Yadnya Kasodo, 1 Persembahan Bumi Tengger

Yadnya Kasodo oleh masyarakat Tengger di kawasan gunung Bromo tahun ini berlangsung pada 24 hingga 26 Juni. Di tengah keprihatinan kondisi pandemi, upacara adat masyarakat Tengger yang selalu diselenggarakan pada tanggal 14 bulan ke-10 dalam kalender Jawa, tepat pada saat bulan purnama penuh. Upacara dilakukan dengan lebih sepi dibanding kondisi normal.

Yadnya Kasodo

Masing-masing delegasi dari desa-desa suku Tengger, yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, mengarak guci bambu berisi air suci Mendhak Tirta. Mereka berkumpul di dua pintu gerbang pendakian Bromo, sebelum berjalan beriringan menuju Puncak Bromo. Rombongan suku Tengger dari Pasuruan berkumpul di gerbang Desa Pakis Bincil. Sedangkan rombongan suku Tengger yang tinggal di Probolinggo, Lumajang, dan Malang berangkat bersama dari pintu gerbang Cemoro Lawang, sekitar 30 kilometer dari Pura Luhur Kahyangan—yang menjadi lokasi tujuan. Arak-arakan ini menjadi tontonan yang menarik. Warga Tengger mengenakan pakaian adat dan membawa berbagai sesaji upacara, yang menimbulkan bau kemenyan.

Seminggu sebelum puncak upacara Kasodo digelar, telah dilakukan prosesi Mendhak Tirta, yakni upacara mengambil air suci dari empat sumber mata air yang dikeramatkan suku Tengger. Di Pasuruan, suku Tengger mengambil air suci di Gua Widodaren, sementara suku Tengger Probolinggo mengambil air suci di air terjun Madakaripura—yang dipercaya sebagai tempat pertapaan Gadjah Mada (1300-1364). Suku Tengger di Malang dan Lumajang mengambil air suci dari Danau Ranu Pane, kaki Gunung Semeru. Air suci itu kemudian diarak ke Pura Luhur Kahyangan pada puncak upacara Kasodo.

Siang 24 Juni, diadakan upacara Piodalan di Pura Luhur Kahyangan, meliputi upacara Melasti di pagi hari dan Mecaru di sore hari. Menjelang tengah malam, arak-arakan tiba di aula Pura Luhur Kahyangan. Ritual pun dimulai. Pertama, dilakukan pembacaan kitab suci suku Tengger di Bromo tentang sejarah upacara Kasodo. Kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan kitab puji-pujian Puja Stuti. Oleh sang dukun senior, air suci dipercikkan ke semua sesaji yang terkumpul. Menjelang matahari terbit, dilaksanakan puncak acara Kasodo, yakni pelantikan dukun-dukun baru untuk menggantikan dukun senior. Dukun-dukun ini sebelumnya harus mempertontonkan kemampuan melantunkan berbagai mantra suci suku Tengger.

Dukun memiliki peran penting dalam masyarakat Tengger. Merekalah yang diberi mandat untuk memimpin semua ritual, dari urusan perkawinan, upacara adat, hingga kegiatan keagamaan. Acara berlangsung hingga matahari terbit dan ditutup dengan upacara melarungkan sesaji ke kawah Gunung Bromo. Kegiatan inilah yang paling menarik bagi para turis. Ribuan warga Tengger melempar sesaji berupa kambing, ayam, beras, bunga, bahan makanan, dan lain-lain ke dalam kawah. “Tahun ini saya berkorban sayur-sayur palawija dari hasil sawah, dan dua ekor ayam. Empat tahun lalu berkorban kambing,” ucap Kartono, warga Tengger di Desa Ngadisari.

Yadnya Kasodo merupakan upacara rituan tradisional masyarakat Tengger yang sudah berjalan beberapa abad.
Masyarakat berjalan menuju ke arah Gunung Bromo. Foto: Dok. unsplash

Diperkirakan, upacara Kasodo telah diadakan setiap tahun sejak abad 16. Tradisi itu muncul setelah keruntuhan dinasti kerajaan Majapahit (1293-1527). Kasodo adalah satu-satunya upacara adat Hindu Jawa skala besar yang masih berlangsung hingga kini. Konon, upacara ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat suku Tengger, yang menganggap dirinya adalah keturunan pasangan Roro Anteng dan Joko Seger, dua bangsawan Majapahit yang tinggal di Gunung Bromo setelah kerajaan itu runtuh.

Bertahun-tahun, pasangan Roro Anteng dan Joko Seger tidak memiliki keturunan. Hingga suatu saat mereka bertapa di atas puncak Bromo meminta kepada Tuhan agar diberi keturunan. Akhirnya, permintaan mereka dikabulkan. Roro Anteng melahirkan 25 anak. Sebagai rasa syukur, Roro Anteng dan Joko Seger melarungkan berbagai hasil pertanian dan harta kekayaan ke kawah Gunung Bromo setiap malam purnama bulan ke-10 tahun Jawa—tradisi yang kemudian diteruskan oleh anak-cucunya hingga kini.

Ke-25 anak Roro Anteng dan Joko Seger itulah yang menjadi cikal bakal keturunan suku Tengger. “Kasodo ini seperti acara reunian. Seluruh orang keturunan Tengger di mana pun berada, akan datang ke sini setiap perayaan Kasodo. Kini ada sekitar 125 ribu warga suku Tengger, tidak semua tinggal di sekitar Bromo,” ujar Bambang Suprapto, tokoh masyarakat Tengger di Desa Ngadisari.

Bambang menjelaskan, banyak orang Tengger tidak mau lagi menjadi petani, sehingga menekuni profesi lain dan tinggal di berbagai kota. Tapi setiap Kasodo, mereka kembali ke sini. Kasodo sebenarnya tidak hanya milik orang Tengger. Ribuan wisatawan datang ke Bromo mengikuti upacara Kasodo setiap tahun. Beberapa turis bahkan rela ikut bertarung di lereng kawah memperebutkan sesaji yang dilempar ke kawah. “Ngalap berkah Kasodo, kalau dapat barang dari sesaji Kasodo itu pertanda akan dapat keberuntungan baik,” ujar Sutikno, pedagang pasar dari Surabaya, yang mengaku setiap tahun selalu menghadiri upacara Kasodo. l Wahyuana

Tips Wisata Kasodo

1. Rangkaian upacara sudah digelar sepekan sebelum acara puncak. Untuk mendapatkan foto- dokumentasi budaya, manusia, dan panorama alam yang komplet, datanglah seminggu sebelum acara puncak dimulai. Biasanya atraksi wisatawan ke Bromo ditutup selama 3-4 hari atau selama masa puncak upacara Kasodo.

2. Kasodo menjadi ritual yang menarik perhatian banyak wisatawan. Rumah penduduk di sekitar Bromo akan dipenuhi pengunjung, sebaiknya pesan akomodasi sejak jauh-jauh hari.

3. Siapkan fisik secara prima karena Anda akan naik-turun gunung mengikuti iring-iringan warga Tengger dengan rute panjang dan medan terjal.

4. Jangan lupa membawa perlengkapan untuk menghadapi suhu 7-20 derajat Celsius.

Wahyu/TL/agendaIndonesia

*****

Taman Nasional Baluran, 1 Lanskap Afrika

Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur, sering disebut Africa van Java. Foto: shutterstock

Taman Nasional Baluran di Jawa Timur menjadi alternatif wisata alam dan konservasi flora dan fauna Indonesia. Tempat ini kerap dijuluki Africa van Java karena bentang alamnya yang mirip dengan padang sabana Afrika dan terletak di kawasan desa Wonorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Taman Nasional Baluran

Nama Baluran karena kawasan taman nasional tersebut juga merupakan lokasi Gunung Baluran. Meski berada di wilayah kabupaten Situbondo, tetapi lingkup wilayahnya yang begitu luas membuatnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Banyuwangi.

Diresmikan pada 6 Maret 1980, Taman Nasional Baluran memiliki luas sekitar 25 ribu helktare, yang mayoritas merupakan padang sabana seluas 10 ribu hektare. Ini merupakan padang sabana terluas di Pulau Jawa.

Taman Nasional Baluran selain masuk Kabupaten Situbondo, sebagain juga masuk Kabupaten Banyuwangi.
Kawanan Fauna di Taman Nasional Baluran. Foto: Dok. shutterstock

Awalnya tempat ini ditetapkan sebagai area suaka margasatwa pada jaman pendudukan Belanda di tahun 1937. Sebelum akhirnya pada 6 Maret 1980, bertepatan dengan Hari Strategi Pelestarian Sedunia dan Kongres Taman Nasional Sedunia di Bali, pemerintah menetapkan statusnya sebagai taman nasional.

Wilayah Taman Nasional Baluran terdiri dari padang sabana, hutan bakau, pantai dan pegunungan, yang menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna di dalamnya. Sekitar 40 persen atau lebih dari sepertiga lahannya merupakan padang sabana.

Tercatat sekitar 444 jenis flora yang dapat ditemukan di sini, yang meliputi 265 tumbuhan obat, 24 tumbuhan eksotik dan 37 jenis tumbuhan mangrove. Contohnya seperti Pilang, Mimba, Asam Jawa, Kemiri, Salam, Kepuh, Api-api dan lain sebagainya.

Sedangkan jenis-jenis fauna yang ada meliputi 28 jenis mamalia, 155 jenis burung, serta beberapa jenis serangga, reptil dan ikan lainnya. Dari jenis-jenis fauna tersebut, sekitar 47 di antaranya termasuk spesies langka yang dilindungi.

Beberapa fauna yang dapat ditemui semisal kijang, kancil, banteng, kera abu-abu ekor panjang, macan tutul Jawa, kucing bakau, burung merak, burung rangkong, burung bangau tongtong, ayam hutan dan lain lain. Banteng sendiri menjadi maskot dari Taman Nasional Baluran.

Selain berfungsi sebagai tempat konservasi flora dan fauna, serta tempat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan alam, Taman Nasional Baluran juga menjadi spot ekspedisi dan wisata alam. Ada beberapa titik-titik lokasi yang bisa anda kunjungi di sini.

Taman Nasional Baluran menjadi tempat untuk mempelajari ratusan flora dan fauna yang khas pulau Jawa.
Dabana Bekol sebagai landmark Baluran. Foto: Dok. shutterstock

Salah satunya adalah Gua Jepang, yang berada di dekat pintu masuk Taman Nasional ini. Dinamai demikian karena dulunya gua ini digunakan sebagai gudang amunisi dan benteng pertahanan tentara Jepang pada masa pendudukan Jepang.

Gua seluas 12 meter persegi ini kini sering menjadi tempat burung merak untuk kawin, biasanya pada sekitar Oktober hingga November. Selain itu, tempat ini juga kerap menjadi lokasi untuk berkemah.

Masuk lebih ke dalam, wisatawan akan menemukan hutan Evergreen. Sesuai namanya, hutan ini selalu terlihat hijau dan rimbun sepanjang tahun karena tanahnya yang subur dan dialiri air. Melewati hutan ini dengan mobil, pengunjung bisa menemui beberapa satwa liar di dalamnya seperti kijang, burung merak, macan tutul Jawa, dan ayam hutan.

Selepas melewati hutan Evergreen, maka pengunjung akan tiba di Padang Sabana Bekol. Ini adalah salah satu bagian utama dari Taman Nasional Baluran. Pemandangan padang rumput yang begitu luas, dengan beberapa pohon besar dan latar belakang pegunungan, menjadi daya tarik utama area ini.

Tersedia menara pandang setinggi 30 meter untuk bisa melihat sekitar Padang Sabana Bekol dengan daya pandang lebih baik. Kawanan kijang, banteng dan lain-lain bisa terlihat di sini. Ada juga area wisma penginapan bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman menginap di alam liar.

Taman Nasional Baluran menjadi tempat wisata keluarga termasuk untuk menginap, berkemah atau treking.
Sabana Bekol dengan latar belakang pegunungan layaknya Afrika. Foto: shutterstock

Satu yang perlu dicatat, di Padang Sabana Bekol ini juga terkadang bisa terlihat ular yang melintas. Maka setiap pengunjung diharapkan agar tetap berhati-hati dan menjaga jarak agar tidak mengganggu.

Tidak jauh dari Padang Sabana Bekol, berjarak sekitar tiga kilometer pengunjung bisa menemukan pantai Bama dan Balanan. Pantai-pantai ini dikenal dengan pemandangan pasir putih dan hutan mangrove yang indah. Selain itu, pantai ini juga jadi habitat kucing bakau, burung rangkong dan kera abu-abu berekor panjang.

Tak hanya itu, di pantai-pantai tersebut wisatawan juga bisa melakukan aktivitas seperti memancing dan snorkeling sambil melihat hamparan terumbu karang dan beragam biota laut yang cantik. Tersedia pula penginapan bagi yang ingin menikmati suasana pantai yang masih alami dan berombak tenang.

Selain tempat-tempat tersebut, masih ada spot wisata lainnya seperti Air Kacip dan Manting, yaitu sumber air alami yang tak pernah habis sepanjang tahunnya. Ada juga Curah Tangis, area khusus bagi yang ingin berolahraga panjat tebing, dengan tebing setinggi 10-30 meter.

Jika berminat untuk datang, ada beberapa hal yang perlu diingat. Misalnya, jangan membawa makanan untuk diberikan kepada satwa liar. Pengunjung juga disarankan membawa topi dan payung, agar lebih terlindung dari terik panas dan hujan. Yang membawa mobil juga perlu berhati-hati dan tidak ngebut sembarangan.

Harga tiket masuknya dibedakan bagi wisatawan domestik dan manca negara. Untuk wisatawan domestik tiket masuk pada hari biasa seharga Rp 16,5 ribu, sementara hari libur Rp 18,5 ribu. Adapun turis asing perlu membayar ekstra, pada hari biasa dikenai Rp 150 ribu dan hari libur Rp 225 ribu.

Bagi yang membawa kendaraan bermotor, tarif parkir juga dibedakan. Untuk hari biasa pengendara motor membayar Rp 5 ribu, mobil Rp 10 ribu dan bus Rp 50 ribu. Sedang pada hari libur pengendara motor bertarif Rp 7,5 ribu, mobil Rp 15 ribu dan bus Rp 75 ribu.

Taman Nasional Baluran buka untuk umum setiap hari dari jam 07.30 sampai jam 16.30. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0333) 461650, via email di balurannationalpark@gmail.com atau kunjungi situs resmi balurannationalpark.id dan laman resmi Instagram @btn_baluran.

Taman Nasional Baluran

Jl. Raya Banyuwangi-Situbondo km 35, Desa Wonorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur

Telp. (0333) 461650

Email balurannationalpark@gmail.com

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Rawon Surabaya, Ini 5 Resto Paling Enak

Rawon Surabaya terkenal dengan sebutan black soup. Foto: dok. liputa6

Rawon Surabaya adalah masakan tradisional khas kota Pahlawan yang terkenal dengan cita rasa gurih dan kuahnya yang berwarna hitam pekat. Sejarah rawon Surabaya sendiri kabarnya sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit bahkan ada yang menyebut sudah ada sejak 1000 tahun lampau, namun lebih populer pada masa kolonial Belanda.

Rawon Surabaya

Soal asal-usul nama rawon Surabaya ada sejumlah versi. Satu versi menyebut nama “rawon” berasal dari bahasa Jawa “rau” yang berarti daging dan “wan” yang berarti matang. Awalnya, rawon hanya dimasak pada acara-acara adat tertentu seperti saat upacara potong gigi, namun kini telah menjadi salah satu makanan yang paling terkenal di Surabaya.

Versi lain berdasar sebuah catatan menyebut rawon Surabaya ini sudah ada sejak 1.000 tahun lalu. Ini bedasar penemuan sebuah prasasti bernama Prasasti Taji. Dalam prasasti tersebut rawon disebut sebagai hidangan dengan nama rarawwan.

Hal tersebut tercantum dalam prasasti Taji, tercatat pada 901 Masehi  yang ditemukan di dekat Ponorogo Jawa Timur. Dalam prasasti itu, rawon disebut dengan rarawwan atau sayur rawon.

Rawon Surabaya kono sudah berusia lebih dari 1000 tahun.
Rawon kabarnya sudah berusia lebih dari 1000 tahun. Foto: shutterstock

Karena dicatat pada sebuah prasasti, bisa disimpulkan bahwa sajian ini dulunya hanya disantap oleh kalangan kerajaan yang mengeluarkan prasasti Taji itu.

Bukti sejarah tentang keberadaan rawon sebagai santapan kuliner kerajaan juga datang dari catatan dalam Serat Wulangan Olah-olah Warna-warni. Ini merupakan catatan resep koleksi Istana Mangkunegaran Surakarta yang dicetak pada 1926.

Rarawwan ini adalah rawon yang saat ini kita kenal. Ternyata, hidangan rawon ini juga memiliki banyak jenisnya, dengan sentuhan khas berbeda di masing-masing wilayahnya.

Bahan utama dalam pembuatan rawon Surabaya adalah daging sapi yang dipotong kecil-kecil dan dimasak dengan bumbu khas seperti kluwek (buah yang berasal dari pohon keluak), lengkuas, jahe, bawang putih, dan bawang merah.

Kuahnya yang berwarna hitam pekat dihasilkan dari campuran kluwek dan rempah-rempah tersebut. Biasanya, rawon Surabaya disajikan dengan nasi putih, tauge, daun bawang, emping, sambal dan telur asin.

Dalam sejarahnya, rawon Surabaya menjadi populer di kalangan masyarakat Jawa pada masa kolonial Belanda karena daging sapi yang menjadi bahan utamanya hanya dijual pada toko-toko yang dimiliki oleh orang Eropa. Namun, saat ini rawon Surabaya bisa ditemukan di berbagai tempat makan dan restoran di seluruh Indonesia.

Saking populernya pada Februari 2021 lalu, rawon menempati posisi pertama sebagai sup terenak se-Asia tahun 2020 versi TasteAtlas. Masyarakat barat menyebutnya sebagai black soup.

Rawon Surabaya di Banyuwangi.
Rawon meski terkenal dari Surabaya,bisa ditemui di banyak kota di Jawa Timur. Foto: shutterstock

Jika melakukan jalan-jalan ke Surabaya dan ingin menyoba kuliner ini, berikut ini adalah lima rumah makan rawon paling terkenal dan enak di Surabaya.

Rawon Setan Bu Kris

Ini merupakan salah satu rumah makan rawon yang paling terkenal di Surabaya. Tempatnya yang sederhana dan ramai, tetapi rasa rawonnya sangat lezat dan khas.

Rawon Setan Bu Kris; Jalan Kayoon Nomor 46B, Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya

Jam buka: 09.00 – 21.00 WIB

Rawon Pak Pangat

Kalau yang ini merupakan rumah makan yang legendaris di Surabaya dan telah beroperasi selama lebih dari 60 tahun. Rawon yang disajikan memiliki citarasa khas yang membuatnya menjadi favorit di kalangan warga Surabaya.

Rawon Pak Pangat; Jalan Ketintang Baru Selatan I Nomor 15, Ketintang, Kecamatan Gayungan, Surabaya

Jam buka: 08.00 – 21.00 WIB

Rawon Kalkulator

Rumah makan yang terkenal dengan konsep uniknya, yaitu menyajikan rawon dengan menggunakan kalkulator sebagai alat untuk menghitung harga pesanan. Rasa rawonnya sangat lezat dan cocok untuk dinikmati bersama teman atau keluarga.

Rawon Kalkulator; Sentra PKL Tamam Bungkul, Jalan Raya Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya

Jam buka: 07.00 – 17.00 WIB

Rawon Nguling

Ini rumah makan yang terkenal dengan rasa rawon yang pedas dan gurih. Tempatnya yang nyaman dan bersih membuat pengunjung betah untuk berlama-lama di sana.

Rawon Nguling; Jalan Rajawali Nomor 110, Perak Timur, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya

Jam buka: 07.00 – 16.00 WIB

Rawon Ibu Soepinah

Rumah makan yang sudah ada dari 1966 ini menyediakan sajian rawon yang begitu lezat ketika mendarat di lidah. Campuran rawon, nasi, dan empal srundeng akan membuat para penyantapnya ingin kembali lagi ke Surabaya.

Rawon Ibu Soepinah; Jalan Pasar Kembang Nomor 85, Wonorejo, Kecamatan Tegalsari, Surabaya

Semua jam buka tersebut dapat berubah sewaktu-waktu, jadi disarankan untuk mengkonfirmasi kembali alamat dari rumah makan yang ingin dikunjungi sebelum pergi ke sana. Ayo main ke Surabaya dan agendakan menyantap rawon.

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Kota Solo, Peninggalan Mataram Dari Abad 17

Kraton Solo Hadiningrat

Kota Solo di Jawa Tengah adalah salah satu kota yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Jawa Tengah. Berdasar Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, Solo seperti kembaran Yogyakarta.

Kota Solo

Solo di akhir pekan biasanya lebih ramai dari biasanya. Jangan tanya saat libur Idul Fitri, mirip dengan Yogyakarta, kota di jantung pulau Jawa ini bisa macet. Hotel-hotel dan penginapan habis dipesan wisatawan. Untuk makan di restoran-restoran klangenan orang bisa berjam-jam.

AgendaIndonesia mengunjungi Solo saat low season. Jauh dari libur lebaran atau akhir tahun, dan bukan di akhir pekan. Dan suasana Solo jauh lebih menyenangkan. Kami sedang liputan untuk sebuah buku pariwisata, dan Solo jadi wajib untuk ditulis.

Pilihan pertama tentu saja ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Posisinya tentu saja ada di pusat kota. Dari Jalan Slamet Siyadi, di daerah yang oleh orang Solo disebut dengan Gladak dan ditandai dengan adanya patung Slamet Riyadi, wisatawan bisa belok ke kanan dan langsung bertemu dengan Alun-alun Utara Solo. Untuk mengunjungi Kraton Solo, kita memutari seperempat alun-alun dan berbelok ke timur.

Selain bisa melihat kraton Surakarta yang masih ditinggali keluarga raja Surakarta, di sini wisatawan bisa menikmati Museum Keraton Surakarta.

Museum Keraton Surakarta biasanya dibuka pukul 9 pagi. Namun kadang pada saat-saat peak season, pengelola akan mempercepat waktu buka 30 menit lebih awal. Pemandangannya tentu sama dengan tempat wisata lainnya: rombongan keluarga tampak bergantian mengabadikan keberadaan mereka di sudut-sudut tertentu: di depan patung Pakubuwana X, di halaman luar dekat papan silsilah raja-raja, di sebelah kereta-kereta lama, bahkan berdampingan dengan  patung penggawa yang berada di bagian dalam.

Bangunan Keraton Surakarta Hadiningrat yang ada saat ini adalah yang didirikan Pakubuwana II pada 1744. Ini merupakan pengganti bangunan sebelumnya, yang hancur akibat tragedi Geger Pacinan pada 1740-1743.

Setelah berputar di museum, pengunjung bisa masuk sebentar ke halaman keraton untuk menyaksikan Panggung Sangga Buwana, yang hingga saat ini masih digunakan raja, atau sunan dalam terminologi Keraton Solo, untuk bermeditasi.

Puas berkeliling keraton Solo, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi lain: Pasar Klewer. Ini adalah tempat belanja paling legendaris di Solo. Lokasinya berada di barat keraton Solo, atau tepat di akses keluar Alun-alun Utara sebelah barat.  Boleh dikata bangunan pasar ini bersebelahan dengan alun-alun.

Pasar Klewer dua tahun terakhir menempati bangunan baru setelah terbakar pada 2014 lalu. Buat para pecinta batik, inilah surga perburuan batik. Selain menjual eceran, di sini banyak juragan batik yang menjual untuk kulakan. Tak heran jika suasana pasar ini begitu padat, karena pembeli satuan bersaing dengan pedagang yang mau beli dalam jumlah besar.

Jika tak ingin berdesakan di pasar, peminat batik bisa melanjutkan perjalanan ke arah barat. Kali ini perjalanan harus dilakukan dengan kendaraan bermotor karena lokasinya sekitar 3-4 kilometer dari alun-alun. Tujuannya adalah Laweyan. Ini adalah kampung batik.

Namun, tunggu dulu, jika setelah berkeliling Klewer waktunya pas dengan jam makan siang, ada satu pilihan kuliner legendaris di seputar pasar ini yang patut dicoba: Tengkleng Ibu Edi. Ini makanan seperti gulai kambing namun biasanya tanpa santan. Jikapun memakai, umumnya sangat tipis. Hampir tanpa memakai daging, tapi tulangan kambing dengan lemak yang mak nyuss. Bagi yang tak menyukai kambing, di pasar klewen terdapat satu lantai yang berisi jualan makanan.

Awalnya Tengkleng Bu Edi, yang mulai ada di Klewer sejak 1971, kiosnya berada di bawah Gapura Klewer. Tapi, sjak ada peraturan pedagang tidak boleh berjualan di bawah gapura Klewer, akhirnya Tengkleng Bu Edi pindah di Pendopo Taman arkir Pasar Klewer.

Dari Klewer, perjalanan berlanjut ke Laweyan. Lokasinya masih berada di seputaran Jalan Dr. Rajiman, ini adalah jalan terusan dari depan Pasar Klewer. Lurus ke arah barat.

Ada sejumlah outlet batik yang cukup besar di sepanjang Laweyan. Namun, jika punya cukup waktu, di belakang jalan besar ini terdapat sentra-sentra produksi batik. Rumah-rumah juragan sekaligus tempat produksinya. Jika ingin memesan dalam jumlah besar, kita bisa langsung ke sini.

Dari Laweyan, hari itu kami masih meneruskan perburuan batik dan sejarah Solo. Kami menuju Jalan Slamet Riyadi, tepatnya ke kawasan Sriwedari. Ini kawasan kebon binatang lama Solo. Sekarang sudah tidak lagi. Yang masih dipertahankan adalah gedung pertunjukan wayang orang Sriwedari pada malam hari

Tapi AgendaIndonesia tidak sedang mau bersantai nonton wayang. Siang itu, ada dua tujuan:  Museum benda-benda kuno peninggalan Kraton Surakarta dan Museum batik Danarhadi.

Sebagian benda-benda peninggalan Kraton Solo memang disimpan di Museum Radyapustaka, yang berada di Jalan Slamet Riyadi, tak jauh dari Taman Sriwedari. Jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari Keraton Surakarta. Tak cuma peninggalan kraton, di sini juga dikoleksi barang-barang arkeologi terkait kota Solo. Menarik sesungguhnya, sayangnya kurang terawat dengan baik. Namun lumayan untuk menambah pengetahuan.

Destinasi terakhir adalah Museum Batik Danarhadi. Tempatnya bisa dicapai dengan jalan kaki sekitar 5 menit dari Radyapustaka. Menjadi satu dengan butik milik merek batik terkenal itu. Tak harus membeli batik di sini untuk bisa menikmati perjalanan batik dari waktu ke waktu. Cukup membeli tiket masuk di meja kasir.

Sebuah pengalaman menarik, karena di sini kita bisa mempelajari beragam batik berikut motifnya. Pada masa lampau, penggunaan motif tertentu di kalangan bangsawan kraton. Bahkan ada motif batik yang hanya dipergunakan jika seorang bangsawan pria mendekati perempuan yang ditaksirnya. “Tanpa harus nembak, si perempuan tahu tamunya naksir dia,” kata pemandu di Museum Danarhadi.

Ia lantas juga bercerita ada berbedaan motif antara Solo dan Yogyakara, meskipun namanya mirip. Termasuk kepentingan dalam upacara tradisional. Di akhir tur, kita akan mendapat atraksi membatik. Baik tulis maupun batik cap.

Seharian AgendaIndonesia menikmati sejarah Solo dan batik. Kapan Anda mengagendakan main ke Solo?

*****

Hujan Locale di Sriwedari Nomor 7 Ubud

Hujan Locale di Ubud, Bali

Hujan Locale, ya nama restoran di kawasan Ubud, Gianyar, Bali ini memang demikian. Entahlah, adakah nama itu terinspirasi dari hujan yang cukup sering turun di kawasan Ubud, ataukah itu makna kiasan yang terdengar unik saja. Namun, ini bisa jadi pilihan untuk nongkrong di Ubud.

Hujan Locale di Ubud

Di tengah keramaian tak jauh dari Pasar Ubud,Bali, saya menemukan juga Jalan Sri Wedari. Tidak terlalu lebar, ukuran dua mobil. Yang saya cari ternyata tidak jauh dari mulut jalan. Berada di sisi kiri, saya pun melihat rumah lawas bertingkat dengan jendela yang terbuka. Ada tulisan jelas “hujan” yang begitu jelas di dindingnya dalam warna putih, kemudian di bagian bawah baru ada tulisan ‘Locale”, yang tidak terlalu tampak karena warna tulisannya cokelat, serupa dengan dinding.

Hujan Locale Ubud, suasana restonya

Hujan Locale, nama yang unik untuk sebuah restoran. Saya pun menerka menu yang akan disajikan. Ubud siang itu terbilang panas hawanya. Meski masih terhitung di musim penghujan. Staf resto yang ramah yang pertama memberi kesegaran, kemudian buah- buahan tropis yang menghiasi dinding dalam warna hitam-putih, interior yang klasik, juga tentu jendela-jendela yang lebar dan terbuka membuat saya segera melupakan udara panas yang menyergap.

Siang itu, tentu saya datang untuk makan siang. Bertemu dengan Dinar dari Sarong Group. Ia telah menunggu di lantai dua, ruangan terbuka dengan lampu-lampu klasik dan kursi rotan di bagian ujung berupa bar. Kehangatan khas lokal pun terasa.

Hujan Locale memang masih kreasi dari Chef Will Meyrick, juru masak yang gandrung berkeliling Asia, sudah tentunya di Indonesia, untuk mencari tahu hidangan asli setempat. Ia lantas mengolah hidangan orisinal dari berbagai daerah ini untuk menu spesial di restorannya. Hujan Locale salah satunya, dan yang satu ini ternyata benar-benar merupakan buah tangannya berkeliling Indonesia. Sebab, menunya mayoritas khas Nusantara.

Dipilih nama “hujan” karena kata ini bermakna pada kemakmuran, masa panen, keberuntungan. “Hujan Locale sebuah apresiasi terhadap para petani yang telah mendukung resto di bawah Sarong Group selama ini. Konsepnya Indonesia sekali,” ujar Dinar.

Pilihan menunya sangat lokal. Anda bisa mencicipi bakso dan bebek Madura, seperti yang saya nikmati siang itu. Bebek yang empuk dengan sambal hijau yang menambah nafsu makan. Diberi label Madura crispy duck with sambal mango sambal hijau ikan asin manis and lemon basil, sajian yang dipatok seharga Rp 150 ribu ini memang terasa segar karena paduan lengkap tersebut.

Masih banyak kreasi lain tentunya di restoran yang dibuka pada akhir 2014 ini. Doyan olahan dari Aceh? Silakan pilih ayam tangkap, ayam dalam balutan daun pandan. Tak hanya itu, ada pula olahan kari khas Aceh, seperti Acehnese curry of sea bass with tomato okra belimbing wuluh asam kandis and curry leaf, selain udang dengan kuah kari. Penggemar daging kambing, bisa mencicipi tengkleng cingcang ala Yogya. Sedangkan penyuka dapur Minang, di sini ada pilihan berupa rendang.

Untuk yang gemar sayuran, ada olahan hijau dengan nama stir fried Asian green alias kumpulan sayuran hijau yang ditumis. Diberi tempat berupa wajan hitam membuat sajian sederhana ini menjadi menarik. Olahan dari Bali tentunya juga tak ketinggalan, seperti Karangasem sambal udang yang lagi- lagi ditata berbeda karena disajikan dalam piring kaleng yang sudah somplak bagian pinggirnya.

Anda datang sekadar untuk ngobrol sambil ngemil? Jagung bakar yang telah dipipil dan disajikan dalam piring kaleng bisa jadi teman yang asik. Bila ingin yang rasa lokal dan dingin, coba kreasi minuman bersantan dari Chef Will Meyrick.

 Diberi label coco lychee crush, minuman seharga Rp 35 ribu ini tergolong unik karena merupakan perpaduan buah leci, lemon, dan santan. Pilihan lain yang berasal dari kelapa adalah mojito coconut, yang merupakan perpaduan rum, air kelapa, lemon, dan dua daun mint. Kelapa memang banyak memberi inspirasi sang juru masak.

Untuk penutup pun Chef Will tak ingin melepaskan ciri khas lokal. Lihat saja kreasinya berupa durian panacota with white sticky rice and vanila ice cream. Idenya kemungkinan dari Sumatera, 
di mana masyarakatnya terbiasa memadukan durian dengan ketan uli. Ehmm… ditambah es krim, tentu rasanya menjadi lebih segar. 


HUJAN LOCALE; Jalan Sri Wedari No 7, Ubud Gianyar, Bali

Operasional : Pukul 12.00-23.00

Rita N./Dok. TL

Tumpeng Menoreh, 24 Jam Menikmati 4 Gunung

Tumpeng Menoreh di Kulonprogo, Yogyakarta, jadi atraksi baru wisatawan. Nongkrong sambil menikmati 4 gunung. Foto-Dok. Tumpeng Menoreh

Tumpeng Menoreh di kawasan wisata Bukit Menoreh, Yogyakarta, adalah tempat menikmati setidaknya empat gunung dari satu tempat. Spot wisata ini merupakan kafe dan restoran yang menawarkan pemandangan perbukitan yang indah dengan latar belakang gunung-gunung di kawasan perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, seperti Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing.

Tumpeng Menoreh

Bukit Menoreh sendiri memang menjadi titik perbatasan antara Yogyakarta, tepatnya Kabupaten Kulonprogo, dan Jawa Tengah, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Purworejo. Selain dikenal dengan pemandangan indahnya, tempat ini juga menjadi saksi sejarah Perang Jawa melawan Belanda pada tahun 1825-1830 yang dipimpin Pangeran Diponegoro.

Tumpeng Menoreh di Kulonprogo, Yogyakarta, adalah tempat yang bisa menikmati setidaknya empat gunung di Yogya dan Jawa Tengah.
Puncak Tumpeng Menoreh untuk memandang ke 360 derajad. Foto: Dok. Tumpeng Menoreh

Salah satu titik terbaik untuk menikmati panorama Bukit Menoreh adalah Tumpeng Menoreh. Disebut demikian karena tempat ini dibangun heksagonal, bertumpuk dan mengerucut sampai ke puncaknya, mirip seperti nasi tumpeng. Setiap lantai terdapat gardu pandang dan di bagian atapnya terbuka, mirip seperti helipad.

Lokasi Tumpeng Menoreh berada cukup tinggi, di sekitar 950 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ditambah dengan sudut pandang penuh 360 derajat, sejauh mata memandang Anda dapat melihat hamparan hijau Bukit Menoreh berselimutkan awan, serta kebun teh Nglinggo di bawahnya.

Tempat ini dibuka pada Mei 2021, dengan diprakarsai oleh Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) Argo Inten Desa Ngargoretno, komunitas pemuda dan masyarakat Gelangprojo (Magelang-Kulonprogo-Purworejo), dan musisi Erix Soekamti, personel grup band asal Yogyakart Endank Soekamti.

Menurut Erix, filosofi di balik bangunan Tumpeng Menoreh terinspirasi dari fungsi nasi tumpeng dalam budaya Jawa, sebagai simbol rasa bersyukur dan doa mengharapkan kebaikan. Selain itu, adanya Tumpeng Menoreh merupakan wujud misinya untuk dapat membantu pemberdayaan pemuda dan masyarakat Gelangprojo, khususnya di sekitar Bukit Menoreh.

Atraksi utama Tumpeng Menoreh tentunya adalah sebagai kafe tempat berkumpul, berfoto dan bersantai sambil menikmati pemandangan asri, terlebih di saat sunrise dan sunset. Bangunannya pun terlihat apik dan menarik, terutama saat malam ketika lampu-lampu kecil menyala di sekelilingnya.

Namun, Tumpeng Menoreh juga dapat menjadi tempat bersantap pagi, siang atau malam yang unik. Dengan pilihan menu makanan seperti nasi gudeg, nasi rawon, nasi pecel, bakso, mi ayam dan lain lainnya, pengunjung bisa menikmati pengalaman breakfast, lunch maupun dinner sambil ditemani latar belakang panorama pegunungan beserta iklim sejuknya.

Tumpeng Menoreh dibangun untuk memberdayakan pemuda di sekitar kawasan itu.
Sajian kuliner di Tumpeng Menoreh. Foto: Dok. Tumpeng Menoreh

Tak hanya itu, sekitar 100 meter di bawah area tersebut, kini juga terdapat Tumpeng Ayu yang merupakan bagian dari area Tumpeng Menoreh dengan konsep indoor, berupa ruang lesehan. Untuk mengaksesnya disediakan semacam lift yang akan mengantar wisatawan naik dan turun.

Jika Anda berminat mampir, disarankan untuk lewat rute dari Yogyakarta, dikarenakan medan yang dilalui terbilang lebih mudah dan bersahabat. Dari arah Ringroad Barat, jalan menuju ke arah Godean sampai perempatan RSPKU Muhammadiyah, lalu belok kanan hingga perempatan Pasar Dekso.

Dari sana kemudian belok kiri dan ikuti jalan utama berkelok hingga bertemu gapura menuju kebun teh Nglinggo, di area dekat Pasar Plono. Dari situ, belok kanan dan ikuti jalan menanjak, sampai bertemu jalan masuk menuju Tumpeng Menoreh yang ada di sisi kiri jalan.

Jalan masuknya tergolong jalan setapak yang kecil, untuk mobil hanya cukup satu arah. Oleh karenanya akan ada petugas yang mengatur arus keluar masuk kendaraan. Jarak tempuh dari Yogyakarta total kira-kira sekitar 35 km, dengan estimasi waktu perjalanan kurang lebih satu jam.

Untuk bisa masuk, Anda akan dikenakan tarif tiket seharga Rp 50 ribu. Tarif ini termasuk Rp 25 ribu untuk tiket masuk sekaligus tambahan Rp 25 ribu berupa voucher makan yang bisa ditukarkan jika ingin menikmati hidangan makanan. Makanan apapun yang Anda ambil, tinggal menukarkan voucher ini. Kalau kurang tentu harus menambah.

Bila ingin turun ke area Tumpeng Ayu, pengunjung juga akan dikenakan Rp 50 ribu lagi. Ini juga sudah termasuk tiket terusan plus voucher makan. Secara umum, tarif masuknya tergolong worthed dan cukup masuk akal.

Sebelum ke sana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya, dengan posisinya di di area perbukitan yang tinggi, biasanya hawanya akan cukup dingin. Sehingga disarankan bagi pengunjung untuk menggunakan pakaian hangat. Pengunjung juga diharapkan selalu berhati-hati karena posisi bangunannya yang berada di tepi bukit yang cukup curam.

Selain itu, disarankan untuk datang pada musim kemarau, tepatnya sekitar bulan Juli-Oktober. Ini dikarenakan intensitas hujan yang lebih berkurang dan matahari lebih bersinar cerah. Disarankan pula untuk datang pada hari biasa, mengingat tempat ini tengah naik daun dan jumlah pengunjung biasanya melonjak pada akhir pekan dan hari libur.

Tumpeng Menoreh buka setiap hari selama 24 jam. Untuk info lebih lanjut, dapat menghubungi 081904221889, atau mengunjungi laman Instagram @tumpengmenoreh.

Tumpeng Menoreh

Jl. Kebun Teh Nglinggo, Kabupaten Kulonprogo

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Tauto Pekalongan, Ini 5 Warung Topnya

Tauto Pekalongan adalah masakan soto khas kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Tauto Pekalongan adalah kuliner soto versi kota batik di Jawa Tengah ini. Ia adalah kembangan dari masakan berkuah dari Tiongkok yang dibawa warganya yang berimigrasi ke Indonesia.

Tauto Pekalongan

Masakan tauto Pekalongan memang berasal dari nama makanan Tiongkok yang bernama Caudo. Makanan berkuah ini pertama kali dipopulerkan di wilayah Semarang, ibukota Jawa Tengah. Lambat laun orang Jawa menyebut caudo menjadi Soto yang berasal dari homofon tjaudo atau caudo.

Di Indonesia masakan ini berkembangan dan beradaptasi dengan lidah masyarakat setempat. Namanya pun kemudian mengalami penyesuaian sesuai lidah masyarakat setempat. Di Makassar masakan ini disebut coto, di Banyumas namanya sroto, sedangkan di Pekalongan disebut tauto.

Awalnya makanan ini memang hanya dikonsumsi oleh kalangan peranakan Tionghoa, tetapi seiring  waktu, warga lokal pun menjadikan makanan ini sebagai bagian dari kuliner mereka. Tak terkecuali masyarakat Pekalongan yang menikmati dan menyesuaikan olahan caudo ini dengan bumbu-bumbu khusus agar pas dengan lidah mereka.

Kota Pekalongan
Salah satu landmark kota Pekalongan. Foto; Dok DPMTPST

Dulunya, tauto Pekalongan dijajakan dengan dibopong atau dipikul para pedagang Tionghoa keluar-masuk kampung. Pesebaran soto di Nusantara memang tak lepas dari pengaruh para pedagang Tionghoa. Bukti antropologis menyebutkan bahwa soto sebagai sajian berkuah yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa ke Jawa Tengah sekitar pertengahan abad ke-18 Masehi.

Masakan ini mulai menyebar ketika orang-orang Jawa yang pada saat itu menjadi para pembantu bagi penjual caudo ikut keliling memikul dagangan. Seiring berkembangnya zaman karena tidak ada generasi keturunan Tionghoa yang mau meneruskan usaha ini, akhirnya warga pribumi berinisiatif untuk meneruskan usaha kuliner yang khas ini.

Kekhasan tauto yang diracik masyarakat lokal  Pekalongan adalah dengan menggunakan mie putih atau soun. Ini kemudian ditambah bumbu sambal goreng (tauco) yang berbahan dasar kedelai serta menggunakan bahan daging kerbau, bukan daging sapi

Tauco Fermentasi Kedelai shutterstock
Taudo adalah fermentasi dari kedelai. Foto: shutterstock

Tauto Pekalongan hadir di setiap sudut wilayah kota dan kabupaten yang dikenal sebagai salah satu sentra batik ini. Wisatwan dapat menemukannya di warung-warung pinggiran jalan pantura, pusat kota, ataupun pedagang keliling dari kampung ke kampung yang menjajakan soto yang unik dan khas ini.

Hampir semua lidah masyarakat Pekalongan, baik dari kalangan elit pejabat, artis maupun masyarakat non-elite, baik etnis Jawa, Arab, maupun Tionghoa yang tinggal di wilayah Pekalongan sangat menerima dan menyukai soto yang diramu dengan bumbu khasnya yakni tauco.
Bila mudik lewat Pekalongan, Jawa Tengah, tak salah jika mampir sebentar untuk mencicipi soto tauto Pekalongan sebagai pilihan untuk berwisata kuliner. Soto dengan pilihan daging kerbau, sapi atau ayam ini diberi bumbu khas yaitu penggunaan tauco. Berikut lima warung tauto Pekalongan yang bisa menjadi pertimbangan.
Tauto Klego Haji Kunawi

Warung H. Kunawi adalah pilihan yang mantap jika pelancong mencari Tauto Pekalongan. Bumbu tauco pada kuah begitu terasa dan kental. Apalagi saat wisatawan menikmatinya dengan irisan tempe goreng.

Pengunjung biasanya akan mendapatkan satu mangkuk tauto ditambah dengan sepiring nasi. Segera nikmati selagi masih hangat. Soal tempat memang tidak terlalu luas, namun cukup bersih dan nyaman.

Tauto Klego Haji Kunawi;  Klego Gang 5, Pekalongan Timur, Kota Pekalongan
Warung Tauto Pak Tjarlam

Di sekitaran Pasar Senggol Pekalongan ada warung tauto yang legendaris. Pemiliknya mengaku jika tempat jualannya itu telah buka sejak tahun 60-an. Pengunjung bisa menyebutnya sebagai Warung Pak Tjarlam.

Sebelumnya warung ini ada di salah satu sudut Alun-Alun Pekalongan, namun saat ini pindah ke dekat Pasar Senggol. Kepemilikan diwariskan pada generasi ke dua, yaitu anaknya yang bernama Amat. Kalau soal rasa sudah jelas enak.Terbukti Tauto ini masih tetap eksis hingga sekarang.

Warung Tauto Pak Tjarlam, Kios Pasar Senggol Sugih Waras, Jalan Dr Cipto, Kelurahan Kauman, Kota Pekalongan

Sambal Tauco shuterstock
Sambal tauco. Foto: shutterstock


Warung Tauto Bang Dul

Yang juga ada di urutan pertama untuk dipilih untuk menikmati tauto Pekalongan adalah Bang Dul. Ini memang menjadi salah satu kuliner legendaris di Kabupaten Pekalongan, dan menjadi tempat tauto paling favorit di Kabupaten Pekalongan. Di warung Tauto Bang Dul pengunjung bisa memilih ingin menggunakan campuran daging sapi, daging ayam, ataupun jeroan. Untuk rasa memang Soto Tauto Bang Dul sangat lezat, gurih, dan manis menjadi perpaduan yang sempurna saat disantap.

Warung Tauto Bang Dul; Jalan Doktor Sutomo, Gamer, Kabupaten Pekalongan.

Kedai Tauto Rochmani

Tauto Rochmani yang berada di kawasan Mataram, Pekalongan, ini memang ada di lokasi strategis, dan berada dipinggir jalan. Tempatnya juga luas, cocok untuk yang lagi cari tempat makan bersama teman-teman, ataupun keluarga. Warung Rochmani ini memang menyajikan tauto yang memiliki rasa gurih, manis, dan dagingnya lembut. Harga yang ditawarkanpun bersahabat, cocok untuk yang cari kuliner enak namun harganya bersahabat di Kabupaten Pekalongan.

Kedai Tauto Rochmani; Jalan Kurinci No.40, Bendan, Kabupaten Pekalongan.

Tauto PPIP Bu Bawon

Masakan tauto PPIP Bu Bawon yang terdiri dari daging ayam yang lembut, kuah kaldu gurih dengan campuran tauco, memang sangat khas. Rasanya agak berbeda dengan tauto lainnya di Kabupaten Pekalongan. Karena Tauto PPIP Bu Bawon memiliki rasa yang gurih dan sangat lezat dinikmati dengan nasi atau lontong.

Warung Tauto PPIP Bu Bawon ini bolehlah menjadi pilihan untuk dicicipi saat berada di Kabupaten Pekalongan. Kedai Bu Bawon ini selalu ramai dengan pengunjung setiap harinya.

Warung Tauto PPIP Bu Bawon; Jalan Dokter Wahidin Nomor 83, Noyontaan, Pekalongan

agendaIndonesia

*****

Sembalun Di Kaki Rinjani, Di 1156 Meter

Sembalun di Kaki Rinjani sempat menjadi lokasi film Leher Angsa. Foto; Dok Alenia Pictures

Sembalun di kaki Rinjani rasanya tidaklah asing bagi para pendaki gunung, tapi ungkin mmasih baru buat wisatawan biasa. Padahal desa Sembalun pernah muncul beberapa saat dalam sebuah scene film Leher Angsa produksi Alenia Picture sekitar 8 tahun lalu.

Sembalun di Kaki Rinjani

Papan yang mencantumkan keterangan nama Desa Sembalun, di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, muncul beberapa saat setelah layar film Leher Angsa dibuka. Sebuah pemandanagan yang indah, tak salah Alenia Picture memilih desa di kaki Gunung Rinjani tersebut untuk lokasi film mereka. Oya, bagi yang belum menyaksikan film tersebut, ia bercerita tentang anak sekolah dasar bernama Aswin dan tiga sahabatnya. Kisah Aswin di rumah dan di sekolah dikaitkan dengan kebiasaan penduduk membuang hajat di kali atau sungai serta jamban leher angsa, yang hanya dimiliki sang kepala desa.

Film Leher Angsa dikemas sebagai tayangan liburan yang segar dan informatif. Soal jamban, yang bagi orang-orang di perkotaan bukan masalah besar, menjadi hal pelik untuk penduduk desa tersebut. Selain itu, film ini mengisahkan kehidupan orang tua Aswin, tokoh utama film tersebut.

Seperti film-film lain yang diproduksi Alenia Pictures, karya ke tujuh ini pun menyuguhkan keindahan alam Indonesia. Seringnya Indonesai Bagian Timur. Dari desa yang asri, ladang di atas bukit, deretan perbukitan, hingga tentu saja sungai yang biasa menjadi tempat warga buang hajat. Pemandangan serba hijau itu berada pada ketinggian 1.156 meter di atas permukaan laut. Desa berhawa sejuk ini juga dikelilingi tebing-tebing batu.

Sembalun di kaki Rinjani merupakan salah satu jalur menuju puncak gunung Rinjani.
Desa Sembalun sering menjadi rute pilihan para pendaki gunung Rinjani. Foto: Dok. Alenia Pictures

Bagi para pendaki gunung, Desa Sembalun tidak asing lagi. Apalagi bagi mereka yang memang pernah atau berencana mendaki Gunung Rinjani, yang puncaknya terletak pada ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut. Sembalun terbagi atas dua desa, yakni Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung.

Nah, yang menjadi pintu pendakian biasanya adalah Sembalun Lawang. Berada di timur Gunung Rinjani, desa ini merupakan lokasi favorit para pendaki untuk memulai perjalanan menuju puncak gunung tertinggi kedua di Indonesia itu ataupun perjalanan ke Danau Segara Anak. Selain Sembalun Lawang, para pendaki mempunyai alternatif lain untuk gerbang pendakian, yakni Desa Senaru, yang lebih populer untuk wisatawan yang ingin menikmati beragam obyek wisata di sekitar kaki Gunung Rinjani. Desa ini sekaligus menjadi pintu masuk menuju Danau Segara Anak.

Menunjukkan keindahan alam pegunungan, Leher Angsa berbeda denganfilm 5 Cm,yang bercerita tentang pendakian Gunung Semeru. Tidak ada detail tentang Gunung Rinjani dalam milik Alenia ini, sehingga tidak membikin orang langsung terpancing minatnya untuk menjelajahi gunung itu. Tak seperti yang terjadi dengan Gunung Semeru beberapa saat setelah pemutaran film 5 Cm.

Namun setidaknya film ini menambah wawasan pelancong, bahwa Lombok tidak hanya memiliki pantai dan gili atau pulau kecil yang selama ini banyak diburu turis lokal dan asing. Ada pilihan lain, yakni kawasan berudara sejuk dengan hutan, kebun, serta tradisi yang masih terjaga. Baik di Sembalun maupun Senaru, terdapat beberapa homestay yang bisa menjadi pilihan para pelancong dan pendaki.

Para turis bisa menjajal trekking di sekitar Sembalun atau Senaru. Trekking di Sembalun bisa dimulai dari Senggigi, kawasan wisata paling populer di Pulau Lombok. Di kawasan ini juga paling mudah ditemukan hotel berbintang. Dari Senggigi, butuh waktu sekitar tiga jam untuk mencapai Sembalun, dengan melintasi berbagai desa. Di Sembalun sendiri hanya perlu waktu dua jam untuk mengelilingi ladang serta menonton para petani memanen kol, kentang, bawang putih, dan jenis tanaman lain.

Selama perjalanan, tentu Anda bisa menghirup udara segar dan menikmati keindahan Gunung Rinjani jika tidak sedang tertutup awan, selain bukit-bukit di sekitarnya. Dari kejauhan, Anda bisa melihat hamparan laut. Jika mau, Anda pun boleh mampir ke desa adat yang masih dipenuhi rumah-rumah tradisional dan mempertahankan tradisi.

Di Senaru, tersedia pilihan obyek wisata yang lebih beragam. Bagi yang ingin sekadar berwisata, lebih asyik singgah di Senaru. Anda bisa menikmati suasana desa adat dan Masjid Wetu Telu di Desa Bayan, sebelum menginjak Senaru.

Selain keindahan alam, ada dua air terjun yang menggoda di Senaru, yakni Sendang Gile dan Tiu Kelep. Bila berbicara dengan penduduk Desa Senaru, terutama soal air terjun ini, mereka pasti akan berkisah tentang pengambilan gambar saat pembuatan video clip tembang Hipnotis,yang dibawakan penyanyi Indah Dewi Pertiwi. Tampaknya, warga cukup terkesima dengan kerepotan para kru dalam pembuatan video klip tersebut. Sayang, air terjun di Lombok Utara ini, serta deretan pantai di Lombok Barat, hanya muncul sekilas di awal video tersebut.

Rita N./TL/alenia pictures/agendaIndonesia

*****

Bregada Keraton Yogya, Penjaga Tradisi Dari Abad 17

Bregada Keraton Yogya dalam persiapan menjelang Grebeg Sekaten

Bregada Keraton Yogya seolah menjadi simbol nyata hadirnya kerajaan atau kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Sejumlah orang bahkan mengibaratkan para bregada ini layaknya Queen’s Guard di Inggris. Sebuah simbol aristokrasi.

Bregada Keraton Yogyakarta

Alun-alun Utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat siang itu berubah menjadi lautan manusia. Di kawasan titik nol kota Yogyakarta itu, ribuan orang dari dalam dan luar kota menanti jalannya prosesi keluarnya Kagungan Dalem Pareden atau gunungan dalam upacara Grebeg Sekaten. Sebuah prosesi tahunan dalam hitungan kalender Jawa.

Buat masyarakat Yogya, turunnya gunungan Grebeg Sekaten dianggap memiliki nilai turunnya berkah dari yang Maha Agung melalui para sultan. Sekaten sejatiya merupakan prosesi yang selalu digelar Keraton yang berdiri sejak tahun 1755 ini setiap tahunnya pada tanggal 6 hingga 12 Mulud berdasarkan Kalender Jawa.

Tentu saja, kita semua tahu, sekaten sendiri adalah bagian dari syiar agama Islam sejak zaman kerajaan Demak. Di Yogya, ada yang memaknai arti harfiah Sekaten dari kata Syahdatain, atau merujuk pada dua buah gamelan yang disebut Sekati yakni Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga.

Dan di Yogyakarta, perayaan upacara Grebeg Sekaten selalu tak bisa dilepaskan dari simbol para bregada keraton. Merekalah para penjaga tradisi tersebut.

Saat ini, Keraton Yogyakarta memiliki 10 kelompok pasukan yang disebut sebagai bregada itu. Jumlah seluruh prajurinya sesungguhnya tidak terlalu besar, untuk tidak mengatakan jumlahnya kecil. Hanya sekitar 600 orang. Jumlah anggota tiap pasukan berbeda-beda. Bregada Nyutra, misalnya, hanya terdiri dari 64 orang.

Seperti siang itu, awal November 2019, sejak pagi-pagi sekali ratusan orang sudah hadir di dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Persiapan Grebeg Sekaten memang selalu sejak dini hari dilakukan ke 10 bregadadi Pracimosono, di sisi barat Pagilaran Kraton Yogya. Kraton Yogyakarta memang selalu mengeluarkan seluruh 10 bregadanya untuk mengawal pelaksanaan grebeg.

Bregada itu sendiri dibentuk pada masa Hamengkubuwono I, sekitar abad 17. Dalam perkembangan zaman, keberadaan bregada-bregada ini mengalami pasang surut. Di zaman Sri Sultan Hamengkubuwono II, misalnya, tercatat pasukan kraton ini mengadakan perlawanan bersenjata hebat menghadapi serbuan pasukan Inggris pada Juni 1812.

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono III, Inggris membubarkan pasukan Kraton Yogyakarta. Dalam perjanjian 2 Oktober 1813 yang ditandatangani Hamengkubuwono III dan Sir Thomas Raffles, Yogyakarta tak dibenarkan punya pasukan bersenjata. Bahkan pada masa kolonial Belanda, mereka dilucuti dan tak punya arti secara militer.

Sampai pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, masih ada 13 kesatuan prajurit kraton, hingga dibubarkan seluruhnya oleh pemerintah pendudukan Jepang pada sekitar tahun 1940-an. Baru pada 1970 para prajurit keraton dihidupkan kembali. Hanya saja, dari 13 kesatuan yang pernah ada, baru 10 bregada yang diaktifkan kembali. Kesepuluh kesatuan itu adalah Wirobrojo, Dhaeng, Patangpuluh, Jogokaryo, Mantrijero, Prawirotomo, Ketanggung, Nyutro, Surokarso dan Bugis. Mereka semua kemudian dilibatkan dalam acara-acara tradisi kraton.

Pimpinan tertinggi dari keseluruhan bregada adalah seorang Manggalayudha atau Kommandhan/Kumendham. Sebutan lengkapnya adalah Kommandhan Wadana Hageng PrajuritManggalayudha bertugas mengawasi dan bertanggung jawab penuh atas keseluruhan pasukannya. Ia dibantu seorang Pandhega atau Kapten Parentah, dengan sebutan lengkapnya Bupati Enem Wadana Prajurit, yang bertugas menyiapkan pasukan.

Setiap pasukan atau bregada dipimpin oleh perwira berpangkat Kapten. Kecuali bregada Bugis dan Surakarsa yang dipimpin oleh seorang Wedana.

Pandhega didampingi oleh perwira yang disebut Panji (Lurah). Perwira ini bertugas mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam bregada. Setiap Panji didampingi seorang Wakil Panji. Sementara itu, regu-regu dalam setiap bregada dipimpin seorang bintara berpangkat sersan.

Seperti pagi itu. Bregodo Surakarso dan Bugis berjalan ke arah Bangsal Ponconiti menunggu kehadiran gunungan dari arah Magangan untuk kemudian mengawali kirab gunungan. Prosesi kirab dipimpin Manggalayudha dengan delapan bregada yang berjalan dengan Lampah Macak dari Magangan ke Siti Hinggil di Alun-alun Kidul (Selatan). Saat berjalan ini, senjata tombak yang sebelumnya ditutupi berubah menjadi ‘dicurat’ atau dibuka.

Di Siti Hinggil semua mata tombak yang terbuka kembali ditutup. Lalu rombongan berjalan lagi menuju Alun-Alun Utara di mana upacara Grebeg Sekaten akan dimulai. Kagungan Dalem Pareden berupa tujuh gunungan pun dikeluarkan, yakni tiga Gunungan Lanang; satu gunungan, Wadon; satu gunungan Gepak; satu Dharat; dan satu gunungan Pawuhan. Urut-urutan baris Grebeg Sekaten adalah prajurit Bugis, abdi dalem Sipat Bupati, lalu tujuh gunungan dan bregada Surakarsa.

Ada prosesi tembakan salvo saat gunungan melewati delapan bregada yang berbaris di Pagilaran Kraton Yogyakarta. Barisan Grebeg Sekaten berjalan ke arah Beringin kembar di tengah Alun-Alun Utara. Lima gunungan, yaitu satu gunungan Lanang, gunungan Wadon, Gepak, Dharat dan Pawuhan berbelok ke barat sebelum melewati beringin kembar dikawal bregodo Surakarsa dan Bugis. Sedang dua gunungan Lanang berjalan melewati Beringin kembar lalu ke utara, terus menuju Kepatihan, yakni saat ini menjadi kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Satu gunungan Lanang lain, berbelok ke timur menuju Puro Paku Alaman. Empat gajah Puro Paku Alaman berada di depan gunungan.

Setelah upacara Grebeg Sekaten berupa turunnya gunungan sebagai persembahan raja untuk rakyatnya selesai, tugas ke 10 bregada Kraton pun usai. Sampai waktunya tradisi memanggil mereka kembali.

****

Liburan Di Likupang, 1 Hari Yang Indah

Liburan di Likupang bisa dilakukan dalam satu hari.

Liburan di Likupang di Sulawesi Utara bisa dinikmati dalam satu hari. Banyak orang pergi ke provinsi ini untuk urusan pekerjaan, sehingga wisata jadi dinomorduakan karena  persoalan waktu. Tapi betulkah waktu menjadi masalah?

Liburan di Likupang

Jika sedang dinas ke Sulawesi Utara, umumnya orang hanya akan langsung menikmati nama Manado atau paling jauh Bunaken karena destinasi wisata yang satu ini dekat dengan ibu kota Sulwesi Utara tersebut. Padahal, ada destinasi  indah di provinsi ini, yaitu Likupang.

Likupang merupakan kawasan dengan pesona alam yang luar biasa indah. Terutama keindahan pantai dan bawah laut yang eksotis. Itu sebabnya, banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang liburan ke tempat ini untuk beach hopping.

Selain mengunjungi deretan pantai berpasir putih di Likupang, masih banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan pelancong. Seperti melihat pemandangan alam dari atas bukit, island hopping, hingga nonton event megah tahunan di Likupang.

Liburan diLikupang, salah satu surga wisata bahari di sebelah utara Indonesia.
Pantai Paal di Likupang. Foto: shutterstock

Tapi kembali ke soal waktu, mungkinkah menikmati Likupang dalam satu hari? Tentu, ini agenda yang bisa dilakukan pelancong.

Melihat sunrise di Pantai Paal

Satu hari liburan di Likupang bisa dimulai dengan melihat keindahan matahari terbit (sunrise) di Pantai Paal. Meski harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam 30 menit dari Kota Manado, Pantai Paal menawarkan pemandangan matahari terbit yang sangat menawan. 

Setibanya di sana, pelancong akan disambut dengan cahaya matahari pagi yang menembus segerombolan awan tipis. Wow. Belum lagi, pantulan sinar matahari pada permukaan air laut sebening kaca, seakan menyinari dasar laut yang berisi beraneka ikan dan karang. 

Sambil duduk di atas pasir pantai yang lembut, para pelancong bisa menikmati siluet perbukitan yang sangat eksotis dari Pantai Paal. Menawarkan pemandangan alam yang indah dan suasana tenang, wajar jika Pantai Paal menjadi spot sunrise terbaik di Likupang.

Mengunjungi Likupang Tourism Festival

Jika waktunya pas, pelancong bisa mengunjungi Likupang Tourism Festival setelah puas melihat sunrise di Pantai Paal. Pada 2023 LTF diselenggarakan di kawasan Pantai Paal, event tahunan ini semakin meriah dan spektakuler dibandingkan tahun sebelumnya. 

Pasalnya, lebih banyak pelaku ekonomi kreatif yang terlibat di Likupang Tourism Festival. Baik untuk menampilkan berbagai pergelaran seni dan budaya, hingga mengadakan pameran kuliner, kriya, fashion dari Minahasa Utara. Cocok banget untuk mengenal budaya Likupang dalam satu festival, kan?

Liburan di Likupang dengan pilihan pantai dan bukit
Island Hoping dan Beach hoping bisa dilakukan di Likupang. Foto: shutterstock

Menikmati Bukit Larata

Kalau pelancong mencari destinasi wisata untuk menyegarkan diri di Likupang. Maka, mampir ke Bukit Larata adalah pilihan yang tepat. Waktu tempuh hanya sekitar 15 menit dari Pantai Paal. Berbeda dengan area perbukitan pada umumnya, trek di Bukit Larata cukup landai untuk dilewati pemula. 

Selama perjalanan, para pelancong akan disuguhi pemandangan perbukitan yang dipenuhi tanaman ilalang. Sesampainya di puncak Bukit Larata, wisatawan bisa melihat hamparan hijau, berpadu dengan pemandangan laut biru dan Gunung Dua Basudara yang indah bak lukisan. 

Kalau ingin yang lebih syahdu, pelancong bisa berjalan kaki selama 5-10 menit ke Pantai Kinunang. Tak hanya indah, Pantai Kinunang memiliki suasana pantai yang benar-benar bersih dan sepi. Udara sejuk di pantai seakan “mengangkat” beban di pundak dan pikiran secara otomatis.

Beach hopping di Pantai Pulisan

Namanya saja beach hopping, maka Liburan di Likupang selama satu hari akan kurang lengkap kalau tidak jalan-jalan ke Pantai Pulisan. Hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 8 menit dari Bukit Larata, wisatawan bisa menikmati keindahan pantai yang dikelilingi bukit-bukit hijau asri dan indah.

Pantai Pulisan memiliki tiga bagian pantai yang masing-masing dipisahkan oleh tebing batu yang menjorok ke laut. Uniknya, tebing batu tersebut memiliki bentuk seperti gua batu yang terbentuk secara alami. Selain snorkeling untuk eksplorasi keindahan bawah laut, para pelancong satu hari dalam liburan di Likupang bisa mengunjungi rumah apung yang terletak di tengah-tengah laut Pantai Pulisan.

Liburan di Likupang, salah satu surga wisata bahari di Indonesia utara.

island hopping 

Likupang terkenal dengan pesona laut yang sangat indah. Oleh karena itu, jika ada waktu, tidak ada salahnya mencoba island hopping saat liburan di Likupang. Salah satu destinasi wisata yang bisa dikunjungi untuk island hopping adalah Pulau Lihaga.

Disebut sebagai “kepingan surga” di Likupang, Pulau Lihaga memiliki air laut yang tenang dan sejernih kristal. Itu mengapa, banyak wisatawan datang untuk snorkeling menikmati keindahan bawah laut yang masih terjaga sangat baik. 

Setelah itu, pelancong yang liburan di Likupang bisa duduk santai di atas pasir pantai yang sangat lembut, sambil menikmati pemandangan matahari terbenam yang menawan.

Pulau Lihaga juga sangat cocok dijadikan tempat menginap bagi para pelancong. Di pulau ini ada banyak penginap yang bisa dipilih sebagai tempat bermalam di Likupang. 

Jika tidak, pelancong bisa langsung kembali ke Manado dan mengejar penerbangan malam hari. Ayo Liburan di Likupang.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****