Keindahan Ungaran Dari Ketinggian 1.200 Meter

Candi gedong Songo moto moto sc unsplash

Keindahan Ungaran lebih terasa dinikmati dari ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Menikmati gumpalan awan dan mengejar matahari di dua tempat berbeda.

Keindahan Ungaran

Angin pegunungan bersilir-silir menerpa tubuh. Embusan dinginnya perlahan  mulai menusuki tulang. Namun gumpalan awan kental bak lautan di kaki Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, berhasil mengalihkan perhatian. Bentangannya yang bergumpal-gumpal terhampar alami dan memancarkan pesona keindahan. Apalagi saat mentari pagi sudah hadir menyapa, cahayanya menerobos gumpalan awan dan menyembulkan bias jingga. Wow!

Momen seperti itu memang hanya dapat dinikmati menjelang matahari terbit, tepatnya sebelum matahari memecahkan gumpalan-gumpalan awan yang melayang. Terbayar sudah upaya saya dinihari tadi agar dapat berada di negeri di atas awan ini. Meski saya harus bergegas meninggalkan Kota Semarang jauh sebelum matahari menampakkan batang hidungnya dan ayam jago berkokok.

Mungkin akan makin lengkap rasanya jika secangkir minuman dan penganan hangat turut menemani. Namun sayang warung-warung di area parkir Wisata Alam Sidomukti belum ada yang buka. Dapat dimaklumi karena hari masih terbilang pagi buta. Sepi dan sunyi. Hanya kicau burung dan tonggeret yang terdengar.

Keindahan Ungaran dari ketinggian 1200 meter

Decak kagum tiada berkesudahan. Saya makin memahami betapa kecilnya anak manusia dibanding kemegahan alam ciptaan Sang Khalik. Tak terasa, momen indah itu begitu cepat berlalu. Matahari mulai meninggi. Gumpalan awan pun perlahan melayang dan terpisah satu sama lain. Kini, pemandangan telah berganti, tak kalah indah. Tampak rindangnya pepohonan, lembah yang curam, dan jurang yang memisahkan punggung gunung.

Menurut Fauzy, sopir yang mengantar saya, kawasan Umbul Sidomukti memang telah menjadi wisata alternatif di Bandungan, di samping wisata Candi Gedong Songo dan Bandungan. Salah satu objek yang menarik adalah kolam renang dengan dinding bebatuan alami berbentuk terasering.

Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, ketiga kolam renang itu diapit jurang di kedua sisinya. Kolam renang terletak menonjol di tepi lereng sehingga siapapun yang sedang berendam dapat menyaksikan pemandangan luas dari kejauhan, awan berarak serta hamparan lembah dataran rendah Kota Ambarawa, Rawapening, dan sekitarnya.

Uniknya lagi, sumber utama air kolam berasal dari mata air di tengah kolam renang paling atas. Airnya jernih, sejuk, dan terasa menyegarkan saat saya menyentuhnya. Jika kolam bagian atas sudah penuh, air akan jatuh ke kolam di bawahnya. Begitu seterusnya hingga mencapai kolam ketiga yang berada paling bawah. Sementara, jika air kolam ketiga sudah penuh, air akan dibiarkan jatuh, mengalir ke kali.

Selain kolam renang, Umbul Sidomukti sebenarnya juga dijadikan sarana outbound. Permainannya terkesan menantang karena terdapat dua pilihan trek, yakni marine bridge di lembah dan rappelling menuruni lembah di sisi kolam. Sementara permainan flying fox memiliki lintasan sekitar110 meter dan menyeberangi lembah di antara dua lereng bukit.

Jalan mencapai lokasi kawasan ini memang berliku dan naik-turun. Jalan pun tidak terlalu lebar. Saat berpapasan, mobil harus saling mengalah, bergantian. Syukur, waktu dan jarak tempuh tidak terlalu lama untuk tiba di Umbul Sidomukti, Desa Sidomukti, Bandungan, Semarang. Hanya sekitar 36 kilometer dari Kota Semarang.

Matahari makin meninggi. Sebenarnya saya masih ingin berlama-lama di tempat ini. Namun keindahan Brown Canyon, yang belakangan populer di Semarang, terus membayangi. Ya, saya harus bergegas. Kini, giliran mengejar matahari tenggelam di Brown Canyon.

Ada banyak rute untuk bisa sampai ke Brown Canyon, seperti lewat Pasar Meteseh via Tembalang dan Kedungmundu atau Rumah Sakit Umum Daerah Klipang. Namun yang perlu diperhatikan adalah kendaraan yang ditumpangi. Sebaiknya, gunakan kendaraan roda empat yang memiliki ground clearance yang lumayan tinggi. Sebab, kontur jalan menuju lokasi ini merupakan jalan pedesaan yang jauh dari kata mulus dan cenderung bergelombang.

Setelah melewati jalan bergelombang yang sempat membuat badan terguncang, akhirnya saya tiba di lokasi. Namun sebelumnya, beberapa warga setempat memungut karcis masuk. Maklum saja, tempat ini memang bukanlah obyek wisata yang dikelola resmi oleh pemerintah daerah atau dinas pariwisata setempat.

Lokasi ini awalnya hanya berupa bukit dan dijadikan proyek galian C untuk ditambang pasir, tanah urug, dan batu padas. Lambat laun, akibat penggalian tersebut, terbentuklah tebing-tebing karena tidak semua bukit menjadi area proyek galian.

Karena bentuknya yang unik, Brown Canyon sering dijadikan latar belakang pemotretan. Tekstur tebingnya unik dan lubang-lubang bekas galian yang telah menampung air hujan menambah kesan eksotis. Banyak pengunjung yang berfoto mengabadikan diri sore itu untuk diunggah ke media sosial atau sekadar menuntaskan rasa penasaran. Sumiyati, misalnya. Perempuan setengah baya asal Jakarta itu mengaku tertarik mengunjungi Brown Canyon setelah menyaksikan tayangan di salah satu televisi swasta.

Karena masih bersifat obyek wisata dadakan, jangan berharap pengunjung mendapati fasilitas seperti toilet, tempat istirahat, atau tempat ibadah di lokasi ini. Yang ada hanya warung kaget yang didirikan oleh warga setempat. Seorang pemilik warung mengungkapkan jika tambang itu sebetulnya sudah ditinggalkan. Tapi, tak semua lahan habis digali. Misalnya, ada dua lahan yang dibiarkan begitu saja sehingga terkesan membentuk bukit ukuran mini. Posisinya berdekatan. Menurutnya, para penggali tidak berani memapas bukit itu karena terdapat makam keramat di atasnya.

Terlepas benar atau tidak, setidaknya kisah itu menjadi mitos yang makin menambah daya tarik Brown Canyon. Kisah itu asyik didengarkan sembari menikmati kopi panas dan sepotong pisang goreng yang masih hangat. Dari kejauhan, mentari mulai jatuh. Bulat merah bagai kuning telur ayam terselip di antara dua bukit mungil. Awan kelabu sempat menutupinya, lalu pergi lagi hingga sang mentari benar-benar tenggelam di ufuk barat. l

Boks

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilih penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Semarang, Jawa Tengah. Waktu tempuh hanya 50 menit. Lanjutkan perjalanan lewat darat sekitar 36 kilometer atau sekitar 1,5 jam karena lalu lintas ramai. Tidak ada bus umum untuk mencapai Umbul Sidomukti atau Brown Canyon. Pastikan Anda menggunakan kendaraan sewa.

Andry T. /N. Dian/Dok. TL/unsplash

Green Bowl Bali, Surfing dan 330 Anak Tangga

Surga wisata Bali tak semuanya bisa dicapai dengan mudah. Ada yang butuh hiking terlebih dahulu, seperti green bowl.

Green Bowl, nama pantai di Bali yang semakin sering didengar namun masih jarang disambangi wisatawan. Terutama bagi mereka yang tak terlalu menggemari berselancar atau surfing. Dan, ini yang mungkin menjadi alasan utamanya, untuk mecapainya orang harus menuruni 330 anak tangga. Wow!

Green Bowl Bali

Untuk masyarakat umum, pantai ini sudah punya sebutan lain. Sepuluh atau 20 tahun lalu mungkin orang menyebut pantai ini dengan sebutan pantai Bali Cliff. Ini karena di atas tebing pantai ada hotel berbintang bernama Bali Cliff. Namun, sesungguhnya masyarakat setempat menyebut pantai ini sebagai pantai Ungasan, karena lokasinya di daerah Pura Batu Pageh, Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Bagi penikmat Bali, dan pernah berkunjung ke pantai Pandawa, suasana Green Bowl mirip dengannya. Baik pasir, gelombang, dan pemandangannya. Ini karena keduanya memang berada dalam satu deretan garis pantai Kuta Selatan. Hanya saja, bibir pantai Green Bowl tidak sepanjang Pandawa yang ada di timurnya.

Perubahan nama Bali Cliff atau Ungasan menjadi Green Bowl, yang dalam bahasa Indonesia berarti mangkok hijau, muncul omongan mulut ke mulut para peselancar. Mereka bercerita, di saat air laut surut, karang-karang yang melengkung dan ditumbuhi lumut hijau akan terbentuk menyerupai mangkok. Jika orang mulai menuruni tebing, pemandangan pantai menyerupai mangkok berwarna hijau.

Meski tak jauh dari pantai Pandawa, Green Bowl tidak seramai pantai-pantai lain di Bali. Kebanyakan para peselancar yang memburu lokasi ini karena menyuguhkan ombak yang tinggi dan menantang.  “Ramainya pengunjung di pantai tergantung ombak, kalau ombak lagi jelek, ya sepi,” ujar Wayan, seorang pemilik warung di area pantai ini.

Suasana pantai sebagai surga peselancar mulai kelihatan jika kita berkendara dari Jimbaran, iring-iringan wisatawan asing bersepeda motor. Ciri khasnya: di salah satu sisinya terlihat mereka membawa papan selancar. Wajah mereka menunjukkan kegembiraan.

Tujuan mereka jelas, pantai berpasir putih dengan air yang bergradasi warna biru muda, biru, hingga biru kehijauan. Letaknya di balik tebing yang rimbun ditumbuhi pohon-pohon. Pantai Green Bowl. Pantai yang tidak dicapai dengan mudah. Untuk sebagian orang, jalur ke pantai ini bisa membuat putus asa. Bagaimana tidak, ada 330 anak tangga yang harus dituruni sebelum menjejak di pasir putihnya.

Pantai Green Bowl nigel tadyanehondo unsplash

Tapi jangan khawatir. Jika penasaran ingin melihat pantai ini, ada atraksi penghilang rasa bosan saat menuruni anak tangga. Wisatawan bisa sambil mencermati tingkah lucu monyet-monyet yang melompat dari satu pohon ke pohon lain di kanan-kiri tangga.

Turun 300-an anak tunggu pasti melelahkan, tapi rasa capai itu akan terbayar begitu melihat air laut nan biru, berpadu pasir putih, tebing, dan pepohonan. Wisatawan, jika pun tak ingin berselancar, bisa berjemur atau rebahan di pasir dengan tenang karena pengunjung pantai ini masih minim.

Mengingat omongan Wayan di atas, dan masih jarangnya pengetahuan tentang pantai ini, biasanya para peselancar mencari tahu terlebih dulu sebelum menuju pantai ini. Informasi bahakan sudah diulik sebelum terbang ke Bali. Ini menghindari kekecewaan seandainya tiba di lokasi pada musim dan kondisi yang kurang pas. Begitupun banyak peselancar yang terus datang ke Green Bowl karena ombak di pantai ini tergolong stabil. “Green Bowl jadi salah satu favorit peselancar yang datang ke Bali karena gulungan ombaknya stabil,” ujar Wayan.

Selain berselancar, beberapa wisatawan memilih berjemur dan bermain  air di pinggir pantai. Ada beberapa gua yang bisa dijadikan tempat berteduh kala terik mentari menguat. Beberapa gua yang terjadi karena proses alam menambah eksotisme pantai ini. Di sebuah gua terlihat jejak-jejak upacara umat Hindu.

Garis Pantai Green Bowl tergolong pendek karena dibatasi jajaran karang besar dan tebing yang menjulang tinggi. Kontur alam tersebut menambah gaung nama pantai sebagai salah satu pantai tersembunyi.

Lokasinya di Jalan Raya Bali Cliff, Kuta Selatan, untuk mencapainya masih jarang kendaraan umum dengan rute ke tempat ini. Karenanya, umumnya pengunjung harus menyewa kendaraan roda dua atau empat meski sebenarnya lokasinya cukup mudah. Dari arah Kuta, pengunjung menuju arah Garuda Wisnu Kencana. Tidak jauh akan ditemukan perempatan, wisatawan bisa mengambil belokan ke kiri.

Sebelum turun tebing menuju pantai, ada area parkir yang cukup luas dan warung-warung permanen. Terdapat fasilitas kamar kecil dan kamar mandi untuk membilas tubuh setelah berselancar atau bermain di pantai. Di area parkir ini, seperti biasa, wisatawan akan dikerubungi para pedagang asongan, umumnya ibu-ibu penjual aksesori dan kerajinan tangan. Ada juga yang menawarkan jasa pijat. Nah, yang terakhir ini penting, setelah naik turun 600-an anak tangga, pijat kaki pastilah menyenangkan.

F. Rosana/Dok. TL/nigel tadyanehondo-unsplash

Singgah 1 Hari di Makassar

Rute penerbangan baru Super Jet Air adalah ke Makassar

Singgah 1 hari di Makassar? Jangan khawatir, Anda tetap akan punya pengalaman menarik. Mulai dari wisata sejarah dan kuliner, juga santai menikmati keindahan mentari tenggelam di pantai.

Singgah 1 Hari di Makassar

Saya beberapa kali menikmati transit di kota anging Mamiri ini. Baik perjalanan dari Jakarta ke Jayapura di Papua. Atau, Jakarta ke Manado di Sulawesi Utara. Kadang cuma satu-dua jam. Tapi kadang hingga delapan jam. Itu jika tidak mendapatkan penerbangan langsung. Pernah sekali waktu, harus mendarat pagi sekali karena penerbangan sekitar dua jam dari Jayapura dan karena perbedaan wilayah waktu, jam 6.30 pagi waktu Makassar. Celakanya baru malam hari penerbangan ke Yogyakarta via Surabaya. Menunggu di Bandar Udara Hasanuddin?

Saya memilih ke kota. Dengan taksi atau menyewa mobil yang banyak ditawarkan di bandara, menuju pusat kota memerlukan waktu sekitar 30-an menit jika lancar melalui jalan tol. Pilihannya: sarapan khas Makassar.

Coto Makassar

Di pagi hari, mulailah dengan sarapan coto Makassar. Beberapa kali ke kota ini, saya punya dua kedai coto favorit. Pertama, di rumah makan Coto Nusantara yang berada di Jalan Nusantara. Posisinya berada di depan pelabuhan laut Sukarno Hatta. Buka mulai 06.30, restoran ini menyajikan soto yang menjadi pilihan yang menggoda di pagi hari.

Ruang kedainya tak terlalu besar, namun bisa menampung cukup banyak tamu. Saat makan siang, siap-siaplah mengantri jika mau mengudap coto di sini. Selain antri, jika datang beramai, jangan berpikir harus duduk satu kelompok bersama. Kadang, satu orang duduk di dekat pintu masuk, yang lainnya ada di dalam. Prinsipnya, kosong diisi.

Pilihan coto lainnya adalah Coto Gagak. Jangan salah, ini bukan soto dengan daging gagakm tapi ini karena cotonya berada Jalan Gagak. Di Makassar ini ada yang unik, beberapa tempat makan populer ada di jalan dengan nama yang menimbulkan asosiasi. Misalnya, jika ingin makan palubasa, di sini ada dua yang terkenal: Pallubasa Onta dan Pallubasa Srigala. Itu karena yang satu ada di jalan Onta, dan lainnya di Jalan Srigala.

Dengan perut terisi coto, kita bisa memulai keliling kota. Bisa memulai jalan sehat dengan mengelilingi Fort Rotterdam atau kadang disebut Benteng Ujung Pandang. Lokasinya hanya sekitar satu kiloan dari Coto Nusantara. Benteng ini dibangun pada 1554 oleh Raja Gowa. Tanpa biaya masuk, orang bisa jalan-jalan sembari mengenal sejarah di sini. Di masa lalu, benteng ini menjadi saksi bisu perjuangan Indonesia. Kini dipergunakan sebagai pusat budaya dan seni yang tertata apik dan bersih.

Perjalanan kemudian bisa dilanjutkan ke Museum La Galigo, yang berada dalam Fort Rotterdam. Memiliki koleksi barang-barang dari sejumlah kerajaan di Sulawesi Selatan, juga benda-benda prasejarah. Seusai keliling Fort Rotterdam dan Museum La Galigo, masih ada satu lagi jejak sejarah yang bisa diintip, yakni Benteng Somba Opu, yang berada di perbatasan Makassar dengan Gowa. Benteng yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari Fort Rotterdam ini merupakan peninggalan Kerajaan Gowa.

Setelah menelusuri sejarah, saatnya makan siang. Nah, ini saatnya menyeruput kuah gurih pallubasa— sejenis soto berkuah santan dengan isi daging sapi dan jeroan. Kita bisa memilih, modelnya seperti soto Betawi di Jakarta, kondimen bisa memilih.

Seperti cerita di atas, pallubasa bisa dicicipi di Pallubasa Serigala di Jalan Serigala Nomor 54, Makassar. Atau pallubasa Onta. Tentu saja nama warungnya bukan itu, tapi jika menyebut seperti itu, semua sopir taksi atau mobil persewaan sudah tahu maksudnya.

Pilihan lain untuk makan siang adalah sop konro atau konro bakar. Ini adalah makanan dari iga sapi. Pilihan saya biasanya adalah Konro Karebosi. Lokasinya dekat dengan lapangan olahraga dan mal Karebosi. Tak tepat di sisi lapangan, tapi di jalan sebelahnya, jalan Gunung Lompobatang..

Setelah perut kenyang, saatnya berburu oleh-oleh. Silakan singgah ke Somba Opu Shopping Center. Satu kawasan dengan beragam toko yang menjual barang-barang khas lokal. Semisal, songkok khas Bugis, sarung Makassar, ukiran Toraja, atau beragam camilan, juga obat gosok, seperti minyak akar lawang dan kayu putih.

Ketika sore hari, cobalah bersantai di Pantai Losari sembari menikmati keindahan mentari tenggelam. Ada deretan kafe tenda dengan jajanan khas. Salah satunya tentu pisang epe, pisang bakar yang dipenyet dan diguyur gula merah cair. Sajian ini kini tampil dengan berbagai variasi, seperti cokelat, keju, dan lain-lain. Minumannya bisa pilihan yang hangat, seperti saraba atau kopi Toraja.

Hmmm… semua ini bisa melengkapi satu hari Anda yang tak terlupakan, di Makassar. Jadwalkan kembali untuk datang ke Makassar dan melaju ke Tana Toraja, atau menyusuri Pantai Bira di Bulukumba, juga menyeberang ke pulau-pulau di sekitar dengan waktu lebih panjang. Untuk saat ini, acaranya cukup icip-icip, melihat obyek bersejarah dan pantai, tentunya juga berbelanja.

*****

3 Pantai Di Jember Dengan Aura Mistis

3 pantai di Jember dikenal memiliki aura mistis. Masyarakat setempat sering mengadakan ritual khusus di sana.

3 pantai di Jember, Jawa Timur, mungkin kalah terkenal dibandingkan pantai-pantai di Banyuwangi. Yang membedakan adalah, ketiga pantai di Jember ini lekat dengan kesan mistis. 3 pantai di Jember ini ramai dikunjungi pada hari-hari tertentu.

3 Pantai di Jember

Siang itu terik mentari benar-benar memanggang kulit. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan pasir hitam. Gulungan ombak yang mencoba memberikan alunan alam dan hijaunya deretan pohon pandan seakan tak mampu mengusir hawa panas di Pantai Puger, Jember, Jawa Timur, yang kian terasa gersang pada tengah hari itu. Ini tujuan pertama dari 3 pantai di Jember kali ini.

3 pantai di Jember memberi kesan mistis karena masih adanya ritual-ritual dari masyarakat setempat.
Pantai Puger Jember yang menjadi bagian dari Cagar Alam Watangan Puger. Foto: Anditya H/Dok. TL

Dua pemancing di bibir pantai —hanya mereka manusia yang kami temui siang itu, juga tak kalah dirundung sunyi. Sedari pagi tak ada satu pun umpan mereka yang disambar ikan. Toh, keduanya masih menaruh harapan.

Mereka menunggu sembari membakar umpan mereka sendiri berupa ikan mungil yang seukuran dua jari dewasa untuk teman nasi. Lumayan untuk mengganjal perut yang sudah lapar.

Tak ada kata indah bagi sebuah wisata bernama pantai. Meski begitu, pantai yang terletak 40 kilometer di sebelah barat daya dari Kota Jember ini sangat terkenal. Ya, pantai di ujung selatan Jember itu dikenal sebagai salah satu tujuan wisata mistis.

“Biasanya pengunjung ramai pada Kamis atau malam Jumat untuk melakukan ritual. Apalagi saat malam 1 Suro,” kata Mahat, petugas loket pintu masuk pantai tersebut.

Lantas kami diajak menyusuri kawasan Cagar Alam Watangan yang letaknya tak jauh dari pantai. Menurut dia, di tempat itu terdapat Kolam Penampungan Mata Air Kucur, Mata Air Seribu, dan Petilasan Mbah Kucur.

Menurut Mahat, dinamai Kucur karena terdapat petilasan bekas pertapaan Mbah Kucur, seorang prajurit yang tugasnya mengawal Pangeran Puger dari Kerajaan Mataram. “Pangeran Puger mengakhiri tapanya dan kembali ke Mataram, tapi pengawalnya tidak ikut dan menetap di Puger Kucur,” ia memaparkan.

Untuk mencapai ke kawasan tersebut, pengunjung harus menyeberangi muara dengan menumpang perahu motor. Kolam Penampungan Mata Air Kucur langsung terlihat sesaat setelah perahu ditambatkan. Kolam buatan ini merupakan penampungan air yang keluar dari mata air. Beberapa remaja lokal terlihat asyik berenang di kolam yang berukuran tak terlalu besar itu.

Tak jauh dari kolam terdapat sebuah saung tertutup. Saung ini, kata Mahat, merupakan petilasan Mbah Kucur. Sedangkan lokasi Mata Air Seribu relatif jauh dari tempat itu. Pengunjung harus melalui jalan setapak dengan mendaki.

Setibanya di lokasi, terlihat beberapa mata air yang keluar dari dinding bukit. Sulit menghitung jumlah mata air, tapi memang banyak. Mungkin karena itu dinamakan Mata Air Seribu atau Mata Air Sewu.

Di sebelah mata air terdapat gua kecil. Tempat itu, ucap Mahat, dijadikan tempat bertapa. Memang terlihat bekas jejak manusia dengan alas tikar serta puntung rokok berserakan. Tak ingin berlama-lama di tempat itu, kami segera bergegas menuju Pantai Watu Ulo.

Untuk menuju pantai ini dibutuhkan waktu tempuh hanya sekitar 30 menit dari Pantai Puger. Tempat tersebut lebih layak disebut pantai karena tidak gersang dan terdapat banyak warung. Lebih ”hidup” ketimbang Pantai Puger. Meski lebih layak disebut wisata pantai, tohtetap saja pantai ini menyimpan kesan mistis. Betapa tidak, bekas sesaji berupa kembang tujuh rupa berserakan di susunan batu panjang.

Konon susunan batu panjang itu dianggap menyerupai tubuh ular. Menurut kisah yang beredar, pemuda desa bernama Raden Mursodo berhasil mengait ikan ajaib bernama Mina yang bisa berbicara.

Mina meminta agar dilepaskan dan tidak dibunuh untuk dijadikan makanan. Sebagai gantinya, ikan tersebut akan memberikan sisik yang bisa berubah menjadi emas untuk Raden Mursodo. Raden Mursodo menyetujuinya dan melepas ikan mina itu kembali ke laut.

Namun sayang, tak berapa lama kemudian, seekor ular besar bernama Nogo Rojo langsung memakan Mina. Raden Mursodo yang geram segera melawan sang ular raksasa dan membelah tubuhnya menjadi tiga bagian. Legenda inilah yang menjadi salah satu versi mengenai asal-muasal terbentuknya Watu Ulo di pantai Jember.

Senja mulai jatuh. Pengunjung bergegas meninggalkan pantai mistis kedua itu dan kemudian menuju Pantai Papuma. Lokasinya tidak terlalu jauh. Tepatnya di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Jember. Kira-kira hanya sekitar 1 km dari Pantai Watu Ulo.

 Papuma merupakan singkatan dari Pasir Putih Malikan. Disebut Malikan karena ada batu-batu yang bisa berbunyi khas saat terkena ombak. Batu Malikan merupakan karang-karang pipih yang mirip seperti sebuah kerang besar yang menjadi dasar sebuah batu karang besar.

Pemandangan pantainya sangat eksotis. Pasir putihnya terhampar bak permadani. Sedangkan di area setelah parkir yang teduh, berderet warung-warung sederhana siap dengan ikan bakar dan es kelapa muda.

Pantai seluas sekitar 50 hektare dan dikelilingi hutan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani ini terlihat lebih menarik. Sayangnya, wisatawan dilarang keras berenang di pantai ini karena gelombangnya sangat kuat. Meski begitu, wisatawan tetap bisa menikmati keindahan pantai ini sembari berjalan atau duduk di tepi pantai.

Senja benar-benar telah jatuh. Semburat jingganya muncul dari balik bukit. Bias sinarnya menerpa pasir putih dan kapal-kapal yang tertambat di pinggir pantai. Semakin menambah semangat para pemancing cumi sore itu.

Sementara di ujung pantai, tak jauh dari tanjung, tampak dua orang sedang melakukan ritual. Mereka, hanya dengan menggunakan kemban, dimandikan oleh seseorang secara bergantian. Entah ritual untuk apa. Namun yang pasti, keindahan pantai selatan di Jawa Timur ini semakin lengkap karena ada pesona mistis di dalamnya.

Kunjungan ke 3 pantai di Jember ini: Pantai Puger, Pantai Watu Ulo, dan Pantai Papuma sebenarnya bisa dilakukan dalam satu hari. Namun harus memulai perjalanan pada pagi hari. Sebaiknya, setelah tiba di Bandara Notohadinegoro, Jember, hari pertama digunakan untuk berkeliling kota dan beristirahat. Baru esok paginya dapat melakukan penelusuran di tiga pantai tersebut.

agendaIndonesia/TL/Andry T./Anditya H

*****

Desa Lerep Ungaran, Buka 35 Hari Sekali

Pasar Lerep Ungaran menawarkan pariwisata tradisional alternatif. Foto: dok. Kemenparekraf

Desa Lerep Ungaran, Jawa Tengah, bisa menjadi contoh memberdayakan masyarakat sekaligus memberi alternatif wisata untuk publik. Berwisata di desa wisata memang menyenangkan. Tak sekadar berlibur, namun sekaligus mengenal budaya dan ciri khas setiap desa yang dikunjungi.

Desa Lerep Ungaran

Setelah pandemi, ada kemungkinan wisatawan memilih destinasi kunjungan yang mengedepankan rasa aman, nyaman, bersih, dan sehat seiring keberlanjutan lingkungan.

Oleh karena itu, tak heran jika saat ini desa wisata menjadi salah satu program unggulan pemerintah. Selain sebagai alternatif tempat berwisata, ia juga sebagai penggerak dan kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.

Ada banyak desa wisata yang bisa dikunjungi, salah satunya Desa Lerep di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Desa wisata ini telah mendapatkan sertifikasi sebagai desa wisata berkelanjutan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), tentu tidak heran jika Desa Lerep Ungaran menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan.

Desa Lerep Ungaran pasarnya hanya buka setiap 35 hari, yakni pada hari Minggu Pon.
Desa Wisata Lerep di Ungaran menawarrkan alternatif liburan. Foto: dok. Kemenparekraf

Salah satu keunikan yang ditawarkan Desa Lerep Ungaran adalah pasar kuliner jaman dulu, atau biasa dikenal sebagai Pasar Djadjanan Ndeso Tempo Doeloe Lerep yang telah ada sejak tiga tahun lalu.

Sesuai dengan namanya, “Pasar Jadul Lerep” menghadirkan makanan lokal tradisional, namun dengan konsep yang unik dan berbeda dengan pasar pada umumnya. Seperti apa itu?

Pasar yang berlokasi di Kompleks Embung Sebligo Desa Lerep ini seakan akan membawa pengunjung masuk ke zaman dahulu. Berbeda dengan pasar pada umumnya, penjual di Pasar Jadul Lerep Ungaran menggunakan kostum tradisional khas masyarakat Jawa

Seperti mengenakan atasan lurik berwarna cokelat atau hijau, dan dilengkapi dengan bawahan batik. Ada pula penjual yang menggunakan kebaya saat melayani pembeli.

Kuliner Tradisional Pasar Lerep Ungaran Dok. Kemenparekraf
Jajanan tradisional di Pasar Desa Lerep Ungaran. Foto; DOk. Kemenparekraf

Keunikan lain yang menambah kekhasan Pasar Lerep Ungaran adalah jadwal dibukanya pasar yang hanya pada Minggu Pon saja. Itu artinya, pasar ini hanya buka setiap 35 hari sekali, sesuai hari pasaran Jawa.

Dari sajian yang dijajakan di Pasar Lerep juga unik. Bahkan mungkin sulit kita temui di pasar biasa. Seperti pecel, bubur tumpang, krupuk gendar, nasi iriban, dawet nganten, bubur suwek, lodheh, serabi caonan, serta masih banyak makanan dan minuman yang memanjakan lidah sejak suapan pertama.

Menariknya, semua makan dan minuman yang dijual di Pasar Lerep menggunakan bahan-bahan organik. Selain itu, uang yang dipakai untuk bertransaksi menggunakan semacam koin dari kayu.

Untuk mendapatkannya, kita hanya perlu menukarkan uang kertas dengan koin yang disediakan di area pintu masuk Pasar Lerep. Setiap uang koin kayu yang disediakan nominalnya sama dengan nilai rupiah. Mulai dari pecahan Rp 1.000, Rp 5 ribu, hingga Rp 10 ribu.

Sama dengan transaksi bayar membayar pada umumnya, pengunjung juga akan mendapatkan uang kembalian dengan koin kayu. Jangan khawatir, jika uang koin kayu masih tersisa, kita bisa menukarkannya dengan uang Rupiah saat keluar dari pasar.

Desa Wisata Lerep mengembangkan konsep wisata berwawasan lingkungan. Salah satu keunggulan dari Pasar Lerep, yaitu meniadakan kemasan plastik.

Sebagai gantinya, warga Desa Lerep Ungaran menggunakan daun jati, daun pisang, daun aren, batok kelapa, anyaman bambu, atau mangkok dari tanah liat sebagai wadah makanan dan minuman. Bahkan, sendok yang digunakan pun menggunakan sendok kayu.

Untuk pelengkap, suasana kuliner dengan konsep zaman dulunya juga dilengkapi dengan iringan musik gamelan. Perpaduan iringan musik gamelan, makanan tradisional yang lezat, sekaligus pemandangan embung berlatar Gunung Ungaran pastinya memberikan pengalaman liburan yang berbeda dari biasanya.

Jajanan Pasar Lerep Ungaran Diskominfo Ungaran
Minuman yang dijajakan juga jenis tradisional. Foto: DOk. Diskominfo Kab. Semarang

Di pasar jajanan ndeso pengunjung betul-betul akan disuguhi gaya hidup yang go green. Berbagai makanan dan minuman tradisional berbahan serba alami, kemasan go green berupa pembungkus dari daun pisang serta daun jati dan anyaman daun kelapa hijau sebagai pengikat seperti tas. 

Makanan dan minuman yang dijual di pasar jajanan ndeso sangat bervariasi jenisnya seperti sego iriban, sego jagung goreng, lontong sayur, soto, dawet brokohan, dawet nganten, ndok gluduk, cetil, gatot, tiwul, dan lain sebagainya. Ada pula nasi gudangan dan nasi gudeg a la Desa Lerep

Kepala Desa Lerep Sumariyadi menjelaskan bahwa pasar jajanan tradisional digelar untuk mendukung pengembangan desa wisata. Selain itu juga untuk memberdayakan perekonomian warga. “Selain ada homestay, warga juga berperan mendukung pengembangan desa wisata itu dengan membuat aneka kuliner tradisional seperti ini,” katanya.


Pihak pengelola desa wisata, menurutnya, memfasilitasi usaha ekonomi produktif warga dengan menggelar pasar jajanan tradisional setiap Minggu Pon.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Gunung Rinjani, Keindahan Gunung Bintang 5

Gunung Rinjani jonas verstuyft unsplash 1

Gunung Rinjani, bagi pecinta dan anak gunung, dikenal sebagai gunung dengan keindahan alam bintang lima. Untuk Indonesia, konon, ia cuma kalah dengan Gunung Semeru di Jawa Timur. Meskipun punya potensi gempa dan erupsi, daya tarik Rinjani memang luar biasa. Gunung ini sejak 2018 telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai geopark global, setelah sebelumnya pada 2013 diusulkan menjadi geopark oleh Ikatan ditetapkan sebagai geopark nasional.

Gunung Rinjani, Gunung Bintang Lima

Lima tahun terakhir ini Rinjani di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, pernah ditutup dua kali untuk pendakian. Pertama pada 2018 lalu, karena gempa besar yang menghantam Lombok. Sempat dibuka kembali menjelang akhir 2019, namun kemudian ditutup kembali karena adanya pandemi Covid-19.

Saat ini, pendakian ke gunung ini perlahan mulai dibuka kembali dengan mengedapankan protokol kesehatan. Jumlah pendaki pun masih dibatasi, itu pun tak sampai puncak atau turun ke danau Segara Anak. Namun, bagi para penggila gunung, pembukaan ini sudah membuat mereka menarik nafas lega. Umumnya, pendaki gunung memiliki kesan mendalam tentang pendakian Gunung Rinjani.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani Dedy Asriadi mengatakan, gunung Rinjani oleh pendaki gunung sering dijuluki sebagai gunung di atas gunung. Karena,“Gunung ini berdiri di atas Gunung Batu Raji,” katanya.

Di atas puncak Rinjani setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl), pendaki bahkan menyaksikan panorama alam yang komplet. Ada Danau Segara Anak alias danau maar yang tampak dari puncak. Dan, “Di tengah danau itu berdiam Gunung Batu Raji yang masih aktif,” katanya.

Suhu harian air permukaan danau Segara Anak, cerita Dedy, berkisar 20-22 derajat celcius. Menurutnya, inilah salah satu keajaiban Segara Anak yang merupakan salah satu danau vulkanik terbesar di dunia.

Sementara itu, bagi mereka yang menggemari fotografi, memotret matahari terbit di puncak Gunung Rinjani merupakan momen yang sempurna. Ia bukan hanya memperoleh pemandangan cahaya muncul di antara gumpalan awan, tapi juga lanskap Nusa Tenggara Barat yang tampil jelas di depan mata. Kadang, jika cuaca terang, “Bahkan dari puncak Rinjani kita bisa menyaksikan Gunung Tambora,” kata seorang pendaki yang dtemui di Sembalun, salah satu desa rute menuju Rinjani.

Gunung Tambora sendiri berlokasi di Bima, Pulau Sumbawa, sebelah timur Lombok. Jaraknya dari Lombok berkisar 416 kilometer. Semu-semu kaldera Tambora membikin kemolekan pemandangan di puncak Rinjani tak tergantikan. 

Rinjani merupakan gunung dengan lanskap terkomplet dengan panorama tercantik. “Di sepanjang jalur pendakian, kita bisa menemui air terjun,” ujar sang pendaki lagi.

Pemandangan samping kanan dan kiri selama menempuh perjalanan ke puncak pun tak membuatnya bosan. Sebab, ia dapat menjumpai hamparan savana, hutan, dan danau di tengah jalur pendakian yang bakal menjadi obat letih. “Treknya pun lengkap, mulai yang landai sampai menyusuri tebing,” ujarnya.

Saat ini para pendaki hanya diperbolehkan naik ke Rinjani melalui empat pintu pendakian, yaitu desa Senaru di Kabupaten Lombok Utara, Sembalun dan Timbanuh di Kabupaten Lombok Timur, dan Aik Berik di Kabupaten Lombok Tengah. “Selain itu tidak diperkenankan,” kata Dedy.

Gunung Rinjani merupakan surga bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Menurut Dedy, dari jalur yang sering digunakan oleh pendaki, “Jalur Senaru merupakan jalur pendakian paling ramai,” ujarnya.

Ramainya jalur tersebut disebabkan selain sebagai jalur wisata trekking, juga kerap dipergunakan sebagai jalur pendakian masyarakat adat. Mereka mendaki Rinjani untuk ritual adat atau keagamaan di puncak Rinjani atau danau Segara Anak.

Ada beberapa tradisi yang masih kerap dilaksanakan masyarakat adat, yaitu upacara Roah Asuhan Gunung. Tradisi ini dilakukan Kampung Adat Senaru pada akhir musim kemarau sebagai permohonan agar gunung dan kehidupan di bawahnya kembali hidup. Ada pula di Kampung Adat Sembalun Bumbung, Lombok Timur, tiap tiga tahun sekali juga terdapat upacara Ngayu-ayu (rahayu, selamat), yang merupakan ajakan untuk melestarikan alam.

Di Desa Bayan, Lombok Utara, juga terdapat pesta Gawe Alip. Dulunya tradisi ini dilakukan setiap delapan tahun sekali bertepatan dengan tahun Alip. Namun, Pesta Gawe Alip kini dilakukan setiap ada musibah, seperti banjir bandang, tanah longsor, atau kebakaran hutan. Tujuannya, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dunia aman, damai, dan sejahtera.

Untuk pendaki, jalur Senaru rute pendakiannya adalah Senaru-Pelawangan Senaru-Danau Segara Anak dengan berjalan kaki. Bagi pendaki, untuk naik ke Rinjani, “Waktu tempuhnya sekitar 10 – 12 jam melalui jalur wisata di dalam hutan primer,” katanya. 

Sepanjang jalan trail telah disediakan sarana peristirahatan pada setiap pos. Dari pintu gerbang Senaru sampai Segara Anak terdapat tiga pos. Sejak dari Senaru jalur yang ditempuh langsung mendaki hingga dinding kaldera Rinjani. Setelah itu baru turun ke danau Segara Anak. Pendakian ke puncak Rinjani, umumnya dilakukan pada pukul 2 dini hari, agar dapat menikmati matahari terbit dari puncak gunung, sekaligus bila cuaca cerah bisa menikmati lanskap Pulau Lombok dan Bali. 

Sementara itu, Jalur Sembalun digemari wisatawan yang ingin trekking. Rute yang dilalui adalah gerbang Sembalun Lawang-Pelawangan- Sembalun-Puncak Rinjani. Jalur Sembalun merupakan rute panjang, yang membutuhkan waktu 9-10 jam. Jalur ini sangat dramatis karena melintasi padang savana dan punggung gunung yang berliku-liku dengan jurang di sebelah kiri dan kanan.

Tiba di Plawangan Sembalun, pendaki akan menghadapi dua pilihan, yaitu mendaki ke puncak Rinjani atau turun ke Segara Anak. Dari Plawangan ke puncak Rinjani dapat ditempuh sekitar 3 jam dengan kondisi jalan yang terus menanjak dan gersang. Apabila memilih ke Segara Anak dapat ditempuh selama 2,5 jam dengan menuruni tebing. Di tepi danau para pendaki dapat menyaksikan kerucut gunung Barujari dan Gunung Mas. Untuk mencapai Barujari dari tepi danau dapat di tempuh selama 1,5 jam.

Dibandingkan jalur Senaru, jalur Sembalun ini tidak terlalu curam. Pemandangan savananya yang membuat para pendaki menggemari jalur ini. Jalur ini memamerkan lembah yang menghijau di sebelah timur Rinjani, dan indahnya Selat Alas dan Pulau Sumbawa di kejauhan.

Pilihan lain, melalui jalur Torean. Desa Torean menawarkan pemandangan ladang, padang pengembalaan, perkebunan, dan merupakan kawasan hutan produksi. Sepanjang perjalanan, pendaki melintasi jalanan yang diapit dua gunung dan menemui aliran Sungai Kokok Putih.

F. Rosana

*****

3 Pantai di Karangasem Dengan Pasir Putihnya

3 pantai di Karangasem salah satunya Blue Lagoon

3 Pantai di Karangasem, Bali, ini seakan tersembunyi dari jangkauan orang. Tapi sesungguhnya, ia menjadi oase bagi banyak wisatawan pecinta pantai.

3 Pantai di Karangasem

Melancong tak selalu berharap bertemu dengan suasana yang ramai, bahkan saat memilih Bali sebagai destinasi wisata. Saya lebih dulu mencari lokasi yang terbilang tenang. Hasilnya, ditemukan tiga pantai yang dibilang nyempil. Petunjuk jalan menuju pantai pun jarang. Paling tidak, itulah yang dialami ketika saya menelusuri Karangasem untuk mencari Virgin Beach.

Pantai yang terletak di Desa Perasi, Karangasem, ini tak cukup terkenal, termasuk oleh sopir sekaligus pemandu yang menemani saya. Ketut, pria asal Sanur, mengaku belum pernah menginjakkan kaki di Virgin Beach. Walhasil, setelah melewati Jalan Raya Candidasa menuju Jalan Raya Bugbug, yang kiri dan kanannya penuh pemandangan hijau, kendaraan dikendarai perlahan.

Papan nama cukup jelas bertuliskan Virgin Beach pun di depan mata. “Waktu saya lewat beberapa waktu lalu, rasanya tak ada plang pantai itu,” ucap Ketut. Saya tersenyum. Bisa jadi pantai ini memang tersembunyi. Dari jalan utama menuju Amlapura, kendaraan berbelok ke kanan, masuk ke Jalan Pantai Perasi, mengikuti anak panah. Pantai masih sekitar 2 kilometer.  Setelah melalui jalan kampung, tibalah saya di area parkir. Saat kendaraan berhenti, giliran kaki pengunjung yang harus melangkah. Jalan menurun dan berbatu sepanjang 500 meter pun saya tapaki.

3 pantai di karangasem, Bali, salah satunya Virgin Beach

Saya menemukan jalan berujung gang sempit di antara dua kios. Suara debur ombak kian kencang terdengar. Mulanya tidak berharap menemui keindahan. Namun, begitu  melayangkan pandangan ke pantai sepanjang 600 meter itu, senyum saya langsung melebar. Meski terbilang pendek, pantai itu benar-benar menggoda. Wow, pasirnya lembut dan putih. Gradasi warna airnya biru menantang tubuh menceburkan diri ke dalamnya. Warga setempat menyebutnya Pantai Pasir Putih. Karena berada di Desa Perasi, dikenal pula dengan Pantai Perasi.

Belasan kafe sederhana menjadi pilihan untuk melepas dahaga. Kursi-kursi menjadi tempat untuk berleha-leha. Saya berjalan menyusuri pantai. Ada deretan perahu nelayan di bagian ujung. Para nelayan pun menyediakan jasa untuk mengantar saya ke lokasi penyelaman atau snorkeling. Tak lama setelahnya, sebuah perahu dengan empat turis perempuan menepi. Puluhan turis asing, dibalut bikini dan busana santai, menerjang ombak. Seperti saya, mereka menelusuri pantai. Saat gelap, tak ada pilihan selain meninggalkan pantai. Tidak ada penerangan, terutama di jalan, karena kiri dan kanan tanah kosong. Hanya gerombolan sapi yang asik memamah biak.

Perjalanan pulang cukup menanjak, membuat saya terengah-engah. Tentu dua pantai lain tak saya kunjungi hari ini. Saya menuju ke Candidasa, menginap di sebuah hotel. Esok pagi giliran Blue Lagoon yang akan dicapai dengan perahu. Cuaca yang cerah di April membuat saya bisa langsung menatap langit biru dengan awan putih kala pagi. Blue Lagoon berada tak jauh dari Padang Bai. Bisa dicapai via darat, tapi bila menginap, ditempuh dengan perahu menjadi pilihan yang lebih tepat.

Saya tiba pukul 09.00 di teluk tersebut. Kapal hilir mudik di Padang Bai. Belum ada perahu datang membawa turis untuk snorkeling atau menyelam.  Di depan tampak sebuah pantai yang juga pendek dan terlihat sepi. Tak jauh dari jungkung yang mengantar saya, ada sebuah area mengapung, lengkap dengan sejumlah permainan, di antaranya seluncuran yang langsung ke laut.

Tak lama, jungkung atau perahu kayu lain berdatangan. Perahu cepat pun tampaknya membawa turis-turis dari Cina. Rombongan orang itu menaiki area terapung. Sebagian meluncur dan menikmati air laut, sebagian melaju kencang dibawa banana boat dan jenis permainan lain. Sebagian lagi tampak mencoba mencermati ikan dengan snorkeling. Ramai lah pagi itu.

Tak terasa terik sinar mentari mulai terasa di kulit. Saatnya melepas keindahan di bawah laut dengan rangkaian bukit di sekeliling teluk. Masih ada satu pantai lagi hari ini yang akan disinggahi. Namun, saya memilih melalui jalur darat. Letaknya tak jauh dari Pelabuhan Padang Bai. Dari arah Candidasa, Blue Lagoon berada sebelum Pelabuhan Padang Bai, sementara Pantai Bias Tugel, yang menjadi sasaran selanjutnya, berada setelah pelabuhan tersebut.

Siang hari, saya meninggalkan Candidasa. Entahlah, kali ini adalah waktu yang tepat untuk kembali ke pantai. Bagaimana pun, paling asik menikmati pesisir saat pagi atau sore. Namun tak ada pilihan. Sebab, hari ini saya harus meninggalkan Pulau Dewata. Dari Candidasa, saya ke Padang Bai sebelum pintu pelabuhan kendaraan berbelok ke kanan, sebuah jalan kecil dengan beberapa homestay. Namanya Gang Mumbul.

Sekitar 600 meter, jalan kecil itu berujung di jalan yang diapit dua tembok. Terlihat deretan mobil di sisi kanan. Ruang parkir yang sempit membuat kendaraan yang keluar harus mundur. Gerbang itu dijaga beberapa pemuda setempat. Mereka menariki uang retribusi. Saya menembus panas di antara dua dinding tembok, menuruni tangga, hingga bertemu dengan lubang di dinding kiri. Di sinilah saya harus berbelok karena di ujung jalan tebing langsung ke samudera.

Berikutnya, saya harus menyusuri jalan setapak di antara pepohonan. Hingga kembali, saya disuguhi pantai pendek yang menawan. Panjang pantainya hanya sekitar 400 meter. Di situ pun hanya ada beberapa warung. Namun justru jadi pilihan sejumlah turis asing. Payung warna-warni menjadi tempat berteduh kala sinar surya menyengat kuat. Saya memilih duduk manis, sebab teriknya terlalu menyakiti kulit. Lain halnya dengan para pemilik kulit pucat yang terlihat asik bergumul dengan ombak. Mungkin lain kali saya harus datang lebih sore agar butiran pasir yang lembut bisa lebih lama merendam kaki.

Tak lengkap melaut tanpa mencicipi hidangan khasnya. Selepas Padang Bai, Ketut membawa saya singgah ke Lesehan Sari Baruna, tak jauh dari Goa Lawah, Klungkung, sebelum mengantarkan saya ke bandara. Satu paket sate ikan, sop ikan,  dengan nasi seharga Rp 23 ribu pun melepas rasa lapar. Saya siap terbang ke Jakarta.

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilihan terbang ke Bali memang begitu banyak. Setiap maskapai nasional menawarkan beberapa kali penerbangan dalam sehari. Penerbangan dari negara tetangga pun langsung mencapai Bandara Ngurah Rai. Dari bandara, Anda bisa langsung mengarah ke Karangasem. Pilihannya bisa menginap di Padang Bai, Manggis, atau Candidasa.

Rita N./B. Rahmanita/Dok. TL

Masjid Gelgel Bali, Masjid Tertua Sejak Abad 13

Masjid Gelgel Bali merupakan masjid tertua di Pulau Dewata itu dan berada di Kabupaten Klungkung. Suasana kota Klungkung.

Masjid Gelgel Bali menjadi saksi harmoni kehidupan masyarakat di Bali. Sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya penganut agama Hindu, masjid tertua di Bali ini hidup lengkap dengan kampung Islam di sekitarnya.

Masjid Gelgel Bali

Jika melihat sepintas, tidak ada hal atau petunjuk yang menunjukkan tempat ibadah ini berbeda dari masjid yang ada di Indonesia pada umumnya. Berdiri megah dan nyata sekali merupakan bangunan baru. Hanya, menara masjid Nurul Huda, Desa Gelgel, Klungkung, Bali, yang setinggi 17 meter masih merupakan peninggalan bangunan lama dengan ciri arsitektur lama.

Selain manara, masjid juga masih lengkap dengan pintu kayu berukir lama. Soal bangunan yang tampak baru, “baru direnovasi dan nyaris tidak ada bangunan lama yang tersisa,” kata penjaga masjid, Aminuddin.

Suasana sekitar dan di area masjid sendiri juga memperlihatkan kondisi yang umum dijumpai di tempat-tempat ibadah umat muslim di banyak tempat. Seperti sore itu, saat adzan asar menjelang bergema, beberapa anak dengan pakaian koko dan bercelana panjang sudah duduk-duduk di tangga. Mereka bersiap untuk belajar mengaji.

Masjid tertua di Bali ini berada di kampung muslim desa Gelgel, Klungkung, berbatasan dengan Desa Kamasan yang merupakan desa pengrajin lukisan wayang klasik dan perajin uang kepeng. Terletak sekitar 3 kilometer sebelah selatan Klungkung, dan jarak dari Denpasar sekitar 30 kilometer melalui jalan By Pass Ida Bagus Mantra.

Masjid Nurul Huda di Gelgel ini berada di tengah-tengah perkampungan penduduk Hindu Bali. Dan di sekitarnya terdapat banyak pura-pura besar penyungsungan warga umat Hindu seperti kahyangan jagat pura Dasar Bhuana, pura Kawitan Pasek Gelgel, dan pura Dalem Prajurit. Kehidupan masyarakatnya terlihat tenang dan hidup dalam harmoni.

Sesungguhnya bangunan masjid ini pertama kali dibangun pada akhir abad ke-13 dan merupakan jejak masuknya Islam ke pulau Dewata. Seiring waktu bangunan mulai terlihat kuno dan perlu diperbaiki. Karena itu, sejak 1970-an, renovasi terus dilakukan hingga kini dan menjelma menjadi sebuah masjid nan megah. “Yang tertinggal (dari zaman dulu) hanya mimbarnya,” ujar salah seorang imam masjid. Di dalam masjid itu memang ada sebuah mimbar dari kayu berukir, yang berdiri di depan tempat pemberi khotbah.

Masjid Gelgel Bali sebagai masjid tertua di pulau Dewata, didirikan sejak abad 13.
Menara Masjid Nurul Huda di Kampung Islam Gelgel, Klungkung, Bali. Foto: Dok TL/Charisma A

Itulah bukti satu-satunya dari pasukan Majapahit yang tiba di Gelgel saat mengiringi Raja Gelgel, Dalem Ketut Klesir (1380-1460 M), setelah melakukan pertemuan di Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-13.  Kala itu, Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M) mengadakan konferensi kerajaan-kerajaan seluruh Nusantara. Ketika hendak kembali ke Bali, Raja Gelgel dikawal 40 prajurit Kerajaan Majapahit. Pasukan tersebut beragama Islam. Selain menetap, dengan seizin raja, mereka mendirikan tempat ibadah dan menyebarkan agama Islam.

Menurut Aminuddin, di sekitar masjid pun menjadi kampung Islam. Ada sekitar 300 kepala keluarga. Kini, bahkan, tidak terbatas pada warga Bali, tapi juga kaum pendatang yang kebanyakan beragama Islam tinggal di kampung tersebut. Karena itu, anak-anak yang sore itu mengaji ketika ditanya, kebanyakan mengaku bukan dari suku Bali. “Aku orang Jawa,” ujar Adi, salah satu anak yang ditemui sore itu. Jawaban yang sama juga dilontarkan dua anak lain. Anak-anak mengaji hampir setiap sore. Setelah asar hingga magrib, masjid selalu dipenuhi anak-anak. 

Kampung Islam berada di sekitar masjid, terutama di bagian belakang. Tepat di gang sebelah gerbang tempat ibadah, saya melihat orang wira-wiri dengan mengenakan peci dan sarung. Anak-anak bersepeda dengan baju koko dan peci juga. Masjid berada di jalan raya. Di ujung jalan, berdiri pura lengkap dengan penjor di bagian depannya. Kehidupan pemeluk Islam dan Hindu berjalan dengan harmonis.

Aminuddin, sang penjaga masjid, mengaku asli dari Bali. Hingga cucunya pun masih beragama Islam. Ia mengatakan, meski orang Bali, tidak memiliki embel-embel seperti pada umumnya. Pada namanya tidak ada tambahan wayan, made, dan lain-lain. “Ada juga yang seperti itu, tapi di banjar lain,” ucapnya.

Di samping dan di seberang masjid berdiri kedai-kedai dengan label halal. Tetap dengan makanan khas Bali, seperti nasi campur, tapi dijamin aman dikonsumsi kaum muslim. Sore itu, saya meninggalkan Gelgel. Namun tepat azan magrib berkumandang, saya sudah kembali ke masjid Nurul Huda untuk menunaikan salat dan menikmati senja di sekitar masjid. Ruangan ibadah lebih ramai. Sebelum beranjak, lagi-lagi, saya mengamati satu per satu warga keluar masjid dan memasuki gang untuk kembali ke rumahnya.

Rita N./Charisma A./TL/agendaIndonesia

*****

Geliat Budaya Masyarakat Ciletuh (Bagian 2)

Geliat budaya masyarakat ciletuh sambil menikmati matahari terbenam dari puncak Darma

Geliat budaya masyarakat Ciletuh merupakan salah satu syarat diakuinya sebuah geopark. Kawasan Ciletuh di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang kaya akan keragaman budaya berhasil memenuhi karakteristik tersebut. Melalui pertunjukan kesenian, kerajinan tangan, dan situs bersejarahnya, Ciletuh mengukuhkan diri sebagai taman bumi yang senantiasa merawat aneka elemen kearifan lokal khas Kabupaten Sukabumi.

Geliat Budaya Masyarakat Ciletuh

Kegiatan tradisional yang masih tumbuh di kawasan Ciletuh dan sekitarnya adalah cara bertani (tatanen) dan hajat laut. Hajat laut merupakan upacara tradisional nelayan pantai sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah dan permohonan keselamatan bagi nelayan.

Selain itu, masyarakatnya juga terus melestarikan cerita rakyat, seni bela diri, dan terutama, seni musiknya. Salah satunya, alat musik lodong hasil kreasi pemuda Ciletuh yang terbuat dari buluh bambu hitam. Dalam memainkannya, lodong dipadukan dengan angklung, calung, dan gitar.

Produk kerajinan tangan di Ciletuh juga tak jauh-jauh dari material bambu. Misalnya kipas, keranjang, nampan, wayang golek, gerabah, dan seruling. Di samping itu, kerajinan membatik mulai dikenalkan untuk menambah keragaman budaya Ciletuh. Motif batiknya terinspirasi dari keindahan alam Sukabumi dan dinamakan batik pakidulan.

Demi menghidupkan aktivitas seni masyarakat, pemerintah setempat  menyelenggarakan gelaran tahunan yang bertajuk Ciletuh Geopark Festival. Ajang ini menampilkan pentas tradisi, pameran kerajinan, kuliner, dan wayang golek.

PUNCAK DARMA & TEBING PANENJOAN

Tanjakan curam menuju Puncak Darma seolah-olah tak ada habisnya. Berada di ketinggian 230 meter di atas permukaan laut, beberapa ruas jalan bahkan mencapai kemiringan 45 derajat. Sebagian orang pun memilih memarkirkan kendaraannya, lalu berjalan kaki sekitar dua jam. Namun begitu sampai di atas, segala jerih payah itu terbayar lunas. Panorama Teluk Ciletuh terhampar luas bersama segala ornamen alam yang mengelilinginya, dari hutan sampai samudera.

Pemandangan yang bisa disaksikan dari Puncak Darma kerap dijuluki mega amfiteater. Pasalnya, lembah di sekeliling pantai membusur dengan bentuk setengah lingkaran atau tapal kuda, mirip sebuah amfiteater di gedung pertunjukan. Arena ini terbentuk secara alami, akibat proses geologis berupa longsor besar dan penyingkapan batuan kuno ke permukaan lembah.

Puncak Darma sendiri, karena lokasinya cukup tinggi, kerap disebut sebagai tribun. Tribun alami di Desa Girimukti ini bisa dijangkau menggunakan mobil atau sepeda motor. Namun kondisi kendaraan dan pengemudinya harus benar-benar prima karena akan menghadapi tanjakan ekstrem.

Kerap ditemui beberapa mobil yang mogok akibat overheat atau tidak kuat menanjak. Ada baiknya kendaraan diparkir di bawah, lalu berjalan kaki. Selain lebih aman, Anda juga akan bisa mampir ke beberapa curug yang terlintasi ketika mendaki Puncak Darma.

Alternatif lain untuk meraih puncak bukit ini adalah dengan mampir ke Pantai Palangpang terlebih dulu. Hamparan pantainya cukup luas dan panjang, dengan pasir hitam yang menyelimutinya. Pantai ini kerap dipakai untuk mengadakan kegiatan seni atau tempat mendarat olahraga paralayang. Menghadap ke arah barat, Pantai Palangpang menjadi lokasi yang tepat untuk menghabiskan senja.

Tebing Panenjoan

Berasal dari kata tenjo yang artinya melihat, Tebing Panenjoan menjadi titik favorit lain untuk memandangi zona inti mega amfiteater Ciletuh. Berbeda dengan Puncak Darma yang lebih dekat ke laut, Panenjoan berada agak masuk ke tengah hutan. Hasilnya, imaji yang ditampilkan pun berbeda, yakni bentangan hijau sawah dan pepohonan dengan Samudera Hindia sebagai batasnya.

Secara administratif, Tebing Panenjoan berada di Desa Taman Jaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Lokasinya berdekatan dengan kantor Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi (PAPSI). Di sini, Anda bisa mendapat informasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan Geopark Ciletuh.

Sebagai salah satu destinasi unggulan, Tebing Panenjoan telah dilengkapi beragam prasarana pendukung, seperti toilet, musala, dan kantin. Tersedia pula penginapan bagi wisatawan yang ingin bermalam. Baik Tebing Panenjoan maupun Puncak Darma yang menjadi pilihan, keduanya merupakan tribun alami yang menjadi tempat terbaik untuk menikmati pesona Geopark Ciletuh dari ketinggian.

geliat budaya masyarakat ciletuh bisa dinikmati sambil menikmati  air terjun Cikanteh

TIP DAN RUTE MENJELAJAHI CILETUH (3 HARI 2 MALAM)

Geopark Ciletuh tak akan habis dijelajahi dalam waktu sebulan, seminggu, apalagi cuma sehari. Hal ini disebabkan oleh begitu luasnya kawasan dan beragamnya destinasi. Paling tidak perlu menginap selama tiga hari untuk mengunjungi atraksi populernya saja. Berikut ini panduannya agar waktu liburan Anda dapat lebih optimal.

  • Hari I: Curug Cimarinjung – Puncak Darma – Pantai Palangpang

Berangkatlah pagi-pagi sekali agar eksplorasi bisa maksimal. Tujuan pertama adalah Curug Cimarinjung, karena tempat ini terlewati saat menuju Puncak Darma. Puas bermain air, lanjutkan perjalanan ke Puncak Darma untuk menikmati panorama dari ketinggian. Terdapat beberapa warung jika ingin makan siang. Selanjutnya, nikmati panorama mentari terbenam di Pantai Palangpang. Urutan penjelajahan tiga lokasi ini bisa dibolak-balik karena relatif saling berdekatan.

  • Hari II: Pulau Kunti – Pulau Mandra – Pulau Manuk – Batu Batik

Pagi hari adalah waktu paling tepat untuk snorkeling. Dari Pantai Palangpang, silakan menyewa kapal motor untuk menyelam di Pulau Kunti. Dalam perjalanan, Anda akan melewati Pulau Manuk yang dipenuhi burung camar dan Pulau Mandra yang cocok untuk memancing. Keduanya bisa menjadi alternatif jika gagal snorkeling karena ombak besar. Setelah itu, kembali naik kapal ke Batu Batik. Di sini, Anda bisa berlabuh dan menelusuri uniknya tekstur batuan berusia ratusan tahun.

  • Hari III: Curug Sodong – Curug Cikanteh – Tebing Panenjoan

Dari tempat parkir, keindahan Curug Sodong langsung terlihat. Curug Cikanteh hanya 00 meter dari situ. Namun untuk menjangkaunya, harus melakukan trekking melewati hutan dan sungai berbatu besar. Selanjutnya, kembalilah ke tempat parkir untuk naik kendaraan ke Tebing Panenjoan. Perjalanan jauh Anda akan terbayar karena Panenjoan merupakan salah satu sudut terbaik untuk menikmati Geopark Ciletuh dari ketinggian.

N. Adhi/Dok JL

Geopark Ciletuh Keelokan 60 Juta Tahun (Bagian 1)

Geopark Ciletuh salah satunya di air terjun Sodong

Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, adalah fenomena langka yang benar-benar terwujud secara alami, predikat taman bumi alias geopark pun disematkan kepadanya. Keelokan Ciletuh tak terjadi tiba-tiba. Semua berawal sejak lebih dari 60 juta tahun silam. Beraneka fosil, patahan, dan lempengan bumi membentuk endapan yang menjadi pondasi bagi ekosistem di sekitarnya.

Geopark Ciletuh

Awalnya, hanya peneliti dan geolog yang tertarik berkunjung ke sini. Namun sejak dicanangkan sebagai taman bumi atau geological park (geopark) nasional pada 2015, popularitasnya semakin melonjak. Apalagi pada 2018, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) resmi menetapkan Ciletuh sebagai bagian dari Unesco Global Geopark (UGG).

Tak mudah untuk dapat menyandang predikat geopark. Paling tidak ada tiga unsur yang harus dipenuhi, yakni geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity. Geodiversity artinya kawasan ini harus memiliki keanekaragaman geologi atau batuan, biodiversity berarti keanekaragaman hayati alias makhluk hidup, sedangkan cultural diversity adalah kekayaan budaya di sekitarnya.

Dari segi geologinya, beragam fakta menarik telah diungkapkan Profesor Fakultas Teknik Geologi Unpad, Mega Fatimah Rosana, di situs ciletuhpalabuhanratugeopark.org. Menurutnya di Ciletuh terdapat batuan ofiolit yang berasal dari kerak samudera dan batuan metamorf yang berasal dari tumbukan kerak benua dan kerak samudera. Jadi bisa dibilang, lokasi ini merupakan salah satu titik daratan tertua di Pulau Jawa.

Selain itu, ada pula batuan yang berasal dari bagian mantel bumi, ribuan kilometer di bawah sana. Tadinya batuan ini merupakan produk gunung api di daratan, yang kemudian mengendap di laut. Karena proses geologi, bebatuan ini terangkat. Jika ingin membuktikan, cobalah tengok dinding batu di curug-curug sekitar Ciletuh. Bentuknya yang seperti kue lapis merupakan bukti bahwa batuan itu terbentuk di dalam lingkungan perairan.

Batu Batik

Wujud batuan yang lebih unik banyak ditemui pada gugusan karang di kawasan Geopark Ciletuh. Dengan menyewa kapal motor di sekitar Pantai Palangpang, Anda dapat berlayar selama 30 menit menuju Batu Batik. Sesuai namanya, hamparan bebatuan di lokasi ini berwarna cokelat kemerahan dan membentuk motif garis-garis mirip kain batik.

Dalam perjalanan menuju Batu Batik, terdapat deretan batuan lainnya yang tak kalah unik, seperti Batu Kodok, Batu Harimau, dan Batu Kasur. Masing-masing dinamai karena wujudnya yang menyerupai hewan atau benda tertentu. Semuanya terbentuk oleh proses geologi puluhan juta tahun lalu. Dipahat oleh panasnya lava gunung berapi, sebelum akhirnya terangkat sampai ke permukaan bumi.

Pulau Kunti

Puas mengeksplorasi aspek geologi, saatnya menjelajahi keanekaragaman hayati Taman Bumi Ciletuh. Tak jauh dari Batu Batik, Anda akan sampai di Pulau Kunti yang memiliki banyak flora dan fauna langka. Di hutan pulau eksotis ini, terdapat aneka bambu, seperti haur gereng dan haur koneng. Ada juga pohon beurih yang bunganya digemari lebah madu.

Pulau Kunti diyakini masih menjadi habitat owa jawa, elang jawa, dan macan tutul. Jika beruntung, Anda bahkan dapat bertemu lumba-lumba hidung botol yang kerap berseliweran di sini. Jernihnya air laut juga memungkinkan wisatawan untuk melakukan kegiatan snorkeling dan mengeksplorasi kawasan perairan di pulau kecil sekitarnya.

Ciletuh geopark salah satunya di air terjun Tengah
Air terjun tengah di Ciletuh Geopark

CURUG DI SEGALA PENJURU

Ciletuh berasal dari kata ci dan letuh. Ci berarti air, sedangkan letuh berarti keruh. Selama musim hujan, air yang mengaliri sungai dan air terjun memang cenderung keruh akibatnya banyaknya lumpur yang dibawa dari hulu. Keistimewaan Geopark Ciletuh memang tak bisa terlepas dari guyuran air curug yang melimpah di segala sudutnya.

Curug Sodong

Kerap disebut sebagai Curug Kembar, objek wisata di Desa Ciwaru ini menyajikan sepasang air terjun dengan ketinggian dan debit air yang hampir sama. Curug Sodong adalah air terjun yang lokasinya paling mudah dijangkau. Anda bisa parkir kendaraan tepat di depannya.

Curug Cikanteh

Lokasinya tidak terlalu jauh dari Curug Sodong, hanya sekitar 15 menit berjalan kaki. Namun, untuk menjangkaunya, Anda harus melakukan trekking melewati jalanan berbatu yang menanjak dan sempit. Batu-batu kali yang besar tersebar di sana-sini sehingga menambah kenyamanan saat bersantai di dasar curug.

Curug Cimarinjung

Curug Cimarinjung berada di dekat Pantai Palangpang sehingga masih termasuk di Desa Ciwaru. Tinggi hunjaman airnya sekitar 50 meter. Latar belakang tebing-tebing raksasa berwarna cokelat di sekelilingnya membuat air terjun satu ini tampak megah.

Curug Awang

Dinding batu berwarna cokelat kemerahan juga dapat ditemui di Curug Awang. Lokasinya di Desa Taman Jaya, Kecamatan Ciemas. Berbeda dengan curug lainnya yang tak begitu lebar, Curug Awang memiliki tinggi sekitar 40 meter dan lebar 60 meter, mengikuti lebar Sungai Ciletuh yang mengalir di atasnya.

Curug Tengah

Curug Tengah berjarak sekitar 200 meter dari Curug Awang dan masih bersumber pada aliran Sungai Ciletuh. Curug ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit dari tempat parkir. Dasar air terjunnya cukup luas, sehingga sering disebut danau. Anda bisa berenang di danau ini, tapi harus berhati-hati karena ada beberapa titik yang cukup dalam. 

Curug Puncak Manik

Berada di Kampung Pasir Ceuri, Desa Cibenda, Puncak Manik adalah curug terbawah dari rangkaian air terjun Sungai Ciletuh. Tingginya sekitar 100 meter. Untuk menjangkaunya cukup sulit. Anda harus menuruni bukit sekitar satu jam. Lalu ketika pulang, harus mendaki dengan trek yang sama. Perjalanan melewati hutan tropis yang rimbun. Jika beruntung, Anda akan menemukan bunga bangkai Rafflesia Fatma yang langka dan dilindungi.

Selain keenam curug di atas, masih ada belasan curug lain yang menanti untuk dijelajahi. Di antaranya ada Curug Cikaret, Curug Puncak Jeruk, Curug Luhur, dan Curug Dogdog. Masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Satu hal yang menjadi kesamaan adalah keasriannya. Sebab, sebagian besar curug di Ciletuh berada di lokasi yang tersembunyi di balik hutan dan perbukitan.

N. Adhi/Dok JL