Foto: Kemendikbud.

Setelah rampung, pada tahun 2000 museum ini resmi dikelola oleh divisi zoologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sekarang Badan Riset dan Ilmu Pengetahuan Indonesia (BRIN). Fungsi museum Zoologi Bogor sebagai pusat penelitian, inventarisasi dan edukasi kepada masyarakat umum pun terus dilakukan sampai sekarang.

Tercatat, hingga saat ini terdapat koleksi 650 jenis mamalia, 12.000 jenis ikan, 1.000 jenis burung, 763 jenis reptil dan amfibi, 12.000 jenis serangga, 959 jenis moluska, serta 700 jenis hewan invertebrata non serangga dan moluska, seperti cumi-cumi, ubur-ubur, dan lainnya.

Dari koleksi tersebut, terdapat beberapa koleksi unik yang pantang untuk dilewatkan kala berkunjung ke museum ini. Salah satunya yang cukup legendaris adalah kerangka paus biru yang dulu ditemukan mati terdampar di pantai Pameungpeuk, Garut pada Desember 1916.

Hewan yang dikenal sebagai spesies mamalia terbesar di dunia tersebut ditemui dengan panjang mencapai 27,25 meter, dan bobotnya sekitar 116 ton. Bahkan, berat kerangka tulangnya saja disebut-sebut seberat 64 ton.

Maka tak heran dibutuhkan waktu kurang lebih sekitar dua bulan untuk dapat memindahkannya ke Museum Zoologi Bogor. Sesampainya di museum pun, dibutuhkan ruangan tersendiri untuk dapat menyimpan kerangkanya secara utuh, lantaran ukurannya yang begitu raksasa.

Koleksi lain yang cukup unik adalah badak Jawa, salah satu satwa langka yang dilindungi. Konon populasinya kini hanya sekitar puluhan ekor, dan mayoritas habitatnya saat ini berada di taman konservasi Ujung Kulon, Banten.

Badak yang memiliki ciri khas bercula satu dan kecil ini menjadi langka dan terancam punah akibat kerap diburu untuk diambil culanya. Tak terkecuali badak berbobot sekitar dua ton tersebut yang juga mati oleh pemburu cula badak.

Badak itu kemudian disebut-sebut sebagai salah satu badak Jawa terakhir yang hidup di area Tasikmalaya. Karena tak sempat dipindahkan ke Ujung Kulon, akhirnya setelah wafat badak tersebut diabadikan di dalam museum pada 1934.

Selain itu, terdapat pula sampel kulit beserta foto dari komodo yang ditemukan pada tahun 1912 oleh Pieter Antonie Ouwens, direktur Landbouw Zoologish Laboratorium pada saat itu. Ini adalah pertama kalinya spesies komodo ditemukan dari ekspedisi di area Nusa Tenggara.

Yang juga tak kalah unik, ruangan untuk menyimpan spesimen burung memiliki kriteria khusus. Untuk menjaga spesimen agar senantiasa awet dan tidak rusak, maka suhu ruangan selalu dikondisikan setidaknya dalam suhu sekitar 22 derajat Celsius.

Bahkan, koleksi yang terdapat di museum ini tak hanya meliputi satwa nusantara saja. Beberapa di antaranya merupakan hewan-hewan yang ditemukan di negara-negara lain, seperti misalnya kepiting laba-laba Jepang yang merupakan kepiting terbesar di dunia.

Mengingat lokasinya yang masih berada di dalam wilayah Kebun Raya Bogor, untuk dapat masuk ke dalam perlu membayar tiket masuk menuju Kebun Raya Bogor terlebih dulu. Harganya Rp 16,5 ribu untuk hari biasa dan Rp 26,5 ribu saat akhir pekan.

Kemudian, lokasi museum ini berada bersebelahan dengan gedung Balai Industri Agro. Dari pintu masuk Kebun Raya Bogor, akan terdapat papan penunjuk arah menuju ke museum. Di dalam museum juga ada denah ruangan per kategori hewan, sehingga tak perlu takut tersasar.

Harga tiket masuk ke dalam museum adalah Rp 15 ribu untuk hari biasa, serta Rp 25 ribu kala akhir pekan. Jam operasional museum mulai dari jam 08.00 sampai 15.00 di hari biasa, sedangkan saat akhir pekan buka lebih awal pada jam 07.00.

Museum Zoologi Bogor; Jl. Ir. H. Juanda Nomor 9, Bogor

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Goyang Lidah ala Temanggung, 5 Yang Unik

Goyang lidah ala temanggung, Jawa Tengah di antaranya ada sego gono.

Goyang lidah ala Temanggung mungkin belum banyak yang hapal luar kepala. Maklum, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah masih belum menjadi destinasi utama. Kota kecil ini biasanya cuma dilewati jika orang hendak menuju Wonosobo dan Dataran Tinggi Dieng.  

Goyang Lidah ala Temanggung

Temanggung mungkin lebih dikenal sebagai salah satu penghasil kopi. Ya, sebagai penikmat kopi, Temanggung tentu tak asing. Kabupaten ini dikenal sebagai penghasil kopi terbesar di Jawa Tengah. Kopinya juga dipertimbangkan masyarakat dunia saat berhasil masuk delapan besar festival kopi di Swedia dan dipamerkan di pergelaran bertajuk Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Atlanta, Amerika Serikat. 

Menyeruput secangkir kopi tentu lebih nikmat jika dipadu dengan camilan, entah ringan maupun berat. Dan Temanggung punya punya padanan untuk kopinya. Tertarik? Ini ada 5 yang bisa jadi pilihan.

Sego Gono

Inilah makanan khas Temanggung yang kini jarang ditemukan di pasar-pasar tradisional. Namun, penganan ini bisa ditemukan di perhelatan tertentu. Sego gono disajikan ala kadarnya, tapi cita rasanya sama sekali tak sekadarnya. Nasi kukus berbumbu ini dilengkapi mbayung (daun lembayung, daun dari kacang panjang), kubis, tempe, teri, kacang, dan parutan kelapa muda. Aromanya begitu menggoda. Saat disantap hangat-hangat, rasanya jempolan.

Bila ditambahkan ikan asin goreng atau rempeyek, hmm… semakin enak. Kenikmatan ini bisa jadi timbul karena kesungguhan juru masaknya. Bisa juga karena menggunakan dandang gerabah dan kukusan bambu. Atau bisa jadi karena teknik mengukus dengan memperhatikan urutan, seperti nasi-sayuran-nasi-sayuran-dan seterusnya. Tak perlu merogoh kantung lebih dari Rp 5 ribu untuk dapat menikmati seporsi sego gono.

Pasar Papringan; Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kabupaten Temanggung

Pasar Entho; Jalan Diponegoro, Parakan,Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung masih jarang ditengok orang, padahal banyak yang bisa jadi teman ngopi.
Kupat tahu dari Temanggung hampir mirip dengan saudaranya di Magelang. Foto: Dok. shutterstock

Kupat Tahu

Jarak Magelang ke Temanggung tak lebih dari satu jam perjalanan. Tak ayal,  kulinernya pun terpengaruh. Salah satunya ditandai dengan keberadaan kupat tahu. Penganan ini berisi potongan ketupat, tahu goreng, dan tauge, sama seperti yang disajikan di Magelang.

Selain itu, seporsi kupat tahu dilengkapi dengan bakwan sayur, potongan kol, cincangan kubis atau seledri, guyuran bumbu kacang setengah cair dengan rasa lebih manis dan gurih–karena dipadukan dengan gula merah cair, dan bawang goreng. Nah, seporsi kemewahan kupat tahu yang disajikan diganjar tak lebih dari Rp 15 ribu. 

Kupat Tahu Batoar; Jalan Gilingsari Pandean, Kabupaten Temanggung

Bakso Lombok Uleg

Bakso seoertinya hanya sajian biasa. Namun, di Temanggung, lain ceritanya. Ada bakso lombok uleg yang dikenal sejak 1950-an dan telah melekat dengan daerah tersebut. Tak sulit ditemukan. Jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer arah timur Alun-alun Temanggung, tepat di ruas Jalan Sudirman. Warung Bakso Lombok Uleg Pak Di, demikianlah warung itu dikenal.

Seporsi bakso lombok uleg seharga Rp 14 ribu terlihat punya tampilan berbeda. Hal yang pertama dilakukan penjual setelah pelanggan memesan menu adalah menghaluskan (uleg, dalam bahasa Jawa) cabai rawit di mangkuk. Tingkat kepedasannya dapat disesuaikan, yakni lima cabai untuk kategori sedang dan sepuluh cabai untuk kategori pedas. Setelah itu, potongan-potongan ketupat, tahu, dan bakso dimasukkan, lantas  disiram kuah kaldu panas. Pelengkapnya adalah kecap, bukan saus atau sambal.

Bakso Lombok Uleg Pak Di; Jalan Sudirman Nomor 48 A, Kabupaten Temanggung

Goyang lidah ala Temanggung ternyata banyak ragamnya, dari yang berkuah atau berbumbu kacang.
Pecel khas Temanggung dengan daun selada air. Foto: Dok. shutterstock

Pecel Kenci Pikatan

Jika ingin menikmati olahan selada air atau kenci–sebutan masyarakat Temanggung untuk selada air, seporsi pecel kenci Pikatan bisa jadi jawabannya. Di Pelataran Parkir Pikatan Water Park yang berada sekitar 3 kilometer arah tenggara pusat Kota Temanggung, beberapa warung makan sederhana menyajikan menu itu. Kenci Pikatan disajikan bersama mi kuning dan bumbu kacang yang sudah ditumbuk halus dengan tingkat pedas sesuai dengan selera. Seporsi pecel mi dihargai Rp 6 ribu. Bila tambah nasi putih, harganya menjadi Rp 10 ribu. 

Meski tampilannya biasa, manfaat mengkonsumsi kenci tidak main-main. Selain kaya akan kandungan vitamin sayuran rendah kalori ini mengandung fitonutrien alami yang berperan sebagai antioksidan. 

 Pecel Kenci Pikatan; Pikatan Water Park; Jalan Raya Pikatan Mudal, Kabupaten Temanggung

Jajan Pasar Temanggung

Bila singgah di Pasar Entho yang berjarak sekitar 10 kilometer arah barat laut dari Kota Temanggung, kemungkinan Anda akan teringat dengan Pasar Gang Baru di kawasan Pecinan, Semarang. Meski barang dagangan yang dijajakan berbeda, penampakannya hampir sama. Lantas, apa yang membuat Pasar Entho ini istimewa? Bisa jadi karena beragam penganan tradisional khas Temanggung yang dijual di sini, mulai Rp 1.000. 

Sebut saja entho cotot (singkong yang telah dihaluskan, kemudian diisi gula pasir dan digoreng), ndas borok (terbuat dari parutan singkong/ketela pohon, kelapa, dan gula jawa yang kemudian dikukus), pipis kopyor (berisikan roti tawar, pisang, kelapa kopyor, dilengkapi kuah santan), cetot (singkong yang digiling halus kemudian dicampur dengan kelapa parut sebelum dikukus, dimakan bersama srundeng manis), ketan jali (terbuat dari ketan dengan bulir besar, diolah dengan santan, dimakan dengan parutan kelapa yang sudah dimasak dengan gula merah), buntil daun lumbu (daun talas yang diisi dengan teri, petai Cina, tempe, kelapa parut), dan masih banyak lagi.

Pasar Entho; Jalan Dipenogoro, Parakan, Kabupaten Temanggung

TL/agendaIndonesia

*****

Sirup Kawista, 1 Minuman Kola Asli Jawa

Sirup Kawista adalah minuman lokal dengan rasa kola.

Sirup Kawista rasanya masih cukup banyak orang yang belum mengetahuinya. Bahkan namanya saja masih cukup asing. Padahal bahan minuman ini sudah ada di Rembang, Jawa Tengah, sejak tahun 1925. Hampir satu abad.

Sirup Kawista

Mendengar nama Rembang rasanya yang terbayang di benak orang adalah RA Kartini, pendekar emansipasi itu. Tapi kota di pantai utara Jawa Tengah ini bukan saja tentang pahlawan nasional tersebut.

Sekali-kali jika dolan ke Rembang untuk napak tilas perjuangan Kartini, pulangnya jangan lupa membawa sirup kawista sebagai buah tangan. Ada juga beberapa oleh-oleh khas kota ini, seperti krupuk udang dan krupuk ikan, atau beberapa camilan ringan seperti dumbeg atau kue satru.

Sirup kawista merupakan produk khas Kabupaten Rembang.

Khusus minuman kawista, pernahkah pelancong mencobanya? Sirup ini sering dinggap sebagai minuman kola atau root beer dari Jawa. Tentu, bukan berarti sirup ini sama persis dengan produk minuman dari Amerika Serikat itu.

Kola dari Jawa ini bukan terbuat dari hasil penelitian, melainkan dari pengolahan buah kawis. Cara mengkonsumsinya bisa sederhana. Misalnya, seperti sirup biasa. Cukup ditambahkan air putih dan es. Tapi kalau mau seru, bisa juga ditambahkan air soda dan es. Rasanya nggak kalah dari minuman kola yang terkemuka itu.

Omong-omong soal kawis, buah ini sesungguhya termasuk buah langka. Ia masih satu keluarga dengan jeruk meski ukurannya biasanya lebih besar dan cenderung mirip dengan melon.

Warna kulitnya juga berbeda jika dibandingkan dengan jeruk pada umumnya, yakni gelap kecokelatan. Kulitnya cenderung lebih keras. DI Indonesia sesungguhnya ada beberapa daerah penghasil kawis. Khusus Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, bisa dianggap sebagai sentra penghasil buah ini.

Buah Kawis Wikipedia
Buah kawis sebagai bahan pembuat sirup kawista. Foto: dok wikipedia

Buah kawista bentuknya menyerupai buah melon, namun ukurannya lebih kecil dengn kulit atau tempurung yang keras. Buah kawista disebut juga java cola karena rasanya mirip cola atau sarsaparilla.

Di Rembang, seperti diceritakan di atas, kawis bisa dijadikan bahan sirup kawista, kecap, selai, hingga madu mongso. Namun, khusus untuk sirup kawista, minuman ini dijadikan produk unggulan dari kabupaten yang ada di pesisir utara Jawa tersebut.

Seperti disebut di muka, sirup kawista ada satu merek yang sudah ada sejak 1925, yakni Cap Dewa Burung. Awalnya produk ini menggunakan merek Cap Jago. Namun, sejak 1952, namanya berubah jadi Cap Dewa Burung.

Buah kawis dipercaya mempunyai manfaat untuk mengobati penyakit antara lain: panas, sebagai tonikum, dan obat sakit perut.

Di Kabupaten Rembang sendiri sebenarnya terdapat beberapa produsen sirup buah kawista ini. Sirup Kawista memang telah menjadi oleh-oleh khas Rembang dan terkenal di seluruh Indonesia bahkan hingga luar negeri.

Selain merek Dewa Burung yang terkenal, ada pengusaha lain yang juga memproduksi sirup kawista ini, yaitu Imam Tohari di Desa Gegunung Kulon, Jalan Gajah Mada, Gg. Dorongan Tengah Nomor 7 Rembang.

Begitupun sirup buah kawista Dewa Burung, merupakan produk home industry yang dikelola oleh Nyoo Tiam Kiem, paling dikenal. Produk sirup buah kawista Dewa Burung yang asli hanya dijual di Rembang. Namun dari luar daerah (Jakarta, Surabaya, Semarang, Palembang dan lain-lain) sering memesan, yang kemudian setelah beberapa hari diambil.

Setiap hari home industry sirup buah kawista Dewa Burung selalu berproduksi, besarnya produksi tergantung permintaan. Biasanya produksi akan meningkat menjelang lebaran. Rasa sirup buah kawista berbeda dari sirup buah lainnya. Sirup buah kawista merupakan gabungan rasa manis, sepet, pahit dan segar.

Sirup Kawista
Sirup kawista yang disedu dengan air soda mejadi minuman kola.

Untuk membuat sirup, buah kawista akan dibuat ekstrak terlebih dahulu. Proses pengekstrakan merupakan rahasia perusahaan karena inilah yang membedakan olahan kawista berbeda dengan produk lain. Ekstrak buah kawista dicampur dengan gula tebu yang dicairkan.

Berbeda dengan sirup pada umumnya, sirup kawista memiliki perpaduan rasa yang unik, yaitu perpaduan antara sirup plus soda yang legit sehingga membuat sirup ini dijuluki sebagai cola van Java atau kola-nya Jawa. Minuman ini jarang didapatkan di kota-kota lain.

Nah, jika sedang dolan ke Rembang dan pengin mencicipi segarnya es sirup kawista, bisa mampir ke Toko Kawista Dewa Burung yang berlokasi di Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 45, Rembangan, Tasikagung, Kecamatan Rembang Kota. Tokonya buka dari pukul 08.00 sampai 20.00 WIB.

Bagi orang Jakarta yang pingin mencoba kola Jawa ini bisa mampir di Toko Nusa Indah di Kebayoran Baru. Atau membeli lewat market place.

agendaIndonesia

*****