Karimun Jawa, 3 Jam Di utara Jepara

Karimun Jawa, keindahan di utara pulau Jawa.

Karimun Jawa adalah surga pecinta pantai pasir putih yang tak jauh dari Jawa. Ia seperti kalah pamor dari pantai-pantai di Bali atau Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Mungkin juga karena lokasinya yang harus menempuh perjalanan laut 2-3 jam dari kota Jepara.

Karimun Jawa

Untuk menuju ke Karimun Jawa, terutama dari Jakarta, biasanya orang menuju ke Semarang terlebih dahulu. Tentu dengan menggunakan penerbangan. Rute Jakarta-Semarang dilayani sejumlah maskapai penerbangan, seperti Garuda Indonesia, Lion Air, atau Air Asia.

Dari Bandara Ahmad Yani, Semarang, kita menuju ke Dermaga Samudra Tanjung Emas, melanjutkan perjalanan dengan pelayaran 3,5-4 jam menuju Karimun Jawa.

Bila cukup punya waktu dan ingin menikmati wisata di utara Jawa, semisal Demak dan Kudus, pengunjung bisa mencapai Karimun jawa melalui Jepara. Via perjalanan darat, Semarang-Jepara bisa dicapai sekitar 1,5 jam. Dari sini, pengunjung tinggal menyeberang dari Dermaga Kartini di Jepara ke Pelabuhan Penyeberangan Karimun Jawa dengan waktu tempuh 2,5-3 jam.

Bagi yang suka mabuk laut, di masa sebelum pandemi, ada pilihan terbang dari Bandara Ahmad Yani, Semarang, dengan pesawat Cassa 212 milik Deraya Air ke Bandara Dewandaru, Karimun Jawa. Jika ingin menggunakan cara ini, periksa dulu ketersediaan penerbangannya.

karimun Jawa mempunyai banyak pantai dengan pasir putih.
Pantai di Karimun Jawa dengan pasir putihnya yang eksotis. Foto: Dok. shutterstock

Tiba di Karimun Jawa, pengunjung dapat menyewa kendaraan roda dua atau empat untuk mengelilngi pulau itu. Untuk sepeda motor, tarifnya Rp 75-100 ribu per hari. Sedangkan tarif mobil sekitar Rp 500-650 ribu, tergantung jarak. Misalnya, jika ingin mencapai pantai Tanjung Pengantin, perlu waktu 2-3 jam jika menggunakan mobil. Sedangkan bila naik sepeda motor cukup satu jam. Akses jalan menuju Tanjung Pengantin tidak terlalu bagus, kecil, dan berbukit.

Tanjung Pengantin adalah salah satu spot wisata yang diminati banyak pengunjung. Ceritanya, ada dua bukit batu setinggi tujuh meter menghadap ke barat di tengah Pantai Tanjung Pengantin, Desa Batulawang, Kecamatan Kemojan, Karimun Jawa. Di depannya, ada batu yang lebih kecil berbentuk seperti meja. Pengantin terkutuk, demikian nama kedua batu karang yang berdiri gagah itu.

Penduduk setempat percaya dua batu besar ini adalah jelmaan Ahmad dan Fatimah, sepasang muda-mudi yang dikutuk karena kawin lari. Disebut “batu pengantin” karena posisinya yang seperti pengantin sedang mengucapkan ijab kabul.

Terlepas dari legenda yang yang ada, Tanjung Pengantin memiliki panorama alam yang sangat indah. Terletak di perbatasan dua pantai dangkal dan dalam, pantai ini menghadirkan warna kontras yang memukau. Biru untuk laut dalam dan hijau muda pada laut dangkal.

Karimun Jawa memiliki sejumlah pulau, di antaranya adalah pulau Menjangan besar.
Menikmati pantai di pulau Menjangan Besar, Karimun Jawa, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Di laut dangkal, pengunjung dapat berjalan kaki hingga 50 meter ke tengah untuk mendekati batu pengantin. Air laut yang dilewati paling tinggi hanya sebatas dada. Sepanjang 50 meter itu, jalur laut yang dilewati berupa karang yang ditumbuhi rumput laut. Tepat di bawah batu pengantin terdapat gua bawah laut berdiameter tujuh meter. Bila beruntung, penyelam yang menjelajahi gua bawah laut dapat menemukan sarang ikan kerapu macan atau Epinepehelus fuscoguttatus.

Kerapu macan berukuran besar dengan panjang mencapai 120 sentimeter. Ikan ini tersebar luas di wilayah Indo Pasifik. Sepuluh tahun terakhir, kerapu menjadi ikan favorit untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat, daya tahan terhadap perubahan lingkungan relatif kuat, juga harga jualnya yang lumayan bagus.

Tanjung Pengantin berada di Kecamatan Kemojan menjadi tempat berdiam suku Bugis yang menyeberang dari Makassar ke Karimun Jawa. Meskipun akulturasi sudah terjadi di Karimun Jawa, orang-orang Bugis ini tetap mempertahankan budaya mereka. Salah satunya dengan membentuk Kampung Bugis, yang bercirikan rumah-rumah panggung khas Bugis.

Rumah Bugis ini menjadi salah satu atraksi yang cukup memikat bila p engunjung ingin mengeksplorasi Pulau Karimun Jawa bagian utara. Sebab, selama ini yang terkenal dari Karimun Jawa adalah pantainya. Padahal, tinggal di Kampung Bugis dapat menjadi alternatif wisata yang menarik.

Pengunjung bahkan bisa meminta sajian khas Bugis, seperti barongko atau pisang kukus, lapek Bugis, dan coto. Warga Bugis di Karimun Jawa butuh waktu lebih lama untuk mencari bahan makanan. Mereka harus menyeberangi laut ke Jepara untuk mendapat bahan-bahannya.

Selain Tanjung Pengantin, wisatawan bisa belajar melaut ala nelayan Bugis sekaligus mencari ikan di Pantai Batulawang. Atau, ada empat pulau yang bisa dikunjungi.

Karimun Jawa  memiliki sejumlah atraksi, selain pantai juga ada yang menantang, berenang bersama hiu.
Salah satu atraksi yang menantang di pulau Menjangan Besar, Karimun Jawa, adalah berenang bersama ikan hiu. Foto: doc. shutterstock

Pulau Menjangan Besar. Bila masih belum puas dengan satu lokasi wisata, berlayarlah menggunakan perahu nelayan menuju Pulau Menjangan Besar. Ini merupakan pulau terdekat yang menawarkan atraksi unik, yakni berenang bersama hiu. Di pulau ini memang ada penangkaran hiu, selain pengembangbiakan penyu.

Pulau Menjangan Kecil. Menyuguhkan air kehijauan dengan terumbu karang dan ikan-ikan yang menggoda, Pulau Menjangan Kecil bisa dicapai hanya 15 menit dari Menjangan Besar. Airnya berwarna hijau transparan, menyajikan pemandangan gugusan terumbu karang nan menawan. Wisatawan pun seolah terbang di atas air sambil dikelilingi ikan zebra ekor putih (Dascyllus aruanus).

Pulau Tanjung Gelam. Pulau ini bisa menjadi tujuan berikutnya setelah Pulau Menjangan Kecil. Dapat dicapai lewat darat maupun laut, Tanjung Gelam memiliki pantai berpasir putih dihiasi pohon-pohon kelapa dengan posisi miring. Cocok untuk rileks sembari menikmati keindahan mentari tenggelam.

Pulau Cemara Besar. Perlu waktu satu jam dari Pulau Karimun Jawa untuk mencapai pulau yang berada di Taman Nasional Karimun Jawa ini. Anda harus berhati-hati saat berada di perairan pulau berpasir putih dan tenang ini. Sebab, terdapat sejumlah ikan beracun.

Cheta N./TL/agendaIndonesia

*****

Seven Wonders of Bali, 7 Wisata Wajib Lama (Bagian 2)

Seven wonders of Bali di antaranya Gunung Batur

Seven Wonders of Bali atau tujuh keindahan Bali adalah tempat-tempat yang menjadi tujuan wisata utama Bali ketika pulau ini belum semeriah saat ini. Pulau Bali memiliki banyak objek wisata menarik untuk dikunjungi, namun sejak dahulu ada tujuh tempat wisata yang selalu menjadi barometer pariwisata pulau Dewata ini. Ada lokasi atau atraksi yang senantiasa menjadi wajib kunjung.

Tulisan ke dua.

Seven Wonders of Bali

SANGEH ATAU MONKEY FOREST

Belum lengkap rasanya mengunjungi Bali tanpa mampir bertemu ratusan monyet ekor panjang di Sangeh. Berada di pinggir jalan dari arah Abiansemal ke arah Petang, di kabupaten Badung, sekitar 25 km sebelah utara Denpasar, Hutan Bukit Sari Sangeh merupakan hutan pala berumur ratusan tahun. Sangeh sendiri berasal dari kata “sang” (manusia) dan “ngeh” (melihat) karena konon menurut hikayatnya, pepohonan pala tersebut sedang dalam perjalanan suci dari Gunung Agung ke arah barat namun karena dipergoki mata manusia maka perjalanan  tersebut terhenti di Sangeh. Kini pepohonan pala tersebut menyebar sekitar 10 hektare luasnya dan menjadi rumah bagi sekitar 500 kera macaca fuscicularis.

Di tengah hutan terdapat beberapa pura yang dibangun oleh keraton Mengwi pada abad ke-17 dengan Pura Bukit Sari sebagai pusatnya.  Para kera ini dipercaya sebagai para prajurit Hanuman yang menjaga Pura Bukit Sari, dan oleh karenanya penduduk setempat tak ada yang mengganggu gugat kehidupan mereka. Jika dulu monyet Sangeh dikenal galak, kini justru sebaliknya, monyet di Sangeh  telah jauh lebih jinak. Monyet berbulu kelabu tersebut tidak takut pada manusia, bahkan gemar mendekat untuk berfoto bersama dan menjadi atraksi bagi para pelancong. Monyet di Sangeh kini terhitung paling jinak dibandingkan yang berada di Uluwatu atau Monkey Forest, Ubud. Pengunjung hanya perlu menundukkan badan dan monyet-monyet itu dengan lincah akan melompat ke atas bahu, meminta gendong. Jika ingin melepaskan gendongan, pengunjung cukup mencondongkan tubuh ke bawah maka mereka akan melompat turun.

Obyek Wisata Bukit Sari Sangeh buka setiap hari pada pukul 07.30-17.00 WITa dan dapat dicapai sekitar 30 menit hingga satu jam perjalanan mobil dari Denpasar.

Sangeh adalah hutan, dan sejinak apa pun monyet disana adalah binatang liar sehingga pengunjung diharap untuk mempersiapkan diri pada segala kemungkinan.

Pengunjung disarankan masuk bersama petugas dan membeli kacang di pintu gerbang. Petugas akan memberi mereka makan sehingga bisa diajak berfoto bersama.

Barang yang berkilau seperti kacamata hitam dan telepon genggam dapat memprovokasi monyet untuk berusaha mengambilnya secara paksa dari pengunjung.

Meski pun jinak, terdapat pula monyet yang nakal, memeriksa bekal para pengunjung dengan cara menarik baju hingga menyibak rok yang dikenakan para turis sehingga lebih disarankan untuk memakai celana panjang bagi pengunjung perempuan.

Siapa pun bisa berkunjung ke Hutan Bukit Sari, Sangeh kecuali perempuan yang sedang haid dan mereka yang sedang berkabung .

seven wonders of Bali di antaranya Sangeh atau monkey forest

BATUR

Belum lama ini Gunung Batur telah dikukuhkan menjadi Taman Bumi (geopark) oleh Unesco lantaran warisan geologis yang dimiliki kawasan  wisata di Kintamani, Kabupaten Bangli ini yang sangat kaya. Dapat dicapai sekitar dua jam bermobil dari Denpasar, atau sekitar satu jam dari Besakih, suguhan utama kawasan wisata ini terdiri dari dua sejoli danau dan gunung Batur. Menikmati  pagi dari dusun Penelokan, berarti tempat untuk melihat-lihat, wisawatan mendapatkan paduan pemandangan spektakuler Gunung Batur dengan kawah, kaldera dan danau Batur yang mirip bulan sabit biru di depan mata. Layaknya kawasan pegunungan, pagi adalah saat terbaik untuk menikmati keindahan pemandangan lantaran kabut akan segera muncul setelahnya. Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali dan menjadi sumber irigasi persawahan yang menghijau di Bangli.

Tak jauh dari bibir kaldera pengunjung bisa mengunjungi Pura Ulun Danau Batur yang berada di lembah Gunung Batur. Pura yang direnovasi pada tahun 1926 setelah terjadi letusan yang cukup besar dan meluluh lantakkan sebagian caldera di sana. Keganasan gunung berapi aktif yang telah meletus 24 kali tersebut  bisa dilihat pada Museum Gunungapi Batur (Batur Museum) di Penelokan yang buka setiap hari Senin hingga Jumat mulai pukul 10 pagi.

Gunung Batur juga salah satu tujuan favorit wisatawan yang gemar mendaki gunung. Dengan ketinggian sekitar 1,7 km, puncak Gunung Batur dapat dicapai rata-rata dalam dua jam pendakian. Pendaki biasanya mengincar sunset di puncak gunung, namun banyak juga yang berangkat pada pagi hari. Jika waktu kunjung hanya sebentar dan enggan berlama-lama di tepi danau yang penuh oleh para pedagang suvenir, wisatawan dapat bersantai pada sejumlah restoran di sekitar Panelokan, misalnya di Puri Sanjaya dan restoran Apung Kedisan yang mengapung di atas danau Batur.

Kawasan Gunung Batur, dan Kintamani pada umumnya, adalah daerah pegunungan yang sangat sejuk, sangat disarankan membawa baju hangat terutama pada malam hari.

Kawasan ramai di Penelokan menjadi pusat para pedagang suvenir, beberapa diantaranya anak usia sekolah dan ibu-ibu yang cukup telaten dalam merayu calon pembeli sehingga malah membuat kenyamanan pengunjung terganggu.

Jika hendak mendaki Gunung Batur, disarankan untuk memakai baju hangat karena hembusan angin yang kuat, dan sepatu olahraga dengan sol yang cukup tebal karena jalur pendakian cukup terjal dengan banyaknya batu gunung yang tajam  dan bisa merobek sol sepatu.

Untuk mendaki Gunung Batur sangat disarankan dengan menggunakan jasa pemandu demi alasan keamanan. Seluruh pemandu terdaftar pada Association of Mount Batur Trekking Guides yang membuka perwakilan di desa Toyo Bungkah Telp. 0366 52362.  Seorang pemandu mengawal  paling banyak empat orang pendaki dalam satu kali perjalanan. Selain biaya resmi yang ditetapkan, pendaki diharap memberikan tip bagi pemandu.

TRUNYAN

Danau Batur di kabupaten Bangli menjadi gerbang untuk memasuki kawasan yang sangat unik, Desa Bali Aga di Trunyan. Penduduk Desa Bali Aga adalah suku bangsa Bali pegunungan dan kerap disebut sebagai penduduk Bali asli dan memiliki kelaziman yang berbeda dengan penduduk Bali pada umumnya. Di desa ini ada tradisi untuk tidak memakamkan orang yang telah meninggal melainkan cukup menyemanyamkan jenazahnya di bawah pohon di udara terbuka, tanpa meninggalkan bau. Di desa yang mendapatkan namanya dari kata Taru (kayu) dan Menyan (wangi) ini memang terdapat pepohonan taru menyan yang memiliki aroma wangi semerbak. Pohon ini dianggap bisa menetralisir timbulnya bau dari jenazah yang diletakkan di bawah kerindangannya. Tradisi menyemayamkan jenazah di bawah pohon tersebut dilakukan secara turun temurun hingga kini.

Satu-satunya jalan untuk mencapai desa Trunyan adalah melalui Danau Batur, tepatnya di desa Kedisan di mana terdapat perahu yang bisa membawa pengunjung untuk menyeberang.  Waktu untuk  menyeberangi Danau Batur ke desa Trunyan sekitar 20 menit.Jalan lain menuju Trunyan nyaris tidak ada karena desa ini berada di pinggir danau Batur dan dikelilingi perbukitan yang curam. Selain melihat tata cara pemakaman yang unik, Trunyan juga menarik untuk menikmati Gunung Batur dari sisi timur danau Batur karena sangat berbeda dengan pemandangan dari arah sebaliknya.

*****

Seven Wonders of Bali, 7 Keajaiban Bali Lama (Bagian 1)

Seven Wonders of Bali

Seven Wonders of Bali atau tujuh keindahan Bali adalah tempat-tempat yang menjadi tujuan wisata utama Bali ketika pulau ini belum semeriah saat ini. Pulau Bali memiliki banyak objek wisata menarik untuk dikunjungi, namun sejak dahulu ada tujuh tempat wisata yang selalu menjadi barometer pariwisata pulau Dewata ini. Ada lokasi atau atraksi yang senantiasa menjadi wajib kunjung.

Agar tak lupa dengan tujuh pesona tujuan wisata tradisional Bali ini, AgendaIndonesia menurunkan kisahnya dalam 2 artikel. Berikut Tulisan pertama.

Seven Wonders of Bali

Seven Wonders of Bali, salah satunya adalah Tanah Lot

TANAH LOT

Pulau Bali telah lama menjadi salah satu destinasi wisata populer di dunia. Destinasi wisata ini pulau ini tidak hanya terletak pada keindahaan alamnya, tetapi juga banyak keindahaan arsitektur serta keunikan budaya. Salah satu keindahaan arsitektur yang dapat anda temukan di pulau Bali adalah pura Tanah Lot di desa Braban, Kabupaten Tabanan.

Keindahan tempat wisata pura Tanah Lot terdapat pada perpaduan keindahan alam yang berpadu dengan keindahan budaya. Di saat liburan ke Tanah Lot, wisatawan akan melihat deruan ombak menerjang tebing batu karang. Menjelang matahari terbenam, sedikit demi sedikit warna langit berubah dramatis dan langit dipenuhi beraneka ragam warna. Keindahan Tanah Lot saat matahari terbenam menjadi daya tarik utama wisatawan berlibur ke sini.

Sejarah Tanah Lot Bali Indonesia berdasarkan legenda. Salah satu legenda mengisahkan pada abad ke -15, Bhagawan Dang Hyang Nirartha atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari pulau Jawa ke pulau Bali. Menurut kisahnya Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batu karang yang berada di tengah lautan.

Tanah di artikan dataran/tanah, Lot artinya laut, jadi Tanah Lot berarti dataran yang berada di tengah laut. Sebuah bangunan pura Hindu berdiri di atas batu karang besar pada bibir pantai. Sesuai dengan nama tempatnya, pura tersebut diberi nama pura Tanah Lot.

Pura Tanah Lot terletak di atas batu karang, berjarak sekitar 300 meter dari garis pantai. Lokasinya berada di lepas pantai, karenanya untuk dapat mengakses pura pengunjung harus melewati jalan batu pada saat air laut surut. Dari lokasi batu karang, untuk mencapai pura, pengunjung harus menaiki anak tangga dari batu.

Di dalam area batu karang terdapat beberapa goa kecil yang di dalamnya dihuni beberapa ular berwarna belang putih hitam. Ular belang putih hitam ini bagi masyarakat lokal disebut sebagai ular suci Tanah Lot Bali.

Satu pura dibangun diatas batu karang hitam dengan ukuran sangat besar dan berada ditepi pantai sebelah kiri. Pura ini lebih dikenal dengan nama pura Tanah Lot. Pada saat pasang, air laut akan menutup area pantai dan membuat lokasi pura Tanah Lot terlihat seperti berada di tengah lautan. Momen air laut pasang ini juga terlihat seperti sebuah kapal yang terbuat dari batu besar berwarna hitam terapung dipermukaan air laut.

Pura ke dua berada dipinggir tebing karang, yang juga berada di tengah laut di sisi kanan kawasan pantai Tanah Lot. Di bawah tebing karang pada lokasi pura kedua terdapat lubang besar, yang selalu dilewati oleh gelombang ombak besar

Untuk menuju Tanah Lot, jika pengunjung berangkat dari kawasan Kuta, akan memerlukan waktu 1 jam 10 menit untuk mencapai lokasi Tanah Lot. Perkiraan jarak tempuh dari area pantai Kuta ke Tanah Lot sekitar 23 kilometer.

Objek wisata Tanah Lot Bali buka setiap hari dari pukul 7 hingga 19 sore. Mengenai waktu terbaik berkunjung ke pura Tanah Lot, setiap wisatawan akan memiliki kriteria berbeda akan tujuan liburan. Ada yang menyukai liburan ke Tanah Lot saat kawasan belum ramai dengan kunjungan wisatawan. Ada juga wisatawan yang memprioritaskan untuk dapat melihat pemandangan matahari terbenam.

BESAKIH

Terletak di lereng selatan Gunung Agung, Pura Kahyangan Jagad Besakih menjulang indah di desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Desa Besakih yang namanya berasal dari kata “Basuki”, dalam Bahasa Sansakerta berarti “keselamatan”, terpilih menjadi lokasi pembangunan tempat ibadah yang menjadi pura induk di Bali tersebut karena merupakan desa tertinggi di kaki gunung terbesar di pulau itu. Bangunan yang konon dibangun pada abad ke-14 ini terdiri dari 22 pura yang berjajar di kaki pegunungan, dengan teras yang bertingkat dan anak tangga yang kian menanjak, sesuai dengan filosofi spiritual  untuk terus meningkatkan perjalanan menuju puncak gunung dan Sang Pencipta.

Dari gerbang masuk,  pengunjung akan menuju pada struktur Meru puncak menara utama, Pura Penataran Agung, yang menjadi pura terbesar di dalam kompleks Pura Besakih. Sebagai pura induk, Pura Besakih merupakan jantung kegiatan persembahyangan Agama Hindu Dharma yang menjadi kepercayaan utama warga Bali dimana terdapat lebih dari 70 upacara keagamaan yang dilangsungkan disana setiap tahunnya.

Pura Besakih dapat dicapai dengan satu jam bermobil dari bandar udara Ngurah Rai.

Dari tempat parkir menuju pura,  wisatawan harus melewati deretan pedagang makanan dan suvenir yang cukup panjang dan menjadi penguji rasa sabar karena beberapa diantaranya bersikap berlebihan, memaksakan diri untuk menawarkan dagangannya.

Gunakan sepatu yang nyaman untuk menjelajah pura yang sangat luas dengan ratusan undak anak tangga dan akan sedikit licin pada waktu musim hujan.

Pura Besakih adalah tempat ibadah agama Hindu Dharma, sehingga wisatawan diharap bersikap sopan, tidak bertingkah iseng mengutak-atik benda apa pun di dalam pura, serta mengenakan busana adat berupa sarung dan ikat yang telah disediakan di pintu masuk.

Pengunjung bisa mencapai pura terbesar, namun hanya umat yang hendak bersembahyang yang diperbolehkan memasuki pura lainnya.

Terdapat jasa guide dengan tarif bervariasi yang disediakan di gerbang masuk untuk membantu pengunjung memahami kompleks pura yang luas tersebut, misalnya mengenai ukiran penghias arsitektur pura yang menceritakan fragmen kisah Ramayana dan Mahabrata hingga lukisan-lukisan tua yang bergaya Kamasan.

Seven Wonders of Bali, di antaranya adalah Gunung Agung

GUNUNG AGUNG

Cincin api yang mengelilingi Indonesia mencuatkan gunung berapi tertinggi kelimanya di Pulau Bali dan kita kenal sebagai Gunung Agung. Menjulang setinggi 3,142 meter, Gunung tertinggi di pulau dewata ini terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali.  Menjulang dengan dikitari hutan lebat, dimana babi hutan, kera ekor panjang dan aneka burung liar, termasuk Elang Bali yang langka, bersarang. Terdapat tiga jalur untuk mencapai puncak Gunung Agung, namun medan ketiganya cukup berat dan hanya wisatawan yang benar-benar fit saja yang bisa disarankan untuk mendaki. Mengingat pentingnya peran Gunung Agung sebagai salah satu pusat ritual warga Bali, terutama melalui gerbang utamanya di Pura Besakih , maka sangat disarankan untuk menggunakan jasa pemandu jika ingin mengunjungi Gunung Agung. Para pemandu dapat ditemukan pada lokasi pendakian, antara lain Gung Bawa Trekking  dari pos pendakian jalur Besakih dan MG Trekking di Candidasa.

Puncak Gunung Agung dapat dicapai dari berbagai arah. Jalur selatan pendakian melalui Klungkung dan Candidasa, Jalur  Barat melalui Pura Besakih, Timur melalui Tirta Gangga dan Karangasem. Jalur yang sedang digemari adalah dari arah pantai timur, melalui sebelah utara Amed menuju Tulamben dan Singaraja . Sisi timur Gunung Agung cenderung kerontang sedangkan pemandangan dari sisi barat jauh lebih menghijau. Keelokan puncak gunung Agung adalah pemandangan sekelilingnya, yang berliku dikelilingi  Gunung dan Danau Batur serta mencapai puncaknya ketika di seberang lautan terlihat matahari pagi muncul dari balik Gunung Rinjani di Pulau Lombok.

Para pendaki dianjurkan mendaki pada musim kemarau (April – Oktober) sedangkan Januari sangat dihindari mengingat tingginya curah hujan yang berakibat pada jalur pendakian yang licin dan berbahaya.  Pada bulan Januari dan Februari dianggap paling berbahaya karena adanya kemungkinan jalur yang longsor. Pada bulan April terdapat banyak upacara keagamaan sehingga tidak leluasa untuk melakukan pendakian.

Para pendaki mengincar sunrise di puncak gunung sehingga berangkat pada tengah malam. Lantaran cahaya bulan yang temaram, disarankan membawa senter, atau head lamp yang terang.

Pendakian pada umumnya dimulai pada pukul 23.00 WITa, selama sekitar enam jam untuk mencapai puncak.Tak lama setelah matahari terbit, kabut akan kembali muncul, menghalangi pemandangan.

Pendaki pemula disarankan melalui jalur utara, melalui Duku Bujangga Sakti dan membawa peralatan camping. Meski memutar dan menghabiskan waktu dua kali lebih banyak, jalur  ini lebih landai dan memungkinkan untuk beristirahat.

BEDUGUL

Kawasan wisata Bedugul terletak sekitar 50 km di sisi utara kota Denpasar, atau sekitar satu hingga dua jam perjalanan bermobil, tergantung tingkat kemacetan hari itu, dari kawasan turis di Kuta.  Wisatawan yang berkunjung ke Bedugul biasanya menyempatkan diri mengunjungi Pura Ulun Danu di pinggir Danau Bratan yang sangat unik. Pura yang seolah menyembul dari tengah danau itu dikelilingi taman yang sangat asri dan hijau, tak heran Ulun Danu menjadi salah satu pura yang paling banyak menjadi obyek pemotretan.

Di Danau Bratan terdapat banyak aktivitas olahraga air untuk seluruh keluarga, dari parasailing, jetsky, berperahu hingga sekadar memancing. Selain olahraga air, Bedugul juga memiliki lapangan golf yakni pada Bali Handara Kosaido Golf and Country Club. Terdapat juga jalur yang cukup sohor untuk melakukan trekking melalui dua danau yang berdampingan; Danau Buyan dan Danau Tamblingan, menuju Gua Jepang dan Pura Puncak Mangu. Trekking dan bersepeda melalui persawahan Jatiluwih juga menjadi rute yang disukai para pelancong.  Jika lelah, pengunjung bisa mampir ke Restoran Batukaru di Jatiluwih yang menyajikan masakan kontemporer di hadapan hamparan sawah bersubak yang menawan. Jika ingin menu yang berbeda bisa mencoba Restoran Bukit Hexon, di Wanagiri, yang menawarkan hidangan organik atau Strawberry Stop, kebun strawberry di antara Danau Buyan dan Danau Bratan yang menyediakan tak hanya menyediakan strawberry melainkan juga milkshake dan aneka jajanan.

Bedugul juga memiliki kebun raya yaitu Kebun Raya Eka Karya yang terletak di kawasan Candi Kuning. Kebun raya yang lebih dikenal sebagai Bedugul Botanical Garden ini sohor  dengan koleksi anggreknya yang memukau. Untuk menghibur keluarga, terdapat juga Bali Tree Top yang menyediakan arena permainan di alam bebas seperti flying-fox dan jembatan a la Indiana Jones. Tak seberapa jauh ke timur juga terdapat lokasi wisata alam yang menakjubkan seperti air terjun Gitgit,  Munduk dan Air Terjun Kembar.  hingga pemandian air panas Angseri serta Penatahan.

…(Bagian 2)…

*****

Dolan ke Lombok, Ini 5 Atraksi Kerennya

Dolan ke Lombok salah satunya bisa snoekeling di Gili gili Lombok, Foto: unsplash

Dolan ke Lombok di Nusa Tenggara Barat cocok dilakukan para pelancong di Maret ini. Banyak atraksi yang unik dan keren berlangsung di tempat ini. Yang utama tentu ajang balap motor kelas dunia.

Dolan ke Lombok

Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah ajang balap motor kelas dunia, World Superbike 2023 (WSBK 2023). Sama seperti tahun lalu, World Superbike 2023 bakal digelar di Pertamina Mandalika International Street Circuit, atau Sirkuit Mandalika, pada 3-5 Maret 2023.

Sirkuit Mandalika merupakan sirkuit balap kelas dunia yang terletak di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan panjang 4,31 kilometer, Sirkuit Mandalika memiliki total 17 tikungan yang siap ditaklukan oleh pembalap dunia dalam ajang perlombaan World Superbike 2023. 

Dola ke Lombok harus main ke  rumah adat Sasak.
Rumah adat Sasak. Foto: shutterstock

Dolan ke Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) sangat disarakan karena tempat ini disebut-sebut akan menjadi destinasi tujuan wisatawan minat khusus dalam bidang olahraga atau sport tourism. Pertama karena NTB mempunyai sirkuit berskala internasional, yakni Sirkuit Mandalika.

Selain sirkuit berskala internasional tersebut sebagai salah satu daya tarik sport tourism, dolan ke Lombok juga terkenal akan bentang alam yang sangat indah. Nusa Tenggara Barat memiliki pantai-pantai yang indah, sejumlah kawasan selam, gunung Rinjani yang asyik didaki dan budaya yang masih terjaga dengan baik, hingga desa wisata yang menyimpan sejuta pesona.

Bagi para pelancong yang ingin merasakan sensasi berlibur yang berbeda di Nusa Tenggara Barat, bisa berkunjung antara Februari atau Maret. Pada saat ini akan ada berbagai event internasional dan festival budaya yang digelar di bulan-bulan tersebut.

Lalu tempat dan atrakasi apa sajakah yang layak didatangi saat dolan ke Lombok? Berikut setidaknya lima destinasi wisata andalan di NTB yang bisa wisatawan kunjungi. 

Peonton MotoGp di Sirkuit Mandalika.
Penonton balapan MotoGP.

Kawasan Mandalika 

Dolan ke Lombok kurang lengkap kalau tidak singgah di Mandalika. Sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas (DSP), Mandalika menyimpan banyak pesona. Salah satu yang sudah disinggung di muka sebelumnya adalah Sirkuit Mandalika. 

Sirkuit Mandalika akan kembali menggelar ajang balap motor kelas dunia, yakni World SuperBike 2023 (WSBK) pada 3-5 Maret 2023, dan akan masuk kalender balap MotoGP 2023 pada Oktober mendatang. Ada satu keunikan dari Sirkuit Mandalika. Pada tikungan ke-15 dan 16, terdapat motif tenun Suku Sasak yang menjadi ciri khas dari sirkuit di dekat pantai ini.

Bukit Merese

Destinasi wisata alam di NTB yang menawarkan keindahan perbukitan hijau, bentang pasir putih, dan gradasi warna air laut yang memesona, Bukit Merese. Berlokasi di Lombok Tengah, untuk menuju puncak bukit dan melihat langsung keindahan alam yang dimiliki Nusa Tenggara Barat, para pelancong hanya perlu berjalan kaki selama 15 menit.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi Bukit Merese adalah pagi hari atau menjelang matahari tenggelam. Karena tempat ini menawarkan bentang alam yang tak berujung, lengkap dengan sunset yang indah dan memanjakan mata.

Dolan ke Lombok belum lengkap kalau belum main ke Gili-Gili
Main ke Lombok belum lengkap kalau belum main ke Gili-Gili. Foto: unsplash

Gili Nanggu

Seperti yang kita ketahui, Nusa Tenggara Barat terkenal akan Gili-gili yang indah. Gili atau pulau kecil ini tersebar hampir di beberapa perairan Lombok. Salah satu gili yang wajib wisatawan kunjungi adalah Gili Nanggu. 

Lokasinya berada di Selat Lombok atau di pesisir barat Pulau Lombok. Gili Nanggu merupakan pulau tak berpenghuni yang berada di wilayah Kecamatan Sekotong, Lombok Barat.

Di sini pengunjung bisa menikmati keindahan alam bawah laut dengan aktivitas snorkeling maupun menyelam. Ikan-ikan dan terumbu karang yang masih terjaga dengan baik akan menyambut kita di bawah perairannya.

Desa Adat Sade

Bagi wisatawan yang menyukai budaya lokal, tak ada salahnya mengunjungi Desa Adat Sade saat dolan ke Lombok. Salah satu desa wisata di NTB ini berada di Rembitan, Lombok Tengah.

Di desa ini kita bisa melihat langsung keseharian dari masyarakat Suku Sasak. Salah satunya menenun kain yang menjadi cenderamata khas dari Desa Sade.

Menariknya lagi, kita juga bisa melihat langsung rumah adat Suku Sasak yang tergolong unik. Karena dindingnya terbuat dari anyaman dengan atap alang-alang kering. Sementara bagian lantai rumahnya terbuat dari campuran kotoran kerbau, tanah liat, dan jerami.

Festival Bau Nyale

Selain mengunjungi desa wisata di NTB, tak ada salahnya para wisatawan mencoba tradisi menangkap cacing di sekitar Pantai Kuta dan Pantai Seger. Tradisi ini dikenal dengan istilah Bau Nyale, yang biasanya diadakan setiap tanggal 20 bulan 10 menurut penanggalan Suku Sasak. 

Masyarakat Sasak percaya, tradisi berburu nyale ini dapat mendatangkan kesejahteraan. Nantinya cacing yang didapat dalam perburuan akan ditaburkan di sawah-sawah, atau diolah menjadi makanan. Bagi para pelancong yang ingin menyaksikan atau ikut langsung Festival Bau Nyale, biasanya festival ini akan digelar sekitar bulan Februari atau Maret.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Kota Batu Dan Apel, 2 Hal Tak Terpisahkan

Kota batu dan Apel, wisata sambil memetik apel

Kota Batu dan apel rasanya seperti dua hal yang tak terpisahkan. Anggapan ini tidaklah berlebihan jika melihat tumbuhnya parwisata di kota Batu, yang secara administratif ditetapkan pada 6 Maret 1993 lalu menjadi kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang pada 17 Oktober 2001.

Kota Batu dan Apel

Batu, selain memiliki potensi keindahan alam tersendiri, sejak lama menjadi ikon buah apel di Indonesia. Kota Batu sendiri adalah sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak 90 kilometer sebelah barat daya Surabaya atau 15 kilometer sebelah barat laut kota Malang.


Buah ini baru muncul di sekitar Malang pada sekitar 1934.  Ini seiring dengan dibawa masuknya bibit apel ke Indonesia pada sekitar 1930-an oleh Belanda. Sesungguhnya, wilayah pertama yang menjadi tempat penanaman apel justru bukan daerah Malang Raya, tapi di Nongko Jajar di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.


Di Malang, apel pertama kali masuk pada tahun 1929 dan pertama ditanam di desa Nglebo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Terdapat 20 varietas apel yang dibawa dan semuanya berasal dari Australia. Dekade sekitar tahun 50-an dan 60-an merupakan masa-masa apel mulai banyak dikenal dan ditanam petani di wilayah ini.

Pada awal persebarannya, petani dan penanamnya hanya terbatas pada orang-orang Belanda yang menjadi tuan tanah. Pada tahun 1934 mulai ada petani etnis Tionghoa di Batu yang juga menanam apel walaupun dengan varian yang berbeda.

Tanaman apel mulai banyak dibudidayakan di wilayah Batu sejak sekitar 1950-an sebagai pengganti jeruk yang banyak mati diserang penyakit. Mulai saat itulah wilayah Malang semakin identik dengan apel terutama ketika tanaman ini juga mulai dikembangkan di daerah Poncokusumo.


Tahun 1970-an merupakan saat-saat produksi apel Malang mulai jauh meningkat baik dari segi kualitas dan kuantitas. Sejak tahun 70-an hingga 90-an, apel menjadi produk andalan wilayah sekitar Malang, terutama Batu dan Poncokusumo. Kerena jumlah yang banyak serta buah yang lezat dari apel Malang ini, sampai muncul sebutan Malang kota apel. Meskipun aslinya sentra apel ada di Batu.

Sejak akhir tahun 80-an di Batu tumbuh semangat mengembangkan perkebunan apel tidak sekedar produksi buah, namun juga sebagai pusat wisata. Di sejumlah perkebunan pengunjung bisa berwisata sambil memetik apel langsung dari pohonnya. Di sana juga ada banyak pilihan tempat wisata petik apel yang bisa dikunjungi.


Jenis apel yang ditanam di Malang dan Batu, ada lima jenis, yaitu Apel Manalagi, Apel Rome Beauty, Apel Granny Smith, Apel Anna, dan Apel Wanglin. Tiap jenis apel memiliki rasa dan tekstur daging buah yang berbeda.

Jika ingin main ke Batu dan mampir ke perkebunan apel yang menyediakan kesempatan memetik buahnya langsung dari pohonnya, berikut ada tiga perkebunan yang bisa dijadikan referensi.

Pertama Wisata Petik Apel Agro Rakyat. Letaknya di Jalan raya Sidomulyo, Kecamatan Batu dan buka setiap hari antara jam 7 pagi hingga 6 sore. Tempat wisata petik apel ini hanya memiliki 4 dari 5 jenis apel yang umumnya ada di Batu.


Wisata Petik Apel Agro Rakyat ini menawarkan harga tiket masuk kebun apel malang sekitar Rp 25 ribu per orang dan bila ingin membungkus hasil petikan apel kamu harus mengeluarkan uang sekitar Rp 12 ribu per kilonya. Umumnya, dalam berwisata petik apel ini wisatawan bisa makan apel sepuasnya di tempat dan hanya boleh memetik apel sesuai area yang telah ditentukan petugas kebun.


Pilihan ke dua adalah Agro Wisata Petik Apel Kelompok Tani Makmur Abadi atau KTMA. Di sini pengunjung bisa datang kapan sepanjang tahun alias tidak memiliki musim. Ini karena mereka menyediakan area lahan pohon apel yang dikhususkan untuk menjaga ketersediaan buah apel bagi para pengunjung.


Terletak di Jalan Pangeran Diponegoro kawasan Tulungrejo, Bumiaji, Batu. Mereka mengenakan tiket masuk Rp 20 ribu per orang saat hari-hari biasa dan Rp 25 ribu per orang di akhir pekan. Dengan harga segitu, selain bebas makan di kebun, pengunjung juga mendapatkan

welcome drink. Untuk membawa hasil petikan apel, pengunjung harus menebusnya sebesar Rp 20 ribu per kilogramnya. Selain itu, pengunjung bisa menikmati beberapa fasilitas berbayar, seperti memeras susu sapi, permainan anak dan outbond.


Pilihan lainnya untuk memetik apel ada di Kusuma Argowisata. Uniknya, Kusuma tidak hanya menyediakan wisata petik apel ,tetapi juga buah strawberry. Jika pengunjung berencana datang bersama rombongan, sebaiknya mengambil paket yang disediakan pihak pengelola, yaitu paket agro edukasi dan paket study tour yang minimal terdiri dari 30 orang.

Rombongan akan didampingu seorang pemandu wisata saat mengelilingi perkebunan. Di sini pengunjung diwajibkan membeli tiket seharga Rp 85 ribu per orang. Meskipun cukup mahal, tapi pengunjung bisa menikmati berbagai keuntungan, selain memetik dan makan apel, strawberry dan jambu biji di tempat, mereka juga mendapatkan bonus 1 porsi Pancake Strawberry Ice Cream dan 1 botol Yoghurt buah produksi Kusuma Agrowisata yang berada di Jalan Abdul Gani Atas di kawasan Ngaglik, Batu.

Tertarik? Ayo agendakan petik apelmu.

******

Desa Mas Ubud, Mengukir Patung Sejak 1920

Desa Mas ubud pusat kerajinan ukiran patung Bali. Foto: Dok. Marriot Bonvoy

Desa Mas Ubud seperti tak pernah habis pesonanya. Saat jalan-jalan ke kawasan ini, selain menikmati pemandangan indah nan asri, sempatkan juga mampir ke desa Mas. Desa wisata di Kabupaten Gianyar ini kondang sebagai sentra kerajinan patung ukir dari kayu di Bali.

Desa Mas Ubud

Desa Mas terletak di bagian selatan Ubud, berjarak sekitar 23 kilometer dari Denpasar. Dari ibukota Bali ini waktu tempuhnya kurang lebih 30 menit dengan kendaraan pribadi. Selain bertani, sebagian besar warga desa ini memang berprofesi sebagai pengrajin patung ukir.

Asal-usul desa Mas Ubud disebut berasal dari kisah seorang Brahmana dari kerajaan Majapahit bernama Dang Hyang Nirartha. Ia diundang untuk pindah ke Bali oleh beberapa arya-arya kerajaan Majapahit. Setelah berhasil menduduki wilayah Bali, mereka memutuskan menetap karena merasa kondisi Majapahit sedang menurun dan terancam runtuh.

Dang Hyang Nirartha kemudian memutuskan untuk pindah. Di Bali ia disambut Raden Mas Willis, salah seorang dari arya tersebut. Pada prosesnya, mereka kemudian memiliki hubungan sebagai guru dan murid, utamanya dalam hal agama, sosial dan seni budaya.

Hingga suatu ketika, Dang Hyang Nirartha dinikahkan oleh Raden Mas Willis dengan putrinya. Setelahnya, keturunan mereka disebut sebagai Brahmana Mas, yang hingga saat ini tinggal di desa tersebut.

Raden Mas Willis pun kemudian dinobatkan oleh Dang Hyang Nirartha sebagai Pangeran Manik Mas, pemimpin daerah tersebut. Dari situlah, daerah tersebut kemudian dipanggil sebagai desa Mas.

Masih menurut kisah yang sama, Dang Hyang Nirartha juga diceritakan pernah menancapkan sebatang kayu, yang konon kini menjadi pohon Tangi yang berada di area Pura Taman Pule Mas. Ia kemudian bersabda bahwa warga desa Mas akan sejahtera dari hasil kerajinan kayu.

Desa Mas Ubud Bali kini akrab disebut sebagai Home of the Wood Carvers, rumah para pemahat kayu.
Pelbagai karya ukir patung kayu khas Desa Mas ubud. Foto: DOk. Balitoursclub.net

Namun desa Mas Ubud yang kini akrab disebut sebagai Home of the Wood Carvers atau rumah para pemahat kayu, justru tidak serta merta identik dengan seni patung ukirnya. Dulunya, seni tersebut lebih banyak diperuntukkan sebagai persembahan bagi para raja di Bali.

Adalah maestro seni pahat Ida Putu Taman yang mempopulerkan budaya seni mematung kepada warga desa Mas pada 1920-an. Berkerajinan patung ukir tidak lagi dipandang secara eksklusif, melainkan sesuatu yang datang dari hati.

Seni mematung lantas dipandang sebagai wujud rasa iman dan syukur kepada sang Pencipta. Maka tak heran, ada beberapa hasil patung ukir dari desa Mas Ubud yang juga berfungsi sebagai alat sembahyang, atau terinpirasi dari kisah-kisah pewayangan dan kehidupan warga Bali sehari-hari.

Karya-karya tersebut merupakan representasi dari imajinasi para perajinnya. Mereka menganggap, patung-patung itu menjadi wujud respon mereka terhadap filosofi dan dinamika dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya tersebut, yang kemudian disebut dengan istilah ‘ngayah’, berhasil mendorong warga untuk lebih aktif berkarya dan melestarikan seni patung ukir. Oleh karena itulah, desa Mas perlahan mulai dikenal dengan seni patung ukirnya pada era 1930-an.

Desa Mas Ubud kini memeiliki ribuan warga yang berprofesi sebagai pengukir patung.
Seorang pemahat patung dari Desa Mas Ubud, Bali. Foto: DOk. Kemenparekraf

Memasuki era pasca kemerdekaan, seni kerajinan patung ukir kemudian juga berkembang secara komersial. Para perajin mulai memperjualbelikan patung hasil kerajinannya, ini seiring dengan berkembangnya pariwisata di Bali.

Ketenaran desa Mas semakin mencuat karena Presiden Soekarno saat itu beberapa kali datang berkunjung. Kebetulan, lokasi desa tersebut berada di tengah rute antara bandar udara Ngurah Rai dan istana kepresidenan Tampaksiring.

Lewat publisitas tersebut, peluang bisnis patung ukir semakin terbuka karena semakin banyak wisatawan dalam dan luar negeri yang tertarik berkunjung dan membeli kerajinan tersebut sebagai souvenir. Sehingga pada periode 1970-an hingga 1990-an kerajinan patung ukir desa Mas mencapai masa jayanya.

Namun pada perjalanannya bisnis dan kerajinan ini tidak selamanya mulus. Ketika industri pariwisata Bali diguncang tragedi bom Bali pada 2002 dan 2005, merosotnya jumlah wisatawan yang datang turut mencekik perekonomian para perajin patung ukir. Banyak dari mereka terpaksa banting setir mencari pekerjaan lain demi menghidupi keluarganya.

Butuh waktu lama untuk industri kerajinan patung ukir dapat bangkit kembali, terlebih dengan ketatnya persaingan dengan kerajinan serupa dari tempat lainnya. Hingga pada era 2010-an jumlah pengrajin patung ukir mulai naik kembali hingga ribuan.

Di tengah berbagai tantangan berat, para perajin di desa Mas Ubud terus mempertahankan eksistensinya dengan konsistensi dan kualitas. Salah satunya diwujudkan dengan pemilihan jenis kayu berkualitas, dari kayu bonggol jati, suar, meranti, eboni, waru dan sebagainya yang didatangkan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Filosofi mereka dalam berkarya juga terus dipertahankan. Ada sebuah paham yang dianut oleh warga setempat, yakni Tri Hita Karana; keharmonisan antara hubungan antar manusia (Pawongan), manusia dengan Tuhan (Parahyangan) serta manusia dengan alam (Palemahan).

Paham tersebut yang senantiasa menjadi konsep berkesenian perajin desa Mas, yang kemudian dituangkan ke dalam karya patung-patung yang memadukan desain modern dan kontemporer.

Secara umum ada dua jenis patung ukir yang dibuat, yaitu realis dan surealis. Realis merupakan jenis patung yang menyerupai bentuk dan postur tubuh manusia atau makhluk hidup lainnya, sementara surealis bentuk dan posturnya bisa lebih hiperbola dan imajiner.

Sekarang di desa tersebut tak sulit untuk menemukan jejeran artshop di sepanjang jalan utama, menawarkan beragam jenis patung ukir. Di desa ini, tiap warganya – terutama yang wanita – sudah diajarkan teknik memahat dan memoles patung kayu sejak anak-anak.

Tak jarang wisatwan bisa melihat secara langsung pengrajin patung ukir yang mengerjakan karyanya. Pengunjung pun juga dapat berkesempatan merasakan belajar membuat patung ukir sendiri.

Harga patung-patung ukiran tersebut sangat bervariasi. Tingkat kerumitan sangat berpengaruh, selain juga lama pengerjaan serta jenis dan kualitas kayu yang digunakan. Ada yang harganya ratusan ribu, ada juga yang sampai menyentuh ratusan juta rupiah.

Hal ini disebabkan proses pengerjaan yang begitu mendetail. Lama pengerjaan setiap patung berkisar antara satu hingga empat bulan lebih. Pengukiran patung dilakukan dalam berbagai tahapan, dimulai dari pembuatan bentuk pahatan secara kasar.

Setelahnya baru dirapikan detail-detailnya dengan sayatan pisau atau pahatan-pahatan kecil. Terakhir, patung yang sudah jadi dihaluskan dengan amplas, terkadang juga dipoles sesuai pesanan.

Yang tak kalah unik, karya satu perajin bisa memiliki ciri khas tertentu dibanding perajin lainnya. Kekhasan itulah yang membuat patung ukir buatan desa Mas begitu diminati. Selain diburu oleh wisatawan domestik dan mancanegara, patung ukir mereka juga diekspor ke berbagai belahan dunia, baik negara-negara di benua Asia, Eropa, maupun Amerika.

Selayaknya sebuah desa wisata, anda juga dapat menemukan beragam kerajinan lainnya seperti topeng dan wayang Bali. Dan lokasinya terhitung strategis karena cukup berdekatan dengan spot wisata lain seperti Kintamani, Gua Gajah dan beberapa museum di sekitar kawasan tersebut.

Tersedia juga beberapa pilihan penginapan, serta pilihan tur wisata di kawasan desa tersebut. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 081237250266, via email ke info@desawisatamas.com atau kunjungi situs resmi desawisatamas.com.

Desa Wisata Mas

Jl. Raya Mas no. 110, Desa Mas, Ubud, Bali

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Ubud Bali, Keselarasan Hidup di 14 Desa

Desa Tegallalang Bali menjadi tempat untuk menikmati alam.

Ubud Bali adalah keselarasan manusia dan alam, melalui capaian seni dan budaya. Pasti bukan hanya Elizabeth Gilbert, penulis buku Eat, Pray, Love yang mengamini itu.

Ubud Bali

Sempat dinobatkan majalah travel Amerika Condé Nast Traveler sebagai tujuan wisata terbaik di dunia, Ubud memang sangat kuat memberikan harmoni. Baik yang terlihat mata dan telinga, juga yang tertangkap oleh rasa. Ubud adalah pedesaan di Kabupaten Gianyar, Bali, merupakan paduan 14 desa berbalut hutan dan sawah terasering yang teduh menghijau, di mana seni dan laku spiritualitas menjadi denyut nadinya yang sangat kuat.

Begitulah, jauh di masa lampau, tepatnya pada abad ke 8, desa Ubud bahkan diyakini lahir dari kata “ubad” yang berarti “obat” karena di sinilah pusat meditasi dan penyembuhan pada zaman itu. Ada satu kisah, seorang resi terkemuka hijrah dari Jawa ke daerah ini untuk bermeditasi di muara sungai Campuan dan membangun kehidupan baru di Bali.

Warisan sebagai pusat spiritualitas di masa lalu tersebut membuat Ubud kaya dengan balian (para penyembuh tradisional) maupun seniman dengan karya masterpiece-nya. Paduan kearifan dari masa lampau dan kekinian secara unik berpadu di Ubud dengan harmonis, menjadikan daya tarik wisata kawasan ini yang tak akan cukup dijelajahi hanya dengan satu atau dua hari kunjungan.

Ubud bukanlah Kuta yang bising dengan wisatawan “anak pantai”-nya. Kawasan ini rasanya lebih teduh dan kerap turun hujan di sore hari pada sepanjang musim penghujan (Oktober hingga Maret). Itu sebabnya banyak pelancong lebih banyak mencari wisata budaya dan spiritual di sini. Tak heran, kegiatan retreat dengan yoga dan meditasi menjadi salah satu paket wisata yang banyak berkembang di Ubud.

Kegiatan para wisatawan di Ubud biasa dimulai dengan yoga di alam terbuka pada awal hari. Salah satu pusat retreat, yoga serta meditasi di Ubud adalah Yoga Barn. Acara di pagi hari bisa dilanjutkan dengan berjalan-jalan menikmati pertokoan dan butik yang artistik di pusat kota, menikmati Pasar Seni Ubud, atau mengunjungi ratusan monyet yang seolah setia menjaga Pura Dalem Padangtegal di Wanara Wana yang kini lebih dikenal dengan nama Monkey Forest.

 Ubud juga sohor dengan wisata treking dan bersepeda menyusuri sawah dan bukit. Di antara jasa tur sepeda di Ubud yang kerap dicari wisatawan manca negara adalah Bali Baik, Bali on Bike (BoB) dan Banyan Tree. Bersepeda sekitar 5 km dari Ubud menuju Tegal Lalang, suatu pusat seni kerajinan kayu, bisa dilakukan dengan melalui rute Dusun Ceking untuk bisa menikmati panorama sawah yang memesona. Tak jauh dari Tegal Lalang adalah desa Pakudui di Sebatu yang sohor dengan  patung dan ukiran kayu aneka jenis dan harga.

Pada sisi timur Pakudui terdapat Pura Gunung Kawi, Sebatu, yang anggun. Pengunjung dapat memasuki pura dengan memakai busana yang sopan dilengkapi kain kamen (sarung) yang bisa disewa di gerbang.  Pura lain di Ubud yang wajib dikunjungi adalah Pura Taman Saraswati yang dibangun anggun di tengah kolam penuh teratai. Pura ini dapat dinikmati pada pagi hari untuk sekadar berfoto di bibir keindahannya  sedangkan pada malam harinya ada pertunjukan tari. Pengunjung juga bisa menikmati tarian yang selalu dipentaskan kecuali pada Jumat malam.

 Salah satu sumber seni dan budaya di Ubud adalah adanya keraton Puri Agung yang menjadi jantung kehidupan di Ubud. Setiap hari pelancong dapat menyaksikan anak-anak yang berlatih menari dan juga pementasannya di Puri Agung. Bahkan pada Jaba Puri, yang menjadi semacam balairung keraton, setiap tahunnya digunakan untuk membuka pekan sastra internasional Ubud Writers and Readers festival.

Sebagai pusat seni, budaya dan spiritual, Ubud menjadi rumah berbagai kegiatan sejenis, baik untuk tingkat lokal hingga internasional. “Setiap tahun di Ubud diselenggarakan Bali Meditation Festival dan Bali Spirit Festival,” ungkap Noviana Kusumawardhani, warga Ubud. Selain dua festival besar itu  juga terdapat berbagai kegiatan spiritualitas nyaris setiap hari di Ubud. Kegiatan spiritualitas lain yang banyak dicari di Ubud adalah retreat dan melakukan meditasi.

Sejenak meninggalkan dunia spiritualitas, untuk mengagumi keunikan alam bisa dilakukan di di Desa Petulu yang  merupakan habitat burung bangau atau kokokan. Di desa peraih Kalpataru yang berada 2,5 km di sebelah utara Ubud tersebut terdapat ratusan bangau yang bersarang pada pepohonan di sepanjang jalan pedesaan.

Setiap pagi, kokokan berangkat bersama-sama matahari terbit untuk terbang mencari makan dan kembali bersama-sama ke sarang mereka selepas pukul lima petang. Wisatawan, terutama penggemar fotografi telah bersiap pada pukul 5 sore untuk mengabadikan pemandangan bangau yang menjejakkan kaki dari udara untuk hinggap ke sarangnya.

Lukisan seolah menjadi keharusan sebagai oleh-oleh dari Ubud. Pecinta seni akan sangat dimanjakan oleh aneka pilihan lukisan dari berbagai aliran. Adanya lima museum utama di Bali yang juga menyediakan galeri yang memperjual belikan lukisan dan deretan art shop di sepanjang Jalan Raya Ubud dan Jalan Monkey Forest tak akan cukup dijelajahi hanya dalam waktu satu atau dua hari. Selain lukisan, pahatan dan ukiran, Ubud juga sohor dengan karya fashion dan accesories.

Ubud Bali salah satu yang perlu dikunjungi adalah Pasar ubud

Terdapat pula Pasar Ubud yang eksotik bagi para wisatawan manca. Di sini pengunjung dapat menemukan aneka sarung Bali, aneka barang seni dan jajanan dengan seni tawar menawar yang seru. Jika hendak mengunjungi Pasar Ubud disarankan untuk menghindari pasar ini pada tengah hari lantaran menjadi waktu favorit untuk mampirnya bis berisi rombongan turis dari luar kota yang membuat pasar kecil tersebut menjadi sesak.

Jika pengunjung mengikuti tur harian dari Denpasar ke Ubud, biasanya sang pemandu akan mengajak mampir ke berbagai desa seni yang  dilewati. Ubud memang dikelilingi banyak desa seni yang menjual karya langsung dari sang seniman. Desa Batubulan, misalnya, adalah rumah para pemahat batu yang menyediakan aneka rupa stone-carving penghias rumah. Selepas Batubulan, akan tiba di desa Celuk yang sohor dengan kerajinan perak. Wisatawan dari Denpasar ke Ubud biasanya juga menyempatkan diri untuk mampir di Pasar Seni Sukawati, mencari lukisan tradisional di desa Batuan, dan ukiran kayu di desa Mas.

Jika pengunjung  ingin membeli sesuatu yang lebih personal,  terdapat pula para seniman yang membuka workshop dan pelatihan, misalnya di Chez Monique. Pada studio pembuatan perhiasan perak milik I Wayan Sunarta dan istrinya, Monique, di rumah sekaligus bengkel mereka di Jalan Dewi Sita, Ubud, tersebut tersedia pelatihan dasar membuat perhiasan dari perak, selama sekitar 4 jam.

Tertarik? Ayo agendakan perjalananmu ke Ubud.

*****

Liburan ke Cilacap, Menikmati Tradisi Sejak 1875

Ini 5 tempat Wisata asyik di Cilacap yang ada di jalur mudik selatan salah satunya bisa menikmati spot wisata di sekitar Cilacap

Liburan ke Cilapacap, Jawa Tengah, pengunjung bisa menikmati atraksi sedekah laut. Ebuah tradisi yang sudah berjalan lebih hampir 150 tahun. Selain itu, masih ada Teluk Penyu dan Benteng Pendem menjadi kegiatan wisata yang mencuri perhatian wisatawan. Cilacap Tak lagi hanya dikenal karena Pulau Nusakambangan.

Liburan ke Cilacap

Bulan Suro dalam penanggalan Jawa memiliki makna penting bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap, Jawa Tengah. Bagaimana tidak, sebagai masyarakat bahari, warga Cilacap memiliki kalender rutin sedekah laut. Ini merupakan upacara adat nelayan berupa prosesi Larung Sesaji yang disebut Jolen ke Laut Selatan sebagai wujud rasa syukur serta permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan nelayan dapat makmur sentosa.

Liburan ke Cilacap salah satunya mennikmati rangkaian tradisi larung sesaji.
Larung Sesaji, tradisi memberikan melarung sesaji di Cilacap sejak 1875. Foto: Dok. shutterstock

Merunut sejarah, kegiatan tersebut bermula dari perintah Bupati Cilacap III, Kanjeng Adipati Raden Bei Tjakrawerdana III (1873-1877) kepada sesepuh nelayan Pandanarang yang bernama Ki Ansa Manawi untuk melarung sesaji atau Jolen ke Laut Selatan pada Jumat Kliwon di bulan Suro tahun 1875. Tujuannya, untuk menjaga keselamatan warga Cilacap.

Tetapi tradisi tersebutsempat terhenti danbaru dihidupkan kembalipada masa Bupati Poedjono Pranjoto pada tahun 1982 hingga saat ini terus dilestarikan sebagai salah satu atraksi budaya di Kabupaten Cilacap yang dilaksanakan tiap Jumat atau Selasa Kliwon di Bulan Sura.

Rangkaian gelar budaya sedekah laut diawali dengan berziarah ke Karang Bandung di Pulau Nusakambangan oleh para sesepuh nelayan, sehari sebelum prosesi larungansesaji. Pada malam harinya dilakukan tasyakuran di Pendopo Wijayakusuma Sakti Kab. Cilacap yang dihadiri para nelayan dan pejabat di lingkungan Pemkab Cilacap. Prosesi Larunganpada upacara ini berlangsungdi Pantai Selatan Cilacap dan meriah karena melibatkan banyak kelompok nelayan dan masyarakat sekitar.

Iring-iringan kirab tersebut terdiri dua perempuan berkuda, barisan prajurit bertombak, barisan umbul-umbul, 14 putri domas,14 putri pengiring, kereta kuda yang membawa Bupati Cilacap dan istri serta pejabat lainnya, sejumlah becak, dan prajurit pembawa jolen. Prosesi dimulai dari pelepasan iring-iringan kelompok nelayan yang dipimpin Tumenggung Duta Pangarsa dengan membawa Jolen (sesaji berupa kepala kerbau yang dihias meriah) oleh Bupati Cilacap dari Pendopo Kabupaten menuju Pantai Teluk Penyu. Di Pantai Teluk Penyu, Tumenggung Duta Pangarso meminta izin kepada Bupati untuk memerintahkan para nelayan melarung jolen di Laut Selatan (sebelah selatan Pulau Nusakambangan).

Liburan ke Cilacap, selain menikmati tradisi lama, juga ada wisata pantai di teluk Penyu.
Panorama pantai Teluk Penyu di Cilacap, Jawa, Tengah. Foto:: Dok. shutterstock

Keunikan budaya di Cilacapitu tak bisa dipisahkan dari geografis wilayahnya yang berada di Jawa Tengah, tapi berbatasan pula dengan Provinsi JawaBarat. Sehingga budaya yang berakulturasi yaitu Jawa dan Sunda begitu lekat di Cilacap Ini. Pesona alamnya yang sebagian berada di pesisir pantai selatan memiliki keindahan luar biasa. Di antaranya Pantai Teluk Penyu yang berlatarkan Pulau Nusakambangan yang eksotis dan misterius.

Pantai Teluk Penyu initerletak sekitar 2 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Cilacap ke arah selatan. Kondisi pantainya landai, dan jika dilihat dari atas berbentuk seperti bulan sabit dengan pemandangan Pulau Nusakambangan serta kapal-kapal nelayan, dengan latar belakang Benteng Pendem Cilacap. Dinamakan Teluk Penyu karena konon, dahulu banyak terdapat penyu di sekitar teluk ini. Sedikit berbeda dengan pantai selatan pada umumnya yang memiliki ombak besar, Pantai Teluk Penyu karena terlindung Pulau Nusakambangan dari arah Samudera Hindia, maka ombaknyapun tidak terlalu besar.

Berbagai atraksi dan rangkaian kegiatan besar pariwisata sering diselenggarakan di Pantai Teluk Penyu diantaranya Gelar Budaya Adat Nelayan Sedekah Laut setiap Selasa atau Jumat Kliwon di bulan Sura, Festival Perahu Naga (Dragon Boat Race Open Tournament) tiap Maret dan Festival Layang-layang tingkat Nasional tiap September.

Di dekat pintu masuk dan sepanjang Pantai Teluk Penyu terdapat aneka cenderamata serta makanan khas hasil laut yangdapat dinikmati sambil merasakan sejuknya semilir angin laut selatan di bawah pohon waru atau di payung-payung pantai yang terdapat di sepanjang pantai tersebut.

Liburan ke Cilacap orang bisa menikmati Benteng Pendem peninggalan Belanda.
Benteng Pendem peninggalan zaman Belanda yang masih tersisa di Cilacap. Foto: Dok. shutterstock

Berwisata ke Cilacap, tak lengkap tanpa berkunjung ke Benteng Pendem Cilacap atau dalam bahasa Belanda disebut “Kusbatterij op de Landtong te Tjilatjap” terletak 0,5 km arah selatan Pantai Teluk Penyu. Benteng ini merupakan peninggalan Hindia Belanda yang dibangun rentang 1861 – 1879 sebagai benteng pertahanan dengan luas 10,5 hektare. Keseluruhan bangunan benteng ini masih dipertahankan seperti bentuk aslinya yang terdiri dari barak atau ruang prajurit, klinik, terowongan, penjara, ruang amunisi, ruang akomodasi, dan landasan meriam, yang dikelilingi parit dengan kedalaman 3 meter.

Sejak selesai dibangun mulai 1861 hingga 1942, benteng ini dipergunakan sebagai markas tentara Belanda untuk pertahanan pantai Pulau Jawa di bagian selatan karena letaknya yang strategis dan terlindung oleh Pulau Nusakambangan. Kemudian pada 1942 sampai 1945 Benteng Pendem dimanfaatkan sebagai Markas Tentara Dai Nippon (Jepang) di era penjajahan Jepang.

Setelah Jepang kalah perang, antara 1945-1950 Benteng Pendem itu diambil alih kembali oleh tentara Belanda sampai 1950.

Selanjutnya, Benteng Pendem tidak berfungsi apapun, hingga pada 1952-1965 dijadikan markas TNI/Pasukan Banteng Loreng
dan dalam perkembangannya dimanfaatkan sebagai tempat latihan pasukan RPKAD (sekarang Kopassus) sampai 1965 dan meninggalkan bangunan monumen dua peluru di pintu gerbang selatan. Kemudian, sekitar 21 tahun setelah itu, Benteng Pendem terlantar tanpa ada yang memanfaatkannya.

Benteng Pendem baru mulai kembali dimanfaatkan keberadaanya pada 1986 dengan sebagian areal Benteng Pendem seluas 4 hektare untuk dibangun dermaga kapal dan kantor serta tangki-tangki minyak area 70. Hingga akhirnya pada 26 November 1986, seorang warga Cilacap bernama Ady Wardoyo (Pemilik CV. Wardoyo) mencoba menggali dan menata kembali lingkungan Benteng Pendem dan mulai 28 April 1987 secara resmi dibuka sebagai tempat wisata sampai saat ini.

Benteng Pendem Cilacap kini telah dilengkapi dengan fasilitas berupa gazebo, ayunan atau tempat bermain, area pemancingan, perahu bebek, motor ATV, mushola, panggung hiburan dan toko cenderamata. Berbagai kegiatan pariwisata sering dilaksanakandi tempat ini antara lain lomba menggambar dan mewarnai, memancing, festival musik, tari dan calung Banyumasan.

agendaIndonesia

*****

Kota Pontianak, Kota Multietnik di Garis Lintang 0

Pontianak Tugu Khatulistiwa

Kota Pontianak adalah kota yang tepat dilewati garis Khatulistiwa atau equator, atau garis lintang 0 derajat. Ia berada di tengah-tengah titik utara dan titik selatan bumi. Memiliki banyak tradisi Melayu, kota ini kaya dengan warisan kuliner Tionghoa.

Kota Pontianak

Menuju ibukota Kalimantan Barat ini tentu saja paling mudah melewati jalur udara melalui Bandara Supadio. Dari Bandara Soekarno Hatta memerlukan penerbangan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Supadio sendiri berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Pontianak.

AgendaIndonesia berkesempatan mengunjungi kota ini akhir tahun lalu. Sesungguhnya agak nanggung datang ke Pontianak pada bulan Desember, sebab saat itu kotanya sedang tak terlalu ramai. Kota ini ramai justru saat perayaan Imlek, dan dua minggu setelahnya, yakni perayaan Cap Go Mei. Maklum saja, sekitar 32 persen warga kotanya adalah masyarakat keturunan Tionghoa. Lebih besar dari warga Melayu yang sekitar 26 persen.

Saat Imlek, yang biasanya jatuh di akhir Januari atau awal Februari, suasana kota sungguh meriah. Cobalah pada hari-hari itu mampir ke pasar-pasar tradisional. Warna-warni merah mendominasi suasana pasar. Dan, sama seperti ketika Lebaran di kota-kota di Jawa, saat Imlek banyak warga saling mengunjungi.

Agama tak menghalangi tradisi saling kunjung dan makan besar. Meskipun banyak warga Tionghoa yang sudah memeluk agama Katolik, selain Budha dan Konghucu, Imlek adalah perayaan tahun baru semi. Dirayakan oleh semuanya. Di kota ini bahkan warga non-tionghoa pun ikut saling mengunjungi. Sungguh suasana kekeluargaan yang hangat.

Tapi sudahlah, karena bukan saat perayaan Imlek, ketika sampai Pontianak, dengan mencarter mobil, kami berpikir untuk pertama-tama mengunjungi ikon kota ini: Tugu Khatulistiwa. Dari Bandara kami menuju ke wilayah Sungai Raya atau warga setempat menyebutnya Sei raya. Saat ini sudah ada dua jembatan yang menghubungkan wilayah Pontianak kota dan Pontianak Utara. Keduanya membentang sepanjang sekitar setengah kilometer, 420 meter dan 560 meter. Jembatan I dulunya adalah jembatan tol, namun pada 1990-an dibuka untuk umum tanpa berbayar.

Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dan Sungai Landak. Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia yang melintasi 5 kawasan, termasuk Pontianak. Panjang sungai ini mencapai 1.143 kilometer, sedangkan lebarnya sekitar 70-250 meter. Sebutan sungai Kapuas diambil dari daerah Kapuas Hulu yang mengaliri aliran sungai tersebut.

Dulunya, sebelum tahun 1982, warga Pontianak Kota yang ingin pergi ke wilayah lain di Kalimantan Barat harus menyeberangi Kapuas dengan kapal feri menuju wilayah Siantan. Dari sana baru perjalanan darat menuju Singkawang, Sambas, atau Kapuas Hulu dilanjutkan.

Tugu Khatulistiwa ini rasanya wajib kunjung, karena sesuai julukannya, Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena posisinya dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang dilalui garis lintang nol derajat bumi.

Tugu Khatulistiwa bentuknya sederhana saja, sebuah menara dari bahan kayu belian berwarna hitam dengan dua lingkaran di mana salah satunya memiliki anak panah yang menandakan lintasan titik 0 derajat lintang bumi. Menara ini dibangun oleh tim ekspedisi geografi yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda.

Sesungguhnya tugu atau menara Khatulistiwa ini biasa saja. Namun, memang ada sensasi lucu ketika berdiri di bawahnya. Berdiri tepat di tengah-tengah lingkaran utara-selatan bumi. Sayangnya belum ada penelitian, adakah efek berada di titik 0 bagi manusia. Jika ada, dan positif, bisa jadi daerah ini akan makin ramai mendatangkan wisatawan.

Dari tugu, kami kembali ke kota. Hari itu kami cuma berencana menikmati kuliner Pontianak. Pertama-tama tentu saja kwetiau, atau masyarakat Pontianak menyebutnya mi tiau. Sama saja, keduanya merujuk pada bakmi dari tepung beras berwarna putih dan pipih lebar.

Kota Pontianak di  Pusat oleh olehnya

Ada beberapa pilihan restoran yang kondang di kota ini, tapi kami memilih Kwetiau Antasari. Dari namanya pasti sudah bisa diduga kalau lokasi berjualan rumah makan ini sekaligus menjadi nama atau branding dari rumah makannya ada di Jalan Antasari. “Ini sudah buka sejak aku kelas 2 SD,” kata Uke, seorang kawan yang menemani makan siang, itu artinya merujuk pada tahun 1972.

Kami siang itu memesan menu andalan, yakni kwetiau goreng spesial. Kata spesial ini merujuk pada kondimen yang terdiri dari bakso sapi gepeng, daging sapi, daging babat, sayuran hijau, tauge, kikil dan ditambahkan lagi telur mata sapi di atas kwetiau gorengnya. “Itu belum termasuk telur yang dicampur dalam gorengannya,” kata Uke sambil bercerita, jika pesan bungkus, maka bungkusannya masih menggunakan daun jati. Persis seperti puluhan tahun lampau.

Jika ingin mencoba kwetiau atau mitiau lain, ada pilihan Kwetiau Seroja Baru, juga Kwetiau Apolo. Yang terakhir ini, yang kami coba besoknya, terlihat lebih gelap karena faktor kecap.

Usai makan, kami lanjut ke tempat lain yang tak kalah terkenalnya di Pontianak: es krim Angi atau lebih dikenal dengan sebutan es krim Petrus, karena dengan dengan SMA Petrus. Tadinya mau mencoba kopi Asiang yang dekat dari Antasari, tapi warungnya penuh. Dan di tengah panas siang hari, es krim rasanya asik.

Es Krim Petrus ini ternyata juga sudah melegenda, sebab sudah melayani pelanggan sejak tahun 1950-an. Para pelanggan menyebut rasa es krimnya tidak berubah sejak pertama kali. Dan itulah yang menjadi daya tarik penikmatnya untuk kembali lagi dan lagi. Satu hal yang membuat banyak orang datang kembali untuk mencecap es krimnya adalah cara penyajiannya dengan menggunakan kelapa muda. Pilihan rasanya cukup banyak, mulai dari durian, cempedak, strawberi, nangka, vanila, coklat, dan beberapa lainnya.

Kami sempat mengunjungi hutan kota (Arboretum Sylva Untan) yang berlokasi di kawasan Universitas Tanjungpura. Hutan seluas 3,2 hektare ini memiliki koleksi tanaman khusus dari Kalimantan Barat, yaitu 190 jenis pohon, 86 anggrek, 176 perdu, dan tumbuhan bawah, dan sebagainya. Ada juga sarana untuk berlari, bersepeda, ekowisata, dan aktivitas outbound.

Sore menjelang malam hari, kami meluncur ke pinggiran sungai Kapuas, ada atraksi menarik berupa air mancur warna-warni. Untuk menikmati Kapuas, mampirlah ke Taman Alun Kapuas yang berlokasi di tepi Sungai Kapuas. Di tempat ini, pelancong bisa menikmati embusan angin Sungai Kapuas dan keindahan mentari tenggelam. Jangan risaukan urusan perut, sekitar Alun Kapuas banyak makanan jalanan yang lumayan.

Usai menikmati Kapus, bagi penikmat kopi, jangan lewatkan deretan kedai kopi di Jalan Gajah Mada. Salah satunya, Warung Kopi Liem yang buka dari malam hingga pagi.

*****

Dataran Dieng, 2100 Meter Di Atas Tanah Jawa

Dataran Dieng disebut sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa

Dataran Dieng, di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, biasanya orang akan langsung teringat dengan keindahan alam pegunungan, di atas ketinggian 2.093 meter di atas permukaan laut. Tidak salah memang, karena sebagian dari Dieng masuk di wilayah kabupaten ini. Beberapa obyek wisata unggulan pun terdapat di kawasan berudara dingin tersebut.

Dataran Dieng

Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Tengah, keberadaan hotel mulai kelas melati hingga hotel berbintang boleh jadi salah satu indikator sebagai daerah tujuan wisata baik wisatawan dalam maupun luar negeri. Di saat akhir pecan, suasana Kecamatan Wonosobo, pusat pemerintahan kabupaten ini terasa lebih ramai. Mereka kebanyak- kan wisatawan yang menginap dikota Wonosobo untuk berwisata ke kawasan Dieng.

Wisata alam merupakan satu dari sekian banyak keunggulan pariwisata kabupaten ini. Kawasan Dieng menjadi pusat wisata alam. Serunya, aktivitas wisata alam di Kabupaten Wonosobo sudah bisa lakukan sejak dinihari dengan menikmati terbitnya matahari (sunrise) di Bukit Sikunir, Desa Sembungan.

Desa Sembungan berada di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Bukit Sikunir menjadi tempat untuk menikmati saat terbitnya matahari dengan latar pegunungan. Desa yang disebut sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa ini (2.300 meter di atas permukaan laut) hampir tidak pernah sepi dari wisatawan. Bukit Sikunir pun menjadi lokasi favorit para pemburu foto lansekap.

Untuk bisa menikmati keindahan sunrise di Bukit Sikunir harus bersiap mulai jelang subuh, jika berangkat dari kawasan Dieng, pukul 4 sudah harus meninggalkan penginapan, sementara jika menginap di kota Wonosobo aktivitas harus sudah dimulai sejak pukul 3 pagi.

Selain menyiapkan diri dengan jaket tebal, sepatu khusus trekking, kaus tangan dan penutup kepala, stamina pun harus dalam kondisi prima, maklum untuk mencapai Bukit Sikunir harus dilalui dengan jalan kaki menanjak yang cukup menguras tenaga. Namun semua perjuangan itu akan terbayar lunas saat detik-detik matahari mulai menampakkan wujudnya. Semburat jingga mentari pagi bakal muncul indah dibalik kokohnya Gunung Sindoro, Sumbing, dan Gunung Slamet.

Puas menikmati dan mengabadikan keindahan matahari terbit, setelah turun bukit, istirahat sejenaklah di Danau Cebong. Hamparan air dengan latarbelakang perbukitan menjadi pe- mandangan yang cukup menyegarkan, sinar tipis matahari pagi semakin menghangatkan suasana.

Dataran Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, merupakan salah satu pusat kunjungan wisata terkenal di Indonesia.
Telaga Cebong di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Foto: Dok. shutterstock

Biasanya setelah menyaksikan sunrise dan menikmati segarnya suasana Danau Cebong, perjalanan wisata dilanjutkan dengan mengunjungi Telaga Warna. Keindahan salah satu obyek wisata unggulan Kabupaten Wonosobo ini sudah sangat popular. Saat akhir pekan wisatawan asal Yogyakarta, Semarang, Jakarta, hingga wisatawan asing banyak yang berkunjung ke telaga ini.

Danau ini disebut sebagai Telaga Warna karena memiliki keunikan air telaga ini sering berubah terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni mirip pelangi. Kandungan sulfur yang cukup tinggi merupakan salah satu faktor mengapa air telaga ini bisa berubah saat terkena sinar matahari.

Suasana damai juga senantiasa melingkupi kawasan telaga warna, tidak heran jika banyak wisatawan yang betah berlama-lama menikmati suasana di obyek wisata ini. Selain itu rimbun pepohonan yang mengelilingi telaga menambah suasana semakin damai. Berdekatan dengan Telaga Warna ada Telaga Pengilon dengan air jernih dan suasana alam sekitarnya yang juga menenangkan.

Dataran Dieng di ketinggian 2100 meter di atas permukaan laut memiliki beberapa danau, salah satunya Telaga Warna.
Telaga Warna di Dataran Tinggi Dieng. Foto: Dok. shutterstock

Jangan pernah melewatkan pula Dieng Plateu Theater (DPT). Inilah pusat informasi tentang Dieng. Segala po- tensi alam dan budaya masyarakat di dataran tinggi Dieng tesaji di sini. Bios- kop mini dengan kapasitas sekitar 100 orang ini memutar film dokumenter yang memaparkan sejarah dan ke- hidupan di Dataran Tinggi Dieng. Film berjudul “Dieng Negeri Khayangan” tersebut berdurasi sekitar 23 menit.

Meski terbilang singkat, namun film tersebut mampu merangkum dan memberikan informasi lengkap mulai kejadian geologi, seni dan budaya, obyek wisata, kehidupan sosial masyarakat Dieng hingga fenomena rambut gimbal anak-anak Dieng, termasuk informasi mengenai embun salju yang turun pada musim kemarau atau biasa disebut “embun upas”.

Sempatkan juga untuk mempir ke Telaga Menjer. Luas telaga ini mencapai 70 hektare dengan latar elakang bukit berhiaskan hijaunya pepohonan. Telaga ini terletak di Desa Maron, Kecamatan Garung. Air telaga ini dimanfaatkan menjadi sumber tenaga bagi pembangkit tenaga listrik.

Wonosobo masih memiliki obyek wisata Taman Rekreasi dan Olahraga Kalianget. Destinasi wisata ini merupakan tempat pemandian air panas. Taman Rekreasi dan Olahraga Kalianget jarangat hanya sekitar tiga kilometer dari pusat kota Wonosobo. Ada dua tempat di pemandian ini yakni berupa kolam besar dan pemandian kamar- kamar.

Kandungan air panas di Kalianget berasal dari aliran sungai kecil, kandungan sulfurnya cukup tinggi dan bermanfaat untuk obat bagi yang meiliki masalah kesehatan kulit. Sumber air hangat di Kalianget sangat melimpah, memanfaatkan potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonosobo sekarang ini sedang mengembang-
kan wisata kesehatan dengan konsep rumah sehat.

Puas menikmati semua keindahan alam Wonosobo, tentunya mencicipi kuliner khas kabupaten ini tidak boleh terlewatkan. Mie Ongklok, salah satu makanan khas merupakan ikon wisata kuliner Wonosobo. Mie ini memiliki cita rasa yang gurih.

Mie ongklok disajikan dengan kuah yang kental bercampur sayuran segar ditemani dengan tusukan-tusukan sate daging sapi yang diiris kecil-kecil. Rasa sate yang manis gurih menambah sedapnya rasa Mie Ongklok. Warung makan yang menyajikan menu Mie Ongklok cukup banyak di Wonosobo

Larung Sukerto

Larung Sukerto merupakan tradisi yang unik dan masih dipertahankan masyarakat di Kabupaten Wonosobo. Kata Larung artinya terapung dibawa air, dan Sukerto memiliki arti masalah. Jadi secara haraah tradisi ini memiliki arti membuang segala masalah. Tradisi membuang masalah ini dilambangkan dengan menghanyutkan berbagai macam sesaji ke Sungai Semagung.

Upacara adat ini sudah dilakukan secara turun-temurun. Tidak ada literature yang pasti sejak kapan tradisi ini dimulai. Larung Sukerto dilaksanakan setiap malam 1 Syuro (penanggalan jawa). Tradisi ini dimulai tepat pada pukul 00.00 tempuran.

Tenong Suran

Ritual tradisional ini dilaksanakan sebagai upacara menyambut hari jadi Dusun Gianti di Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto. Tenong Suran dilaksanakan setiap Syura (Muharam). Prosesi upacara tenongan diawali ziarah ke makam sesepuh desa Adipati Mertoloyo yang dipercaya sebagai pembuka Dusun Giyanti.

Ratusan warga mengenakan pakaian khas Jawa membawa makanan dalam tempat makan yang disebut tenong. Prosesi ini juga diiringi dengan kesenian seperti lengger, barongan, serta kuda kepang. Setelah prosesi upacara kegiatan dilanjutkan dengan pagelaran seni tradisional semalam suntuk di desa yang mendapat julukan sebagai Dusun Wisata tersebut.

agendaIndonesia

*****