Indahnya 1.000 Batuan di Pantai Ranai

Batuan di Pantai Ranai, Natuna

Menjelajahi Natuna, di Provinsi Kepulauan Riau, mungkin banyak yang belum tertarik. Pilihan terbangnya pun harus dari Jakarta ke Batam atau ke Tanjungpinang, baru lanjut ke Natuna. Jika mengunjunginya, sempatkan mampir ke Pantai Ranai.

Pantai Ranai di Pulau Bunguran

Kabupaten merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara dan mempunyai potensi wisata berlimpah, selain potensi perikanan dan migasnya. 

Terdiri atas 272 pulau dan merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Tujuh, Natuna memiliki pilihan beragam untuk wisata bahari. Namun bila cuaca sedang tidak bersahabat atau Anda hanya memiliki waktu pendek, berkeliling di Pulau Bunguran, tempat Ibu Kota Kabupaten Natuna berada, pun tetap menyenangkan. Di sana ada beberapa titik di seputar Ranai yang menarik untuk disinggahi. 

Batu-batu kecil dan besar yang bertaburan di tepian pantai menjadi ciri dari pantai-pantai seputar Ranai. Salah satu lokasi yang tidak jauh dari pusat Kota Ranai adalah Batu Sindu. Untuk bisa melihat bebatuan yang berserakan di bagian bawah atau di dekat tebing, Anda harus menaiki Bukit Senubing. Di sana Anda akan melihat bebatuan dengan ukuran dan bentukyang berbeda-beda, serta terlihat unik. Selain itu, batuan tidak hanya berada di bagian bawah, tapi juga bertebaran di perbukitannya. 

Tidak jauh dari Batu Sindu, masih ada keindahan bebatuan lain yang lebih tertata dan diberi label Alif Stone Park. Bahkan, ada juga homestay bagi Anda yang ingin menginap di sini. Lokasinya di Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, dari Ranai sekitar 7 kilometer atau bisa dicapai dalam 10 menit. Di lokasi favorit untuk selfie atau wefie bagi kebanyakan wisatawan ini, Anda bisa menikmati laut dan bebatuan yang bertebaran. 

Setelah Alif Stone Park, sekitar 4 kilometer bisa ditemukan objek wisata lain, yakni Pantai Tanjung. Pantai ini menjadi tujuan favorit penduduk Ranai menghabiskan akhir pekan. Pantai panjang berpasir putih itu biasanya memang hanya ramai pada Sabtu dan Minggu. Namun di hari biasa pun, sebagian kedai yang berada di sepanjang pantai tetap buka. Jadi, wisatawan bisa mampir, duduk, dan bersantap, sembari menatap Pulau Senoa dari kejauhan. Pulau Senoa dikenal yang dengan bentuknya seperti ibu hamil itu, bisa dicapai dengan perahu cepat sekitar 15 menit. Pulau tersebut memiliki pasir putih dan spot untuk snorkeling maupun menyelam.

Saat duduk-duduk di Pantai Tanjung ini, jangan lupa mencicipi camilan khas lokal yang bernama kernas. Kernas terbuat dari ikan tongkol dengan sagu dan ada benjolan putih dari bahan sagu. Sehingga sekilas terlihat mirip onde-onde, hanya saja bentuknya gepeng dan berwarna cokelat tua. Kernas yang dicocol sambel rasanya gurih dan pedas. Apalagi kalau masih panas, sedap rasanya. 

Sore atau pagi hari, ada pilihan pantai juga di tengah kota. Pantai Kencana dengan taman di depannya, bisa menjadi pilihan saat duduk-duduk di sore hari atau jalan di pagi hari sembari menghirup udara segar. Selain ini, tentunya masih banyak pilihan objek wisata meski lokasinya lebih jauh dari pusat kota. 

Dolan Ke Natuna, 272 Pulau Eksotis

Dolan ke Natuna bia menjadi alternatif liburan bagi pecinta wisata bahari.

Dolan ke Natuna hampir pasti masih jauh dari bayangan para pelancong Indonesia. Persepsi kebanyakan orang Indonesia, kawasan Natuna adalah kepulauan nun jauh di Utara negri ini. Persepsi yang tak terlalu meleset, meskipun sesungguhnya kawasan ini memiliki banyak spot wisata menarik.

Dolan Ke Natuna

Sampai saat ini, Pulau Natuna masih menjadi salah satu destinasi pulau terluar Indonesia. Banyak orang tahu soal keindahan alamnya. Sebagai bagian dari Provinsi Kepulauan Riau yang berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan, Pulau Natuna memiliki destinasi wisata yang eksotis. 

Jika ingin menikmati wisata pantai, wisatawan mungkin mulai bisa mengagendakan waktunya untuk bisa dolan ke Natuna dan mengunjungi Pantai Teluk Buton atau Pantai Sahi di Pulau Natuna.

Pantai Camaga di Kepulauan Natuna menjadi salah satu dari 272 pulau eksotis Natuna.

Masih seputar menikmati wisata bahari, saat dolan ke Natuna pelancong juga bisa melakukan island hopping, dari pulau ke pulau. Mereka bisa mengunjungi Pulau Senua yang terkenal dengan pusat konservasi penyu dan wisata edukasi.

Selain menikmati pemandangan pantai yang indah, di pulau ini pelancong juga berkesempatan snorkeling melihat ratusan terumbu karang yang masih terjaga dengan baik.

Kabupaten Natuna memangterkenal dengan sejumlah tempat wisata yang mempesona dan menakjubkan, lengkap dengan sumber daya alam melimpah. Wisatawan yang ingin liburan, bisa masukan Natuna sebagai salah satu pilihan dalam daftar rencana. Di sana, wisatawan bisa menikmati bukit kapur hingga pantai yang indah.

Natuna sering dibayangkan seperti pulau tersendiri yang terpencil jauh dari pulau-pulau lain. Letaknya di antara Kalimantan dan Sumatera, tetapi memang jauh di utara. Berbagai cerita tentang pulau ini melintas di berbagai zaman.

Cerita itu mulai dari kisah diakuinya pulau ini sebagai wilayah Indonesia, lalu soal minyak dan gas alam yang berlimpah, hingga kisah sejumlah negara asing untuk mengambil alih pulau ini. Natuna sendiri sesungguhnya adalah sebuah kepulauan. Jumlah pulaunya ada 272. Bayangkan, ada berapa pantai eksotis di tengah Laut China Selatan ini.

Tanjung Datuk di Natuna bisa dukunjungi saat dolan ke Natuna.


Untuk dolan ke Natuna, pelancong bisa berangkat dari Jakarta dengan penerbangan. Sayangnya, tidak ada penerbangan komersial yang langsung, semua harus transit di Bandara Hang Nadiem di Batam sehingga total penerbangan bisa 4-6 jam. Dari Batam baru terbang menuju Bandara Ranai di Natuna.


Kebanyakan warga Natuna adalah masyarakat Melayu. Salah satu makanan yang khas adalah kerang yang dimakan dengan sambal calok—cabai dan irisan udang yang superpedas. Uniknya, ada beberapa angkringan ala Jawa di Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna. Malam-malam, orang-orang banyak berkumpul di warung dan disko dangdut.

Kabupaten Natuna yang memiliki pusat kota di Ranai yang terletak di Pulau Natuna Besar memiliki keunikan dan menjadi daya tarik pariwisata, yaitu wisata bahari. Tentunya kegiatan wisata seperti snorkeling, diving hingga berenang sangat dinantikan wisatawan jika berkunjung ke Natuna.

Kendati pun demikian, ada baiknya wisatawan tahu kapan waktu terbaik untuk berkunjung ke Natuna. Pemerintah Kabupaten Natuna merekomendasikan bulan Maret sampai Oktober sebagai waktu yang tepat untuk dolan ke Natuna. Saat-saat bulan seperti ini, cuaca lagi bagus-bagusnya di Natuna.


Jika waktu liburannya pendek, dan tak memungkinkan island hoping, wisatawan bisa mengunjungi sejumlah tempat di sekitar Ranai. Misalnya, Tanjung Senubing dan Bukit Kapur.

Seperti kota-kota di pinggir pantai, tepi jalan di luar Kota Ranai diwarnai dengan pohon-pohon kelapa. Bayangan pasir putih yang indah dengan pantai yang bersih, namun ada yang unik.

Batu-batu andesit di sepanjang jalan dan pantai di Natuna.

Sepanjang jalan banyak batu-batu andesit superbesar. Beberapa bahkan lebih tinggi dari empat meter. Mobil lalu berbelok ke arah pantai. Pasir pantai itu memang putih, tetapi yang menarik adalah batu-batunya.

Tanjung Senubing memiliki pemandangan yang asyik. Lokasinya terletak di pantai timur Ranai, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna. Tempat ini menawarkan pemandangan batu-batu purba berukuran besar, dan goa yang terbentuk dari susunan bebatuan, serta dipadu dengan bentangan laut biru.

Dengan hamparan batu yang unik dan menarik, Tanjung Senubing cocok untuk dijadikan tempat berfoto yang instagramable. Salah satu spotnya adalah Batu Sindu yang melegenda di kalangan masyarakat.


Pilihan lainnya adalah Bukit Kapur yang terletak di bawah kaki Gunung Ranai tepatnya di Desa Ceruk, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna. Berada di ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut (mdpl), Bukit Kapur menawarkan keindahan hutan yang hijau dan memandangi wilayah Natuna dari ketinggian.

Bukit Kapur memiliki pemandangan indah dan pepohonan pinus. Di sana tersedia balkon dan jembatan kayu yang sangat cocok dijadikan sebagai latar foto. Medan trek di Bukit Kapur cukup menantang dan sangat cocok untuk aktivitas outdoor seperti bersepeda. Di sini juga tersedia warung-warung makan, sehingga pengunjung dapat mengisi perut ketika lapar.


Masih ada banyak spot wisata di Natuna, jadi rasanya sekali-kali agendakan liburan dengan dolan ke Natuna.

agendaIndonesia

****






Glamping, Wisata Kemah Cantik

glam 4 IMG 20190803 WA0003

Kini orang menikmati glamping. Kemah cantik yang tidak perlu membawa perlengkapan berkemah bahkan tidur pun di kasur empuk.

Malam sudah larut saat Rufaida, berangkat berkemah. Ia meluncur menuju Gadog, Bogor. Perjalanan kemahnya kali ini berbeda. Wanita yang akrab dipanggil Cobi ini pernah menginjakkan kaki di beberapa gunung atau membuka kemah di dataran tinggi di Indonesia. Biasanya ia membawa ransel besar berisi segala perlengkapan. Kali ini, ia cukup membawa ransel daypack-nya. Rupanya ia ingin “camping cantik”. 

 “Maksudnya aku pengin refreshingdi alam, menginap di tenda, tapi enggak mau susah. Enggak perlu bawa tenda, logistik, makanan, dan lain-lain. Pokoknya bawa badan saja. Dan satu lagi, nyaman selama camping,” ujarnya. 

Glamping di Gunung Geulis

Bogor hanya 45 menit dari Jakarta. Ditambah sekitar setengah jam perjalanan, ia dan tiga temannya sudah tiba di Gunung Geulis Campsite. Di sebuah tenda terpal, telah terpasang empat tempat tidur. Di atasnya, ada kasur empuk beserta bantal dan selimut. Kamar mandi bersih pun tersedia. Ia pun tidak perlu menyiapkan senter untuk penerangan. Ada lampu listrik yang membuat tenda terang-benderang. Malam itu, ia langsung rebah tanpa perlu susah payah mendirikan tenda seperti yang biasa ia lakukan. “Ha-ha-ha…ini asyiknya glamping,” katanya. 

glmap 2 IMG 20190803 WA0195

Istilahglamping atau glamorous campingpertama kali dikenal pada 2005 di Inggris. Namun konsep kemah mewah seperti ini bukan hal yang benar-benar baru. Sebab, hal itu telah dilakukan raja-raja dan bangsawan pada zaman dahulu. Pada abad ke-16, Duke of Atholl dari Skotlandia melakukan perjalanan glampingdi Highland untuk mengunjungi Raja James V dan ibunya. Rombongan Duke mengangkut tenda-tenda mewah dan mengisinya dengan segala keperluan seperti di istana. Pada periode yang sama, Kesultanan Ottoman juga memiliki tenda mewah dan megah yang dibawa dari satu misi militer ke misi berikutnya. Sultan memiliki tim yang bepergian bersama tentara untuk mendirikan serta memelihara tenda-tenda ini. 

Kini konsep akomodasi glamping sudah menyebar ke seluruh dunia. Di Indonesia, lokasi-lokasi yang selama ini terkenal dengan daerah wisata alamnya juga terdapat fasilitas ini, seperti Bali, Lombok, Bogor, juga Sukabumi. Dengan glamping, orang bisa berkemah dengan nyaman. Alas tidur bukan lagi selembar alas berlapis kantong tidur, tapi kasur empuk. Untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus, tersedia kamar mandi yang bersih dengan pilihan air hangat. Bayangkan, betapa sulitnya mencari keberadaan air atau tempat buang air dan hajat ketika tengah berkemah. Bahkan tak jarang membutuhkan perjuangan karena lokasinya yang jauh dari kemah serta cuaca dan air yang dingin. Belum lagi, orang kerap harus mencari semak atau menggali lubang untuk buang air. Uggghh…!

IMG 20190803 WA0042
Gambaran kamar mandi dalam tenda.

Untuk makan, peserta glampingtidak perlu repot membeli bahan makanan serta memasaknya. Pengelola akan menyiapkan makanan sehingga tamu lebih leluasa menikmati alam dan pemandangan sekitarnya. Bahkan di beberapa tempat glamping, tamu dapat memesan menu tertentu. 

Selain itu, pihak operator menawarkan beragam aktivitas. Ada harga, ada rupa. Biaya glamping bervariasi, mulai Rp 800 ribu hingga Rp 5 juta per tenda. Harga itu bisa bertambah jika tamu ingin menambah fasilitas atau kegiatan. Rasanya biaya itu sebanding dengan kenyamanan menikmati alam bebas tanpa perlu repot. Kemah yes, repot no….! l Ika Candra

Di Mana Bisa Glamping?

  1. Legok Kondang Lodge

Dikelilingi hutan pinus, lokasi Legok Kondang Lodge berada di Ciwidey, Bandung. Tersedia tenda berkapasitas 2-8 orang dengan fasilitas kamar mandi di dalam, air hangat, juga TV kabel. Biaya mulai Rp 1,2 juta untuk kapasitas empat orang hingga Rp 2,2 juta untuk delapan orang. Ada juga tenda untuk dua orang bertarif Rp 1,9 juta. Biaya tersebut sudah termasuk sarapan serta kopi atau teh gratis selama 24 jam. Selain itu, tersedia aktivitas tambahan, seperti barbequepaintballtrekking, tur Kawah Putih, dan arung jeram.

  • Sandat Glamping Tents

Berlokasi tiga kilometer dari Ubud, Bali, tenda mewah Sandat dilengkapi dengan kolam renang pribadi dan fasilitas lain, seperti bar serta restoran. Harga per kamar mulai Rp 3,6 juta per malam. Selain itu, tersedia fasilitas yoga, relaksasi, serta meditasi. 

  • Tanakita

Tanakita Camping Groud terletak di depan Taman Nasional Gede Pangrango, Kadudampit, Cisaat, Sukabumi, dengan ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Tenda dilengkapi fasilitas kamar mandi dengan air panas, alas lantai, kasur dan bantal, sleeping bags, serta stop kontak untuk charger. Biayanya sekitar Rp 550 ribu per orang untuk satu malam. Harga itu sudah termasuk makan. Selain bermain flying foxdan berwisata ke danau, pengunjung bisa melakukan river tubing.

  • Gunung Geulis Campsite (GGC)

Lokasinya di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut di wilayah Gunung Geulis, Gadog, Bogor, dengan luas sekitar dua hektare. Pemandangan Gunung Salak menjadi daya tarik, selain kehadiran kolam renang yang tersedia di tempat ini. Tenda Halimun memiliki empat kasur dan kamar mandi di dalam. Untuk menikmati tenda ini, Anda perlu merogoh kocek Rp 500 ribu per malam. Pihak operator juga menawarkan berbagai kegiatan outbound.

  • Glamping Gunung Pancar

Lokasi dengan suasana hutan pinus ini tidak jauh dari Jakarta, yaitu di Sentul, Bogor. Tenda dilengkapi dengan alas lantai, kasur dan bantal, serta stop kontak. Pengelola juga menawarkan berbagai kegiatan luar ruang dan wisata ke curug. Glamping di Gunung Pancar dibanderol mulai Rp 385 per orang untuk satu malam dan sudah termasuk makan.  

Ika Candra 

*****

Wisata Perut Bumi, Ini 10 Yang Keren

Wisata perut bumi atau menjelajah gua bisa menjadi pilihan wisata.

Wisata perut bumi atau juga dikenal sebagai caving atau jelajah gua layak menjadi pilihan bagi pelancong yang punya jiwa petualang. Pesona alam Indonesia memang tak diragukan lagi. Tak hanya di permukaan tanah, keindahan alam nusantara juga tampak hingga “perut bumi”, alias ke dalam gua-gua.

Wisata Perut Bumi

Di Indonesia terdapat banyak gua yang terbentuk secara alami, bahkan menyimpan banyak sejarah di dalamnya. Karena itu, wisata perut bumi atau jelajah gua bisa menjadi alternatif liburan seru. Khususnya bagi para pelancong yang hobi memacu adrenalin.

Ada beberapa gua di Indonesia yang bisa dimasuki dengan cara trekking melalui tangga dan batuan terjal, menyusuri sungai di dalam gua, hingga menggunakan bantuan tali untuk masuk ke dalam mulut gua. Semua asyik buat wisata perut bumi. Bahkan mungkin untuk yang tak terlalu suka berpetualang.

Berikut ini ada 10 gua di Indonesia yang bisa dicoba untuk wisata perut bumi dan mencoba sensasi liburan berbeda.

Gua Jomblang, Gunug Kidul, Yogyakarta

Wisata gua yang pertama berada di Gunungkidul, Yogyakarta, yakni Gua Jomblang. Daya tarik utama dari gua ini adalah Cahaya Surga, yakni sorot cahaya matahari yang masuk ke dalam gua melalui lubang besar setinggi 90 meter. 

Untuk menyaksikan langsung keindahan tersebut, wisatan harus turun ke mulut gua dari ketinggian 15-20 meter dengan bantuan tali, lalu menyusuri gua menuju titik Cahaya Surga. Para pelancong akan dipandu ahli untuk memastikan keamanan saat masuk ke dalam Gua Jomblang.

Wisata pertu bumi e gua Beloyot
Gua Beloyot di kawasan Dusun Merabu village Kalimantan Utara. Foto: shutterstock

Gua Pindul, Gunung Kidul, Yogya

Masih berada di daerah Gunung Kidul, destinasi wisata gua di Indonesia lainnya yang menarik untuk disusuri adalah Gua Pindul. Aktivitas seru yang bisa wisatwan lakukan di gua ini adalah susur sungai atau river tubing, yakni menggunakan ban dalam truk. Pasalnya, di Gua Pindul terdapat aliran sungai bawah tanah sepanjang 350 meter. Untuk menyusuri gua wisatan harus bersabar masuk satu per satu, atau mengikuti arahan dari pemandu wisata. 

Gua Cokro, Gunung Kidul, Yogya

Satu lagi hidden gem di Gunung Kidul, yakni wisata Gua Cokro. Daya tarik dari gua ini adalah ornamen yang terdapat pada dinding gua yang terbentuk secara alami. Uniknya, ornamen tersebut seakan membentuk tirai dan menyerupai keris. Stalaktit dan stalakmit yang indah juga bisa kita lihat saat menyusuri gua dengan kedalaman 18 meter ini. 

Gua Gong, Pacitan

Bergeser ke Timur, wisata perut bumi selanjutnya adalah Gua Gong, di Pacitan, Jawa Timur. Nama gua tersebut tercipta bukan tanpa alasan. Nama ini muncul karena ada suara seperti gong saat stalakmit dan stalagmit di gua dipukul. Saat melakukan susur gua, wisatawan juga bisa menikmati cahaya warna-warni yang berpendar di dalam gua.

Gua Beloyot, Berau

Terletak di Kampung Merabu, Berau, Kalimantan Timur, Gua Beloyot konon sudah ada sejak 10 ribu tahun silam. Di dalam gua ini, wisatawan bisa menemukan beberapa peninggalan prasejarah berupa lukisan manusia purba yang menceritakan aktivitas berburu, dan jiplakan tangan manusia purba. Untuk mencapai Gua Beloyot pengunjung harus menyusuri hutan rimbun yang masih asri sejauh 5,5 kilometer dari Kampung Merabu. 

Gua Pangkep, Maros

Berbeda halnya dengan wisata perut bumi pada umumnya, Gua Pangkep menawarkan sekumpulan gua yang berdekatan. Wisata gua ini membentang dari Kabupaten Maros hingga Pangkep, tepatnya di kawasan Karst, Sulawesi Selatan. Dengan luas keseluruhan sekitar 43 hektare, yang terdiri dari 268 gua di dalamnya. Menariknya, 50 gua di antaranya termasuk gua prasejarah. Karena ditemukan bekas makanan manusia purba hingga lukisan kuno. 

Gua Cermin Kemenparekraf
Gua Cermin di Labuan Bajo, NTT. Foto: Kemenparekraf

Gua Batu Cermin, Labuhan Bajo 

Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur juga memiliki wisata gua yang menyimpan sejuta pesona, yakni Gua Batu Cermin. Gua ini seperti kolam yang terbentuk secara alami, akibat permukaan air laut yang surut. Tak heran kalau di dalam gua tersimpan beberapa fosil koral. Mulai dari penyu, kura-kura, dan berbagai jenis ikan. Saat menjelajahi gua, wisatawan akan menemukan stalaktit dan stalakmit yang masih sangat alami dan terjaga keindahannya.

Gua Londa, Toraja Utara

Wisata susur gua di Indonesia yang cukup unik bisa wisatawan dapati di Gua Londa, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Di dalam gua kita bisa menyaksikan langsung peti-peti jenazah dan tulang belulang para leluhur yang dimakamkan di dinding gua. Untuk memasuki gua, Sobat Parekraf harus dipandu warga lokal atau guide. Karena gua ini mempunyai lorong sempit, batuan terjal, dan cukup licin. 

Gua Ergendang, Deli Serdang

Tidak boleh ketinggalan, destinasi wisata gua selanjutnya adalah Gua Ergendang. Gua ini berada di Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hilir, Deli Serdang, Sumatera Utara. Di tengah gua terdapat kolam pemandian air panas yang bisa digunakan wisatawan untuk berendam maupun berenang, sambil melihat stalaktit dan stalakmit yang menghiasi langit gua. Keindahan makin bertambah, berkat adanya pantulan sinar matahari yang masuk ke dalam gua. 

Gua Lokale, Lembah Baliem

Di Tanah Papua juga memiliki wisata gua yang patut ditelusuri, salah satu Gua Lokale di Lembah Baliem, Jayawijaya. Gua ini disebut sebagai gua tak berujung, karena arkeolog baru mencapai kedalaman gua sejauh 3 kilometer, sehingga mungkin saja panjangnya lebih dalam lagi. Di dalam gua ada beberapa dinding berongga, ketika kita ketuk maka akan mengeluarkan suara cukup unik. Berada di kawasan hutan pinus, udara di Gua Lokale dikenal sangat sejuk dan asri.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Pantai Bebatuan di Belitung yang Elok

belitung 1 original FN2015050802

Pantai bebatuan di Belitung memang elok. Kumpulan bebatuan di pantai-pantai yang berada di seputar Pulau Belitung tampaknya sudah tak asing lagi bagi kebanyakan penyuka wisata negeri ini.

Pantai Bebatuan di Belitung

Pulau yang berada di Provinsi Bangka Belitung ini memang memiliki ciri khas batuan granit dengan bentuk yang berbeda-beda dan memberi keindahan tersendiri di daerah pesisir.

Hal itu tak hanya membuat turis menatap hamparan laut dan pasir putihnya, tapi juga menemukan bebatuan eksotis yang membuat foto perjalanan makin terlihat keren.Tentunya, tak hanya satu atau dua pantai yang bisa dijejaki setelah wisatawan mendarat di Bandar Udara (Bandara) Internasional H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Pilihan begitu beragam dari ujung utara, selatan, sampai ke barat.

Di sekitar Tanjung Pandan memang menjadi pilihan paling melimpah dan Pantai Tanjung Tinggi yang berada di sisi utara menjadi yang banyak diburu. Objek tersebut naik daun karena menjadi lokasi pengambilan film Laskar Pelangi. Berciri batu granit superbesar di pantai berpasir putihnyadengan ombak yang tak terlalu besar. Ada pula Pantai Tanjung Kelayang dengankomposisi bebatuan yang unik, di sinilah tempat bagi yang ingin menyelam, snorkeling, memancing, atau sekadar menikmati laut.

belitung 2 original FN2015050805
Pantai bebatuan di Belitung, tepatnya di Pulau lengkuas, nyaman direnangi wisatawan Frannoto/Travelounge

Tentu tak ketinggalan Pulau Lengkuas dengan ciri mercusuarnya. Menara tersebut dibuat pada 1882, bagian atasnya bisa digunakan untukmemandang pulau-pulau di sekitar Belitung dari ketinggian. Satu lagi, bagi yang ingin menikmati keindahan mentari tenggelam di atas pasir putih adalah Pantai Bukit Berahu. Berada di balik bukit, untuk mencapainya harus menuruni 97 tangga, tak jauh di dekatnya ada resto dan bungalow.

Di pusat kota sensasi mentari tenggelampun bisa dirasakan saat berada di Pantai Tanjung Pendam, pantai berpasir hitam dengan sejumlah restoran di sekitarnya. Jadi, setelah menikmati langit bergurat kemerahan, bisa dilanjutkan mencicipi menu berbahan ikan laut. Tentunya, diiringi musik yang menghangatkan suasana.

Hari berikutnya setelah menikmati secangkir kopi dan rekannya, Anda bisa menyusuri wilayah timur jika masih ingin berburu daerah pesisir. Belitung Timur, bisa dicapai dengan perjalanan sekitar satu jam dengan kendaraan roda empat. Pilihannya berupa Pantai Burung Mandi dengan garis pantai hingga 1,5 kilometer. Kemudian Pantai Bukit Batu, Pantai Nyiur Melambai, serta Pantai Serdang di Kecamatan Mangar. Rata-rata pantai ini sepi, tak seperti pantai-pantai yang berada di Tanjung Pandan.

Melipir ke wilayah selatan, ada juga Pantai Punai di Kecamatan Simpang Sesak dan Pantai Penyabong di Kecamatan Membalong. Jadi, pilihan menikmati pantai itu tak hanya di seputar Tanjung Pandan. Selain pantai, tentu jangan lewatkan juga seduhan kopinya, baik kopi hitam maupun kopi susu.

*****

PENERBANGAN (Jadwal bisa berubah sesuai maskapai)

Garuda Indonesia. Memiliki jadwal penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta per hari sebanyak dua kali, yakni pukul 06.45 dan 13.50. Penerbangan berlangsung selama 70 menit. Sementara dari Bandara Internasional H.A.S.Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, dalam frekuensi yang sama, dengan jadwal pukul 08.50 dan 16.30. 

Citilink. Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, jadwal penerbangan Citilink ke Tanjung Pandan hanya sekali yakni pukul 05.55. Jadwal pagi ini cocok bagi turis yang langsung memulai eksplorasi di Belitung dari pagi hari. Sementara penerbangan ke Cengkareng, Tangerang, Banten, dijadwalkan pukul 07.30. 

Sriwijaya Air. Pilihan waktu penerbanganmaskapai Sriwijaya Air dari bandara di Cengkareng ini cukup banyak, yakni pukul 06.20, 07.20,11.35, 14.50,dan 15.10. Demikian juga untuk arah sebaliknya. Lama penerbangan berlangsung satu jam.

Raja Ampat 1 Rute Menuju Waisai

Raja Ampat shutterstock 586062845 1

Raja Ampat 1 rute menuju Waisai. Itu guyonan para pecinta diving yang menuju ke Raja Amat. Tentu saja aslinya, Waisai adalah ibukota dari Kabupaten Taja Ampat, Papua Barat. Terutama jika pengunjung menggunakan layanan transportasi udara saat menuju Raja Ampat.

Dengan penerbangan, wisatawan bisa terbang dari Jakarta, Denpasar di Bali, atau dari Makassar menuju Sorong, ibukota Papua Barat. Dari sana dengan penerbangan perintis ke Waisai, sebelum menggunakan kapal menuju spot selam Raja Ampat.

Raja Ampat 1 Rute Menuju Waisai

Kumpulan pulau-pulau kecil Raja Ampat, Papua Barat, sudah tenar seantero dunia. Kawasan yang indah dipandang mata ditambah keindahan bawah laut pun diburu para wisatawan, baik lokal maupun luar negeri. Bagaimana tidak, dari hasil penelitian, sekitar 75 persen dari spesies laut dunia tinggal di perairan kabupaten ini. Raja Ampat merupakan rumah bagi 540 jenis karang dan 1.511 spesies ikan. Jelas semuanya menggoda para penyelam atau pencinta dunia laut. 

Sejumlah jalur pun dibuka demi mencapai destinasi ini serta menarik minat turis untuk datang. Sebelumnya, turis hanya mempunyai pilihan untuk terbang ke Sorong, ibu kota provinsi Papua Barat, baru melanjutkan perjalanan laut ke Raja Ampat. Ada sejumlah maskapai yang melayani rute dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandar Udara Domine Eduard Osok di Sorong, yakni Sriwijaya Air, NAM Air, Express Air, Lion Air, Batik Air, juga Garuda Indonesia. 

Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berlayar dari Pelabuhan Sorong menuju Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat, yang berada di Pulau Waigeo Selatan. Ada empat pulau besar yang berada di daerah administratif Raja Ampat, yaitu Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool. 

Pilihan transportasi laut berupa kapal cepat atau feri ekspres yang dijadwalkan dua kali dalam sehari setiap Senin, Rabu, serta Jumat. Waktu keberangkatannya pukul 09.00 dan 14.00. Di luar tiga hari tersebut, hanya ada satu waktu perjalanan, yakni pukul 14.00. Waktu tempuh sekitar dua jam, sedangkan tarifnya Rp 130-220 ribu. Pilihan lain adalah kapal lambat yang pelayarannya mencapai empat jam. Jadwalnya setiap hari sekali dengan tarif Rp 140 ribu. 

Raja Ampat 1 rute menuju Waisai
Raja Ampat salah satu destinasi selam terbaik di dunia.

Dari Sorong pun, sebenarnya bisa juga melanjutkan perjalanan lewat udara menuju Bandar Udara Marinda, Waisai, Raja Ampat. Tak hanya didarati pesawat yang terbang dari beberapa kota di Pulau Papua, bandara ini juga kini sudah memiliki rute ke kota lain di luar pulau, yakni rute dari dan ke Manado mulai Desember lalu. Jadi, setelah menikmati pulau-pulau di sekitar Manado, wisatawan bisa melanjutkan menikmati keindahan bawah laut Raja Ampat dengan sebuah penerbangan langsung. Rute ini dilayani oleh Wings Air. 

Kehadiran Wings Air menambah daftar maskapai yang mendarat di bandara yang memiliki panjang 1.400 meter dengan lebar 30 meter, taxiway80 meter x 18 meter, dan apron. Ditambah satu gedung terminalnya seluas 420 meter persegi. Setelah sebelumnya, Susi Air lebih dulu melayani rute Sorong-Waisai dua kali seminggu.

Di kabupaten ini, turis pun bisa menjelajah Selat Dampir, Pulau Pensil, Gua Karang—tempat ditemukan tengkorak makam leluhur Raja Ampat, atau langsung ke Kepulauan Wayag.  Kepulauan Wayag merupakan ikon Raja Ampat yang terdiri atas beberapa pulau kecil yang terlihat indah. Setiap akhir tahun, di tempat ini, turis dapat melihat fenomena alam unik di bagian timur Pulau Waigeo, tepatnya di depan Desa Urbinasopen dan Yesner. Berupa sinar yang muncul dari laut serta mengitari permukaannya selama 10-18 menit. Penduduk setempat menyebutnya sebagai “hantu laut”. Untuk menikmati keindahan di wilayah timur ini, buatlah perencanaan untuk terbang dari Jakarta melalui Sorong atau menikmati Manado lebih dulu baru terbang langsung ke Waisai! 

*****

JADWAL PENERBANGAN (Bisa berubah karena kebijakan maskapai

Raja Ampat 

Wings Air. Melayani penerbangan dari Manado ke Bandar Udara Marinda, Waisai, Raja Ampat. 

Susi Air. Rute yang ditawarkan dari Sorong menuju Waisai. 

Sorong

Garuda Indonesia. Maskapai ini memiliki frekuensi hingga 10 kali untuk penerbangan dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandar Udara Domine Edward Osok di Sorong. Rata-rata dengan satu pemberhentian, yakni di Makassar. Lama penerbangan antara 7-12 jam, tergantung waktu transit. 

F. Rosana

Senja di Banda Neira, Menikmati 6 Pulau indah

Senja di banda Neira, Maluku Tengah, menikmati sejarah Indonesia.

Senja di Banda Neira sungguh sebuah perjalanan wisata yang sangat menyenangkan. Setidaknya buat kami. Pulau-pulau yang indah, hawa laut yang hangat, gunung-gunung yang sejuk, perkebunan pala, juga masyarakatnya yang ramah.

Senja di Banda Neira

Banda Neira di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Malauku, adalah salah satu tujuan perjalanan yang diangankan banyak orang, terutama mereka yang menikmati perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Selain alamnya yang indah, banyak pemimpin bangsa ini yang pernah dikucilkan di kawasan ini. Termasuk para bapak bangsa Indonesia. Banyak sejarah panjang zaman kolonial dan kemerdekaan Indonesia bermula dari kepulauan ini.

Karena itu, ketika bunyi peluit kapal Express Bahari berbunyi keras menandakan mereka akan sandar di pelabuhan Neira, kami bergegas menuju ke dek kapal. Dan Banda Neira ada di muka kami. Mendadak kelelahan perjalanan laut selama hampir tujuh jam dari Ambon seakan sirna.

Hari hampir menjempur sore, sekitar jam 4, matahari masih bersinar hangat meski sudah conding ke barat. Ada rinai hujan dan gunung api di sisi kanan. Kapal segera bersandar di pelabuhan. Rasanya terbayang saat bapak bangsa seperti M. Hatta dan Sutan Sjahrir dalam pengasingannya di pulau ini.

Kami segera bergegas turun dari kapal menemui seorang kenalan yang akan memandu selama beberapa hari di sini. Malam itu, kami memang merencanakan menginap di Pulau Banda Besar. Di sebuah penginapan kecil, agar bisa bercakap-cakap dengan pemilik penginapan atau masyarakat sekitar. Selain tentu saja lebih hemat.

Malam itu kami hanya duduk mengobrol di penginapan, mengobrol sekaligus melepas penat perjalanan. Keesokan harinya kami baru berencana berkeliling.

Senja di Banda Neira dan menikmati banyak peninggalan masa lalu.
Barang-barang kuno peninggalan masa lalu di Banda Neira. Foto: Dok.shutterstock

Dan betul, pagi harinya setelah mandi dan sarapan, kami ditemani seorang teman, memulai napak tilas sejarah di Pulau Neira. Kami berkunjung ke museum lokal yang disebut Rumah Budaya, rumah ini milik almarhum Des Alwi. Des pada masa mudanya adalah saksi kedatangan para bapak bangsa ketika diasingkan ke pulau ini. Pada Des muda inilah, Hatta atau Sjahrir kadang berbagi informasi tentang Indonesia sebagai sebuah cita-cita kebangsaan.

Lukisan, dokumen, dan beberapa benda kuno yang ada di pulau ini dipamerkan di sana. Penataannya memang tak terlalu indah, juga berdebu dan gelap. Namun cukuplah untuk mendapatkan gambaran awal dalam perjalanan kali ini. Tentang salah satu keping bangunan bernama Indonesia.

Bersebelahan dengan Rumah Budaya, ada rumah pengasingan Sutan Sjahrir. Tidak cukup banyak yang bisa dilihat di rumah ini, hanya ada mesin tik tua dan foto-foto milik Sjahrir. Kami memilih duduk di teras dan menikmati hari di lorong jalan yang padat bangunan tua itu.  

Puas duduk merenung tentang Indonesia masa lalu, kami bergeser lokasi. Sekitar 10 menit berjalan kaki dari tempat tinggal Sjahrir, kami melintasi Benteng Belgica dan tiba di rumah pengasingan Bung Hatta. Rumah ini cukup luas, di sisi belakang terdapat beberapa kelas tempat Bung Hatta mengajar anak-anak setempat.

Jalan kaki memang cara terbaik menikmati pulau Banda Besar ini, karena situs sejarah bertebaran hampir setiap “jengkal” tanah. Termasuk di Pulau Run, pulau hasil tukar guling Belanda-Inggris dengan Manhattan dalam Perjanjian Breda pada 1667. Napak tilas ini menjadi pembuktian dari buku-buku yang pernah diterbitkan tentang gugusan Kepulauan Banda Neira dan sejarahnya.

Sepanjang perjalanan ke Kepulauan Banda Neira itu, kami mengunjungi enam pulau, yaitu Neira, Hatta, Banda Besar, Run, Ayi, dan Gunung Api. Termasuk wisata menikmati kekayaan bawah laut, kecantikan gunung berapi, eksotisme perkebunan pala
dan tentu saja sejarah Banda Neira.

Perjalanan ini rasanya seperti sedang menikmati Indonesia masa lalu. Indonesia yang hangat dan ramah. Keramahan warga lokal terhadap pendatang bukan sekadar basa-basi. Mereka tidak segan mengajak pendatang masuk ke rumah, lalu menghidangkan minuman dan camilan, yang tentu saja gratis.

Ini terjadi kepaa kami saat turun dari Gunung Api. Perjalanan turun dari ketinggian 600 meter yang cukup curam memaksa kami berjalan cepat, bahkan setengah berlari. Ini membuat nafas kami ‘ngos-ngosan’. Tiba di kaki gunung, seorang ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya dan melihat kondisi kami, spontan  mengajak kami singgah dan menyuguhkan air minum.

Senja di Banda Neira dan menikmati hawa laut yang hangat dan air laut yang jernih.
Kora-kora, perahu tradisional dari Banda Neira. Foto: Dok. Shutterstock

 Keramahan penduduk setempat juga terasa ketika pada keesokannya kami hndak bersnorkeling di Pulau Hatta tapi lupa membawa peralatan. Dalam 10 menit, kami mendapat pinjaman perlengkapan. Tanpa dipungut bayaran. Bahkan, hari terakhir di Neira, kami mendapat tiga undangan makan bersama. Pemilik penginapan menghidangkan ikan berkuah untuk makan siang. Malam harinya, ibu teman yang memandu selama di Banda Neira mengundang makan di rumahnya dengan menu telur ikan tuna.

Saya akhirnya memberanikan diri bertanya kepada seorang teman, “Kenapa orang Banda itu baik-baik?” Jawabannya, “Alam. Hidup kami memang keras, tapi alam selalu membuat kami bahagia.”

Pilihan hiburan bagi warga terbatas. Untuk memeriahkan hari, mereka membuat hiburan sendiri. Pada senja hari, misalnya, sayup-sayup terdengar suara gitar dan nyanyian para pria yang duduk di dermaga. Kami menikmatinya sambil memandang laut dan matahari yang turun ke peraduan.

agendaIndonesia

****

Keindahan 3 Danau di Luwu Timur

Keindahan 3 danau di Luwu Timur, salah satunya danau Matano.

Keindahan 3 danau di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, rasanya masih banyak yang belum mengetahuinya. Apalagi menyambangi tempat ini. Luwu Timur memang cukup jauh untuk ditempuh dari Makassar. Sekitar 13 jam, namun rasanya perjalanan panjang itu terbayarkan dengan keindahan 3 danau yang alami.

Keindahan 3 Danau

Salah satu yang sering dituju pengunjung di Luwu Timur tentu saja adalah Danau Matano. Danau ini terletak di Kecamatan Nuha. Desa Soroako, yang terletak di sisi barat danau. Kecamatan itu sendiri telah berkembang menjadi kota yang rapi. Pendorong utamanya karena sebagian besar daerah ini dikelola PT Vale Indonesia (dulu PT Inco), perusahaan tambang nikel yang beroperasi sejak 1968.

Keindahan 3 danau di Luwu Timur masih jarang dikunjungi wisatawan
Sungai yang menghubungkan tiga danau. Foto: DOk. TL

Danaunya memang tak sebesar Toba di Sumatera Utara, namun kecantikannya, sebagai bagian dari keindahan 3 danau, tidaklah kalah. Yang pasti, ini adalah danau terdalam di Indonesia. Begitupun di sini anak-anak remaja tak sungkan bermain air.

Biasanya, dari dermaga kayu kecil yang menjorok sekitar 20 meter ke tengah danau anak-anak muda terjun menukik. Mereka melesat ke dalam air yang jernih dan tenang. Dari pingiran terlihat pula serombongan opudi, ikan kecil endemis di danau ini, berenang lamat-lamat di sela tiang penyangga kade. Sementara di kejauhan terlihat jajaran bukit Torukuno Lela.

Keindahan 3 danau di sini bisa dinikmati sejak fajar. Matahari perlahan muncul dari celah-celah bukit tersebut. Danau Matano, pada fajar itu, sungguh pemandangan yang layak diperjuangkan.

Air danaunya sungguh dingin. Dasar danau dipenuhi tumbuhan air berwarna cokelat. Juga ikan-ikan yang berkeliaran. Penduduk Soroako, ibukota Luwu Timur, menyebut kawasan ini Pantai Ide, meski tak ada laut di sini. Satu kilometer ke arah barat laut, ada Pantai Salonsa, tanpa dermaga dengan tepian dangkal yang lebih luas. Kedua kawasan wisata ini terawat baik dan terbilang bersih.

Dengan kedalaman sekitar 590 meter, Matano menjadi danau terdalam di Asia Tenggara, juga terdalam kedelapan di dunia. Danau ini tersambung oleh sungai dengan Danau Mahalona dan Danau Towuti di bagian selatan. Sungguh keindahan 3 danau.

DanauTowuti, yang luasnya 561 kilometer persegi, merupakan danau terluas kedua di Indonesia. Ketiga danau ini, menurut riwayatnya, terbentuk akibat kegiatan tektonik jutaan tahun silam.

Soroako dapat ditempuh dengan angkutan udara dan darat dari Makassar. Ada penerbangan khusus dari ibukota Sulawesi Selatan it uke bandara Soroako.

Tak ada angkutan umum di desa ini. Ojeklah yang bisa membawa wisatawan ke hotel yang menghadap ke Danau Matano. Jika tiba lepas tengah hari, habiskan sisa hari untuk menikmati Pantai Ide dan Pantai Salonsa. Pantai tanpa dermaga dengan air tak dalam.

Tujuan utama menikmati Matano adalah mengunjungi dua desa di seberang danau. Melaluinya dari Dermaga Soroako, yang merupakan gerbang utama menuju dua desa di seberang danau: Desa Matano dan Desa Nuha, Kecamatan Nuha. Wisatawan bisa menyewa ketinting, sejenis perahu bermotor, yang disewa untuk menyusuri danau.

 Biasanya perahu bercadik itu bergerak tak jauh dari tepi danau, sehingga pengunjung bisa menikmati Pantai Ide dan Salonsa serta perumahan milik Vale, yang semuanya dari kayu dan tanpa pagar.

Tak jauhh dari dermaga, sekitar seperempat jam, perahu merapat ke tebing karang. Persis di bawah tebing itu, tampak sebuah lubang yang sebagian tenggelam dalam air. “Ini gua bawah air. Anda bisa menyelam dan muncul di dalam gua sana atau melompat dari lubang di atas,” cerita pemilik perahu.

Dari daratan, pemandangan ke bawah lubang tampak air yang tenang dan hijau berkilauan. Tinggi lubang ini 10-15 meter. Gua di bawah air luasnya kira-kira separuh lapangan badminton. Airnya jernih. Kolam itu hijau ditimpa cahaya matahari dari lubang tadi dan lubang kecil yang menghadap ke danau. Betul-betul gua rahasia. Kecantikannya hanya bisa dinikmati dengan memasukinya.

Banyak gua di sepanjang tepian danau. Hanya beberapa menit dari gua bawah air, pengunjung bisa tiba di gua lain. Gua umumnya, kering dan berbatu. Tak seberapa luas, tapi ada tulang berserakan. Penduduk menyebutnya Gua Tengkorak. Tulang-belulang manusia konon sudah ada di sini sejak masa pra-Islam.

Selain itu, ada obyek wisata menarik lain, seperti Pulau Kucing, gugusan karang kecil dengan dua pohon mangga besar, dan Kali Dingin, yang airnya tetap dingin hingga bertemu dengan air danau yang hangat.

Air Danau Matano mengalir ke Danau Mahalona melalui Sungai Petea hingga Danau Towuti. Towuti merupakan danau terluas kedua di Indonesia. Danau ini dipenuhi rumah penduduk dan hutan.

Sementara untuk menuju Danau Mahalona bisa dicapai dengan menuju Towuti terlebih dulu, sekitar satu jam dari Soroako. Dari sana pengunjung bisa berkendara ke Desa Timampu. Jalanannya menanjak dengan hutan di kiri-kanan. Selama satu jam kendaraan pengunjung menyusuri jalan itu. Hingga akhirnya bertemu dengan jembatan beton dan desa di seberangnya.

Keindahan 3 danau di Sulawesi Selatan.
Keindahan 3 danau di Sulawesi Selatan. Foto: Dok. shuterstock

Desa Tolu menjadi desa pertama dari deretan lima desa, sementara Desa Mahalona sebagai desa induk di paling ujung. Penduduknya kebanyakan berkebun merica.

Dari sana kita bisa menggunakan perahu menyusuri Sungai Tominanga menuju Danau Mahalona. Danau terkecil dari tiga danau di Luwu Timur ini. Perahu berlabuh di daratan yang agak luas dengan lantai dari batu yang nyaris rata.

Air danau itu jernih dan biru. Tepiannya banyak ditumbuhi semak dan bakau. Permukaan airnya tenang. Warga desa sering piknik ke sana bila air sedang surut. Ketiga danau di Luwu Timur ini memang sulit dicapai. Namun keindahan 3 danau tersembunyi itu tentu menggoda untuk dikunjungi.

agendaIndonesia/TL

*****

4 Pulau di Wakatobi, Dan Misteri yang Menyelimutinya

NTT Menjadi Tuan Rumah API 2020, di mana salah satu nominasi destinasi wisata yang menjadi nominasi adalah Wakatobi.

4 pulau di Wakatobi menyimpan banyak kisah. Juga misteri. Wakatobi kini adalah tujuan utama wisata bahari di Sulawesi Tenggara. Masih banyak yang belum paham jika Wakatobi sesungguhnya akronim dari empat pulau:Wanci, Kaledupa, Tomia, juga Binongko.

Kue karasi dan secangkir teh menyambut saya serta kawan-kawan di Dusun Bante, Desa Makoro, Pulau Binongko, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Lumayan menghangatkan perut yang sejak matahari terbit terguncang di atas perahu kayu cepat berkapasitas 20 penumpang.Butuh waktu satu setengah jam perjalanan dari Dermaga Pulau Tomia ke Pulau Binongko. Belum lagi menempuh gelombang dan angin laut pada Agustus yang cukup keras menerpa kapal yang saya tumpangi.

4 Pulau di Wakatobi

La Ode Muhamad Syafii, pemuka warga, yang menemui rombongan agak heran dengan kedatangan kami di musim laut yang tak ramah ini. “Jarang ada orang luar yang datang di musim laut seperti ini,” katanya. Saya hanya tersenyum sambil melirik ke Seto dan Rudi, dua orang pemandu lokal asal Wanci serta Kaledupa, yang tertawa kecil mendengar perkataan La Ode. 

“Sebagian masyarakat Binongko dan Wakatobi percaya mereka berasal dari laut,” ucap La Ode sambil mempersilakan kami menikmati kue karasi yang berasal dari tepung beras itu. Di hari-hari tertentu, kata La Ode, beberapa warga akan berjalan ke tepi pantai menunggu ‘jemputan’ kerabatnya dari laut. “Percaya atau tidak, tapi itulah yang terjadi di desa kami,” ujarnya.

Kisah semacam ini juga saya temui di masyarakat yang berada di Pulau Wanci, Kaledupa, dan Tomia, Sulawesi Tenggara. Kisah ini hampir mirip dengan urban legendsuku Betawi asli yang sampai hari ini meyakini hubungan kekerabatan dengan buaya putih di Sungai Ciliwung yang membelah Jakarta.

Wakatobi, akronim dari empat pulau:Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia, juga Binongko, tak hanya menyimpan keindahan wisata laut semata, tapi juga menyajikan wisata budaya, sejarah, dan petualangan darat yang tak kalah menarik. Tentu saja pesona maritimnya tetap yang utama.

Saat menelusuri Pulau Binongko, misalnya, saya menemukan tenun pengukur kiamat di 

Dusun Ollo-ollo, Kelurahan Sowa, Kecamatan Togo Binongko. Desa nelayanyang berjarak satu jam perjalanan darat dari Dermaga Dusun Bante, Desa Makoro, Binongko, itu menyimpan kisah lokal yang melegenda dan dipercaya masyarakat setempat hingga kini. Warga menyebutnya homorua watontea. Di dalam kotak kayu yang telah dimakan usia berukurankardus sepatu dewasa, terdapat kain tenun sakral yang dikeramatkan penduduk. Kononkain itu bertambah panjang hanya10 tahun sekali. La Samudia, tokoh adat Togo Binongko, menuturkan jika kain tenun itu sudah berhenti memanjang, pertanda dunia akan berakhir. Itulah kenapa dinamakanhomorua(tenun) watontea (yang akan muncul), kiamat yang akan tampak. 

Binongko juga dikenal dengan nama Kampung Pandai Besi. Konondi sinilah, pedang Patimura yang terkenal itu dibuat oleh empu di Binongko. Di Desa Sowa, yang terkenal dengan kampung tukang besi itu, sebagian besar sudah menggunakan peralatan modern. Hanya beberapa yang masih menggunakan alat tradisionalseperti peniup udara manual untuk membakar besi. 

Pulau-pulau di Wakatobi cukup banyak memiliki benteng-benteng kuno peninggalan era Kerajaan Buton dan kerajaan kecil lainnya. Salah satunya Benteng Patua di Desa Kollo Patua, Pulau Tomia. Benteng ini terbuat dari susunan batu karang yang diatur sedemikian rupa menjadi tembok, menara pandang, tatakan bedhil (sebutan warga setempat untuk meriam), juga ruangan-ruangan lain.

Di salah satu gardu pandang terdapat makam dua tokoh perempuan setempat bernama Wa Ode Bula dan Wa Ode Kaaka. Hikayat setempat menyebutdua perempuan sakti itulahyangmembawa sendiri meriam-meriam tersebut seakan membawa tongkat untuk berjalandari bawah bukit ke puncak benteng.

Tomia sebenarnya lebih dikenal sebagai surga bagi penyelam karena terdapat sederet titik selam terbaik, sepertiKollo Soha Dive Spot, Ali Reef, juga Marimabuk. Berada sekitar tiga kilometer dari Pantai Tomia initerdapat pemandangan ikan-ikan nudibranch dan penyu yang berseliweran. Di sini, tempatnya ikanbig eye giant trevally serta bobara.

Tak hanya bawah laut yang memukau, berada di tempat tertinggi di pulau ini juga mengasyikkan. Dikenal sebagai Puncak Kahyangan, jika cuaca cerah, dari kejauhan akan tampak Pulau Binongko, Pulau Lentea, Pulau Sawa, serta Pulau Tolendano. Bukit karang ini dulunya berada di dasar lautan. Hal ini terbukti dari banyaknya fosil-fosil kerang berukuran besar yang berserakan di atas bukit. Lokasi ini kerap menjadi tujuan pemburu keindahan mentari tenggelam atau sunset sekaligusmenikmati bintang di malam hari. 

Di Tomia Timur, tak jauh dari Desa Kulati, ada pula tebing Ampomberoyang cocok untuk melepaskan pandangan luas ke arah Laut Banda. Dari atas tebing karang yang cukup tinggi itu, jika cuaca cerah, akan tampak Pulau Nda’a yang berderet di horizon. Bagi mereka yang menyukai snorkeling, bisa berlayar ke Pulau Hoga. Titik selam di sekitar Pulau Hoga cocok untuk snorkeling. Jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari daratan.

Sedangkan, di Pulau Wanci, yang menggoda tentunya ada spotuntuk menyelam.Terdapat Nua Shark Point. Di tempat ini, penyelam akan bertemu dengan kawananikan hiu sirip hitam. Pilihan obyek wisata lain berupa kolam sekaligus gua air tawar yang disebut kontamale. Kolam alam dengan bentuk tak beraturan itu terdapat beberapa bagian cukup dalam sehingga beberapa orang dapat melakukan atraksi terjun bebas setinggi 10 meter dari tebing di atasnya.

Kemudian ada pula air Moli’i Sahatu yang berada sekitar 200 meter dari Dermaga Patuno Resort. Moli’i Sahatu memiliki arti seratus mata air. Hikayat setempat mengatakan mata air ini berkhasiat membuat seseorang yang meminumnya akan awet muda. Jadi, baik air tawar maupun air laut, sama-sama menggoda di Wakatobi.

SUKU BAJO SAMPELA, PELAUT SEJATI 

Dikenal sebagai pelaut sejati, suku Bajo Sampela menghabiskan semuahidupnya di laut lepas. Pemukiman Bajo Sampela, yang sejak 1977, bernama Sama Bahari berada sekitar dua kilometer dari Pulau Kaledupa, salah satu dari empatpulau besar di Wakatobi. Berbeda dengan Suku Bajo Mola di Wangi-wangi yang lebih modern dan sebagian besar telah ‘mendarat’, Bajo Sampela masih mempertahankan tradisi rumah di laut lepas.

Ketika berada di sini, jangan lupa mencariLa Oda, si pejalan laut. Dialah manusia pejalan laut sesungguhnya. Keahlian yang mulai langka di masyarakat Bajo Sampela. La Oda, 42 tahun,merupakan penyelam bebas dari Suku Bajo Sampela, Dusun Katutuang.Sejak berusia 10 tahun, dia mulaimenyelam di kedalaman belasan meter mencari lobster dan ikan. Dia terbiasa menyelam dikedalaman 20 meter selama 4-5menit menggunakan carummeng– kacamata selam tradisional dari kayu kalingpapa. Hal yang luar biasanya, tentunya!

Bila sempat menginap, jangan lewatkanmenikmati pemandangan terindah saat mentari terbitsambil duduk di atas sampan di tepi perkampungan. Sayangnya, di tempat ini, pasokan listrik terbatas. Hanya menyala dari pukul 18.00-23.00.

WAKTU BERKUNJUNG TERBAIK 

1. Pada Mei-Juni atau September-Desember

Hal ini karena iklim dan cuaca laut pada masa itu relatif tenang.

2.Luangkan waktu 5-7 hari

Agar perjalanan Anda tak sia-sia karena biaya tergolong mahal. Maklum tujuan wisata tersebar di sejumlah pulau di kabupaten ini. 

DARI BANDARUDARAINTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA

Pilihan umumnya terbang terlebih dulu ke Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Penerbangan ke BandarUdara Haluoleo ini biasanya berlangsung sekitar 3 jamserta cukup beragam pilihan maskapai, seperti Garuda Indonesia, Batik Air, Lion Air, dan lain-lain. Kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke BandarUdaraMatahora di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi, menggunakan maskapai Wings Air selama 45 menit. Selain jalur udara, Wakatobi bisa dicapai dengan kapal regular yang berangkat setiap Senin, Selasa, Kamis, serta Sabtu dari Kendari.

A. Nugroho

*****

Empat Pantai Tersembunyi Di Jawa Barat (Bagian 3)

karang hawu shutterstock 398880607

Empat pantai tersembunyi di Jawa Barat menawarkan barisan panjang pantai-pantai memukau. Dari perairan landai sampai dalam, baik yang berombak besar maupun yang mengalun tenang, tak henti mengundang orang untuk menyusurinya. Cerita kawasan selatan Jawa Barat ini diturunkan dalam tiga tulisan. Ceritanya pernah diturunkan di Javalane.

Empat Pantai Tersembunyi

Nama besar kawasan wisata Pangandaran rasanya telah menenggelamkan pantai-pantai lain di Jawa Barat. Akibatnya, pada hari-hari libur, pengunjungnya selalu membludak. Padahal, banyak wisatawan yang tidak suka keriuhan dan memilih tempat-tempat yang lebih tenang. Untuk itu, masih banyak pantai lain yang masih alami dan sepi pengunjung karena letaknya yang tersembunyi. Cobalah menyambangi empat pantai tersembunyi berikut ini untuk merasakan keasriannya.

  1. Pantai Santolo

Dari pusat kota Garut, para wisatawan masih harus menempuh sekitar 88 kilometer menuju Kecamatan Cikelet, Garut Selatan. Perjalanan melalui area pegunungan yang sempit dan berkelok-kelok, dengan jurang di satu sisi dan hutan di sisi lainnya. Namun begitu sampai di kawasan pantai, panorama pesisir yang unik segera menyambut. Perjalanan yang mendebarkan segera terbayar dengan sambutan itu.

Unik karena terdapat hamparan batuan, besar dan kecil, di beberapa sudut pantai. Tak hanya itu, di sudut lain ada jembatan tali yang menghubungkan daratan dengan pulau kecil, membuatnya menjadi pemandangan yang menarik.

Jangan lewatkan pula Pulau Santolo yang bersejarah. Dengan naik perahu sekitar 15 menit, Anda akan sampai di dermaga batu peninggalan Belanda. Ketika era kolonial, sekitar 1850, pantai inimemangpernah difungsikan sebagai dermaga untuk mengangkut rempah-rempah menuju kapal besar di tengah laut.

Setelah Belanda pergi, kawasan ini menjadi perkampungan nelayan. Karenanya, Pantai Santolo memiliki pusat pelelangan ikan yang menjual cumi, udang, dan aneka ikan laut yang masih segar. Pengunjung pun dapat langsung menikmatinya di warung makan dekat situ. 

  • Pantai Rancabuaya

Masih di Garut, Rancabuaya yang berada di Kecamatan Caringin berjarak sekitar 135 kilometer dari pusat kota. Meski cukup jauh, kondisi jalannya mulus dan bisa ditempuh menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. 

Pantai yang dijadikan lokasi syuting film Perahu Kertas ini merupakan tipe pantai berbatu karang. Ini membuat kawasan tersebut membentuk semacam kolam-kolam kecil nan jernih saat laut surut. Beberapa ekor ikan tampak terjebak di dalamnya, seolah-olah menanti untuk disapa. 

Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati pemandangan dari atas bukit yang berada di sekitar pantai. Bagi yang ingin bermalam, dapat menyewa vila atau pondok yang dilengkapi rumah makan bergaya lesehan.

  • Pantai Karang Tawulan

Pantai Karang Tawulan berada di Desa Cimanuk, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya.Sebenarnya lokasinya tidak sulit dijangkau, sekitar 90 kilometer dari alun-alun kabupaten. Namun karena kurang populer, pengunjungnya belum terlalu banyak. 

Ombak yang tidak terlalu besar membuat pelancong dapat berenang di beberapa sisi pantai. Cobalah datang ke Pantai Karang Tawulan pada sore hari. Jika beruntung, kawanan burung camar akan menyapa dalam perjalanan pulangnya ke Nusa Manuk, pulau kecil di tengah pantai yang menjadi rumahnya. 

  • Pantai Karang Hawu

Karang Hawu hanya berjarak sekitar 13 kilometer dari Palabuhanratu atau 73 kilometer dari pusat Kota Sukabumi. Namun suasananya jauh lebih tenteram. Tebingnyamenjorok ke laut, dengan deburan ombak yang menghantam bibir tebing, membuatnya semakin menawan.

Nama hawu yang berarti tungku berasal dari bentuk tebing karangnya yang berlubang. Beberapa orang meyakini bahwa air yang tertampung dicekungan batu karang tersebutdapat memberikanberkahdan mengobati berbagai penyakit.Kawasan ini memang masih lekat dengan cerita-cerita mistis yang dituturkan dari mulut ke mulut.

Dengan kesejukan udara dan airnya yang jernih, pantai sepanjang empat kilometer ini menjadi lokasi yang pas untuk bersantai dan menenangkan pikiran.

*****